Comments

Tampilkan postingan dengan label Densus88. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Densus88. Tampilkan semua postingan

Inilah Teror Keji Densus 88 Pasca Bom Mapolres Poso

Tidak ada komentar
Densus poso
Pasca peristiwa bom Mapolres Poso (03/06), aparat Densus 88 dibantu aparat kepolisian setempat secara intensif menggelar operasi terbuka dan tertutup.



"Tak pelak akhirnya  operasi Densus 88 melahirkan kondisi ketidaknyamanan bagi masyarakat Poso, apalagi cara-cara yang dipertontonkan oleh aparat Densus 88 cenderung arogan," kata Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) Harits Abu Ulya kepada itoday, Selasa (11/06).

Kata Harits, tindakan-tindakan law enforcement mengedepankan kekerasan dengan target orang yang baru terduga berujung pada kematian target, membuat masyarakat Poso marah. Bahkan menarget Mapolres Poso menjadi sasaran amuk.

"Tidak lain karena ulah aparat Densus 88 main tembak terduga hanya dengan alasan membahayakan petugas di lapangan. Dari Mabes Polri seperti biasa bagian penerangan/Humasnya (Brigjen.Pol, Boy Rafli Amar) juga memberikan keterangan di depan insan media tentang kronologi dan alasan aparat keamanan kenapa harus melumpuhkan target hingga tewas," ujar Harits.

Menurut Harits, dari keterangan aparat kepolisian, media hanya mengaminkan saja bahkan seperti TvOne mengambil peran untuk memutar balik fakta serta bernafsu menyudutkan masyarakat Poso dan mendewakan aparat Densus 88.

Berdasarkan penelusuran  CIIA di lapangan didapatkan fakta realita yang berbeda. Berikut kronologi  peristiwa kekerasan aparat Densus 88 di Poso, Senen (10/06) yang menawaskan Ahmad Nudin:

1. Sekitar Pukul 15.35 WITA terduga yang bernama Ahmad Nudin mengendarai motor Revo DN 4159 EI yang sudah dibuntuti oleh aparat Densus 88 melintas di Jalan. P Seram.Terduga pulang dari Sholat Ashar di Masjid al Muhajirin.

2. Sekitar pukul 15.40 WITA ketika target (terduga) sampai di Jalan. P Irian tepatnya di depan  lorong Jalan P. Seribu, motor dengan pengendaranya (terduga) tersebut ditabrak oleh Densus 88 dengan mobil yang telah membuntuti sebelumnya.

3. Setelah motor dan terduga terjatuh yang berjumlah dua orang sempat melarikan diri masuk kea rah lorong P.Seribu.

4. Karena melihat terduga lari, kemudian Densus 88 melepaskan tembakan sebanyak 7 kali lebih. Dan akhirnya 1 (satu) orang berhasil ditangkap dengan luka tembak di beberapa bagian. Dan 1 (satu) lagi berhasil melarikan diri.

5. Sementara sepeda motor yang dipakai oleh terduga tertinggal di TKP dan kemudian diamankan oleh anggota koramil Poso kota.

6. Akhirnya berita menyebar ke masyarakat Poso dan membuat situasi memanas  karena bunyi tiang listrik dipukul bertalu-talu oleh massa.Hingga pukul 20.00 WITA bentrok terjadi antara warga Muslim Poso dengan bersenjatakan batu menghadapi aparat kepolisian dan TNI di desa Kayamanya.

7. Bahkan kemudian sebagian masyarakat yang marah atas tindakan aparat Densus 88 bergerak ke arah Mapolres Poso dengan membakar ban bekas.

8. Masyarakat yang bergerak ke arah Mapolres Poso menuntut jenazah salah satu korban tewas tetapi tidak dipenuhi.

9. Temuan di lapangan warga Poso yang tewas (Ahmad Nudin) yang dituduh teroris dieksekusi Densus 88 dalam kondisi tidak berdaya. Korban tidak dalam posisi melawan untuk menembak petugas atau mengeluarkan tembakan seperti yang di ungkapkan Brigjen Boy Rafli di Jakarta, tapi fakta yang terjadi adalah terduga  melarikan diri.

Dan korban tidak sama sekali bersenjata seperti yang dituduhkan oleh aparat dan diaminkan oleh media TV. Bahkan TvOne mengumbar kebohongan ke publik dengan menuduh terduga yang tewas telah melepas tembakan 6 (enam) kali. Ini dusta semua. [itoday/www.bringislam.web.id]
Read more...

Poso Kembali Memanas, Adnan Arsal: “Polisi Bagian dari Teroris!

Tidak ada komentar
Terror Poso
Terkait penembakan Ahmad oleh Densus 88, Tokoh Masyarakat Poso Adnan Arsal menyatakan polisi sudah menjadi bagian dari teroris. “Kalau sudah seperti ini, polisi justru bagian dari pada teroris sudah. Karena polisi sudah bikin resah masyarakat!” tudingnya kepada mediaumat.com melalui telepon, Selasa (11/6).


Menurutnya, hari ini masyarakat kembali turun ke jalan menuntut jenazah Ahmad dikembalikan kepada keluarga. Ahmad (30 tahun) adalah adik ipar Basri terpidana 19 tahun penjara lantaran dituduh membunuh seorang pendeta dan tiga siswi Kristen.

Pekerjaan Ahmad serabutan, kadang jual ikan, kadang jadi tukang. Ia menjadi tulang punggung orangtuanya Basri sejak Basri dipenjara dan kedua anaknya yang lain mati menjadi korban. “Tapi tiba-tiba, Ahmad jadi DPO dan tidak tahu bagaimana ceritanya,” ungkap Adnan.

Jadi perlu diklarifikasi oleh Polri, bagaimana prosedurnya seseorang itu bisa menjadi DPO. “Jangan hanya informasi dari seorang saja (tiba tiba ditembak mati, red). Harus dipastikan dulu keterlibatannya itu apa? ” keluhnya. [mediaumat/www.bringislam.web.id]

Menurut Adnan, penembakan Ahmad oleh Densus 88 terjadi di Jalan Pulau Irian Lorong Pulau Seribu. Saat itu Ahmad sedang mengendarai sepeda motor usai menunaikan shalat Ashar di Masjid Al Muhajirin Desa Kayamanya, Poso, untuk kembali mencari nafkah.

Namun dia dikejar oleh sebuah mobil yang dikendarai beberapa personel Densus 88. Kemudian Ahmad ditabrak mobil tersebut, hingga terjatuh. Ahmad pun lari. Lalu Densus menembak Ahmad enam atau tujuh kali.

“Jadi mobilnya yang nabrak, kemudian anak ini lari lalu ditembak. Lalu dibalik faktanya, disebut bahwa Ahmad yang menabrak, Ahmad yang menembak. Ada tujuh atau enam selongsong, warga banyak yang menjadi saksi di situ,” ungkap Adnan.

Itulah yang bikin masyarakat marah. Sehingga pada sore itu juga ribuan warga turun ke jalan.  Ditambah lagi mayat itu sampai sekarang belum dikembalikan kepada keluarganya tetapi masih di Polda Palu. “Makanya sampai sekarang masyarakat masih demo-demo terus itu, minta dikembalikan itu mayat,” bebernya.

Bagian tubuh mana saja yang terkena tembakan, Adnan pun tidak mendapatkannya dari saksi mata.  “Belum jelas, apakah kepala atau dada, punggung atau apa, yang jelas ada darah di situ (menggenang di jalan, red),” ujarnya.

Usik Rasa Keadilan

Agar rasa keadilan masyarakat tidak terusik sehingga marah dan turun ke jalan, Adnan sudah berulang kali memberikan saran kepada Polri agar DPO itu tidak ditembak di tempat. “Kita kan sudah meminta agar DPO itu janganlah ditembak di tempat. Tapi Polri sering berkilah tidak ada jalan lain karena DPO bersenjata padahal tidak ada itu Ahmad bersenjata, begitu juga dengan korban-korban sebelumnya. Tetapi Densus sering membalikkan fakta itu,” akunya.

Adnan pun kembali menyarankan agar terjadi dialog secara jantan dan terbuka terkait prosedur seseorang jadi DPO.

“Jadi kalau saran kita, tidak adakah jalan lain, kalau memang sekarang mau buka-bukaan, secara jantanlah, Densus 88 bersama polisi dengan kita berdialog secara terbuka. Sistem apa yang ditempuh polisi dalam menetapkan seseorang menjadi DPO? Sehingga DPO di Poso itu  berkesinambungan secara terus menerus.”
Terkait bom bunuh diri di Mapolres Poso baru-baru ini Adnan pun berkomentar.

“Bom bunuh diri yang kemarin juga siapa yang tahu? Tapi kenapa masyarakat Poso yang diobok-obok? Ini kan bikin resah saja masyarakat. Kalau sudah seperti ini, polisi justru bagian dari pada teroris sudah. Karena polisi sudah bikin resah masyarakat.”

Sebelumnya Polri menyatakan tidak menutup kemungkinan bahwa pelaku bom bunuh diri di Mapolres Poso adalah Basri (kakak ipar Ahmad), yang kabur dari tahanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ampana, Sulawesi Tengah, pada Jumat, 19 April lalu.

Basri divonis hukuman penjara selama 19 tahun oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, pada Desember 2007. Kaburnya Basri sempat menuai tanda tanya besar karena terjadi saat ia diizinkan keluar Lapas menjenguk istrinya yang sakit tanpa pengawalan khusus.

Kemudian Pengamat Noor Huda Ismail memastikan bahwa pelaku bom pada Senin (3/6) itu bukan Basri.

Nah, lho? Siapa kira-kira berikutnya yang tiba-tiba jadi DPO dan ditembak di tempat? Hanya Allah SWT dan Densus 88 lah yang tahu.[][mediaumat [www.bringislam.web.id]
Read more...

Bocoran Sekenario Licik Ala Densus 88

Tidak ada komentar
Sebuah akun facebook dengan nama Al Bantani pada jum'at kemaren (07/06/2013) pada pukul 18:37 memposting sebuah status tentang bocoran sekenario ala densus 88. Bocorannya mungkin benar, mungkin juga tidak karena hanya berasal dari satu unit saja. Perlu diketahui tiap unit memiliki tugas sendiri yang tidak akan diketahui unit lain. Perlunya kita mengetahui maklumat ini sebagai kewaspadaan. Berikut isi statusnya.
*******************
Saya cuma meneruskan informasi yg sy terima dr seorang teman, tanpa ada maksud utk melemahkan mental para mujahidin indonesia.

Sebuah bocoran intelijen yang di dapat oleh salah seorang kerabat orang dalam intelijen densus88,yang mengakui sudah merasa jenuh dengan drama yang terus berkelanjutan. sebuah perbincangan rahasia antara intelijen densus88 dan kerabatnya yang alhamdulillah dia adalah salah seorang pecinta jihad dan mempunyai cita-cita untuk berjihad ke negri palestina.

Nara sumber:

Kemaren saya di datangi oleh kerabat saya yang seorang intel densus88 dia datang untuk memperingatkan saya agar tidak terpengaruh apabila ada hasutan sekelompok orang untuk berjihad di indonesia, kerabat saya itu mendengar dari sepupu saya bahwa saya sering memposting berita2 jihad luar negri di akun-2 saya lalu dia datang untuk memperingatkan saya agar berhati2 bila ada ajakan dari teman atau bahkan sekelompok orang yang mengaku akan berjihad di negri indonesia ini. Saya baru tau bahwa densus88 mempunyai cara picik untuk melanggengkan namanya.

SINGKAT SAJA
kerabat saya menjelaskan cara cara densus membuat orang jadi tersangka teroris

1>- DENSUS88 mempunyai intel di akun akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (AKUN) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita2 mati syahid/yang sering memposting berita berita jihad

2>- setelah target di temukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi,maka mereka akan memulai bertanya2 dimana alamat rumahnya sambil di iringi perbincangan tentang penegakkan syariat di indonesia klo semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia

3>- Bagi yang akun nya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya,si intel akan langsung menjadikan dia target dg mengutus orang yang mengaku
sebagai perindu syahid

4>- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung di beri latihan meliter, atau langsung di persenjatai

5- Setelah itu Calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tau rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)

6>- setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan2 peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan,biasanya intel2 tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom( namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).

7>- perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama(agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dg alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap

8>- Setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yg sudah di beri tahu sebelumnya

9>- Saat penggrebekan terjadi,biasanya akan terjadi kontak senjata, itu di karenakan sang calon korban ini sudah di doktrin untuk membenci pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tau bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid

10>- Perlu di ketahui bahwa yang di rekrut para intel ini adalah anak anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita cita mati syahid,namun tanpa sadarmereka telah di kelabui untuk menjadi tumbal DENSUS88 agar terus exist, selain itu juga sebagai cara untuk me minimalisir para pejuang khilafah di indonesia

11>- Anggota/Regu DENSUS88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenarioini,untuk menjaga kerahasiaan operasi,, mereka hanya tau bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/jaringan al-qaidah

12>-Si korban akan langsung di tembak mati di tempat tampa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya (adapun yang masih hidup,mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar klo yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

Saya di buat tak berkata oleh kerabat saya dengan fakta2 yang dia beberkan, karena memang begitu sama persis klo saya fikir dengan aksi2 penangkapan TERORIS yang di lakukan DENSUS88

info dari ( muhammad M,,,,T,,,)
Sahabat2 muslimku semua, berhati2lah kalian INGAT,,,!!!!! jika ada yang mengajak berjihad di indonesia kalian harus berhati2 terkecuali seruan dari ORMAS-2 yang sudah kita kenal sebelumnya dan berhati2lah dg PAG yang sangat condong memecah belah dg dalih TAUHID intinya klo mereka memang benar maka mereka tidak hanya akan mengkafirkan dari belakang layar namun keluar untuk menyeru ummat untuk menuju medan jihad fisabilillah

SEBARKAN,,,,,,,!!!
MARI SELAMATKAN SAUDARA2 KITA
DARI TUMBAL TUMBAL DENSUS88
 
Read more...

Bom di Mapolres Poso, antara pembentukan opini dan analisa fakta dan data

Tidak ada komentar


Bom Poso
Bom tupperware Poso meledak di halaman Mapolres Poso, Senin pagi (3/6/2013), saat personel polisi sedang melakukan apel pagi. Korban meninggal satu orang dengan kondisi badan hancur, bagian tubuh berserakan, usus terburai, namun kepala tetap utuh dan dapat jelas dikenali. Bom berkekuatan besar, diperkirakan seberat 7 sampai 10 kg dan terdengar sampai radius 5 kilometer.


Informasi intelejen yang diungkap oleh Kapolres Poso menyebutkan bahwa, akan ada upaya serangan ke markas polres atau markas kepolisian yang  ada di Sulawesi Tengah  sebelum 1 Juli dari kelompok garis keras bersenjata. “Dengan demikian kita sudah meningkatkan penjagaan Polres poso dan keamanannya, meningkatkan penjagaan dan pemeriksaan.” Demikian ungkap Kapores Poso.

Publik terkejut, diam, setengah mendukung, mendukung penuh, dan mengecam. Analisa mengemuka dan membongkar. Poso kembali menjadi icon yang seksi untuk menjadi publikasi, pengalihan isu, propaganda Densus88, agenda tersembunyi BNPT, para politikus dan sedret  kepentingan lainnya.

Harits Abu Ulya, pemerhati kontra-terorisme dan Direktur CIIA (The Community Of Ideoligical Islamic Analyst), dalam analisanya yang diterima redaksi arrahmah.com menyebut “Kekerasan adalah anak kandung kekerasan”. Dan dalam konteks ini, kekerasan sangat mungkin adalah produk rekayasa dari tangan-tangan intelijen gelap demi sebuah kepentingan politik opuntunir. Lebih lengkap berikut adalah analisanya tentang pelaku dan motif bom Mapolres Poso.

opini dan politik?

Siapapun yang mencermati media massa, elektronik (TV,Radio) dan online minimal bisa Dampak mencatat point-point implikasi dari kasus bom bunuh diri di Mapolres Poso;

  1. Bom Mapolres Poso menjadi pembenaran propaganda BNPT selama ini bahwa Poso adalah sarang terorisme. Suka atau tidak suka sebuah aksi pengeboman saat ini diklaim sebagai simbol atau produk dari sebuah agenda terorisme.
  2. Bom Mapolres Poso tidak hanya menjadi kosumsi berita masyarakat lokal Poso atau Indonesia tapi juga dunia.Mengingat Poso dimasa lalu memiliki sejarah dan akar konflik yang sampai hari ini belum terurai dengan tuntas.Dan aspek ini menjadikan Poso pusat perhatian sebagian media asing.
  3. Bahkan kasus ini membuka peluang terusiknya kembali kehidupan masyarakat Poso yang relative tenang. Sinyal Poso siaga I kembali ditabuh, seolah-olah dalam kondisi yang sangat genting.Otomatis akan melahirkan dampak tersendiri dalam kehidupan sosial politik ekonomi dan keamanan di Poso.Kenapa? karena akan banyak aparat berseliweran. Sekalipun sejatinya masyarakat Poso sudah hapal dan menganggap urusan terorisme adalah basi dan tidak mengangetkan bagi mereka.
  4. Bom Mapolres Poso memberikan ruang gerak lebih leluasa bagi BNPT untuk mengkonstruksi opini dan propaganda dalam konteks kontra-terorisme di Indonesia.Di bantu oleh media TV yang sudah MoU dengan BNPT.Bahkan akan memastikan kehadiran kembali Densus 88 ke wilayah Poso dan sekitarnya.
  5. Kasus Bom kali ini juga akan mempengaruhi dinamika politik di parlement (DPR) yang rencana membuat Panja terkait kinerja Densus88 dan BNPT.Yang sebelumnya mereka (komisi 3-DPR) sudah turun ke Palu dan mendengarkan Panja DPRD Poso terkait peristiwa kekerasaan yang melibatkan aparat Densus 88.
  6. Dalam kerangka yang lebih besar, peristiwa aksi pengeboman akan makin meneguhkan pemerintahan SBY untuk melanjutkan proyek perang melawan terorisme di Indonesia. Dan bisa dimanfaatkan untuk menggalang empati dan support dana dari asing untuk menjaga kontinuitas perang melawan terorisme di Indonesia.
  7. Dalam konteks global, peristiwa demi peristiwa aksi “terorisme” di Indonesia telah memberikan angin surga bagi asing untuk terlibat lebih jauh dalam soal keamanan dan politik domestik dengan topeng bantuan dana atu training-training  (capacity building) bagi aparat keamanan di Indonesia.
  8. Satu hal yang juga perlu diungkap adalah; kritikan dan rasa kecewa dari sebagian kalangan tokoh-tokoh Islam.Bahwa kekerasan dan terror apapun itu tidak diajarkan oleh Islam, apalagi jika korbannya jelas-jelas umat Islam sendiri.Dan peristiwa ini menjadi kontraproduktif atas perjuangan umat Islam lainnya.Dan menjadi kendala ketika tokoh-tokoh ini mencoba mengadvokasi umat Islam yang terdzalimi karena isu terorisme.Bahkan sebagian dari mereka juga menuntut Densus88 di evaluasi kalau perlu dibubarkan, tapi dengan peristiwa bom Mapolres Poso justru berbalik.Karena peristiwa ini menjadi legitimasi kehadiran Densus 88 dan eksistensinya.
  9. Di sisi lain harus di akui bahwa aksi bom Mapolres Poso bagi sebagian kelompok jihadis di Indonesia itu diklaim sebagai aksi bom syahid (istishadiyah). Dilakukan untuk melawan penguasa thogut dan penolongnya (anshorut thogut).Dan aksi itu dilakukan untuk memberi pesan bahwa mereka masih eksis dan kapan saja bisa membuat perhitungan (balasan).Aksi tersebut banyak yang memuji dan bahkan menginspirasi bagi sebagian lainnya.
Siapa pelakunya?

Dari penuturan BNPT (Ansyaad Mbai) dan segelintir pengamat, aksi ini belum bisa dipastikan apakah pelaku terkait dengan kelompok NII, JI atau JAT. Orang baru atau orang lama,atau bahkan dari jaringan baru. Menurut saya sebenarnya aparat Densus 88 dan BNPT tidak sulit untuk melacak siapa sebenarnya pelaku.Mengingat masih ada bagian kepala dengan wajah yang utuh paska aksi bom Mapolres Poso tersebut. Pihak kepolisian bisa mempublish dan menyerap informasi dari operasi intelijen dilapangan siapakah sosok pelaku tersebut. Probabilitasnya sangat tinggi bagi aparat untuk mudah dapatkan identitas si pelaku.Apalagi kalau mau membuka data lama, baik terkait peta kelompok-kelompok yang dicap teroris oleh Densus88 dan BNPT atau dicap kelompok sipil bersenjata yang ada di wilayah Poso.Begitu juga file yang berisi data orang-orang lama (kombatan) maupun data orang-orang baru yang semisal diduga terlibat peristiwa di Tamanjeka.

Sejak Januari 2013 aparat kepolisian merilis 24 orang DPO yang diduga terlibat terror di Tamanjeka yang menewaskan beberapa personil Polri. Aparat bisa juga mengkonfirmasi dan mencocokkan data fisik pelaku (wajah) dengan foto wajah orang-orang DPO yang dipajang didepan Mapolres Poso dan dibeberapa sudut kota Poso. Dan 24 orang DPO versi aparat itu antara lain: 1. Santoso alias Abu Warda, 2.Mamat, 3. Alian San alias pakde alias komandan, 4.Hendro,5. Taufiq Buraga alias Upik Lawanga, 6.Herman alias David, 7. Fadlun alias Lun, 8. Faris alias Anto, 9. Sugianto alias Su alias Abi Irul, 10.Can alias Fajar alias Muhammad Fuad, 11.Ambo Intan alias Ambo alias Pambo, 12.Ali Sanang alias Papa Kairul, 13. Imron, 14.Aziz alias Papa Sifa, 15.Sugir alias Yanto alias Mas Yanto, 16.Busro alias dan alias Atif, 17.Maskoro alias Daeng koro alias Abdussalam alias Sabar, 18.joko alias Kadir, 19.Samil alias Nunung, 20.Bogar, 21.Hadit, 22.Salahudin alias jon, 23. Ambo, 24. Ipung.

Dari nama-nama diatas ada yang sudah menyerah, tertangkap. Dan sebagian lainnya diluar daftar nama diatas sudah tewas ditangan Densus 88 dan sebagian besar lainnya ditangkap hidup dan dibawa ke Mako Brimob Kelapa Dua dari Enrekang, Makassar, Dompu, Bima.Bahkan di akhir Mei 2013 Densus 88 menangkap sekitar 27 orang dan membunuh 7 orang dalam operasinya, dimana buruan Densus 88 ini dikaitkan dengan kelompok yang ada di wilayah Poso dari jaringan Abu Robban diluar jaringan yang dibawah kendali Santoso.

Jika Densus 88 dan BNPT tidak juga menemukan kecocokan dari data yang ada, bisa jadi karena invalidnya data Densus 88. Atau benar adanya bahwa telah muncul orang-orang baru atau bahkan muncul kelompok-kelompok baru di wilayah Poso.Analisa saya untuk sementara menegasikan kemungkinan “produk intelijen”.
Dan analisa saya, pelaku bukanlah orang baru. Dan juga tidak bisa dikaitkan dengan kelompok NII, JI secara langsung apalagi JAT. Sebuah realita, konflik Poso telah melahirkan residu yang mengkristalkan model kelompok atau orang yang demikian kuat untuk ambil jalan-jalan “extra ordinary”. Jalan ini sebagai “jawaban” atas ketidak adilan bagi mereka paska konflik di wilayah Poso. Sekaligus sebagai respon atas kedzaliman aparat keamanan khsususnya Densus 88 terhadap jejaring kelompok mereka.Apakah mereka masih terkait Santoso, analisa saya kemungkinan masih terkait.Sekalipun pelaku atau orang-orang dibelakangnya tidak langsung dibawah kontrol Santoso.Dan aksi-aksi yang direncanakan di pandang sebagai “Jihad” bagi mereka dengan segala pertimbangan dan argumentasinya (istidlal).Dan menurut saya Santoso masih menjadi icon yang “seksi” untuk banyak kepentingan dengan menjadikan wilayah Poso sebagai panggung pertarungannya.

Di sisi lain, media tidak berimbang dalam pemberitaan dan mencerap sumber informasi dalam banyak isu terorisme.Pada titik ini sangat mungkin institusi model BNPT dengan leluasanya membuat tuduhan-tuduhan tendensius, opini dan propaganda dengan kepentingan-kepentingan politik dibelakangnya.Khalayak harus cermat dan obyektif untuk bisa memilah antara fakta dan propaganda.

Apa motif dan stimulannya?

Berangkat dari fakta dilapangan terlihat bahwa pelaku seorang diri. Dan targetnya adalah aparat kepolisian (bukan TNI), dan dengan harapan untuk melahirkan dampak yang maksimal maka pilihannya adalah Mapolres di saat aparat apel pagi. Kemungkinan ketidak cermatan pelaku dan mungkin kendala psikis lainnya yang ujung hasil aksi tersebut tidak seperti yang diharapkan. Namun, tetap saja tentang perasaan “takut, cemas, terteror” bagi aparat kepolisian telah didapatkan oleh sang pelaku atau kelompok yang dibelakangnya.

Dan aksi tersebut bukan produk “bim salabin ala kedabra” (sulap). Aksi ini adalah setitik akumulasi dari dinamika sebelumnya. Kita bisa mencermati beberapa hal sebelum aksi tesebut terjadi;

  1. Sejak peristiwa kekerasan di Tamanjeka di akhir tahun 2012 kemudian diwilayah Poso di gelar Operasi Aman Meleo I, dengan menggerakkan personil 1.185 polisi dan 170 TNI. Bahkan operasi ini dilanjutkan ke Maleo II.Diluar itu, Densus88 berburu secara massif ke wilayah Poso dan di wilayah Sulsel (Sulawesi Selatan) seperti Maros, Makassar, Enrekang dan sekitarnya. Bahkan meluas di wilayah Dompu-Bima dan beberapa kota di Jawa seperti Solo dan lainnya. Hasilnya sekitar 12 orang meninggal dan puluhan orang ditangkap.
  2. Di sisi lain, paska peristiwa Tamanjeka merembet terjadinya kasus kekerasan oleh aparat kepolisian di wilayah Kalora-Poso. Sekitar 14 orang di gebukin dan menerima perlakuan yang sangat tidak manusiawi oleh aparat di Mapolres dengan tuduhan terlibat terror Tamanjeka. Akhirnya tidak terbukti dan dilepas, kemudian atas desakan berbagai pihak pelakunya (dari aparat kepolisian) di tindak. Namun penulusuran dilapangan membuktikan ada rekayasa, yang ditindak adalah bukan pelaku aslinya alias ada yang dikorbankan.
  3. Di bulan Mei 2013, Densus88 kembali beraksi di wilayah Jakarta dan sekitarnya dengan menewaskan 7 orang (di Batang, Bandung,Kebumen, dll) dan menangkap sekitar 26 orang  dengan tuduhan terkait jaringan Santoso (Poso) di bawah pimpinan Abu Robban.
  4. Situasi Poso makin menjadi perhatian banyak pihak setelah Komnas HAM melakukan investigasi kekerasan oleh aparat (Densus88) di tahun 2007. Peristiwa 2007 terkait aksi terror dan mutilasi yang menjadi iconnya adalah Basri alias Ayas alias Bagong. Dan langkah Komnas HAM ini juga senada dengan hampir seluruh komponen umat Islam dan tokoh-tokoh khususnya menggelar langkah mempersoalkan eksistensi Densus 88 dan BNPT. Disamping itu juga Komisi III  DPR RI berencana membuat panja terkait kekerasan yang dilakukan oleh Densus88. Yang menarik, justru Basri terpidana 19 tahun tersebut ditanggal 17 April 2013 melarikan diri setelah menjenguk keluarganya di Poso.
  5. Selama bulan Mei 2013, beberapa pekan di wilayah Poso khususnya di sekitar Sausu dilakukan operasi intensif oleh aparat Brimob setempat.
  6. Di berbagai media, pihak BNPT menyudutkan Poso adalah sarang teroris. Dan semua aksi-aksi (baik baru rencana atau yang sudah terlaksana) yang terjadi dibeberapa wilayah di pulau Jawa diklaim bermuaranya adalah Poso.Dan dari beberapa kondisi dan peristiwa diatas menjadi alasan logis kehadiran Densus 88 kembali di walayah Poso.
Sedikit banyak faktor-faktor diatas menjadi stimulan lahirnya aksi bom bunuh diri (versi jihadis: istisyhadiyah) dari seseorang atau kelompok di Poso, sebagai jawaban (motif) atas kondisi “ketidak adilan” yang mereka rasakan.Dan sekaligus tuntutan agar aparat bisa berbuat adil dan manusiawi melihat dan menyelesaikan problem mereka di wilayah Poso.Karena bagi mereka yang melakukan aksi, melawan dan atau mendahului menyerang sekalipun berujung kematian adalah lebih mulia dibandingkan mereka diam tetap saja mati konyol ditangan Densus88. Pilihannya Cuma diantara; diam mati, lari mati, melawan mati.

Berkembang logika yang cukup “liar”, jika Densus88 bisa melakukan apa saja yang mereka mau dan suka maka masyarakat atau sebagain dari mereka juga bisa melakukan yang serupa.Jadi inilah puzzle-puzle kekerasan dan terror produk dari spiral kekerasan dan terror yang di tampilkan secara “heroik” oleh Densus88 dengan bantuan media. Apakah ini disadari oleh BNPT, Komandan Densus88, Kapolri, atau bahkan Presiden? Waktu yang akan membuktikan, yang perlu di ingat adalah “Kekerasan adalah anak kandung kekerasan”.Dan dalam konteks ini, kekerasan sangat mungkin adalah produk rekayasa dari tangan-tangan intelijen gelap demi sebuah kepentingan politik opuntunir. [arrahmah/www.bringislam.web.id]
Read more...

Ansyad mbai tidak bisa menjelaskan, ketika ditanya program deradikalisasi BNPT

Tidak ada komentar

Ansyad mbai tidak bisa menjelaskan, ketika ditanya program deradikalisasi BNPT
JAKARTA – Berbicara televisi swasta nasional dengan topik yang paling anyar, yakni bom tupperware di Poso, Sulawesi Tengah yang terjadi kemarin pagi, Senin (3/6/2013). Ansyaad Mbai tidak nyambung bahkan ngawur ketika penyiar berita menanyakan tentang program deradikalisasi yang dijalankan BNPT.
Topik aktual soal bom di Poso dibahas dengan wawancara terhadap Ansyaad Mbai, Kepala BNPT. Penyiar tv menanyakan kepada Mbai: “Ini kan berulangkali terus terjadi seharusnya tidak hanya difokuskan pada penindakan saja tetapi juga dalam konteks pencegahan, bagaimana dengan program deradikalisasi selama ini yang dilakukan BNPT, program ini artinya gagal?” Ansyad Mbai menjawab, “Oh ya bom bunuh diri dengan program deradikalisasi ada hubungannya tapi agak jauh, deradikalisai itu sebetulnya adalah upaya-upaya ideal bagaimana merubah pikiran orang”. Anggi sang penyiar tv memotong pernyataan Mbai,  tidak hanya untuk pelaku bom bunuh diri mengingat tadi Poso sebagai basis, pusat tempat pelatihan pusat perekrutan pelaku terorisme dan lain sebagainya, Ansyaad berujar “Tidak cukup dengan deradikalisasi harus ada upaya fisik untuk mencegah dan menghentikan, itulah yang dilakuakan selama tahun 2012 sampai tahun ini.
Disini jelas sekali Ansyaad tidak bisa menjelaskan dan menguraikan program yang disebut dengan deradikalisasi, yang dilakukan di Poso. Menunjukkan dan memaparkan sebuah program tanpa kekerasan, tanpa senjata yang sudah dilakukan BNPT di Poso.
Malah Mbai melegitimasi kekerasan dengan dalih menggagalkan rencana yang lebih besar. “Jadi itu yang dilakukan penghentian terhadap rencana-rencana aksi mereka yang besar. Memang ada sedikit letupan-letupan. Tapi kalau tidak itu akan besar, dulu kan rencananya mereka akan meledakkan sekaligus di Poso, Jakarta, Solo, saling sahut menyahut. Pencegahan tidak asal omong-omong harus secara fisik ada tindakan nyata di sana.” Demikian urai Mbai.[tan/www.bringislam.web.id]
Read more...

Antara Suriah dan Pilkada, Ansyaad Mbai Harus Mengaca Diri

Tidak ada komentar

mbai
BNPT dalam isu terorisme kembali membuat forum untuk mencari simpati dari negara-negara sahabat.Langkah ini tampak saat Ansyaad Mbai (Kepala BNPT) mengkomunikasikan dihadapan sekitar 150 orang dari negara sahabat dalam sebuah acara briefing tentang terorisme di Indonesia bertempat di Shangrila Hotel, Jakarta, Senin (27/5/2013) dari jam 09.00-13.00 wiB.

Bagi saya yang menarik adalah statemen Mbai dengan menempatkan konflik di Suriah berpotensi menjadi pemicu aksi teror di Indonesia. Di media online dengan tegas
Ansyaad menyatakan;”..pemicu aksi teror di Indonesia saat ini sebetulnya tidak semuanya berasal dari isu-isu sensitif dalam negeri, seperti pemilu 2014. Namun aksi internasional yang bersinggungan dengan kelompok teroris lah yang dijadikan alasan.
“Bisa-bisa masalah di Suriah, penguasa Syiah yang memberontak mayoritas Suni, itu bisa diangkat jadi isu mereka dijadikan alasan mereka di sini. Dan bibit-bibit itu ada, seperti di sini itu ada di Sampang. Jadi semua gampang sekali picu aksi mereka,” beber Ansyaad.(Liputan6.com;27/05/2013 15:54)
Bagi yang intens mengamati pandangan dan pernyataan kepala BNPT ini akan sering menjumpai sikapnya yang lebay dan inkonsistensi.Dan statemen diatas adalah contoh seorang Ansyaad lebih condong sibuk membuat propaganda yang tendensius bahkan melebarkan masalah secara mengada-ada dibandingkan mengurai akar terorismenya.
Hari ini masyarakat sudah bisa membandingkan dan menilai, terlepas dari konflik Suriah maka sejatinya isu-isu lokal terkait Pilkada tidak jarang menjadi pemicu lahirnya teror bagi kehidupan masyarakat. Bahkan motif politik jelas-jelas melatarbelakangi aksi teror, karena aksi tersebut diharapkan bisa merubah sebuah keputusan politik. Jadi bukan sekedar tindakan marah dan kecewa serta dendam politik.Tapi ini tidak pernah ada label teroris.  Berbeda halnya seperti untuk beberapa kasus dilapangan,  karena motif dendam seseorang kemudian melakukan tindak kekerasan (teror) terhadap aparat kemudian dengan mudah di cap oleh Ansyaad Mbai sebagai aksi terorisme.Bahkan kalau digali motif politiknya dari pelaku teror terhadap aparat tersebut juga nyaris tidak terdefinisikan secara ideologis, serba pragmatis.Tapi karena pelaku dekat dengan simbol-simbol Islam maka dia di labeli teroris.

Dalam tulisan ini (dari elaborasi CIIA) saya ingin ajak masyarakat belajar tentang fakta dan makna teror/teroris dari kasus Pilkada di Buton Utara-Sulawesi Tenggara dimana istri Kepala BNPT Ansyaad Mbai di duga kuat terlibat bahkan menjadi aktor intelektual aksi-aksi teror paska kekalahan Pilkada.

Dalang teror atau teroris?
Tanggal 25 Juni 2011 tahun lalu merupakan hari kelam bagi masyarakat Buton Utara (Butur). Saat itu terjadi kerusuhan hingga pembakaran Kantor Bupati dan kantor DPRD Butur yang dilakukan sekelompok massa pro wilayah Buranga. Bukan itu saja, mobil pemadam kebakaran yang seyogyanya ingin memadamkan api, justru ikut dibakar massa.
Beberapa hari sebelumnya, massa pro Buranga itu juga membakar mobil dinas Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) di Desa Ronta Kecamatan Bonegunu.
Harusnya pembakaran fasilitas negara yang dibangun dengan uang rakyat itu tidak terjadi, andai saja aparat kepolisian bertindak tegas. Apalagi massa yang melakukan pembakaran sejumlah kantor itu hanya berjumlah 100-an orang.
Malah aparat terkesan ada “keberpihakan”, ini terlihat saat iring-iringan kendaraan sekelompok massa itu menuju Kecamatan Kulisusu.  Tidak ada upaya aparat kepolisian untuk menghalau massa, padahal jarak antara Buranga ke Kulisusu sekitar 60 kilo meter. Lagi pula ada tiga Polsek yang mesti dilalui, yakni Polsek Bonegunu, Kulisusu Barat dan Kulisusu.
Timbul pertanyaan, siapa aktor dibalik itu, yang mampu “menjinakan” aparat kepolisian? Bahkan, aparat berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) pun dalam hal ini Kapolres Muna  dibuat tidak berkutik selaku penanggung jawab keamanan di wilayah Butur.
AKBP R Wawan Irawan SH, kepada sejumlah wartawan  mengakui saat terjadi aksi pembakaran kantor Bupati Butur, aparat kepolisian ada ditempat. Jelas pernyataan itu melukai perasaan masyarakat Butur. Harusnya, aparat kepolisian bisa menciptakan rasa aman di tengah-tengah masyarakat dan melindungi fasilitas negara, justru hanya menjadi penonton kerusuhan.
Kejadian itu menimbulkan  kecurigaan masyarakat banyak dan dari berbagai pihak yang fokus mengamati kasus ini.Dan kesimpulannya mengarah kepada mantan calon Bupati Butur, Hj. Sumarni Ansaad Mbai sebagai “aktor intelektual”.
Hal itu sangat beralasan, karena ada indikasi kuat; usai melakukan aksi pembakaran, sekelompok massa itu berkumpul di kediaman Hj. Sumarni di Kelurahan Bangkudu, Kecamatan Kulisusu.

Meski itu sudah tercium aparat kepolisian, namun lagi-lagi kasus itu tidak dikembangkan, hanya sampai kepada tiga orang aktor lapangan yang dijadikan tersangka. Bahkan, ketiganya kini sudah menghirup udara bebas setelah menjalani massa hukuman selama 11 bulan.
Inseden 25 Juni 2011 lalu bukan hanya pembakaran sejumlah fasilitas negara, tetapi juga terjadi “perang” antar kelompok pendukung Buranga dan masyarakat Kulisusu.“Perang” itu terjadi hanya beberapa meter dari Kantor Polsek Kulisusu.
Perang antar kelompok ini dilakukan dihadapan aparat kepolisian berlangsung sekitar dua jam. Senjata yang digunakan beraneka ragam, seperti busur, bambu runcing, batu dan pedang serta benda-benda tajam lainnya.
Kejadian itu memakan satu orang korban, warga Kulisusu terkena busur dibagian dada.Beruntung, korban memakai jaket, sehingga mata busur tidak sampai menembus jantung. Korban selamat setelah mendapat pertolongan medis di Puskesmas Kulisusu.
Akibat kurusuhan dan pembakaran sejumlah fasiltas negara itu, menurut Asisten III Setda Butur, La Ode Siam kerugian untuk kantor Sekretariat Daerah mencapai Rp 2 miliar. Ini belum termasuk kantor DPRD, mobil pemadam kebakaran dan mobil BPKKB.
Pembakaran kantor Bupati dan DPRD Butur ini mengundang perhatian Mabes Polri.Inspektorat Pengawasan Umum (Irwasum), Komjen Pol. Drs Fajar Prihantoro selang beberapa hari setelah kejadian berkunjung ke Butur sekaligus melihat puing-puing sisa pembakaran kantor Bupati dan DPRD Butur.
Tidak sampai di situ, setahun setelah insiden tersebut, pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Butur, Ridwan Zakariah dan Harmin Hari kembali di “goyang”. Kali ini dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Butur.
Empat dari lima komisioner, mencabut kembali pleno penetapan pemenang Pilkada pasangan Ridwan Zakariah dan Harmin Hari dan menetapkan pemenang ke dua pasangan Hj. Sumarni (istri Ansyaad Mbai) dan Abu Hasan.
Keputusan KPU Butur itu  menuai protes dari berbagai pihak, malah dinilai terlalu jauh melangkah. Pasalnya, tahapan Pilkada sudah lama berakhir, tidak ada calon bupati dan wakil bupati, yang ada adalah bupati/wakil bupati defenitif.
Alasan KPU menetapkan pasangan Hj Sumarni dan Abu Hasan karena salah seorang tim sukses pasangan Ridwan Zakariah-Harmin Hari terbukti secara hukum melakukan money politik sesuai keputusan Pengadilan Negeri Raha.Disisi lain, padahal money politik sudah jadi rahasia umum dilakukan juga oleh calon lainya.
Namun keputusan KPU itu dimentahkan Mahkamah Konstitusi (MK).
Dari kasus diatas mengajarkan bahwa kepentingan politik opurtunis seseorang juga bisa memicu tindakan terorisme banyak orang. Kekalahan dalam laga Pilkada juga nyata kerap melahirkan dendam politik karena tidak puas dengan beragam alasan.
Dan berbeda halnya dengan orang-orang yang di cap teroris akhir-akhir ini oleh BNPT (Ansyaad Mbai),mereka belum pernah terbukti melakukan teror dengan meledakkan bom di fasilitas negara atau fasilitas umum.Atau bahkan membakar gedung DPR atau kantor pemerintahan lain.Sangat kontra dengan segerombolan teroris yang melakukan aksi  karena kekalahan dalam sebuah laga pilkada.

Saya rasa seorang Ansyaad Mbai perlu merealisasikan proyek deradikalisasi kepada keluarga besarnya agar tidak melakukan tindakan kekerasan fisik, anarkisme dan bentuk teror lainya  yang jelas-jelas merugikan masyarakat luas.Inilah paradok yang menjadi PR bagi pribadi Anyaad Mbai. Wallahu a’lam bissowab (28 Mei 2013)
Read more...

Ansyaad Mbai lebay dan inkonsistensi

Tidak ada komentar

Ansyad Mbai
Seorang Ansyaad Mbai lebih condong sibuk membuat propaganda yang tendensius bahkan melebarkan masalah secara mengada-ada dibandingkan mengurai akar terorisme yang terjadi di negeri ini. Demikian rilis CIIA yang diterima redaksi arrahmah.com. Atas hal ini maka Haris Abu Ulya menilai Mbai “lebay dan inkonsistensi”. Sebagai contoh Kepala BNPT ini pidato”..pemicu aksi teror di Indonesia saat ini sebetulnya tidak semuanya berasal dari isu-isu sensitif dalam negeri, seperti pemilu 2014.” Lalu apa yang dia sasar? Aksi internasional yang bersinggungan dengan kelompok “teroris” lah yang dijadikan alasan dan sebab akibat.



“Bisa-bisa masalah di Suriah, penguasa Syiah, yang memberontak mayoritas Suni, itu bisa diangkat jadi isu mereka dijadikan alasan mereka di sini. Dan bibit-bibit itu ada, seperti di sini itu ada di Sampang. Jadi semua gampang sekali picu aksi mereka,” bual Mbai.(Liputan6.com;27/05/2013 15:54)

Propaganda ini dilakukan dihadapan sekitar 150 orang dari negara sahabat dalam sebuah acara briefing tentang terorisme di Indonesia bertempat di Shangrila Hotel, Jakarta, Senin (27/5/2013) dari jam 09.00-13.00 wib.

Menarik menganalisa ucapan Mbai dengan menempatkan konflik di Suriah berpotensi menjadi pemicu aksi teror di Indonesia.

Hari ini masyarakat sudah bisa membandingkan dan menilai,terlepas dari konflik Suriah maka sejatinya isu-isu lokal terkait Pilkada tidak jarang menjadi pemicu lahirnya teror bagi kehidupan masyarakat. Bahkan motif politik jelas-jelas melatar belakangi aksi teror, karena aksi tersebut diharapkan bisa merubah sebuah keputusan politik.Jadi bukan sekedar tindakan marah dan kecewa serta dendam politik.Sampai di sini tidak pernah ada tuh label teroris.

Berbeda halnya untuk beberapa kasus di lapangan, karena motif dendam seseorang kemudian melakukan tindak kekerasan (teror) terhadap aparat kemudian dengan mudah di cap oleh Ansyaad Mbai sebagai aksi terorisme.Bahkan kalau digali motif politiknya dari pelaku teror terhadap aparat tersebut juga nyaris tidak terdefinisikan secara ideologis, serba pragmatis.Tapi karena pelaku dekat dengan simbol-simbol Islam maka dia di labeli teroris. [al-khilafah.org/www.bringislam.web.id]
Read more...

CIIA: ‘Jangan Salah Jika Ahok Dinilai Membuat Permusuhan terhadap Islam ’

Tidak ada komentar
densus 88-tribunnews-jpeg.imageJAKARTA : Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok telah melecehkan dan meremehkan umat Islam dengan menolak pembubaran Densus 88. Padahal pasukan antiteror milik kepolisian itu jelas telah melakukan pembantaian terhadap umat Islam.
Demikian dikatakan Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya, seperti dilansir itoday, Jumat (24/5/2013).
“Ahok cenderung meremehkan kajian Komnas HAM dan elemen-elemen umat Islam, khusunya para tokohnya yang bersikap tegas dan rasional untuk mendorong dilakukannya evaluasi total kinerja dan anggaran Densus 88 serta BNPT. Kalau perlu sampai pembubaran,” kata Harits.
Kata Harits, pernyataan Ahok yang membela keberadaan Densus 88 akan memunculkan permusuhan terhadap umat Islam.
“Jangan salah kalau kemudian masyarakat memvonis si Ahok telah membuat permusuhan terhadap Islam dan umatnya,” tegas Harits.
Harits melihat pernyataan Ahok terkait Densus 88 itu menunjukkan sikap yang arogan. “Jadi saya melihatnya Ahok arogan dan ngawur berkomentar tanpa kajian utuh.Dan umat Islam harus terus waspada dan memonitor tiap manuver si Ahok dan pasangannya Jokowi,” papar Harits.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ahok memastikan Gubernur dan Wakil Gubernur di DKI Jakarta menolak pembubaran Densus 88.
“Kami sebagai pimpinan daerah di sini dengan jelas mendukung Densus 88,” ujar Ahok  dalam sambutannya di acara penanggulangan terorisme dan narkoba di Balaikota Jakarta, Rabu (22/5/2013) malam.
Politisi Gerindra tersebut tak peduli dengan anggapan partai atau pihak lain tentang sikapnya dan Joko Widodo. Dia menilai Jakarta masih membutuhkan Densus 88 untuk memberangus kejahatan tak biasa (extra ordinary crime) itu.Dia pun tak peduli jika tidak dipilih kembali ketika mengikuti kembali dalam bursa pencalonan kepala daerah atau negara.
“Gubernur dan saya berkomitmen, kami akan taat pada konstitusi di Indonesia, kepada UUD’45, Pancasila dan Indonesia. Kita mempertahankan, kita tidak peduli orang tidak pilih kami lagi nanti karena tindakan yang tidak populer semacam ini. Jadi malam ini kami tegaskan, kami mendukung Densus 88 untuk tidak dibubarkan. Itu komitmen kita,” tandasnya. (itoday), salam-online
Read more...

Category

Popular Posts

facebook