Comments

Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Prita, penghina Nabi, dan Buku

Tidak ada komentar
Oleh : M. Anwar Djaelani

Ada dua kabar menarik. “Prita Mulyasari Bercerita lewat Buku” (Jawa Pos 25/09/2012). “Film Pelecehan Picu Larisnya Buku Islam di Inggris” (Hidayatullah/21/09/2012). Dua berita itu menegaskan bahwa bersama musibah ada berkah. Di balik musibah bisa lahir buku.

Berkah Itu
Di Indonesia nama Prita Mulyasari cukup dikenal. Dia pernah ditahan 22 hari di LP Tangerang, tapi di kemudian hari Mahkamah Agung memulihkan nama baiknya dari tuduhan mencemarkan nama baik sebuah Rumah Sakit (RS) swasta.

Pada 2008, Prita berobat ke sebuah RS. Ternyata, dalam proses pengobatan dia mengalami hal-hal yang tak semestinya. Prita-pun menuliskan pengalamannya itu. Dia tulis ketidakpuasannya di sebuah surat elektronik yang lalu menyebar secara berantai di internet. Tak disangka-sangka, pihak RS tak bisa menerima hal itu dan menggugat Prita secara perdata dan pidana.

Publik yang tahu masalahnya menilai Prita tak bersalah. Banyak yang bersimpati kepadanya dan melahirkan gerakan “Koin Keadilan untuk Prita”. Gerakan itu mengumpulkan sumbangan untuk Prita. Tetapi, sesungguhnya, gerakan itu lebih berfungsi sebagai ‘pengirim pesan’ kepada pihak terkait bahwa ada yang tak beres dalam perkara Prita.

Terbukti kemudian –seperti yang disebut di depan- Prita memang tak bersalah. Tapi, keadaan tak bisa diubah: Prita pernah berurusan dengan penegak hukum dan bahkan pernah ditahan. Posisi ini jelas tak nyaman, terlebih karena Prita punya tiga anak kecil yang –cepat atau lambat- pasti akan mengetahui kisah sang ibu.

Atas situasi tak enak tersebut, Prita-pun bergegas. Dia menulis buku yang direncenakan selesai Desember 2012. Buku itu merekam semua kejadian pahit yang dialaminya. Untuk apa? “Saya tidak ingin anak saya mengetahui mengapa ibunya dipenjara dari orang lain,” kata Prita. Dia pun menambahkan bahwa jika lewat buku luapan perasaan tidak akan lekang oleh waktu.

Memang, buku bisa lahir karena ada musibah. Buku juga bisa laris karena ada musibah. Lihatlah! Ketika pada September 2012 Nabi Muhammad SAW dihina lewat sebuah film dan dunia menjadi heboh, buku-buku Islam laris manis di Inggris (sebuah negeri yang bersama AS termasuk ‘kurang bersahabat’ dengan Islam).

Dikabarkan, penjualan buku-buku Islam di Inggris meningkat setelah tersebarnya film yang melecehkan Nabi SAW. Peningkatannya mencapai 20-30% jika dibanding dengan angka penjualan di bulan-bulan sebelumnya.

Banyak konsumen mencari buku-buku yang berisi pengenalan terhadap Islam dan terjemahan Al-Qur`an. Buku-buku Islam berbahasa Inggris merupakan buku yang paling laris. Sebuah sumber menyebutkan bahwa keadaan ini serupa dengan kondisi pascaperistiwa 11 SeptemberBottom of Form.

Kecuali lebih meningkatnya penjualan buku-buku Islam, pada saat yang sama terbuka pula peluang untuk menerbitkan buku-buku bertemakan –misalnya- bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim saat Nabi SAW dihina orang. Apakah diam saja seraya berharap si penghina menyadari kesalahannya atau bagaimana?

Terkait ini bisa saja lahir buku berjudul –misalnya- “Membela Nabi dengan Sepenuh Cinta”. Mengapa terbit ide itu? Pertama, bagi umat Islam Nabi SAW adalah manusia yang paling dicintainya melebihi cinta kepada dirinya sendiri (baca HR Bukhari). Bahkan sedemikian mulianya, Allah dan para Malaikat bershalawat kepada Nabi SAW.

Kedua, ada tuntunan Islam bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim jika Nabi SAW dihina. Dari Ali bin Abi Thalib ra: “Bahwa ada seorang wanita Yahudi yang sering mencela dan menjelek-jelekkan Nabi SAW. Maka (oleh karena perbuatannya tersebut), wanita itu dicekik sampai mati oleh seorang laki-laki. Ternyata Rasulullah SAW menghalalkan darahnya” (HR Abu Dawud).

Dengan mengembangkan dua ‘landasan’ di atas dan ditambah referensi yang lain, sebuah buku menarik bisa saja lahir. Jika dulu ada buku karya Ibnu Taimiyah berjudul “Al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim al-Rasul” (Pedang Terhunus bagi Pencaci Rasul), maka bukan tak mungkin bisa segera lahir buku berjudul “Urgensi Mengekspresikan Cinta kepada Nabi”.


Dari Penjara
Kisah HAMKA, Sayyid Quthb, dan Ibnu Taimiyah yang sekalipun berada di penjara tetapi mereka tetap bisa menghasilkan karya terbaik semakin memberi keyakinan kepada kita bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. “Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan” (QS Alam Nasyrah [94]: 6).

Sekitar awal 1964 HAMKA ditahan rezim Orde Lama dengan tuduhan subversi, sebuah tuduhan yang sampai dia bebas dua tahun empat bulan kemudian tak pernah bisa dibuktikan secara hukum.

Di tahanan, HAMKA atur jam-jam buat membaca dan menulis Tafsir Al-Qur’an Al-Azhar. Maka, menyusul kekacauan politik, pada Mei 1966 HAMKA dibebaskan. Saat itu, dia telah menyelesaikan tafsir 28 juz, karena yang dua juz telah diselesaikannya sebelum dia ditahan.

Di Mesir, ada Sayyid Quthb. Lelaki yang lahir pada 1903 ini hafal Al-Qur’an sejak anak-anak. Dia dipenjara rezim Gamal Abdel Nasser. Apa ‘kesalahan’ dia? Sangat sederhana: Sayyid Quthb menulis sejumlah buku bersemangat Islam –antara lain- Ma’aalim fit-Thariq (Petunjuk Jalan) pada 1964 yang berisi penolakan terhadap kebudayaan jahiliyah modern dalam segala bentuknya. Lalu, rezim Gamal Abdel Nasser yang menganut Sosialisme Arab memandangnya sebagai sebuah kesalahan besar.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Lindungan Al-Qur’an) diselesaikan Sayyid Quthb saat berada di penjara. Dalam kesaksian banyak kalangan, tafsir itu mampu menggelorakan spirit iman, hijrah, dan jihad.

Jauh sebelum HAMKA dan Sayyid Quthb, ada Ibnu Taimiyah (1263-1328). Dia sering merasakan ‘manis’-nya penjara. Perlakuan itu diterimanya hanya karena sejumlah pendapat keagamaannya berbeda dengan ulama-ulama lain yang dekat dengan penguasa ketika itu.

Di antara lima ratusan karya tulis Ibnu Taimiyah, sebagian lahir di penjara (termasuk Majmu’ Al-Fatawa). Itu terjadi karena di dalam penjara dia memiliki banyak kesempatan membaca dan menulis.

Menulislah Sekarang!
Mampu menulis buku itu berkah, bahkan berkah yang sangat besar. Menulis bisa dikerjakan kapan saja, baik di saat lapang atau di kala sedang didera musibah. Jadi, segeralah menulis! []

undergroundtauhid/BringBackIslam
Read more...

Memilih Pekerjaan di Akhir Zaman

Tidak ada komentar
ADA salah satu Ustadz saya, Ustaz Ihsan Tandjung yang sangat mendalami subyek akhir zaman. Saking banyaknya referensi beliau dalam masalah ini, sampai menulis satu situs khusus di internet.

Mendalami masalah akhir zaman, tidak harus membuat kita pesimistis dalam menghadapi kehidupan ini. Justru sebaliknya, bila kita sadar bahwa ‘boleh jadi kiamat sudah dekat’, maka kita akan berusaha mencari bekal sebanyaknya untuk hidup sesudah itu, yaitu kehidupan yang abadi di akhirat kelak.

Kesadaran akan akhir zaman juga akan membuat kita buru-buru bertaubat bila dalam perjalanan hidup kita ada hal-hal yang kita langgar – mumpung masih ada waktu! Buru-buru kita ke kembali ke jalan Allah menyambut seruan-Nya: “Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (QS 51 :50).

Nah bagaimana dalam konteks bidang pekerjaan, bila dalam pekerjaan yang kita tekuni tersebut kita masih terlibat dalam hal yang sangat terlarang, seperti riba, riswah (suap), mengambil hak orang lain, berbuat kerusakan di bumi, menzalimi rakyat, dan lain sebagainya?

Banyak potensi pekerjaan yang bisa kita pilih, yang aman dari hal-hal yang terlarang tersebut. Bahkan banyak pula jenis pekerjaan yang bisa kita lakukan tersebut yang memiliki dasar kuat di Al-Qur’an ataupun di hadis. Kaidahnya adalah, apa yang disebutkan di Al-Qur’an ataupun hadis yang sahih adalah benar ketika diturunkan. Benar saat ini, dan akan tetap benar sampai akhir zaman.

Mengapa demikian? Karena agama ini adalah agama akhir zaman, maka segala tuntunannya pasti valid sampai akhir zaman, termasuk tuntunannya dalam hal pekerjaan ini.

Pekerjaan bertani atau bercocok tanam misalnya, akan selalu baik sampai akhir zaman karena kita bahkan diperintahkan untuk tetap menanam benih yang ada di tangan kita, walaupun seandainya proses terjadinya kiamat sudah mulai.

Contoh pekerjaan lain yang juga insy Allah valid sampai akhir zaman adalah menggembala (memelihara) kambing. Untuk yang satu ini, Imam Nawawi yang sangat mashur dengan kitab yang menjadi rujukan para juru dakwah hingga kini, membahas secara khusus dalam kitabnya Riyadhush Shalihin.

Dalam bab Beruzlah beliau menyampaikan bahwa beruzlah atau menyendiri ketika moral manusia sudah rusak, takut agama ini terfitnah, dan takut terjerumus dalam keharaman dan syubhat, adalah hal yang disunahkan. Nah ketika kita menyendiri dan takut kepada hal yang haram, lantas apa pekerjaan kita untuk menghidupi diri dan keluarga kita? Memelihara kambing, itulah salah satu jawabannya.

Untuk jawaban ini tidak tanggung-tanggung Imam Nawawi memberikan tiga hadis sahih sebagai rujukannya. Berikut adalah hadis-hadis tersebut:
Dari Abu Hurairah R.A., dari Nabi SAW, dia bersabda: “Setiap Nabi yang diutus oleh Allah adalah menggembala kambing”. Sahabat-sahabat beliau bertanya: “Begitu juga engkau ?”; Rasulullah bersabda: “Ya, aku menggembalanya dengan upah beberapa qirath penduduk Mekah.” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Said berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Hampir saja harta muslim yang terbaik adalah kambing yang digembala di puncak gunung dan tempat jatuhnya hujan. Dengan membawa agamanya dia lari dari beberapa fitnah (kemungkaran atau peperangan sesama muslim).” (H.R. Bukhari)

Dari Abu Hurairah R.A. dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: “Termasuk penghidupan manusia yang terbaik, adalah seorang laki-laki yang memegang kendali kudanya di jalan Allah. Dia terbang di atasnya (dia menaikinya dengan jalan yang cepat). Setiap mendengar panggilan perang dia terbang di atasnya dengan bersemangat untuk mencari kematian dengan jalan terbunuh (dalam keadaan syahid) atau mati biasa. Atau seorang laki-laki yang menggembala kambing di puncak gunung dari atas gunung ini atau lembah dari beberapa lembah. Dia mendirikan salat, memberikan zakat, dan menyembah kepada Tuhannya hingga kematian datang kepadanya. Dia tidak mengganggu kepada manusia, dan hanya berbuat baik kepada mereka.” (H.R. Muslim).

Jadi menggembala (memelihara) kambing bukan hanya commercially feasible seperti yang sudah saya tulis sebelumnya; tetapi juga memiliki dasar yang sahih. Maka tidak malu saya berulang kali mengajak para pembaca untuk belajar menekuni profesi yang sering dianggap kuno oleh sebagian orang di zaman teknologi ini. Bagi yang berminat, silakan datang ke lokasi kandang kami di Jonggol dan mulai belajar mempersiapkan diri dengan profesi akhir Jaman. Insya Allah.
hidayatullah/UT/BringBackIslam

Read more...

Category

Popular Posts

facebook