Comments

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Beginilah Kejadian Manusia…Foto-foto Proses Pertumbuhan Manusia di Dalam Rahim Ibu

Tidak ada komentar

Berikut ini beberapa seleksi fotografer Swedia bernama Lennart Nilsson. Dia terkenal dengan foto foto  in vivo embrio manusia dan subjek subjek  kedokteran lainnya yang dulu dianggap tidak bisa diabadikan lewat foto.

Dia menggunakan sebuah endoskop untuk membuat gambar gambar menakjubkan ini!Dalam seri foto ini, dia menguak semua rahasia – bagaimana kehidupan berawal!!! Bukti keagungan Allah !!! Subhanallah!!!Ini bukan ilustrasi, bukan pula hasil ilustrasi.. This is real!!!
Perjalanan panjang sperma menuju sel telur:
Sperma yang telah bersusah payah berenang siap membuahi sel telur..
Pembuahan:
Dinding rahim yang baru siap dibuahi:
Sel telur yang dibuahi menuju dinding rahim:
Embrio mulai terbentuk, disini yang terlihat adalah awal pembentukan kepala:
Sudah mulai berbentuk:
Manusia sempurna, yang siap berjuang melawan hidup…
Cara mengambil gambarnya pakai alat endoskop. Bentuk alatnya seperti dibawah ini :

Description: Foto-foto Proses Pertumbuhan Manusia di Dalam Rahim Ibu – Egi Dwi Purnomo(eramuslim)
 
Read more...

Kebesaran Allah, Kisah Nyata Persahabatan Tawon dan Pohon Ara

Tidak ada komentar
phn-araAda sebuah kisah tentang persahabatan sejati antara tawon dan pohon Ara. Kisah nyata tersebut telah terjadi selama kurang lebih 80 juta tahun lamanya. Hingga kini setiap generasi di antara mereka melakukan hal yang sama, yaitu seolah mengikat janji untuk saling memberi dan menerima, tidak boleh saling mengingkari, jika tidak maka akan kena batunya! Lalu bagaimana persahabatan itu bisa terjadi sementara pohon dan tawon adalah makhluk yang tidak berakal? Allah berfirman, “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, “Jadilah!” maka terjadilah ia. [QS. Yaasiin : 82] Pohon Ara atau tin adalah satu dari sedikit pohon yang namanya Allah sebut dalam Al-Qur’an, yaitu dalam surat At-Tiin ayat 1 yang berbunyi, “Demi (buah ) tin dan (buah) zaitun.” Pohon ara merupakan kerabat pohon beringin. Beringin? Ya, beringin yang di Indonesia identik dengan kisah angker. Lain halnya dengan Indonesia, peneliti di Negara lain justru mengungkapkan kisah berbeda dan lebih berhikmah dari sekedar cerita angker yang berbumbu dusta. Lalu bagaimana kisahnya?
Tawon Betina di bunga ara.
Kisah bermula dari rasa penasaran beberapa peneliti yang tertarik dengan hubungan saling menguntungkan antara pohon ara dan tawon atau yang lebih dikenal dalam ilmu biologi sebagai hubungan “mutualisme.” Peneliti kemudian mencari tahu bagaimana sanksinya apabila terjadi ketidakselarasan kerjasama atau kecurangan di antara tawon dan pohon ara, sebagaimana yang terungkap dalam jurnal yang berjudul, “Precision of host sanctions in the fig tree–fig wasp mutualism: consequences for uncooperative symbionts.” Sejatinya pohon ara telah dibudidayakan dari jaman kuno dan tumbuh liar di daerah kering dan bermentari. Ara yang disebut “Common Fig” berasal dari Timur Tengah hingga kawasan Asia Barat. Sementara beberapa jenis Fig/ Ficus lainnya tumbuh di hutan hujan tropis. Bunga pohon ara terdiri dari dua tipe, yaitu jenis yang berkelamin ganda dan berkelamin ganda sekaligus betina. Hampir separuh dari jenis pohon ara bertipe bunga jenis kedua atau disebut juga gynodioecious. Dalam penyerbukannya, bunga ara dibantu oleh tawon yang juga memanfaatkan bunga tersebut untuk tempat bertelur. Tanpa bantuan tawon penyerbuk pohon ara tidak dapat berkembang biak dengan bijinya. Di lain sisi bunga memberikan tempat yang aman dan makanan untuk tawon generasi berikutnya.
Tawon sedang menaruh telur dan menyerbuki bunga ara.
Dalam perjalanan hidupnya yang hanya 48 jam, tawon betina akan mengumpulkan serbuk sari dari bunga jantan. Kemudian ia memasuki melalui celah sempit di mahkota bunga untuk menyerbuki beberapa bunga betina pada bunga majemuk. Kemudian sang tawon akan meletakkan telur-telurnya di dalam beberapa bunga pohon ara. Lalu sang jantan akan membuahi telur-telur tersebut. Hasilnya adalah bunga kemudian berkembang menjadi buah ara dan anak-anak tawon bisa tumbuh di dalamnya, hingga akhirnya siap melakukan hal serupa seperti yang dilakukan orang tuanya. Lalu bagaimana apabila tawon hanya menempatkan telurnya saja pada buah tin namun tidak menyukseskan proses penyerbukan? Inilah kebesaran Allah SWT yang telah menciptakan sesuatu dengan sangat cermat. Entah bagaimana, seolah pohon tin dapat mengetahui jika tawon bertindak curang. Apabila tawon menaruh telurnya tanpa membawa serbuk sari untuk membantu penyerbukan, pohon tin akan menjatuhkan buahnya yang di dalamnya terdapat anak-anak tawon tersebut. Bagaimana jika buah tin yang berisi anak-anak tawon dijatuhkan dengan keras dari ketinggian? Tentunya anak-anak tawon akan tewas dan itulah faktanya, seperti yang terungkap dalam jurnal yang ditulis oleh Charlotte Jander tersebut. Lebih dari 700 jenis pohon ara di daerah tropis di seluruh dunia berkembang bersama dengan tawon ara. Setiap jenis pohon ara memiliki jenis tawon penyerbuknya sendiri. Beberapa jenis tawon membawa serbuk sari secara pasif dikarenakan serbuk sari tersebut menempel pada tubuhnya. Sementara jenis lainnya secara aktif mengumpulkan serbuk sari dalam kantong khusus yang ada padanya. Para peneliti menemukan bahwa tawon yang membawa serbuk sari secara pasif asbab menempel di tubuhnya, maka pohon ara pun hampir tidak pernah menggugurkan buahnya. Sementara para peneliti menemukan bahwasannya apabila tawon yang secara aktif mengumpulkan serbuk sari tidak membawa serbuk sari tersebut, maka pohon akan menggugurkan buahnya hingga anak keturunan sang tawon akan mati akibat terjatuh bersama buah yang digugurkan. Pohon tin sangat mengerti jika dia tidak menerima haknya, maka kewajibannya untuk menjaga telur-telur tawon pun ia gugurkan. Inilah contoh keselarasan antara hak dan kewajiban pada tawon dan pohon ara. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” [Q.S. Ali Imran : 190] Kisah tawon dan pohon ara adalah isyarat dari sang Pencipta. Seandainya saja manusia dapat memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. (Berbagai Sumber/ Joko Rinanto/www.globalmuslim.web.id)
Read more...

Jangan Pernah Lagi Salahkan Hujan, Sungai atau Alam!

Tidak ada komentar
Banjir awal tahun di Ibu Kota Negara Jakarta kali ini sudah cukup membuat repot seluruh warganya. Banjir bahkan menerjang tempat-tempat penting di Jakarta. Mulai dari jalan-jalan protokol hingga pusat pemerintahan negara. Mulai dari rumah biasa hingga rumah mewah.
Hal ini tentu harus dipandang secara positif dengan dasar keimanan, bukan sekedar mencela apalagi menyalahkan.

Langkah efektif yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam saat ini adalah membantu korban, kemudian merencakan kembali kesiapan kita agar banjir itu tidak kembali terjadi. Tentu tidak cukup hanya dengan regulasi dan peralatan semata. Namun dibutuhkan cara pandang baru, cara berpikir berperilaku, kesadaran dan partisipasi setiap kaum Muslim, khususnya di Jakarta.

Bukan Salah Hujan
Sebagian sering berasumsi bahwa penyebab banjir awal tahun ini karena curah hujan tinggi melanda kawasan Jabodetabek. Tetapi faktanya tidak. Seperti dilaporkan oleh tempo.co. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan harian tertinggi di Jakarta pada Selasa dan Rabu pagi hanya sekitar 100 milimeter.

Angka itu jauh lebih rendah dibanding rekor curah hujan tertinggi dalam satu hari yang terjadi pada Januari 2007 yang mencapai 340 milimeter. Curah hujan sepanjang Januari ini yang diprediksi 300-400 mm juga dianggap masih normal.

Curah hujan di kawasan Puncak juga lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu. Pada 2007 lalu, curah hujan selama sebulan di kawasan Puncak bahkan bisa mencapai 640 mm, dengan curah hujan maksimum harian adalah 136 mm.

Sementara sekarang, hujan sepanjang tiga hari lalu jauh lebih sedikit. “Senin sebesar 22,6 mm, Selasa 74,2 mm, dan Rabu 61,4 mm,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Darmaga Bogor, Nuryadi, Rabu 16 Januari 2013.

Lantas, apa sebabnya? Menurut seorang ahli, hal tersebut dikarenakan daya serap kawasan Puncak yang semakin melemah.

Selain itu, keseimbangan ekologis kawasan Puncak pada awal tahun ini merosot hingga 50 persen dibanding pada 15 tahun sebelumnya.  Hal ini membuktikan bahwa banjir di Jakarta adalah akibat debit Ciliwung meningkat drastis. Kenaikan debit Ciliwung ini terkait dengan rusaknya kawasan hulu sungai itu di Puncak.

Di pihak lain, para politisi saling mencaci dan mencela hujan dan banjir karena pemerintah atau gubernurnya. Lebih parah, ini juga ditambah lipuran media kita, jika dicermati, sesungguhnya tanpa terasa menghilangkan tauhid dan akidah kita secara pelan-pelan.

Lihatkan liputan berbagai media di kala musim hujan datang atau musibah banjir. Judul-judulnya selalu bernada ancaman, menakutkan dan bisa menjauhkan kita semua dari Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulnya. Lihat cara media membuat judul-judul; “Ancaman Banjir Belum Berakhir”, “Hujan Lebat Masih Mengancam!”, “Urat Nadi Bisnis Tersumbat Banjir”.

Memang kelihatannya sederhana, namun ini sesungguhnya hal yang serius, menyangkut keimanan. Karena tidak ada setetes air hujan (termasuk banjir) yang membasahi bumi ini kecuali atas kehendak Allah Subhanahu Wata’ala. Apa yang terjadi dari ujung kaki hingga ujung langit, dari pagi hingga malam, gumpalan awan, petir, hujar deras, banjir bandang,  tak terkecuali adalah karena kehendak Allah Subhanahu Wata’ala.  Karenanya, menyalahkan alam, turunnya hujan, sama halnya menyalahkan apa yang telah ditakdirkan Allah kepada kita. Itulah tauhid.

Di dalam Al-Qur’an Allah berfirman;

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْراً بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ حَتَّى إِذَا أَقَلَّتْ سَحَاباً ثِقَالاً سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَّيِّتٍ فَأَنزَلْنَا بِهِ الْمَاء فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ كَذَلِكَ نُخْرِجُ الْموْتَى لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS: Al-A’raf [7]: 57).
Karenanya, jangan pernah sedikitpun menyalahkan alam, hujan atau banjir. Hujan itu sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup seluruh makhluk Allah. Tanpa hujan, kekeringan akan melanda dan tanaman akan mati. Jika Allah tak berkehendak, semua tak akan terjadi. Sebaliknya, jika Allah berkendak, maka semua juga pasti akan terjadi. Lantas, mengapa rahmat ini bisa menjadi bencana bagi manusia? Itulah masalahnya. Mengapa di antara kita justru tak berfikir ini?

Allah pasti tidak salah menurunkan hujan, sementara jika turun hujan  dan berdampak menjadi musibah, mengapa kita tak berpikir?

Muhasabah, Sabar dan mencegahnya
Musibah selalu datang dan pergi, itulah sunnah  hidup. Ada yang menghadapi dan menyikapinya secara arif, sehingga musibah itu mendatangkan berbagai kebaikan. Tapi tidak sedikit yang keliru menyikapinya, sehingga musibah justru semakin memperpanjang penderitaan.

Bedanya, orang mukmin  menghadapi musibah selalu dengan kaca-mata positif.  Kita harus  memandang musibah bukan sebagai kekejaman Allah Subhanahu wa Ta’ala,  seakan-akan Allah tidak memiliki kasih saying pada manusia. Datangnya musibah, justru agar membuatnya manusia menjadi sadar serta menyesali kekhilafannya. [baca juga: Bersyukur dan Berdoa: Adab Muslim Hadapi Musim Hujan!] 

وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ

“Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku.” (QS: Al-Fajr [89]: 16)
Salah satu cara menghadapi musibah ini adalah sikap ridha dan sabar. Terimalah musibah yang kita hadapi dengan hati yang ridha. Jikapun kita tidak ridha dengan apa yang terjadi, hal itu tidak akan bisa mengubah apa yang telah berlalu. Dengan keridhaan justru hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih dan lapang untuk menemukan solusi. Sehingga kita dapat bangkit dengan penuh ketegaran melewati musibah tersebut. Tentu bukan ridha, agar ketika musibah datangi lagi kita diam saja. Jelas tidak.

Karenanya, cara selanjutnya melihat musibah harusnya melakukan muhasabah  (evaluasi) dan mengambil pelajaran.  Karena musibah sebenarnya berfungsi untuk menyadarkan kita dari kesalahan-kesalahan memelihara alam selama ini. Sayang, banyak manusia tidak berfikir dan mengabaikannya.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ قَالُواْ إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ
أَلا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَـكِن لاَّ يَشْعُرُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka:"Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi [24]". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.  Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar.” (QS: Al-Baqarah [2]: 11-12)
Maka, marilah kita mekukan muhasabah (evaluasi diri) mengapa musibah itu terjadi? Adakah itu merupakan ujian yang diberikan Allah Subhanahu Wata’ala untuk kita sebagai peningkatan kualitas keimanan? Atau musibah tersebut merupakan teguran atas kekeliruan kita dalam mengelola serta memanfaatkan sumber-sumber daya yang diamanahkan kepada kita? Atau adakah kesalahan dan dosa-dosa lain yang kita lakukan kepada Allah? Jika benar karena dosa-dosa besar, mari kita bertobat.

Muhasabah ini sangat penting agar kita menyadari titik kesalahan dan kekeliruan kita. Sehingga kita dapat bertindak lebih baik di masa-masa selanjutnya.*/Imam Nawawi hidayatullah.com
 
 
Read more...

Ada Keindahan di Musim Gugur

Tidak ada komentar

Muslim gugur, identik dengan kering yang ditandai berjatuhannya dedauan dari pohon-pohon.  Menurut ilmiah, musim gugur adalah salah satu dari empat musim di daerah beriklim sedang, masa peralihan dari musim panas ke musim dingin. Begitulah siklus alam yang telah Allah tetapkan di sebagian bumi yang Dia ciptakan.
Ada Keindahan di Musim GugurTetapi kita tidak sedang membicarakan masalah ilmiah iklim. Mari kita kiaskan musim gugur ibarat jiwa seseorang yang sedang dirundung lara atau masalah. Seperti tujuan yang tidak tercapai, terkena musibah, sakit, doa yang belum terkabul, dan banyak lainnya.
Setiap insan pasti akan terus mendapatkan ujian, ini adalah sunnatullah yang akan terus berjalan hingga akhir kehidupan.
“Maha Suci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (Qs. Al-Mulk: 1-2)
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia.” (QS. Al Mu’minun: 115-116)
Bagi umat beriman (Muslim), ujian diyakini sebagai salah satu hal yang pasti akan dilalui dan salah satu pintu menuju keridhoan ilahi. Seorang Muslim amat sadar bahwa dirinya diciptakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja, ia akan menerima segala konsekuensinya dalam perjalanan hidupnya demi mengharap ridho Allah Ta’ala.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, pada-hal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Qs. Al-Baqarah: 214)
Manusia akan merasa sangat sedih dan gundah gulana ketika ditimpa cobaan, ini adalah fitrah manusia pada umumnya. Dada yang terasa sesak dan hidup tak tenang hampir saja membuat putus asa.
Tetapi ada janji Allah yang indah bagi mereka yang mampu melewati ujian dengan sabar.
Musim gugur, meninggalkan daun-daun kering berjatuhan dan ranting-ranting yang meranggas.
Tetapi duduklah sejenak dan merenung. Tidakkah engkau lihat betapa di sana ada keindahan? Ya, di musim gugur pun ada keindahan.
Daun-daun yang gugur dan kelopak-kelopak bunga yang indah berguguran ke tanah, menciptakan pemandangan indah di perjalanan yang tidak engkau lihat di musim lainnya.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya dan kebaikan itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Apa bila ia mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah  yang terbaik untuknya. Dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya,” demikian sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits shahih riwayat Muslim no. 7500 hal. 1295.
Sabar, adalah keindahan dalam setiap ujian yang dialami. Pahala yang besar, adalah apa yang Allah janjikan bagi orang-orang yang bersabar.
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az Zumar: 10)
“…janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (Qs. Az-Zumar: 53)
“Maka bersabarlah kamu sebagaimana bersabarnya orang-orang yang memiliki keteguhan dari para rasul.” (Qs. Al-Ahqaf: 35)
Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar. Sangat banyak ayat-ayat Allah mengingatkan manusia dalam Kitab-Nya Al-Qur’an untuk senantiasa bersabar. 
Maka keindahan itu hanya akan didapat oleh orang-orang yang sabar.
Pohon rindang dan berbunga indah tak kuasa menahan gugurnya daun dan kelopak bunganya. Semua akan kembali kepada Allah.
Semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya, yakinlah, niscaya engkau tak akan pernah putus asa menghadapi ujian.

Ummu Salamah -salah satu istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- berkata bahwa beliau pernah mendengar Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa saja dari hamba yang tertimpa suatu musibah lalu ia mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un. Allahumma’jurnii fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa [Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berilah ganjaran terhadap musibah ang menimpaku dan berilah ganti dengan yang lebih baik]”, maka Allah akan memberinya ganjaran dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim no. 918)
Semua memang tak seindah teori, tetapi semua seindah Qadarallah (takdir Allah).
Bisa jadi apa yang kita pandang baik, belum tentu baik menurut Allah, dan sebaliknya. Allah Maha mengetahui yang terbaik bagi hamba-hambaNya.
Dan setelah musim gugur, datanglah musim semi.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Alam Nasyroh: 5)
“Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Qs. Alam Nasyroh: 6)
Setiap ujian yang menimpa, pasti ada hikmah padanya. Baik disadari atau tidak. Setiap kesulitan pasti ada kemudahan, itulah janji Allah, dan Allah tak pernah dan tak akan pernah mengingkari janji. Allah Maha Benar dan JanjiNya adalah benar. 
Maka kemudian musim semi pun datang membawa segala keindahannya.
Sumur yang kering telah basah kembali, bahkan kami lupa kemarin sumur kami mengering.
Wallahu a’lam bish shawab
(zafaran/muslimahzone.com)
Read more...

Mengingat Kematian

Tidak ada komentar
Sesungguhnya di antara hal yang membuat jiwa melantur dan mendorongnya kepada berbagai pertarungan yang merugikan dan syahwat yang tercela adalah panjang angan-angan dan lupa akan kematian. Oleh karena itu di antara hal yang dapat mengobati jiwa adalah mengingat kematian yang notabene merupakan konsekuensi dari kesadaran akan keniscayaan keputusan Ilahi, dan pendek angan-angan yang merupakan dampak dari mengingat kematian.Janganlah ada yang menyangka bahwa pendek angan-angan akan menghambat pemakmuran dunia. Persoalannya tidak demikian, bahkan memakmurkan dunia disertai pendek angan-angan justeru akan lebih dekat kepada ibadah, jika bukan ibadah yang murni.
Rasulullah saw bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ
“Orang yang cerdas ialah orang yang mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah kematian.” (HR Tirmidzi)
Persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mengingatnya di dalam hati, sedangkan untuk selalu mengingat di dalam hati tidak akan terwujud kecuali dengan selalu mendangarkan hal-hal yang mengingatkannya dan memperhatikan peringatan-peringatannya sehingga hal itu menjadi dorongan untuk mempersiapkan diri. Kepergian untuk menyambut kehidupan setelah kematian telah dekat masanya sementara umur yang tersisa sangat sedikit dan manusiapun melalaikannya.
اقْتَرَبَ لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِي غَفْلَةٍ مُعْرِضُونَ
“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al-Anbiya 1)
Orang yang tenggelam dengan dunia, gandrung kepada tipu-dayanya dan mencintai syahwatnya tak ayal lagi adalah orang yang hatinya lalai dari mengingat kematian; ia tidak mengingatnya bahkan apabila diingatkan ia tak suka dan menghindarinya. Mereka itulah yang disebutkan Allah di dalam firman-Nya:
قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS Al-Jumu’ah 8)
Kemudian manusia ada yang tenggelam ke dalam dunia, ada pula yang bertaubat dan ada pula yang arif.
Pertama: adapun orang yang tenggelam ke dalam dunia, ia tidak mengingat kematian sama sekali. Jika diingatkan ia mengingat semata-mata untuk menyesali dunianya dan sibuk mencelanya. Baginya, mengingat kematian hanya membuat dirinya semakin jauh dari Allah.
Kedua: Adapun orang yang bertaubat, ia banyak mengingat kematian untuk membangkitkan rasa takut dan khawatir pada hatinya lalu ia menyempurnakan taubat dan kadang-kadang tidak menyukai kematian karena takut disergap sebelum terwujud kesempurnaan taubat dan memperbaiki bekal. Dalam hal ini ia dimaafkan dan tidak tergolong ke dalam sabda Nabi saw:
مَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ
“Barangsiapa membenci pertemuan dengan Allah, maka Allah membenci pertemuan dengannya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Karena sesungguhnya ia tidak membenci kematian dan perjumpaan dengan Allah, tetapi hanya takut tidak dapat berjumpa dengan Allah karena berbagai kekurangan dan keteledorannya. Ia seperti orang yang memperlambat pertemuan dengan kekasihnya karena sibuk mempersiapkan diri untuk menemuinya dalam keadaan yang diridhainya sehingga tidak dianggap membenci pertemuan. Sebagai buktinya ia selalu siap untuk menemuinya dan tidak ada kesibukan selainnya. Jika tidak demikian maka ia termasuk orang yang tenggelam ke dalam dunia.
Ketiga: Sedangkan orang yang ‘arif, ia selalu ingat kematian karena kematian adalah janji pertemuannya dengan kekasihnya. Pecinta tidak akan pernah lupa sama sekali akan janji pertemuan dengan kekasihnya. Pada ghalibnya orang ini menganggap lambat datangnya kematian dan mencintai kedatangannya untuk membebaskan diri dari kampung orang-orang yang bermaksiat dan segera berpindah ke sisi Tuhan alam semesta. Sebagaimana diriwayatkan dari Hudzaifah bahwa ketika menghadapi kematian, ia berkata:
“Kekasih datang dalam kemiskinan, semoga tidak berbahagia orang yang menyesal.Ya Allah, jika Engkau mengetahui bahwa kemiskinan lebih aku cintai dari kekayaan, sakit lebih aku cintai dari kesehatan, dan kematian lebih aku cintai dari kehidupan, maka permudahlah kematian atas diriku agar segera dapat berjumpa dengan-Mu”
Jadi, orang yang bertaubat dimaafkan dari sikap tidak menyukai kematian sedangkan orang yang ‘arif dimaafkan dari tindakan mencintai dan mengharapkan kematian. Tingkatan yang lebih tinggi dari keduanya ialah orang yang menyerahkan urusannya kepada Allah sehingga ia tidak memilih kematian atau kehidupan untuk dirinya. Apa yang paling dicintai adalah apa yang paling dicintai kekasihnya. Orang ini melalui cinta dan wala’ yang mendalam berhasil mencapai maqam taslim dan ridha, yang merupakan puncak tujuan. Tetapi bagaimanapun, mengingat kematian tetap memberikan pahala dan keutamaan.Karena orang yang tenggelam ke dalam dunia juga bisa memanfaatkan dzikrul maut untuk mengambil jarak dari dunia sebab dzikrul maut itu membuat dirinya kurang berselera kepada kehidupan dunia dan mengeruhkan kemurnian kelezatannya. Setiap hal yang dapat mengeruhkan kelezatan dan syahwat manusia adalah termasuk sebab keselamatan. Rasulullah saw bersabda:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur berbagai kelezatan, yaitu kematian.”
(HR Tirmidzi, Nasaa’I dan Ibnu Majah)
Artinya, kurangilah berbagai kelezatan dengan mengingat kematian sehingga kegandrungan kamu kepada berbagai kelezatanterputus lalu kamu berkonsentrasi kepada Allah, karena mengingat kematian dapat menghindarkan diri dari kampung tipudaya dan menggiatkan persiapan untuk kehidupan akhirat, sedangkan lalai akan kematian mangakibatkan tenggelam dalam syahwat dunia, sabda Nabi saw:
تحفة المؤمن الموت
“Hadiah orang mu’min adalah kematian.” (HR Thabrani dan al-Hakim)
Nabi saw menegaskan hal ini karena dunia adalah penjara orang mu’min, sebab ia senantiasa berada di dunia dalam keadaan susah mengendalikan dirinya, menempa syahwatnya dan melawan syetannya. Dengan demikian, kematian baginya adalah pembebasan dari siksa ini, dan pembebasan tersebut merupakan hadiah bagi dirinya. Nabi saw bersabda:
الموت كفارة لكل مسلم
“Kematian adalah kafarat bagi setiap muslim.” (HR al-Baihaqi)
Yang dimaksudnya adalah orang muslim sejati yang orang-orang muslim lainnya selamat dari gangguan lidah dan tangannya, yang merealisasikan akhlaq orang-orang mu’min, tidak terkotori oleh berbagai kemaksiatan kecuali beberapa dosa kecil, sebab kematian akan membersihkannya dari dosa-dosa kecil tersebut setelah ia menjauhi dosa-dosa besar dan menunaikan berbagai kewajiban. Sebagian kaum bijak bestari menulis surat kepada salah seorang kawannya:
“Wahai saudaraku hati-hatilah terhadap kematian di kampung ini sebelum kamu berada di sebuah kampung di mana kamu berharap kematian tetapi tidak akan mendapatkannya.”
Read more...

Sya'ir maksiat Kubro(Sya'ir Tahun Baru)

Tidak ada komentar
by Andiy Qutuz Leonidaz-ll

Dino-dino iki moto podo disuguhi reno-reno kebejatan

gak pimpinan-e
gak pejabat-e
gak mentri-ne
gak rakyat-e
gak remaja-e
podo koplak kabeh !

royokan
podo ngelakoni maksiyat kubro
nyambut tahun baru koyok nyambut menang-e iblis karo setan durjana

sing pimpinan-e dubleg kuping-e...picek moto-ne gak arep syareat-e gusti Allah...

sing pejabat-e kelakuane podo karo penjahat seneng ngerampok dunyon-e rakyat-e dewe..

sing menteri podo ngerusak
rakyate, ono' menteri sing rusak akale ngongkon
remaja-e nggawe kondom digawe ngelakoni zina sak nggon-nggon

akibate tahun barune dadi puncak maksiyat sing nyoto !
nek wes ngene iki adzab gusti Allah wes pantes mudhun !

bumi para wali Allah,

31 Desember 2012

AQL
Translate
Hari-hari ini berjuta mata disuguhi berbagai kebejatan.
Baik Pemimpinnya
Pejabatnya
Para Mentrinya
Rakyatnya
Remajanya
Semua pada menggila
Berebut untuk melakukan kemaksiatan yang besar
Menyambut tahun baru seperti menyambut menangnya Iblis dan Syetan yang durjana
Para pememimpin yang Tuli telinganya, picik matanya, tidak mau menerapkan Syariat Allah
Para pejabat yang kelakuannya mirip penjahat merampok rakyatnya sendiri
Ada mentri perusak generasinya!!!
Merusak akal generasi dengan menyuruh berzina dengan Kondom di mana-mana
Akibatnya Tahun baru justru menjadi puncak kemaksiatan yang nyata
Kalau sudah seperti ini pasti Adzab Allah akan segera turun!!!
Bumi Para Wali Allah 31 Desember 2012
AQL
====> Menjelang Tahun Baru Kondom Ludes Terjual

 
Read more...

Ya Supir, Ya Habib...

Tidak ada komentar
MENEMPUH studi di negeri orang selalu punya cerita tersendiri. Baru sebulan lebih kuliah di Universitas Islam Madinah (UIM), Saudi Arabia, sudah banyak pengalaman dan pelajaran menarik yang saya temui di Kota Nabi ini.

Seperti pada Ahad, lalu. Malam itu selepas Maghrib waktu setempat, saya dan Lukman Hakim, kawan saya yang sama-sama dari Indonesia ketinggalan Bis Kampus. Bis ini biasanya selalu membawa teman-teman mahasiswa menuju kampus UIM dari apartemen kami di Jalan Abu Dzar al-Ghifari, Madinah.

Berhubung akan ada muktamar penting ba'da Isya, kami memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi umum (Naql) menuju Kampus UIM. Naql sebenarnya mobil pribadi yang kerap digunakan masyarakat untuk angkutan umum, kebanyakan model sedan dan 4WD kalau di Indonesia.

Harga sewanya pun masih bisa dinego. Beda dengan “Ujroh” yang harganya sudah ditetapkan. Naql lebih banyak ketimbang Ujroh.

Di dalam Naql, kami bertemu dengan sopirnya yang sangat kuat bersholawat dan menyebutkan Asmaul Husna. Penampilan supir itu sederhana, syarat akan ketawadduan dan kebijaksanaan.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba supir membawa kami ke jalur yang belum pernah kami lewati untuk menuju kampus. Karena merasa nggak enak dan khawatir, saya memberi kode kepada supir kalau jalan ini salah. Supir tersenyum, mengucapkan kalimah toyyibah, lalu menjelaskan dengan santun.

"Kita mengisi bensin dulu di depan, kemudian balik arah menuju Jami'ah Islamiyah," ujarnya.
Alhamdulillah... Tenang rasanya perasaan yang ini. Kami terus berdoa kepada Allah Subhanahu wata'ala  untuk dijauhkan dari kejahatan makhluk-Nya.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di Jalan Kholid bin Walid, jalan besar menuju kampus. Saya mencoba memecah kesunyian di antara kami bertiga dengan basa-basi ringan ala bangsa Arab. Ternyata supir tersebut sangat merespon dan bersholawat dan lebih banyak berdoa.

"Anta min Sumatro (kamu dari Sumatra)?" tanya supir.

"Laa! Ana min Borneo (tidak! Saya dari Kalimantan)," jawab saya singkat.

Karena penasaran, saya balik bertanya, "Hal zurta Indunisya (apakah Anda sudah mengunjungi Indonesia)?"

"Wallahi lamma! Lakin, insya Allah ya Kariim ya Ghoni," jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Wa hal anta min sukkani al-Madinah (Anda tinggal disini)?" usut saya.

"Na'am! Walhamdulillah,­ ni'ma ad-daar wallah (Ya! Dan alhamdulillah, demi Allah ini adalah tempat yang baik)," tambah supir.

"Minal Anshor (Anda bagian dari kaum Anshor yang menolong Nabi di kala hijrah)?" tanya saya lagi. Pertanyaan ini merupakan kemuliaan bagi penduduk Madinah.

"Ana min Aali al-Bayt (Saya dari keluarga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam)," jawab supir santun, diiringi sholawat syahdu setelahnya.

“Habib” yang tawadhu', batin saya dalam hati. Saya dan Lukman saling berpandangan, terperanjat. Ini anggota rumah Nabi, ini keluarga Nabi, batin kami.

"Masya Allah, Tabarakallah... Hayyakallah ya Syaikhona," doa saya untuknya.

"Apakah Anda mengetahui nasab Anda sampai Rasulullah SAW?" tanya Lukman meramaikan suasana malam itu.

"Ya! Tentu. Alhamdulillah,"­ jawabnya santun, lagi-lagi diiringi sholawat khasnya, sembari tetap fokus menyetir kendaraan.

Terbayang di pikiran saya akan hak-hak dia atas kami dari ihtirom (penghormatan) dan takrim (memuliakan). Sebagaimana terbayang jelas gambaran penduduk Indonesia yang sangat menghormati Keluarga Nabi, sampai menyematkan gelar "Habib" kepada mereka yang jumlahnya tentu saja sangat banyak.

Membandingkan supir yang mengantarku malam ini, serasa ada perbedaan jauh dengan di Indonesia. Lalu terbayang sikap beberapa kaum muslimin Tanah Air yang ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama). Sangat kontras dengan penampilan "habib" Hamzah  ini.

Akhirnya, di belokan pertama Jalan Sulthonah saya ceritakan penghormatan masyarakat Indonesia kepada keturunan Nabi di Tanah Air. Mendengarnya, 'habib' ini beristighfar dan memberi nasihat agar penghormatan dilakukan secara wajar tanpa berlebihan.

"Tidak sepantasnya ghuluw. Cukuplah penghormatan kepada mereka sebagai saudara muslim. Nabi mengatakan, 'Saya Sayyid orang yang bertaqwa, walaupun ia hamba sahaya dari Negeri Habasyah.' Nasab tidak men-tazkiyah (mensucikan) seseorang..." pesannya pendek.

"Apakah mereka tidak membaca ayat Allah, 'Tidaklah Muhammad itu Bapak dari seseorang di antara kalian, akan tetapi dia adalah Rasulullah...'?" lanjut supir istimewa kami malam itu.
Menurutnya, semua manusia sama dihadapan Allah subhanahu wata'ala. Yang membedakan derajat manusia adalah ketaqwaan kepada-Nya.

Sampailah kemudian kami di pintu gerbang kampus UIM. Kami turun di depan gedung kuliah Fakultas Syari'ah.

"Bikam, Syeikh (berapa yang kami bayar)?" tanya saya memastikan kesepakatan awal di depan apartemen tadi.

"Asyaroh Riyal bass (cukup 10 riyal)," jawabnya dengan logat ammiyah yang khas.

"Afwan, syu ismik?" saya menanyakan namanya dengan ammiyah (Bahasa Arab pasaran) dasar untuk lebih mengakrabkan, diiringi tendangan ringan Lukman ke kaki saya.

"Ana Hamzah al-Jaelani. Syaikh Abdul Qadir Jaelani salah satu kakek saya," jawabnya.
"Hayyakallah ya Syeikh Hamzah, Ana Akhukum Muhammad Dinul Haq (semoga Allah memuliakanmu syaikh, saya saudara Anda)".

"Hayyakallah ya Indunisy," doa Syeikh Hamzah.

Kami pun berpisah dengan harapan bertemu kembali. Lukman lalu mengajak saya menuju kantin kampus sambil menunggu azan Isya’, dengan senyuman atas pengalaman malam ini.
"Luke, ada hikmahnya juga ketinggalan bis," celetuk saya, memanggil sapaan akrab Lukman.

"Hmm itu orang kalau di Indonesia pasti udah jadi Habib besar dan dipuji orang..." canda Lukman dengan logat khas Makassarnya.*/Muhammad Dinul Haq, kontributor hidayatullah.com di Madinah

hidayatullah
Read more...

Allah SWT ‘Merindukan’ Tobat Kita

Tidak ada komentar
Allah SWT tentu benci terhadap hamba-Nya yang bermaksiat kepada-Nya. Namun sebaliknya, Allah SWT amat suka dan bergembira terhadap orang-orang yang segera bertobat dari dosa dan kemaksiatannya. Allah SWT bahkan menegaskan, bahwa ampunan-Nya bagi orang-orang yang mau bertobat adalah selalu lebih besar dari dosa-dosanya.

data:image/jpeg;base64,/9j/4AAQSkZJRgABAQAAAQABAAD/2wCEAAkGBwgHBgkIBwgKCgkLDRYPDQwMDRsUFRAWIB0iIiAdHx8kKDQsJCYxJx8fLT0tMTU3Ojo6Iys/RD84QzQ5OjcBCgoKDQwNGg8PGjclHyU3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3Nzc3N//AABEIAGIAggMBIgACEQEDEQH/xAAbAAABBQEBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIEBQYHA//EADsQAAEDAgMDBwoFBQEAAAAAAAEAAgMEEQUSIRMxQQYiUWFxgZEUM1JTobHB0eHwBzJCcpIjQ2KCkxb/xAAZAQEBAAMBAAAAAAAAAAAAAAAAAQIDBAX/xAAgEQEAAgIBBAMAAAAAAAAAAAAAARECAxIEITFBEyJR/9oADAMBAAIRAxEAPwDaXQomKvkhw+ominET44nvDnAEaNO+6hzYhLQ0cD5nNqpHBhdqGnnEDQWtbVeVdC3S3Wdn5QSCOYMZGx7A8/nvYtmDMpuLAkG/eptRjLIqaeeOMSCFz2luexcGEAltgbi5twTlC1K1SKvoqypmxCuhmiYyGBzWscCcxu0HUd6mveBdW4lA4Pc3+m8MN95bdNyz8Jmf8/qk2lggShY2lFyTcZm7uEf1T42vaDtJM/RzbWTBJzl51FQWANYLvcbDoHaqU9HyNc8xA87Lc26NybRyF9O0uN3C4J6wvKJoitrdzjdzvSKWiOWaoj/yzDvUvuqWlCTd2JVkFQhCoEIQgpsbwqor6mkqKWTZy0weWX3Fxy2B6jYpIabExFQgx5CwtE4a4FpBBuAL9NuB9llckA2uN2oSCNo1AspxxW1U6LEjS0zHBz3xzM2paWgyNsc19SN9lGpaPFWywuqWsfdkLJc9ncX7Q9tiN3Sr7ZtsBbQdaQsb0JxgtX0ja0Vkrpw9tOYm5GvsSHXObd3L1nzZTYE8NAV7ytaBuVNjM4p6SWQmwY0nf0BYzXhGIm5Y4vT1M5ApZoGyOysc1zHBt9BcXG7qUmi/EWB5AqqSVjuJjcJB8D7FmBJJMxpmkfI4jUucSVQ4jTbGYkDmO1C9Cen1z6HZsP5V4fXhwo5C+Vo80Wlrhr12U9kjhkc95c4yDMeGumi41ySqXw4i7nOsWbr9YXUaOtEtMCTchzbeIXFu18MqgaEu0v0JGuyV8Z9Ywt7wozZ9ockID9ec79I+adUPAZDM0g5HjULTYt0JrXd6XMFtCpbpOxF0DkJqFQ5CAboQCQpUig8Jjosfy6qNhgVY4Gx2LgO/T4rXTnQrnv4mz5MHey+r3sZ7b/BMIvZEDJUxvAw9SSrpxPA5vEC4TMPdmpWdi0XJ2lwirNW3Fax9Pso8zS1zQdd2jvzeI7ej05mIWItjcEvFiRDgbhh08F0PA5HPbkewFriObf3lYw0zYsUErTdpuCRxWowmSUvbzmxN6SLu7uA9q5Ooi0bGRjtkA+RkbfRA0++2/Ymx08bBI5ocXyN4k7xr8U6jjYbOYC93rJna/TwU+MEaOc11/RFlwwJdE4S0sTt/Nt4L3y9ZUHCXWikh9W8qwW2PAbY9ASWPWnJVaDLnoQnIQLYIsRxulQgbfTVBIslKa4aII050K5V+KU9200PpTE+At8V1KoBsbLjf4mTZsVpIvRYXn/Y/RZdPF7RDwOz4WNNvzWNzYeNjbwW3pOTtZhWLT1tBFTV0lLG2RrnNuJYiQdGnjpY8d9lgsCu+MsAJOawA4rt+HVNPgnJGI4kJ6jE3NeTFCwvyncGuI0FgBpe9135ssXOuVuM0mL4nSvpaeGA7MmSCKJrBEcw5um/jqdey9lJwaRzS0N5vYshHUiqxmV4e52cHV4sTqPatbhQs9vaubfHZJbamN42npCkt3/f3wUSj1gZ2KUN/398VwQgpHbPEpGcJGX7x9lWg3KnmOzqqebgHZT2H7KuNwuQVtxAlUabEKKn8/V08duDpWg+9QZeU2DRb65jj0Ma53uCziJFshUH/ALDB/Wzf8ihZcMvwaFCzk3LLCGebNRL+2O3vsoU3LqD+zQTO/fIG+66cMhrykO5YOblxWO8zR08fRmLnfJQpuVuMSA5ZYo/2RD43V+PIb2q8249RXEPxAEk3KeQMY9wijYy4aTwv8VoqjGsUnBEtfOQeAdl9ypJ4ttK58hLnE3LnG5K2asOGXKRCwCvqsGMs8EV5XsdE0kEOZdtszTwINiDvVyzlDV1GHPpql1Y7LcZw/Nm7d3FRqIMp3uEkIkjeLPG426jwK0dVhDBQMmp2tfGWB185Bt1j6rdOdrDGYfHNV45HK5gBc4knQXNjqetbukw6dlnRubccCFknQES3cADfgrGjxGtoyNjO6w/S7nD2rTtic/CNzSzVcLA2SBhtxa4j5qcypz2BY5t9L6ELLUXKxzbNrKUO/wAojb2H5q9pMawytsGzsa8/plGU+1cmWvKPQsKwZ6Ynos5c4xB0/lU0c80kha8jnvJ49a6W5gdCWD8paQFz/lFDs8Sc+2kjQ7v3fBbdE/ahVgWSoQuoCEIQCEIQCc1pcbC3eU1CBxif0Dp3heWwfqbD+QTwbajTsSGaU/3HeKB1PCWyB72ghvDMFYeXTmHIGjXQc4WAVZtZLW2jrdqNtL61/ipQc+F2fNzT/sE7YP6G/wAgmNmlzecf4r0EsnrHeKoNg8cB/IIMD+gfyCeKh4HT1lx+aBUv05rdO35oPajqsQoiPJah8Y9EPFvA6JlXNVVsm1qJA48NQAOxNNS8m9hfqJ+ab5Q/gAO8/NSo8huykAvYfyCsBgWInDBiWwHkhzWkDxwbmOnZqoXlL9NBpu1PzVizH6lmFnD2xtERjdGSHv3OblJte17dSrbr+PvzVCElj1JEajkIQgEIQgTpTEIQIUIQoFG8L0QhUB3IQhAIO5IhAqEIQCEIQf/ZDalam hal ini, Rasulullah SAW, sebagaimana dinyatakan oleh Anas bin Malik ra pernah bersabda, bahwa Allah SWT telah berfirman, “Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah sesuai dengan apa yang kamu panjatkan dan harapkan kepada Diri-Ku. Aku mengampuni kamu atas dosa-dosa yang telah kamu lakukan dan Aku rela. Hai anak Adam, andai dosa-dosamu memenuhi seluruh langit, lalu kamu memohon ampunan-Ku, pasti Aku mengampuni kamu. Hai anak Adam, sesungguhnya kamu, andai kamu mendatangi Aku dengan memikul dosa-dosa sepenuh bumi, kemudian kamu menjumpai Aku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apapun, pasti Aku akan mendatangi kamu dengan ampunan sepenuh bumi pula.” (HR at-Tirmidzi, hadis hasan-shahih).

Dalam nada yang sama, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Dzarr ra, bahwa Allah SWT telah berfirman, “Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sedepa, Aku mendekat kepadanya sejengkal. Siapa saja yang mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari. Siapa saja yang menjumpai-Ku dengan memikul dosa sepenuh bumi—selama dia tidak menyekutukan Aku dengan apapun—maka aku akan menjumpainya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula.” (HR Muslim).

Anas juga berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi Zat yang jiwaku ada di tangan-Nya, andai kalian berbuat dosa hingga dosa-dosa kalian memenuhi langit dan bumi, kemudian kalian memohon ampunan kepada Allah, maka pasti Allah mengampuni kalian.’” (HR Ahmad).

Abu Hurairah rajuga menuturkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jala, saat menciptakan makhluk, Dia menuliskan pada makhkuk itu di atas ‘Arsy-nya: Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan murka-Ku.” (HR Muslim).

Karena itulah Rasulullah SAW memberikan petunjuknya secara berulang kepada manusia untuk segara bertobat dari dosa-dosa. Ampunan Allah SWT kepada mereka merupakan rahmat-Nya kepada mereka. Di antara petunjuk Rasulullah SAW tersebut adalah sabdanya, sebagaimana dituturkan oleh Abu Dzarr bahwa Allah SWT telah berfirman, "Wahai hamba-Ku, sesungguhnya kalian berbuat kesalahan malam dan siang hari, sementara Aku mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Karena itu, minta ampunlah kepada-Ku, pasti Aku mengampuni kalian.” (HR Muslim).

Abu Hurairah menuturkan dari Rasulullah SAW kisah dari penuturan Allah SWT sendiri yang berfirman, "Hamba-Ku berbuat suatu dosa. Ia lalu berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku atas dosa-dosaku.” Allah SWT berfirman, 'Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa.’ Lalu dia kembali berbuat dosa. Kemudian ia pun kembali berkata, ‘Ya Allah ampunilah aku atas dosa-dosaku.’” Allah SWT berfirman, “Hamba-Ku berbuat suatu dosa dan dia tahu bahwa dia memiliki Tuhan yang mengampuni dan menghapus dosa-dosa. Lakukanlah apa pun sekehendak kamu maka sesungguhnya Aku pasti mengampunimu.” (HR Muslim).
Karena itulah, Rasulullah SAW menyuruh kita untuk banyak bertobat kepada Allah SWT, sebagaimana sabdanya, "Wahai manusia, bertobatlah kalian kepada Allah SWT dan mintalah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertobat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.” (HR Muslim).
Tentu, Rasul bertobat bukan karena dosa-dosanya, karena beliau terpelihara dari dosa-dosa. Tobat beliau tidak lain merupakan bentuk makrifat beliau kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW juga bersabda, sebagaimana penuturan Abu Musa al-Asy’ari, "Sesungguhnya Allah melapangkan tangannya pada malam hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada siang harinya dan melapangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat pelaku kemaksiatan pada malam harinya.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW, sebagaimana penuturan Abu Hurairah ra juga berkata, “Siapa saja yang bertobat sebelum matahari terbit dari tempat terbenamnya, Allah pasti menerima tobatnya.” (HR Muslim).
Selain itu, sesungguhnya dosa yang diiringi dengan istighfar akan menambah makrifat kepada Allah, pengakuan atas penghambaan kepada-Nya dan menambah upaya merendahkan diri di hadapan-Nya. Hal demikian lebih Allah cintai daripada ketaatan yang diiringi dengan sikap ujub dan lalai.

Alhasil, di penghujung tahun ini, dan dalam rangka menyongsong awal tahun depan, marilah kita segera bertobat, dengan tawbatan nashuha. Sesungguhnya Allah SWT akan selalu ‘merindukan’ tobat kita. [] abi

mediaumat.com
Read more...

Category

Popular Posts

facebook