Comments

Tampilkan postingan dengan label Mukmin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mukmin. Tampilkan semua postingan

Ya Supir, Ya Habib...

Tidak ada komentar
MENEMPUH studi di negeri orang selalu punya cerita tersendiri. Baru sebulan lebih kuliah di Universitas Islam Madinah (UIM), Saudi Arabia, sudah banyak pengalaman dan pelajaran menarik yang saya temui di Kota Nabi ini.

Seperti pada Ahad, lalu. Malam itu selepas Maghrib waktu setempat, saya dan Lukman Hakim, kawan saya yang sama-sama dari Indonesia ketinggalan Bis Kampus. Bis ini biasanya selalu membawa teman-teman mahasiswa menuju kampus UIM dari apartemen kami di Jalan Abu Dzar al-Ghifari, Madinah.

Berhubung akan ada muktamar penting ba'da Isya, kami memutuskan untuk menggunakan jasa transportasi umum (Naql) menuju Kampus UIM. Naql sebenarnya mobil pribadi yang kerap digunakan masyarakat untuk angkutan umum, kebanyakan model sedan dan 4WD kalau di Indonesia.

Harga sewanya pun masih bisa dinego. Beda dengan “Ujroh” yang harganya sudah ditetapkan. Naql lebih banyak ketimbang Ujroh.

Di dalam Naql, kami bertemu dengan sopirnya yang sangat kuat bersholawat dan menyebutkan Asmaul Husna. Penampilan supir itu sederhana, syarat akan ketawadduan dan kebijaksanaan.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba supir membawa kami ke jalur yang belum pernah kami lewati untuk menuju kampus. Karena merasa nggak enak dan khawatir, saya memberi kode kepada supir kalau jalan ini salah. Supir tersenyum, mengucapkan kalimah toyyibah, lalu menjelaskan dengan santun.

"Kita mengisi bensin dulu di depan, kemudian balik arah menuju Jami'ah Islamiyah," ujarnya.
Alhamdulillah... Tenang rasanya perasaan yang ini. Kami terus berdoa kepada Allah Subhanahu wata'ala  untuk dijauhkan dari kejahatan makhluk-Nya.

Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di Jalan Kholid bin Walid, jalan besar menuju kampus. Saya mencoba memecah kesunyian di antara kami bertiga dengan basa-basi ringan ala bangsa Arab. Ternyata supir tersebut sangat merespon dan bersholawat dan lebih banyak berdoa.

"Anta min Sumatro (kamu dari Sumatra)?" tanya supir.

"Laa! Ana min Borneo (tidak! Saya dari Kalimantan)," jawab saya singkat.

Karena penasaran, saya balik bertanya, "Hal zurta Indunisya (apakah Anda sudah mengunjungi Indonesia)?"

"Wallahi lamma! Lakin, insya Allah ya Kariim ya Ghoni," jawabnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Wa hal anta min sukkani al-Madinah (Anda tinggal disini)?" usut saya.

"Na'am! Walhamdulillah,­ ni'ma ad-daar wallah (Ya! Dan alhamdulillah, demi Allah ini adalah tempat yang baik)," tambah supir.

"Minal Anshor (Anda bagian dari kaum Anshor yang menolong Nabi di kala hijrah)?" tanya saya lagi. Pertanyaan ini merupakan kemuliaan bagi penduduk Madinah.

"Ana min Aali al-Bayt (Saya dari keluarga Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam)," jawab supir santun, diiringi sholawat syahdu setelahnya.

“Habib” yang tawadhu', batin saya dalam hati. Saya dan Lukman saling berpandangan, terperanjat. Ini anggota rumah Nabi, ini keluarga Nabi, batin kami.

"Masya Allah, Tabarakallah... Hayyakallah ya Syaikhona," doa saya untuknya.

"Apakah Anda mengetahui nasab Anda sampai Rasulullah SAW?" tanya Lukman meramaikan suasana malam itu.

"Ya! Tentu. Alhamdulillah,"­ jawabnya santun, lagi-lagi diiringi sholawat khasnya, sembari tetap fokus menyetir kendaraan.

Terbayang di pikiran saya akan hak-hak dia atas kami dari ihtirom (penghormatan) dan takrim (memuliakan). Sebagaimana terbayang jelas gambaran penduduk Indonesia yang sangat menghormati Keluarga Nabi, sampai menyematkan gelar "Habib" kepada mereka yang jumlahnya tentu saja sangat banyak.

Membandingkan supir yang mengantarku malam ini, serasa ada perbedaan jauh dengan di Indonesia. Lalu terbayang sikap beberapa kaum muslimin Tanah Air yang ghuluw (berlebih-lebihan dalam beragama). Sangat kontras dengan penampilan "habib" Hamzah  ini.

Akhirnya, di belokan pertama Jalan Sulthonah saya ceritakan penghormatan masyarakat Indonesia kepada keturunan Nabi di Tanah Air. Mendengarnya, 'habib' ini beristighfar dan memberi nasihat agar penghormatan dilakukan secara wajar tanpa berlebihan.

"Tidak sepantasnya ghuluw. Cukuplah penghormatan kepada mereka sebagai saudara muslim. Nabi mengatakan, 'Saya Sayyid orang yang bertaqwa, walaupun ia hamba sahaya dari Negeri Habasyah.' Nasab tidak men-tazkiyah (mensucikan) seseorang..." pesannya pendek.

"Apakah mereka tidak membaca ayat Allah, 'Tidaklah Muhammad itu Bapak dari seseorang di antara kalian, akan tetapi dia adalah Rasulullah...'?" lanjut supir istimewa kami malam itu.
Menurutnya, semua manusia sama dihadapan Allah subhanahu wata'ala. Yang membedakan derajat manusia adalah ketaqwaan kepada-Nya.

Sampailah kemudian kami di pintu gerbang kampus UIM. Kami turun di depan gedung kuliah Fakultas Syari'ah.

"Bikam, Syeikh (berapa yang kami bayar)?" tanya saya memastikan kesepakatan awal di depan apartemen tadi.

"Asyaroh Riyal bass (cukup 10 riyal)," jawabnya dengan logat ammiyah yang khas.

"Afwan, syu ismik?" saya menanyakan namanya dengan ammiyah (Bahasa Arab pasaran) dasar untuk lebih mengakrabkan, diiringi tendangan ringan Lukman ke kaki saya.

"Ana Hamzah al-Jaelani. Syaikh Abdul Qadir Jaelani salah satu kakek saya," jawabnya.
"Hayyakallah ya Syeikh Hamzah, Ana Akhukum Muhammad Dinul Haq (semoga Allah memuliakanmu syaikh, saya saudara Anda)".

"Hayyakallah ya Indunisy," doa Syeikh Hamzah.

Kami pun berpisah dengan harapan bertemu kembali. Lukman lalu mengajak saya menuju kantin kampus sambil menunggu azan Isya’, dengan senyuman atas pengalaman malam ini.
"Luke, ada hikmahnya juga ketinggalan bis," celetuk saya, memanggil sapaan akrab Lukman.

"Hmm itu orang kalau di Indonesia pasti udah jadi Habib besar dan dipuji orang..." canda Lukman dengan logat khas Makassarnya.*/Muhammad Dinul Haq, kontributor hidayatullah.com di Madinah

hidayatullah
Read more...

Dirikan Shalat, Makmurkan Masjid: Rumus Muslim yang Selamat!

Tidak ada komentar






MENJADI seorang Muslim di abad modern memang tidak mudah. Apalagi jika punya niat untuk benar-benar menjadi Muslim yang serius dan sungguh-sungguh secara menyeluruh dalam sebua sikap dan tindakan (kaffah). Ada banyak sekali tantangan, rintangan, dan hambatan yang menghadang. Namun demikian, bagaimanapun situasi dan kondisinya, kita tetap harus berusaha menjadi Muslim yang kaffah.

Banyak tantangan nyata di era yang sering disebut global village ini, khususnya yang datang dari dunia informasi. Bagaimana hari ini media massa banyak yang salah dalam mengabarkan Islam dan umat Islam. Di sisi lain, dengan berbagai macam produk film, sinetron, dan talk-show --entah sengaja atau tidak—seolah menggiring kita yang menontonnya untuk cinta dunia lupa akhirat!
Tidak cukup disitu, lewat isu terorisme, Islam dan umat Islam serasa terus-menerut disudutkan. Seolah tidak rela melihat Islam tumbuh di negeri ini (bahkan belahan dunia lain). Kelompok Kerohanian Islam (Rohis) di sekolah-sekolah pun sempat dituduh sebagai sarang tumbuhnya terorisme. Setelah beberapa tahun sebelumnya konspirasi buruk itu gagal meyakinkan publik bahwa pesantren adalah sarang terorisme.

Meski demikian, sikap sejati orang Mukmin adalah harus tetap konsisten dengan pilihan keyakinan kita. Pepatah mengatakan, “Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu”.

Sikap seperti itulah yang semestinya kita miliki dalam menghadapi kaum yang berusaha melakukan makar dari berbagai sisi, agar akidah dan keimanan kita menjadi goyah, sehingga lunturlah komitmen kemusliman dan kemukminan kita.


Teguhkan Iman
Derasnya gelombang fitnah yang melanda kaum Muslimin saat ini ikut membuat sekian banyak kebingungan di tengah umat dan bahkan terbawa oleh arus fitnah tersebut.  Fitnah datang dalam bentun manusia, jin dan syetan.

Di era modern ini, fitnah bahkan datang dalam bentuk penyajian informasi, kekuasaan dan kekuatan politik dan negara adidaya.
Banyak orang tergila-gila dengan dunia informasi dan media, tetapi, pastikan, berita satu-satunya yang benar adalah khabar shodiq, yakni Al-Qur’an yang datangnya dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Jangan seperti kebanyakan orang saat ini, setiap hari sempat dan bersemangat membaca koran, melihat debat di TV, namun tak pernah sekalipun membaca Al-Qur’an.

Hadits Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam bersabda,


تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِيْ
“Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat di belakang keduanya, (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku.” (HR. Malik dan Al-Hakim)
Gencarnya fitnah, dan nilai-nilai yang sengaja merusak kaum Muslim –sedikit atau banyak—ikut mempengaruhi umat Islam. 

Sekedar contoh; jika seorang Muslim yang semestinya melihat dunia sebagai sarana menuju Allah Subhanahu Wata’ala, yang banyak justru menjadikannya sebagai tujuan. Harta yang semestinya diinfakkan, malah ditahan dan ditumpuk-tumpuk. Persaudaraan yang semestinya dijaga dan dikokohkan, malah dihancurkan. Bahkan, semestinya beribadah kepada Allah, malah mengabdikan diri pada kekuasaan. Fitnah dan informasi yang menyesatkan inilah yang banyak menggelincirkan kaum Muslim.
Maka tidak heran, jika hari ini orang banyak yang sudah tidak begitu peduli terhadap agama. Jika di dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan kita untuk mencari akhirat dengan tidak lupa dunia (QS/ 28 : 77), sekarang kondisinya sudah berbalik. Orang sibuk mengejar dunia tapi lupa akhirat.

Di sinilah tugas kita sebagai Muslim mendapatkan momentumnya untuk semakin dikuatkan, dikokohkan, dan dipatenkan, agar kita bisa mendapat ridha Allah Subhanahu Wata’ala.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS: Al Hijr [15]: 98, 99).

Artinya, kita harus terus-menerus mempertajam keimanan dan meneguhkannya. Dan, tidak ada cara terbaik untuk melakukan hal tersebut selain dengan menyempurnakan kesabaran dan kesungguhan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلاَّ بِاللّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ
“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS: An-Nahl [16]: 127, 128).

Hanya Tunduk kepada Allah

“Dan janganlah kamu menuruti orang-orang yang kafir dan orang- orang munafik itu, janganlah kamu hiraukan gangguan mereka dan bertawakkallah kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS: Al-Ahzab [33]: 48).
Menurut Ibnu Katsir ayat di atas merupakan suatu peringatan penting agar kita janggan mentaati (tunduk, takut, khawatir) orang-orang kafir dan munafik. Kita hanya boleh mendengarkan apa ucapan-ucapan mereka tetapi jangan pernah menghiraukannya sedikitpun.

Orang-orang kafir dan munafik tidak lebih laksanan seekor lalat yang suka kepada hal-hal yang kotor, jorok, bau busuk, dan menjijikkan. Mereka sama sekali tidak tahu mana bersih mana kotor. Bahkan karena kejahilannya, mereka sangat suka kepada yang kotor lagi menjijikkan.

Hal itu bisa dilihat dari cara berpikirnya, ucapannya, dan perbuatannya, yang jauh dari kebenaran dan kesucian. Lihat saja produk film-film Barat yang selalu menampilkan aurat, pemilihan ratu kecantikan yang mengumbar aurat, pergaulan bebas, dan materialistis.
Kemudian, terhadap umat Islam, mereka selalu curiga, dan benci, sehingga tidak mengherankan jika ulah orang kafir dan munafik senantiasa bertentangan dengan aturan Allah.

Dengan demikian, sangat terang bagi kita, mengapa kita harus tunduk kepada Allah semata. Karena bagaimanapun canggihnya upaya orang kafir dan munafik untuk menjerumuskan umat Islam, semua itu tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Muslim sejati. Karena semua sudah jelas. Antara hak dan bathil sangat jelas, antara baik dan buruk juga sangat terang.

Oleh karena itu, mari kita semua bersama-sama untuk tetap berusaha menjadi Muslim kaffah, yang hanya tunduk kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Sebab, hanya dengan menjadi Muslim kaffah saja kita akan mendapat petunjuk dari Allah sekaligus dapat benar-benar merasakan indahnya Islam ini secara nyata.

Bagaimana kita melakukan itu semua? Jawabnya sangat sederhana. Yakni dengan memakmurkan masjid Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berkumpul dengan orang-orang sholeh dan tidak takut kepada siapapun selain Allah. Itulah jalan satu-satunya, untuk menjadi Muslim yang cerdas. Muslim yang tidak terpengaruh oleh serbuan dunia informasi yang menyesatkan,  merugikan dan penuh fitnah.

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللّهِ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاَةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلاَّ اللّهَ فَعَسَى أُوْلَـئِكَ أَن يَكُونُواْ مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: At-Taubah [9]: 18).
Dengan melakukan itu semua, dijamin kita tidak akan terpengaruh, apalagi tunduk, atau salah jalan dalam menjalani kehidupan dunia yang fana ini. Karena Allah memberikan kesempatan, bagi siapa yang melakukan tiga langkah di atas pasti akan mendapat petunjuk.*/Imam Nawawi

hidayatullah
Read more...

Category

Popular Posts

facebook