Comments

Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nafsiyah. Tampilkan semua postingan

Mengapa Do'a Rakyat Yang Terdzalimi Tidak Dikabulkan Allah SWT?

Tidak ada komentar
Mengapa Do'a Rakyat Yang Terdzalimi Tidak Dikabulkan Allah SWT?
Oleh. Ust. Dwi Condro Triono

Walaupun rakyat sudah banyak terdzolimi, namun mengapa ketika berdo'a, tidak juga dikabulkan Allah SWT?

Jawabnya insyaAllah ada dalam Hadits di bawah ini :
ﻭَﺍﻟَّﺬِﻱ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﺑِﻴَﺪِﻩِ ﻟَﺘَﺄْﻣُﺮُﻥَّ ﺑِﺎﻟْﻤَﻌْﺮُﻭﻑِ ﻭَﻟَﺘَﻨْﻬَﻮُﻥَّ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﻤُﻨْﻜَﺮِ ﺃَﻭْ ﻟَﻴُﻮﺷِﻜَﻦَّ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻥْ ﻳَﺒْﻌَﺚَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻋِﻘَﺎﺑًﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﺛُﻢَّ ﺗَﺪْﻋُﻮﻧَﻪُ ﻓَﻠَﺎ ﻳُﺴْﺘَﺠَﺎﺏُ ﻟَﻜُﻢْ
"Demi Dzat yang diriku di tangan-Nya, sungguh kalian (punya 2 pilihan) : yaitu melakukan amar ma'ruf nahi munkar; ataukah Allah akan mendatangkan SIKSA dari sisi-Nya, yang akan menimpa kalian. Kemudian setelah itu kalian berdo'a, maka do'a itu TIDAK DIKABULKAN" (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Jawabnya : Jika rakyat yang terdzolimi DIAM, tidak mau melakukan amar ma'ruf nahi munkar pada penguasanya yang dzolim, maka kemungkinannya ada 2, yaitu :

1) Allah akan menurunkan SIKSA kepadanya.
2) Do'a mereka tidak dikabulkan oleh Allah.

Na'udzubillahi min dzalik. Janganlah kita DIAM! Karena diam (untuk urusan ini) tidaklah emas.
Wallahu a'lam. [Nur/.]
Read more...

Mereguk Keutamaan Ramadhan

Tidak ada komentar
Mereguk Keutamaan Ramadhan
Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan ragam kebaikan, keutamaan dan keberkahan. Pertama: Pada bulan Ramadhanlah puasa diwajibkan atas kaum Muslim sebagai  salah satu wasilah untuk meraih ketakwaan (QS al-Baqarah [2] :183).

Kedua: Ramadhan adalah bulan Alquran karena pada bulan inilah Allah SWT menurunkan Alquran bagi umat manusia; sebagai petunjuk dan penjelas bagi manusia, yang membedakan yang haq dengan yang batil serta menjelaskan jalan petunjuk-Nya (QS al-Baqarah [2] :185).
Ketiga: Pada bulan Ramadhan terdapat suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Itulah malam Lailatul Qadar (QS al-Qadar [97]: 1).

Keempat: Pada bulan Ramadhan, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu; sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Jika datang bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Kelima: Allah memberikan keistimewaan kepada umat yang berpuasa Ramadhan dengan menyediakan satu pintu khusus di surga yang dinamai ar-Rayyan. Sabda Nabi SAW, “Pintu ar-Rayyan hanya diperuntukkan bagi orang-orang berpuasa, bukan untuk selain mereka. Bila pintu tersebut sudah dimasuki oleh seluruh rombongan ahli puasa Ramadhan, maka tak ada lagi yang boleh masuk ke dalamnya.” (HR al-Bukhari, Muslim dan Ahmad).

Keenam: Puasa Ramadhan adalah perisai penghalang dari godaan hawa nafsu dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka. Rasul SAW bersabda, “Puasa (Ramadhan) merupakan perisai dan benteng yang kokoh dari siksa api neraka.” (HR Ahmad dan al-Baihaqi).

Ketujuh: Bau mulut orang yang berpuasa Ramadhan, di sisi Allah pada Hari Kiamat nanti, lebih wangi dari bau minyak kesturi (HR al-Bukhari dan Muslim). 

Kedelapan: Allah SWT memberikan dua kebahagiaan bagi ahli puasa, yaitu bahagia saat berbuka dan pada saat bertemu dengan Allah kelak pada Hari Akhir, sebagaimana kata Nabi SAW, “Orang yang berpuasa mempunyai dua kebahagiaan: kala berbuka dan kala bertemu Allah.” (HR Muslim).

Kesembilan Allah menjauhkan wajah orang yang berpuasa Ramadhan dari siksa api neraka, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Barangsiapa berpuasa satu hari di jalan Allah, dijauhkan wajahnya dari api neraka sebanyak (jarak) tujuh puluh musim.” (HR al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Nasa`i).
Kesepuluh: Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam (Hadits Nabi SAW melalui penuturan Abdullah bin Umar dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Kesebelas: Allah SWT memberikan balasan langsung kepada orang-orang yang berpuasa, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Setiap amalan Anak Adam, kebaikannya dilipat­gandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, ‘Kecuali puasa. Sesung­guhnya, amalan puasa itu adalah (khusus) bagi-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya karena (orang yang ber­puasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku.’”  (HR al-Bukhari dan Muslim).

Kedua belas: Puasa Ramadhan bisa menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosa hamba. Nabi SAW, bersabda, “Fitnah seseorang terhadap keluarga, harta, jiwa, anak dan tetangganya dapat ditebus dengan puasa, shalat, sedekah, serta amar makruf dan nahi mungkar.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Rasulullah SAW juga bersabda, “Shalat lima waktu, (dari) Jumat ke Jumat, dan (dari) Ramadhan ke Ramadhan, adalah penggugur dosa (seseorang pada masa) di antara waktu tersebut sepanjang ia menjauhi dosa besar.” (HR Muslim).

Rasulullah SAW pun bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa­-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR al-Bukhari)

Ketiga belas: Puasa Ramadhan akan memasukkan pelakunya ke dalam surga.  Abu Umamah ra pernah berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, perintahlah saya untuk mengerjakan suatu amalan, yang dengannya, saya dimasukkan ke dalam surga.” Beliau bersabda, ‘Berpuasalah, karena (puasa) itu tak ada bandingannya.’” (HR Ibnu Abi Syaibah, Ahmad, An-Nasa`i dan Ibnu Hibban).
Keempat belas: Puasa Ramadhan akan memberikan kepada pelakunya syafaat pada Hari Kiamat.  Rasulullah SAW bersabda, “Puasa dan Alquran akan memberikan syafaat untuk seorang hamba pada Hari Kiamat.” (HR Ahmad dan al-Hakim).

Dengan semua keutamaan di atas, tak selayaknya seorang Muslim menyia-nyiakan bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang menghampiri. Mari kita mereguk keutamaan Ramadhan sebanyak-banyaknya. [] abi.
Read more...

Lemah Lembut itu Kekuatan Nan Perkasa

Tidak ada komentar

Lemah Lembut itu Kekuatan Nan PerkasaKita perlu beristighfar atas kekurangan kita masing-masing, kelemahan diri kita dan kurangnya usaha dakwah kita hingga ummat Muhammad saw pada masa ini menghadapi berbagai masalah dalam berbagai rupa.
Zaman ini ummat Muslim dihajar habis-habisan oleh pemikiran kaum yang tidak suka dengan Islam, semisal terorisme, sekulerisme, pluralisme, demokrasi dan liberalisme. Dijangkiti pula oleh penyakit dari segi Harta, Tahta, Wanita. DiKita perlu beristighfar atas kekurangan kita masing-masing, kelemahan diri kita dan kurangnya usaha dakwah kita hingga ummat Muhammad saw pada masa ini menghadapi berbagai masalah dalam berbagai rupa.
Zaman ini ummat Muslim dihajar habis-habisan oleh pemikiran kaum yang tidak suka dengan Islam, semisal terorisme, sekulerisme, pluralisme, demokrasi dan liberalisme. Dijangkiti pula oleh penyakit dari segi Harta, Tahta, Wanita. Ditambah pula dengan kaum remajanya yang dirusak oleh perang pemikiran (ghazwul fikri) dalam bentuk 3F; Food, Fun dan Fashion.
Seolah tidak cukup dengan keberadaan serangan dari luar ini, kaum Muslim menambah derita dan sengsara dengan melakukan permusuhan internal. Saling mencela dan memfitnah sudah jadi kontes tanpa akhir. Melaknat dan membuka aib laksanan rantai pembalasan dendam tanpa akhir, keduanya keras kepala dengan pembenaran “kami begitu karena anda begitu, kami berhenti bila anda berhenti” atau dengan slogan “pembalasan itu harus lebih kejam”.
Satu kelompok menjelek-jelekkan kelompok yang lainnya, dan kelompok lainnya merasa dirinya sendirilah yang benar dan yang lain sesat. Satu gerakan merasa dialah satu-satunya yang paling berjasa sementara gerakan yang lain menafikkan kebaikan gerakan yang satu. Senang bila partai lain terjengkang sementara satu partai lain bisa berdiri bahagia diatasnya seraya berkata “Makanya!”
Sudahlah dimusuhi, kita memusuhi diri sendiri
Sudahlah jatuh, ditimpa tangga, ditabrak truk lagi
Apalagi pada saat ini, sosial media telah menjadikan semua orang punya cara untuk mengumumkan diri. Bila dahulu kala metode komunikasi adalah satu arah, kini komunikasi tanpa tahu arah. Bila dahulu kala hanya pengemban dakwah yang sudah teruji yang bisa menyampaikan ide, sekarang siapapun bisa menyampaikan walaupun dirinya sendiri tak memahami apa yang dibicarakan.
Sebagian memang bagus hasilnya, namun sebagaian lagi tidak
Dunia maya memungkinkan arus pemikiran bertukar deras. Siapapun bisa mempublikasikan pemikiran dan siapapun bisa membantah, menyangkal, menghina, mencela, melaknat dan menjatuhkan. Ada orang yang merasa hebat bila bisa membungkam oang lain dalam media sosial, ada orang yang merasa paten bila bisa menyakiti saudaranya di media sosial.
Dan kata-kata kasar sudah menjadi keseharian dalam hidup kita
Saya tidak perlu mengambil contoh, karena tidak santun dalam tulisan ini. Juga anda sudah bisa mengaksesnya kapan saja dan dimana saja saat ini. Walaupun penggemar kata-kata kasar ini jumlahnya tidak banyak, namun mereka —sialnya— persisten (baca: keras kepala).
Sepertinya orang yang menderita kecanduan kata-kata kasar ini mendapatkan semacam kepuasan —adrenalin atau apalah— saat mereka berhasil menyakiti orang lain dengan kata-katanya. Mungkin semisal sadisme lisan, senang bila orang terluka karena lidahnya (dalam kasus sosial media yaitu apa yang dia tulis).
Setelah banyak mengamati perilaku-perilaku semisal ini, hampir-hampir kami berkesimpulan bahwa kegemarn akan kata-kata kasar ini bagaikan penyakit menular dan membuat kecanduan. Pelaku pasti akan ketagihan untuk megucapkan kata-kata kasar, dan biasanya orang yang berkumpul bersama-sama mereka juga mendadak senang berkata-kata kasar.
Padahal kata-kata kasar itu tidak mematikan kecuali bagi empunya, karena telinga pemilik kata-kata kasarlah yang paling dekat dengan tajam lidahnya. Memang betul, bila tajam lidahnya biasanya tumpul akalnya.
Bila lelaki yang berlisan kasar, maka itu akan merendahkan martabatnya. Namun bila wanita yang berlisan kasar, tentu itu lebih mengerikan lagi. Hilanglah segala keanggunannya, kemuliaan dan kehormatan dirinya, enggan dan pantang bagi lelaki mendekati.
Mengapa? Karena lisan itu ukuran akal. Lisan kita adalah apa yang senantiasa kita baca, kita dengar dan kita pikirkan. Apa yang masuk itu jualah yang keluar. Maka orang-orang yang berlisan kasar penuh serapah pastilah bukan Al-Qur’an yang dia daras.
Bila kita sering mencermati Al-Qur’an dan kisah-kisah Rasulullah serta para sahabat. Kita akan terenyuh dibawa, melarut didalam arus keindahan akhlak dan santun perilaku mereka. Generasi terbaik tanpa tanding karena tangis merendah mereka kala malam, kesempurnaan hidup mereka tatkaka siang, dan keimanan mereka sepanjang hidup
Kisah Rasulullah adalah pertunjukan paling memukau. Linang airmata kita yang jadi saksi kesabaran Rasulullah Muhammad saw, manusia terbaik yang pernah berjalan di muka bumi ini. Segala puji milik Allah yang menurnkan manusia yang diberi puji-pujian oleh manusia karena sifatnya yang paling terpuji.
Apalagi Al-Qur’an yang tiap hurufnya adalah kebaikan, merangkai kata-kata penuh hikmah dan kalimat penuh keberkahan. Tiap ayat adalah alunan yang lebih indah daripada sastra manapun, menjelma menjadi paragraf-paragraf penuh arti. Ia adalah surat cinta mesra dari Allah Pencipta Semesta Alam.
Duhai, bagaimana mungkin jiwa yang penuh dengan ilmu dan iman bisa mengeluarkan kata-kata kasar? Tidak mungkin.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS Ali Imraan [3]: 159)
Begitulah sifat Rasulullah yang dijelaskan Allah melalui Al-Qur’an, dia lemah lembut, tidak keras dan berhati kasar, pemaaf dan pengampun, serta senang meminta pendapat dalam satu urusan.
Kelembutan itu adalah rahmat daripada Allah yang diberikan pada hamba pilihan-Nya
إنَّ فيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللهُ : الْحِلْمُ وَالأنَاةُ
“Sesungguhnya pada dirimu ada dua perangai yang dicintai Allah yaitu ketenangan dan ketelitian” (HR. Muslim)
إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan mencintai kelembutan. Dia memberikan pada kelembutan, apa-apa yang tidak diberikan pada sikap kasar, dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya”. (HR Muslim)
Rasulullah saw juga bersabda,
عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ
“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap kasar dan keji, sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR Muslim)
Dari Jarir bin Abdillah ra, Rasulullah saw bersabda,
مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ
“Barang siapa yang diharamkan baginya kelembuta, diharamkan baginya kebaikan seluruhya” (HR Muslim)
Demikianlah kelembutan adalah kekuatan tersendiri. Bila ia ada pada Muslimah maka itu adalah tempatnya, namun bila ia dimiliki lelaki maka Rasulullah pastilah teladannya.
Bila niat kita untuk berdakwah lalu kita melegitmasi kata-kata kasar, maka kita harus mengetahui bahwa Rasulullah tiada pernah mencontohkannya. Rasulullah tiada pernah beramal dengannya. Banyak diantara riwayat yang menunjukkan pada kita bahwa Rasulullah menegur kaum kafir dengan lembut, pun menegur kaum Muslim dengan lebih lembut.
Karena yang benar akan dianggap salah bila disampaikan secara kasar, maka jadilah lembut dalam menyampaikan yang benar.
find me @felixsiauw



Read more...

Mati : Nasihat Terbaik

Tidak ada komentar
601731_460496970702166_1510731600_n.jpg (960×720)Oleh : Arief B. Iskandar
Kematian adalah keniscayaan. Setiap manusia, apalagi seorang Muslim, tentu amat menyadari hal ini. Allah SWT pun telah berfirman (yang artinya): Setiap yang berjiwa pasti bakal merasakan kematian. Sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah pahala kalian disempurnakan.Siapa saja yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga telah beruntung.Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (TQS Ali Imran [3]: 185).
Selain sebuah keniscayaan, kematian juga sebuah kepastian, dalam arti, tak bisa dimajukan ataupun dimundurkan. Allah SWT berfirman (yang artinya): Jika ajal mereka telah datang maka mereka tidak akan bisa menundanya dan tidak pula bisa memajukannya sesaat pun (TQS an-Nahl [16]: 61).
Selain itu, kematian juga merupakan salah satu rahasia Allah SWT; tidak seorang manusia pun tahu kapan kematian akan datang menjemput dirinya. Karena itu, sudah selayaknya setiap Muslim tidak lalai dalam mempersiapkan diri menghadapi kematian sekaligus menghadapi kehidupan pasca kematian. Sebab, jika tidak demikian, penyesalan di akhir tak akan bisa dihindarkan. Dalam hal ini, Allah SWT pun mengingatkan kita melalui firman-Nya (yang artinya): Hai orang-orang beriman, janganlah harta dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.Belanjakanlah sebagian (harta) dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, “Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)-ku sampai waktu yang dekat hingga aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang salih?” Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Allah Maha Mengenal apa yang kalian kerjakan (TQS al-Munafiqun [63]: 9-11).
Allah SWT pun berfirman (yang artinya): (Demikianlah) hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku bisa berbuat amal salih yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang dia ucapkan saja (TQS al-Mu’minun [23]: 99-100).
Kematian tentu merupakan akhir dari kehidupan manusia di dunia. Dengan demikian, dunia hanyalah tempat sementara bagi manusia dalam menjalani kehidupan sebelum ia berpindah ke kehidupan yang lain, yakni kehidupan di alam akhirat. Karena itu, Baginda Nabi Muhammad saw. mengingatkan kita, “Jadilah kamu di dunia ini seperti orang asing atau seperti orang yang berada dalam perjalanan.” (HR al-Bukhari dan at-Tirmidzi).
Ya, bagi seorang Muslim, di dunia ini hakikatnya ia seperti orang asing. Sebab, ‘tanah air’-nya yang hakiki adalah surga. Surgalah, insya Allah, tempat ia berpulang. Manusia di dunia ini, dengan demikian, seperti seorang musafir yang meninggalkan negerinya untuk sementara, kemudian ia akan kembali. Karena itu, ia tentu tidak akan berlama-lama di dunia dan tidak akan mengambil bagian dari kenikmatan dunia ini, kecuali sekadarnya saja untuk bekal kembali (ke akhirat) (Muhammad bin ‘Alan, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh ash-Shalihin, III/7).
Dalam ungkapan yang berbeda, Ibn Umar ra. juga mengingatkan kita, “Jika kamu ada di waktu sore, jangan menunggu pagi. Jika kamu ada di pagi hari, jangan menunggu hingga sore.Jadikanlah masa sehatmu (untuk beramal shalih) sebelum datang masa sakitmu) dan jadikanlah masa kehidupanmu (untuk beramal shalih) sebelum datang kematianmu.” (HR al-Bukhari).
Maknanya, bersegeralah selalu kita dalam melakukan amal shalih, jangan menunda-nundanya seolah-olah kita memiliki banyak waktu, padahal itu hanyalah angan-angan kita saja karena sesungguhnya waktu kita di dunia ini amatlah sedikit. Mengapa kita sering merasa memiliki banyak waktu dan sering merasa kehidupan di duniua ini lama? Tidak lain karena kita jarang mengingat mati. Padahal banyak mengingat mati amatlah penting agar kita tidak terlalu panjang angan-angan. Dalam hal ini Baginda Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Perbanyaklah mengingat penghancur kenikmatan (yakni kematian, pen.).” (HR at-Tirmidzi).
Ya, kematian akan menghentikan seluruh kenikmatan, bahkan menghentikan semua angan-angan kehidupan. Sebab, pada saat demikian, kehidupan dunia akan ditinggalkan. Semuanya—harta kekayaan yang selama ini diburu siang-malam, pangkat dan jabatan yang selama ini diperebutkan, serta istri dan anak-anak kesayangan yang selama ini dibangga-banggakan—hanya tinggal kenangan saat jasad sudah dibenamkan di kuburan. Yang tersisa hanyalah amal shalih yang pernah kita lakukan, atau dosa dan maksiat yang pernah kita jalankan.
Karena itu, mari kita banyak mengingat kematian agar dengan itu kita banyak melakukan amal kebajikan dan menjauhi kemaksiatan. Wa ma tawfiqi illa bilLah.

[www.globalmuslim.web.id]
Read more...

Nafâ’its Tsamarât: Bersabar atau Binasa

Tidak ada komentar
Dua orang saling mencaci maki di hadapan Hasan al-Basri rahimahullâhu, semoga Allah merahmatinya. Lalu, orang yang dicaci maki itu berdiri sambil mengusap keringat dari wajahnya, dan membaca firman Allah: “Tetapi orang yang bersabar dan mema’afkan, sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.”(TQS. Asy-Syûra [42] : 43).
Kemudian Hasan al-Basri berkata: Bagus! Demi Allah, ia benar-benar memahaminya, di saat orang-orang bodoh menyia-nyiakannya.
Selanjutnya, ia berkata: Anak Adam itu (dalam menghadapi ujian) benar-benar bersabar atau ia benar-benar binasa (karenanya).

Abu al-Faraj Ibnul Jauzi, Adâb al-Hasan al-Bashri wa Zuhduhu wa Mawâ’idzuhu.
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/4/2013.
Read more...

Takut Miskin karena Menikah, Maka Pertanyakan Keimananmu !!!

Tidak ada komentar
“Dan kawinkanlah orang orang yang sendirian di antara kamu, dan orang orang yang layak (berkawin) dari hamba hamba sahayamu yang lelaki dan hamba hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karuniaNya. Dan Allah Maha Luas pemberianNya lagi Maha Mengetahui” Begitulah janji Allah dalam QS An Nuur :32) , pada anda yang mau menikah, Anda pasti kaya!
Imam Al Qurtubi, mengatakan , ayat tersebut mengandung makna, bahwa jangan biarkan kemiskinan seorang laki laki dan seorang wanita menjadi sebuah alasan untuk tidak menikah semata semata meperoleh ridha Allah dan mencari tempat perlindungan dari ketidak patuhan padaNya, Allah akan memampukannya dan Allah akan mengkayakannya. Ayat itu merupakan bukti bahwa menikah itu tidak pandang bulu. Anda diperbolehkan menikahi orang miskin. Karena itulah, tidak seharusnya anda berkata, “ Bagaimana aku akan menikah jika aku tidak punya uang?” atau berkata, “ Susah sekali jika aku menikahi orang miskin, jangan jangan aku akan menjadi semakin miskin?’ jangan pernah berkata dan berfikiran seperti itu. Mengapa? Sebab rizki telah dijanjikan oleh Allah, dan makanan pun telah dijamin oleh Allah.
Merujuk pada pemaparan pemaparan tersebut, tidak sepatutnyalah kita takut menikah hanya karena kita miskin, justru saat miskin itulah kita harus berani menikah. Bismillah !!!
Menikah karena Allah , niscaya Allah menjamin kehidupan kita. Lihatlah betapa Rasulullah menunjukan kepada kita bahwa kemiskinan bukanlah penghalang buat menikah. Buktinya ? beliau berani menikahkan seorang perempuan yang datang kepada beliau dengan seorang lelaki miskin yang tidak mempunyai apa apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.
Hal ini penting saya tekankan, lantaran kebanyakan faktor orang takut menikah karena mereka miskin, sehingga dengan menikah, mereka mengira akan semakin miskin dan susah hidupnya. Padahal, Allah berkata lain, justru dengan menikah  Dia akan mengayakan dan memampukan kita.
Coba pahami dan resapi perkataan sahabat Nabi di bawah ini, kalau kalian masih takut miskin karena menikah, maka pertanyakan keimananmu !!!
“ Patuhilah Allah dalam apa apa yang Dia telah perintahkan padamu untuk menikah. Dia akan memenuhi janjiNya untuk membuatmu kaya.” (Abu Bakar Ash Shiddiq)
“ Carilah kekayaan lewat pernikahan ! aku tidak pernah melihat sesuatu yang lebih aneh daripada seorang laki laki yang tidak mencari kekayaan lewat pernikahan. Padahal Allah telah menjanjikan “…Jika mereka miskin, maka Allah akan mengumpulkan mereka dengan karuniaNya “(Umar bin Khattab)
“Temukanlah kekayaan dengan menikah.” (Abdullah bin Mas’ud)
Jadi, wahai hamba Allah ! Apakah sekarang masih ada lagi yang menghalangi anda untuk menikah? Bukankah janji Allah ini tidak cukup bagi anda?
(Anif  sirsaeba)- berani kaya, berani takwa-Republika
Bila satu isteri belum cukup bagimu, bila memang itu kebutuhanmu, maka nikahlah dengan 2, 3, dan 4 Isteri. Adillah dalam menjalankannya, maka kalian akan lebih diberikan karuniaNya dan lebih kaya insyaAllah dari sebelumnya.Wallahu Alam.
Read more...

Penyesalan tak Berguna di Akhirat ll

Tidak ada komentar

(Tafsir QS al-Fajr [89]: 21-26)
كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا * وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا * وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى * يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي * فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ * وَلا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ *
Jangan (berbuat demikian). Jika bumi diguncangkan berturut-turut, lalu datanglah Tuhanmu, sedangkan malaikat berbaris-baris,  kemudian pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam, dan pada hari pula ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu bagi dirinya, maka manusia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku.” Pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya (QS al-Fajr [89]: 21-26).

Dalam beberapa ayat sebelumnya disebutkan tentang celaan terhadap orang-orang yang salah dalam menilai kemuliaan seseorang. Mereka menganggap kemuliaan manusia didasarkan pada banyaknya kekayaan yang dimiliki. Ketika seseorang dikaruniai harta melimpah, mereka menganggap dia sedang dimuliakan Allah SWT. Sebaliknya, ketika rezekinya disempitkan, mereka menganggap dia sedang dihinakan. Anggapan ini melahirkan sikap dan perilaku yang salah. Karena harta dijadikan sebagai parameter kekayaan, mereka pun tamak dan rakus terhadap harta.
Penilaian mereka itu pun dibantah dalam beberapa ayat sebelumnya, bahwa banyaknya kekayaan tidak mencerminkan kemuliaan. Perbuatan yang mereka lakukanlah justru yang menjadi penyebab mereka terhina. Beberapa perbuatan tersebut adalah tidak memuliakan anak yatim, tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin, memakan harta waris yang tidak menjadi haknya, dan mencinati harta amat berlebihan. Kemudian ayat ini memberitakan peristiwa yang membuat mereka menyesal selama-lamanya.

Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman: Kallâ idzâ dukkat al-ardh dakk[an] dakk[an] (Jangan [berbuat demikian]. Jika bumi digoncangkan berturut-turut). Kata kallâ merupakan rad’[un] lahum ‘an dzâlika wa inkâr[un] li fi’lihim (mencegah mereka dari hal itu dan mengingkari perbuatan mereka).1 Kata tersebut memberikan makna: Tidak selayaknya urusannya demikian; bersikap tamak terhadap harta dan terlalu mencintai harta.2
Dengan demikian, frasa ini memberikan celaan terhadap semua sikap dan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya yakni: pandangan mereka yang salah tentang kemuliaan; juga perilaku mereka yang tidak memuliakan anak yatim, tidak memerintahkan memberi makan orang miskin, memakan harta warisan yang tidak menjadi haknya, dan mencintai harta secara berlebihan. Semua sikap dan perilaku seperti itu dicela dan tidak selayaknya mereka lakukan.
Tak hanya dicela, terhadap mereka juga diberikan ancaman berupa kejadian yang membuat mereka bersedih dan menyesal. Allah SWT berfirman: Idzâ dukkat al-ardh dakk[an] dakk[an].Kata ad-dakk berarti al-hadam wa at-taswiyah li al-murtafi’ (meruntukan dan meratakan sesuatu yang tinggi). Al-Mubarrid juga mengartikan ad-dakk sebagai hath al-murtafi’ bi al-basth(merendahkan yang tinggi menjadi rata).3
Dijelaskan as-Samin al-Halbi, kedudukan kata dakk[an] yang pertama sebagai mashdar yang berfungsi muakkid (penguat) bagi fi’l yang disebutkan sebelumnya. Adapun yang kedua berkedudukan sebagai hâl yang memberikan makna mukarrar ‘alayh (berulang-ulang).4
Secara keseluruhan, ayat ini memberikan gambaran bahwa ketika itu bumi hancur dan remuk bertur-turut. Semua benda di atasnya—seperti gunung, bangunan, dan lain-lain—hancur hingga tak tersisa sedikit pun di atasnya.5 Peristiwa ini adalah sebagaimana diberitakan dalam QS al-Insyiqaq [84]: 3-4, an-Nazi’at [79]: 6-7 al-Haqqah [69]: 14 dan al-Waqiah [56]: 4-5.
Kemudian diberitakan kejadian lainnya yang terjadi ketika itu dengan firman-Nya: Wa jâ’a Rabbuka (dan datanglah Tuhanmu). Ada beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh para mufassir mengenai makna ayat ini. Menurut al-Hasan, maksud ayat ini adalah perintah dan keputusan-Nya serta tampak ayat-ayat-Nya. Ini termasuk ungkapan yang menghilangkanmudhâf.6 Selain perintah dan keputusan-Nya, menurut asy-Syaukani juga ayat-ayat-Nya yang tampak.7 Ibnu ‘Athiyah menafsirkannya sebagai ketetapan dan kekuasan-Nya.8
Menjelaskan ayat ini, al-Qurthubi menegaskan, “Allah SWT tidak disifati dengan pindah dan berubah dari satu tempat ke tempat lain. Bagaimana Dia berubah dan berpindah, sedangkan tidak ada ruang dan waktu bagi Dia. Dia tidak dilintasi waktu dan zaman. Sebab, adanya lintasan waktu atas sesuatu, maka akan kehilangan waktu. Siapa yang kehilangan waktu, berarti lemah.”9 
Patut dicatat, ayat ini termasuk ayat yang mustâsyabihah. Sebab, perkara yang diterangkan ayatini adalah perkara gaib yang tak terindera sehingga penunjukkan faktanya tidak jelas seperti halnya perkara yang terindera (mahsûsât). Terhadap ayat seperti ini, sikap yang paling baik adalah tidak membahasnya terlampau jauh sehingga menyebabkan terpeleset pada kesalahan. Al-Khazin mengatakan, “Ketahuilah bahwa ayat ini termasuk ayat tentang sifat-sifat-Nya yang didiamkan oleh kebanyakan ulama salaf dan sebagian ulama khalaf. Mereka tidak membicarakannya  dan  membiarkan apa adanya, tanpa mempersoalkan bagaimana caranya, melakukan penyerupaan, dan membuat penakwilan. Mereka mengatakan bahwa kita wajib mengimaninya dan berhenti atas zhahir-nya.”
Kemudian disebutkan: wa al-malak shaf[an] shaff[an] (sedangkan malaikat berbaris-baris). Kata al-malak merupakan ism al-jins yang menunjuk pada seluruh malaikat.10 Kata shaff[an] shaff[an], sebagaimana kata dakk[an], berkedudukan sebagai hâl, artinya: mushthaffîn(berbaris-baris), atau dalam barisan yang amat banyak.11 Mengenai berbarisnya malaikat pada Hari Kiamat juga diberitakan dalam QS al-Naba [78]: 38.
Selanjutnya Allah SWT berfirman: Wajî’a yawmaidz[in] bijahannam (dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam).  Kata yawmaidz[in] menunjuk pada saat terjadinya peristiwa yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Ketika itu, neraka yang sebelumnya merupakan perkara gaib bagi manusia tuhdharu wa tadnû min al-kâfir (didatangkan dan didekatkan kepada orang kafir).12 Semuanya menjadi tampak jelas. Ini sebagaimana diberitakan dalam QS an-Naziat [79]: 36 dan asy-Syu’ara [26]: 91.
Mengenai Neraka Jahanam yang didatangkan, Rasulullah saw. bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لهَاَ سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
Didatangkan neraka pada hari itu, dalam keadaan ia memiliki 70.000 tali kekang. Setiap tali kekang diseret 70.000 malaikat (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Kemudian Allah SWT berfirman: Yawmaidz[in] yatadzakkar al-insân (dan pada hari itu ingatlah manusia). Kata al-insân merupakan li al-jins, menunjuk kepada seluruh jenis manusia. Artinya, manusia pada Hari Kiamat teringat dengan amal perbuatannya di dunia serta menyesali kelalaian dan kemaksiatannya.13 Dikatakan Ibnu Jarir ath-Thabari, “Pada hari itu manusia teringat dengan kelalaiannya di dunia dalam ketaatan kepada Allah SWT dan semua amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.”14
Akan tetapi, semua ingatan mereka itu tidak berguna sama sekali. Penerimaan terhadap nasihat itu juga sudah terlambat. Dalam frasa ditegaskan: Wa annâ lahu al-dzikrâ (tetapi tidak berguna lagi mengingat itu bagi dirinya). Artinya, dari mana nasihat dan taubat itu bermanfaat bagi dirinya, sedangkan dia telah melalaikannya di dunia? Atau dari mana peringatan itu bisa bermanfaat bagi dirinya?15 Lalu manusia ingat apa yang bermanfaat dan apa membahayakan baginya di dunia. Dia pun mengetahui bahwa kecintaannya terhadap dunia tidak menambah bagi dirinya kecuali hanya kerugian.16
Penyesalan mereka diberitakan dalam ayat berikutnya: Yaqûlu yâ laytanî  qaddamtu lihayâtî(maka manusia  mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan [amal salih] untuk hidupku.”). Kata qaddamtu di sini mengandung makna mengerjakan kebaikan dan amal salih. Huruf al-lâm pada kata lihayâtî bermakna li ajli hayâtî (untuk kehidupanku ini). Kehidupanku ini (hayâtî) menunjuk pada kehidupan akhirat. Sebab, kehidupan akhirat merupakan kehidupan hakiki lantaran bersifat kekal dan tidak terputus.17
Kata layta memberikan makna at-tamanniyy (keinginan); kebanyakan digunakan untuk sesuatu yang mustahil, meski kadang digunakan untuk perkara yang mungkin.18 Dalam ayat ini, perkara yang diinginkan tentu mustahil terjadi. Itu artinya, mereka amat menginginkan diberikan kesempatan untuk beriman dan beramal salih. Akan tetapi, keinginan itu tidak mungkin bisa terwujud. Dikatakan al-Qurthubi, ayat ini bermakna: “Andaikata dulu aku melakukan kebaikan untuk menyelamatkan diriku dari neraka, sungguh aku termasuk orang yang mendapatkan kehidupan yang menyenangkan.”19 
Bahwa penyesalan mereka tidak berguna ditegaskan dalam ayat berikutnya: Fayawmaidz[in] lâ yu’adzdzibu adzâbahu ahad (maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya). Dhamîr al-hâ‘ pada kata adzâbahu kembali kepada Allah SWT, sekalipun tidak disebutkan.20 Dengan demikian pengertiannya adalah tidak ada seorang pun yang menyiksa di dunia seperti siksa Allah di akhirat ketika itu.21 Ini menunjukkan siksa neraka di akhirat amat dahsyat. Demikian dahsyatnya hingga tidak ada yang bisa menandinginya.
Kemudian Allah SWT berfirman: Walâ yûtsiqu watsâqahu ahad (dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya). Kata al-watsâq berarti al-isâr fî al-salâsil wa al-aghlâl (ikatan pada rantai dan belenggu).22 Ditegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang ikatannya mengalahkan kuat dan sakitnya ikatan-Nya itu. Inilah siksa yang ditimpakan kepada orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan.

Beberapa Pelajaran Penting
Terdapat banyak pelajaran penting yang patut dicatat dari ayat-ayat ini. Pertama: celaan dan ancaman bagi orang yang rakus terhadap harta hingga menabrak syariah. Telah mafhumbahwa dalam ayat sebelumnya Allah SWT memberitakan orang-orang yang memiliki sifat tercela. Mereka menganggap banyaknya harta sebagai parameter kemuliaan bagi manusia. Akibatnya, mereka pun amat tamak terhadap harta. Demi mendapatkan harta, mereka tak mempedulikan halal dan haram. Kewajiban yang harus ditunaikan seperti memuliakan anak yatim dan memberikan makan kepada orang miskin dilalaikan. Mereka juga mengabaikan larangan seperti memakan harta warisan yang tidak menjadi haknya dan mencintai harta secara berlebihan.
Ayat ini pun mencela sikap mereka itu. Ini ditunjukkan dengan kata kallâ. Selain itu, ayat ini juga menyampaikan ancaman akan kedatangan Hari Kiamat. Ketika bumi beserta isinya hancur, urusan mereka telah diputuskan, dan Neraka Jahanam didatangkan, maka menderita kerugian tak terkira. Harta yang mereka kumpulkan dan mereka jadikan sebagai kebanggaan lenyap dan tidak mendatangkan manfaat sedikit pun bagi mereka. Kerugian semakin bertambah manakala harta yang dikumpulkan itu justru menjerumuskan dirinya ke Neraka Jahanam yang penuh siksa. Demikian pula dengan semua kebanggaan dan kemuliaan duniawi lainnya (lihat QS al-Haqqah [69]: 27-29).
Ancaman itu seharusnya membuat mereka segera sadar dan bertobat. Selagi masih hidup di dunia, kesempatan itu masih terbuka. Jika celaan dan ancaman itu dianggap sepi, maka bersiaplah menerima azab Allah SWT yang amat dahsyat dan mengerikan.
Kedua: keharusan mengisi kehidupan di dunia dengan iman dan amal salih untuk mendapatkan balasan di akhirat. Sebab, kehidupan dunia merupakan dâr al-‘amal, tempat mengerjakan amal, dedangkan akhirat merupakan dâr al-jazâ`, tempat pembalasan. Orang yang memenuhi hidupnya di dunia dengan keimanan dan amal salih akan menuai hasilnya di akhirat, yakni surga yang penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya, orang menghabiskan hidupnya dengan kekufuran, kemaksiatan dan kemungkaran, juga harus menerima balasannya di akhirat, yakni neraka.
Kesadaran tentang ini harus dimiliki manusia ketika di dunia. Jika tidak, kesadaran itu baru terjadi ketika kiamat datang, tentu sudah terlambat. Ketika itu, pintu tobat sudah tertutup dan kesempatan untuk beramal sudah berakhir. Yang tinggal hanya penyesalan yang tidak berguna; penyesalan abadi dan tak bertepi. Inilah yang dialami orang-orang kafir sebagaimana diberitakan ayat ini, juga diberitakan dalam QS al-Furqan [25]: 27).
Ketiga: akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir, yang dimaksud dengan hayâtî pada kata qaddamtu hayâtî adalah kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat disebut sebagai kehidupan lantaran sifatnya yang kekal, abadi dan tak terputus (Lihat, antara lain: QS al-Ankabut [29]: 64).
Karena akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, maka sudah selayaknya manusia bekerja keras untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan surga. Tidak tertipu dengan kesenangan dunia yang amat sedikit dan pendek ini.
Keempat: dahsyatnya siksa neraka dan tidak ada yang mengalahkannya. Gambaran dahsyatnya siksa akhirat ini sesungguhnya amat banyak diberitakan dalam ayat dan hadis.
Siapa pun yang memiliki akal sehat, pasti akan takut merasakan siksa yang amat berat, dahsyat dan mengerikan itu. Ketika keyakinan ini dimiliki, maka semua ancaman dan siksaan yang dilakukan manusia tidak akan menggoyahkan keimanan sedikit pun, juga tidak akan menghalangi dirinya mengerjakan amal salih. Semoga kita termasuk orang yang dijauhkan dari neraka. Amin.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]
Catatan kaki:
1     Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1987), 756; ar-Razi,Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar ihyâ` al-Turâts al-‘Arabiy, 1420 H), 157; an-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta’wîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-kalim al-Thayyib, 1998), 641; Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 475.
2     Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24 (tt: Muassah al-Risalah, 2000), 416; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20 (Riyad: Dar ‘Alam al-Kutub, 2003), 54; al-Khazin,Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 427.
3     A-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30 (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), 235.
4     As-Samin al-Halbi, Ad-Durr al-Mashûn, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Qalam, tt), 791; az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
5     Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 427.
6     Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 55.
7     Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1994), 535.
8     Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 480.
9     Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 55.
10    Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 480; Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî at-Tafsîr, vol. 10, 475.
11    As-Samin al-Halbi, Ad-Durr al-Mashûn, vol. 10, 791; az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
12    As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 477.
13    Ibnu Juzyi al-Kalbi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Arqam bin al-Arqam, 1996), 481.
14    Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 24, 419.
15    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 56. Lihat juga anl-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta‘wîl, vol. 3, 642.
16    Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 40.
17    Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 536.
18    Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah, vol. 2 (tt: ‘Alam al-Kitab, 2008), 311.
19    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 56.
20    Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
21    Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 428.
22    Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1420 H),  253.
Read more...

Category

Popular Posts

facebook