Comments

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Membiasakan Anak Berjilbab Sejak Kecil

Tidak ada komentar
Begitu masuk masa baligh, pada anak perempuan berlangsung lebih awal yakni 9-12 tahun, seorang anak mulai dibebani dengan hukum syara’ (mukallaf).  Amal dan dosa mereka dihisab.  Agar saat baligh mereka telah siap menjalankan hukum syara’,  mereka perlu dilatih dan dibiasakan menjalankannya sedari kecil.  Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang anak telah mampu membedakan tangan kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk melakukan shalat.” (HR Thabrani).

Begitu juga beliau SAW bersabda: “Perintahkan anakmu shalat usia 7 tahun, dan bila telah berusia 10 tahun pukullah bila ia mengabaikannya .” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Daruquthni)
Dari perintah membiasakan anak shalat saat usianya belum menginjak baligh, dapat diambil analogi bagi pembiasaan hukum-hukum syara’ yang lain.   Telah masyhur bahwa para shahabat mengajarkan anak-anak mereka berpuasa saat mereka masih kecil, sampai-sampai mereka membuatkan mainan dari wol agar anak-anak bisa bermain sampai tiba waktu berbuka (HR Bukhari –Muslim).

Dari apa yang diperintahkan Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan para shahabat, maka pembiasaan bagi anak dalam menjalankan hukum syara’ adalah hal yang harus kita lakukan.  Tanpa adanya pembiasaan di awal, dikhawatirkan anak akan merasa berat menjalankan hukum syara’ saat usia mereka masuk baligh.  Sementara mereka telah dikenai dosa ketika meninggalkan kewajiban-kewajiban syara’.

Pembiasaan 

Wajibnya mengenakan jilbab dan kerudung adalah kewajiban yang sama dengan wajibnya shalat atau puasa.  Dengan demikian, melatih anak perempuan mengenakan jilbab dan kerudung juga sama wajibnya dengan melatih anak untuk shalat atau berpuasa.  Pembiasaan semenjak dini akan menjadikan anak merasa lebih nyaman dan tidak canggung lagi saat mengenakan jilbab dan kerudung telah menjadi wajib baginya.

Upaya pembiasaan mengenakan jilbab dan kerudung bagi anak-anak dapat dilakukan secara bertahap.  Pertama, tentu perlu adanya teladan dari orang tuanya.  Anak-anak akan merasa gembira meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, terutama anak perempuan meniru ibunya.  Untuk kenyamanan anak perlu kita pertimbangkan bahan jilbab dan kerudung yang akan dikenakan, misalnya bahan kaos yang dingin dan menyerap keringat.

Setiap kali membawa anak keluar rumah, orang tua dapat mengajak anak mengenakan kerudungnya.  Bila anak tidak mau orang tua tidak perlu memaksa.  Begitu pula bila di tengah perjalanan anak kegerahan atau tidak nyaman, dapat kita lepaskan dulu kerudungnya.  Inti dari latihan ini adalah membuat anak merasa nyaman, bukan membuatnya merasa bahwa jilbab dan kerudung menyusahkannya.

Pemaksaan orang tua dapat berakibat anak malahan menjadi tidak nyaman dengan jilbab dan kerudungnya sehingga ia cenderung untuk meninggalkannya bila di luar pengawasan orang tua. Bila anak sudah menjelang baligh, kita perlu menyampaikan kepada mereka dalil-dalil wajibnya jilbab dan kerudung sehingga mereka kuat berpegang pada hukum.  Bukan melakukan sesuatu yang sifatnya dogma semata.  Upaya ini senantiasa kita iringi dengan penanaman akidah yang kokoh pada anak, sehingga yang muncul adalah kesadaran dan bukan keterpaksaan.

Kesulitan yang kita alami dalam proses pembiasaan anak mengenakan jilbab, insya Allah kelak akan berbuah manis di hadapan Rabb kita.  Mengajarkan anak mengenakan jilbab, akan menjadi ilmu bermanfaat.  Selama anak kita berjilbab, pahalanya akan terus mengalir, sekalipun kita sudah berselimut tanah di dalam kubur.  Insya Allah. (mediaumat.com, 27/2)
Read more...

Beginilah Kejadian Manusia…Foto-foto Proses Pertumbuhan Manusia di Dalam Rahim Ibu

Tidak ada komentar

Berikut ini beberapa seleksi fotografer Swedia bernama Lennart Nilsson. Dia terkenal dengan foto foto  in vivo embrio manusia dan subjek subjek  kedokteran lainnya yang dulu dianggap tidak bisa diabadikan lewat foto.

Dia menggunakan sebuah endoskop untuk membuat gambar gambar menakjubkan ini!Dalam seri foto ini, dia menguak semua rahasia – bagaimana kehidupan berawal!!! Bukti keagungan Allah !!! Subhanallah!!!Ini bukan ilustrasi, bukan pula hasil ilustrasi.. This is real!!!
Perjalanan panjang sperma menuju sel telur:
Sperma yang telah bersusah payah berenang siap membuahi sel telur..
Pembuahan:
Dinding rahim yang baru siap dibuahi:
Sel telur yang dibuahi menuju dinding rahim:
Embrio mulai terbentuk, disini yang terlihat adalah awal pembentukan kepala:
Sudah mulai berbentuk:
Manusia sempurna, yang siap berjuang melawan hidup…
Cara mengambil gambarnya pakai alat endoskop. Bentuk alatnya seperti dibawah ini :

Description: Foto-foto Proses Pertumbuhan Manusia di Dalam Rahim Ibu – Egi Dwi Purnomo(eramuslim)
 
Read more...

Mau Lebih Irit? Jangan Takut Untuk Menikah

Tidak ada komentar

jpeg (130×98)Banyak orang manunda dan takut menikah lantaran khawatir menambah biaya, fakta menunjukkan,   menikah cara terbaik untuk menghemat uang, demikian penelitian terbaru yang dimuat Time of India, Ahad (22/07/2012). Karena kehidupan pernikahan umumnya mendorong pengorbanan dan penghematan daripada melakukan pengeluaran semena-mena.


Berdasarkan sebuah penelitian baru-baru ini di Inggris, para peneliti menemukan bukti bahwa pasangan yang telah menikah umumnya memang dapat melakukan penghematan. Mereka umumnya dapat menghemat sekitar 68 Pound per bulan dan mencapai 800 Pound per tahun. 

Dalam pernikahan akan muncul ide memiliki target bersama seperti menabung untuk membeli rumah, untuk biaya keluarga, atau membangun rumah. Keinginan-keinginan tersebutlah yang akan memicu pasangan agar menjadi lebih irit dalam pengeluaran.

Sekitar 57 persen peserta uji coba pun mengatakan, suami atau istri berperan dalam melakukan prosese penghematan itu. 
"Hal yang baik melihat orang-orang yang berhubungan saling memotivasi satu sama lain untuk menyimpan sejumlah besar uang," ungkap John Prout dikutip Daily Mail.

Bagi sebagian orang, pengaruh pasangan mereka memiliki efek dramatis. Satu dari lima pasangan mengaku bisa menghemat sedikitnya 200 Pound lebih per bulan dan mencapai 2.400 Pound selama setahun.

Dalam hal ini, kaum pria yang senang menghabiskan uang untuk otomotif atau keluar malam akan sedikit tertekan saat hidup bersama pasangan. Namun mereka akan terbiasa dengan sendirinya, setelah melakukan adaptasi.

Terbukti, pria mampu menyimpan rata-rata 85 Pound setiap bulan, karena pengaruh pasangan mereka dibandingkan kaum wanita yang hanya mampu menyimpan 50 Pound. Sementara pria berusia 25-34 tahun akan sangat terpengaruh oleh pasangannya dan terbukti mampu menghemat sekitar 100 Pound setiap bulan.

Penelitian ini menemukan bukti bahwa sedikit pengeluaran yang dilakukan pria akan memaksa kaum wanita, untuk juga melakukannya meski berat untuk melakukannya. Sementara sebanyak 15 persen wanita yang telah menikah mengaku termotivasi untuk menyimpan lebih, karena kebiasaan buruk pasangannya dalam mengelola keuangan.


Lebih Bahagia

Sebelumnya, para peneliti dari Michigan State University telah menemukan bahwa orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia selama hidup daripada orang yang belum menikah. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Research in Personality baru-baru ini.

Menurut para peneliti, pernikahan tampaknya untuk melindungi terhadap penurunan normal dalam kebahagiaan saat dewasa.

"Studi kami menunjukkan bahwa orang rata-rata lebih bahagia daripada mereka tidak menikah," ujar Stevie C.Y. Yap, seorang peneliti dari departemen psikologi MSU seperti dilansir ScienceDaily baru-baru ini.

Pandangan ini dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti di Michigan State University (MSU) yang dirilis diJournal of Research in Personality.* (syahidah.eb.id/www.bringislam.web.id)
Read more...

Manusia Hanya dapat Bertahan Hidup Maksimal Tiga Bulan

Tidak ada komentar
Berapa lama orang bisa bertahan hidup tanpa makanan? Peneliti mengatakan, orang dapat bertahan hidup sampai tiga bulan bila kelaparan, jika metabolisme tubuh mengubah cara kerjanya. Tapi jika orang tidak mampu mengubah metabolisme tubuh karena a.l. sakit infeksi, kematian terjadi lebih cepat.

Evolusi mempersiapkan manusia untuk fase tubuh bertahan hidup tanpa persediaan makanan yang mencukupi. Sampai dua bahkan tiga bulan seseorang dapat bertahan hidup tanpa makanan. Dengan syarat ia cukup minum dan sehat, demikian ujar Profesor Joachim Gardemann pada Fakultas Biologi Manusia dan Bantuan Humaniter pada Universitas Münster Jerman.

"Kelaparan bukanlah penyakit melainkan kemampuan tubuh manusia. Karena dari pandangan para pakar kesehatan, lapar adalah strategi bertahan hidup yang penting pada organisme manusia,” ujarnya dikutip, dw.de Selasa (25/12/2012).

Apa yang diketahui para ilmuwan tentang lapar sebagian besar berdasarkan eksperimen yang tidak lagi terbayangkan dapat dilakukan pada masa kini. Setiap komisi etika akan segera melarangnya.

Pertengahan tahun 1940-an ilmuwan Amerika Serikat Ancel Keys menyelidiki apa yang terjadi pada manusia jika lapar. 36 peserta uji coba selama tiga bulan hanya mengkonsumsi separuh kalori dari yang biasanya dibutuhkan. Target Key adalah setiap peserta uji coba selama tiga bulan tersebut kehilangan 25 persen berat badannya.

Terutama pengaruh psikis dari lapar berkepanjangan ditunjukkan secara jelas. Banyak pria menarik diri dan menjadi apatis. Rasa lapar menutupi minat lainnya, sehingga mereka hanya tertarik akan hal-hal yang berkaitan dengan makanan. Beberapa peserta bahkan bermimpi tentang kanibalisme.

Bila Kelaparan Otak Mengatur Strategi
Menurut Gardemann, yang berperan utama pada tubuh manusia saat merasa lapar adalah pusat rasa lapar di hypotalamus. Pusat metabolisme di otak menjadi aktif segera setelah tingkat kadar gula dalam darah menurun. Bagian otak ini terutama berfungsi mengaktifkan produksi hormon stress adrenalin, agar manusia melakukan segala cara untuk berhasil mencari makanan. Jika tidak ada makanan yang masuk, otak melakukan strategi kedua.

Agar dapat berfungsi, otak memerlukan zat gula yakni glukosa. Meskipun volume otak hanya meliputi dua persen berat tubuh manusia, otak memerlukan sekitar separuh dari kebutuhan glukosa seluruh tubuh. Jadi otak berusaha mengamankan seluruh persediaan glukosa bagi kebutuhannya. Tanpa insulin, glukosa tidak dapat sampai ke otot. Jadi otak memberi isyarat untuk menghentikan produksi insulin. Hasilnya otot tidak memperoleh insulin. Otak mengendalikan metabolisme sedemikian rupa agar otak itu sendiri dapat bertahan hidup.

Setiap organ tubuh pada saat kelaparan menurun beratnya sekitar 50 persen dari berat sebelumnya sampai akhirnya mati. Tapi tidak demikian halnya dengan otak. Ia hanya menurun beratnya dua sampai empat persen. Tidak heran jika otak menyimpan secara istimewa cadangan glukosa. Jika kurang makan berlangsung terus-menerus tubuh akan merambah protein untuk memproduksi energi. Tindakan ini juga merugikan otot-otot yang sebagian besar terdiri dari protein. Otot tidak lain adalah penyimpan protein. Mula-mula orang masih dapat mentolerir dengan berkurangnya volume otot.


Tubuh Menghemat Energi Bila Lapar
Setelah 8 sampai 10 hari tubuh akan mengubah metabolismenya ke apa yang disebut program penghematan energi. Aktivitas-aktivitas akan menurun ke tingkat terendah. Frekuensi jantung, tekanan darah dan suhu tubuh menurun.
Selain itu tubuh akan mengambil simpanan lemak. Untuk itu tubuh membangun asam lemak menjadi apa yang disebut keton atau senyawa lemak dalam tubuh. Keton ini adalah sumber energi paling penting dan membuat orang yang menderita kelaparan masih dapat bertahan hidup, karena keton adalah satu-satunya unsur yang masih dapat dikonsumsi otak selain glukosa.

Jika kelaparan berkepanjangan, makin banyak dampak negatif yang muncul. Fungsi penahan pada kulit melemah, demikian juga sistim kekebalan tubuh, penyakit makin mudah menyerang. Yang paling buruk bahwa tubuh juga mengubah otot-otot jantung perlahan-lahan menjadi makanan bagi otak. Demikian pula organ-organ tubuh penting lainnya, karena organ tubuh sebagian besar terdiri dari protein. Setelah beberapa waktu manusia tinggal tulang dan kulit. Anak-anak terlihat sama seperti orangtua. Orang meninggal karena organ tubuh gagal berfungsi. Sering kali jantung yang mula-mula berhenti berfungsi.

Menurutnya, orang hanya dapat bertahan hidup maksimal tiga bulan jika program metabolisme tubuh mengubah cara kerjanya seperti itu. Namun menurut Gardemann kasus yang terjadi tidak selalu demikian. Jika seseorang menderita malaria, AIDS atau penyakit lainnya, ia memiliki unsur pemicu peradangan dalam darah, sehingga pankreas tetap melepaskan insulin. Dan itu berarti metabolisme lapar tidak terjadi. Dampaknya dalam waktu singkat tubuh mengkonsumsi seluruh protein, tidak terbentuk keton sebagai pengirim energi, dan cadangan lemak tubuh tetap tidak terpakai. Dengan amat cepat seluruh protein yang dimiliki manusia untuk bertahan hidup tersedot seluruhnya untuk memenuhi kebutuhan glukosa otak. Anak kecil yang tidak mampu mengubah metabolisme tubuhnya karena sakit infeksi misalnya, dalam beberapa pekan sudah meninggal.*

hidayatullah
Read more...

Meneladani Lukman Dalam mendidik Anak

Tidak ada komentar
Meneladani Lukman Dalam mendidik AnakSebagai orang tua, anak adalah tumpuan harapan. Orang tua senantiasa menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pendidikan, pakaian, makanan, serta masa depan. Dalam setiap kehadiran anak, orang tua senantiasa merangkaikan doa pada anakny, baik doa yang tersurat dalam pilihan nama yang diberikan pada anaknya, maupun doa yang selalu terucap dalam kata dan kalbu orang tua.
 
Berharap anaknya akan selalu sehat, menjadi anak yang cerdas, memiliki pasangan hidup yang baik, serta mapan dalam hal ekonomi. Semua itu adalah bentuk kasih sayang yang ditanamkan Allah pada setiap orang tua bagi anak-anaknya.

Rasa kasih sayang dan pengorbanan yang demikian besar itulah, Allah senantiasa menempatkan perintah untuk berbakti pada orang tua setelah perintah-Nya untuk mentauhidkan Allah. Hal itu disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro’: 23).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak” (QS. An Nisa’: 36).

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak” (QS. Al An’am: 151).
Tentunya seorang Muslim selalu mengharapkan kebaikan bagi anaknya  baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Al Qur’an Allah mengisahkan tentang pribadi Lukman yang layak dijadikan tauladan dalam mendidik anak.
Allah  Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ …
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, …”. (QS. Lukman: 12)
Yang dimaksud hikmah di sini, ada dua pendapat di kalangan para ulama. Mayoritas ulama berpandangan bahwa hikmah adalah kepahaman dan logika. Sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa hikmah ada nubuwwah (kenabian). Para ulama lalu berbeda pendapat apakah Lukman adalah seorang Nabi.
Dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qotadah, ia berkata mengenai firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman”. Maksud hikmah adalah memahami Islam. Dan Lukman bukanlah Nabi dan ia pun tidak diberi wahyu.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 52).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa hikmah adalah kepahaman, ilmu dan ta’bir (penjelasan). (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 52).

Syaikh As Sa’di menyatakan bahwa hikmah akan membuahkan ilmu, bahkan amalan. Oleh karenanya, hikmah ditafsirkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan sholeh. Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Hikmah adalah ilmu yang benar dan pengetahuan akan berbagai hal dalam Islam. Orang yang memiliki hikmah akan mengetahui rahasia-rahasia di balik syari’at Islam. Jadi orang bisa saja ‘alim (memiliki banyak ilmu), namun belum tentu memiliki hikmah.” (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Atas dasar hikmah yang diberikan Allah pada Lukman, maka sosok Lukmanul hakim adalah sosok yang layak dijadikan tauladan bagi para orang tua dalam memberikan nasehat pada anak-anaknya. Berikut adalah delapan nasihat bagi anak manusia yang terdapat dalam surat lukman.
  1. Nasehat untuk selalu bersyukur kepada Allah

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Lukman: 12)

2. Jangan mempersekutukan Allah Azza wa Jalla

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).
Juga ditegaskan agar tidak mempersekutukan Allah sekalipun diperintah oleh orang tua, hal tersebut ada dalam ayat 15,

“dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (orang tua), dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Lukman: 15)

3.  Berbuat baik kepada Orang Tua
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

4. Setiap perbuatan pasti ada balasannya dari Allah Ta’ala

 
(Lukman berkata): “ Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah maha Halus lagi Maha mengetahui” (QS. Lukman: 16)

5. Mendirikan shalat, dan mengajak manusia untuk beramal ma’ruf nahi mungkar.
 
 
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlan manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).

6. Jangan sombong dan angkuh

 
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18.

7. Sederhana dan lembut dalam bertutur kata

 
“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledei” (QS. Lukman: 19)
 Maha suci Allah yang melimpahkan karunia hikmah pada pribadi Lukman. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang durhaka pada anak karena tak mengajarkan nasehat-nasehat yang dicontohkan Allah melalui Lukman. Karena sejatinya tujuan penciptaan manusia adalah hanya untuk menyembah-Nya, dan tujuan utama dari suatu pendidikan adalah menjadikan anak-anak kita sebagai manusia mulia, yakni manusia yang bertakwa pada Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13). Wallohua’lam. (muslimahzone.com)


Read more...

Matematika Ramah Keluarga

Tidak ada komentar
Oleh: Dr. Fahmi Amhar
Setelah baca tulis, tingkat kecerdasan seseorang diukur dengan matematika. Ini berlaku juga untuk skala keluarga maupun skala bangsa.  Berapa kira-kira skala matematika keluarga Anda?  Apakah Anda puas dengan matematika yang pernah diperoleh di bangku sekolah?  Apakah matematika yang Anda lihat sudah “ramah keluarga”, sehingga Anda merasakan gunanya di kehidupan sehari-hari, dan anak-anak Anda bersemangat mempelajarinya?
Islam tidak hanya mengangkat peradaban di tingkat elite, tetapi juga untuk tingkat rumah tangga rakyat jelata.  Seperti membaca dan menulis, matematika juga di bawah Islam menjadi ilmu yang dikuasai nyaris oleh semua anak-anak yang menuntut ilmu, di mana akses sekolah telah dibuka selebar-lebarnya.
Namun salah seorang matematikawan yang paling berjasa menjadikan matematika “ramah keluarga” ini adalah Muhammad bin Musa al-Khawarizmi (780 – 850 M).
Masa remaja Al-Khawarizmi di Khurasan (Iran) tidak banyak diketahui.  Yang jelas dia kemudian berkarier sebagai matematikawan di Baitul Hikmah (Akademi Ilmu Pengetahuan) di Baghdad yang didirikan oleh Khalifah al-Mansur yang berkuasa dari 754 – 775 M.  Semua orang tahu bahwa al-Makmun adalah politisi yang sangat antusias dengan logika dan matematika.  Dan al-Makmun tidak salah.  Al-Khawarizmi membuktikan diri sebagai orang pertama yang berhasil “mengawinkan” geometri Yunani dengan arimetika India, baik di kecanggihannya sehingga mampu memecahkan berbagai persoalan rumit, maupun di kesederhanaan bahasanya, sehingga dapat dipelajari oleh anak sekolah dasar.
Karya Al-Khawarizmi yang mengubah sejarah matematika sehingga dapat diterapkan di setiap rumah tangga, bukanlah karyanya canggih secara ilmiah, melainkan dua buah buku yang isinya terhitung ringan, meskipun yang satu memiliki judul yang menggetarkan: “Kitab Aljabar wa al-Muqobalah”, sedang satunya lagi sebuah buku tentang teknik berhitung dengan angka India, tentang bagaimana menjumlah, mengurangi, mengalikan dan membagi.  Pada abad-12 buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin dan tersebar di Eropa.  Lambat laun, teknik berhitung ala al-Khawarizmi disebut algorizmus, atau algoritma.
Algoritma akhirnya menggusur cara berhitung Yunani dengan abakus (seperti sempoa).  Abakus memang lebih cepat untuk menghitung angka-angka besar, namun hanya terbatas untuk operasi aritmetika sederhana (misalnya menjumlah harga dagangan).  Pada hitungan yang kompleks (seperti menghitung pembagian waris atau menghitung titik berat kapal), algoritma jauh lebih praktis, cepat dan akurat.
Anehnya bangsa Eropa sendiri kemudian sempat lupa asal-usul kata algoritma.  Ada yang menyangka algoritma berasal dari kata “alleos” (asing) dan “goros” (cara pandang), karena teknik ini memerlukan cara pandang yang baru.  Ada lagi yang menduga algoritma dari “algos” (pasir) dan “ritmos” (angka), atau teknik dengan angka-angka yang mampu menghitung obyek sebanyak pasir di pantai.  Ada juga yang menyangka bahwa algoritma adalah judul buku Mesir kuno seperti Almagest karya Ptolomeus.  Demikian puluhan teori muncul, sampai akhirnya pada 1845, Franzose Reinand menemukan kembali al-Khawarizmi dalam algoritma.  Salah satu buktinya adalah bahwa dalam perhitungan aritmetika, selalu dihitung satuan dulu yang ditaruh paling kanan, lalu ke kiri dengan puluhan dan seterusnya.  Sebagaimana huruf Arab ditulis dan dibaca dari kanan ke kiri.

Ilustrasi adu cepat berhitung antara kaum Abacist (yang menggunakan abakus) vs Algoritmiker (pengikut metode al-Khawarizmi), dan dimenangkan oleh kaum Algoritmiker.
Pada tahun 773 Masehi, seorang astronom India bernama Kankah mengunjungi al-Mansur.  Lelaki itu membawa buku berjudul Sindhind tentang aritmetika, yang dengannya dia terbukti mampu menghitung bintang dengan sangat baik.  Al-Mansur lalu memerintahkan agar buku itu diterjemahkan ke bahasa Arab, kemudian agar dibuat sebuah pedoman untuk menghitung gerakan-gerakan planet.  Muhammad bin Ibrahim al-Fasari lalu membuat pedoman ini, yang di kalangan astronom kemudian disebut “Sindhind besar”.  Belakangan karya ini diedit ulang oleh Al-Khawarizmi.
Dengan karya ini, angka India menjadi populer.  Ketika Khalifah al-Walid I (668 – 715 M) menguasai Spanyol dan segera melarang penggunaan bahasa Yunani atau Latin dalam urusan resmi untuk diganti bahasa Arab, dia masih mengecualikan penggunaan angka Yunani, karena angka ini belum ada penggantinya.  Namun ketika buku al-Fasari dan al-Khawarizmi keluar, dengan segera “angka India” diadopsi tak hanya oleh birokrasi, tetapi juga kalangan pebisnis dan surveyor, bahkan akhirnya oleh ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak mereka. Bagi orang-orang Spanyol, angka yang dibawa oleh para matematikawan Muslim yang berbahasa Arab ini lalu disebut “Angka Arab”.  Matematika akhirnya bisa menjadi cabang ilmu yang ramah keluarga.
Pada masa Yunani kuno, para matematikawan lebih asyik berfilosofi tentang geometri daripada memikirkan aplikasi praktis capaian geometri mereka.  Contoh: mereka telah berhasil menghitung hubungan jari-jari lingkaran dengan keliling lingkaran, yaitu bilangan pi (π).  Karena nilai pi ini saat dihitung “tidak mau selesai”, maka bilangan ini disebut “trancendental”, artinya: hanya Tuhan yang tahu.
Kalau sebuah bidang memotong kerucut dan membentuk suatu bangun geometri (ellips, parabola atau hiperbola) lalu pertanyaannya berapa luas atau keliling bangun tersebut, maka geometri Yunani tak lagi bisa memberi jawaban.  Pada saat yang sama, seni berhitung ala India juga tak pernah dipakai menghitung persoalan serumit ini.  Di sinilah Al-Khawarizmi “mengawinkan” aritmetika dan geometri. Potongan kerucut dengan bidang menghasilkan beberapa unknown (yang nilainya dicari), yang akan ditemukan kalau rumus bidang datar, kerucut dan kemiringan perpotongan disatukan lalu diselesaikan.  Inilah aljabar.
Hitungan ini lalu dipakai untuk membuat berbagai benda teknis yang dipasang di depan masjid hingga di dalam rumah, dari jam matahari hingga wajan penggorengan, dan di zaman modern dari desain bendungan hingga antena TV.  Model hitungan “perpotongan kerucut” ini belakangan dipakai untuk menghitung lintasan peluru manjaniq di medan jihad, dan beberapa ratus tahun kemudian dipakai oleh NASA untuk memprediksikan gerakan pesawat ruang angkasa.[]
Sumber: Mediaumat.com (19/11/2012)

Salah satu halaman di Kitab Al-Khawarizmi.
Read more...

Pembiayaan Pendidikan Dalam Negara Islam (Khilafah)

Tidak ada komentar

Pendidikan Sebagai Kebutuhan Dasar
Eksistensi dan kelestarian umat Islam sebagai sebuah entitas yang memiliki keyakinan dan sistem hidup khas ditentukan oleh sejauh mana penjagaan mereka terhadap tsaqafah islamiyyah.   Penjagaan umat terhadap tsaqafah islamiyyah bergantung sepenuhnya pada perhatian mereka terhadap pendidikan umat.  Sebab, pendidikan adalah thariqah untuk menjaga tsaqafah islamiyyah agar tetap lestari di dalam dada kaum Muslim dan lembaran-lembaran karya ilmiah.   Ketika perhatian negara dan umat terhadap pendidikan tsaqafah islamiyyah mulai melemah,  pelan namun  pasti umat semakin jauh dari Islam.   Akibatnya, umat mengalami kemunduran hampir di seluruh bidang kehidupan.   Keadaan itu semakin diperparah dengan keberhasilan Barat memasukkan tsaqafah-tsaqafah asing, seperti nasionalisme dan demokrasi,  ke tengah-tengah kaum Muslim.  Umat Islam pun semakin terperosok dalam jurang keawaman terhadap tsaqafah islamiyyah. Akhirnya, mereka tidak mampu lagi mempertahankan eksistensi hadharah islamiyyah dan Daulah Islam sebagai akibat lemahnya pemahaman mereka terhadap Islam.
Ketika Daulah Islam dan peradaban Islam berhasil diruntuhkan oleh Barat, banyak di antara mereka tidak menyadari apa yang sesungguhnya terjadi. Padahal  kehancuran Daulah Islam dan peradaban Islam adalah musibah terbesar dan awal bagi penderitaan mereka. Realitas ini menunjukkan bahwa pendidikan tsaqafah islamiyyah merupakan perkara urgen (dlaruri) yang tidak boleh diabaikan oleh kaum Muslim.  Negara Khilafah—yang  tidak lama lagi akan berdiri dengan izin Allah SWT—wajib memperhatikan masalah ini dengan perhatian yang tinggi dan sempurna.
Selain itu, nash-nash syariah juga telah menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah (kebutuhan dasar) yang harus  dijamin ketersediaannya di tengah-tengah masyarakat, seperti halnya keamanan dan kesehatan.  Di antara nash-nash syariah yang menetapkan pendidikan sebagai hajah asasiyyah adalah sabda Nabi saw.:
إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلَأَ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِماَ بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Permisalan hidayah dan ilmu yang Allah SWT sampaikan kepada diriku bagaikan air hujan yang menimpa sebidang tanah. Di antara tanah itu ada tanah baik yang mampu menyerap air dan menumbuhkan rerumputan serta  pepohonan yang sangat banyak. Di antara tanah itu ada pula tanah liat yang mampu menahan air sehingga Allah SWT memberikan manfaat kepada manusia dengan tanah tersebut; manusia bisa meminum air darinya, mengairi kebun-kebunnya dan memberi minum hewan-hewan ternaknya.  Air hujan itu juga menimpa tanah jenis lain, yaitu tanah datar lagi keras yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rerumputan.  Demikian-lah, ini adalah perumpamaan orang yang faqih terhadap agama Allah, dan orang yang bisa mengambil manfaat dari apa-apa yang telah Allah sampaikan kepada diriku sehingga ia bisa belajar dan mengajarkan (ilmu tersebut kepada orang lain). Ini juga perumpamaan orang yang menolak hidayah dan ilmu dan tidak mau menerima hidayah Allah SWT yang dengan itulah aku diutus (HR al-Bukhari dan Muslim).
Di dalam hadis ini dituturkan bahwa penerimaan dan penolakan manusia terhadap hidayah dan ilmu diidentikkan dengan sebidang tanah dan air hujan.  Air hujan  termasuk hajah asasiyyah bagi manusia, yang kalau tidak dipenuhi akan menyebabkan kebinasaan bagi manusia. Pengidentikan ilmu dan hidayah dengan air hujan menunjukkan, bahwa ilmu dan hidayah merupakan hajah asasiyyah sebagaimana air hujan.  Riwayat di atas juga diperkuat hadis-hadis lain, seperti hadis-hadis berikut ini:
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ
Sesungguhnya di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tersebarnya kebodohan (HR al-Bukhari dan Muslim).
مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ
Di antara tanda-tanda datangnya Hari Kiamat adalah berkurangnya ilmu dan tampaknya kebodohan (HR al-Bukhari dan Muslim).
Riwayat-riwayat di atas menunjukkan bahwa lenyap dan berkurangnya ilmu merupakan madarat (ancaman/bahaya) bagi kehidupan manusia.  Madarat ini hanya bisa dihilangkan dengan cara menyelenggarakan pendidikan berkesinambungan di tengah-tengah masyarakat.  Sebab, ilmu dan hidayah hanya bisa dipelihara dan dijaga ketika keduanya dipelajari dan diajarkan secara terus-menerus di tengah-tengah masyarakat.  Dengan demikian, hadis-hadis ini semakin meneguhkan bahwasanya pendidikan merupakan hajah asasiyyah yang harus dijamin ketersediannya di tengah-tengah masyarakat oleh Negara Khilafah.
Pembiayaan Pendidikan di Negara Khilafah
Di dalam Kitab al-Iqtishadiyyah al-Mutsla disebutkan bahwa jaminan atas pemenuhan kebutuhan dasar (hajah asasiyyah) bagi seluruh rakyat seperti pendidikan, keamanan dan kesehatan, berada di tangan negara.   Ketentuan ini didasarkan pada sabda Nabi saw.:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Imam itu adalah pemimpin dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya (HR al-Bukhari).
Atas dasar itu, Khilafah harus menjamin setiap warga negara dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya dengan mudah.  Dalam konteks pendidikan, jaminan terhadap pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi seluruh warga negara bisa  diwujudkan dengan cara menyediakan pendidikan gratis bagi rakyat. Negara Khilafah juga wajib menyediakan fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang cukup dan memadai seperti gedung-gedung sekolah, laboratorium, balai-balai penelitian, buku-buku pelajaran, dan lain sebagainya.  Negara Khilafah juga berkewajiban menyediakan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di bidangnya, sekaligus memberikan gaji yang cukup bagi guru dan pegawai yang bekerja di kantor pendidikan.   Para Sahabat telah sepakat mengenai kewajiban memberikan ujrah (gaji) kepada tenaga-tenaga pengajar yang bekerja di instansi pendidikan negara Khilafah di seluruh strata pendidikan.   Khalifah Umar bin Khaththab ra. pernah menggaji guru-guru yang mengajar anak-anak kecil di Madinah, sebanyak 15 dinar setiap bulan.  Gaji ini beliau ambil dari Baitul Mal.
Seluruh pembiayaan pendidikan di dalam negara Khilafah diambil dari Baitul Mal, yakni dari pos fai’ dan kharaj serta pos milkiyyah ‘amah.    Seluruh pemasukan Negara Khilafah, baik yang dimasukkan di dalam pos fai’ dan kharaj, serta pos milkiyyah ‘amah, boleh diambil untuk membiayai sektor pendidikan. Jika pembiayaan dari dua pos tersebut mencukupi maka negara tidak akan menarik pungutan apapun dari rakyat.
Jika harta di Baitul Mal habis atau tidak cukup untuk menutupi pembiayaan pendidikan, maka Negara Khilafah meminta sumbangan sukarela dari kaum Muslim.  Jika sumbangan kaum Muslim juga tidak mencukupi, maka kewajiban pembiayaan untuk pos-pendidikan beralih kepada seluruh kaum Muslim.  Sebab, Allah SWT telah mewajibkan kaum Muslim untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran wajib—seperti  pendidikan, kesehatan, dan keamanan—ketika Baitul Mal tidak sanggup mencukupinya.   Selain itu, jika pos-pos tersebut tidak dibiayai, kaum Muslim akan ditimpa kemadaratan.   Dalam kondisi seperti ini, Allah SWT memberikan hak kepada negara untuk memungut pajak (dharibah) dari kaum Muslim.  Hanya saja, penarikan pajak dilakukan secara selektif.  Artinya, tidak semua orang dibebani untuk membayar pajak.  Hanya pihak-pihak yang dirasa mampu dan berkecukupan saja yang akan dikenain pajak.  Orang-orang yang tidak memiliki kemampuan finansial yang cukup dibebaskan dari membayar pajak.  Berbeda dengan negara kapitalis, pajak dikenakan dan dipungut secara tidak selektif. Bahkan orang-orang miskin pun harus membayar berbagai macam pajak atas pembelian suatu produk atau pemanfaatan jasa-jasa tertentu.
Selain itu, dharibah (pajak) dalam pandangan syariah Islam adalah pemasukan yang bersifat pelengkap, bukan sebagai pemasukan utama dalam APBN Khilafah.  Negara hanya akan memungut pajak jika negara berada dalam keadaan darurat, yaitu ketika harta di Baitul Mal tidak mencukupi.  Sebaliknya, dalam negara kapitalis, pajak dijadikan sebagai sumber penerimaan utama negara.  Di negara-negara sekular-kapitalis, seperti Indonesia, pemasukan di sektor pajak mencapai kisaran 70-90% dari total pendapatan negara.  Akibatnya, beban pembiayaan masyarakat dan industri semakin meningkat akibat banyaknya pungutan yang harus mereka tanggung
Walaupun negara adalah pihak yang paling bertanggung jawab dalam penyediaan dan penyelenggaraan pendidikan bagi seluruh warganya, bukan berarti individu dilarang menyelenggarakan pendidikan secara mandiri.  Setiap warga negara Khilafah diperbolehkan mendirikan sekolah, madrasah, pesantren atau lembaga-lembaga pendidikan serta menarik kompensasi atas jasa yang telah mereka berikan. Mereka juga diperbolehkan menyusun kurikulum dan mata pelajaran sendiri.  Hanya saja, kurikulum dan mata pelajaran tersebut tidak boleh menyimpang dari akidah dan syariah Islam. Negara Khilafah mengawasi kurikulum dan mata pelajaran yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan swasta tersebut serta akan menindak dengan tegas siapapun yang mengajarkan pelajaran-pelajaran yang bertentangan dengan akidah dan syariah Islam. [Fathiy Syamsuddin Ramadhan An-Nawiy]
WalLahu al-Musta’an wa Huwa Waliyyu at-Tawfiq.
Read more...

LBH Yogyakarta Indikasikan Adanya Jual-Beli Hukum dalam UU Pendidikan

Tidak ada komentar
Salah satu Lembaga Bantuan Hukum di Yogyakarta menilai Undang-undang Pendidikan No. 12 Tahun 2012 muncul karena pesanan perusahaan-perusahaan, baik perusahaan nasional maupun asing.
 
Pernyataan ini disampaikan Wakil Ketua LBH Yogyakarta, Ahmad Asrul Maro saat menjadi narasumber diskusi nasional dalam acara Dies Natalis Pusat Studi dan Konusultasi Hukum (PSKH) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan tema “Quo Vadis Undang-undang Pendidikan No. 12 Tahun 2012” pada Sabtu, 3 November 2012 kemarin.

“Undang-undang Pendidikan No. 12 Tahun 2012 lahir karena adanya politisi undang-undang dan juga pesanan dari perusahaan-perusahaan  untuk menggoalkan undang-undang tersebut,” ujarnya dalam acara yang deselenggarakan di Gedung Suka Resto kampus setempat.

“Dari adanya hal tersebut dinilai ada semacam jual-beli pasal,” kata Asrul. Ia mengatakan, dalam pasal 65 Undang-undang tersebut, Perguruan Tinggi Negeri (PTN) berbentuk badan hukum, ini berarti PTN dalam pandangan hukum bisnis seperti Perseroan Terbatas (PT).

“Jika PTN dijadikan seperti perusahaan, maka otomatis ada profit oriented,” kata Asrul. Ia menambahkan, PTN jika sudah demikian maka PTN akan menjualkan saham kepada pihak-pihak yang menginginkannya.

Tidak dipungkiri, ini akan berdampak buruk kepada dunia pendidikan, ungkap Asrul. Dampak yang pasti terjadi adalah biaya pendidikan akan semakin naik, karena untuk memperbesar hasil (profit) yang diinginkan, tambahnya.

Kaitannya dengan adanya otonomi daerah, maka setiap daerah berhak untuk mengatur pula dalam bidang pendidikannya. Ini pun menurut dia menjadi polemik tersendiri. Menurut Nasrul, setiap daerah memiliki kemampuan ekonomi masing-masing, jika PTN sudah seperti PT maka tidak menutup kemungkinan PTN pun bisa mengalami pailit, seperti hanya pada PT. Ini yang ia sayangkan.

Hadir pula sebagai narasumber diskusi tersebut, Ketua Bidang Pendidikan Menengah Yogyakarta Wahyuni, ia mengamini pernyataan Ahmd Nasrul tersebut. Kata Wahyuni, setiap daerah memiliki PAD yang berbeda-beda, di DIY bisa dikatakan cukup tinggi, namun di luar DIY kemungkinan lebih rendah. Dengan adanya PTN dijadikan seperti PT maka perguruan tinggi di luar DIY yang PAD-nya lebih rendah, dimungkinkan akan mudah mengalami kesulitan dalam operasional, imbuhnya.

Acara tersebut dihadiri sekitar 60 peserta yang berasal dari mahasiswa delegasi fakultas hukum dari berbagai kampus se-DIY. Hadir pula mahasiswa dari organisasi Persatuan Mahasiswa Hukum Indonesia (PERMAHI) Cabang Yogyakarta.*/Muhsin

hidayatullah
Read more...

Category

Popular Posts

facebook