Comments

Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Bayi Batuk Pilek Tak Butuh Obat Kimia

Tidak ada komentar
Siapapun orang tua, pasti tak menginginkan bayinya sakit, meskipun sakitnya itu termasuk biasa-biasa saja. Tapi, meskipun biasa, tetap yang namanya sakit alias nggak enak body, nggak boleh disepelekan. Apalagi ini yang nggak enak body, masih bayi. Belum bisa bilang apa yang nggak enak, maunya apa, dan sebagainya. Yang bisa dilakukan bayi hanya menangis dan menangis saja untuk mengungkapkan ketidaknyamanannya itu.

Saya pun sebagai orang tua baru, juga tidak pernah membayangkan bayi saya akan sakit. Sekitar 2 minggu lalu, bayi saya yang berusia 2 bulan, tertular flu dari ayahnya. Ceritanya, ayahnya ketularan flu dari teman-temannya di kantor. Sama seperti ayahnya yang batuk pilek, bayi saya juga batuk pilek. Tapi alhamdulillah, bayi saya tidak mengalami demam. Sementara ayahnya sempat demam tinggi.
 
Sebenarnya, saya sudah menjauhkan betul-betul bayi saya dari ayahnya. Toh, ayahnya juga tidak tidur sekamar maupun seranjang dengan saya dan bayi saya. Tapi, yang namanya cuma hidup bertiga dengan bayi, dan jauh dari orang tua maupun keluarga, saya tidak memiliki partner yang bisa dijadikan teman berganti tugas. Saat saya lelah mengurus bayi yang saat itu sedang sering rewel, mau tak mau, saya melibatkan suami saya untuk bergantian menggendong maupun menenangkan bayi kami. Meskipun suami saya sudah selalu memakai masker saat dekat dengan bayi kami, toh ternyata virus itu menular juga.
 
Kami menyadari kalau bayi kami tertular flu saat tahu nafasnya berbunyi ngik-ngik ketika tidur pada malam hari. Selain itu, pada malam itu, tidurnya tidak tenang. Tangannya bergerak terus mencakar-cakar muka dan hidungnya. Keesokan paginya, dari dalam hidungnya (atau tenggorokannya?) muncul suara nggruk-nggruk saat dia bernafas. Kami menebaknya, itu adalah dahak.
 
Meskipun sejak hamil, saya dan suami sudah berkali-kali meyakinkan pada diri kami bahwa kami akan tetap tenang saat anak nggak enak badan, tapi ternyata ketika terjadi betulan, saya panik. Saya bersyukur suami tidak panik. Padahal biasanya, dia lebih panik daripada saya. Coba kalau dua-duanya panik, pasti ribet jadinya. Di tengah kepanikan saya, langkah pertama yang saya lakukan adalah meminta tolong suami untuk mengontak kakak ipar saya yang berprofesi sebagai bidan, menanyakan apa obat flu bagi bayi 2 bulan. Karena tidak memeriksa langsung bayi kami, kakak ipar saya tidak berani merekomendasikan obat apa yang bisa dikonsumsi bayi kami.
 
Syukur alhamdulillah, saat itu ada ibu saya yang sedang menginap di rumah. Lantas ibu membuatkan ramuan obat tradisional berupa bawang merah diparut dan dicampur minyak telon, kemudian diusapkan ke ubun-ubun bayi, telapak kaki bayi, pusar bayi, dan juga punggung bayi. Katanya, itu adalah obat tradisonal jika bayi terkena batuk pilek. Saat di kantor, suami saya juga googling obat tradisional lain yang bisa kami berikan buat bayi kami. Tiga lembar daun sirih diremas-remas, dicampur air perasan jeruk nipis, kemudian dioleskan pada leher bayi.
 
Sehari setelah diberi ramuan-ramuan itu dan batuk pileknya belum sembuh-sembuh juga, saya yang masih panik mengajak suami untuk memeriksakan bayi kami ke rumah sakit. Saat itu sekitar jam 11 siang, di tengah teriknya sinar matahari. Sesampainya di rumah sakit, ternyata dokter anak yang kami cari, sedang tidak ada. Duuuh … sedihnya. Siang-siang panas-panas begini, tapi dokternya nggak ada. Akhirnya kami membawa bayi kami ke rumah bersalin di dekat rumah. Di sana, bidan yang memeriksa memberikan obat batuk pilek berupa sirup. Obat itu diberikan 3 kali sehari dengan takaran 1/4 sendok sirup. Tahu begini, dari tadi ke rumah bersalin ini saja. Langsung ketemu paramedisnya, juga diberi obat. Pikir saya waku itu.
 
Sesampainya di rumah, saya berikan sirup itu memakai sendok. Tapi ternyata, bayi kami melepehnya. Obatnya tidak tertelan sepertinya. Kalaupun tertelan, sepertinya hanya sedikit sekali. Malamnya, saya kembali memberikan sirup itu menggunakan sendok. Tapi lagi-lagi bayi kami melepehnya. Melihat begitu, ibu saya menyarankan agar besok pagi memberikan sirupnya memakai kapas agar tertelan bayi. Ternyata benar tertelan. Saya ambil sedikit kapas, mencelupkan ke sirup yang sudah ditakar dalam sendok obat, kemudian memasukkan kapas itu ke mulut bayi dan memerasnya saat sudah ada di dalam mulut bayi. Obat itu tertelan semua. Saya ‘berhasil’ memasukkan obat itu sebanyak 4 kali selama 4 kali waktu meminum obat.
 
Saat saya di kantor dan buka facebook, saya menulis status tentang batuk pilek yang diderita bayi kami. Alhamdulillah, ada resep-resep yang diberikan beberapa teman. Ada terapi pijat batuk pilek, memberikan ASI lebih banyak, juga ada memberi ramuan obat tradisional yang sudah kami lakukan. Kemudian secara tak sengaja, saya membaca sebuah up load tulisan tentang anak yang terkena batuk pilek. Ya Allah … saya sudah pernah membaca tulisan itu, dulu saat saya belum hamil, juga saat saya hamil. Tapi kok saya lupa yaaaaa? 
 
Inti dari tulisan itu adalah bahwa saat anak kita, terutama bayi, terkena batuk pilek, kita tidak perlu buru-buru memberinya obat kimia. Karena sebetulnya, bayi kita tidak memerlukan obat kimia untuk batuk pileknya. Perbanyak minum dan istirahat. Kalau masih bayi, perbanyak ASI. Bahkan jika bayi kita tidak meminta ASI, si ibu harus memberikan ASInya. ASI-lah yang nanti akan menjadi penyembuh batuk pilek bayi.
 
Deg! Saya jadi tersadar. Kenapa saya lupaaaaa? Bukankah saya pernah membacanya? Juga membaca artikel-artikel serupa? Setelah membacanya, segera saya kirim SMS kepada suami saya. Saya bilang bahwa saya membatalkan untuk memeriksakan kembali bayi kami yang belum sembuh itu ke dokter. Saya bilang, singkirkan obat sirup itu. Kami tidak akan memberikan sirup itu pada bayi kami. Kasihan tubuhnya yang masih ringkih, yang masih berusia 2 bulan, tapi sudah terpapar obat kimia. Apalagi obat kimia itu tidak dibutuhkan tubuh bayi saya.
Akhirnya saya mensyukuri kakak ipar saya yang tidak berani merekomendasikan obat untuk bayi kami. Saya juga mensyukuri dokter anak yang kami cari, sedang tidak ada di rumah sakit saat kami ke sana. Saya juga bersyukur, bayi saya pintar. Dia melepeh sirup itu. Meskipun saya juga menyesal, ada juga sirup yang tertelan olehnya, 4 kali.
 
Untuk menyembuhkan batuk pileknya, ASI yang sudah banyak saya berikan, saya perbanyak lagi. Saya juga tetap memberikan ramuan obat tradisional bawang merah parut dicampur minyak telon. Saya juga menguapi bayi kami dengan cara merebus air hingga mendidih, kemudian meneteskan 5 hingga 10 tetes minyak telon. Biarkan uapnya dihirup bayi. Uap itu akan meredakan hidung mampet. Saya juga menjemur bayi saya pada pagi hari selama sekitar 10 menit. Bayi ditelungkupkan, kemudian tepuk-tepuk punggungnya. Itu untuk merangsang bayi batuk sehingga dahaknya keluar. Saya pun juga meletakkan irisan-irisan bawang merah di sudut-sudut kamar tempat bayi saya tidur. Katanya, irisan-irisan bawang merah itu akan mensterilisasi ruangan.
 
Tak hanya itu, saya juga melakukan terapi pijat batuk pilek di rumah bersalin di dekat rumah itu. Bayi kami disinari menggunakan sinar infra merah. Sinar itu akan mencairkan dahak. Kemudian ditepuk-tepuk dada dan punggungnya untuk merangsang bayi batuk sehingga dahaknya keluar. Duuuh … kok ya bidannya waktu itu tidak menyarankan agar bayi saya terapi pijat batuk pilek saja? Toh juga di klinik itu. Keuntungannya juga buat klinik itu. Saat saya memeriksakan bayi kami ke sana, saya belum tahu tentang terapi pijat batuk pilek untuk bayi dan anak-anak.
 
Tapi, mungkin inilah yang namanya menimba ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dari sini, saya dan suami juga tambah ilmu, tambah belajar. Terima kasih, anakku sayang, kau telah mengajari Ibu. Alhamdulillah, setahap demi setahap, bayi kami lekas sembuh dari batuk pileknya. Dan sekarang, dia sudah kembali ceria. Sudah ketawa-ketawa riang lagi. Senangnyaaaaaa. ^_^
 
Read more...

BAB Bayi ASI Eksklusif

Tidak ada komentar
ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya.

Sebenarnya adakah tanda-tanda yang dapat menunjukkan bahwa bayi mendapatkan cukup ASI (Air Susu Ibu)? Dalam jangka panjang indikasi atau tanda kecukupan yang paling utama adalah peningkatan berat badan. Ada juga tiga tanda sederhana yang dapat diperhatikan ibu, yakni dengan mengamati cara bayi menyusu, buang air kecil (BAK), dan buang air besar (BAB). Tulisan ini membahas BAB bayi yang hanya mendapat ASI atau yang lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif (ASIX).


Tiga Hari Pertama
Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk tinja bayi berubah di hari keempat.


Bulan Pertama
Tinja bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk tinja juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.
Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.
  1. Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari
  2. Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam
  3. Tinja bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau tinja sedikit
Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah tinja merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah tinja bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.
Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah tinja lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:
  • Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;
  • Kulit, mulut dan bibir lebih kering;
  • Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;
  • Mata tampak cekung atau terbenam;
  • Sangat lemas dan kesadaran menurun;
  • Selalu merasa haus atau malah menolak minum;
  • Ubun-ubun terlihat cekung;
  • Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.
Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.

 
Usia 2-6 Bulan
Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 20 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk tinja wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan tinja.


Setelah Bulan Keenam
Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk dan jumlah tinja akan berubah tergantung dari asupan makanannya. Jika tinja bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut hebat atau muntah.
Sumber:
  • Newman, Jack. Kernerman, Edith. 2009. Is My Baby Getting Enough Milk?, diakses April 2011).
  • Pujiarto, Purnamawati S. 2008. Q&A Smart Parents for Healthy Children. Jakarta: Intisari.
  • Suririnah. 2009. Buku Pintar Merawat Bayi 0-24 Bulan. Jakarta: Gramedia.


    aimi-asi.org
Read more...

Bahaya Tali Pusat yang Tidak Terawat (1)

Tidak ada komentar

Merawat bayi
Foto: Getty Images

Merawat bayi ternyata tak bisa dianggap sepele. Salah merawat, bisa-bisa tumbuh-kembang bayi jadi terhambat.  

Secara umum, bayi yang baru lahir harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Nah, orangtualah yang bertugas untuk menyediakan lingkungan yang paling optimal bagi tumbuh kembang Si Kecil. “Dalam arti, bayi tidak perlu repot beradaptasi,” kata dokter spesialis anak dari RS Royal Taruma, Jakarta, Dr. Elizabeth Hutapea, Sp.A. 
 
Bayi akan beradaptasi jika suhu di luar terlalu dingin atau terlalu panas. Dan setiap kali dia beradaptasi (melakukan respons terhadap lingkungan), ia akan mengeluarkan kalori, sehingga tumbuh kembangnya menjadi agak berkurang. Karenanya lingkungan yang paling optimal perlu disiapkan sehingga bayi tidak perlu berespons aneh-aneh. Misalnya, suhu air untuk mandi yang sebaiknya mendekati suhu tubuh bayi. Air conditioner (AC) juga cukup disetel yang menyerupai suhu  tubuhnya dan tidak membuat bayi gerah. 

Selain kenyamanan, kebutuhan lain adalah asih, asah, dan asuh, termasuk makanan (ASI) dan bonding dengan orangtua. Apa lagi yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam merawat bayi? Simak penjelasan lengkap dari Elizabeth berikut ini.


Memandikan Bayi
Bayi sebaiknya dimandikan 1-2 kali sehari. Waktunya disesuaikan dengan kondisi bayi. Suhu air yang digunakan untuk mandi sebaiknya hangat. Tujuannya supaya perbedaan suhu bayi dan suhu air tidak terlalu jauh, bayi tidak menggigil sesudah mandi dan tidak demam kalau airnya dingin. 

Untuk mengukur suhu air yang pas, cukup samakan dengan suhu tangan orang dewasa. Siapkan air, masukkan tangan ke baskom. Kalau suhunya sama dengan tangan, berarti itulah suhu air yang sesuai untuk bayi. Ini akan menjaga supaya respon bayi tetap minimal, tidak perlu terlalu beradaptasi. 

Sabun yang bagus digunakan adalah semua produk sabun bayi, entah sabun batang maupun cair, karena pH-nya lebih sesuai dengan pH bayi (antara 4,5-5) dan biasanya mengandung pelembab (moisturizer). Hindari memakai sabun dewasa. Pada kasus-kasus di mana bayi bermasalah dengan kulitnya, bisa menggunakan sabun yang mengandung hipoalergenik. Sementara untuk sampo bayi, sebaiknya juga menggunakan sampo khusus bayi yang biasanya disediakan satu paket beserta sabun mandi bayi.  


Merawat Tali Pusat
Orangtua sebaiknya tidak menganggap remeh perihal merawat tali pusat bayi sebab erat kaitannya dengan infeksi. Tanda-tanda infeksi biasanya tali pusat basah dan berbau, padahal seharusnya tidak berbau. Kalau ada bau, sebaiknya segera kontrol ke dokter untuk memastikan apakah perlu obat lain, seperti antibiotik. Pasalnya, infeksi pada tali pusat bisa berakibat fatal, antara lain bisa menyebabkan infeksi darah maupun infeksi otak. 

Cara membersihkan tali pusat cukup dengan menggunakan alkohol 70 persen, 1-2 kali sesudah mandi. Sesudah dibersihkan, tidak perlu dibungkus kasa atau kain. Biarkan terbuka supaya cepat kering. Yang penting tidak terkena air kencing bayi karena itu sebaiknya pemakaian popok jangan sampai menutupi tali pusat. Bersihkan tali pusat sampai lepas. Kalau sudah lepas, dan kering dalam waktu 24 jam, tidak perlu dibersihkan lagi. Jangan berikan ramuan-ramuan tradisional maupun bedak, karena akan memperlambat tali pusat mengering. 


Merawat Alat Kelamin Bayi
Pada bayi perempuan yang baru lahir kerap kali muncul lendir keputihan di sekitar alat kelaminnya. Sebaiknya bersihkan dengan kapas yang dibasahi air. Arahnya dari depan ke belakang, jangan dari belakang ke depan. Bersihkan rutin pada saat mandi sampai lendir keputihan tadi hilang. Produksi lendir keputihan ini sebetulnya normal pada bayi baru lahir dan merupakan efek hormon dari Sang Ibu. Bahkan, kadang-kadang sering keluar darah sedikit. 

Untuk bayi laki-laki pun sama. Cara membersihkan alat kelamin bayi laki-laki adalah dengan membersihkan kulup menggunakan kapas yang dibasahi air hangat setiap mandi. 

Jangan sekali-sekali memakai bedak setelah membersihakan alat kelamin bayi, karena bisa menimbulkan infeksi dan iritasi. Juga tidak disarankan menggunakan tisu basah untuk merawat alat kelamin sehar-hari, karena bisa menyebabkan iritasi pada alat kelamin dan daerah sekitarnya. Akibatnya, bayi bisa rewel, kesakitan, dan terjadi infeksi. Tisu basah boleh digunakan hanya pada saat emergensi, misalnya saat bepergian jauh. Iritasi juga bisa dihindari dengan segera mengganti popok atau popok sekali pakai begitu anak buang air besar (BAB).


Waspadai Kolik Berlebihan
Seringkali, bayi menangis kesakitan tanpa sebab setiap menjelang malam. Kondisi ini disebut kolik. Apa sebabnya? Sampai sekarang belum diketahui secara pasti penyebab atau mekanisme kolik. Namun, kolik biasanya dihubungkan dengan pengosongan lambung, juga kerap dihubungkan dengan penyerapan susu. Rata-rata, bayi yang minum ASI eksklusif lebih jarang kolik dibanding mereka yang yang minum susu formula. 

Biasanya, kolik muncul setelah bayi berusia 3 minggu dan akan hilang sendiri. Yang penting, saat menangani bayi yang kolik adalah sebisa mungkin bayi dibuat nyaman sehingga tidak menangis hebat. Misalnya dengan digendong atau ditimang-timang. Dan oleh karena mekanisme pastinya sampai sekarang belum jelas, maka penanganannya pun hanya dengan pemberian obat nyeri dan pemberian ASI eksklusif yang dianggap lebih mudah dicerna. 

Yang perlu diperhatikan adalah jika bayi kolik berlebihan. Jangan-jangan yang terjadi bukan kolik, melainkan usus melilit atau usus terjepit (invaginasi). Jika ini yang terjadi, Elizabeth menyarankan agar bayi dibawa ke dokter untuk memastikan tidak ada usus yang melilit, usus yang melintir, atau usus terjepit. Selain itu, pada kolik yang normal, bayi tetap BAB seperti pola biasanya. Bayi juga baik-baik saja pada siang hari dan minumnya juga bagus. Sementara pada kolik yang diikuti terganggunya pola defekasi (buang air besar atau BAB), misalnya bayi jadi jarang BAB, harus dipastikan apakah ada kemungkinan gangguan pada usus tadi. 

Yang sering jadi pertanyaan, kenapa kolik muncul menjelang petang? Sampai sekarang belum diketahui secara persis penyebabnya. Namun, ini biasanya dihubungkan dengan sistem neurohormonal bayi. Misalnya, apakah hormon-hormon pencernaan pada bayi lebih rendah di malam hari. 

Read more...

Mendurhakai Anak

Tidak ada komentar
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

SEORANG laki-laki datang menghadap Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu. Ia bermaksud mengadukan anaknya yang telah berbuat durhaka kepadanya dan melupakan hak-hak orangtua. Kemudian Umar mendatangkan anak tersebut dan memberitahukan pengaduan bapaknya. Anak itu bertanya kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu, “Wahai Amirul Mukminin, bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?” . “Ya, tentu,” jawab Umar tegas. Anak itu bertanya lagi, “Apakah hak-hak anak itu, wahai Amirul Mukminin?”. “Memilihkan ibunya, memberikan nama yang baik, dan mengajarkan al-Qur’an kepadanya,” jawab Umar menunjukkan. Anak itu berkata mantap, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melakukan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia dari keturunan yang beragama Majusi. Mereka menamakan aku Ju’al (kumbang kelapa), dan ayahku belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari al-Kitab (al-Qur’an). “Umar menoleh kepada laki-laki itu, dan berkata tegas, “Engkau telah datang kepadaku mengadukan kedurhakaan anakmu. Padahal, engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu. Engkau pun tidak berbuat baik kepadanya sebelum dia berbuat buruk kepadamu.”

Kata-kata Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu ini mengingatkan kepada kita -para bapak- untuk banyak bercermin. Sebelum kita mengeluhkan anak-anak kita, selayaknya kita bertanya apakah telah memenuhi hak-hak mereka. Jangan-jangan kita marah kepada mereka, padahal kitalah yang sesungguhnya berbuat durhaka kepada anak kita. Jangan-jangan kita mengeluhkan kenakalan mereka, padahal kitalah yang kurang memiliki kelapangan jiwa dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Kita sering berbicara kenakalan anak, tapi lupa memeriksa apakah sebagai orangtua kita tidak melakukan kenakalan yang lebih besar. Kita sering bertanya bagaimana menghadapi anak, mendiamkan mereka saat berisik dan membuat mereka menuruti apa pun yang kita inginkan, meskipun kita menyebutnya dengan kata taat. Tetapi sebagai orangtua, kita sering lupa bertanya apakah kita telah memiliki cukup kelayakan untuk ditaati. Kita ingin mereka mengerti keinginan orangtua, tapi tanpa mau berusaha memahami pikiran anak, kehendak anak dan jiwa anak.

Pendidikan yang kita jalankan pada mereka hanyalah untuk memuaskan diri kita, atau sekedar membebaskan kita dari kesumpekan lantaran dari awal sudah merasa repot dengan kehadiran mereka. Bahkan, ada orangtua yang telah merasa demikian repotnya menghadapi anak, ketika anak itu sendiri belum lahir.

Teringatlah saya ketika suatu hari pergi bersama istri dan anak saya. Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, anak saya yang keempat, masih bayi waktu itu dan sedang lucu-lucunya (sekarang pun dia masih sangat lucu dan menggemaskan) . Sembari menunggu bagasi, seorang ibu yang modis bertanya kepada istri saya, “Anak pertama, Bu?”. “Bukan,” jawab istri saya, “Ada kakaknya, cuma nggak ikut.” “Ou. Memangnya, berapa anaknya, Bu?” tanya ibu itu segera. “Baru empat. Ini anak yang keempat,” jawab saya ikut menimpali. “Empat???” tanya ibu itu dengan mata terbelalak. Tampaknya ia kaget sekaligus heran. Kemudian dia segera mengajukan pertanyaan berikutnya, “Yang paling besar sudah kelas berapa?”. “TK A. Nol kecil,” jawab istri saya.

Ibu itu tampak sangat kaget. Begitu kagetnya, sehingga nyaris berteriak, “Ya, ampun.. Empat! Apa nggak repot itu? Saya punya anak satu saja rasanya sudah repot sekali. Ribut. Nggak mau diatur. Apalagi kalau empat. Nggak terbayang, deh. Bisa-bisa mati berdiri saya.”.

Ungkapan spontan ibu ini adalah cermin kita, cermin yang menggambarkan betapa banyak orang yang menjadi orangtua semata-mata karena dia punya anak.Bukan gambaran tentang kematangan jiwa atau kualitas kasih sayang. Anak hadir dalam kehidupan mereka semata-mata sebagai resiko menikah, sehingga sinar mata anak-anak yang masih jernih tanpa dosa tak mampu membuat orangtuanya terhibur.

Terkadang orangtua sudah lama merindukan anak. Tetapi ia memiliki gambaran sendiri tentang anak seperti apa yang harus lahir melalui rahimnya, sehingga ia kehilangan perasaan yang tulus saat Allah benar-benar mengaruniakan anak.Terlebih ketika yang lahir, tidak sesuai harapan. Orangtua yang sudah terlalu panjang angan-angannya, bisa melakukan penolakan psikis terhadap anak kandungnya sendiri. Atau memperlakukan anak itu agar sesuai dengan harapannya. Inginnya anak perempuan, yang lahir laki-laki. Maka anak itupun diperlakukan seperti perempuan, sehingga ia berkembang sebagai bencong. Atau sebaliknya, anak itu menjadi bulan-bulanan kekesalan orangtua, bahkan ketika anaknya sudah memiliki anak. Ketika anaknya sudah menjadi orangtua.

Kejadian semacam ini tidak hanya sekali terjadi di dunia. Karena yang lahir tidak sesuai harapan, kadang anak akhirnya menjadi tempat menimpakan kesalahan. Apapun yang terjadi, anak inilah yang menjadi kambing hitam. Setiap ada yang salah, anak inilah yang harus ikut menanggung kesalahan. Atau bahkan dia yang harus memikul seluruh kesalahan, meskipun bukan dia penyebabnya. Terkadang bentuknya tidak sampai seburuk itu, tetapi akibatnya tetap saja buruk. Anak merasa tertolak. Ia tidak kerasan di rumah, meskipun rumahnya menawarkan kemegahan dan kesempurnaan fasilitas. Ia merasa seperti tamu asing di rumahnya sendiri.

Saya teringat dengan cerita seorang kawan yang mengurusi anak-anak jalanan. Suatu ketika ia menemukan seorang anak yang babak belur mukanya dihajar sesama anak jalanan karena berebut lahan di sebuah stasiun. Wajahnya sudah nyaris tak berbentuk. Anak ini kemudian ia selamatkan. Ia rawat dengan baik dan penuh kasih-sayang. Setelah kondisi fisiknya pulih dan emosinya pun sudah cukup baik, ia tawarkan kepada anak itu dua pilihan; dipulangkan ke rumah orangtua atau dikirim ke sebuah lembaga pendidikan. Seperti anak-anak lain di muka bumi, selalu ada perasaan rindu pada orangtua. Maka ia mengajukan pilihan dipulangkan ke rumah orangtua.

Staf dari kawan saya ini kemudian berangkat mengantarkan pulang ke sebuah kota di Jawa Tengah. Nyaris tak percaya, orangtua anak itu ternyata memiliki kedudukan yang cukup terhormat. Bapaknya seorang jaksa dan ibunya seorang kepala sekolah sebuah SMP. Rumahnya? Jangan tanya. Mereka sangat kaya. Cuma satu yang mereka tidak punya: perasaan. Melihat anaknya yang sudah dua tahun meninggalkan rumah, tak ada airmata haru yang menyambutnya. Justru perkataan yang sangat tidak bersahabat, “Ngapain kamu pulang?”. Melihat sambutan yang sangat tidak bersahabat ini, staf teman saya segera mengajak anak itu kembali ke Jogja.

Tak ada airmata yang melepas. Tak ada rasa kehilangan dari orangtua saat anak itu kembali meninggalkan rumah.Yang ada hanyalah perasaan yang remuk pada diri anak. Di saat ia ingin dididik oleh orangtua yang menjadi pendidik di SMP, yang ia dapatkan justru sikap sangat kasar. Benar-benar perlakuan yang sangat kasar, menyakitkan dan menghancurkan perasaan. Jangankan anak yang masih usia SD itu, pengantarnya yang sudah dewasa pun merasakannya sebagai penghinaan luar biasa. Penghinaan tanpa perasaan, tanpa nurani dan tanpa kekhawatiran akan beratnya tanggung-jawab di yaumil-akhir. Karena itu, tak ada pilihan yang lebih baik kecuali menyingkirkan si anak dari orangtuanya yang durhaka.

Kisah anak jalanan ini hanyalah satu di antara sekian banyak kedurhakaan orangtua pada anak. Tak sedikit anak jalanan yang lari dari rumah dan lebih memilih kolong jembatan sebagai tempat tinggal, padahal orangtuanya memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kekayaan yang besar. Seorang anak jalanan yang sudah direhabilitasi, orangtuanya ternyata anggota dewan sebuah daerah.

Apa yang terjadi sesungguhnya? Banyak hal, tetapi semuanya bermuara pada hilangnya kesadaran bahwa anak-anak itu tidak hanya perlu dibesarkan, tetapi harus kita pertanggungjawabkan ke hadapan Allah Ta’ala. Hilangnya kesabaran menghadapi anak, kadang karena kita lupa bahwa di antara keutamaan menikah adalah menjadikannya sebagai sebab untuk memperoleh keturunan (tasabbub). Kita membatasi berapa anak yang harus kita lahirkan demi alasan kesejahteraan dan kemakmuran, sembari tanpa sadar kita melemahkan kesabaran dan kegembiraan kita menghadapi anak-anak.

Dulu, sebagian orangtua kita bekerja sambil memikirkan nasib anak-anak kelak setelah ia mati: masih samakah imannya? Sekarang banyak orangtua mendekap anaknya, tetapi pikirannya diliputi kecemasan jangan-jangan satu peluang karier terlepas akibat kesibukan mengurusi anak.

Dulu orangtua meratakan keningnya untuk mendo’akan anak. Sekarang banyak orangtua meminta anak berdo’a untuk kesuksesan karier orangtuanya.*

Mohammad Fauzil Adhim adalah penulis kolom Parenting Majalah Hidayatullah. Berbagai tulisan lain dapat dibaca di majalah Hidayatullah. twitter: @kupinang
Read more...

Meneladani Lukman Dalam mendidik Anak

Tidak ada komentar
Meneladani Lukman Dalam mendidik AnakSebagai orang tua, anak adalah tumpuan harapan. Orang tua senantiasa menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Pendidikan, pakaian, makanan, serta masa depan. Dalam setiap kehadiran anak, orang tua senantiasa merangkaikan doa pada anakny, baik doa yang tersurat dalam pilihan nama yang diberikan pada anaknya, maupun doa yang selalu terucap dalam kata dan kalbu orang tua.
 
Berharap anaknya akan selalu sehat, menjadi anak yang cerdas, memiliki pasangan hidup yang baik, serta mapan dalam hal ekonomi. Semua itu adalah bentuk kasih sayang yang ditanamkan Allah pada setiap orang tua bagi anak-anaknya.

Rasa kasih sayang dan pengorbanan yang demikian besar itulah, Allah senantiasa menempatkan perintah untuk berbakti pada orang tua setelah perintah-Nya untuk mentauhidkan Allah. Hal itu disebutkan dalam beberapa ayat di antaranya,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isro’: 23).

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak” (QS. An Nisa’: 36).

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapak” (QS. Al An’am: 151).
Tentunya seorang Muslim selalu mengharapkan kebaikan bagi anaknya  baik di dunia maupun di akhirat. Dalam Al Qur’an Allah mengisahkan tentang pribadi Lukman yang layak dijadikan tauladan dalam mendidik anak.
Allah  Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ …
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, …”. (QS. Lukman: 12)
Yang dimaksud hikmah di sini, ada dua pendapat di kalangan para ulama. Mayoritas ulama berpandangan bahwa hikmah adalah kepahaman dan logika. Sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa hikmah ada nubuwwah (kenabian). Para ulama lalu berbeda pendapat apakah Lukman adalah seorang Nabi.
Dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Qotadah, ia berkata mengenai firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman”. Maksud hikmah adalah memahami Islam. Dan Lukman bukanlah Nabi dan ia pun tidak diberi wahyu.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 52).
Ibnu Katsir mengatakan bahwa hikmah adalah kepahaman, ilmu dan ta’bir (penjelasan). (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 11: 52).

Syaikh As Sa’di menyatakan bahwa hikmah akan membuahkan ilmu, bahkan amalan. Oleh karenanya, hikmah ditafsirkan dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan sholeh. Beliau rahimahullah juga mengatakan, “Hikmah adalah ilmu yang benar dan pengetahuan akan berbagai hal dalam Islam. Orang yang memiliki hikmah akan mengetahui rahasia-rahasia di balik syari’at Islam. Jadi orang bisa saja ‘alim (memiliki banyak ilmu), namun belum tentu memiliki hikmah.” (Taisir Al Karimir Rahman, 648).
Atas dasar hikmah yang diberikan Allah pada Lukman, maka sosok Lukmanul hakim adalah sosok yang layak dijadikan tauladan bagi para orang tua dalam memberikan nasehat pada anak-anaknya. Berikut adalah delapan nasihat bagi anak manusia yang terdapat dalam surat lukman.
  1. Nasehat untuk selalu bersyukur kepada Allah

وَلَقَدْ آَتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Lukman, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Lukman: 12)

2. Jangan mempersekutukan Allah Azza wa Jalla

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” (QS. Lukman: 13).
Juga ditegaskan agar tidak mempersekutukan Allah sekalipun diperintah oleh orang tua, hal tersebut ada dalam ayat 15,

“dan jika keduanya (orang tua) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya (orang tua), dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. Lukman: 15)

3.  Berbuat baik kepada Orang Tua
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu” (QS. Lukman: 14).

4. Setiap perbuatan pasti ada balasannya dari Allah Ta’ala

 
(Lukman berkata): “ Hai anakku, sesungguhnya jika ada sesuatu perbuatan seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhnya Allah maha Halus lagi Maha mengetahui” (QS. Lukman: 16)

5. Mendirikan shalat, dan mengajak manusia untuk beramal ma’ruf nahi mungkar.
 
 
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlan manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS. Lukman: 17).

6. Jangan sombong dan angkuh

 
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS. Lukman: 18.

7. Sederhana dan lembut dalam bertutur kata

 
“Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledei” (QS. Lukman: 19)
 Maha suci Allah yang melimpahkan karunia hikmah pada pribadi Lukman. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang durhaka pada anak karena tak mengajarkan nasehat-nasehat yang dicontohkan Allah melalui Lukman. Karena sejatinya tujuan penciptaan manusia adalah hanya untuk menyembah-Nya, dan tujuan utama dari suatu pendidikan adalah menjadikan anak-anak kita sebagai manusia mulia, yakni manusia yang bertakwa pada Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al Hujurat: 13). Wallohua’lam. (muslimahzone.com)


Read more...

Jaringan Pelacuran Anak, Fenomena Gunung Es

Tidak ada komentar

Sekurangnya 150.000 anak Indonesia menjadi korban pelacuran anak dan pornografi tiap tahun. Angka itu meningkat 100 persen lebih dari statistik badan PBB, Unicef tahun 1998 yang mencatat sekitar 70.000 anak Indonesia menjadi korban pelacuran dan pornografi. Berdasarkan data ILO, pada 2002-2006 ditemukan sebanyak 165 ribu pelacur sekitar 30 persennya atau 49 ribu jiwa adalah anak di bawah usia 18 tahun. Koordinator Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) Ahmad Sofian yang menjelaskan, 70 persen anak yang jadi korban berusia antara 14 tahun dan 16 tahun. Kejahatan yang menimpa mereka bervariasi, dari sindikat pelacuran, pedofilia, pornografi dan sebagainya.

Jumlah pelacur anak di kota besar Indonesia mencapai angka ribuan orang. Di Jakarta diperkirakan sekurangnya ada 10.000. Sedangkan mereka yang ditemukan di Sumatera Utara sebanyak 1.500 anak. Jumlah lebih kecil dari kenyataan karena pelacuran anak merupakan fenomena gunung es.

Muhammad Jailani, Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Sosial Perkotaan, mengatakan, data tersebut masih merupakan jumlah sebagian yang sempat terdata. Jumlah pasti pelacur anak diperkirakan lebih besar dibanding angka yang sudah ditemukan

Tarif kencan pelacur anak lebih tinggi ketimbang pelacur dewasa bahkan mahasiswi. Sofian menjelaskan, tarif kencan pelacur anak Rp 400.000 hingga Rp 1,5 juta. Mereka terjun ke pelacuran karena materialisme dan mengikuti gaya hidup mewah.

Jaringan pelacuran anak di kalangan siswi sekolah memiliki database dan daftar nomor telepon pelacur anak. Kondisi itu terjadi merata di kota-kota besar. Kota-kota yang menjadi pusat ESKA adalah Batam, Bali, Jakarta, Surabaya, Medan, dan tiga kota berdekatan, yakni Yogyakarta, Semarang, dan Solo. Anak-anak itu juga kerap diselundupkan ke luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Jepang dengan pelbagai modus.

Ahmad Taufan Damanik, Ketua Yayasan KKSP (Kelompok Kerja Sosial Perkotaan) yang berbasis di Medan menyatakan, persoalan anak yang dilacurkan umumnya terjadi di perkotaan. Mereka sebagian besar berasal dari daerah-daerah yang datang ke kota karena iming-iming penghasilan lumayan, tapi dijerumuskan jadi pekerja seks.

Hukum lemah
Menurut Jailani, Direktur Eksekutif Kelompok Kerja Sosial Perkotaan, penanganan anak yang dilacurkan di Indonesia masih setengah hati dibandingkan negara-negara lain. Di Sumatera Utara pelarangan tidak diikuti dengan intrumen pelaksana serta anggaran yang cukup.

Eddie Imanuel Doloksaribu dari Lembaga Penelitian Atma Jaya Jakarta menjelaskan, laporan-laporan lembaga advokasi atas kasus ESKA tidak dapat ditindaklanjuti karena ketentuan hukum yang ada belum mengatur, termasuk pada Undang-Undang Anti Pornografi dan Porno Aksi yang baru saja disetujui DPR.

Di negara lain eksploitasi seksual atas anak diganjar hukuman keras. Semisal dua warga negara Indonesia yang ditangkap di Melbourne, Australia, diancam hukuman hingga 10 tahun dan denda Rp 2,3 miliar karena terlibat ESKA.

unikbaca

Solusinya : BACK TO SYARIAH ISLAM!
Read more...

Jajajan Anak di Sekolah Mengandung Zat Berbahaya

Tidak ada komentar
Ini peringatan bagi para orangtua mudid. Dinas Kesehatan Kubu Raya, Kalimantan Barat, menghimbau mereka untuk menghindarkan anak-anak mereka terhadap jajanan di sekolah yang ditenggarai mengandung zat-zat berbahaya.
 
"Lima persen dari jajanan di sekolah ditenggarai mengandung makanan yang berbahaya seperti, boraks, formalin, dan rodanim, yang dapat berbahayakan kesehatan anak-anak," kata Kasi Pengawasan Obat dan Makanan Dinas Kesehatan Kubu Raya, Wan Iwansyah, di Sungai Raya, Ahad, dikutip Antara Online.

Pihak itu memonitor dan menguji secara acak contoh-contoh penganan dan jajanan di sekolah-sekolah di lingkungan perkotaan.

Ia mencontohkan jenis makanan yang mengandung rodanim, di antaranya kerupuk yang  diwarnai merah terang. Sedangkan makanan yang mengandung boraks dan formalin, ada pada mie basah dan bakso.

"Rodanim itu pewarna tekstil, tetapi malah digunakan untuk ke bahan makanan. Karena itu makanan yang mengandung zat ini diindetikkan dengan warna merah terang dan anak-anak suka dengan warna-warna yang menarik," tuturnya.

Oleh karena itu, ia meminta peran aktif orang tua dan sekolah untuk menghimbau kepada para anak-anak agar lebih berhati-hati, tidak jajan sembarangan.

Riset Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) tahun 2010 menemukan, 45 % jajanan anak yang beredar,  ternyata berbahaya karena mengandung bahan terlarang.*

hidayatullah
Read more...

Dakwah Terhambat Karena Anak Sering Sakit

Tidak ada komentar
Assalamu’alaikum.Wr. Wb
Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati,  selain seorang ibu dengan 1 anak usia 14 bulan, saya juga seorang aktivis dakwah. Sejak punya anak, ujian anak sakit sering sekali sehingga dakwah saya tidak optimal lagi. Akhirnya suami me-warning tidak boleh membawa anak ketika keluar rumah sampai kesehatan anak sudah stabil. Apalagi anak saya pernah 2 kali step dan sering opname di rumah sakit. Kami belum bisa punya pengasuh, suami juga belum mau bergantian mengasuh  kalau saya harus keluar rumah, dengan alasan anak masih menyusui dan belum bisa jalan. Mohon solusinya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

BE
Jawa Tengah


Wa’alaikumsalam Wr.Wb.
Ibu BE yang baik,
Dakwah memang menjadi kewajiban bagi setiap Muslim. Sesungguhnya misi utama Rasulullah SAW adalah berdakwah, yakni mengajak semua manusia kepada jalan yang benar. Berkat dakwah yang terus dilancarkkan tanpa henti, Islam bisa tersebar ke seluruh dunia, dipeluk, dipahami dan diamalkan oleh manusia dari berbagai suku dan bangsa. Salah satu inti ajaran Islam memang perintah kepada umatnya untuk berdakwah, dan menjadi ciri seorang Muslim adalah kepeduliaannya terhadap dakwah. Dakwah juga merupakan wujud kasih sayang dan kepedulian seorang Muslim terhadap Muslim lainnya, bahkan sesama manusia.

(Dan) orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka penjadi penolong sebagian yang lain.  Mereka menyuruh yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.  Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana “. (QS. At-Taubah:71)

Ibu BE yang baik,
Tugas utama wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Walau dakwah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, tetapi setelah berumah tangga dan punya anak pelaksanannya harus diatur dengan melihat  skala prioritas. Ketika dihadapkan pada beberapa aktivitas rumah tangga dan peran ibu yang semuanya wajib,  maka aktivitas yang paling urgen itulah yang didahulukan. Anda sekarang sedang diuji dengan anak yang sering sakit, sehingga merasa dakwah tidak optimal. Anak sakit, tentu membutuhkan perhatian yang lebih. Apalagi sudah beberapa kali diopname dan pernah step. Cobalah cari tahu kenapa anak Anda sering sakit. Anak-anak biasanya mengalami sakit karena daya tahan tubuhnya belum kuat dan masih sangat sensitif. Terlebih lagi bila pola makan dan istirahatnya kurang memadai. Bila anak sering kali tidak mau makan, dan lebih banyak bermain tidak heran kalau kemudian mudah sakit, kekurangan energi, vitamin dan mineral. Bila anak cukup sensitif, lakukan upaya pencegahan dengan menjauhkan anak dari sumber penyakit. Misalnya, tidak dekat-dekat dengan orang yang tengah sakit supaya tidak  tertular. 

Mintalah nasihat dari dokter,  perlakuan apa saja yang boleh dan tidak untuk membantu penyembuhan.


Ibu BE yang baik,
Kalau saat ini suami membatasi aktivitas Anda berdakwah keluar rumah, Insya Allah hanya sementara, tidak selamanya. Suami Anda insya Allah juga memahami bagaimana seharusnya sikap seorang Muslim terhadap dakwah. Bukan tidak mungkin ia sedang memberikan kesempatan kepada Anda agar dapat memberikan perhatian lebih pada kesehatan si kecil. Toh suami hanya   me-warning tidak boleh membawa anak ketika keluar rumah, sampai kesehatan anak sudah stabil. Bukan melarang Anda untuk berdakwah. Bukankah aktivitas dakwah tidak selamanya harus dilakukan di luar rumah. Sedikit bersabar sampai si kecil benar-benar sehat. Jika sering sakit, Anda juga akan repot. Aktivitas yang dapat dikerjakan di dalam rumah pun menjadi terbengkalai. Jalin kerja sama yang baik dengan sesama ibu-ibu yang lainnya. Manfaatkan kehidupan dakwah berjamaah, sehingga bisa saling membantu. Yakinkan pada suami bahwa Anda akan berupaya sungguh-sungguh menjaga kesehatan si kecil. Mintalah selalu pada Allah SWT agar si kecil segera diberikan kesehatan, dan aktivitas dakwah Anda tetap berjalan dengan lancar. Pertolongan Allah kadang tidak terduga datangnya. Mudah-mudahan Allah SWT melindungi, memberikan jalan terbaik dan meringankan semua beban Anda. Amiin..[]

mediaumat.com
Read more...

Pendidikan Seks untuk Anak

Tidak ada komentar
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya memiliki dua orang anak perempuan usia 6 dan 9 tahun.  Mengikuti berbagai berita pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur di berbagai media, membuat kami over -protective terhadap anak kami. Apakah dalam Islam diajarkan atau dikenalkan pendidikan seksual pada anak? Bagaimana hal itu harus kami lakukan?  Mohon kami diberi pencerahan. Sebelumnya  kami ucapkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Istiqamah-Pambudi , Tangerang
 

Jawab :
Wa’alaikum salam Wr. Wb
KITA  semua patut kecewa atas perlakuan tidak senonoh terhadap anak di bawah umur. Anak-anak yang menjadi korban kelak akan putus harapan karena ulah orang dewasa yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsunya (sex deviance). Dan tindakan tersebut termasuk tindakan yang sangat tercela, baik di mata manusia, terlebih di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala.

Ibu Istiqamah dan bapak Pambudi yang dirahmati Allah, Islam telah mengajarkan hal-hal yang berhubungan  dengan sex education. Mari kita perhatikan hal-hal berikut:

Memisahkan tempat tidur
Sabda Nabi saw.,

“Suruhlah anak-anak kalian untuk shalat jika sampai umur mereka 7 tahun dan pukullah mereka (jika tidak shalat) sedang umurnya sudah 10 tahun dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur kalian.” (HR. Abu Daud 1/185 no. 495; At-Tirmidzi no. 407)

Memisahkan tempat tidur anak dari orang tua intinya, memisahkan pergaulan antara anak putri dan putra,  akan mulai terbangun dinding pembatas sedikit demi sedikit hingga kelak ketika baligh mereka tidak susah untuk menghindari diri dari pergaulan bebas. Pada umur sepuluh tahun, nampaknya anak sudah mengenal lawan jenis dan jangan dianggap tidak tahu apa-apa, sehingga tidur dalam satu pembaringan bisa berperan untuk merangsang seksual mereka. Karena dalam keadaan tidur mudah terlihat aurat masing-masing, yang mudah menyentil gairah, terutama anak laki-laki. Kami kira Anda berdua memahami dampak dari perintah ini.

Adab minta ijin
Firman Allah dala QS. An-Nur : 58 dan 59:

(58): "Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari), yaitu: sebelum sembahyang subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian (luar)-mu di tengah hari, dan sesudah sembahyang Isya'. (Itulah) tiga 'aurat bagi kamu[1]. Tidak ada dosa atasmu dan tidak (pula) atas mereka selain dari (tiga waktu) itu[2]. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu (ada keperluan) kepada sebahagian (yang lain). Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."

(
59). "dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin[3]. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."
Maksud tiga macam waktu yang biasanya di waktu-waktu itu badan banyak terbuka. Oleh sebab itu Allah melarang budak-budak dan anak-anak di bawah umur untuk masuk ke kamar tidur orang dewasa tanpa izin pada waktu-waktu tersebut.

Dua ayat tersebut mengandung pesan bahwa ada saat tertentu seorang anak harus minta izin terlebih dahulu ketika akan masuk ke kamar orangtuanya.

Pertama, sebelum shalat fajar, karena pada saat ini orang tua masih tidur. Kedua, waktu dhuhur, saat orangtua menanggalkan pakaian mereka setelah bekerja. Dan Ketiga, setelah shalat Isya, sebab kebanyakan orangtua tidur dan istirahat.

Maknanya adalah, agar anak-anak itu tidak melihat apa yang belum boleh mereka lihat. Yaitu aurat ibu atau ayahnya, terutama  anak-anak usia belum baligh, maka pikiran mereka yang masih bersih bisa mencetak perilaku seks abnormal kelak ketika dewasa.

Membatasi pandangan

Firman Allah dalam QS. An-Nuur : 31

"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan, dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."
Ayat di atas menyebutkan, seorang muslimah harus mengenakan kerudung kecuali di depan beberapa orang tertentu, termasuk anak-anak yang belum mengerti aurat wanita.

Kalimat ini menyiratkan bahwa terhadap anak yang sudah mengerti aurat wanita berlaku pula syariah tutup aurat. Batasan kapan anak mengerti, memang berlainan tiap anak, tetapi pada umumnya menjelang masa pubertas mereka. Maka sebaiknya, pada mereka diajarkan adab memandang lawan jenisnya. Selain tidak boleh tidur bersama, mereka juga tidak juga boleh mandi bersama orang tuanya dalam keadaan telanjang.

Bapak dan Ibu

Berikan juga peringatan agar mereka tidak memasuki tempat-tempat berkumpulnya lawan jenis mereka. Katakan dengan sebenarnya, karena dalam mengajarkan anak hendaknya tidak menggunakan bahasa abstrak,  namun katakanlah apa yang benar dan wajar sesuai dengan umur si anak, karena itu bukan suatu yang memalukan. Wallahu a’lam.

hidayatullah
 
Read more...

Category

Popular Posts

facebook