Comments

Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Istri Shalihah Yang Menggairahkan

Tidak ada komentar

Istri Shalihah Yang Menggairahkan
Abu Thalhah adalah salah seorang sahabat Nabi yang amat beruntung karena kehidupan keluarganya yang sakinah. Isterinya yang bernama Rumaisah atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim bukan hanya cantik dan menggairahkan, tapi juga shalehah dan cerdas. dikaruniai seorang anak dari Allah swt melengkapi kebahagiaan keluarga ini.

Namun demikian, selalu kumpul di rumah untuk selalu menikmati kebahagiaan tidaklah mungkin. Seorang suami harus keluar dari rumah untuk mencari nafkah yang juga menjadi tanggungjawab dan bukti cintanya kepada keluarga. Bahkan dalam situasi yang mendesak ia tetap harus lakukan hal itu.

Suatu ketika anak semata wayang yang mereka cintai jatuh sakit,  sementara Abu Thalhah harus keluar rumah untuk mencari nafkah dan bila tidak keluar rumah, ia tidak mendapatkan apa yang menjadi kebutuhan sehari-hari. Karenanya, meskipun terasa berat ia tetap pergi untuk melaksanakan kewajibannya itu.

Ketika sore hari, anaknya yang sakit akhirnya meninggal dunia. Duka amat dalam dirasakan oleh Rumaisah, iapun mengucurkan air mata sampai terasa sudah habis bersama kesedihannya yang juga demikian. Hari sudah mendekati malam yang berarti suaminya segera pulang, IA TIDAK INGIN SUAMINYA PULANG YANG DALAM KEADAAN LELAH HARUS BERHADAPAN DENGAN KESEDIHAN YANG DALAM DAN TIDAK MENYENANGKAN.

Untuk menyambut suaminya pulang, Ummu Sulaim memindahkan jenazah anak yang dicintainya itu ke kamar khusus, iapun menutupi wajahnya yang sedih dengan sedikit bersolek dan siap menyambut kepulangan suaminya malam itu dengan wajah gembira seperti tidak ada masalah.

Kepulangan Abu Thalhah betul-betul disambut dengan gembira, saat ia bertanya tentang keadaan anaknya, iapun menjawab bahwa sang anak sedang beristirahat, bahkan lebih tenang dari biasanya. Abu Thalhah tentu merasa bersyukur. Makan malam yang lezat sudah dihidangkan oleh isteri yang amat dicintainya, bahkan sesudah makan malam selesai, sang isteri dengan wajahnya yang bersinar, bahkan nampak lebih cantik dari biasanya mengajaknya bercengkrama dengannya sehingga Abu Thalhah melakukan hubungan suami isteri dengan kepuasan tersendiri.

Setelah sang suami isteri ini merengkuh kepuasan dan kebahagiaan malam itu, Rumaisah tiba-tiba bertanya kepada suaminya: “Bila ada orang menitipkan sesuatu kepada kita, sesuatu itu milik kita atau bukan, padahal kita amat menyenangi sesuatu itu?”.
 “Tentu bukan”, jawab Abu Thalhah.
Rumaisah melanjutkan pertanyaannya: “Bila sesuatu itu diambil oleh yang punya bagaimana?”.
“Tidak apa-apa, hak orang itu untuk mengambilnya karena memang hal itu miliknya”, jawab sang suami.
“Bila sesuatu itu adalah anak kita, anak itu milik kita atau titipan?”. Tanya Rumaisah lagi.
Sampai disini, Abu Thalhah merasa ada yang aneh dengan pertanyaan isterinya itu. Karenanya ia bertanya: “Apa sebenarnya maksud pertanyaanmu itu?”.
“Kalau kita menyadari bahwa anak kita adalah titipan Allah swt, maka Allah swt telah mengambilnya, ia telah wafat menjelang maghrib tadi”, jawab Rumaisah.

Meskipun kalimat itu diucapkan sedemikian pelan dan hati-hati, hal itu telah menggetarkan hati Abu Thalhah. Menyadari kematian sang anak yang dicintai membuatnya menjadi diam dan sedih serta termenung memikirkan kejadian  hari itu. BILA SANG ISTERI BERKATA APA ADANYA SEJAK KEPULANGANNYA, TIDAK MUNGKIN IA HARUS BERSENANG-SENANG DENGAN MAKAN YANG LEZAT DAN MELAKUKAN HUBUNGAN SUAMI ISTERI.

NAMUN, IA MENJADI SEMAKIN CINTA DAN BANGGA KEPADA SANG ISTERI ATAS KECERDASAN HATI DAN PIKIRANNYA ATAS PERISTIWA INI. “ISTERIKU TERNYATA TELAH BERBUAT SESUATU YANG PATUT DITELADANI”, PIKIRNYA MESKIPUN IA HAMPIR TIDAK PERCAYA DENGAN APA YANG DIALAMINYA.

Setelah jenazah sang anak diurus dengan baik. Abu Thalhah merenung atas kekagumannya kepada sang isteri, ia merasa sebagai seorang suami amat tertinggal dengan isterinya dalam menyikapi sesuatu. Ia ingin berusaha untuk menjadi lebih baik dari isterinya. Maka iapun datang kepada Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa yang sesungguhnya terjadi.

Mendengar cerita Abu Thalhah, Rasulullah saw nampak sangat antusias, wajahnya nampak begitu gembira dengan cerita tentang keadaan umatnya yang mengagumkan. Karenanya sesudah mendengar cerita itu, Rasulullah saw mendo’akan agar Allah swt memberkati malam-malam berikutnya suami isteri yang tabah itu.

Kejadian ini menjadi cerita yang tersebar luas di Madinah, para suami isteri ingin memiliki ketabahan, kesabaran dan kesungguhan seperti Abu Thalhah dan Rumaisah ini. Harapan Rasulullah saw ternyata menjadi kenyataan. Suami isteri yang mulia ini dikarunia anak-anak yang tidak hanya satu, tapi tujuh anak yang mudah dididik dan dibina menjadi anak yang shaleh, bahkan anak-anak inipun menjadi penghafal Al-Qur’an yang mengagumkan.

Sahabat wanita… tak ada satupun laki-laki yang tidak menginginkan istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, CINTA seorang lelaki tak akan perpaling sedikitpun jika Istrinya atau calon istrinya seperti Rumaisah, kecuali Lelaki itu BODOH. Jadilah Rumaisah kita akan serasa tinggal di SORGA sebelum SORGA


[rumahyatim.blogdetik.]
Read more...

Nafkah ke Istri Lebih Didahulukan daripada Nafkah ke Orang Tua

Tidak ada komentar
Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam teruntuk Rasulullah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam- keluarga dan para sahabatnya.

Suami memiliki kewajiban nafkah kepada istri dan anak-anaknya. Ia juga berkewajiban menafkahi orang tuanya jika keduanya miskin; tidak punya harta dan pekerjaan yang mencukupi kebutuhannya.

Ibnul Mundzir berkata: "Para ulama sepakat, menafkahi kedua orang tua yang miskin yang tidak punya pekerjaan dan tidak punya harta merupakan kewajiban yang ada dalam harta anak, baik kedua orang tua itu muslim atau kafir, baik anak itu laki-laki atau perempuan."

Beliau mendasarkannya kepada firman Allah Ta'ala,
وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
"Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik." (QS. Luqman: 15) di antaranya melalui nafkah dan pemberian yang membuat mereka senang.

Jika ia mampu menafkahi semuanya secara keseluruhan maka ia wajib melakukannya. Jika tidak mampu –karena hartanya sedikit atau penghasilannya tidak mencukupi- maka ia wajib mendahulukan nafkah istri dan anak-anaknya atas selain mereka.

Memang benar tidak ditemukan keterangan dalam Al-Qur'an agar mendahulukan istri atas lainnya dalam urusan nafkah. Namun, kita temukan dalam Sunnah Nabawiyah petunjuknya.

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Mulailah bershadaqah dengannya untuk dirimu sendiri. Jika masih ada sisanya, maka untuk keluargamu. Jika masih ada sisanya, maka untuk kerabatmu. Dan jika masih ada sisanya, maka untuk orang-orang di sekitarmu.” (HR. Muslim)

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالصَّدَقَةِ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ عِنْدِي دِينَارٌ فَقَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى نَفْسِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى وَلَدِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى زَوْجَتِكَ أَوْ قَالَ زَوْجِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ تَصَدَّقْ بِهِ عَلَى خَادِمِكَ قَالَ عِنْدِي آخَرُ قَالَ أَنْتَ أَبْصَرُ
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan bersedekah. Lalu ada seseorang yang  berkata, “Wahai Rasulullah, aku punya dinar.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk dirimu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk istrimu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk orang tuamu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Sedekahkanlah untuk pembantumu.” Ia berkata, “Aku masih punya yang lain.” Beliau bersabda, “Kamu lebih tahu”.” (HR. Abu Dawud dan Al-Nasai, ini lafadz Abu Dawud. Dihassankan Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 895)

Al-Muhallab berkata, “Nafkah kepada keluarga adalah wajib berdasarkan ijma’. Sesungguhnya Syari’ (Allah) menyebutnya sedekah karena takut mereka menduga bahwa menunaikan kewajiban ini tidak ada pahala di dalamnya. Padahal mereka telah tahu, ada pahala dalam sedekah. Lalu Allah memberitahu mereka bahwa nafkah itu menjadi sedekah mereka sehingga mereka tidak mengeluarkannya kepada selain keluarganya kecuali setelah mencukupkan kebutuhan mereka. Ini sebagai dorongan untuk mereka agar memberikan sedekah yang wajib sebelum sedekah sunnah.” (Dinukil dari Fathul Baari: 9/623)

Al-Khathabi berkata, “Urutan ini, apabila kamu perhatikan niscaya kamu tahu bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam  mendahulukan yang utama, lalu baru yang paling lebih dekat (hubungannya).” Kemudian beliau memberikan urutannya: diri sendiri, anak, istri, orang tua, pembantu, lalu orang lain. (Aunul Ma’bud: 5/76)

Imam Nawawi berkata: apabila ada beberapa orang yang sangat membutuhkan uluran tangan dari orang yang wajib dinafkahi oleh seseorang, maka ia lihat; jika cukup hartanya atau penghasilannya untuk menafkahi mereka semua maka ia wajib menafkahi mereka semuanya yang dekat maupun yang jauh. Jika tidak tersisa setelah kebutuhan pribadinya kecuali untuk satu orang, ia utamakan nafkah istrinya atas kerabat-kerabatnya. . . karena kewajiban menafkahinya lebih ditekankan. Sebab, menafkahi istri terus berlaku baginya sepanjang masa dan dalam kondisi pailit.” (Raudhah al-Thalibin: 9/93)

Al-Mardawi dalam al-inshaf (9/392), menyebutkan pendapat yang shahih dari madhab Hambali kewajiban menafkahi kedua orang tua apabila masih ada kelebihan untuk dirinya dan istrinya.
Al-Syaukani berkata: Sesungguhnya telah tegak ijma’ atas wajibnya menafkahi istri, lalu apabila masih ada sisa maka diberikan kepada kerabat dekatnya.” (Nailul Authar: 6/381)

Ringkasnya, tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama untuk mendahulukan istri dalam nafkah atas orang tua. Maka bagi seorang suami (kepala keluarga) agar mencukupkan nafkah kepada istri dan anak-anaknya dengan baik. Jika masih ada kelebihan, maka wajib atasnya untuk memberikan nafkah untuk kedua orang tuanya. Wallahu Ta’ala A’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Read more...

5 Tips Mendidik Anak Shalih

Tidak ada komentar
Dalam sebuah riwayat, diceritakan bahwa ada seorang lelaki tua sedang berjalan-jalan di tepi sungai. Saat berjalan-jalan, terlihatlah olehnya seorang anak sedang mengambil wudhu sambil menangis. Lalu ia beratanya, “Wahai anak kecil, kenapa kamu menangis?”

Anak itu menjawab, “Wahai kakek, saya telah membaca ayat Al-Quran sehingga sampai kepada ayat yang berbunyi, “Yâ ayyuhal-ladzîna âmanû qû anfusakum,” yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah olehmu sekalian akan dirimu.” Saya menangis sebab saya takut akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Berkata orang tua itu, “Wahai anak, janganlah kamu takut, sesungguhnya kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api neraka.”

Lima Tips Mendidik Anak ShalihAnak itu menjawab, “Wahai kakek, kakek adalah orang yang berakal, tidakkah kakek lihat kalau orang menyalakan api, maka yang pertama akan mereka letakkan ialah ranting-ranting kayu yang kecil dahulu kemudian baru mereka letakkan yang besar. Jadi tentulah saya yang kecil ini akan dibakar dahulu sebelum dibakar orang dewasa.”

Berkata orang tua itu, sambil menangis, “Sesungguh anak ini lebih takut kepada neraka daripada orang yang dewasa, maka bagaimanakah keadaan kami nanti?”
***

Bayangkan bila saja yang diceritakan dalam potongan kisah tersebut adalah anak kita. Anak yang kita lahirkan dan besarkan dengan keringat dan jerih payah. Tentu betapa beruntung dan berbahagianya kita sebagai orang tua. Betapa pun banyak keringat yang telah tercucur, tenaga yang telah terkuras, pikiran dan waktu yang telah tersita, semua takkan ada apa-apanya dibandingkan dengan hasil yang kita peroleh, yaitu anak yang shaleh.

Memiliki anak shaleh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak shaleh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Do’a-do’a anak shaleh adalah pahala yang akan terus mengalir tanpa henti. Ia akan menembus langit dan akhirnya sampai kepada kita sebagai orang tua sebelum ataupun sesudah kita mati.

Berkeinginan memiliki anak yang shaleh bukanlah khayalan. Siapa pun orangnya sama  memiliki kesempatan untuk mewujudkannya. Kehadiran anak shaleh dalam sebuah keluarga bukanlah mu’jizat atau turun dari langit dengan sendirinya. Ia akan hadir di tengah-tengah kita tiada lain merupakan buah dari usaha yang kita lakukan dalam mendidiknya. Bila kita berkeinginan dan berusaha keras mendidik anak agar menjadi anak yang shaleh, maka ia akan tumbuh sesuai dengan apa yang kita inginkan. Tetapi jika tidak, keinginan untuk memiliki anak shaleh hanyalah sebuah angan-angan dan hayalan semata.

Syaikh Abu Hamid Al Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orangtua dalam pendidikan mengatakan: “Ketahuilah, bahwa anak merupakan amanat bagi kedua orangtuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan dia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orang tuanya di dunia dari akherat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh penguru dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”

Berikut adalah beberapa metode dalam mendidik anak,  agar anak diharapkan dapat memiliki sikap dan perilaku yang baik serta sesuai dengan keinginan orang tua dengan berlandaskan norma dan agama.

1.Keteladanan
Keluarga, khususnya orang tua adalah figur awal bagi seorang anak untuk diikuti dan dicontoh perilakunya. Ketika anak mulai beranjak remaja, fungsi ini mulai bergeser kepada kelompok sebaya-nya ataupun figur-figur lain di luar keluarga, seperti tokoh-tokoh dalam film atau cerita. Oleh karena itu, sudah seharusnya orang tua dapat memberikan pondasi awal yang kuat tentang sikap dan perilaku yang positif. Dengan demikian kelak ketika anak dihadapkan kepada situasi yang sangat kompleks, anak akan lebih siap dan konsisten terhadap pendiriannya.
Agar tujuan ini terwujud, maka tentunya harus ada keteladanan dari orang tua. Ingatlah suatu perbuatan orang tua tidak akan efektif bila hanya terjadi komunikasi satu arah. Berilah contoh yang kepada anak mengenai perilaku yang baik dari orang tua mereka sehari-hari. Ini bisa dimulai dengan hal-hal yang biasa sehari-hari kita lakukan di rumah. Dengan begitu, kedepan diharapkan anak akan dapat mulai sedikit demi sedikit mencontoh perilaku yang positif dari orang tuanya.

2.Pembiasaan
Setelah adanya contoh yang baik dari orang tua, maka perlu dilakukan pembiasaan dari perilaku-perilaku yang telah dilakukan tadi. Hal ini penting karena dihawatirkan bila orang tua saat tak ada disisi mereka, perilaku-perilaku yang anak lakukan akan dapat berubah kembali. Dengan adanya pembiasaan, maka perilaku positif tersebut akan menjadi tabiat positif anak sehingga ada atau tidak ada orang tua, hal-hal positif tetap mereka lakukan.

3.Nasihat
Selanjutnya adalah nasihat. Dikala proses diatas berlangsung, orang tua juga harus senantiasa memberikan pengertian-pengertian ataupun pemahaman-pemahaman kepada anak mengapa suatu perilaku itu harus dilakukan, apa manfaatnya, baik untuk diri sendiri dan yang terpenting untuk orang lain.

4.Kontrol
Setelah langkah-langkah di atas berjalan dengan baik, maka selanjutnya adalah kontrol dari orang tua. Dalam pelaksanaannya, kontrol yang dilakukan mesti dijalankan secara arif dan bijaksana, tidak dengan membuat posisi anak menjadi tersudut, sehingga kontrol justru tidak menjadi efektif.

5. Reward and Punishment
Yang terakhir adalah memberikan hadiah dan hukuman. Di samping poin-poin di atas, tips kelima ini juga tak kalah pentingnya untuk menumbuhkan minat dan tanggung jawab pada anak. Namun dari pada itu, sebelumnya harus dingat oleh para orang tua bahwa pemberian hukuman kepada anak dimaksudkan untuk mendidik anak bukan untuk menyudutkan apalagi melukai fisik.
Hukuman yang diberikan tidak hanya semata-mata berbentuk fisik, tetapi juga bisa dilakukan hal-hal lain seperti dengan pengurangan hak, atau pemberian suatu tugas tambahan. Andaikata hukuman fisik terpaksa diberikan, maka harus diperhatikan bahwa cubitan kecil ataupun pukulan ringan bisa bisa diberikan dengan syarat: tidak boleh di bagian-bagian vital anak, tidak boleh pada bagian atas tubuh (perut, dada, leher, kepala, punggung) dan tidak boleh meninggalkan bekas. []

Oleh, Sandi Susandi/ Majalah Tabligh
 (esqiel/muslimahzone/www.bringislam.web.id)
Read more...

Penyebab Tidak Cepat Hamil

Tidak ada komentar
Ketika seorang pasangan telah menemukan cinta sejatinya dan memutuskan untuk menjalin hubungan rumah tangga, maka anak adalah sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh seluruh pasangan suami istri. Kehamilan adalah sebuah anugerah yang sangat luar biasa dan tak ternilai harganya yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya.
Namun pada kenyataannya masih banyak pasangan yang belum dikaruniai momongan, bahkan meskipun telah menikah bertahun-tahun. Meskipun telah melakukan hubungan berkali-kali namun hasilnya masih nihil.
Menurut tenaga kesehatan yang berkompetensi dibidang ini, ada beberapa penyebab tidak cepat hamil. Masalah kesuburan bukan menjadi masalah utama penyebab tidak cepat hamil, namun ada beberapa masalah eksternal yg mungkin menjadi penyebab tidak cepat hamil.

Berikut 6 Penyebab Tidak Cepat Hamil :


1. Mengidap Penyakit Menular Seksual
Penyakit menular seksual adalah penyakit yang meyerang organ reproduksi pria maupun wanita yang disebabkan oleh hubungan intim dengan orang yang telah terjangkit penyakit kelamin tesebut. Ini adalah masalah yang serius jika ini terjadi kepada anda, segera konsultasikan dengan dokter anda.
2. Menunda Kehamilan Terlalu Lama
Tidak sedikit pasangan suami istri yang menunda kehamilan dengan berbagai alasan, diantaranya adalah alasan karir. Padahal setelah menikah (antara 20 hingga 35 tahun) adalah masa terbaik untuk kehamilan. Semakin tua seorang wanita, maka produktifitas dan kualias sel telur akan menurun, sehingga kemugkinan untuk hamil juga menurun.
3. Terlalu Kurus atau Terlalu Gemuk
Semua wanita past mengidam-idamkan tubuh langsing. Seorang wanita akan melakukan apapun untuk mendapatkan tubuh yang langsing, padahal jika terlalu langsing akan sangat mengganggu kesuburan. Begitu halnya dengan terlalu gemuk, sel-sel lemak yang terlalu banyak akan menyebabkan produksi kelebihan produksi estrogen, sehingga ovulasi tidak teratur. Obesitas dapat meningkatkan resiku keguguran.
4. Berolahraga terlalu berat
Olahraga memang sangat baik untuk kesehatan, tetapi jika anda melakuannya terlalu berat, maka akan membuat seorang wanita sulit hamil. Seorang wanita yang terlalu berat berolahraga akan kehilangan lemak yang membantu produksi estrogen. Ini juga bisa menjadi penyebab tidak cepat hamil.
5. Suplemen kimia
Telah banyak beredar dipasaran suplemen-suplemen yang dapat dengan mudah didapatkan di apotik. Kebanyakan suplemen ini hanya memberikan informasi tentang keungulan / kegunaannya saja, tanpa memberikan informasi efek samping jika dikonsumsi terlalu banyak. Misalnya seorang yang mengkonsumsi suplemen vitamin A terlalu banyak dapat menyebabkan kelainan hati dan gangguan lain. Tidak menutup kemungkinan terlalu banyak suplemen akan mengganggu organ reproduksi termasuk kesuburan. Lebih baik mengkonsumsi suplemen alami dari alam (makanan sehat) dengan jumlah yang cukup.
6. Faktor lain
Faktor lain yang dapat menyebabkan seorang wanita sulit hamil adalah kebiasaan merokok, minum minuman keras dan terlalu banyak kafein (yang banyak terdapat di kopi) dalam tubuh.
Masih banyak penyebab tidak cepat hamil selain yang tersebut diatas. Biasakanlah pola hidup sehat, karena itu merupakan salah satu cara terbaik agar cepat hamil. Konsultasikan dengan dokter anda untuk informasi lebih lanjut dan jangan lupa untuk berdoa memohon kepada sang Maha Pencipta. Semoga bermanfaat. [info kesehata/www.bringislam.web.id]
Read more...

Makan Bersama Keluarga, Hadirkan Keharmonisan dan Banyak Manfaatnya

Tidak ada komentar

Makan Bersama Keluarga, Hadirkan Keharmonisan dan Banyak Manfaatnya
Ilustrasi
– Menumbuhkan sebuah keharmonisan dalam sebuah keluarga sebenarnya tidaklah sulit, cukup dengan melakukan makan bersama pada satu meja sudah memberikan keharmonisan.
Jarangnya mendapatkan quality time bersama keluarga memang sangat terasa pada orang yang tinggal di kota-kota besar. Kesibukan masing-masing terkadang jarang membuat orang tua menjadi lebih dekat dengan anak dan hadirnya keharmonisan.
Membangun sebuah keharmonisan dan kedekatan kepada keluarga , meskipun hanya dengan makan bersama dalam satu meja merupakan cara paling sederhana. Sebagai orang tua bisa sedikit berbincang tentang perkembangan anak.
Dengan melakukan makan bersama tentunya dalam sisi psikologis anak akan merasa senang dengan kegiatan seperti ini. Sebuah perhatian dan kasih sayang akan dirasakan dari sang anak.
Bahkan tidak hanya perhatian pada sang anak saja, dengan melakukan makan bersama bisa memberikan angin segar terhadap sebuah masalah.
Misal memiliki masalah dengan mertua atau pasangan baik itu suami atau istri, dengan mengajak makan bersama dengan disuguhkan makanan favorit tentunya tanpa disadari masalah tersebut akan sedikit mencair.
Jadi jika ingin membangun sebuah kedekatan dan keharmonisan cara yang paling mudah adalah selalu rutin melakukan makan bersama.
10 Manfaat Makan Bersama
Tidak hanya menciptakan keharmonisan, makan bersama keluarga memiliki banyak manfaat lain.  Berikut ini adalah beberapa manfaat makan bersama:
1. Nutrisi lebih baik. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa keluarga yang makan bersama-sama memiliki nutrisi yang lebih baik secara keseluruhan. Hal ini juga menurunkan risiko berbagai penyakit dan obesitas. Anak-anak dan orangtua mereka akan lebih banyak makan sayuran, sehingga mendapatkan lebih banyak vitamin dan nutrisi.
2. Performa anak-anak lebih baik di sekolah. Menurut sebuah penelitian tahun 2005 di Universitas Columbia, remaja yang makan bersama keluarga mereka setidaknya lima kali seminggu lebih mungkin mendapatkan nilai yang lebih baik di sekolah. Anak-anak yang makan dengan keluarga mereka juga memiliki sikap yang lebih positif tentang masa depan mereka.
3. Meningkatnya komunikasi. Makan malam bersama dalam keluarga untuk memberi kesempatan untuk komunikasi. Percakapan selama makan memberi kesempatan bagi keluarga untuk menjalin ikatan dan terhubung satu sama lain. Hal ini juga memungkinkan orangtua dan anak-anak untuk mendiskusikan topik-topik menyenangkan dan serius, dan saling belajar.
4. Mengembangkan keterampilan sosial. Makan bersama juga membantu anak-anak mengembangkan keterampilan sosial yang baik karena mereka belajar menjadi pendengar yang baik, dan sabar menunggu sementara orang lain sedang berbicara. Mereka juga menjadi ingin tahu tentang orang lain bukan hanya fokus pada diri sendiri.
5. Mengajarkan sopan santun di meja makan. Kesempatan yang baik bagi orangtua untuk mengajarkan anak-anak mereka sopan santun di meja makan. Jika anak-anak tumbuh tanpa tata krama di meja makan, itu akan menciptakan banyak masalah bagi mereka dalam keberhasilan masa depan mereka.
6. Mengurangi penyalahgunaan zat. Menurut sebuah penelitian oleh Pusat Nasional Ketergantungan dan Penyalahgunaan Zat di Universitas Colombia, keluarga yang tidak makan malam bersama tiga setengah kali lebih rentan terhadap penyalahgunaan resep dan obat lainnya. Makan malam keluarga tentu mengurangi tingkat penyalahgunaan zat di kalangan orang dewasa dan anak-anak dalam keluarga.
7. Hubungan baik. Makan malam keluarga merupakan kesempatan yang ideal untuk memperkuat ikatan keluarga. Anak-anak dapat menggunakan waktu makan malam untuk membicarakan hal-hal penting atau meminta orang tua mereka menjawab pertanyaan anak-anak. Kegiatan membangun hubungan juga bermanfaat bagi pertumbuhan anak-anak terutama saat mereka menghadapi masalah-masalah yang lebih sulit di usia remaja.
8. Lebih hemat. Makanan beli tentunya lebih mengeluarkan biaya daripada makanan yang disiapkan di rumah. Jadi, ini akan menghemat banyak uang dalam jangka panjang.
9. Meningkatkan cita rasa anak-anak. Makan bersama berarti memasak makanan yang umum untuk seluruh anggota keluarga. Dengan cara ini, anak mengenal makanan baru dan tidak menjadi rewel tentang pilihan makanan.
10. Struktur dan rutin. Rutinitas membantu anak-anak menemukan organisasi dan kemantapan dalam kehidupan keluarga mereka. Makanan keluarga secara teratur memberikan anak-anak rasa yang normal dan mereka dapat menikmati saat-saat ini setiap hari. [*]
(esqiel/dbs/muslimahzone/www.bringislam.web.id)
Read more...

Islam Menghapus Kekerasan Terhadap Anak

Tidak ada komentar

K. Arini Retnaningsih (Lajnah Tsaqofiyah MHTI)
 Seganas-ganas induk harimau, tidak akan memangsa anak sendiri.  Peribahasa ini rupanya tidak berlaku bagi manusia yang diciptakan Allah lebih sempurna daripada harimau.  Vicky (9 th) diikat lantas dibenamkan kepalanya ke dalam ember sampai tewas oleh ibunya sendiri.  Penyebabnya sepele, sang ibu malu karena alat kelaminnya justru mengecil setelah disunat.  AMH (2 th), bernasib serupa, menemui ajal dibenamkan ibu kandungnya  yang stress ke bak mandi sebuah puskesmas.
Tak hanya ibu, ayah juga bisa menjadi pelaku kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual seperti yang diungkap media belakangan ini.  Di Jakarta, RI (11 th), menjadi korban perkosaan ayahnya sendiri.  RI akhirnya harus kehilangan nyawa setelah menderita infeksi penyakit kelamin yang ditularkan sang ayah.  Ada juga PD (18 th), yang dipaksa melayani nafsu bejat ayah semenjak usianya 13 tahun, dan ZC (9 th) yang diperkosa ayah tirinya.
Kekerasan terhadap anak terjadi juga di lingkungan masyarakat terdekatnya dan sekolah.  Fahri (3.5 th) dibunuh lantas disemen tetangganya di Surabaya.  Di Medan, SN (4 th), diculik dan kemudian ditemukan telah mati dibunuh.  Pelaku ternyata juga tetangganya sendiri.  Keduanya menjadi korban dendam yang dipendam pelaku terhadap orangtuanya.  F (5 th), disodomi 2 tetangganya, salah satunya seorang polisi.  Di sekolah, ada kasus MA(15 th) yang dicabuli gurunya sendiri. Kasus terakhir adalah pemerkosaan terhadap anak kelas 6 SD oleh temannya dan seorang sopir angkot di Jakarta.
Semua kasus tersebut adalah yang terungkap di media massa.  Yang tidak terungkap, kemungkinan jauh lebih besar. Selama Januari hingga Februari 2013, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menerima 80 laporan kekerasan terhadap anak, 48 laporan diantaranya kekerasan seksual pada anak. Tahun 2012, Komnas PA menangani 2.637 kasus, 48 persennya adalah kekerasan seksual pada anak (Kompas, 28/02/2013).
Miris.  Di tengah kehidupan dunia yang katanya semakin modern, beradab dan demokratis, kejahatan terhadap anak malah semakin meningkat.  Padahal, berbagai hasil penelitian menyatakan, anak yang menjadi korban kekerasan di masa dewasanya berpotensi besar untuk menjadi pelaku kekerasan.  Artinya, bila saat ini korban semakin banyak, kelak pelaku juga akan semakin banyak, sehingga korban berikutnya semakin banyak, begitupun pelaku potensialnya.  Terus seperti itu, ibarat lingkaran setan.  Tanpa ada upaya untuk memutusnya, bagaimana masa depan bangsa yang penentunya adalah anak-anak kita?
Kekerasan pada Anak adalah Masalah Sistemik
 Banyak pihak yang mencoba menganalisis faktor penyebab maraknya kekerasan terhadap anak.  Menko Kesra Agung Laksono menuding kemiskinan, pola asuh, lingkungan baik keluarga, masyarakat, sekolah, budaya, lemahnya penegakan hukum serta kurangnya pengawasan terhadap implementasi kebijakan menjadi faktor terjadinya kekerasan terhadap anak (Menkokesra.com, 03/03/2013).
Menurut hasil pengaduan yang diterima KOMNAS Perlindungan Anak, pemicu kekerasan terhadap anak yang terjadi diantaranya adalah :
-          Kekerasan dalam rumah tangga, yang melibatkan baik pihak ayah, ibu dan saudara  lainnya
-          Disfungsi keluarga, yaitu peran orang tua tidak berjalan sebagaimana seharusnya. Adanya disfungsi peran ayah sebagai pemimpin keluarga dan peran ibu sebagai sosok yang membimbing dan menyayangi.
-          Faktor ekonomi, yaitu kekerasan timbul karena tekanan ekonomi.
-          Pandangan keliru tentang posisi anak dalam keluarga. Orang tua menganggap bahwa anak adalah seseorang yang tidak tahu apa-apa. Dengan demikian pola asuh apapun berhak dilakukan oleh orang tua.
-          Disamping itu, faktor penyebab kekerasan pada anak yakni terinspirasi dari tayangan-tayangan televisi maupun media-media lainnya yang tersebar dilingkungan masyarakat. Yang sangat mengejutkan ternyata 62 % tayangan televisi maupun media lainnya telah membangun dan menciptakan prilaku kekerasan (Tempo, 2006).
Pembahasan faktor penyebab kekerasan terhadap anak selalu terhenti di sini.  Tidak ada upaya untuk menelaah lebih dalam, mengapa bisa terjadi kemiskinan, disfungsi keluarga, merebaknya tayangan merusak atau  buruknya implementasi hukum.  Padahal, faktor-faktor ini hakekatnya adalah akibat yang disebabkan oleh faktor lain.
Kemiskinan misalnya.  Diakui atau tidak, saat ini kita menerapkan system ekonomi kapitalis.  Dalam system ini, akses terhadap sumberdaya hanya diberikan kepada orang-orang yang memiliki modal.  Sedangkan orang yang tidak atau hanya sedikit memiliki modal, menjadi semakin miskin.  Kesenjangan semakin lebar antara yang miskin dan yang kaya.  Kondisi ini tidak jarang menciptakan stress di kalangan orangtua, yang kemudian melampiaskan kepada anak-anak dalam bentuk kekerasan.
Disfungsi keluarga juga hanya akibat.  Penerapan system kapitalis telah memerangkap para ibu dalam dunia kerja.  Entah karena membantu suami yang tidak cukup nafkahnya, atau terbujuk godaan untuk memiliki barang-barang mewah yang dipropagandakan sebagai sebuah kebutuhan.  Maka ibu menyerahkan pengasuhan pada orang lain atau mengabaikan anak.  Dari sini terjadi kekerasan terhadap anak oleh pengasuh, seperti beberapa waktu lalu bayi 5 bulan dibekap sampai tewas oleh pembantunya sendiri, atau pelecehan seksual oleh tetangga, atau pemerkosaan oleh ayah.
Menjamurnya pornografi juga akibat. Kebebasan yang kebablasan dari cara hidup liberal telah menghalalkan berbagai sarana pemuasan nafsu, tanpa memandang lagi akibat yang ditimbulkan.
Begitu pula implementasi hukum yang lemah.  Hukum merupakan hasil penerapan demokrasi, yang penyusunannya diserahkan kepada pikiran dan akal manusia yang sifatnya terbatas.  Rasa iba manusia membuat hukum rajam, hukuman mati, atau hukuman di hadapan khalayak ditolak.  Akibatnya hukum menjadi mandul, tidak memiliki efek pencegahan, bahkan tidak membuat jera pelaku.
Dengan demikian, kasus kekerasan pada anak pada dasarnya penyebabnya adalah penerapan system yang rusak, system yang hanya melahirkan kerusakan dan kebobrokan di semua lini kehidupan.  Selayaknya system ini kita tinggalkan, berpindah pada system yang memuliakan generasi, yang telah terbukti saat diterapkan menghasilkan anak-anak berkualitas.  Sistem itu adalah Islam.
Islam Melindungi Anak
 Islam adalah satu-satunya agama yang memiliki mekanisme untuk menjamin kesejahteraan anak.  Islam menganjurkan para ibu menyusui bayinya 2 tahun.  Untuk menyempurnakan penyusuan ini, ibu dibolehkan tidak berpuasa di bulan Ramadan.  Ayah diperintahkan untuk mencukupi nafkah ibu yang menyusui, bahkan bila pun ibu dicerai saat menyusui, ayah wajib membayar upah penyusuan (QS. Al Baqarah : 234).  Ini bertujuan agar ibu tidak perlu bekerja saat menyusui sehingga mengganggu hak anak mendapat penyusuan yang sempurna.
Begitu pula Islam memerintahkan ayah menanggung nafkah anak, sekalipun anak diasuh oleh ibunya bila terjadi perceraian.  Ini memastikan anak mendapatkan kasih sayang, pengasuhan dan pendidikan dari orang yang paling tepat secara sempurna.
Islam juga melarang orangtua menyakiti anak saat mendidik mereka.  Kebolehan memukul anak hanya setelah anak berusia 10 tahun saat tidak mau diperintahkan untuk shalat.  Itupun hanya dengan pukulan ringan yang tidak berbekas, semata-mata bertujuan memberikan pendidikan, bukan menghukum apalagi pukulan penuh emosi yang menyakiti anak.
Secara sistem, penerapan Islam secara sempurna akan menjamin penghapusan tindak kekerasan terhadap anak.  Islam adalah satu-satunya agama yang tidak hanya mengatur ritual atau aspek ruhiyah.  Islam juga merupakan aqidah siyasi, yaitu aqidah yang memancarkan seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan.
Dalam masalah ekonomi, Islam mewajibkan negara menyediakan lapangan kerja yang luas agar para kepala keluarga dapat bekerja dan memberikan nafkah untuk keluarganya.  Semua sumberdaya alam strategis adalah milik umat yang dikelola negara.  Negara berkewajiban mendistribusikan seluruh hasil kekayaan negara untuk kesejahteraan warganegara, baik untuk mencukupi kebutuhan pokok, kesehatan, maupun pendidikan.  Dengan jaminan seperti ini, maka tekanan ekonomi yang menjadi salah satu faktor pemicu kekerasan terhadap anak dapat dihilangkan.
Islam menghargai kebebasan, namun menjaga agar kebebasan tersebut bernilai positif untuk kehidupan.  Perempuan boleh beraktivitas di luar rumah, namun setelah tugasnya sebagai ibu dan pengatur rumahtangga ditunaikannya secara sempurna.  Mencari nafkah tidak diwajibkan atas mereka sehingga mereka bisa berkonsentrasi penuh mengurus dan menjaga anak-anak.
Media massa juga bebas menyebarkan berita.  Tetapi mereka terikat dengan kewajiban untuk memberikan pendidikan bagi umat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat.
Penerapan sistem Islam juga menjaga suasana taqwa terus hidup di tengah masyarakat.  Negara berkewajiban membina warganegara sehingga ketaqwaan individu menjadi pilar bagi pelaksanaan hukum-hukum Islam.  Individu bertaqwa tidak akan melakukan kekerasan terhadap anak-anak.  Masyarakat yang bertaqwa juga akan selalu mengontrol agar individu tidak melakukan pelanggaran.  Maka masyarakat menjadi pilar kedua dalam pelaksanaan hukum syara’.
Pilar ketiga adalah penegakan hukum oleh negara.  Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para penganiaya anak.  Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah.  Penyodomi dibunuh.  Pembunuh anak akan diqishas, yakni balas bunuh, atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta yang bila dikonversi saat ini senilai kurang lebih 2 milyar rupiah.  Setiap anggota tubuh anak memiliki nilai diyat sama dengan orang dewasa.  Dalam sebuah hadist (HR An Nasa’iy), Rasulullah memerinci diyat bagi setiap anggota badan yang rusak dan juga penganiayaan.  Diantaranya satu mata 50 ekor unta, begitu juga bibir dan telinga.  Bahkan satu gigi pun dikenakan diyat 5 ekor unta atau sekitar 100 juta.  Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai 1/3 dari 100 ekor unta, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238). Dengan hukuman seperti ini, orang-orang yang akan melakukan penganiayaan terhadap anak akan berpikir beribu kali sebelum melakukan tindakan.
Penerapan hukum secara utuh ini akan menyelesaikan masalah kekerasan terhadap anak secara tuntas.  Anak-anak dapat tumbuh dengan aman, menjadi calon-calon pemimpin, calon-calon pejuang dan calon generasi terbaik. []
Read more...

Membiasakan Anak Berjilbab Sejak Kecil

Tidak ada komentar
Begitu masuk masa baligh, pada anak perempuan berlangsung lebih awal yakni 9-12 tahun, seorang anak mulai dibebani dengan hukum syara’ (mukallaf).  Amal dan dosa mereka dihisab.  Agar saat baligh mereka telah siap menjalankan hukum syara’,  mereka perlu dilatih dan dibiasakan menjalankannya sedari kecil.  Rasulullah SAW bersabda:

“Jika seorang anak telah mampu membedakan tangan kanan dan kirinya maka perintahkanlah ia untuk melakukan shalat.” (HR Thabrani).

Begitu juga beliau SAW bersabda: “Perintahkan anakmu shalat usia 7 tahun, dan bila telah berusia 10 tahun pukullah bila ia mengabaikannya .” (HR Abu Dawud, Tirmidzi dan Daruquthni)
Dari perintah membiasakan anak shalat saat usianya belum menginjak baligh, dapat diambil analogi bagi pembiasaan hukum-hukum syara’ yang lain.   Telah masyhur bahwa para shahabat mengajarkan anak-anak mereka berpuasa saat mereka masih kecil, sampai-sampai mereka membuatkan mainan dari wol agar anak-anak bisa bermain sampai tiba waktu berbuka (HR Bukhari –Muslim).

Dari apa yang diperintahkan Rasulullah SAW dan apa yang dilakukan para shahabat, maka pembiasaan bagi anak dalam menjalankan hukum syara’ adalah hal yang harus kita lakukan.  Tanpa adanya pembiasaan di awal, dikhawatirkan anak akan merasa berat menjalankan hukum syara’ saat usia mereka masuk baligh.  Sementara mereka telah dikenai dosa ketika meninggalkan kewajiban-kewajiban syara’.

Pembiasaan 

Wajibnya mengenakan jilbab dan kerudung adalah kewajiban yang sama dengan wajibnya shalat atau puasa.  Dengan demikian, melatih anak perempuan mengenakan jilbab dan kerudung juga sama wajibnya dengan melatih anak untuk shalat atau berpuasa.  Pembiasaan semenjak dini akan menjadikan anak merasa lebih nyaman dan tidak canggung lagi saat mengenakan jilbab dan kerudung telah menjadi wajib baginya.

Upaya pembiasaan mengenakan jilbab dan kerudung bagi anak-anak dapat dilakukan secara bertahap.  Pertama, tentu perlu adanya teladan dari orang tuanya.  Anak-anak akan merasa gembira meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya, terutama anak perempuan meniru ibunya.  Untuk kenyamanan anak perlu kita pertimbangkan bahan jilbab dan kerudung yang akan dikenakan, misalnya bahan kaos yang dingin dan menyerap keringat.

Setiap kali membawa anak keluar rumah, orang tua dapat mengajak anak mengenakan kerudungnya.  Bila anak tidak mau orang tua tidak perlu memaksa.  Begitu pula bila di tengah perjalanan anak kegerahan atau tidak nyaman, dapat kita lepaskan dulu kerudungnya.  Inti dari latihan ini adalah membuat anak merasa nyaman, bukan membuatnya merasa bahwa jilbab dan kerudung menyusahkannya.

Pemaksaan orang tua dapat berakibat anak malahan menjadi tidak nyaman dengan jilbab dan kerudungnya sehingga ia cenderung untuk meninggalkannya bila di luar pengawasan orang tua. Bila anak sudah menjelang baligh, kita perlu menyampaikan kepada mereka dalil-dalil wajibnya jilbab dan kerudung sehingga mereka kuat berpegang pada hukum.  Bukan melakukan sesuatu yang sifatnya dogma semata.  Upaya ini senantiasa kita iringi dengan penanaman akidah yang kokoh pada anak, sehingga yang muncul adalah kesadaran dan bukan keterpaksaan.

Kesulitan yang kita alami dalam proses pembiasaan anak mengenakan jilbab, insya Allah kelak akan berbuah manis di hadapan Rabb kita.  Mengajarkan anak mengenakan jilbab, akan menjadi ilmu bermanfaat.  Selama anak kita berjilbab, pahalanya akan terus mengalir, sekalipun kita sudah berselimut tanah di dalam kubur.  Insya Allah. (mediaumat.com, 27/2)
Read more...

Kemandirian Ekonomi Perempuan Bisa Picu Cerai

Tidak ada komentar

Perceraian, Perempuan Mandiri Picu Cerai
Kasus perceraian saat ini didominasi kasus gugat cerai istri pada suaminya. Dari data Kementerian Agama (Kemenag), penyebab pertama adanya gugat cerai adalah adanya ketidakharmonisan dalam keluarga.


Sedangkan penyebab lainnya bisa dipicu karena adanya masalah ekonomi. Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Iffah Ainur Rochmah mengungkapkan, ada kecenderungan kemandirian ekonomi perempuan membuat tingkat gugatan cerai istri meningkat.

Bahkan, kata Iffah, adanya sertifikasi guru menjadi salah satu faktor angka perceraian ini. "Tidak bisa dipungkiri mereka yang sadar dengan ide kesetaraan gender, banyak diartikan untuk bergantung secara ekonomi," kata Iffah pada Republika, Kamis (14/2).

Artinya, tambah Iffah, dalam ide kesetaraan gender, saat ini, keeutuhan rumah tangga bukan lagi dianggap sebagai ibadah, tapi lebih pada faktor ketergantungan ekonomi. Ketika seorang istri sudah memiliki kemandirian ekonomi, dirinya merasa tidak lagi mengerti pentingnya keutuhan rumah tangga.

Menurut Iffah, arus kesetaraan gender saat ini sudah dilihat menjadi milik semua orang. Bukan hanya sekadar jargon atau kampanye saja, melainkan sudah mengglobal. Salah satu wujudnya ada di Rancangan Undang-undang Kesetaraan Gender. "Jika RUU ini disahkan, banyak yang akan melanggar aturan syariah," tegas Iffah. [republika/www.bringislam.web.id]
Read more...

Bayi Batuk Pilek Tak Butuh Obat Kimia

Tidak ada komentar
Siapapun orang tua, pasti tak menginginkan bayinya sakit, meskipun sakitnya itu termasuk biasa-biasa saja. Tapi, meskipun biasa, tetap yang namanya sakit alias nggak enak body, nggak boleh disepelekan. Apalagi ini yang nggak enak body, masih bayi. Belum bisa bilang apa yang nggak enak, maunya apa, dan sebagainya. Yang bisa dilakukan bayi hanya menangis dan menangis saja untuk mengungkapkan ketidaknyamanannya itu.

Saya pun sebagai orang tua baru, juga tidak pernah membayangkan bayi saya akan sakit. Sekitar 2 minggu lalu, bayi saya yang berusia 2 bulan, tertular flu dari ayahnya. Ceritanya, ayahnya ketularan flu dari teman-temannya di kantor. Sama seperti ayahnya yang batuk pilek, bayi saya juga batuk pilek. Tapi alhamdulillah, bayi saya tidak mengalami demam. Sementara ayahnya sempat demam tinggi.
 
Sebenarnya, saya sudah menjauhkan betul-betul bayi saya dari ayahnya. Toh, ayahnya juga tidak tidur sekamar maupun seranjang dengan saya dan bayi saya. Tapi, yang namanya cuma hidup bertiga dengan bayi, dan jauh dari orang tua maupun keluarga, saya tidak memiliki partner yang bisa dijadikan teman berganti tugas. Saat saya lelah mengurus bayi yang saat itu sedang sering rewel, mau tak mau, saya melibatkan suami saya untuk bergantian menggendong maupun menenangkan bayi kami. Meskipun suami saya sudah selalu memakai masker saat dekat dengan bayi kami, toh ternyata virus itu menular juga.
 
Kami menyadari kalau bayi kami tertular flu saat tahu nafasnya berbunyi ngik-ngik ketika tidur pada malam hari. Selain itu, pada malam itu, tidurnya tidak tenang. Tangannya bergerak terus mencakar-cakar muka dan hidungnya. Keesokan paginya, dari dalam hidungnya (atau tenggorokannya?) muncul suara nggruk-nggruk saat dia bernafas. Kami menebaknya, itu adalah dahak.
 
Meskipun sejak hamil, saya dan suami sudah berkali-kali meyakinkan pada diri kami bahwa kami akan tetap tenang saat anak nggak enak badan, tapi ternyata ketika terjadi betulan, saya panik. Saya bersyukur suami tidak panik. Padahal biasanya, dia lebih panik daripada saya. Coba kalau dua-duanya panik, pasti ribet jadinya. Di tengah kepanikan saya, langkah pertama yang saya lakukan adalah meminta tolong suami untuk mengontak kakak ipar saya yang berprofesi sebagai bidan, menanyakan apa obat flu bagi bayi 2 bulan. Karena tidak memeriksa langsung bayi kami, kakak ipar saya tidak berani merekomendasikan obat apa yang bisa dikonsumsi bayi kami.
 
Syukur alhamdulillah, saat itu ada ibu saya yang sedang menginap di rumah. Lantas ibu membuatkan ramuan obat tradisional berupa bawang merah diparut dan dicampur minyak telon, kemudian diusapkan ke ubun-ubun bayi, telapak kaki bayi, pusar bayi, dan juga punggung bayi. Katanya, itu adalah obat tradisonal jika bayi terkena batuk pilek. Saat di kantor, suami saya juga googling obat tradisional lain yang bisa kami berikan buat bayi kami. Tiga lembar daun sirih diremas-remas, dicampur air perasan jeruk nipis, kemudian dioleskan pada leher bayi.
 
Sehari setelah diberi ramuan-ramuan itu dan batuk pileknya belum sembuh-sembuh juga, saya yang masih panik mengajak suami untuk memeriksakan bayi kami ke rumah sakit. Saat itu sekitar jam 11 siang, di tengah teriknya sinar matahari. Sesampainya di rumah sakit, ternyata dokter anak yang kami cari, sedang tidak ada. Duuuh … sedihnya. Siang-siang panas-panas begini, tapi dokternya nggak ada. Akhirnya kami membawa bayi kami ke rumah bersalin di dekat rumah. Di sana, bidan yang memeriksa memberikan obat batuk pilek berupa sirup. Obat itu diberikan 3 kali sehari dengan takaran 1/4 sendok sirup. Tahu begini, dari tadi ke rumah bersalin ini saja. Langsung ketemu paramedisnya, juga diberi obat. Pikir saya waku itu.
 
Sesampainya di rumah, saya berikan sirup itu memakai sendok. Tapi ternyata, bayi kami melepehnya. Obatnya tidak tertelan sepertinya. Kalaupun tertelan, sepertinya hanya sedikit sekali. Malamnya, saya kembali memberikan sirup itu menggunakan sendok. Tapi lagi-lagi bayi kami melepehnya. Melihat begitu, ibu saya menyarankan agar besok pagi memberikan sirupnya memakai kapas agar tertelan bayi. Ternyata benar tertelan. Saya ambil sedikit kapas, mencelupkan ke sirup yang sudah ditakar dalam sendok obat, kemudian memasukkan kapas itu ke mulut bayi dan memerasnya saat sudah ada di dalam mulut bayi. Obat itu tertelan semua. Saya ‘berhasil’ memasukkan obat itu sebanyak 4 kali selama 4 kali waktu meminum obat.
 
Saat saya di kantor dan buka facebook, saya menulis status tentang batuk pilek yang diderita bayi kami. Alhamdulillah, ada resep-resep yang diberikan beberapa teman. Ada terapi pijat batuk pilek, memberikan ASI lebih banyak, juga ada memberi ramuan obat tradisional yang sudah kami lakukan. Kemudian secara tak sengaja, saya membaca sebuah up load tulisan tentang anak yang terkena batuk pilek. Ya Allah … saya sudah pernah membaca tulisan itu, dulu saat saya belum hamil, juga saat saya hamil. Tapi kok saya lupa yaaaaa? 
 
Inti dari tulisan itu adalah bahwa saat anak kita, terutama bayi, terkena batuk pilek, kita tidak perlu buru-buru memberinya obat kimia. Karena sebetulnya, bayi kita tidak memerlukan obat kimia untuk batuk pileknya. Perbanyak minum dan istirahat. Kalau masih bayi, perbanyak ASI. Bahkan jika bayi kita tidak meminta ASI, si ibu harus memberikan ASInya. ASI-lah yang nanti akan menjadi penyembuh batuk pilek bayi.
 
Deg! Saya jadi tersadar. Kenapa saya lupaaaaa? Bukankah saya pernah membacanya? Juga membaca artikel-artikel serupa? Setelah membacanya, segera saya kirim SMS kepada suami saya. Saya bilang bahwa saya membatalkan untuk memeriksakan kembali bayi kami yang belum sembuh itu ke dokter. Saya bilang, singkirkan obat sirup itu. Kami tidak akan memberikan sirup itu pada bayi kami. Kasihan tubuhnya yang masih ringkih, yang masih berusia 2 bulan, tapi sudah terpapar obat kimia. Apalagi obat kimia itu tidak dibutuhkan tubuh bayi saya.
Akhirnya saya mensyukuri kakak ipar saya yang tidak berani merekomendasikan obat untuk bayi kami. Saya juga mensyukuri dokter anak yang kami cari, sedang tidak ada di rumah sakit saat kami ke sana. Saya juga bersyukur, bayi saya pintar. Dia melepeh sirup itu. Meskipun saya juga menyesal, ada juga sirup yang tertelan olehnya, 4 kali.
 
Untuk menyembuhkan batuk pileknya, ASI yang sudah banyak saya berikan, saya perbanyak lagi. Saya juga tetap memberikan ramuan obat tradisional bawang merah parut dicampur minyak telon. Saya juga menguapi bayi kami dengan cara merebus air hingga mendidih, kemudian meneteskan 5 hingga 10 tetes minyak telon. Biarkan uapnya dihirup bayi. Uap itu akan meredakan hidung mampet. Saya juga menjemur bayi saya pada pagi hari selama sekitar 10 menit. Bayi ditelungkupkan, kemudian tepuk-tepuk punggungnya. Itu untuk merangsang bayi batuk sehingga dahaknya keluar. Saya pun juga meletakkan irisan-irisan bawang merah di sudut-sudut kamar tempat bayi saya tidur. Katanya, irisan-irisan bawang merah itu akan mensterilisasi ruangan.
 
Tak hanya itu, saya juga melakukan terapi pijat batuk pilek di rumah bersalin di dekat rumah itu. Bayi kami disinari menggunakan sinar infra merah. Sinar itu akan mencairkan dahak. Kemudian ditepuk-tepuk dada dan punggungnya untuk merangsang bayi batuk sehingga dahaknya keluar. Duuuh … kok ya bidannya waktu itu tidak menyarankan agar bayi saya terapi pijat batuk pilek saja? Toh juga di klinik itu. Keuntungannya juga buat klinik itu. Saat saya memeriksakan bayi kami ke sana, saya belum tahu tentang terapi pijat batuk pilek untuk bayi dan anak-anak.
 
Tapi, mungkin inilah yang namanya menimba ilmu dan pengalaman. Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dari sini, saya dan suami juga tambah ilmu, tambah belajar. Terima kasih, anakku sayang, kau telah mengajari Ibu. Alhamdulillah, setahap demi setahap, bayi kami lekas sembuh dari batuk pileknya. Dan sekarang, dia sudah kembali ceria. Sudah ketawa-ketawa riang lagi. Senangnyaaaaaa. ^_^
 
Read more...

Mau Lebih Irit? Jangan Takut Untuk Menikah

Tidak ada komentar

jpeg (130×98)Banyak orang manunda dan takut menikah lantaran khawatir menambah biaya, fakta menunjukkan,   menikah cara terbaik untuk menghemat uang, demikian penelitian terbaru yang dimuat Time of India, Ahad (22/07/2012). Karena kehidupan pernikahan umumnya mendorong pengorbanan dan penghematan daripada melakukan pengeluaran semena-mena.


Berdasarkan sebuah penelitian baru-baru ini di Inggris, para peneliti menemukan bukti bahwa pasangan yang telah menikah umumnya memang dapat melakukan penghematan. Mereka umumnya dapat menghemat sekitar 68 Pound per bulan dan mencapai 800 Pound per tahun. 

Dalam pernikahan akan muncul ide memiliki target bersama seperti menabung untuk membeli rumah, untuk biaya keluarga, atau membangun rumah. Keinginan-keinginan tersebutlah yang akan memicu pasangan agar menjadi lebih irit dalam pengeluaran.

Sekitar 57 persen peserta uji coba pun mengatakan, suami atau istri berperan dalam melakukan prosese penghematan itu. 
"Hal yang baik melihat orang-orang yang berhubungan saling memotivasi satu sama lain untuk menyimpan sejumlah besar uang," ungkap John Prout dikutip Daily Mail.

Bagi sebagian orang, pengaruh pasangan mereka memiliki efek dramatis. Satu dari lima pasangan mengaku bisa menghemat sedikitnya 200 Pound lebih per bulan dan mencapai 2.400 Pound selama setahun.

Dalam hal ini, kaum pria yang senang menghabiskan uang untuk otomotif atau keluar malam akan sedikit tertekan saat hidup bersama pasangan. Namun mereka akan terbiasa dengan sendirinya, setelah melakukan adaptasi.

Terbukti, pria mampu menyimpan rata-rata 85 Pound setiap bulan, karena pengaruh pasangan mereka dibandingkan kaum wanita yang hanya mampu menyimpan 50 Pound. Sementara pria berusia 25-34 tahun akan sangat terpengaruh oleh pasangannya dan terbukti mampu menghemat sekitar 100 Pound setiap bulan.

Penelitian ini menemukan bukti bahwa sedikit pengeluaran yang dilakukan pria akan memaksa kaum wanita, untuk juga melakukannya meski berat untuk melakukannya. Sementara sebanyak 15 persen wanita yang telah menikah mengaku termotivasi untuk menyimpan lebih, karena kebiasaan buruk pasangannya dalam mengelola keuangan.


Lebih Bahagia

Sebelumnya, para peneliti dari Michigan State University telah menemukan bahwa orang yang sudah menikah cenderung lebih bahagia selama hidup daripada orang yang belum menikah. Studi ini diterbitkan dalam Journal of Research in Personality baru-baru ini.

Menurut para peneliti, pernikahan tampaknya untuk melindungi terhadap penurunan normal dalam kebahagiaan saat dewasa.

"Studi kami menunjukkan bahwa orang rata-rata lebih bahagia daripada mereka tidak menikah," ujar Stevie C.Y. Yap, seorang peneliti dari departemen psikologi MSU seperti dilansir ScienceDaily baru-baru ini.

Pandangan ini dibuktikan secara ilmiah oleh para peneliti di Michigan State University (MSU) yang dirilis diJournal of Research in Personality.* (syahidah.eb.id/www.bringislam.web.id)
Read more...

BAB Bayi ASI Eksklusif

Tidak ada komentar
ASI saya cukup gak ya. Kekhawatiran seperti ini seringkali dialami oleh para ibu menyusui. Apalagi jika sang bayi sering menangis, mudah terbangun, atau suka menghisap/mengenyot tangannya.

Sebenarnya adakah tanda-tanda yang dapat menunjukkan bahwa bayi mendapatkan cukup ASI (Air Susu Ibu)? Dalam jangka panjang indikasi atau tanda kecukupan yang paling utama adalah peningkatan berat badan. Ada juga tiga tanda sederhana yang dapat diperhatikan ibu, yakni dengan mengamati cara bayi menyusu, buang air kecil (BAK), dan buang air besar (BAB). Tulisan ini membahas BAB bayi yang hanya mendapat ASI atau yang lebih dikenal dengan istilah ASI eksklusif (ASIX).


Tiga Hari Pertama
Beberapa hari pertama setelah kelahirannya bayi mengeluarkan mekonium, yakni bahan lengket berwarna hijau pekat mendekati hitam yang terkumpul di dalam usus bayi selama berada di kandungan. Pada hari ketiga, bayi yang mendapatkan lebih banyak ASI akan buang air besar lebih mudah. Biasanya bayi sudah mengeluarkan seluruh mekonium dan bentuk tinja bayi berubah di hari keempat.


Bulan Pertama
Tinja bayi yang wajar berwarna kuning, sedikit berbau, memiliki bentuk lunak agak cair dan berbij-biji. Bentuk tinja juga dapat sedikit berbeda, misalnya berwarna lebih hijau atau kuning pekat, berlendir atau berbuih. Perbedaan warna ini tidak menunjukkan masalah apapun. Bayi ASIX yang semakin mudah buang air besar di hari ketiga kehidupannya berarti dalam keadaan yang baik.
Bayi yang sehat dan mendapat cukup asupan ASI akan buang air kecil lebih dari enam kali dalam sehari. Walaupun begitu, segera periksakan bayi kepada tenaga atau fasilitas kesehatan jika ia mengalami salah satu dari tanda-tanda di bawah.
  1. Bayi masih mengeluarkan mekonium pada usia 4 atau 5 hari
  2. Bayi usia 5-21 hari tidak buang air besar dalam 24 jam
  3. Tinja bayi berwarna coklat, jarang buang air besar, atau tinja sedikit
Selain mengamati asupan bayi, memantau frekuensi buang air besar dan jumlah tinja merupakan cara untuk menilai bilamana bayi mendapatkan cukup ASI. Jumlah tinja bayi seharusnya meningkat setidaknya pada hari kelima dengan frekuensi buang air besar 2-3 kali setiap hari. Bahkan beberapa bayi buang air besar setiap selesai menyusu dan ini bukan berarti bayi menderita diare.
Diare adalah kondisi perubahan frekuensi buang air besar secara mendadak dengan jumlah tinja lebih banyak dan dalam bentuk yang sangat cair. Terus berikan ASI dan perbanyak asupannya untuk mencegah dehidrasi atau kekurangan cairan pada bayi. Perhatikan tanda-tanda dehidrasi berikut ini:
  • Mata kering, bayi menangis tanpa mengeluarkan air mata atau hanya sedikit;
  • Kulit, mulut dan bibir lebih kering;
  • Air seni berwarna gelap, keluar sedikit atau tidak keluar sama sekali;
  • Mata tampak cekung atau terbenam;
  • Sangat lemas dan kesadaran menurun;
  • Selalu merasa haus atau malah menolak minum;
  • Ubun-ubun terlihat cekung;
  • Ketika kulit dicubit dengan dua jari kulit sulit kembali ke bentuk asal.
Segera hubungi tenaga atau fasilitas kesehatan bila menemukan tanda dehidrasi, diare yang disertai dengan darah, kejang, nafas cepat dan dangkal, muntah terus-menerus, panas tinggi di atas 38,5°C yang tidak berkurang dalam 2 hari, diare berlangsung lebih dari 14 hari, atau bayi tampak kesakitan atau kolik. Bayi yang kesakitan akan menangis kuat sambil menekuk kaki, gelisah serta berkeringat.

 
Usia 2-6 Bulan
Frekuensi buang air besar setiap bayi berbeda-beda. Secara umum frekuensi buang air besar bayi akan semakin berkurang seiring pertambahan usianya karena usus telah berkembang lebih sempurna dan dapat menyerap ASI lebih baik. Memasuki bulan kedua, beberapa bayi ASIX mendadak mengubah frekuensi buang air besar mereka dari sering menjadi sekali dalam tiga hari. Bahkan ada bayi yang tidak buang air besar selama 20 hari atau lebih. Selama bayi sehat dan bentuk tinja wajar maka hal tidak menjadi masalah. Memang bayi ASIX lebih jarang mengalami sembelit atau konstipasi karena nutrisi ASI mudah dicerna dan diserap oleh tubuh serta mengandung zat laksatif yang dapat mengencerkan tinja.


Setelah Bulan Keenam
Setelah bayi mendapat Makanan Pendamping ASI (MPASI) biasanya frekuensi buang air besar, bentuk dan jumlah tinja akan berubah tergantung dari asupan makanannya. Jika tinja bayi keras hingga saat buang air besar ia mengalami kesulitan, rasa nyeri, atau bahkan luka anus yang berdarah, hal ini dinamakan sembelit. Tambahkan cairan, buah, dan serat ke dalam makanannya. Sembelit yang disebabkan oleh diet makan yang tidak seimbang akan hilang dengan sendirinya. Segera hubungi tenaga kesehatan apabila sembelit disertai dengan sakit perut hebat atau muntah.
Sumber:
  • Newman, Jack. Kernerman, Edith. 2009. Is My Baby Getting Enough Milk?, diakses April 2011).
  • Pujiarto, Purnamawati S. 2008. Q&A Smart Parents for Healthy Children. Jakarta: Intisari.
  • Suririnah. 2009. Buku Pintar Merawat Bayi 0-24 Bulan. Jakarta: Gramedia.


    aimi-asi.org
Read more...

Category

Popular Posts

facebook