Comments

Tampilkan postingan dengan label tahun baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tahun baru. Tampilkan semua postingan

Perayaan Tahun Baru dan Serangan Hadlarah Asing

Tidak ada komentar
Hingar bingar penyambutan tahun baru 2013 semakin memuncak, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.  Pergantian tahun pada kalender Masehi itu hampir selalu menjadi rutinitas perayaan yang tidak boleh terlewatkan oleh semua kalangan umur.  Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun itu dengan berbagai kegiatan spesial.  Mereka umumnya beralasan bahwa pergantian tahun adalah kesempatan yang hanya datang setahun sekali, maka apa salahnya jika dirayakan atau diisi dengan kegembiraan melebihi hari-hari biasanya.

Bagi muslim, merayakan tahun baru Masehi sebenarnya merupakan aktivitas terlarang.  Sebab, perayaan tahun baru merupakan bentuk kebudayaan (hadlarah) dari luar Islam. Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Januari dijadikan sebagai awal tahun karena diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.

Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam.  Salah satu contohnya di Brazil.  Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih.  Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Begitulah, tahun baru di beberapa tempat dalam perjalanannya identik dengan kebudayaan yang berkaitan dengan akidah (keyakinan) tertentu.  Bahkan kini -di Barat khususnya- tahun baru identik dengan budaya hura-hura dan seks bebas.  Semua bentuk perayaan tersebut jelas-jelas merupakan tindakan penyimpangan terhadap akidah dan syariah yang diturunkan Allah SWT.  Perayaan tahun baru adalah budaya yang dimiliki oleh kaum di luar Islam.

Namun mengapa saat ini kaum muslim latah ikut-ikutan merayakan, atau membesarkannya meski dengan sekedar ucapan selamat tahun baru, atau bersuka ria memadati tempat-tempat hiburan khususnya pada malam pergantian tahun.

Kaum muslim memang menggunakan kalender Masehi yang notabene menjadi patokan penanggalan internasional.  Namun bukan berarti kaum muslim layak membesarkan atau merayakan pergantian tahun.  Sebab, merayakan hari pergantian tahun (tanggal 1 Januari) sudah identik dengan budaya tertentu.  Identitas ini tidak bisa hilang hanya karena kaum muslim menggunakan kalender tersebut.  Sebab, bagi muslim pergantian tahun tidak bernilai apa-apa selain bergantinya waktu (dari tanggal 31 Desember menjadi 1 Januari).  Syara’ tidak memandang adanya keutamaan pada tanggal tersebut.  Maka, mengapa mereka menganggap bahwa kehadiran 1 Januari adalah masa spesial yang menuntut perayaan.

Sesunguhnya, yang terjadi adalah infiltrasi budaya kufur di tengah-tengah kaum muslim.  Dan kini, sebagian besar muslim telah benar-benar terseret dalam budaya kufur tersebut.  Mereka tidak merasa bahwa perayaan tahun baru adalah hadlarah (budaya) asing.  Bahkan mereka menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

Sebagian lagi beranggapan bolehnya merayakan tahun baru asal tidak melakukan perbuatan terlarang, seperti seks bebas, pesta miras, ugal-ugalan di jalan dan sejenisnya.  Pandangan seperti ini tentu saja keliru.  Inilah bentuk keberhasilan musuh-musuh Islam dalam menggiring kaum muslim agar terjatuh dalam budaya asing.  Mereka berhasil menggeser makna perayaan tahun baru yang sebenarnya sudah identik dengan budaya tertentu, dengan ajakan halus bernuansa kemanusiaan.  Tanggal 1 Januari berhasil dipaksakan sebagai hari raya internasional.

Padahal, sebuah hadlarah -yang terikat dengan pandangan atau akidah tertentu- selamanya akan mengikat bagi pemeluknya.  Demikian pula dengan perayaan 1 Januari, ia tetap lekat dengan budaya kaum merayakan di awal kelahirannya.  Oleh karena itu, kaum muslim yang merayakan tahun baru meski dengan aktivitas yang mubah hakikatnya telah terperangkap pada hadlarah asing.
Sesungguhnya Syariah Islam tidak mengajarkan perayaan selain pada dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.  Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini (Idul Adhha dan Idul Fitri) adalah hari raya kita” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.).

Dalam hadist lain, dari Anas bin Malik ra. beliau berkata : Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini?”  Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Saw. bersabda :
”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhha dan idul fithri.” [Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasaî dan al-Hakim.]

Dengan demikian tanggal 1 Januari tidak layak mendapatkan pengagungan, apalagi perayaan, meski hanya dengan ucapan selamat.  Sebab, semua aktivitas tersebut adalah bentuk kegembiraan atas momentum tertentu yang tidak disyariatkan.  Terlebih, tanggal 1 Januari sudah identik dengan budaya di luar Islam.

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).  Hadits ini sekaligus memperingatkan agar kaum muslim menjauhkan diri dari kebiasaan kaum di laum Islam.

Dengan demikian, perayaan, kegembiraan, ucapan selamat dan sejenisnya yang dilakukan semata-mata karena hadirnya 1 januari adalah bentuk pengekoran terhadap budaya di luar Islam.  Kaum muslim haram melakukannya.  Apa yang terjadi saat ini menjadi bukti kebenaran sabda Rasulullah Saw.  Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah saw bersabda:
 “Hari kiamat tak bakal terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhari no. 7319)
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk memerangi budaya kufur dan berjuang menegakkan khilafah Islamiyyah yang akan membentengi umat dari semua bentuk serangan budaya kufur.  Aamiin. [] Noor Afeefa

hizbut-tahrir
Read more...

Sya'ir maksiat Kubro(Sya'ir Tahun Baru)

Tidak ada komentar
by Andiy Qutuz Leonidaz-ll

Dino-dino iki moto podo disuguhi reno-reno kebejatan

gak pimpinan-e
gak pejabat-e
gak mentri-ne
gak rakyat-e
gak remaja-e
podo koplak kabeh !

royokan
podo ngelakoni maksiyat kubro
nyambut tahun baru koyok nyambut menang-e iblis karo setan durjana

sing pimpinan-e dubleg kuping-e...picek moto-ne gak arep syareat-e gusti Allah...

sing pejabat-e kelakuane podo karo penjahat seneng ngerampok dunyon-e rakyat-e dewe..

sing menteri podo ngerusak
rakyate, ono' menteri sing rusak akale ngongkon
remaja-e nggawe kondom digawe ngelakoni zina sak nggon-nggon

akibate tahun barune dadi puncak maksiyat sing nyoto !
nek wes ngene iki adzab gusti Allah wes pantes mudhun !

bumi para wali Allah,

31 Desember 2012

AQL
Translate
Hari-hari ini berjuta mata disuguhi berbagai kebejatan.
Baik Pemimpinnya
Pejabatnya
Para Mentrinya
Rakyatnya
Remajanya
Semua pada menggila
Berebut untuk melakukan kemaksiatan yang besar
Menyambut tahun baru seperti menyambut menangnya Iblis dan Syetan yang durjana
Para pememimpin yang Tuli telinganya, picik matanya, tidak mau menerapkan Syariat Allah
Para pejabat yang kelakuannya mirip penjahat merampok rakyatnya sendiri
Ada mentri perusak generasinya!!!
Merusak akal generasi dengan menyuruh berzina dengan Kondom di mana-mana
Akibatnya Tahun baru justru menjadi puncak kemaksiatan yang nyata
Kalau sudah seperti ini pasti Adzab Allah akan segera turun!!!
Bumi Para Wali Allah 31 Desember 2012
AQL
====> Menjelang Tahun Baru Kondom Ludes Terjual

 
Read more...

Farid Wajdi: Tahun baru, puncak kemaksiatan yang didukung media massa

Tidak ada komentar
JAKARTA - Pergantian tahun baru tinggal menghitung hari, biasanya masyarakat akan menyambutnya dengan perayaan gegap gempita hampir diseluruh dunia. Namun, hal itu pada hakikatnya merupakan merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Perayaan malam tahun baru menjadi puncak kemaksiatan. Anak-anak muda melakukan hura-hura, pesta narkoba, hingga seks bebas, dengan alasan merayakan malam tahun baru.

Penegasan itu disampaikan Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wajdi seperti dilansir itoday (26/12). "Malam tahun baru menjadi puncak kemaksiatan. Anak muda melegitimasi kemaksiatan di tahun baru," tegas Farid.
 
Farid Wajdi mengingatkan, hura-hura di malam tahun baru menjadi cerminan bahwa kapitalisme semakin dominan.  Kapitalisme mengutamakan kepentingan kapital, di mana ada dorongan kuat untuk digelar acara-acara hedonis dan hura-hura. Di balik acara tahun baru ada kepentingan bisnis, mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya. 

Menurut Farid, perilaku hedonis kaum muda di malam tahun baru sulit dibendung. Salah satunya penyebabnya, himbauan ulama untuk menghentikan perilaku hedonis tidak tersosialisasikan dengan baik. "Himbauan ulama tidak maksimal karena tidak seimbang dengan sosialiasi ide-ide sekuler dan hedonisme. Media massa, utamanya televisi terlihat gencar mem-blow up acara hura-hura di malam tahun baru," tegas Farid.

Terkait mandulnya himbauan ulama, Farid  menegaskan bahwa Indonesia menganut paham negara sekuler dan liberal, sehingga ulama tidak diberikan tempat di antara kepentingan-kepentingan liberal dan sekuler.

"Ada kepentingan politik dan ekonomi dalam perayaan tahun baru, sehingga pemerintah enggan membuat aturan hukum yang melarang hura-hura di malam tahun baru. Kepentingan ekonomi, tahun baru bagi kelompok kapitalis sangat luar biasa bisa meraup keuntungan. Kepentingan politik, yaitu membudayakan budaya hedonis, sekuler untuk menjauhkan anak muda dari ajaran agama," pungkas Farid. (bilal/arrahmah.com)
Read more...

Hukum Merayakan Tahun Baru Masehi

Tidak ada komentar
Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaan tahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

2013 New Year 3D WallpapersPerayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang. Banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan latar belakang mengapa hari itu dirayakan. 

Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. 

Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang, sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. (G Capdeville “Les épithetes cultuels de Janus” inMélanges de l’école française de Rome (Antiquité), hal. 399-400)

Fakta ini menyimpulkan bahwa perayaan tahun baru sama sekali tidak berasal dari budaya kaum muslimin. Pesta tahun baru masehi, pertama kali dirayakan orang kafir, yang notabene masyarakat paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui spirit ibadah pagan adalah latar belakang diadakannya acara ini. Mereka menyemarakkan hari ini dengan berbagai macam permainan, menikmati indahnya langit dengan semarak cahaya kembang api, dsb.

Tahun Baru Masehi = Hari Raya Orang Kafir

Turut merayakan tahun baru statusnya sama dengan merayakan hari raya orang kafir. Dan ini hukumnya terlarang. Di antara alasan statement ini adalah:

Pertama, turut merayakan tahun baru sama dengan meniru kebiasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk meniru kebiasaan orang jelek, termasuk orang kafir. Beliau bersabda,
من تشبه بقوم فهو منهم
“Siapa yang meniru kebiasaan satu kaum maka dia termasuk bagian dari kaum tersebut.” (Hadis shahih riwayat Abu Daud)

Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan,
من بنى بأرض المشركين وصنع نيروزهم ومهرجاناتهم وتشبه بهم حتى يموت خسر في يوم القيامة
“Siapa yang tinggal di negeri kafir, ikut merayakan Nairuz dan Mihrajan (hari raya orang majusi), dan meniru kebiasaan mereka, sampai mati maka dia menjadi orang yang rugi pada hari kiamat.”

Kedua, mengikuti hari raya mereka termasuk bentuk loyalitas dan menampakkan rasa cinta kepada mereka. Padahal Allah melarang kita untuk menjadikan mereka sebagai kekasih (baca: memberikan loyalitas) dan menampakkan cinta kasih kepada mereka. Allah berfirman,
يا أيها الذين آمنوا لا تتخذوا عدوي وعدوكم أولياء تلقون إليهم بالمودة وقد كفروا بما جاءكم من الحق …
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (rahasia), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu..” (QS. Al-Mumtahanan: 1)

Ketiga, Hari raya merupakan bagian dari agama dan doktrin keyakinan, bukan semata perkara dunia dan hiburan. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang di kota Madinah, penduduk kota tersebut merayakan dua hari raya, Nairuz dan Mihrajan. Beliau pernah bersabda di hadapan penduduk madinah,
قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر
“Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Perayaan Nairuz dan Mihrajan yang dirayakan penduduk madinah, isinya hanya bermain-main dan makan-makan. Sama sekali tidak ada unsur ritual sebagaimana yang dilakukan orang majusi, sumber asli dua perayaan ini. Namun mengingat dua hari tersebut adalah perayaan orang kafir, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Sebagai gantinya, Allah berikan dua hari raya terbaik: Idul Fitri dan Idul Adha.

Untuk itu, turut bergembira dengan perayaan orang kafir, meskipun hanya bermain-main, tanpa mengikuti ritual keagamaannya, termasuk perbuatan yang telarang, karena termasuk turut mensukseskan acara mereka.

Keempat, Allah berfirman menceritakan keadaan ‘ibadur rahman (hamba Allah yang pilihan),
و الذين لا يشهدون الزور …
“Dan orang-orang yang tidak turut dalam kegiatan az-Zuur…”
Sebagian ulama menafsirkan kata ‘az-Zuur’ pada ayat di atas dengan hari raya orang kafir. Artinya berlaku sebaliknya, jika ada orang yang turut melibatkan dirinya dalam hari raya orang kafir berarti dia bukan orang baik.

KonsultasiSyariah.com
Read more...

Undangan Refleksi Akhir Tahun : Menyongsong Perubahan Besar Dengan Khilafah

Tidak ada komentar
Assalamualaikum...

Mengundang seluruh kaum muslimin wa muslimat untuk menghadiri Acara REFLEKSI AKHIR TAHUN dengan tema "Menyongsong Perubahan Besar Dengan Khilafah"


Bersama :

  1. Ir. Dwi Condro Triono (Pakar Ekonomi Syariah)
  2. Agung Wisnu Wardana (DPP Hizbut Tahrir Indonesia)
  3. Ir. Ismail Yusanto (Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia)

Pada :

Hari/Tanggal  : Ahad, 30 Desember 2012

Waktu           : Pukul 08.00 - 11.30 WIB

Tempat          : Gedung Umar Kayam (Blok A) XT Square (Bekas Terminal Lama Umbul Harjo)
                        Jl. Veteran, Yogyakarta

Syukron, Wassalamualaikum..

MARI BERSAMA-SAMA MENYONGSONG UNTUK TEGAKNYA SYARIAH & KHILAFAH
Read more...

Akhir Tahun, Prioritaskan Muhasabah dan Peningkatan Iman

Tidak ada komentar

 

UMUR tahun masehi 2012 akan segera berakhir.  Biasanya, tradisi banyak orang menyambutnya dengan gegap gempita diiringi hura-hura. secara historis-filosofis, penanggalan Masehi merupakan manivestasi keyakinan Yunani Kuno dan ajaran Kristen.
E. Darmawan Abdullah dalam bukunya ‘Jam Hijriyah’ menjelaskan bahwa Tahun Masehi adalah penanggalan yang bersumber pada tradisi orang Romawi. Dalam ssejarahnya, penanggalan Romawi berawal dari penaanggalan yang dibuat oleh orang-orang Yunani kuno untuk menandai kelahiran dewa matahari.

Ketika kaisar Romawi memeluk agama Kristen, berarti keyakinan leluhurnya terhadap dewa matahari harus ditinggalkan dan menyembah Yesus Kristus sebagai tuhannya. Sejak saat itulah, penanggalan Masehi menetapkan hitungan tahun pertamanya pada hari kelahiran Isa Al-Masih, itulah penanggalan Masehi. Jadi, penanggalan Masehi adalah manivestasi keyakinan Kristen.

Seperti diketahui, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi masih menggunakan nama-nama para dewa Yunani kuno. Terdapat 6 dari 12 nama-nama bulan yang menggunakan nama-nama dewa dan dewi sembahan mereka. Enam bulan pertama (Januari – Juni) adalah nama para dewa, bulan ke 7 dan ke 8 menggunakan nama raja mereka, sedangkan bulan ke 9 sampai ke 12, menggunakan nomor urut bilangan bulan.

E. Darmawan Abdullah menilai tidak dihapuskannya nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi oleh kaisar Romawi kala itu, adalah dalam rangka memperingati kebesaran bangsa Romawi, sehingga nama bulannya tetap eksis, abadi melayani sejarah kehidupan. Kaisar tidak ingin dunia tidak mengenal kebesaran bangsa Romawi.

Karena itu, tidak semestinya umat Islam perlu bergegap gempita menyambut pergantian tahun yang menyisakan hitungan hari ke depan. Hal itu tidak lain karena Masehi adalah manives keyakinan agama lain. Sementara Islam, melarang keras umatnya ikut-ikutan dalam perkara-perkara yang merupakan manives dari agama lain.

Perlu diketahui juga di sini, bahwa awalnya penanggalan Roma hanya berjumlah 10 bulan dalam setahunnya (Maret – Desember). Nah, seiring perjalan waktu dan terkuaknya ilmu astronomi yang menemukan bahwa setahun itu ada 12 bulan, maka di kemudian hari, bulan pun ditambah dua, yaitu Januari dan Februari, sehingga lengkaplah tahun Masehi menjadi 12 bulan.

Tidak berhenti di situ, pergantian nomor urut pun tidak bisa dihindari. Bulan Maret yang awalnya bulan pertama diganti dengan bulan Januari. Mengapa? Ya karena Januari adalah nama dewa Janus (penjaga gerbang). Jadi, tepat jika berada di awal tahun. 

Muhasabah


Secara akidah, ikut merayakan perayaan Tahun Baru Masehi adalah keliru. Secara empiris, tidak relevan jika pergantian tahun dihadapi dengan pesta dan hura-hura. Meski demikian, setidaknya, karena tradisi itu terjadi di sekitar kita,  maka sebaiknya kita bisa mensikapinya atau mengajak yang lain memanfaatkannya dengan cara yang baik.

Cara yang tepat dengan adanya pergantian tahun adalah dengan cara muhasabah  atau introspeksi diri. Muhasabah adalah melakukan evaluasi, dan bersikap kritis kepada diri sendiri. Bermuhasabah berarti mencoba mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada. Kelebihan yang diberikan Allah akan dimanfaatkan untuk menambah raihan kebaikan. Sementara kekurangan dijadikan sebagai momentum memperbaiki diri agar lebih baik dari waktu ke waktu.Demikian keadaan orang yang aktif melakukan muhasabah.

Introspeksi  dengan melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?

Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya; “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi). [baca juga: Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah]

Karenanya sungguh menyedihkan jika kita ikut merayakan pergantian tahun apalagi dengan cara karaokean, plesiran, begadang semalam suntuk laki dan perempuan bercampur.
Hakikat Waktu


Berbicara waktu, menarik apa yang disampaikan oleh Malik Bennabi dalam bukunya ‘Syurutu al-Nahdhah’.


Ia mengatakan, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. "Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat."


Kemudian, ia melanjutkan, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan mampu melepaskan diri darinya.


Jadi, jangan sepelekan waktu, apalagi dengan melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti apa alasan dan manfaat melakukan sesuatu. Berhati-hatilah, waktu adalah penentu. Dan, kelak setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).

Prioritaskan Iman


Sekarang saatnya umat Islam berpikir dan terus-menerus menggali apa sebenarnya makna kehidupan ini. Dan, dalam konteks sekarang, apa urgensi dan argumentasinya umat Islam ikut-ikutan bergembira merayakan Tahun Baru.

Kaji sejarahnya, pelajari mengapa umat Islam juga punya kalender sendiri. Apakah itu sekedar hanya berbeda atau justru bentuk pengabdian sebuah keyakinan? Jika itu ternyata bentuk keyakinan, maka jelas, umat Islam terlarang mengikuti perayaan agama lain.

Dengan demikian, setelah jelas apa itu Masehi dan bagaimana sejarahnya, akan sangat baik jika semua umat Islam, keluarga Muslim, generasi muda Muslim memprioritaskan program peningkatan iman, yang nyata lebih dibutuhkan, daripada sekedar ikut-ikutan orang merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran Islam.

Berbicara tahun, berarti membahas waktu. Al-Qur’an (Al-Ashr : 1 – 3) mengingatkan kita tentang urgensi waktu. Disebutkan bahwa semua manusia itu merugi, melainkan yang beriman (hidup sehari-harinya; pikiran, ucapan, dan aktivitasnya hanyalah untuk menguatkan dan menyempurnakan iman dengan senantiasa beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).

Jadi, sangat baik jika kita semua senantiasa menghias diri dengan hal-hal yang dapat meningkatkan iman. Bukan sebaliknya, justru melemahkan bahkan merusak iman sendiri.

Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan kita agar senantiasa sigap dalam mempersiapkan hari esok (akhirat) dengan ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hasyr [59]: 18).

Oleh karena itu, perbanyaklah membaca al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, bersilaturrahim dengan keluarga jauh, atau menyantuni saudara kita yang membutuhkan. Hal itu akan sangat baik bagi kehidupan dunia akhirat kita, daripada mengeluarkan uang beli terompet, bakar petasan, kembang api, atau aktivitas-aktivitas mubadzir lainnya.*/Imam Nawawi 

hidayatullah
Read more...

Category

Popular Posts

facebook