Comments

Tampilkan postingan dengan label Hadhoroh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadhoroh. Tampilkan semua postingan

Sejarah Membuktikan, Nasionalisme Lemahkan Umat Islam

Tidak ada komentar
                                                
Teatrikal dari Pesantren An’Nimah Batam dalam Muktamar Khilafah 2013 Batam
HTI Press. Hizbut Tahrir Indonesia ungkap fakta sejarah yang menunjukkan nasionalisme ternyata melemahkan umat Islam. “Nasionalisme dalam sejarah umat Islam hingga kini terbukti telah menjadi racun yang berbahaya dan melumpuhkan,” ungkap aktivis HTI Batam Abdillah, pada Muktamar Khilafah Kepulauan Riau, Ahad (12/5) di Lapangan Tumenggung Abdul Jamal, Batam.
Dalam sejarah umat Islam, paham nasionalisme ini memiliki peran penting untuk meruntuhkan Khilafah.  “Akibat paham nasionalisme, Negara Islam yang sebelumnya bernaung di bawah panji tauhid, di bawah satu negara Khilafah Islamiyah akhirnya dipecah-pecah menjadi sekitar 70 negeri-negeri kecil yang satu sama lain saling bersengketa,” ungkapnya.
Menurutnya, nasionalisme terbukti menghilangkan kepedulian umat sehingga kaum Muslim menjadi lemah. Negeri-negeri Islam menjadi santapan empuk bangsa-bangsa imperialis. “Namun, mereka menghadapi persoalan itu hanya dengan sendiri-sendiri. Dengan alasan bukan masalah negara kita, bukan masalah kepentingan nasional kita, umat Islam tidak peduli terhadap nasib saudaranya yang lain,” bebernya.
Abdillah pun mencontohkan, Arab Saudi saat krisis Teluk malah memberikan tempat untuk pangkalan militer Amerika untuk menyerang umat Islam Iraq. Aljazair memberikan ruang udaranya untuk pesawat Prancis membombardir Mali, membunuh umat Islam di sana. Saat Palestina dibantai, Gaza dibombardir, negeri-negeri Arab hanya membela sebatas
Nasionalisme juga, ujar Abdillah, telah mematikan kehirauan umat Islam di suatu negara kepada umat Islam di negara lainnya. Padahal umat Islam di mana pun sejatinya adalah saudara satu akidah yang wajib dibela. Akibatnya, Indonesia tidak merasa begitu hirau ketika ada pengungsi Rohingya terapung di perahu-perahu kecil di perairan Aceh yang meminta suaka hingga akhirnya tenggelam.
Bahkan Bangladesh, negeri mayoritas Muslim yang berbatasan langsung dengan Myanmar, alih-alih menampung pengungsi Rohingya, malah mengusir mereka dan membiarkan mereka terkatung-katung di lautan bahkan diterlantarkan hingga meninggal dunia.
Dalam perhelatan yang dihadiri sekitar 3000 warga Kepulauan Riau tersebut nampak juga para pimpinan pondok pesantren beserta santrinya, di antaranya adalah dari Ponpes An-Ni’mah, Ponpes Al-Ukhuwah dan  Ponpes Bina Ummah.[]Donny Irawan/Joy
Read more...

New Age Movement, Ajaran Yahudi Berbungkus Pelatihan Motivasi (2-Habis)

Tidak ada komentar
ADA tulisan menarik dari Maria Van Tiel, seorang Doktor Antropologi Kesehatan yang menetap di Belanda, dalam harian Republika 21 Januari 2011. Ia mencatat betapa ekspansi buku-buku New Age Movement (NAM) bertebaran di toko buku di Indonesia. Harganya terjangkau. Tak jarang dibumbui kata “best seller”. Judulnya menggiurkan. sebut saja, Super Cerdas dengan Aktivasi Otak Tengah; Dahsyatnya Otak Tengah; The Power of Blessing; Unlimited the Potency of the Brain; Spiritual Company; atau Revolusi IQ/EQ/SQ. Yang luar biasa banyak jumlahnya, buku-buku hypnoparenting dan hypnotherapy.

Revolusi besar-besaran jalan pintas menuju bahagia dan sukses ala Barat ini mungkin cukup wajar terjadi. Kristen di Eropa memang habis dibantai oleh NAM. Dogma trinitas yang yang tidak memiliki basis Ketuhanan gagal membendung arus modernisasi yang memberi ruang tajam terhadap rasionalisme.

new ageBarat telah berkembang menjadi kubangan negeri-negeri dengan penafian luar biasa terhadap Tuhan. Gereja sebagai institusi dominan di Barat pun tidak mampu berbuat apa-apa. Ajaran Kristen yang cenderung dogmatis dan menumpukan akal menjadi musuh yang mudah ditaklukan bagi kelompok New Age.

Sherry Shriner, penulis buku-buku konspirasi dan pengkaji Bible, sampai mengkaitkan tragedi ini dengan nubuwah dalam Bible. Dengan mengutip Matius, ia menulis tidak lebih sebagai seorang futurolog kristus ketika melihat kejadian yang sudah menjadi keniscayaan akhir zaman dalam tradisi Kristen.

Ketika Yesus duduk di atas Bukit Zaitun, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya untuk bercakap-cakap sendirian dengan Dia. Kata mereka: “Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?” Jawab Yesus kepada mereka: “Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu! Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang. Kamu akan mendengar deru perang atau kabar-kabar tentang perang. Namun berawas-awaslah jangan kamu gelisah; sebab semuanya itu harus terjadi, tetapi itu belum kesudahannya. (Matius 24:24,25,26).

Sherry Shriner melanjutkan bahwa New Age tahu bahwa orang Kristen tidak bisa menerima serangan frontal doktrin okultisme, sehingga mereka mengubah kata-kata sihir ke dalam istilah Kristen seperti “iman,” “Tuhan,” “Kristus,” dan “kelahiran kembali” dan banyak gereja terkecoh.

Akhirnya, pendeta, pengurus gereja, dan sebagian umat Kristiani sekarang memasang kuda-kuda untuk membentengi teologi mereka dari serbuan NAM. Mereka memasang dalam situs-situsnya tulisan dengan judul-judul seperti “Bahaya NAM”, “The New Age and Kabbalah”, “New Age Movement and Christianity” dan segala macamnya.

Mereka sadar bahwa selama ini instansi keagamaan Kristen hanya sibuk pada hal-hal ritual liturgis belaka, sekaligus mengabaikan sisi esensial Kristen yakni perjumpaan dengan Tuhan secara logis bukan doktriner. Inilah rupanya yang menjadi dalang dibalik invasi NAM masuk ke gereja-gereja mereka. Dampak ini bukan main memilukannya.

Banyak anak-anak muda Amerika dan Eropa saat ini lebih rajin pergi ke paranormal ketimbang sekolah minggu. Mereka-para remaja itu-mulai mempelajari tulisan-tulisan yang berkaitan dengan astrologi atau berguru di tempat sepi dan terpencil (esoterisme).

Saat itu pula, mereka mulai memperkenalkan gaya hidup baru seperti yang dilakukan kaum Hippies dari San Fransisco. Istilah God-Help sudah beralih ke Self Help. Manusia bisa memecahkan masalahnya tanpa bantuan Tuhan. Makanya di Perancis ada kasus unik, bahwa jumlah Paranormal bisa meningkat hingga mencapai ratusan tiap tahunnya, sedangkan jumlah Pastur hanya mengalami kenaikan dalam skala ribuan.

Bahkan di Inggris lebih gawat lagi, mereka tidak membayangkan situasi seperti ini. Gereja-gereja telah gulung tikar. Para pendeta gantung salib. Dan simbol trinitas telah digusur dengan sabda baru: Manchester United is my religion, and Old Trafford is my church. Jadi, Yesus sudah mati, seperti dikatakan Nietsczhe, bisa jadi betul dalam ranah Kristen.


Mewaspadai Fitnah New Age Movement Dalam Islam
Namun uniknya, tujuan NAM sebenarnya bukan saja menghancurkan Kristen. Musuh utama mereka adalah Islam. Islamlah lawan sepadan bagi mereka saat ini. Tauhid dalam agama ini yang telah mapan dan sulit mereka hancurkan adalah target empuk untuk digasak oleh NAM sebagai korban berikutnya. Kita jangan lupa, kita sekarang sedang berhadapan dengan Zionisme.

Mereka memiliki banyak cara agar sehasta demi sehasta, sejengkal demi sejengkal, Islam bergeser dari tapalnya, yakni Iman, Ilmu, dan Amal. Mereka boleh sulit memberangus faksi-faksi Jihad Islam. Namun mereka punya cara cantik, bagaimana memukul Islam melalui sendi vital dalam agama Islam itu sendiri, yakni tauhid.

Buktinya buku-buku New Age ala Islam laku keras di pasaran. Kata fitrah diredusir menjadi sekedar suara hati. Ideologi Islam mengalami perubahan makna menjadi spiritual Quotient. Visi peradaban yang dalam sejarah dibangun melalui ilmu dan jihad, kini ditegaskan cukup melalui paket-paket pelatihan. Bahkan kalimat Tauhid ditafsirkan dengan God Spot. Ya ide dari seorang Yahudi bernama Danah Zohar yang buku Spiritual Quotient-nya nyaris disetarakan sebagai Kitab Suci kaum New Age.

Gagasan Pluralisme Agama, Perenialisme Islam, Theosofi Islam, juga banjir proyek lewat kampus-kampus Islam yang ada. Lembaga Paramadina adalah kasus yang mewakili kekhawatiran ini. Dalam pengamatan penulis, buku “Agama Masa Depan Dalam perspektif Filsafat Perenial” karangan Komaruddin Hidayat terbitan Paramadina pada tahun 1995, termasuk buku awal yang menjelaskan pencampuran agama-agama lewat jalan perenialisme melalui ide yang sejatinya berasal dari theosofi (aliran kebatinan Yahudi) ini.

Bahkan kini di Jakarta telah berdiri Ibnu Arabi Society yang diketuai oleh Kautsar Azhari Noer seorang dosen filsafat UIN dan UI. Ibnu Arabi Society aktif menyelenggarakn seminar-seminar yang justru banyak mengaburkan pandangan-pandangan aseli Ibn Arabi tentang wahdatul wujud. Dalam salah satu seminarnya, yang penulis hadiri, Kautsar Azhari Noer menjelaskan penyatuan manusia dengan Roh Allah.

Baginya, Allah juga bagian dalam diri manusia karena cahaya Allah ada dalam diri manusia. Karenanya amat mungkin kita adalah manusia sekaligus Tuhan. Bayangkan Kautsar Azhari Noer pada hari itu seperti membaptis ratusan peserta sebagai Tuhan: serentak, bersamaan! Baru kali ini sejarah, ada Tuhan berjumlah ratusan berada dalam satu hotel yang sama pula.

Tak berhenti di situ, Filsuf muslim abad 12 itu diboncengi namanya dengan faham-faham kesatuan agama-agama. Padahal Ibn ‘Arabi tegas menyatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang sah di dalam pandangan Allah SWT. Menurut Ibn Arabi setelah Nabi Muhammad SAW diutus, maka pengikut agama-agama para Nabi sebelumnya, wajib beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan mengikuti syariatnya.

Sebab, dengan kedatangan sang Nabi terakhir, maka syariat agama-agama sebelumnya otomatis tidak berlaku lagi. Bahkan Dr Mohd Sani bin Badrun, alumnus ISTAC-IIUM, dalam tesisnya berjudul “Ibn al-‘Arabi’s Conception of Religion”, menegaskan bahwa menurut Ibn Arabi, Kaum Yahudi wajib mengimani kenabian Isa AS dan Muhammad SAW. Kaum Kristen juga wajib beriman kepada kenabian Muhammad SAW dan Alquran.

Jika mereka menolaknya, maka mereka menjadi kafir. Bahkan, Ibn Arabi pun berpendapat, para pemuka Yahudi dan Kristen sebenarnya telah mengetahui kebenaran Muhammad SAW, tetapi mereka tidak mau mengimaninya karena berbagai faktor, seperti karena kesombongan dan kedengkian. Kitab al-Futûhât al-Makkiyyah yang beredar sekarang ini pun diduga banyak dipalsukan, bahkan sejak penulisnya masih hidup sudah dibelokkan dan kemudian diisi ajaran wihdatul wujud (akidah hulûl dan ittihâd). (Pz/Islampos)
Read more...

New Age Movement, Ajaran Yahudi Berbungkus Pelatihan Motivasi (1)

Tidak ada komentar
Diupayakan di dunia ini hanya satu agama, yaitu agama Yahudi. Oleh karena itu segala keyakinan lainnya harus dikikis habis. Kalau dilihat di masa kini, banyak orang yang menyimpang dari agama. Pada hakekatnya kondisi seperti itulah yang menguntungkan yahudi (Protocol of Zion Ke 14)

new-ageTidak jarang kita mengamati banyak sekali pelatihan-pelatihan motivasi spiritual hadir di negara kita. Selain melejitkan potensi iman, ada pula yang mengaku bisa mendekatkan spiritualitas seorang hamba kepadaNya. Caranya simpel, anda hanya disuruh kosongkan pikiran, dengarkan hati nurani, ingat dosa-dosa anda dan rasakan ada titik Tuhan hadir di situ. Tak jarang air mata peserta meleleh setalah itu.

Namun uniknya, sekalipun banyak memakai embel-embel iman, training ini rupanya tidak cukup zuhud dan tawadhu. Ia banyak dijual lewat bandrol jutaan rupiah. Diisi oleh pengajar-pengajar berdasi. Bayangkan untuk kelas eksekutif saja, bisa dibandrol 5-7 juta rupiah. Yang gratis juga banyak, syaratnya anda harus masuk ke organisasi mereka, lalu ikut kelas-kelas penyatuan diri dengan tuhan lewat alunan musik.

Pelatihan model seperti ini mencoba meredusir Islam dari ideologi ke spiritualitas belaka. Dari tauhid menjadi macam-macam tuhan serba ada. Makanya anda jangan kaget, jika ada orang Budha, Hindu, Nashrani, Konghucu hadir di pelatihan ini. Dalihnya, bahwa mereka sama-sama memiliki suara hati seperti orang Islam. Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mengidentifikasi mana suara hati dan mana suara setan? Coba hitung dari pelatihan motivasi seperti ini mana yang lebih sering mereka sebut: Tuhan atau Allah?


New Age Dan Sejarah Kaballah
Kasus di atas adalah satu kisah dari sekian banyak cacat inflitrasi New Age Movement (NAM) atau gerakan zaman baru dalam kehidupan kita. NAM sendiri di Barat sangat laku. Ia bukan lagi sekedar alternatif dari kekosongan nilai masyarakat, namun telah menjadi “agama” baru Barat persis setelah Frederich Nietszche membunyikan lonceng kematian Tuhan yang menggema di seluruh Eropa dan Amerika.

Anda penasaran seperti apa rupa NAM? Wikipedia mengatakan NAM adalah gerakan spiritual non-agama Barat yang berkembang pada paruh kedua abad ke-20. Fokus utamanya berkisar pada penyatuan dunia Timur dan Barat pada tradisi spiritual metafisik semata. Upaya ini gencar dilakukan untuk menanamkan pengikutnya lewat pengaruh self-help, psikologi motivasi, kesehatan holistik, parapsikologi, penelitian kesadaran dan fisika kuantum.

Hal ini bertujuan untuk menciptakan spiritualitas tanpa batas atau dogma yang lebih inklusif dan pluralistik dalam kehidupan. Karakteristik lain dari NAM sendiri adalah bagaimana doktrin ini amat berpegang teguh pada pandangan dunia holistik, dalam arti bahwa Pikiran, Tubuh dan Roh saling berhubungan dan bahwa ada bentuk Kesatuan dan persatuan seluruh alam semesta. Lebih lanjut daripada itu, NAM berupaya simultan untuk menciptakan sebuah pandangan dunia yang meliputi ilmu pengetahuan dan spiritualitas.

Tidak selsai di situ, yang menarik ialah di paragraf terakhir Wikipedia menulis:
“The New Age movement includes elements of older spiritual and religious traditions ranging from atheism and monotheism through classical pantheism, naturalistic pantheism, and panentheism to polytheism combined with science and Gaia philosophy; particularly archaeoastronomy, astronomy, ecology, environmentalism, the Gaia hypothesis, psychology, and physics. New Age practices and philosophies sometimes draw inspiration from major world religions: Buddhism, Taoism, Chinese folk religion, Christianity, Hinduism, Islam, Judaism, Sikhism; with strong influences from East Asian religions, Gnosticism, Neopaganism, New Thought, Spiritualism, Theosophy, Universalism, and Western esotericism. The term New Age refers to the coming astrological Age of Aquarius”

Dengan begitu, di sinilah kedok NAM sejati terbuka lebar. Ia rupanya tidak lebih dari pengejawantahan dunia kemusyrikan, paganisme, dan theosofi sebagai prinsip dasar pergerakan.

Oleh karena itu, kita sebagai umat muslim patut waspada bahwa gerakan ini hanyalah peralihan wujud dari ide-ide kabbalah kuno dan misi Yahudi yang berlindung di kedok pelatihan kepribadian, spiritualitas, melejitkan potensi dan apalah namanya. Bahkan anda tahu, Nancy Percy, seorang pengkaji worldview dari Philadhelphia Biblical University, dalam tulisannya, Modern Islam And The New Age Movement menyatakan bahwa gerakan NAM hanyalah ekspresi yang lebih baru dari kecenderungan lama untuk mengimpor panteisme Timur ke dalam budaya Barat, yang dimulai dengan doktrinasi Plotinus dan neo-Platonisme.

JN Findlay, seorang teolog Kristen, juga mengatakan demikian. Ia beranggapan bahwa pengaruh pemikiran filsafat Yunani, khususnya Plato dan Neoplatonisme, pada perkembangan dalam Kabbalah telah lama diakui. Sejumlah Kabbalis mencatat ahwa ada hubungan erat antara Kabbalah dan filsafat Platonis. Dan fakta menunjukkan Kabbalah adalah sumber tunggal untuk ide-ide Platonis dan Neoplatonis yang kemudian akan berubah warna dari gagasan ancient wisdom kepada apa yang kita kaji sekarang ini (baca: NAM).

Plato sendiri adalah seorang peletak dasar etika filsafat Yunani yang kuat atas ide-ide penyatuan manusia dengan Tuhan. Oleh karena itu, David Livingstone, seorang pakar kajian Kabbalah, dalam tulisannya, Plato The Kabbalist, menyatakan bahwa menjadi keprihatinan kita semua bahwa gurita filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai “godfather” dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.

Plato dalam gagasannya mengatakan bahwa jiwa manusia tidaklah mati. Ketika kematian datang kepada tiap individu, ia akan bergabung kepada Sang Maha Baik. Doktrin ini mirip dengan Film yang banyak menyebarkan gagasan NAM, yakni Avatar. Dalam film berdurasi kurang lebih tiga jam dan menjadi top seller di Amerika ini, digambarkan bahwa bahwa jiwa insan manusia tidaklah mati, sebab mereka akan bergabung dengan Roh Eywa. Roh Eywa jangan kita tafsirkan adalah Allah. Sebab Eywa dalam mistisme Avatar, tidak lebih dari perwujudan Yahweh dalam agama Yahudi.

Peralihan doktrin dalam film Avatar ini sebelum menjadi pegangan NAM, sebenarnya bukan ide baru sebab ia telah diperkenalkan oleh Yahudi Mazhab Hasidik. Yudaisme Hasidik sendiri dipelopori oleh Baal Shem Tov pada medio 1600 hingga 1700 Masehi.

Menurut Michael Keene dalam bukunya “Agama-agama Dunia” menjelaskan bahwa Yudaisme Hasidik meninggalkan pendekatan orthodoks pada hal-hal ilmiah dan memuaskan perhatian pada tradisi ritual dan mistis Yahudi. Berbeda dengan mazhab Yahudi lainnya, pemimpin Yudaisme Hasidik (Rebbe) dipercayai memiliki karunia spiritual melebihi karunia yang diberikan pada rabbi pada umumnya. Gerakan Hasidik ini kemudian banyak menancapkan kuku baik di Israel maupun Amerika lewat penyatuan manusia dan Yahweh.

Oleh karena itu, ajaran NAM memang memiliki pandangan yang sejalan dengan ide-ide Kabbalah, Filsafat Plato, neo Platonisme, hingga theosofi. Akhirnya dengan begini kita bisa mengerucutkan pada garis umum tentang sifat sejati ajaran NAM sendiri yang berpijak pada lima elemen penting, yakni:
  1. Monisme, keyakinan bahwa segala sesuatu yang ada, merupakan derivasi (penjabaran) dari sumber tunggal devine energy. Pada tingkat tertentu dapat digabungkan menjadi kesatuan dari semuanya.
  2. Pantheisme, yakni gagasan God is all and all is god, Allah adalah segala sesuatu dan segala sesuatu adalah allah. God within ourself atau Allah dalam diri kita. Bandingkan dengan God Spot ala Danah Zohar.
  3. Reinkarnasi, keyakinan bahwa jiwa manusia kembali pada eksistensi jas-maniah berulangkali, hingga mencapai keadaaan terbaik dan tertinggi dari Great Oneness atau keesaan agung alam semesta.
  4. Pencerahan, kepercayaan bahwa kita memiliki pengetahuan rahasia yang terkandung di alam bawah sadar kita. Sebagaimana disebutkan oleh Carl Gustave Jung, bawah sadar kolektif umat manusia memungkinkannya dapat memanipulasi energi dan zat [roh] dengan pikirannya, dan melaluinya dapat memperoleh kekayaan dan kesehatan.
  5. Spiritisme, keyakinan bahwa ada roh-roh yang dapat dihubungi oleh orang-orang mati sehingga dapat memberi wawasan kepada seseorang mengenai etika dan makna kehidupan di bumi.
Dengan menelisik data dan fakta yang ada, kita bisa menyimpulkan bahwa sejarah NAM adalah sejarah panjang sekaligus kelam dari kontinuitas ajaran Kabbalah yang ingin mewujudkan dunia ini dalam satu pandangan yakni Novus Ordo Seclorum. Pandangan ini tidak lebih ingin meredusir agama pada sisi spiritualitas belaka yang ujungnya akan menafikan peran Tuhan dalam agama tauhid, penyatuan manusia dengan tuhan, doktrin humanisme sekular, dan yang paling kita patut waspadai adalah membentuk kerajaan tunggal dimana dunia akan digerakkan oleh satu kekuatan, yakni Al Masihuddajal. (Pz/islampos.com/Bersambung)
Read more...

Perayaan Tahun Baru dan Serangan Hadlarah Asing

Tidak ada komentar
Hingar bingar penyambutan tahun baru 2013 semakin memuncak, tak terkecuali di Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim.  Pergantian tahun pada kalender Masehi itu hampir selalu menjadi rutinitas perayaan yang tidak boleh terlewatkan oleh semua kalangan umur.  Libur panjang yang beriringan dengan Natal bahkan bertepatan dengan liburan sekolah menambah riuh orang-orang yang berkeinginan melalui pergantian tahun itu dengan berbagai kegiatan spesial.  Mereka umumnya beralasan bahwa pergantian tahun adalah kesempatan yang hanya datang setahun sekali, maka apa salahnya jika dirayakan atau diisi dengan kegembiraan melebihi hari-hari biasanya.

Bagi muslim, merayakan tahun baru Masehi sebenarnya merupakan aktivitas terlarang.  Sebab, perayaan tahun baru merupakan bentuk kebudayaan (hadlarah) dari luar Islam. Tahun baru pertama kali dirayakan pada tanggal 1 Januari 45 SM. Pada mulanya perayaan ini dirayakan oleh orang Yahudi yang dihitung sejak bulan baru pada akhir September. Selanjutnya menurut kalender Julianus, tahun Romawi dimulai pada tanggal 1 Januari. Kalender Julian ini kemudian digunakan secara resmi di seluruh Eropa hingga tahun 1582 M ketika muncul Kalender Gregorian.

Januari dijadikan sebagai awal tahun karena diambil dari nama dewa Romawi “Janus” yaitu dewa bermuka dua ini, satu muka menghadap ke depan dan yang satu lagi menghadap ke belakang. Dewa Janus adalah dewa penjaga gerbang Olympus. Sehingga diartikan sebagai gerbang menuju tahun yang baru.

Tradisi perayaan tahun baru di beberapa negara terkait dengan ritual keagamaan atau kepercayaan mereka—yang tentu saja sangat bertentangan dengan Islam.  Salah satu contohnya di Brazil.  Pada tengah malam setiap tanggal 1 Januari, orang-orang Brazil berbondong-bondong menuju pantai dengan pakaian putih bersih.  Mereka menaburkan bunga di laut, mengubur mangga, pepaya dan semangka di pasir pantai sebagai tanda penghormatan terhadap sang dewa Lemanja—Dewa laut yang terkenal dalam legenda negara Brazil.

Begitulah, tahun baru di beberapa tempat dalam perjalanannya identik dengan kebudayaan yang berkaitan dengan akidah (keyakinan) tertentu.  Bahkan kini -di Barat khususnya- tahun baru identik dengan budaya hura-hura dan seks bebas.  Semua bentuk perayaan tersebut jelas-jelas merupakan tindakan penyimpangan terhadap akidah dan syariah yang diturunkan Allah SWT.  Perayaan tahun baru adalah budaya yang dimiliki oleh kaum di luar Islam.

Namun mengapa saat ini kaum muslim latah ikut-ikutan merayakan, atau membesarkannya meski dengan sekedar ucapan selamat tahun baru, atau bersuka ria memadati tempat-tempat hiburan khususnya pada malam pergantian tahun.

Kaum muslim memang menggunakan kalender Masehi yang notabene menjadi patokan penanggalan internasional.  Namun bukan berarti kaum muslim layak membesarkan atau merayakan pergantian tahun.  Sebab, merayakan hari pergantian tahun (tanggal 1 Januari) sudah identik dengan budaya tertentu.  Identitas ini tidak bisa hilang hanya karena kaum muslim menggunakan kalender tersebut.  Sebab, bagi muslim pergantian tahun tidak bernilai apa-apa selain bergantinya waktu (dari tanggal 31 Desember menjadi 1 Januari).  Syara’ tidak memandang adanya keutamaan pada tanggal tersebut.  Maka, mengapa mereka menganggap bahwa kehadiran 1 Januari adalah masa spesial yang menuntut perayaan.

Sesunguhnya, yang terjadi adalah infiltrasi budaya kufur di tengah-tengah kaum muslim.  Dan kini, sebagian besar muslim telah benar-benar terseret dalam budaya kufur tersebut.  Mereka tidak merasa bahwa perayaan tahun baru adalah hadlarah (budaya) asing.  Bahkan mereka menganggapnya sebagai sebuah kewajaran.

Sebagian lagi beranggapan bolehnya merayakan tahun baru asal tidak melakukan perbuatan terlarang, seperti seks bebas, pesta miras, ugal-ugalan di jalan dan sejenisnya.  Pandangan seperti ini tentu saja keliru.  Inilah bentuk keberhasilan musuh-musuh Islam dalam menggiring kaum muslim agar terjatuh dalam budaya asing.  Mereka berhasil menggeser makna perayaan tahun baru yang sebenarnya sudah identik dengan budaya tertentu, dengan ajakan halus bernuansa kemanusiaan.  Tanggal 1 Januari berhasil dipaksakan sebagai hari raya internasional.

Padahal, sebuah hadlarah -yang terikat dengan pandangan atau akidah tertentu- selamanya akan mengikat bagi pemeluknya.  Demikian pula dengan perayaan 1 Januari, ia tetap lekat dengan budaya kaum merayakan di awal kelahirannya.  Oleh karena itu, kaum muslim yang merayakan tahun baru meski dengan aktivitas yang mubah hakikatnya telah terperangkap pada hadlarah asing.
Sesungguhnya Syariah Islam tidak mengajarkan perayaan selain pada dua hari raya, yaitu hari raya Idul Fitri dan Idul Adha.  Rasulullah Saw bersabda :
“Sesungguhnya setiap kaum mempunyai hari raya, dan ini (Idul Adhha dan Idul Fitri) adalah hari raya kita” (HR. Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a.).

Dalam hadist lain, dari Anas bin Malik ra. beliau berkata : Rasulullah Saw. tiba di Madinah dan mereka memiliki dua hari yang mereka bermain-main di dalamnya. Lantas beliau bertanya, ”Dua hari apa ini?”  Mereka menjawab, ”Hari dahulu kami bermain-main di masa jahiliyah.” Rasulullah Saw. bersabda :
”Sesungguhnya Allah telah menggantikan kedua hari itu dengan dua hari yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari idul adhha dan idul fithri.” [Shahih riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, an-Nasaî dan al-Hakim.]

Dengan demikian tanggal 1 Januari tidak layak mendapatkan pengagungan, apalagi perayaan, meski hanya dengan ucapan selamat.  Sebab, semua aktivitas tersebut adalah bentuk kegembiraan atas momentum tertentu yang tidak disyariatkan.  Terlebih, tanggal 1 Januari sudah identik dengan budaya di luar Islam.

Rasulullah Saw. juga pernah bersabda : ”Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud).  Hadits ini sekaligus memperingatkan agar kaum muslim menjauhkan diri dari kebiasaan kaum di laum Islam.

Dengan demikian, perayaan, kegembiraan, ucapan selamat dan sejenisnya yang dilakukan semata-mata karena hadirnya 1 januari adalah bentuk pengekoran terhadap budaya di luar Islam.  Kaum muslim haram melakukannya.  Apa yang terjadi saat ini menjadi bukti kebenaran sabda Rasulullah Saw.  Dari Abu Hurairah r.a , Rasulullah saw bersabda:
 “Hari kiamat tak bakal terjadi hingga umatku meniru generasi-generasi sebelumnya, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, seperti Persi dan Romawi?” Nabi menjawab: “Manusia mana lagi selain mereka itu?” (HR. Bukhari no. 7319)
Semoga kita senantiasa diberi kekuatan untuk memerangi budaya kufur dan berjuang menegakkan khilafah Islamiyyah yang akan membentengi umat dari semua bentuk serangan budaya kufur.  Aamiin. [] Noor Afeefa

hizbut-tahrir
Read more...

Farid Wajdi: Tahun baru, puncak kemaksiatan yang didukung media massa

Tidak ada komentar
JAKARTA - Pergantian tahun baru tinggal menghitung hari, biasanya masyarakat akan menyambutnya dengan perayaan gegap gempita hampir diseluruh dunia. Namun, hal itu pada hakikatnya merupakan merupakan kebiasaan orang-orang kafir. Perayaan malam tahun baru menjadi puncak kemaksiatan. Anak-anak muda melakukan hura-hura, pesta narkoba, hingga seks bebas, dengan alasan merayakan malam tahun baru.

Penegasan itu disampaikan Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Farid Wajdi seperti dilansir itoday (26/12). "Malam tahun baru menjadi puncak kemaksiatan. Anak muda melegitimasi kemaksiatan di tahun baru," tegas Farid.
 
Farid Wajdi mengingatkan, hura-hura di malam tahun baru menjadi cerminan bahwa kapitalisme semakin dominan.  Kapitalisme mengutamakan kepentingan kapital, di mana ada dorongan kuat untuk digelar acara-acara hedonis dan hura-hura. Di balik acara tahun baru ada kepentingan bisnis, mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya sebanyak-banyaknya. 

Menurut Farid, perilaku hedonis kaum muda di malam tahun baru sulit dibendung. Salah satunya penyebabnya, himbauan ulama untuk menghentikan perilaku hedonis tidak tersosialisasikan dengan baik. "Himbauan ulama tidak maksimal karena tidak seimbang dengan sosialiasi ide-ide sekuler dan hedonisme. Media massa, utamanya televisi terlihat gencar mem-blow up acara hura-hura di malam tahun baru," tegas Farid.

Terkait mandulnya himbauan ulama, Farid  menegaskan bahwa Indonesia menganut paham negara sekuler dan liberal, sehingga ulama tidak diberikan tempat di antara kepentingan-kepentingan liberal dan sekuler.

"Ada kepentingan politik dan ekonomi dalam perayaan tahun baru, sehingga pemerintah enggan membuat aturan hukum yang melarang hura-hura di malam tahun baru. Kepentingan ekonomi, tahun baru bagi kelompok kapitalis sangat luar biasa bisa meraup keuntungan. Kepentingan politik, yaitu membudayakan budaya hedonis, sekuler untuk menjauhkan anak muda dari ajaran agama," pungkas Farid. (bilal/arrahmah.com)
Read more...

Akhir Tahun, Prioritaskan Muhasabah dan Peningkatan Iman

Tidak ada komentar

 

UMUR tahun masehi 2012 akan segera berakhir.  Biasanya, tradisi banyak orang menyambutnya dengan gegap gempita diiringi hura-hura. secara historis-filosofis, penanggalan Masehi merupakan manivestasi keyakinan Yunani Kuno dan ajaran Kristen.
E. Darmawan Abdullah dalam bukunya ‘Jam Hijriyah’ menjelaskan bahwa Tahun Masehi adalah penanggalan yang bersumber pada tradisi orang Romawi. Dalam ssejarahnya, penanggalan Romawi berawal dari penaanggalan yang dibuat oleh orang-orang Yunani kuno untuk menandai kelahiran dewa matahari.

Ketika kaisar Romawi memeluk agama Kristen, berarti keyakinan leluhurnya terhadap dewa matahari harus ditinggalkan dan menyembah Yesus Kristus sebagai tuhannya. Sejak saat itulah, penanggalan Masehi menetapkan hitungan tahun pertamanya pada hari kelahiran Isa Al-Masih, itulah penanggalan Masehi. Jadi, penanggalan Masehi adalah manivestasi keyakinan Kristen.

Seperti diketahui, nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi masih menggunakan nama-nama para dewa Yunani kuno. Terdapat 6 dari 12 nama-nama bulan yang menggunakan nama-nama dewa dan dewi sembahan mereka. Enam bulan pertama (Januari – Juni) adalah nama para dewa, bulan ke 7 dan ke 8 menggunakan nama raja mereka, sedangkan bulan ke 9 sampai ke 12, menggunakan nomor urut bilangan bulan.

E. Darmawan Abdullah menilai tidak dihapuskannya nama-nama bulan dalam penanggalan Masehi oleh kaisar Romawi kala itu, adalah dalam rangka memperingati kebesaran bangsa Romawi, sehingga nama bulannya tetap eksis, abadi melayani sejarah kehidupan. Kaisar tidak ingin dunia tidak mengenal kebesaran bangsa Romawi.

Karena itu, tidak semestinya umat Islam perlu bergegap gempita menyambut pergantian tahun yang menyisakan hitungan hari ke depan. Hal itu tidak lain karena Masehi adalah manives keyakinan agama lain. Sementara Islam, melarang keras umatnya ikut-ikutan dalam perkara-perkara yang merupakan manives dari agama lain.

Perlu diketahui juga di sini, bahwa awalnya penanggalan Roma hanya berjumlah 10 bulan dalam setahunnya (Maret – Desember). Nah, seiring perjalan waktu dan terkuaknya ilmu astronomi yang menemukan bahwa setahun itu ada 12 bulan, maka di kemudian hari, bulan pun ditambah dua, yaitu Januari dan Februari, sehingga lengkaplah tahun Masehi menjadi 12 bulan.

Tidak berhenti di situ, pergantian nomor urut pun tidak bisa dihindari. Bulan Maret yang awalnya bulan pertama diganti dengan bulan Januari. Mengapa? Ya karena Januari adalah nama dewa Janus (penjaga gerbang). Jadi, tepat jika berada di awal tahun. 

Muhasabah


Secara akidah, ikut merayakan perayaan Tahun Baru Masehi adalah keliru. Secara empiris, tidak relevan jika pergantian tahun dihadapi dengan pesta dan hura-hura. Meski demikian, setidaknya, karena tradisi itu terjadi di sekitar kita,  maka sebaiknya kita bisa mensikapinya atau mengajak yang lain memanfaatkannya dengan cara yang baik.

Cara yang tepat dengan adanya pergantian tahun adalah dengan cara muhasabah  atau introspeksi diri. Muhasabah adalah melakukan evaluasi, dan bersikap kritis kepada diri sendiri. Bermuhasabah berarti mencoba mengenali kelebihan dan kekurangan yang ada. Kelebihan yang diberikan Allah akan dimanfaatkan untuk menambah raihan kebaikan. Sementara kekurangan dijadikan sebagai momentum memperbaiki diri agar lebih baik dari waktu ke waktu.Demikian keadaan orang yang aktif melakukan muhasabah.

Introspeksi  dengan melakukan renungan tentang umur, harta, kesempatan, dan waktu yang ada. Untuk apa umur kita selama ini? Dari mana kita memperoleh harta dan ke mana harta tersebut kita keluarkan? Bagaimana kita memanfaatkan kesempatan yang ada? Dan dengan apa kita mengisi waktu hidup ini?

Nabi mengajarkan kepada kita untuk muhasabah lewat sabdanya; “Orang yang beruntung adalah orang yang menghisab dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsu serta berangan-angan terhadap Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. Turmudzi). [baca juga: Teladan Salafus Shalih Dalam Muhasabah]

Karenanya sungguh menyedihkan jika kita ikut merayakan pergantian tahun apalagi dengan cara karaokean, plesiran, begadang semalam suntuk laki dan perempuan bercampur.
Hakikat Waktu


Berbicara waktu, menarik apa yang disampaikan oleh Malik Bennabi dalam bukunya ‘Syurutu al-Nahdhah’.


Ia mengatakan, “Tidak terbit fajar suatu hari, kecuali dia berseru. "Putra-putri Adam, aku waktu, aku ciptaan baru, yang menjadi saksi usahamu. Gunakan aku karena aku tidak akan kembali lagi sampai hari kiamat."


Kemudian, ia melanjutkan, “Waktu adalah sungai yang mengalir ke seluruh penjuru sejak dahulu kala, melintasi pulau, kota, dan desa, membangkitkan semangat atau meninabobokan manusia. Ia diam seribu bahasa, sampai-sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya, walaupun segala sesuatu --selain Tuhan-- tidak akan mampu melepaskan diri darinya.


Jadi, jangan sepelekan waktu, apalagi dengan melakukan hal-hal yang kita tidak mengerti apa alasan dan manfaat melakukan sesuatu. Berhati-hatilah, waktu adalah penentu. Dan, kelak setiap perbuatan pasti akan dimintai pertanggungjawaban.
عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ
“Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (Al-Hijr: 92-93).

Prioritaskan Iman


Sekarang saatnya umat Islam berpikir dan terus-menerus menggali apa sebenarnya makna kehidupan ini. Dan, dalam konteks sekarang, apa urgensi dan argumentasinya umat Islam ikut-ikutan bergembira merayakan Tahun Baru.

Kaji sejarahnya, pelajari mengapa umat Islam juga punya kalender sendiri. Apakah itu sekedar hanya berbeda atau justru bentuk pengabdian sebuah keyakinan? Jika itu ternyata bentuk keyakinan, maka jelas, umat Islam terlarang mengikuti perayaan agama lain.

Dengan demikian, setelah jelas apa itu Masehi dan bagaimana sejarahnya, akan sangat baik jika semua umat Islam, keluarga Muslim, generasi muda Muslim memprioritaskan program peningkatan iman, yang nyata lebih dibutuhkan, daripada sekedar ikut-ikutan orang merayakan sesuatu yang sebenarnya tidak dikenal dalam ajaran Islam.

Berbicara tahun, berarti membahas waktu. Al-Qur’an (Al-Ashr : 1 – 3) mengingatkan kita tentang urgensi waktu. Disebutkan bahwa semua manusia itu merugi, melainkan yang beriman (hidup sehari-harinya; pikiran, ucapan, dan aktivitasnya hanyalah untuk menguatkan dan menyempurnakan iman dengan senantiasa beramal sholeh, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).

Jadi, sangat baik jika kita semua senantiasa menghias diri dengan hal-hal yang dapat meningkatkan iman. Bukan sebaliknya, justru melemahkan bahkan merusak iman sendiri.

Padahal, Allah Subhanahu Wata’ala mengingatkan kita agar senantiasa sigap dalam mempersiapkan hari esok (akhirat) dengan ketakwaan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS: Al-Hasyr [59]: 18).

Oleh karena itu, perbanyaklah membaca al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, bersilaturrahim dengan keluarga jauh, atau menyantuni saudara kita yang membutuhkan. Hal itu akan sangat baik bagi kehidupan dunia akhirat kita, daripada mengeluarkan uang beli terompet, bakar petasan, kembang api, atau aktivitas-aktivitas mubadzir lainnya.*/Imam Nawawi 

hidayatullah
Read more...

"Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

Tidak ada komentar
Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA hari Kamis (8/11/2012) pagi, saya berkesempatan menonton tayangan langsung acara pembukaan “Bali Democracy Forum V” di Bali. Acara itu dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri sejumlah kepala negara dan pemerintahan.  Saat menyampaikan sambutan, Presiden SBY mengucapkan basmalah, salam secara Islam, dan juga ungkapan “Om Swastyastu” – sebuah salam khas agama Hindu. Pejabat sebelumnya pun melakukan hal yang sama. 

Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu. Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”. 

Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”. 

Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu.  Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara”  (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu.  Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut  “Allah”.  Disimpulkan oleh penulis buku ini:

“Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
   
Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan:

“Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31). 

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik.  Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:                   

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).  

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam,  buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu”  ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut:                    

“Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.
   
Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…

Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).
                    ****
Begitulah pandangan kaum Hindu terhadap konsep Tuhan Islam dan konsep manusia dalam Islam.   Karena begitu membanggakan agamanya, sebagian kaum Hindu, tampaknya sangat berambisi untuk mengubah kembali Indonesia menjadi negara Hindu.  Majalah MEDIA HINDU (edisi Juli 2012), menurunkan laporan utama bertajuk: “Hindu dengan Label Bali Tidak Laku”. 

Dilaporkan, pada tanggal 19 Mei 2012, telah diselenggarakan sebuah acara dialog bertema: “Dialog Kebangkitan Hindu di Tanah Jawa.”  Menurut majalah ini: “Kebangkitan Hindu bukan hal yang mustahil terjadi, dengan catatan kita harus berani menunjukkan eksistensi dan jati diri Hindu. Ini sangat penting.”
Katanya, kebangkitan Hindu di Nusantara dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama, kebangkitan tahun 1970-an.  “Pada awal kebangkitan pertama tersebut harus diakui bahwa nostalgia kembalinya kejayaan Hindu di Nusantara sepertinya sudah di depan mata.” Tapi, setelah 40 tahun kebangkitan Hindu pertama itu, perkembangan Hindu tidak sehebat dulu lagi. “Suara Hindu masih belum banyak diperhitungkan pada setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama mayoritas justru semakin menunjukkan hegemoni yang memperberat kehidupan berbangsa dan bernegara.” 

Dalam artikel berjudul “Mengkondisikan Jawa Kembali Hindu” di majalah ini dikatakan: “Kita semua mendambakan Jawa kembali Hindu, guna mengiringi kejayaan bangsa Indonesia menjadi negara adidaya di tahun 2080 an, sebagaimana sabda Pandita Ratu Jayabaya, ramalan Sabdo Palon dan prediksi para ahli kelas dunia seperti Goldman Sach. Untuk diperlukan kondisi yang mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya Hindu di Jawa atau bagaimana menjadikan Jawa kondusif untuk kembali menjadi Hindu.”
Ditargetkan, sepuluh tahun ke depan, 30 persen penduduk Indonesia sudah kembali menjadi Hindu dan ditahun keadidayaan bangsa ini, yaitu di tahun 2080, 80  persen sudah kembali Hindu. “Yang pada gilirannya menjadi bangsa yang telah menemukan kembali kepribadiannya, yang telah berpijak pada jatidirinya dan menjadi pusat kebudayaan dunia.” 

Ambisi untuk meng-Hindukan kembali Indonesia sudah pernah diungkap dalam Majalah MEDIA HINDU, edisi Oktober 2011, yang saat itu menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit”. Ditegaskan pada bahasan utama: “Kembali pada Hindu, sebagai satu-satunya langkah utama untuk mengantar Indonesia ini kembali menjadi Negara Adidaya.” 
Lalu disimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju.”

Hindu Pluralis?
Membaca pemikiran kaum Hindu yang begitu berambisi untuk menghindukan kembali Indonesia, cukup memunculkan tanda tanya tentang klaim Hindu sebagai agama pluralis yang sangat toleran dengan kepercayaan agama-agama lain, sebagaimana pernah dipaparkan di Majalah MEDIA HINDU edisi  April 2010. Dalam kolomnya yang berjudul  ‘Pluralisme Surga’,  Ngakan Putu Putra menyebutkan dukungan kuat terhadap gagasan pluralisme agama. Ia menulis sebagai berikut :

"Meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pada akhir Desember 2009, bagaikan momentum sebuah perayaan atas pluralisme agama. Doa bersama oleh tokoh berbagai agama dilakukan di kediaman mendiang, maupun di tempat  ibadah masing-masing, berbagai tulisan diterbitkan, buku tentang Gus Dur diluncurkan, seperti yang dilakukan di Pura Aditya Jaya Rawamangun, tanggal 8 Februari yang dihadiri oleh perwakilan keluarga, perwakilan majelis agama para sahabat yang memberikan testimoni, diikuti dengan doa bersama.

Penghormatan ini memang pantas, karena jasanya yang besar untuk mengembangkan pluralisme agama di Indonesia, yang dilakukannya secara konsisten sejak muda, melalui tulisan-tulisannya di media massa, dialog yang dilakukannya ketika menjadi ketua umum PBNU, dan keputusan ang diambilnya ketika menjadi Presiden, yang paling fenomenal adalah pengakuannya terhadap agama Konghucu dan diperbolehkanna Imlek. Gus Dur juga sering datang ke pura dan ashram di Bali dan ikut sembahyang dan bhajan.

Namun dibalik perayaan itu, yang melambangkan optimisme akan pluralisme di Indonesia, yang sebetulnya sudah dirumuskan oleh Mpu Tantular pada abad 15, terselip juga kekhawatiran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang di dalamnya terdapat wakil-wakil dari organisasi massa Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah beberapa tahun lalu mengeluarkan fatwa mengharamkan pluralisme. Sekalipun mendapat kritik keras dari berbagai kalangan sampai saat ini fatwa itu belum dicabut….

Agama-agama Timur seperti Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh tidak mengalami kesulitan untuk menerima pluralisme agama. Sikap pluralistik itu berakar di dalam ajarannya. Sementara agama-agama Semitik bersifat anti-pluralisme. Paus Benedict XVI, pemimpin Gereja Katolik Roma, menolak menghadiri doa bersama para tamunya, para tokoh berbagai agama di dunia yang diundangnya untuk acara dialog antar agama, yang diadakan di Vatikan, 2007. Karena bila dia ikut dalam doa bersama itu, akan memberi kesan bahwa dia mengakui semua agama memiliki kebenaran yang sama. Tuan rumah yang arogan.’’ 

Di MEDIA HINDU edisi yang sama, diturunkan artikel dari I Ketut Budiasa, berjudul ‘Hindu, Pluralisme, dan Masa Depan Umat Manusia’.  Ditulis dalam artikel ini : "Agama Hindu tidak bermasalah dengan pluralisme."  Lalu, ditegaskan : "Manusia membutuhkan paham ketuhanan Hindu untuk menciptakan masa depan umat manusia yang damai di bumi yang dihuni bersama ini. Hanya dengan pandangan ketuhanan Hindu dan "sifat-sifat Tuhan Hindu"  manusia dapat menciptakan masa depan yang damai secara hakiki dan tulus." 

Menurut penulis, Hindu tak membagi manusia ke dalam ‘pemuja Tuhan’ dan ‘musuh Tuhan’. Apakah matahari hanya memberi sinarnya kepada sekelompok orang ? Bahkan, ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran. Selanjutnya dikatakan: "Tuhan Hindu’’ yaitu Tuhan dalam konsep dan pandangan agama Hindu, yang disebut dengan berbagai nama : Brahman, Wisnu, Siwa, Rudra, dan ratusan atau bahkan mungkin ribuan nama lain, bukanlah Tuhan pencemburu.’’
Membaca persepsi dan ambisi kaum Hindu, kita patut bertanya: Jika Hindu mengaku sebagai agama pluralis dan toleran dengan kepercayaan agama lain, harusnya tidak mengritik konsep agama-agama lain, dan tidak berambisi meng-Hindu-kan kembali Indonesia.*/Depok, 12 November 2012 

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

hidayatullah
Read more...

Category

Popular Posts

facebook