Comments

Tampilkan postingan dengan label SBY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SBY. Tampilkan semua postingan

SBY Klaim 9 Juta Rakyat Indonesia Keluar Dari Kemiskinan?

Tidak ada komentar
SBY
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan, jumlah rakyat miskin di Indonesia saat ini telah turun 9 juta jiwa. Jika sebelumnya 16,58% pada 1997 menjadi 11,66% saja pada tahun 2012.
“Kami telah mengentaskan sekitar 9 juta orang keluar dari kemiskinan dalam jangka waktu lima tahun. Kami berkomitmen untuk menjaga kemajuan ini di masa datang,” kata Presiden saat menyampaikan pidato kunci (keynote speech) pada pembukaan Kantor Wilayah Regional Abdul Latif Jameel Poverty Lab (J-PAL) di Jakarta, Selasa (25/6).
Hadir pada kesempatan itu, Menko Kesra Agung Laksono, Menlu Marty Natalegawa, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, Menteri PPN/ Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, dan Mensesneg Sudi Silalahi.
Presiden optimistis, angka kemiskinan di negeri berpenduduk 250 juta jiwa ini akan terus menurun seiring upaya pemerintah menjalankan berbagai program yang dapat membantu masyarakat keluar dari belenggu ketidakmampuan.
Disebutkan bahwa pada 2014, disaat pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono berakhir, kemiskinan di negeri ini hanya sekitar 8-10% dari total penduduk.
“Memerangi kemiskinan termasuk dalam empat langkah strategi pembangunan Indonesia, yakni pro-pertumbuhan, pro-pembukaan lapangan kerja, pro-pengentasan kemiskinan, dan pro-lingkungan,” katanya.
Pada kesempatan itu, Kepala Negara secara khusus mengajak J-PAL dapat berpartisipasi aktif membantu pemerintah memerangi kemiskinan, terutama melalui berbagai kajian dan evaluasi dampak kebijakan pengentasan kemiskinan.
“Saya ingin mendapatkan wawasan dari temuan J-PAL dalam rangka meningkatkan dan memperbaiki cara bagaimana untuk memerangi kemiskinan di Indonesia," ujar Kepala Negara.
Dia menyatakan, empat program pro-rakyat yang diterapkan sejak awal pemerintahannya pada 2004 terbukti telah menghasilkan pertumbuhan dan menciptakan lapangan kerja dan kesempatan ekonomi.
Strategi Pertumbuhan

Strategi yang diterapkan juga telah merangsang pertumbuhan, mengurangi ketimpangan, dan meminimalisasi kemiskinan sehingga dapat membangun rakyatnya dari level bawah menuju kelas menengah.

“Ini adalah strategi yang menghasilkan pertumbuhan untuk menjaga lingkungan untuk masa depan,” tegas Presiden.
Menurut Presiden, dalam mewujudkan program pembangunan, pemerintah menerapkan strategi kebijakan ekonomi makro dan kebijakan afirmatif. Implementasi kebijakan ekonomi makro, lanjutnya, salah satu di antaranya adalah program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang tersebar di enam koridor ekonomi.
Sejak diluncurkan pada Februari 2011, MP3EI telah menggalang dana Rp 623,91 triliun yang dialokasikan untuk membangun 184 proyek, yang melibatkan sektor swasta (44%), perusahaan milik negara (19,5%), pemerintah melalui APBN (19%), dan sisanya berasal dari patungan antara investasi swasta dan BUMN.
“Model apapun pembangunan yang diterapkan sebuah negara, tujuan utamanya adalah mengurangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” jelas dia.
Sementara itu, kebijakan pengurangan kemiskinan, pemerintah menerapkan empat kluster yang terdiri atas perlindungan sosial, pemberdayaan masyarakat, kewirausahaan melalui usaha kecil dan menengah (UKM), dan pengembangan program-program yang berfokus pada membantu masyarakat.
“Tujuannya adalah mengurangi biaya hidup masyarakat melalui penyediaan perumahan dengan harga terjangkau, transportasi murah serta ketersediaan air bersih, dan kelistrikan,” kata Presiden. [beritasatu.com]


Kemiskinan di Indonesia turun dari 16,58 persen di tahun 2007 menjadi 11,66 persen pada 2012. "Ini berarti bahwa kita telah mengangkat sekitar 9 juta orang keluar dari kemiskinan dalam jangka waktu lima tahun," kata Presiden SBY. Indonesia, lanjut SBY, bertekad menurunkan angka kemiskinan ini menjadi 8-10 persen pada tahun 2014 (presidenri.go.id,] 25/6)



Kom:

» Jumlah penduduk miskin di Indonesia memang berkurang karena standar kemiskinan diturunkan BPS dari semula USD 1 perhari menjadi hanya Rp 7000 perhari. Padahal, uang segitu mana cukup untuk hidup sehari? Please deh... 

» Kalau memakai standar kemiskinan internasional yang digunakan Bank Dunia sebesar USD 2 perhari (setara Rp 500 ribu sebulan), jumlah penduduk miskin di Indonesia nyaris 100 juta jiwa. Jadi, berhentilah mengklaim kesuksesan semu, Mr President... Karena faktanya tidaklah seperti yang Anda katakan


[M. Ikhsan Abdul Jalil]

Read more...

SBY Terima Penghargaan World Statesman Award 2013

Tidak ada komentar

SBY Mendapat World Statesman Award
Setelah mengikuti serangkaian acara terkait posisinya sebagai Co Chair Panel Tingkat Tinggi PBB, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) hari Kamis (30/05/2013) malam waktu setempat atau Jumat (31/05/2013) pagi WIB, menerima penghargaan World Statesman Award 2013 dari Appeal of Conscience Foundation (ACF) di Garden Foyer, Hotel The Pierre, New York, Amerika Serikat.

Dalam sambutannya Presiden SBY mengucapkan terima kasih atas penghargaan tersebut dan mengatakan, bahwa penghargaan ini pada hakekatnya merupakan penghargaan bagi rakyat Indonesia yang telah bekerja keras untuk mendorong dan menciptakan perdamaian dan kondisi bangsa yang baik.

Ia berharap semoga penghargaan itu menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk melanjutkan upaya kita mempromosikan kemanusiaan dan kebaikan bagi semua pihak.

“Semoga kerja keras dan ketetapan hati bangsa Indonesia semakin memperkuat upaya pencapaian impian para pendiri bangsa yaitu terciptanya masyarakat yang harmonis disatukan oleh kedamaian dan kesejahteraan," ujar Presiden SBY dikutip laman SetKab.

SBY juga menegaskan, kecakapan sebagai negarawan pencapaiannya tidak selalu hasil dari upaya satu orang.

“Kecakapan sebagai negarawan dapat berbentuk kolektif. Dan kolektivitas kecakapan sebagai seorang negarawan di kalangan masyarakat Indonesia secara keseluruhan membuat Indonesia menjadi lebih maju dan sejahtera," tutur SBY.

Sebelumnya Pemimpin Appeal of Conscience Foundation (ACF), Rabbi Arthur Schneier, mengemukakan penganugerahan penghargaan World Statesman Award 2013 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu merupakan pengakuan atas prestasinya dalam upaya internasional untuk memelihara perdamaian bersama dan adalah dorongan untuk meningkatkan hak asasi manusia, kebebasan beragama, dan kerja sama antar agama.

"Kami menganugerahkan World Statesman Award 2013 kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden dari negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang dipilih secara langsung, yang diakui atas upayanya mengejar perdamaian dan membantu Indonesia berkembang menjadi masyarakat demokratis, dan melawan ekstrimisme," kata Rabbi Arthur Schneier.

Sebelum ini  penghargaan serupa telah diberikan ACF kepada PM Kanada Stephen Harper, PM India Manmohan Singh, Presiden Perancis Nicholas Sarkozy, PM Jerman Angela Merkel, Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak, dan Presiden Mikhail Gorbachev.

Hadir dalam acara pemberian penghargaan tersebut antara lain Ibu Negara Ani Yudhoyono, mantan Menlu Amerika Serikat Henry Kissinger, Menlu Marty Natalegawa, Dubes RI di AS Dino Patti Djalal, Ketua Komunitas Muslim New York Imam Syamsi Ali, Archbishop Khajag Barsamian, dan Rev Fred Anderson.

Sebelumnya, sejumlah aktivis HAM Indonesia dan LSM menggalang petisi menolak penghargaan ini.[hidayatullah/www.bringislam.web.id]
Read more...

SBY Lebih Peduli Korban Bom Boston Daripada Korban Salah Bunuh Densus

Tidak ada komentar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) langsung merespon insiden ledakan bom Boston Marathon yang terjadi di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat, pada Senin (15/4/2013) pukul 14.45 waktu setempat, atau pada Selasa (16/4/2013) pukul 02.45 WIB.


Sesaat setelah mendengar peristiwa tersebut, kurang lebih pukul 04.18 WIB, SBY langsung mengucapkan kesedihannya atau dukacita terhadap korban ledakan Bom Marathon Boston. Ucapan dukacita SBY tersebut diungkapkan melaui akun Twitter-nya di @SBYudhoyono.

Ucapan dukacita SBY tersebut disisipkan diantara cerita kunjungan kerjanya ke Karawang, kemudian “kicauannya” atas ulang tahun Korps Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD, kemudian arahan-arahannya terhadap carut marut ujian nasional (UN), dan pesan-pesan SBY lainnya.

Dalam akun @SBYudhoyono, SBY sempat menuliskan ; “@BarackObama Indonesians and I are deeply saddened by the boston bombings. Our prayers are with the victims and their families. *SBY* (@BarackObama Indonesia dan saya sangat sedih dengan pemboman boston. Doa kami dengan para korban dan keluarga mereka. *SBY* -red),” tulis SBY dalam tweet-nya.

Hal ini tentu saja sangat berbanding terbalik dengan sikap SBY kepada rakyatnya sendiri dan umat Islam pada khususnya. Saat rakyatnya menjadi korban bencana alam atau semisalnya, SBY terkesan begitu lambat meresponnya. Namun jika ada “orang asing’ dalam hal ini korban ledakan Bom Marathon Boston, SBY langsung tanggap dengan mengucapkan ucapan dukacita.

Tak hanya masyarakat umum, perbedaan perilaku dan respon berbeda yang ditunjukkan juga sama persis dan sering dilakukan SBY tatkala umat Islam menjadi korban. Jika umat Islam yang menjadi korban diskriminasi agama lain atau institusi lain, misalnya korban pemboman oleh kelompok Syi’ah di Sampang Madura atau salah tangkap dan salah bunuh Densus 88, SBY terlihat begitu lambat dan acuh tak acuh serta cuek dengan kondisi yang menimpa umat Islam.

Tercatat, bagaimana respon SBY tidak begitu terlihat greget ketika PP Muhammadiyah, MUI, Komnas HAM, dan institusi lain membeberkan sejumlah kekejaman dan pelanggaran HAM Densus 88 terhadap umat Islam yang di “teror” oleh Densus 88.

Meski Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dien Syamsuddin, sudah sering kali berbicara didepan publik bahwa pemerintah harus segera mengevaluasi kinerja Densus 88, namun hal itu sepertinya tidak ditanggapi serius oleh SBY.

“Kalau dari kami, ormas-ormas Islam, MUI kita sepakat saya kira Densus 88 itu harus dievaluasi, bila perlu dibubarkan. Tapi diganti dengan sebuah lembaga dengan pendekatan baru untuk bersama-sama untuk memberantas terorisme,” kata Dien Syamsudin kepada wartawan di Mabes Polri, Kamis (28/2/2013).

Jangankan ditanggapi, sekedar untuk mengucapkan permintaan maaf atau ucapan kesedihan-pun tidak diucapkan oleh SBY. Padahal, Ketua Tim Pemantauan dan Penyelidikan Penanganan Tindak Pidana Terorisme Komnas HAM, Siane Indriani sudah mengeluarkan rilis bahwa tindakan Densus 88 dalam penanganan terorisme sudah berada di luar jalur hukum dan telah melanggar HAM berat, karena terbukti kerap menyiksa dan menganiaya para terduga teroris maupun keluarganya. [voa-islam/www.bringislam.web.id]
Read more...

Lima Dakwaan Terhadap SBY-Parlemen Dari Indonesia Mendakwa

Tidak ada komentar
SELURUH fakta terkait kemerosotan SBY telah sangat nyata terjadi di negeri ini. Gerakan ‘Indonesia Mendakwa’ yang diisi oleh para aktivis jalanan merilis  lima hal yang menjadi alasan mereka untuk melakukan dakwaan kepada rezim SBY beserta Dewan Perwakilan Rakyat.

Pertama, rezim SBY dan Parlemen dinilai telah mengkhianati konstitusi dengan menjadikan perintah IMF, World Bank, Asian Development Bank (ADB), dan World Trade Organisation (WTO) beserta perintah negara maju sebagai dasar dalam membuat Undang-undang dan kebijakan ekomomi.

Kedua, SBY dinilai telah menjadi kaki tangan kebijakan negara asing yang menjual sumber daya bangsa dengan harga murah. Hal ini tercermin dari sikap Pemerintah melakukan penunjukkan langsung (Tanpa Tender) dalam mengelola Gas Tangguh Train 3 kepada British Petroleum.

Hal ini juga diikuti dari penggadaian Blok Mahakam kepada Total E&P, mengerdilkan pertamina, menghalangi renegosiasi kontrak pertamina, dan menghalangi divestasi Newmont.

Ketiga, rezim SBY telah mempertukarkan kekayaan negara dan kedaulatan negara demi penghargaan, puji-pujian dari negara kapitalis global dan penjajah dengan mengorbankan kebutuhan dan kepentingan rakyat.

Keempat, sebagai pemimpin elite para mafia yang merajalela dalam lingklaran kekuasaan, mulai mafia migas sampai dengan mafia narkoba, mafia pajak, mafia APBN, yang menjadi sumber segala penyimpangan terhadap amanat penderitaan rakyat.

Kelima, sebagai pemimpin dan elite pelindung, dewan kehormatan, dewan Pembina, paa koruptor dalam kasus Century, Kasus Pajak, Kasus penyelewengan APBN (Hambalang, Wisma Atlit, IT KPU, dan lain-lain) yang menjadi sumber kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Indonesia mendakwa berencana menggelar aksi untuk menggugat SBY dan DPR bersama para aktivis, mahasiswa dan kelompok rakyat. Mereka berencana melakukan konfrensi nasional ‘Indonesia Mendakwa’ pada tanggal 18 November di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.
“Kita sudah terlalu lama diskusi, saatnya aksi,” kata Pong Harjatmo. (Pz/Islampos)
Read more...

"Salam dan Kebangkitan Hindu di Jawa”

Tidak ada komentar
Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA hari Kamis (8/11/2012) pagi, saya berkesempatan menonton tayangan langsung acara pembukaan “Bali Democracy Forum V” di Bali. Acara itu dibuka oleh Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono dan dihadiri sejumlah kepala negara dan pemerintahan.  Saat menyampaikan sambutan, Presiden SBY mengucapkan basmalah, salam secara Islam, dan juga ungkapan “Om Swastyastu” – sebuah salam khas agama Hindu. Pejabat sebelumnya pun melakukan hal yang sama. 

Tindakan pejabat tinggi Indonesia dalam mengucapkan salam dalam berbagai versi agama itu sudah seringkali terdengar. Bagi kaum Hindu, “Om Swastyastu” memang ucapan ibadah dalam agama Hindu. Seorang Hindu menjelaskan tentang makna Om Swastyastu sebagai berikut:
“Salam Om Swastyastu yang ditampilkan dalam bahasa Sansekerta dipadukan dari tiga kata yaitu: Om, swasti dan astu. Istilah Om ini merupakan istilah sakral sebagai sebutan atau seruan pada Tuhan Yang Mahaesa. Om adalah seruan yang tertua kepada Tuhan dalam Hindu. Setelah zaman Puranalah Tuhan Yang Mahaesa itu diseru dengan ribuan nama. Kata Om sebagai seruan suci kepada Tuhan yang memiliki tiga fungsi kemahakuasaan Tuhan. Tiga fungsi itu adalah, mencipta, memelihara dan mengakhiri segala ciptaan-Nya di alam ini. Mengucapkan Om itu artinya seruan untuk memanjatkan doa atau puja dan puji pada Tuhan. Dalam Bhagawad Gita kata Om ini dinyatakan sebagai simbol untuk memanjatkan doa pada Tuhan. Karena itu mengucapkan Om dengan sepenuh hati berarti kita memanjatkan doa pada Tuhan yang artinya ya Tuhan.
Setelah mengucapkan Om dilanjutkan dengan kata swasti. Dalam bahasa Sansekerta kata swasti artinya selamat atau bahagia, sejahtera. Dari kata inilah muncul istilah swastika, simbol agama Hindu yang universal. Kata swastika itu bermakna sebagai keadaan yang bahagia atau keselamatan yang langgeng sebagai tujuan beragama Hindu. Lambang swastika itu sebagai visualisasi dari dinamika kehidupan alam semesta yang memberikan kebahagiaan yang langgeng.” (http://www.mail-archive.com/hindu-dharma@itb.ac.id/msg07018.html).

Itulah penjelasan Hindu tentang ucapan salam khas Hindu, “Om Swastyastu”. Dari penjelasan itu tampak, bahwa ungkapan salam Hindu itu sangat terkait erat dengan konsep Tuhan dan sembahyang dalam agama Hindu. Jadi, kata “Om” dalam agama Hindu berarti “Ya Tuhan”. 

Dalam buku kecil berjudul “Sembahyang, Tuntunan Bagi Umat Hindu” karya Jro Mangku I Wayan Sumerta (Denpasar: CV Dharma Duta, 2007), disebutkan sejumlah contoh doa dalam agama Hindu yang diawali dengan kata “Om”, seperti doa sebelum mandi: “OM, gangga di gangga prama gangga suke ya namah swaha”. 

Meskipun sama-sama menyatakan bertuhan SATU, agama-agama memiliki konsep Tuhan yang berbeda-beda tentang “Yang Satu” itu.  Kaum Hindu, misalnya, mempunyai konsep dan juga sebutan-sebutan untuk Tuhan mereka secara khas. Dalam buku karya Ngakan Made Madrasuta berjudul “Tuhan, Agama dan Negara”  (Media Hindu, 2010), dijelaskan perbedaan konsep Tuhan antara Hindu, Kristen, Yahudi, dan Islam. Tentu saja penjelasan itu dalam perspektif Hindu.  Menurut penulis buku ini, Tuhan dalam agama Hindu, yakni Sang Hyang Widhi tidak dapat disebut  “Allah”.  Disimpulkan oleh penulis buku ini:

“Membangun toleransi bukan dengan mencampuradukkan pemahaman tentang Tuhan, tetapi sebaliknya justru dengan mengakui perbedaan itu. Dalam pengertian ini, Krishna bukan Kristus, Sang Hyang Widhi bukan Allah!” (hal. 33).
   
Misalnya, tentang perbedaan antara Kristus dan Krishna dijelaskan:

“Ingat Hindu tidak percaya akan dosa asal, tidak percaya dengan Adam dan Hawa, dan Krishna juga tidak mati di kayu salib. Krishna datang ke dunia sebagai Avatara, bukan untuk menebus dosa, tetapi untuk menegaskan kembali jalan menuju moksha (empat yoga itu) terutama karma yoga. Jadi manusia sendiri harus aktif untuk memperoleh keselamatannya. Tidak perlu akal yang terlalu kritis untuk membedakan misi keberadaan Kristus dengan Krishna di dunia ini.” (hal. 31). 

Kaum Hindu juga sangat membanggakan konsep Tuhan mereka yang bersifat pantheistik dan bukan monotheistik.  Lebih jauh buku terbitan Media Hindu ini menyatakan:                   

“Monotheisme mengajarkan kebencian dan kekerasan, memecah belah manusia ke dalam apartheid orang beriman versus orang kafir. Tuhan pemecah belah. Pantheisme mengajarkan hal-hal sebaliknya; penghormatan terhadap seluruh makhluk hidup, semua manusia adalah satu keluarga, ahimsa, welas asih, Tuhan pemersatu.” (hal. 214).  

Untuk membanggakan agama Hindu sebagai agama yang lebih hebat dari agama Yahudi, Kristen, dan Islam,  buku ini juga memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya benar tentang ajaran Islam. Dalam bab berjudul “Agama-agama Langit Kualitasnya Jauh di Bawah Hindu”  ditulis ungkapan-ungkapan sebagai berikut:                    

“Hakikat manusia adalah dosa (Yahudi/Kristen) atau budak Allah (Islam). Artinya agama-agama ini memandang manusia secara sangat negatif. Untuk membuat manusia tetap percaya kepada Tuhan dan agennya dan taat beribadah, ia terus diancam dengan kiamat, siksa neraka bahkan termasuk pembunuhan di dunia ini. Di samping itu, agar manusia terus memerlukan Tuhan, Tuhan menciptakan dan memelihara setan untuk menggoda manusia.
   
Sebagai budak manusia tidak memiliki kebebasan. Hidupnya ditentukan secara sepihak dan sewenang-wenang oleh Tuhannya, pemilik budak-budak itu. Karena Tuhan bermukim jauh di langit, kekuasaan Tuhan itu didelegasikan atau diasumsikan oleh para agennya, apakah dengan sebutan nabi, rasul, sultan, atau paus. Kebebasannya digantungkan pada seorang tokoh pendiri agama. Kematian Yesus menyelamatkan semua pengikutnya. Muhammad, pada waktu Pengadilan Akhir, merekomendasikan siapa dari pengikutnya masuk sorga atau neraka, dan Allah hanya mengikuti rekomendasi itu. Keselamatan mereka semata-mata karena iman. Bukan karena perbuatannya. Etika tidak perlu. Ini tentu saja merupakan ketidakadilan rangkap dua…

Tujuan tertinggi manusia menurut agama-agama ini adalah sorga di mana mereka hidup abadi dengan badannya, yang berasal dari badan yang hina, tempat pencabulan, kata Paulus, salah satu pendiri agama Kristen. Bahkan di dalam sorga salah satu agama ini, dijelaskan secara rinci bagaimana hidup untuk memenuhi nafsu birahinya, terutama seks, tanpa batas. Sorga menjadi tempat pesta orgi yang menjijikkan.” (hal. 217-218).
                    ****
Begitulah pandangan kaum Hindu terhadap konsep Tuhan Islam dan konsep manusia dalam Islam.   Karena begitu membanggakan agamanya, sebagian kaum Hindu, tampaknya sangat berambisi untuk mengubah kembali Indonesia menjadi negara Hindu.  Majalah MEDIA HINDU (edisi Juli 2012), menurunkan laporan utama bertajuk: “Hindu dengan Label Bali Tidak Laku”. 

Dilaporkan, pada tanggal 19 Mei 2012, telah diselenggarakan sebuah acara dialog bertema: “Dialog Kebangkitan Hindu di Tanah Jawa.”  Menurut majalah ini: “Kebangkitan Hindu bukan hal yang mustahil terjadi, dengan catatan kita harus berani menunjukkan eksistensi dan jati diri Hindu. Ini sangat penting.”
Katanya, kebangkitan Hindu di Nusantara dibagi dalam dua tahap. Tahap pertama, kebangkitan tahun 1970-an.  “Pada awal kebangkitan pertama tersebut harus diakui bahwa nostalgia kembalinya kejayaan Hindu di Nusantara sepertinya sudah di depan mata.” Tapi, setelah 40 tahun kebangkitan Hindu pertama itu, perkembangan Hindu tidak sehebat dulu lagi. “Suara Hindu masih belum banyak diperhitungkan pada setiap lini kehidupan berbangsa dan bernegara. Agama mayoritas justru semakin menunjukkan hegemoni yang memperberat kehidupan berbangsa dan bernegara.” 

Dalam artikel berjudul “Mengkondisikan Jawa Kembali Hindu” di majalah ini dikatakan: “Kita semua mendambakan Jawa kembali Hindu, guna mengiringi kejayaan bangsa Indonesia menjadi negara adidaya di tahun 2080 an, sebagaimana sabda Pandita Ratu Jayabaya, ramalan Sabdo Palon dan prediksi para ahli kelas dunia seperti Goldman Sach. Untuk diperlukan kondisi yang mendukung untuk tumbuh dan berkembangnya Hindu di Jawa atau bagaimana menjadikan Jawa kondusif untuk kembali menjadi Hindu.”
Ditargetkan, sepuluh tahun ke depan, 30 persen penduduk Indonesia sudah kembali menjadi Hindu dan ditahun keadidayaan bangsa ini, yaitu di tahun 2080, 80  persen sudah kembali Hindu. “Yang pada gilirannya menjadi bangsa yang telah menemukan kembali kepribadiannya, yang telah berpijak pada jatidirinya dan menjadi pusat kebudayaan dunia.” 

Ambisi untuk meng-Hindukan kembali Indonesia sudah pernah diungkap dalam Majalah MEDIA HINDU, edisi Oktober 2011, yang saat itu menurunkan laporan utama berjudul “Kembali ke Hindu, Bila Indonesia Ingin Berjaya Kembali Seperti Majapahit”. Ditegaskan pada bahasan utama: “Kembali pada Hindu, sebagai satu-satunya langkah utama untuk mengantar Indonesia ini kembali menjadi Negara Adidaya.” 
Lalu disimpulkan: “Kembali menjadi Hindu adalah mutlak perlu bagi bangsa Indonesia apabila ingin menjadi Negara Adidaya ke depan, karena hanya Hindu satu-satunya agama yang dapat memelihara & mengembangkan Jatidiri bangsa sebagai modal dasar untuk menjadi Negara maju.”

Hindu Pluralis?
Membaca pemikiran kaum Hindu yang begitu berambisi untuk menghindukan kembali Indonesia, cukup memunculkan tanda tanya tentang klaim Hindu sebagai agama pluralis yang sangat toleran dengan kepercayaan agama-agama lain, sebagaimana pernah dipaparkan di Majalah MEDIA HINDU edisi  April 2010. Dalam kolomnya yang berjudul  ‘Pluralisme Surga’,  Ngakan Putu Putra menyebutkan dukungan kuat terhadap gagasan pluralisme agama. Ia menulis sebagai berikut :

"Meninggalnya Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pada akhir Desember 2009, bagaikan momentum sebuah perayaan atas pluralisme agama. Doa bersama oleh tokoh berbagai agama dilakukan di kediaman mendiang, maupun di tempat  ibadah masing-masing, berbagai tulisan diterbitkan, buku tentang Gus Dur diluncurkan, seperti yang dilakukan di Pura Aditya Jaya Rawamangun, tanggal 8 Februari yang dihadiri oleh perwakilan keluarga, perwakilan majelis agama para sahabat yang memberikan testimoni, diikuti dengan doa bersama.

Penghormatan ini memang pantas, karena jasanya yang besar untuk mengembangkan pluralisme agama di Indonesia, yang dilakukannya secara konsisten sejak muda, melalui tulisan-tulisannya di media massa, dialog yang dilakukannya ketika menjadi ketua umum PBNU, dan keputusan ang diambilnya ketika menjadi Presiden, yang paling fenomenal adalah pengakuannya terhadap agama Konghucu dan diperbolehkanna Imlek. Gus Dur juga sering datang ke pura dan ashram di Bali dan ikut sembahyang dan bhajan.

Namun dibalik perayaan itu, yang melambangkan optimisme akan pluralisme di Indonesia, yang sebetulnya sudah dirumuskan oleh Mpu Tantular pada abad 15, terselip juga kekhawatiran. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang di dalamnya terdapat wakil-wakil dari organisasi massa Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah beberapa tahun lalu mengeluarkan fatwa mengharamkan pluralisme. Sekalipun mendapat kritik keras dari berbagai kalangan sampai saat ini fatwa itu belum dicabut….

Agama-agama Timur seperti Hindu, Buddha, Jain, dan Sikh tidak mengalami kesulitan untuk menerima pluralisme agama. Sikap pluralistik itu berakar di dalam ajarannya. Sementara agama-agama Semitik bersifat anti-pluralisme. Paus Benedict XVI, pemimpin Gereja Katolik Roma, menolak menghadiri doa bersama para tamunya, para tokoh berbagai agama di dunia yang diundangnya untuk acara dialog antar agama, yang diadakan di Vatikan, 2007. Karena bila dia ikut dalam doa bersama itu, akan memberi kesan bahwa dia mengakui semua agama memiliki kebenaran yang sama. Tuan rumah yang arogan.’’ 

Di MEDIA HINDU edisi yang sama, diturunkan artikel dari I Ketut Budiasa, berjudul ‘Hindu, Pluralisme, dan Masa Depan Umat Manusia’.  Ditulis dalam artikel ini : "Agama Hindu tidak bermasalah dengan pluralisme."  Lalu, ditegaskan : "Manusia membutuhkan paham ketuhanan Hindu untuk menciptakan masa depan umat manusia yang damai di bumi yang dihuni bersama ini. Hanya dengan pandangan ketuhanan Hindu dan "sifat-sifat Tuhan Hindu"  manusia dapat menciptakan masa depan yang damai secara hakiki dan tulus." 

Menurut penulis, Hindu tak membagi manusia ke dalam ‘pemuja Tuhan’ dan ‘musuh Tuhan’. Apakah matahari hanya memberi sinarnya kepada sekelompok orang ? Bahkan, ia tidak memalingkan sinarnya dari kotoran. Selanjutnya dikatakan: "Tuhan Hindu’’ yaitu Tuhan dalam konsep dan pandangan agama Hindu, yang disebut dengan berbagai nama : Brahman, Wisnu, Siwa, Rudra, dan ratusan atau bahkan mungkin ribuan nama lain, bukanlah Tuhan pencemburu.’’
Membaca persepsi dan ambisi kaum Hindu, kita patut bertanya: Jika Hindu mengaku sebagai agama pluralis dan toleran dengan kepercayaan agama lain, harusnya tidak mengritik konsep agama-agama lain, dan tidak berambisi meng-Hindu-kan kembali Indonesia.*/Depok, 12 November 2012 

Penulis Ketua Program Doktor Pendidikan Islam – Universitas Ibn Khaldun Bogor. Catatan Akhir Pekan [CAP] adalah hasil kerjasama Radio Dakta 107 FM dan hidayatullah.com

hidayatullah
Read more...

Banyak Orang Carmuk, SBY Dapat Bisikan Sesat

Tidak ada komentar
JAKARTA - Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD mengatakan banyak orang yang berusaha menyenangkan perasaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono

"Banyak orang `carmuk` (cari muka) macam-macam, sehingga dunia hukum kita jadi kacau balau begitu," kata Mahfud MD di Jakarta, Sabtu malam, terkait dugaan pemberian rekomendasi kepada Presiden sebelum grasi kepada terpidana kasus narkoba, Meirika Franola alias Ola (42).

Sesuai dengan putusan Mahkamah Agung (MA), Ola terbukti bertindak sebagai penyalur, bukan kurir narkoba, sehingga pemberian grasi tersebut dinilai tidak perlu.

"Pendapat MA terhadap Presiden adalah agar Ola tidak diberi grasi karena dia bukan kurir," tegasnya.
Mahfud menegaskan kembali bahwa ada fakta di lapangan yang membuktikan mafia narkoba masih bermain di lembaga permasyarakatan.
"Saya kasihan kepada Presiden karena banyak mendapat masukan-masukan yang sesat, yang ingin menyenangkan Presiden," kata Mahfud MD di Jakarta, Sabtu malam.
Sebelumnya, dugaan Mahfud MD terkait mafia narkoba di lingkran Istana mendapat reaksi keras dari Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi.

Sudi meminta Mahfud MD mengklarifikasi tuduhan bahwa mafia hukum telah masuk lingkaran Istana.

Ia menambahkan proses pemberian grasi oleh Presiden melalui proses yang panjang dan Presiden sendiri mempertimbangkan dengan betul-betul semua masukan berbagai pihak yang berkompeten.

Bahkan, kata Sudi, permohonan grasi untuk kasus narkotika, kejahatan terorisme dan terpidana warga negara asing, Presiden mendengarkan dan membahas masukan bukan sekedar membaca masukan yang ada.

Ola diduga menjadi otak penyelundupan sabu seberat 775 gram dari India ke Indonesia, melalui seorang kurir, NA (40), dengan menumpang pesawat. [Widad/ant]

voa-islam
Read more...

Astagfirullah, SBY minta rakyat bangga dengan gelar "Ksatria Salib Agung" yang diraihnya

Tidak ada komentar
JAKARTA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah isu rekayasa gelar yang diterimanya dari Ratu Elizabeth II. SBY menegaskan pemberian gelar Honorary Knights Grand Cross of the Order of the Bath tersebut adalah bentuk penghargaan atas prestasinya, bukan permintaan.

Penegasan itu disampaikan SBY sesaat sebelum meninggalkan Inggris menuju Laos, Sabtu (3/11)seperti dilansir metrotvnews.com, waktu setempat. Bahkan, menurut SBY, rakyat Indonesia seharusnya bangga atas berbagai  penghargaan yang diterima lewat dirinya di dunia internasional. Hal itu sekaligus menjawab kritik sejumlah pihak yang mempertanyakan dasar pemberian gelar di tanah air.

Ratu Inggris menilai SBY layak mendapat gelar tersebut. Ratu Inggris menilai SBY mampu mentransformasikan demokrasi Indonesia menjadi lebih kokoh. SBY pun mampu menciptakan hubungan bilateral Indonesia- Inggris menjadi lebih baik dan positif.

Sebelumnya, Farid Wadji ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengkritik pemberian gelar kepada SBY. Menurutnya ada agenda terselubung dibalik pemberiaan gelar tersebut.

"Penghargaan itu jelas memiliki kepentingan untuk menyetir SBY, tidak ada makan siang yang gratis itu suatu hal yang semua orang sudah paham," jelas Farid, Rabu (31/10/2012) seperti dikutip dari hidayatullah.com.

Selain itu Farid menilai luka umat ini semakin teriris-iris karena pemberian penghargaan itu bersamaan dengan tragedi Rohingya dan serangan pemerintahan Bashar Al Assad ke pengungsian rakyat Palestina di Suriah di bulan Oktober 2012 ini.

"SBY memimpin negeri dengan mayoritas Umat Islam, namun dia selalu sibuk dengan pencitraan dirinya dibandingkan membela urusan-urusan umat Islam," Jelasnya lagi.

Sambung Farid, setelah turunnya SBY akan ada banyak agenda-agenda yang akan memanfaatkan pencitraan SBY. Di mana semua pencitraan SBY itu terkait agenda-agenda Barat di dunia Islam terutama di Indonesia sendiri. Karena itulah, ia menilai, mengapa penghargaan Ksatria Salib Agung menjadi penting untuk diberikan kepada SBY. (bilal/arrahmah.com)
Read more...

Ulil Amri, Tapi Menerima Penghargaan Ksatria Salib Agung?

Tidak ada komentar
ULIL Amri dalam Islam adalah pemimpin yang kuat akidahnya dan mengayomi umat Islam dari makar jahat negara non muslim. Namun bagaimana jika sebagian kelompok Islam  menjadikan SBY sebagai ulil Amri, walaupun Presiden RI tersebut akan dinobatkan sebagai Ksatria Salib Agung oleh Ratu Inggris?

“Inilah yang harus dijawab oleh mereka. Bagaimana tanggapan anda kepada ulil Amri yang mendapatkan penghargaan salib?” tanya Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam, Fauzan Al Anshari, kepada Islampos.com, Kamis (1/11/2012).

Fazuan menilai dalam sejarah diplomasi Barat kepada Indonesia, tidak ada ‘makan siang yang gratis’. SBY akan dikunci oleh Inggris untuk mengikuti skenario dari negara beragama mayoritas Kristen tersebut.

“Secara politik dia akan tunduk, dan perang melawan ‘terorisme’ akan semakin mengganas,” jelasnya memaparkan butir kesepakatan militer antara SBY dengan Inggris.

Penghargaan ‘Knight Grand Cross in the Order of Bath’ sendiri bukan penghargaan kecil di Inggris. Karena gelar ‘Panglima Ksatria Salib’ ini adalah gelar prestisius di negara mayoritas Kristen tersebut. Sebelumnya, Presiden AS Ronald Reagan dan Presiden Perancis Jaques Chirac juga pernah mendapat penghargaan serupa.

“Di sinilah malapetaka, bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim,” gugah Fauzan.

Selain menghadiri serangkaian acara kenegaraan yang dihadiri Ratu Elizabeth II, Presiden Yudhoyono dikabarkan juga akan melakukan pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Pertemuan-pertemuan lainnya yang telah dijadwalkan meliputi pertemuan dengan Prince of Wales, Pangeran Charles; Ketua Partai Liberal Demokrat, Nick Clegg; dan Pimpinan Oposisi, Ed Miliband. (Pz/Islampos/BringBackIslam)
Read more...

Category

Popular Posts

facebook