Prolog
Media massa dari waktu ke waktu dengan berbagai latar kepentingan telah terbukti menjadi pilar utama sebuah perjuangan. Perjuangan kemerdekaan Indonesia, perjuangan kafir Inggris, Prancis, dan Amerika dalam mencerabut kesatuan ummat dari naungan Khilafah Islamiyyah sekaligus menghancurkannya. Pun bagi perjuangan menerapkan syari’ah dalam naungan khilfah Islam yang kedua, media massa menjadi poin sangat penting yang tidak bisa diabaikan.
Media massa mampu untuk menghantarkan yang nihil menjadi seakan luar biasa keberadaannya dan yang bathil menjadi begitu dipuja. Tengok saja bagaimana boyband asal Korea seperti SuJu dan BigBang atau penyanyi kontroversial Lady Gaga menjadi penyulut histeria para remaja. Padahal tak sedikitpun teladan yang bisa mereka tunjukkan. Lebih dahsyat lagi misalnya bagaimana lisan para pengusung liberalisme dikreasikan untuk indah didengar, padahal membuat ummat tersesat dari jalan keimanan. Media massa pula yang mampu membuat sebuah kebenaran hakiki dijauhi, bahkan ditakuti. Islam distigmasi sebagai ajaran yang menebar teror, intoleran, sadis, dan terbelakang. Begitu pula orang-orang yang memperjuangkannya dihadirkan sebagai sosok kolot, anti modernitas, sesat, dan kejam.
Mengindera berbagai fenomena yang ada tentunya menjadi hal yang sangat layak bagi kita untuk menyegerakan diri untuk terlibat dalam perang propaganda via media, menjadi penyokong bahkan sebagai pelakunya. Selain juga tentunya senantiasa menggali dan memahami lebih jauh bagaimana nanti media khilafah bisa memiliki kekuatan berimbang bahkan menjadi pemenang dalam menaklukkan kesesatan dan kemungkaran peradaban kufur, hingga cahaya rahmat-Nya bisa kembali menaungi seluruh alam. Sehingga kita bisa mempersiapkan diri sejak saat ini untuk nantinya bisa memilih peran: terlibat secara langsung atau tidak langsung.
Untuk itulah tulisan sederhana ini hadir. Untuk bisa menjadi jembatan bagi kita berdiskusi, berbagi fakta, dan menggali bersama seperti apa media saat ini, lalu di manakah kita selayaknya mengambil posisi. Baik sekarang atau nanti setelah khilafah berdiri.
Media Massa dan Perang Pemikiran
Media massa disadari secara penuh mampu menjadi penghantar bagi pemikiran-pemikiran Islam sampai kepada masyarakat. Namun, fakta media massa saat ini yang sebagian besar dikuasai oleh Yahudi membuat arus pemikiran Islam terhadang.
Protokol ke 12 gerakan Zionis menyatakan bahwa “Media massa dunia harus berada di bawah pengaruh kita.” Kemudian, Theodore Hertzl (wartawan & novelis Yahudi berskala internasional), peletak dasar Gerakan Zionisme Internasional, dalam konferensi di Swiss tahun 1897 pun mengatakan, “Kita akan berhasil mendirikan pemerintah Israel dengan memanfaatkan dan menguasai fasilitas propaganda dunia dan media massa dunia.”
Iqbal Shadiqi, pemimpin redaksi majalah terbitan Inggris, Cressent International menyatakan media-media AS sangat bergantung kepada para investor dan orang-orang Zionis. Kedua kelompok inilah yang mengontrol pemerintah dan media AS.
Penguasaan Yahudi terhadap media massa bisa terlihat dari fakta banyaknya kantor-kantor berita yang dikuasai atau menjadi corong mereka. Misalnya: Reuters (Inggris) yang dibentuk Julius Powell (Yahudi),
AFP (Perancis) dan AP (AS), ABC yang Dirut Pelaksananya Leonard Goldenson dan Direktur Entertainmennya Stuart Bloomberg (Yahudi), CBS yang oleh didirikan William S. Paley (Yahudi Rusia), Fox News yang didirikan Rupert Murdoch (Yahudi Australia) pada 1996.
Rupert Murdoch menguasai 300 saluran televisi, 3 penerbit buku (HarperCollins, ReagenBooks, dan Zondervan Christian Publisher). Seluruh perusahaan Murdoch melayani 3/4 penduduk bumi. Murdoch punya kuku di ratusan suratkabar di Australia, Fiji, Papua New Guinea, Inggris, dan AS. Murdoch menguasai jaringan BSkyB di Inggris, Sky Italia, Sky Amerika Latin, Foxtel Australia, DirectTV Group Amerika Utara dan Latin, serta Star TV untuk wilayah Asia.
Industri film pun tidak luput dari kekuasaan Yahudi, yang arus utamanya dipegang Hollywood. Di sana bercokol perusahaan film besar dunia sekelas 20th Century Fox, Walt Disney, dan Paramount Picture.
Bagaimana dengan Indonesia? Konspirasi Yahudi ternyata juga mencengkeram kuat media massa negeri ini, melalui: penguasaan saham di berbagai media massa, suplai konten media (kantor berita internasional menyuplai informasi ke media massa dengan cara langganan berbayar atau production house negara kapitalis mensuplai konten acara televisi maupun radio diantaranya dengan sistem lisensi), jalur Konsultan media seperti yang terjadi di Jawa Pos Group yang John Moon dari AS pro-Yahudi didaulat sebagai konsultan di sana, iklan (klien iklan mudah mengendalikan konten media massa).
Dengan penguasaan media massa yang demikian lengkap dan luas, musuh-musuh Islam mampu menggulirkan ide dan opini yang mengaburkan bahkan membalik kebenaran Islam, terkait masalah:
- Penerapan syari’at Islam dan gambaran khilafah Islam
- Masalah Nasionalisme dan sektarianisme
- Pejuang-pejuang syari’at Islam.
Pengaburan seperti di atas berhasil menggiring masyarakat,bahkan kaum muslimin untuk menjadi fobia dengan Islam dan mencukupkan diri melaksanakan syari’at Islam secara individual: sholat,puasa, zakat, dan lain-lain. Umat Islam yang Alloh SWT sendiri memberikan label sebagai umat yang terbaik kini hadir sebagai raksasa ompong. Itu semua akibat dari racun opini yang disebarkan oleh media massa.
Media Massa dan Penegakan Khilafah Islam
Kita sudah sangat menyadari bagaimana pena (tulisan) dengan pelbagai perkembangan teknologi yang mengiringinya bisa begitu berpengaruh terhadap kehidupan dan cara pandang manusia. Kita juga sangat menyadari bagaimana ide-ide kufur menjajah kehidupan manusia melalui media saat ini. Dahsyat! Kemudian, apa yang kita bisa lakukan?
Kekuatan pena harus dihadapi dengan kekuatan pena. Maka media pun harus dihadapi dengan media. Banyak peluang untuk menyebarkan opini tentang Islam, menjelaskan syari’at Islam melalui media massa, bahkan di saat dunia saat ini dalam cengkeraman Kapitalis dan Yahudi, melalui:
- Approaching orang-orang media.
- Membuat komunitas penulis/wartawan/media massa Islam untuk nantinya bergerak bersama berlandaskan dorongan ideologi.
- Membuat dan menyebarkan media Islam (paling besar peluangnya melalui dunia maya).
Dengan begitu kita akan mampu untuk:
- Memperluas Jangkauan Penyebaran Ide
- Membentuk Opini Umum
- Membentuk Kesadaran Umum
- Mengcounter Ide Sesat
- Menggalang Dukungan Umat
Muslimah, Media, dan Dakwah
Sebagai bagian dari kaum muslimin tentunya muslimah mempunyai kewajiban yang sama untuk menggebyarkan opini syariah dan khilafah di tengah umat. Lalu jika bicara media, sebagai sebuah sarana dakwah, muslimah pun bisa ambil bagian sebagai pelaku utama. Kita mengguratkan passion (hasrat) untuk mencerahkan ummat sembari mengasah skill kemediaan sebagai nilai plus yang layak “dijual” dan diberdayakan, antara lain sebagai:
- Penulis
- Blogger
- Public Speaker (penceramah, trainer, host, presenter)
- Kamerawati
- Reporter
- Sutradara
- Editor video
- Editor buku
- Desainer Grafis
- Web developer
- Web designer
- Fotografer
“Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambatkan unuk berperang (yang dengan persiapan itu) kalian menggentarkan musuh Allah, musuh kalian, dan orang-orang selain mereka yg tidak kalian ketahui sedangkan Allah mengetahuinya.” [Q.S. Al-Anfal: 60].
Ayat tersebut sesungguhnya telah menginspirasi kita untuk menciptakan dan menggunakan wasilah apapun untuk bisa mengalahkan musuh Allah SWT, tak terkecuali media di dalamnya. Semoga kita diberikan kemampuan untuk senantiasa meng-upgrade kualitas diri baik itu fikriyah, nafsiyah, pun keahlian yang menunjang tercapainya tujuan perjuangan: isti’nafiil hayatal islam, melalui penegakan syariah dan khilafah.
Media Dan Khilafah
Ketika media muslim mampu membuat ummat sadar dan mau memperjuangkan Islam secara masiv lalu tegaklah khilafah kedua yang dijanjikan Alloh, kemudian apakah media muslim berhenti dicetak, mengudara, dan tampil di dunia maya? Tentu tidak.
Media-media tersebut akan terus eksis seiring dengan dibentuknya media khilafah (kantor berita Khilafah Islamiyyah) dan tentunya lembaga penerangan. Media-media yang berdiri di era khilafah baik itu milik individu maupun organisasi dibebaskan berkembang (tanpa perlu izin pendirian, hanya menginformasikan pendirian) selama tetap mengikut ketentuan yang berlaku, yaitu:
- dipersilakan untuk menayangkan informasi-informasi seperti informasi keseharian, program-program atau acara-acara politik, pemikiran dan sains, serta informasi tentang peristiwa-peristiwa dunia.
- Jika ingin menayangkan berita-berita kemiliteran seperti berita tentang perundingan, perjanjian, dan diskusi yang dilakukan oleh Khalifah atau orang yang diminta mewakili Khalifah dengan representasi negara-negara kafir, maka harus mendapatkan persetujuan dari lembaga penerangan untuk menyiarkannya. Ketentuan meminta izin ini juga berlaku bagi media resmi pemerintah (khilafah).
Berlangsungnya media-media tersebut akan selalu dikontrol oleh jawatan khusus di bawah lembaga penerangan. Negara pastinya juga akan mengeluarkan undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik negara dalam mengatur informasi sesuai dengan ketentuan hukum-hukum syariah. Hal itu dalam rangka menjalankan kewajiban negara dalam melayani kemaslahatan Islam dan kaum Muslim; juga dalam rangka membangun masyarakat islami yang kuat, selalu berpegang teguh dan terikat dengan tali agama Allah SWT, serta menyebarluaskan kebaikan dari dan di dalam masyarakat islami tersebut.
Dari penjabaran tersebut jelas bahwa khilafah memiliki kepedulian konkrit terhadap kualitas ummat, baik itu kualitas akal maupun fisik dan ruhiyahnya. Kepedulian yang diwujudkan secara konsisten melalui penjagaan konten media, tanpa memandulkan sisi kreativitasnya.
Epilog
Perguliran masa pasti akan menemui ujungnya. Masa Rasulullah berakhir dengan kebangkitan dan kejayaan. Lalu diteruskan dengan kecemerlangan masa kekhilafahan sesudahnya. Semua itu lalu disudahi Alloh SWT dan diganti dengan kekuasaan zalim dan diktator yang kini perlahan satu-satu tumbang.
Janji Alloh itu nyata pembuktiannya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW :
“Di tengah-tengah kalian terdapat masa Kenabian yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj Kenabian yang berlangsung sela ma Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada. masa kekuasaan yang zalim yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu ketika Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian akan ada masa kekuasaan diktator yang menyengsarakan, yang berlangsung selama Allah menghendakinya. Lalu Dia mengangkat masa itu saat Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Selanjutnya akan muncul kembali masa Kekhilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Setelah itu Beliau diam." (HR Ahmad).
Kini tinggal kita yang mengupayakan tercapainya janji itu. Kala media menjadi senjata, maka tak ada jalan lain selain menjadikan diri kita sebagai perwira. Hingga nanti kemenangan Alloh percayakan ada di genggaman, media akan tetap punya andil besar untuk menjaga kelestarian hukum Alloh di muka bumi melalui institusi Khilafah Islam.
Khilafah Islam lah nanti yang akan mengawasi media secara utuh dan konsisten, sehingga ummat akan terlindungi dari virus ideologi dan akhlak. Pornografi, fun yang kebablasan, berita hasud, dan pentas seni yang absurd akan menghilang berganti dengan tontonan yang selalu mampu me-charge akal dan iman. Dan, saatnya tidak akan lama lagi. Insya Alloh. Aamiin. Wallahu a’lam bish showwab.
(Nafiisah)