Comments

Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Ini cara bule dalam mencurangi saat lepasnya timor leste

Tidak ada komentar
Bukanlah maksud saya hendak mengutik-ngutik ‘nasi yang sudah menjadi bubur’ dengan tulisan ini. Semata-mata saya bersaksi. Kesaksian harus disampaikan, betapapun tidak populernya. Betapapun terpinggirkannya. Kebetulan saya saksi. Saksi harus bicara.
Atau, kalau kata ‘kesaksian’ terdengar teralu resmi. Ya sudah, saya menuliskan sebuah kenangan saja. Namun lebih dari itu semua, saya merasa ada pelajaran sangat berharga dari beberapa saat di masa lalu ini. Dan saya ingin orang-orang muda Indonesia belajar sesuatu dari ini.
‘Nasi sudah menjadi bubur’ yang saya maksud adalah Timor Timur, yang sekarang bernama Timor Leste.
SAYA dikirim kantor berita saya, the IPS Asia-Pacific, Bangkok, pada tanggal 28 Agustus 1999, untuk meliput ‘Jajak Pendapat Timor-Timur’ yang diselenggarakan UNAMET [United Nations Mission in East Timor], 30 Agustus 1999.
Jajak pendapat itu, yang tidak lain dan tidak bukan adalah referendum, adalah buah dari berbagai tekanan internasioal kepada Indonesia yang sudah timbul sejak keruntuhan Uni Soviet tahun 1989. Belakangan tekanan itu makin menguat dan menyusahkan Indonesia. Ketika krisis moneter menghantam negara-negara Asia Tenggara selama tahun 1997-1999, Indonesia terkena. Guncangan ekonomi sedemikian hebat; berimbas pada stabilitas politik; dan terjadilah jajak pendapat itu.
Kebangkrutan ekonomi Indonesia dimanfaatkan oleh pihak Barat, melalui IMF dan Bank Dunia, untuk menekan Indonesia supaya melepas Timor Timur. IMF dan Bank Dunia bersedia membantu Indonesia lewat paket yang disebut bailout, sebesar US$43 milyar, asal Indonesia melepas Timtim.
Apa artinya ini? Artinya keputusan sudah dibuat sebelum jajak pendapat itu dilaksanakan. Artinya bahwa jajak pendapat itu sekedar formalitas.
Namun meski itu formalitas, toh keadaan di kota Dili sejak menjelang pelaksanan jajak pendapat itu sudah ramai nian. Panita jajak pendapat didominasi bule Australia dan Portugis. Wartawan asing berdatangan. Para pegiat LSM pemantau jajak pendapat, lokal dan asing, menyemarakkan pula – untuk sebuah sandiwara besar. Hebat bukan?
Sekitar Jam 1 siang, tanggal 28 Agustus 1999, saya mendarat di Dili. Matahari mengangkang di tengah langit. Begitu menyimpan barang-barang di penginapan [kalau tidak salah, nama penginapannya Dahlia, milik orang Makassar], saya keliling kota Dili. Siapapun yang berada di sana ketika itu, akan berkesimpulan sama dengan saya: kota Dili didominasi kaum pro-integrasi. Mencari orang Timtim yang pro-kemerdekaan untuk saya wawancarai, tak semudah mencari orang yang pro-integrasi.
Penasaran, saya pun keluyuran keluar kota Dili, sampai ke Ainaro dan Liquica, sekitar 60 km dari Dili. Kesannya sama: lebih banyak orang-orang pro-integrasi. Di  banyak tempat, banyak para pemuda-pemudi Timtim mengenakan kaos bertuliskan Mahidi [Mati-Hidup Demi Integrasi], Gadapaksi [Garda Muda Penegak Integrasi], BMP [Besi Merah Putih], Aitarak [Duri].
Setelah seharian berkeliling, saya berkesimpulan Timor Timur akan tetap bersama Indonesia. Bukan hanya dalam potensi suara, tapi dalam hal budaya, ekonomi, sosial, tidak mudah membayangkan Timor Timur bisa benar-benar terpisah dari Indonesia. Semua orang Timtim kebanyakan berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Para penyedia barang-barang kebutuhan di pasar-pasar adalah orang Indonesia. Banyak pemuda-pemudi Timtim yang belajar di sekolah dan universitas Indonesia, hampir semuanya dibiayai pemerintah Indonesia. Guru-guru di sekolah-sekolah Timtim pun kebanyakan orang Indonesia, demikian juga para petugas kesehatan, dokter, mantri.
Selepas magrib, 28 Agustus 1999, setelah mandi dan makan, saya duduk di lobi penginapan, minum kopi dan merokok. Tak lama kemudian, seorang lelaki berusia 50an, tapi masih terlihat gagah, berambut gondrong, berbadan atletis, berjalan ke arah tempat  duduk saya; duduk  dekat saya dan mengeluarkan rokok . Rupanya ia pun hendak menikmati rokok dan kopi.
Mungkin karena dipersatukan oleh kedua barang beracun itu, kami cepat akrab. Dia menyapa duluan: “Dari mana?” sapanya.
“Dari Jakarta,” jawabku, sekalian menjelaskan bahwa saya wartawan, hendak meliput jajak pendapat.
Entah kenapa, masing-masing kami cepat larut dalam obrolan. Dia tak ragu mengungkapkan dirinya. Dia adalah mantan panglima pasukan pro-integrasi, yang tak pernah surut semangatnya memerangi Fretilin [organisasi pro-kemerdekaan], “karena bersama Portugis, mereka membantai keluarga saya,” katanya. Suaranya dalam, dengan tekanan emosi yg terkendali. Terkesan kuat dia lelaki matang yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Tebaran uban di rambut gondrongnya menguatkan kesan kematangan itu.
“Panggil saja saya Laffae,” katanya.
“Itu nama Timor atau Portugis?” Saya penasaran.
“Timor. Itu julukan dari kawan maupun lawan. Artinya ‘buaya’,” jelasnya lagi.
Julukan itu muncul karena sebagai komandan milisi, dia dan pasukannya sering tak terdeteksi lawan. Setelah lawan merasa aman, tiba-tiba dia bisa muncul di tengah pasukan lawannya dan melahap semua yang ada di situ. Nah, menurut anak buah maupun musuhnya, keahlian seperti itu dimiliki buaya.
Dia pun bercerita bahwa dia lebih banyak hidup di hutan, tapi telah mendidik, melatih banyak orang dalam berpolitik dan berorganisasi. “Banyak binaan saya yang sudah jadi pejabat,” katanya. Dia pun menyebut sejumlah nama tokoh dan pejabat militer Indonesia yang sering berhubungan dengannya.
Rupanya dia seorang tokoh. Memang, dilihat dari tongkrongannya, tampak sekali dia seorang petempur senior. Saya teringat tokoh pejuang Kuba, Che Guevara. Hanya saja ukuran badannya lebih kecil.
“Kalau dengan Eurico Guterres? Sering berhubungan?” saya penasaran.
“Dia keponakan saya,” jawab Laffae. “Kalau ketemu, salam saja dari saya.”
Cukup lama kami mengobrol. Dia menguasai betul sejarah dan politik Timtim dan saya sangat menikmatinya. Obrolan usai karena kantuk kian menyerang.
Orang ini menancapkan kesan kuat dalam diri saya. Sebagai wartawan, saya telah bertemu, berbicara dengan banyak orang, dari pedagang kaki lima sampai menteri, dari germo sampai kyai, kebanyakan sudah lupa. Tapi orang ini, sampai sekarang, saya masih ingat jelas.
Sambil berjalan menuju kamar, pikiran bertanya-tanya: kalau dia seorang tokoh, kenapa saya tak pernah mendengar namanya dan melihatnya? Seperti saya mengenal Eurico Gueterres, Taur Matan Ruak? Xanana Gusmao? Dan lain-lain? Tapi sudahlah.
Pagi tanggal 29 Agustus 1999. Saya keluar penginapan hendak memantau situasi. Hari itu saya harus kirim laporan ke Bangkok. Namun sebelum keliling saya mencari rumah makan untuk sarapan. Kebetulan lewat satu rumah makan yang cukup nyaman. Segera saya masuk dan duduk. Eh, di meja sana saya melihat Laffae sedang dikelilingi 4-5 orang, semuanya berseragam Pemda setempat. Saya tambah yakin dia memang orang penting – tapi misterius.
Setelah bubar, saya tanya Laffae siapa orang-orang itu. “Yang satu Bupati Los Palos, yang satu Bupati Ainaro, yang dua lagi pejabat kejaksaan,” katanya. “Mereka minta nasihat saya soal keadaan sekarang ini,” tambahnya.
Kalau kita ketemu Laffae di jalan, kita akan melihatnya ‘bukan siapa-siapa’. Pakaiannya sangat sederhana. Rambutnya terurai tak terurus. Dan kalau kita belum ‘masuk’, dia nampak pendiam.
Saya lanjut keliling. Kota Dili makin semarak oleh kesibukan orang-orang asing. Terlihat polisi dan tentara UNAMET berjaga-jaga di setiap sudut kota. Saya pun mulai sibuk, sedikitnya ada tiga konferensi pers di tempat yang berbeda. Belum lagi kejadian-kejadian tertentu. Seorang teman wartawan dari majalah Tempo, Prabandari, selalu memberi tahu saya peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Dari berbagai peristiwa itu, yang menonjol adalah laporan dan kejadian tentang kecurangan panitia penyelenggara, yaitu UNAMET. Yang paling banyak dikeluhkan adalah bahwa UNAMET hanya merekrut orang-orang pro-kemerdekaan di kepanitiaan. Klaim ini terbukti. Saya mengunjungi hampir semua TPS terdekat, tidak ada orang pro-integrasi yang dilibatkan.
Yang bikin suasana panas di kota yang sudah panas itu adalah sikap polisi-polisi UNAMET yang tidak mengizinkan pemantau dan pengawas dari kaum pro-integrasi, bahkan untuk sekedar mendekat. Paling dekat dari jarak 200 meter. Tapi pemantau-pemantau bule bisa masuk ke sektratriat. Bahkan ikut mengetik!
Di sini saya perlu mengungkapkan ukuran mental orang-orang LSM dari Indonesia, yang kebanyakan mendukung kemerdekaan Timtim karena didanai asing. Mereka tak berani mendekat ke TPS dan sekretariat, baru ditunjuk polisi UNAMET saja langsung mundur. Tapi kepada pejabat-pejabat Indonesia mereka sangat galak: menuding, menuduh, menghujat. Berani melawan polisi . Di hadapan polisi bule mereka mendadak jadi inlander betulan.
Tambah kisruh adalah banyak orang-orang pro-integrasi tak terdaftar sebagai pemilih. Dari 4 konferensi pers, 3 di antaranya adalah tentang ungkapan soal ini. Bahkan anak-anak Mahidi mengangkut segerombolan orang tua yang ditolak mendaftar pemilih karena dikenal sebagai pendukung integrasi.
Saya pun harus mengungkapkan ukuran mental wartawan-wartawan Indonesia di sini. Siang menjelang sore, UNAMET menyelenggarakan konferensi pers di Dili tentang rencana penyelenggaraan jajak pendapat besok. Saya tentu hadir. Lebih banyak wartawan asing daripada wartawan Indonesia. Saya yakin wartawan-wartawan Indonesia tahu kecurangan-kecurangan itu.
Saat tanya jawab, tidak ada wartawan Indonesia mempertanyakan soal praktik tidak fair itu. Bahkan sekedar bertanya pun tidak. Hanya saya yang bertanya tentang itu. Jawabannya tidak jelas. Pertanyaan didominasi wartawan-wartawan bule.
Tapi saya ingat betapa galaknya wartawan-wartawan Indonesia kalau mewawancarai pejabat Indonesia terkait dengan HAM atau praktik-praktik kecurangan. Hambatan bahasa tidak bisa jadi alasan karena cukup banyak wartawan Indonesia yang bisa bahasa Inggris. Saya kira sebab utamanya rendah diri, seperti sikap para aktifis LSM lokal tadi.
Setelah konferensi pers usai, sekitar 2 jam saya habiskan untuk menulis laporan. Isi utamanya tentang praktik-praktik kecurangan itu. Selain wawancara, saya juga melengkapinya dengan pemantauan langsung.
Kira-kira 2 jam setelah saya kirim, editor di Bangkok menelepon. Saya masih ingat persis dialognya:
“Kafil, we can’t run the story,” katanya.
“What do you mean? You send me here. I do the job, and you don’t run the story?” saya berreaksi.
“We can’t say the UNAMET is cheating…” katanya.
“That’s what I saw. That’s the fact. You want me to lie?” saya agak emosi.
“Do they [pro-integrasi] say all this thing because they know they are going to loose?”
“Well, that’s your interpretation. I’ll make it simple. I wrote what I had to and it’s up to you,”
“I think  we still can run the story but we should change it.”
“ I leave it to you,” saya menutup pembicaraan.
Saya merasa tak nyaman. Namun saya kemudian bisa maklum karena teringat bahwa IPS Asia-Pacific itu antara lain didanai PBB.
***
Kira-kira jam 5:30 sore, 29 Agustus 199, saya tiba di penginapan. Lagi-lagi, Laffae sedang dikerumuni tokoh-tokoh pro-integrasi Timtim. Terlihat Armindo Soares, Basilio Araujo, Hermenio da Costa, Nemecio Lopes de Carvalho, nampaknya mereka sedang membicarakan berbagai kecurangan UNAMET.
Makin malam, makin banyak orang berdatangan. Orang-orang tua, orang-orang muda, tampaknya dari tempat jauh di luar kota Dili. Kelihatan sekali mereka baru menempuh perjalanan jauh.
Seorang perempuan muda, cukup manis, tampaknya aktifis organisasi, terlihat sibuk mengatur rombongan itu. Saya tanya dia siapa orang-orang ini.
“Mereka saya bawa ke sini karena di desanya tidak terdaftar,” katanya. “Mereka mau saya ajak ke sini. Bahkan mereka sendiri ingin. Agar bisa memilih di sini. Tidak ada yang membiayai. Demi merah putih,” jawabnya bersemangat.
Saya tergetar mendengar bagian kalimat itu: “…demi merah putih.”
Mereka semua ngobrol sampai larut. Saya tak tahan. Masuk kamar. Tidur. Besok jajak pendapat.
Pagi 30 Agustus 1999. Saya keliling Dili ke tempat-tempat pemungutan suara. Di tiap TPS, para pemilih antri berjajar. Saya bisa berdiri dekat dengan antrean-antrean itu. Para ‘pemantau’ tak berani mendekat karena diusir polisi UNAMET.
Karena dekat, saya bisa melihat dan mendengar bule-bule Australia yang sepertinya sedang mengatur barisan padahal sedang kampanya kasar. Kebetulan mereka bisa bahasa Indonesia: “Ingat, pilih kemerdekaan ya!” teriak seorang cewek bule kepada sekelompok orang tua yang sedang antre. Bule-bule yang lain juga melakukan hal yang sama.
Sejenak saya heran dengan kelakuan mereka. Yang sering mengampanyekan kejujuran, hak menentukan nasib sendiri. Munafik, pikir saya. Mereka cukup tak tahu malu.
Setelah memantau 4-5 TPS saya segera mencari tempat untuk menulis. Saya harus kirim laporan. Setelah mengirim laporan. Saya manfaat waktu untuk rileks, mencari tempat yang nyaman, melonggarkan otot. Toh kerja hari itu sudah selesai.
Sampailah saya di pantai agak ke Timur, di mana patung Bunda Maria berdiri menghadap laut, seperti sedang mendaulat ombak samudra. Patung itu bediri di puncak bukit. Sangat besar. Dikelilingi taman dan bangunan indah. Untuk mencapai patung itu, anda akan melewati trap tembok yang cukup landai dan lebar. Sangat nyaman untuk jalan berombongan sekali pun. Sepanjang trap didindingi bukit yang dilapisi batu pualam. Di setiap kira jarak 10 meter, di dinding terpajang relief dari tembaga tentang Yesus, Bunda Maria, murid-murid Yesus, dengan ukiran yang sangat bermutu tinggi.  Indah. Sangat indah.
Patung dan semua fasilitasnya ini dibangun pemerintah Indonesia. Pasti dengan biaya sangat mahal. Ya, itulah biaya politik.
Tak terasa hari mulai redup. Saya harus pulang. Besok pengumuman hasil jajak pendapat.
Selepas magrib, 30 September 1999. Kembali saya menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh kebiasaan buruk: merokok sambil minum kopi di lobi penginapan. Kali ini, Laffae mendahului saya. Dia sudah duluan mengepulkan baris demi baris asap dari hidung dan mulutnya. Kami ngobrol lagi.
Tapi kali ini saya tidak leluasa. Karena banyak tamu yang menemui Laffae, kebanyakan pentolan-pentolan milisi pro-integrasi.  Ditambah penginapan kian sesak. Beberapa pemantau nginap di situ. Ada juga polisi UNAMET perwakilan dari Pakistan.
Ada seorang perempuan keluar kamar, melihat dengan pandangan ‘meminta’ ke arah saya dan Laffae. Kami tidak mengerti maksudnya. Baru tau setelah lelaki pendampingnya bilang dia tak kuat asap rokok. Laffae lantas bilang ke orang itu kenapa dia jadi pemantau kalau tak kuat asap rokok. Kami berdua terus melanjutkan kewajiban dengan racun itu. Beberapa menit kemudian cewek itu pingsan dan dibawa ke klinik terdekat.
Saya masuk kamar lebih cepat. Tidur.
Pagi, 4 September 1999. Pengumuman hasil jajak pendapat di hotel Turismo Dili. Bagi saya, hasilnya sangat mengagetkan: 344.508 suara untuk kemerdekaan, 94.388 untuk integrasi, atau 78,5persen berbanding 21,5persen.
Ketua panitia mengumumkan hasil ini dengan penuh senyum, seakan baru dapat rezeki nomplok. Tak banyak tanya jawab setelah itu. Saya pun segera berlari mencari tempat untuk menulis laporan. Setelah selesai, saya balik ke penginapan.
Di lobi, Laffae sedang menonton teve yang menyiarkan hasil jajak pendapat. Sendirian. Saat saya mendekat, wajahnya berurai air mata. “Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Mereka curang..” katanya tersedu. Dia merangkul saya. Lelaki pejuang, tegar, matang ini mendadak luluh. Saya tak punya kata apapun untuk menghiburnya. Lagi pula, mata saya saya malah berkaca-kaca, terharu membayangkan apa yang dirasakan lelaki ini. Perjuangan keras sepanjang hidupnya berakhir dengan kekalahan.
Saya hanya bisa diam. Dan Laffae pun nampaknya tak mau kesedihannya terlihat orang lain. Setelah beberapa jenak ia berhasil bersikap normal.
“Kota Dili ini akan kosong..” katanya. Pelan tapi dalam. “Setelah kosong, UNAMET mau apa.”
Telepon berbunyi, dari Prabandari Tempo. Dia memberi tahu semua wartawan Indonesia segera dievakuasi pakai pesawat militer Hercules, karena akan ada penyisiran terhadap semua wartawan Indonesia. Saya diminta segera ke bandara saat itu juga. Kalau tidak, militer tidak bertanggung jawab. Semua wartawan Indonesia sudah berkumpul di bandara, tinggal saya. Hanya butuh lima menit bagi saya untuk memutuskan tidak ikut. “Saya bertahan, nDari. Tinggalkan saja saya.”
Laffae menguping pembicaraan. Dia menimpali: “Kenapa wartawan kesini kalau ada kejadian malah lari?” katanya. Saya kira lebih benar dia mikirnya.
Saya lantas keluar, melakukan berbagai wawancara, menghadiri konferensi pers, kebanyakan tentang kemarahan atas kecurangan UNAMET. “Anggota Mahidi saja ada 50 ribu; belum Gardapaksi, belum BMP, belum Halilintar, belum masyarakat yang tak ikut organisasi,” kata Nemecio Lopez, komandan milisi Mahidi.
Kembali ke penginapan sore, Laffae sedang menghadapi tamu 4-5 orang pentolan pro-integrasi. Dia menengok ke arah saya: “Kafil! Mari sini,” mengajak saya bergabung.
“Sebentar!” saya bersemangat. Saya tak boleh lewatkan ini. Setelah menyimpan barang-barang di kamar, mandi kilat. Saya bergabung. Di situ saya hanya mendengarkan. Ya, hanya mendengarkan.
“Paling-paling kita bisa siapkan seribuan orang,” kata ketua Armindo Soares, saya bertemu dengannya berkali-kali selama peliputan.
“Saya perlu lima ribu,” kata Laffae.
“Ya, lima ribu baru cukup untuk mengguncangkan kota Dili,” katanya, sambil menengok ke arah saya.
“Kita akan usahakan,” kata Armindo.
Saya belum bisa menangkap jelas pembicaraan mereka ketika seorang kawan memberitahu ada konferensi pers di kediaman Gubernur Abilio Soares. Saya segera siap-siap berangkat ke sana. Sekitar jam 7 malam, saya sampai di rumah Gubernur. Rupanya ada perjamuan. Cukup banyak tamu. Soares berbicara kepada wartawan tentang penolakannya terhadap hasil jajak pendapat karena berbagai kecurangan yang tidak bisa dimaklumi.
Setelah ikut makan enak, saya pulang ke penginapan sekitar jam 8:30 malam. Sudah rindu bersantai dengan Laffae sambil ditemani nikotin dan kafein. Tapi Laffae tidak ada. Anehnya, penginapan jadi agak sepi. Para pemantau sudah check-out, juga polisi-polisi UNAMET dari Pakistan itu. Tak banyak yang bisa dilakukan kecuali tidur.
Namun saat rebah, kantuk susah datang karena terdengar suara-suara tembakan. Mula-mula terdengar jauh. Tapi makin lama makin terdengar lebih dekat dan frekuensi tembakannya lebih sering. Mungkin karena perut kenyang dan badan capek, saya tertidur juga.
Tanggal 5 September pagi, sekitar jam 09:00, saya keluar penginapan. Kota Dili jauh lebi lengang. Hanya terlihat kendaran-kendaraan UNAMET melintas di jalan. Tak ada lagi kendaraan umum. Tapi saya harus keluar. Apa boleh buat – jalan kaki. Makin jauh berjalan makin sepi, tapi tembakan nyaris terdengar dari segala arah. Sesiang ini, Dili sudah mencekam.
Tidak ada warung atau toko buka. Perut sudah menagih keras. Apa boleh buat saya berjalan menuju hotel Turismo, hanya di hotel besar ada makanan. Tapi segera setelah itu saya kembali ke penginapan. Tidak banyak yang bisa dikerjakan hari itu.
Selepas magrib 5 Setember 1999. Saya sendirian di penginapan. Lapar. Tidak ada makanan. Dili sudah seratus persen mencekam. Bunyi tembakan tak henti-henti. Terdorong rasa lapar yang sangat, saya keluar penginapan.
Selain mencekam. Gelap pula. Hanya di tempat-tempat tertentu lampu menyala. Baru kira-kira 20 meter berjalan, gelegar tembakan dari arah kanan. Berhenti. Jalan lagi. Tembakan lagi dari arah kiri. Tiap berhenti ada tarikan dua arah dari dalam diri: kembali atau terus. Entah kenapa, saya selalu memilih terus, karena untuk balik sudah terlanjur jauh. Saya berjalan sendirian; dalam gelap; ditaburi bunyi tembakan. Hati dipenuhi adonan tiga unsur: lapar, takut, dan perjuangan menundukkan rasa takut. Lagi pula, saya tak tau ke arah mana saya berjalan. Kepalang basah, pokoknya jalan terus.
Sekitar jam 11 malam, tanpa disengaja, kaki sampai di pelabuhan Dili. Lumayan terang oleh lampu pelabuhan. Segera rasa takut hilang karena di sana banyak sekali orang. Mereka duduk, bergeletak di atas aspal atau tanah pelabuhan. Rupanya, mereka hendak mengungsi via kapal laut.
Banyak di antara mereka yang sedang makan nasi bungkus bersama. Dalam suasa begini, malu dan segan saya buang ke tengah laut. Saya minta makan! “Ikut makan ya?” kata saya kepada serombongan keluarga yang sedang makan bersama. “Silahkan bang!.. silahkan!..” si bapak tampak senang. Tunggu apa lagi, segera saya ambil nasinya, sambar ikannya. Cepat sekali saya makan. Kenyang sudah, sehingga ada tenaga untuk kurang ajar lebih jauh: sekalian minta rokok ke bapak itu. Dikasih juga.
Sekitar jam 3 malam saya berhasil kembali ke penginapan.
Pagi menjelang siang, tanggal 6 September 1999. Saya hanya duduk di lobi penginapan karena tidak ada kendaraan. Tidak ada warung dan toko yang buka. Yang ada hanya tembakan tak henti-henti. Dili tak berpenghuni – kecuali para petugas UNAMET. Nyaris semua penduduk Dili mengungsi, sebagian via kapal, sebagian via darat ke Atambua. Orang-orang pro-kemerdekaan berlarian diserang kaum pro-integrasi. Markas dan sekretariat dibakar. Darah tumpah lagi entah untuk keberapa kalinya.
Sekarang, saya jadi teringat kata-kata Laffae sehabis menyaksikan pengumuman hasil jajak pedapat kemarin: “Dili ini akan kosong..”
Saya pun teringat kata-kata dia: “Saya perlu lima ribu orang untuk mengguncang kota Dili..” Ya, sekarang saya berkesimpulan ini aksi dia. Aksi pejuang pro-integrasi yang merasa kehilangan masa depan. Ya, hanya saya yang tahu siapa tokoh utama aksi bumi hangus ini, sementara teve-teve hanya memberitakan penyerangan mililis pro-integrasi terhadap kaum pro-kemerdekaan.
Tentu, orang-orang pro-integrasi pun mengungsi. Laffae dan pasukannya ingin semua orang Timtim bernasib sama: kalau ada satu pihak yang tak mendapat tempat di bumi Loro Sae, maka semua orang timtim harus keluar dari sana. Itu pernah diucapkannya kepada saya.
Inilah hasil langsung jajak pendapat yang dipaksakan harus dimenangkan. Hukum perhubungan antar manusia saat itu sepasti hukum kimia: tindakan lancung dan curang pasti berbuah bencana.
***
Saya harus pulang, karena tidak banyak yang bisa dilihat dan ditemui. Untung masih ada omprengan yang mau mengantara ke bandara. Sekitar jam 11 pagi saya sampai di pelabuhan udara Komoro. Keadaan di bandara sedang darurat. Semua orang panik. Semua orang ingin mendapat tiket dan tempat duduk pada jam penerbangan yang sama. Karena hura-hara sudah mendekati bandara. Lagi pula penerbangan jam itu adalah yang satu-satunya dan terakhir.
Bule-bule yang biasanya tertib kini saling sikut, saling dorong sampai ke depan komputer penjaga kounter. Ada bule yang stres saking tegangnya sampai-sampai minta rokok kepada saya yg berdiri di belakang tenang-tenang saja. Beginilah nikmatnya jadi orang beriman.
Banyak yang tidak kebagian tiket. Entah kenapa saya lancar-lancar saja. Masuk ke ruangan tunggu, di situ sudah ada Eurico Gutteres. Saya hampiri dia, saya bilang saya banyak bicara dengan Laffae dan dia menyampaikan salam untuknya. Eurico memandang saya agak lama, pasti karena saya menyebut nama Laffae itu.
Sore, 7 Novembe3, 1999, saya mendarat di Jakarta.
Penduduk Timtim mengungsi ke Atambua, NTT. Sungguh tidak mudah mereka mengungsi. Polisi UNAMET berusaha mencegah setiap bentuk pengungsian ke luar Dili. Namun hanya sedikit yang bisa mereka tahan di Dili.
Di kamp-kamp pengungsian Atambua, keadaan sungguh memiriskan hati. Orang-orang tua duduk mecakung; anak-anak muda gelisah ditelikung rasa takut; sebagian digerayangi rasa marah dan dendam; anak-anak diliputi kecemasan. Mereka adalah yang memilih hidup bersama Indonesia. Dan pilihan itu mengharuskan mereka terpisah dari keluarga.
Pemerintah negara yang mereka pilih sebagai tumpuan hidup, jauh dari menyantuni mereka. Kaum milisi pro-integrasi dikejar-kejar tuntutan hukum atas ‘kejahatan terhadap kemanusiaan’, dan Indonesia, boro-boro membela mereka, malah ikut mengejar-ngejar orang Timtim yang memilih merah putih itu. Eurico Guterres dan Abilio Soares diadili dan dihukum di negara yang dicintai dan dibelanya.
Jendral-jendral yang dulu menikmati kekuasaan di Timtim, sekarang pada sembunyi. Tak ada yang punya cukup nyali untuk bersikap tegas, misalnya: “Kami melindungi rakyat Timtim yang memilih bergabung dengan Indonesia.” Padahal, mereka yang selalu mengajarkan berkorban untuk negara; menjadi tumbal untuk kehormatan pertiwi, dengan nyawa sekalipun.
Sementara itu, para pengungsi ditelantarkan. Tak ada solidaritas kebangsaan yang ditunjukkan pemerintah dan militer Indonesia.
Inilah tragedi kemanusiaan. Melihat begini, jargon-jargon negara-negara Barat, media asing, tentang ‘self determination’, tak lebih dari sekedar ironi pahit. Sikap negara-negara Barat dan para aktifis kemanusiaan internasional yang merasa memperjuangkan rakyat Timtim jadi terlihat absurd. Sebab waktu telah membuktikan bahwa yang mereka perjuangkan tak lebih tak kurang adalah sumberdaya alam Timtim, terutama minyak bumi, yang kini mereka hisap habis-habisan.
Pernah Laffae menelepon saya dari Jakarta, kira-kira 3 bulan setelah malapetaka itu. Ketika itu saya tinggal di Bandung. Dia bilang ingin ketemu saya dan akan datang ke Bandung. Saya sangat senang. Tapi dia tak pernah datang..saya tidak tahu sebabnya. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.
***
12 tahun beralu sudah. Apa kabar bailout IMF yang 43 milyar dolar itu? Sampai detik ini, uang itu entah di mana. Ada beberapa percik dicairkan tahun 1999-2000, tak sampai seperempatnya. Dan tidak menolong apa-apa. Yang terbukti bukan mencairkan dana yang dijanjikan, tapi meminta pemerintah Indonesia supaya mencabut subsidi BBM, subsidi pangan, subsidi listrik, yang membuat rakyat Indonesia tambah miskin dan sengsara. Anehnya, semua sarannya itu diturut oleh pemerintah rendah diri bin inlander ini.
Yang paling dibutuhkan adalah menutupi defisit anggaran. Untuk itulah dana pinjaman [bukan bantuan] diperlukan. Namun IMF mengatasi defisit angaran dengan akal bulus: mencabut semua subsidi untuk kebutuhan rakyat sehingga defisit tertutupi, sehingga duit dia tetap utuh. Perkara rakyat ngamuk dan makin sengsara, peduli amat.
Melengkapi akal bulusnya itu IMF meminta pemerintah Indonesia menswastakan semua perusahaan negara, seperti Bank Niaga, BCA, Telkom, Indosat.
Pernah IMF mengeluarkan dana cadangan sebesar 9 milyar dolar. Tapi, seperti dikeluhkan Menteri Ekonomi Kwik Kian Gie ketika itu, seperak pun dana itu tidak bisa dipakai karena hanya berfungsi sebagai pengaman. Apa bedanya dengan dana fiktif?
Lagi pula, kenapa ketika itu pemerintah Indonesia seperti tak punya cadangan otak, yang paling sederhana sekalipun. Kenapa mau melepas Timtim dengan imbalan utang? Bukankan semestinya kompensasi? Adakah di dunia ini orang yang hartanya di beli dengan utang? Nih saya bayar barangmu. Barangmu saya ambil, tapi kau harus tetap mengembalikan uang itu. Bukankah ini sama persis dengan memberi gratis? Dan dalam kasus ini, yang dikasih adalah negara? Ya , Indonesia memberi negara kepada IMF secara cuma-cuma.
Kalau saya jadi wakil pemerintah Indonesia waktu itu, saya akan menawarkan ‘deal’ yang paling masuk akal: “Baik, Timor Timur kami lepas tanpa syarat. Ganti saja dana yang sudah kami keluarkan untuk membangun Timtim selama 24 tahun.” Dengan demikian, tidak ada utang piutang.
Sampai hari ini Indonesia masih menyicil utang kepada IMF, untuk sesuatu yang tak pernah ia dapatkan. Saya harap generasi muda Indonesia tidak sebodoh para pemimpin sekarang.

SUMBER : http://kafilyamin.wordpress.com/2011/02/18/menit-menit-yang-luput-dari-catatan-sejarah-indonesia/

Read more...

Seekor OrangUtan di Kalimantan di Jadikan Pelacur

Tidak ada komentar

Orang utan dijadikan pelacur
Sebuah berita lama terangkat kembali lantaran ramai di jejaring sosial Twitter. Orangutan asal wilayah Kerengpangi, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah dijadikan pelacur melayani nafsu bejat banyak lelaki di tempat itu.
Situs vice.com melaporkan peristiwa ini terjadi lima tahun lalu (2007). Pony nama orangutan itu hidup di tengah-tengah lokalisasi di Kerengpangi. Dia dipelihara oleh seorang gundik tidak disebutkan namanya. Sekitar umur lima tahun Pony mulai diajarkan melayani para pencari kenikmatan.
Berdasarkan wawancara vice.com dengan direktur Organisasi Penyelamatan Orangutan Borneo Michelle Desilets, keadaan Pony sangat mengenaskan saat diselamatkan dari tempat prostitusi itu. Dia dirantai, tiduran di atas matras, dan semua bulunya dicukur.
Pony seolah telah dilatih menjadi pelacur. Jika ada lelaki berjalan mendekatinya dia langsung bergaya seperti menjajakan diri. Gundiknya mengatakan Pony menjadi bintang di rumah bordilnya. Pendapatan gundik itu jadi berlipat-lipat dan dia pun dianggap sebagai keberuntungan sebab si gundik selalu menang judi togel jika ada Pony.
Para tamu pun menyukai Pony. Mereka bisa saja memilih pelacur manusia namun banyak juga bercinta dengan orangutan itu. Agar nyaman seluruh bulu Pony digunduli. Pony jadi sering digigit nyamuk dan kulitnya iritasi bahkan berjerawat.
Butuh tahunan menyelamatkan Pony dari tempat itu. warga lokal tidak menyerahkan Pony begitu saja pada Organisasi Penyelamatan Orangutan Borneo. Mereka menghadang dengan senjata, dan pisau beracun.
Saat Pony direbut dari gundiknya, sang gundik histeris dan menyebut para pegiat sebagai binatang tidak berperikemanusiaan sebab telah memisahkan seolah ibu dan anak. "Paling membuat saya miris, tidak ada hukum di Indonesia mengatur hal ini. Mereka masih bebas berkeliaran tanpa dihukum atas apa yang mereka lakukan," ujar Desilets.
Meski berita lama namun penggemar Twitter banyak baru mengetahuinya. Banyak orang mengatakan manusia memang sudah sakit di segala tingkatan. Na'udzubillahi Mindzalik...
[din/Merdeka.com/www.bringislam.web.id]
Read more...

10 Ormas Islam Lakukan Konsolidasi Gagalkan Miss World

Tidak ada komentar
Tolak Miss Word
Kamis siang (29/8) 10 ormas Islam berkumpul di kantor Hizbut Tahrir Indonesia untuk melakukan konsolidasi guna mengagalkan Miss World. Hadir dalam kesempatan ini di antaranya Lembaga Dakwah Kemuliaan Islam (LDKI), Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Syarikat Islam, Al Irsyad al Islamiyah, Persatuan Muslimin Indonesia (Parmusi), Taruna Muslim, Hidayatullah, Al Ittihadiyah, dan Korps Mubaligh Jakarta (KMJ).

Menurut Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto, Indonesia menjadi target liberalisasi mulai dari Irsyad Manji, Lady Gaga, sekarang Miss World. Artinya, ini liberalisasi Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia terencana dan sistematis. Persoalan Miss World bukan sekedar bikini tapi ajang eksploitasi perempuan untuk kepentingan industri seksual, kosmetik dan fashion. “Ini merendahkan perempuan!” tegasnya.

Jubir JAT Son Hadi menolak tegas acara Miss World karena mengeksploitasi aurat. Pria asal Surabaya ini menuntut agar MNC Group membatalkan kontes ratu se jagad tersebut.
“Sekalipun pakai cadar dan jilbabpun, Miss World tetap haram karena dia menjadikan perempuan sebagai objek. Ini perang peradaban sebelum perang sesungguhnya,” katanya.
JAT, kata Son, siap untuk membatalkan acara tersebut. Untuk itu, organisasinya siap untuk mengunjungi kantor MNC Group dalam waktu dekat. “Sepanjang itu perintah Syariat, maka kita akan berupaya untuk menggagalkan,” tegasnya.

Hal senada juga dikemukakan oleh Ketua Umum Taruna Muslim, Alfian Tanjung. Pengalamannya bersama umat Islam membatalkan konser Lady Gaga menjadi spirit untuk dapat mengusir Miss World dari Indonesia.

“Kami bertekad untuk menggagalkan Miss World!” ancamnya.
Sementara itu, Perwakilan Parmusi Taufikurrahman menyebut ada agenda westernisasi dibalik ajang Miss World. Celah ini harus diperhatikan oleh umat Islam.

“Miss World akan menjadi titik masuk westernisasi yang lebih besar lagi!” prediksinya.
Bahkan mantan anggota DPR Mashadi dan juga pendiri LDKI menyerukan jika ajang Miss World tetap dilaksanakan, maka akan terjadi revolusi di Indonesia. Tak sekedar mengutuk keras, Mashadi juga menyamakan penyelenggaraan Miss World di negeri yang mayoritas Muslim ini dengan memaksa umat Islam memakan daging babi. Sebab kegiatan dipaksakan untuk digelar di tengah negara muslim.

“Harry Tanoe dan Istrinya sama dengan menyuruh kaum Muslim Indonesia memakan daging babi!” hardiknya.
[Pz/Islampos]
Read more...

Warga Jawa Barat Dukung Gubernur Ahmad Heryawan Pimpin Aksi Tolak Miss World

Tidak ada komentar
Ahmad Heryawan
Pegelaran kontes Miss World 2013 tinggal menghitung hari. Sentul Jawa Barat akan menjadi puncak ajang ratu kecantikan yang telah ditolak oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Lantas bagaimana suara warga Jawa Barat?


Sejumlah warga yang ditemui Islampos.com mengutarakan ketidaksetujuannya terhadap pelaksanaan Miss World. Satria, misalnya, warga Depok ini mengungkapkan kontes Miss World tidak sejalan dengan kultur masyarakat Jawa Barat yang agamis dan menjaga norma kesopanan.

“Jelas-jelas saya sebagai warga Jawa Barat tidak setuju dengan kontes putri-putrian yang nggak bermutu ini,” katanya, Rabu (28/8).

Pria yang sehari-hari berjualan ini meminta Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) untuk memimpin aksi para warga untuk mendemo kontes Miss World. Dia menilai Aher adalah sosok yang tepat, karena selain seorang gubernur, juga dikenal sebagai seorang Ustadz.

“Ayo dong Pak Aher, Anda sebagai pemimpin kami, jangan diam saja melihat kemungkaran di wilayah kita, khususnya Jawa Barat. Bila perlu Pak Aher pimpin kami aksi tolak Miss World. Kalau diam saja, saya sebagai warga betul-betul kecewa,” katanya.

Satria menegaskan tidak betul seorang gubernur tidak memiliki otoritas menolak Miss Wolrd. Aher, katanya, jelas mempunyai wewenang untuk tidak memberi izin, bahkan membubarkan acara itu. Jika Aher bisa memimpin aksi demo dukung Mursi dan tolak kekejaman militer Mesir, kenapa hal sama tidak dilakukan untuk ajang Miss World.

“Padahal kontes Miss World jelas-jelas batil seperti yang sudah diputuskan MUI,” ujarnya.

Sama halnya dengan Ibnu, warga Jawa Barat asal Garut ini meminta Gubernur dapat menjaga kenyamanan dan ketentraman warga Jawa Barat. Para warga, menurutnya, merasa resah dengan rencana Kontes Miss World 2013 yang menjadikan daerah Jawa Barat sebagai puncak kontes.

“Buat apa kita punya pemimpin Ustadz kalau tidak bisa melindungi warganya dari ajang Miss World? Warga Jawa Barat pasti setuju kalau Pak Gubernur memimpin aksi untuk demo tolak Miss World,” sambutnya.

Pria yang sehari-hari menjadi karyawan ini menambahkan sah-sah saja gubernur memimpin aksi. Itu adalah hak seorang gubernur. Ingat, katanya, Jawa Barat adalah provinsi para ulama dan pesantren.

“Jangan sampai Jawa Barat berganti dengan julukan Provinsi maksiat gara-gara pemimpinnya setuju menyediakan tempat kontes pamer aurat,” harapnya.

Sementara itu, Mahladi, warga Beji, amat berharap Aher mau berdiri di barisan paling depan untuk memimpin gerakan menolak Miss World. Apalagi ini adalah hajatannya Pusat. Maka selayaknya Pak Gubernur merasa keberatan bila Jawa Barat sebagai propinsi yang agamis dijadikan tempat pelaksanaan kontes berbau maksiat seperti itu.

“Ayo pak Gubernur, pimpin kami menolak Miss World!” dukungnya. [Pz/Islampos/www.bringislam.web.id]

Read more...

Muslimah HTI: Batalkan Kontes Miss World 2013 di Bali

Tidak ada komentar
Muslimah HTI: Batalkan Kontes Miss World 2013 di Bali
Hizbut Tahrir Indonesia atau HTI menolak keras penyelenggaraan Miss World 2013 yang akan berlangsung di Bali pada 8 September 2013 mendatang. Karena itu, mereka mendesak pemerintah untuk mencabut perizinan atau membatalkan penyelenggaraan agenda tahunan internasional itu.
“Kami mendesak pemerintah agar mencabut izin penyelenggaraannya di Indonesia dan mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun,” ujar juru bicara HTI Iffah Ainur Rochmah di Kantor HTI, Jakarta Selatan, Jumat (28/6/2013).

HTI mengajak perempuan Indonesia kembali kepada kemuliaannya sebagai perempuan. HTI, lanjut dia, mengimbau kepada wanita Indonesia berjuang keras menggantikan sistem pemerintahan demokrasi yang meliberalkan perempuan.

Iffah menilai, masyarakat sebenarnya semakin sadar bahwa negara ini telah gagal menjaga moralitas bangsa. Karena kebijakannya selama ini hanya berpihak kepada kepentingan pelaku industri.
“Mereka menyadari bahwa solusi tuntas ada pada syariah Islam terbukti, dengan adanya survei 72 persen masyarakat yang menginginkan penerapan syariah dan menolak gaya hidup liberal barat,” kata dia.
Karena itu, Iffah menegaskan, pemerintah harus segera mendukung keinginan masyarakat tersebut. “Dan tidak membiarkan penyelenggaraan kontes porno yang akan membawa kehinaan dunia dan akhirat bagi bangsa ini,” tutup Iffah. (Riz/Ism/liputan6).
Read more...

Janda Miskin Sebatang kara tidak Dapat BLSM, Pengusaha Punya Avanza Malah Dapat

Tidak ada komentar
Janda Miskin Sebatang Kara Tak Dapat BLSM, Pengusaha kaya malah dapat
Warkem, janda tua yang miskin tak dapat dana BLSM (Robbi Sofwan Amin/VIVAnews )
VIVAnews - Upaya pemerintah untuk memberikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) kepada warga miskin yang terdampak akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) tampaknya tidak berjalan mulus, setidaknya di Desa Rempoah ini.

Warkem, seorang janda tua miskin yang hidup sebatang kara di sesa yang masuk Kecamatan Baturaden, Banyumas, Jawa Tengah, itu justru tidak mendapatkan Kartu Perlindungan Sosial (KPS) yang diperuntukkan bagi warga miskin.

Warkem tinggal di rumah kecil berlantai tanah yang hanya disekat dua bagian yaitu, dapur dan tempat tidur. Setiap hari, Warkem hanya beraktivitas di dalam ruangan multifungsi, dapur sekaligus menjadi ruang tamu dan tempat menyimpan berbagai macam perabotan.

Untuk memasak, Warkem menggunakan tungku kayu bakar. Di samping tungku berserakan kayu bakar dan daun kelapa yang sudah kering untuk menghidupkan api.
Saat VIVAnews berkunjung, Kamis 27 Juni 2013, Warkem tengah memasak air. Dia sedang bersiap menyantap nasi putih dingin tanpa lauk. "Saya tidak dapat (BLSM), tidak terdaftar," begitu kata dia.

Sementara itu, Sutarso, tetangga Warkem mengaku telah menerima kiriman KPS yang dikirim pemerintah. Sutarso yang kondisi ekonominya jauh lebih baik dibandingkan Warkem juga mengaku heran.

"Mengapa Ibu Warkem yang dulu mendapatkan BLT, sekarang tidak mendapatkan KPS," tuturnya.

Selain Warkem, masih ada sejumlah warga miskin lain yang tidak mendapatkan KPS. Pemerintah desa mengaku tidak tahu menahu tentang program ini. Pemerintah desa menyatakan bahwa program KPS langsung dari pemerintah pusat.
Pengusaha Sukses Malah Dapat

Sementara itu, pengusaha sukses di Palembang, Sumatera Selatan jutsru mendapat Kartu Perlindungan Sosial (KPS), yang merupakan kartu untuk mengambil dana BLSM. Tasman (35 tahun) mengaku heran, ketika diberikan kartu untuk mengambil dana BLSM.

"Saya juga tidak tahu dapat kartu bantuan ini. Sebab, ketua RT memanggil saya dan langsung memberikan kartu ini," kata Tasman saat ditemui VIVAnews di kediamannya.

Selain sebagai pengusaha kulit ular, Tasman juga memiliki banyak rumah kontrakan dan usaha lain. Dia juga memiliki mobil pribadi, Toyota Avanza. Tasman (35 tahun), seorang pengusaha kulit ular yang beromzet jutaan rupiah per bulan, justru mendapat Kartu Perlindungan Sosial (KPS), yang merupakan kartu untuk mengambil dana BLSM.

Warga Kelurahan Tangga Takat, Kecamatan Seberang Ulu II Palembang itu mengaku menerima KPS beberapa hari lalu.

"Saya juga tidak tahu dapat kartu bantuan ini. Sebab, ketua RT memanggil saya dan langsung memberikan kartu ini," kata Tasman saat ditemui VIVAnews di kediamannya.

Meski mendapatkan kartu KPS, dia berniat dana BLSM yang nanti dicairkan akan diberikan kepada tetangganya yang bekerja sebagai tukang cuci, Marsuni (34 tahun). "Dia tak mempunyai rumah, karena kartu ini tidak dapat diwakilkan saya sendiri akan mengambilnya," tuturnya.

Selain sebagai pengusaha kulit ular, Tasman juga memiliki banyak rumah kontrakan dan usaha lain. Dia juga memiliki mobil pribadi, Toyota Avanza.

Sementara Marsuni, ibu tiga anak yang berpenghasilan Rp300 ribu perbulan, mengaku tak mendapatkan kartu KPS dari pemerintah. "Tidak dapat Mas, saya juga tidak tahu kenapa. Memang saya sudah lapor ke RT dan lurah, tetapi kata mereka yang mendata bukan mereka, tetapi orang pusat," tuturnya.

Ketua RT Akui Salah Sasaran
Saat dikonfirmasi, Ketua RT 17, Suryati mengakui adanya pembagian kartu KPS yang salah sasaran tersebut. "Benar Tasman tercatat warga sini. Jujur saat pembagian kartu itupun saya bingung. Sebab, Tasman orangnya berkecukupan tetapi menerima kartu KPS," katanya.

Jika ada perintah dari pemerintah pusat untuk menarik kartu itu dari tangan Tasman, ibu ketua RT ini akan segera menariknya. "Karena pemerintah salah sasaran. Yang mendata pun bukan dari RT atau pihak lurah," kata dia.

Suryati menambahkan, di wilayahnya ada sekitar 15 kepala keluarga yang menerima KPS, dan 4 di antaranya adalah orang berkecukupan.

"Sempat kartu KPS ini saya tahan 1 minggu karena bingung ada warga saya yang berkecukupan tetapi menerima. Setelah berkonsultasi dengan RT lain saya bagikan," katanya. (adi)

Program BLSM merupakan kompensasi kepada warga miskin terkait kenaikan harga BBM bersubsidi. Pemerintah menganggarkan Rp9,3 triliun sebagai dana kompensasi bagi 15,5 juta keluarga miskin. Masing-masing Kepala Keluarga (KK) akan menerima Rp150 ribu per bulan selama empat bulan.
[vivanews/http://goo.gl/xjwLV]
Read more...

Lebih Dari Satu Juta Anak di Inggris Tak Punya Ayah

Tidak ada komentar
anak ayah
SEBUAH laporan lembaga sosial Inggris dikabarkan telah mengungkap fakta cukup mencengangkan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa ada kurang lebih satu juta anak di Inggris yang tumbuh besar tanpa ayah.

Seperti yang dikutip dari BBC pada hari Senin (10/6), Lembaga Pusat Keadilan Sosial Inggris (CSJ), mengatakan pertumbuhan keluarga dengan orang tua tunggal di Inggris terus meningkat hingga mencapai 20 ribu keluarga pertahunnya
Jumlah keluarga dengan orang tua tunggal tanpa ayah ini diperkirakan akan mencapai dua juta keluarga hingga saat pemilu mendatang.

Lembaga itu dalam laporannya juga menambahkan bahwa di beberapa wilayah angka keluarga tanpa ayah telah mencapai angka yang cukup tinggi.
Dalam catatannya lembaga itu juga menuding para politisi tidak bisa memberikan respon yang cukup dalam mengatasi masalah ini.

Jumlah keluarga dengan orang tua tunggal tanpa ayah menurut CSJ terus tumbuh dalam empat puluh tahun terakhir dan saat ini ada sekitar 3 juta anak yang tumbuh dengan hanya mengandalkan ibunya [BBC/www.bringislam.web.id]
Read more...

Amerika Mengumpulkan Banyak Data Intelijen dari Facebook, Google dan Raksasa Internet Lain

Tidak ada komentar
facebook


Sebagaimana yang diberitakan oleh www.telegraph.co.uk  , Badan Keamanan Nasional (NSA) mengklasifikasi Program PRISM yang bersifat rahasia yang memungkinkan pemerintah AS untuk mengumpulkan sejumlah informasi yang hampir tidak terbatas dari email, gambar dan akun sosial media.
 
Pengungkapan atas program itu dilaporkan satu hari setelah diketahui bahwa pemerintah telah melacak panggilan telepon dari jutaan orang Amerika selama tujuh tahun terakhir, sehingga memicu tuduhan bahwa pemerintahan Obama menginjak-injak kebebasan sipil.
 
Berbeda dengan program pelacakan telepon, di mana perusahaan telekomunikasi dipaksa untuk menyerahkan catatan-catatannta, Program PRISM memungkinkan NSA untuk secara bebas mencari jaringan perusahaan-perusahaan teknologi setiap saat.
 
Program PRISM juga memungkinkan pemerintah untuk mengakses isi rekening online, sementara program telepon menyediakan data waktu dan lokasi panggilan namun tidak memberitahu para penyelidik tentang apa yang dikatakan.
 
Suatu slide show rahasia yang diperoleh oleh The Guardian dan The Washington Post menunjukkan bahwa sembilan perusahaan bersedia sebagai peserta dalam program ini, yang dimulai dengan Microsoft pada tahun 2007.
 
Namun, The Guardian melaporkan bahwa beberapa perusahaan mengaku tidak tahu bahwa server mereka sedang diakses oleh pemerintah.
 
Google mengatakan dalam sebuah pernyataan: “Dari waktu ke waktu, orang-orang menyatakan bahwa kami telah menyediakan ‘pintu belakang’ bagi pemerintah untuk masuk ke dalam sistem kami, namun Google tidak menyediakan ‘pintu belakang’ bagi pemerintah untuk dapat mengakses data para pengguna pribadi.
 
Skala operasi itu dirinci dalam 41 halaman slideshow  yang diperoleh oleh dua surat kabar, yang menggambarkan Program PRISM sebagai sumber data terbesar.
 
The Washington Post melaporkan bahwa dari semua alat yang digunakan oleh intelijen AS, PRISM adalah program yang paling sering dikutip dalam briefing keamanan harian yang disampaikan kepada Presiden Barack Obama setiap pagi.
 
Satu slide menunjukkan pertumbuhan awal Program itu dengan Microsoft pada tahun 2007, diikuti oleh Yahoo pada tahun 2008, Google, Facebook dan PalTalk pada tahun 2009, YouTube pada tahun 2010, Skype dan AOL pada 2011 dan akhirnya Apple pada Oktober 2012.
 
Diantara semuanya, sembilan perusahaan mencakup sebagian besar semua komunikasi online di seluruh dunia. PRISM ditujukan untuk memata-matai intelijen asing atau para tersangka teroris namun skala yang dimilikinya membuat warga Amerika juga menjadi sasaran.
 
James Clapper, pejabat intelijen paling senior AS, merilis sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa hukum otorisasi PRISM “tidak memungkinkan untuk mentargetkan setiap warga negara AS atau orang-orang yang berada di Amerika Serikat”.
 
Dia menambahkan: “Informasi yang dikumpulkan di bawah program ini adalah informasi intelejen yang paling penting dan berharga yang kami kumpulkan, dan gunakan untuk melindungi negeri kita dari berbagai ancaman.
 
Satu slide menggambarkan bagaimana AS merupakan “tulang punggung telekomunikasi dunia” dimana data elektronik paling banyak melalui AS pada beberapa titik dan karena itu dapat diakses oleh jaringan PRISM.
 
Menurut slideshow itu, program besar dijalankan dengan biaya $ 20 juta per tahun, suatu angka cukup rendah mengingat pentingnya pengumpulan data intelijen AS.
 
Pengungkapan bahwa NSA dapat dengan leluasa masuk melalui akun Gmail dan memantau diskusi Skype cenderung memicu reaksi baru terhadap seorang presiden yang berkampanye pada tahun 2008 dengan platform kebebasan sipil.
 
Al Gore, mantan wakil presiden Demokrat, menggambarkan hal yang diungkapkan kemarin itu atas program pelacakan telepon itu sebagai “pengawasan selimut rahasia” yang “sangat menjijikkan”.
Namun, anggota senior kedua partai di Kongres segera membela pengawasan yang luas itu, dengan beralasan bahwa hal itu adalah penting untuk membela AS terhadap serangan teror.
 
“Ini adalah perlindungan bagi Amerika,” kata Dianne Feinstein, ketua komite Intelijen Senat Partai Demokrat.
 
Para Senator mengatakan program itu, yang dingkap dalam dokumen pengadilan yang bocor yang diperoleh oleh The Guardian, telah berjalan selama tujuh tahun, yang pertama di bawah George W Bush dan kemudian dilanjutkan oleh Obama. (rz/www.bringislam.web.id]
Read more...

Adian Husaini : Sekalipun Pakai Mukena, Miss World Tetap Salah

Tidak ada komentar

Dalam sebuah training da’i dan pendidik bertajuk Mengembalikan Indonesia Dalam Pangkuan Islam (25/05/2013) Dr. Adian Husaini membuka materinya dengan menarik, menurutnya, akar masalah umat Islam hari ini bukanlah kurangnya ilmu (ignorance) melainkan kerancuan atau kekacauan ilmu (confusion of knowledge).

Kerancuan ilmu ini menyebabkan hilangnya ketepatan dalam menilai dan menempatkan sesuatu atau diistilahkan dengan lost of adab. Di mana adab adalah disiplin rohani, akli, dan jasmani yang memungkinkan seseorang dan masyarakat mengenal dan meletakkan segala sesuatu pada tempatnya sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan Allah, sehingga menimbulkan keharmonisan dan keadilan dalam diri, masyarakat, dan lingkungannya.
adian
Doktor Peradaban Islam lulusan International Islamic University Malaysia (IIUM) ini kemudian memberikan contoh realita umat Islam yang menggambarkan kerancuan cara pandang yang salah. Salah satunya adalah tentang fenomena umat Islam dalam merespon kontes kecantikan Miss World 2013. Banyak kaum muslimin bahkan mereka yang digelari ustadz tidak masalah dengan diselenggarakannya ajang Miss World 2013 di negeri ini. Mereka beralasan karena akan meningkatkan pendapatan negara dalam sektor pariwisata di Indonesia. Toh katanya Miss World tahun ini tidak menampilkan agenda berbikini atau disesuaikan dengan budaya ketimuran.
Beliau dengan cerdas menampik alasan ini, “Sekalipun Pakai Mukena, Miss World Tetap Salah! Mengapa? Karena kontes kecantikan macam ini berangkat dari cara pandang yang salah tentang bagaimana menghargai manusia.
“Dalam kontes semacam ini manusia dihargai, dimuliakan karena kecantikannya. Kecantikan mereka akan dinilai, dipertontonkan.. Cantik itu ada rumusnya…  Ada ahli yang menilai, oh..iya ini proporsional,” lanjut beliau.
miss world
“Apa cantik itu prestasi? Kalau awalnya tidak punya hidung kemudian bisa membuat hidung sendiri dan menjadi cantik, iya itu prestasi,” ujarnya.
Ustadz yang pada kesempatan tersebut menyampaikan makalah berjudul Kurikulum Agama dan Sejarah di Sekolah (Studi Kritis) kemudian memaparkan bahwa, “…Ajang Miss World ini berangkat dari cara pandang matrealistik. Jika kita menggunakan cara pandang Islam maka, manusia dihargai, dihormati, bukan karena kecantikannya melainkan karena keimanannya, ketakwaannya, ilmunya. Itu baru dikatakan beradab. Meski kemudian ada slogan brainbeautybehavior…”
Ya, meski ada slogan bukan hanya kecantikan, tetapi juga otaknya, sikapnya, keberaniannya, itu semua hanya embel-embel guna menutupi kriteria kecantikan yang tetap diunggulkan. Seperti pernyataan Daoed Joesoef dalam Dia dan Aku: Memoar Pencari Kebenaran, ”Percayalah, tidak akan ada gadis sumbing yang akan terpilih menjadi ratu betapapun tinggi IQ-nya, terpuji sikapnya atau keberaniannya yang mengagumkan.” [eramuslim/www.bringislam.web.id]
Read more...

Category

Popular Posts

facebook