Comments

Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mualaf. Tampilkan semua postingan

Kisah akhir pastor di amrik yang gigih memurtadkan orang

Tidak ada komentar
Kisah akhir pastor di amrik yang gigih memurtadkan orang
TAK ada yang perlu dicari Skip Estes muda dalam hidup, kecuali melangkah nyaman di jalan yang sudah terbentang mulus. Ia sudah punya apa yang diinginkan kebanyakan orang Amerika: kekayaan, usaha, keluarga bahagia, dan tampang yang boleh juga. Tambahan, ia punya kegiatan yang mulia: mengajak orang-orang kepada agama Kristen – kepada jalan Yesus Kristus.
Ya, disamping pebisnis alat-alat musik dan pemilik studio musik, stasiun radio dan TV lokal, iapreacher – di Indonesia lazim disebut pastor, yakni penyeru agama dalam Protestan.
Dengan semua anugrah itu, ia selalu tampak bergairah, gembira dan bersemangat. Juga ketika ayahandanya, seorang ordain minister [pendeta senior], bilang padanya: “Kita akan berbisnis dengan seseorang dari Kairo, Mesir.”
“Baik ayah,” jawab Skip.
“Dan dia ‘Moslem’,” kata ayahnya lagi.
“Hah? Aku tidak mau ayah! ‘Moslem’? Mereka kan teroris, tukang meculik orang, membajak. Mereka tak percaya Tuhan. Mereka itu mencium tanah lima kali sehari dan menyembah kotak hitam di gurun pasir,” cerocos Skip.
“Ah, kamu harus ketemu dia. Ini bisnis,” desak ayahnya.
Merasa tak kuasa melawan, ia masih mengajukan syarat: “Baik. Aku mau ketemu dia. Tapi akan kukristenkan dia!”
“Kamu lakukan apa yang menurutmu bagus ,” pungkas ayahnya.
****
Hari pertemuan pun tiba. Skip sengaja menemui ‘tamu Kairo’ itu sepulang dari gereja pada hari minggu, dengan pakaian kebaktian lengkap dan injil di tangan, ditemani istri.
Ketika melihat sang tamu, ia kaget campur heran. “Kok ‘Moslem’ begini?” pikirnya. Sebelumnya ia membayangkan akan bertemu pria bercambang-jenggot, baju panjang dan bersorban. Tapi yang dilihatnya jauh dari bayangan itu: Muhammad Abdurrahman, nama tamu itu, berpakaian biasa: kemeja dan celana panjang, wajah kelimis, tak ada bulu-bulu di wajahnya. Bahkan di kepala pun tak ada! Dia botak.
Setelah sedikit obrolan perkenalan, masuk ke obrolan bisnis. Lancar. Tapi Skip ingin lebih dari itu. Ia punya agenda lain: mengkristenkan si tamu.
“Apakah anda percaya Tuhan?” Skip langsung nembak.
“Ya,” jawab Muhammad.
“Maksud saya Tuhannya Ibrahim. Anda percaya nabi Ibrahim?” desak Skip.
“Ya.”
“Anda percaya nabi Daud, Musa?”
“Ya.”
Sialan, pikir Skip. Kok dia percaya Tuhan orang Kristen? Nabi-nabi orang Kristen? Apa dia sedang basa-basi? Tidak jujur?
“Apakah anda juga percaya Yesus? Dan kelahiran ajaibnya? Mukjizatnya menyembuhkan orang lumpuh dan bahkan menghidupkan orang mati?”
“Ya,” jawab Muhammad.
“Anda juga percaya injil?”
“Ya.”
Skip bingung, tapi juga senang. Kalau begitu tak akan sulit mengkristenkan dia, pikirnya. Segera ia pun mengabarkan injil padanya. Ayat demi ayat. Bab demi bab. Dan sang tamu mengangguk-ngangguk penuh pengertian.
Tentu mengubah agama orang tak bisa singkat; tak boleh terburu-buru. Ia lantas mengajak sang tamu tinggal di rumahnya. Muhammad menolak, tapi Skip mendesak, memohon. Muhammad pun setuju.
Di luar urusan bisnis, di obrolan beranda, dalam perjalanan, Skip selalu mendakwahkan Kristen kepada Muhammad, yang lebih banyak diam.  Hanya sesekali ia menimpali. Sampai satu titik, Skip mengajak Muhammad kepada Kristen. Kali ini Muhammad menjawab:
“Saya bersedia masuk agama anda,” katanya.
“Asal anda bisa membuktikan agama anda lebih benar dari agama saya,” tambahnya.
Skip berkerut kening: “Bung, agama bukan soal bukti. Agama soal keyakinan.”
“Di agama kami ada dua-duanya. Kami punya keyakinan, kami pun punya bukti-bukti,” jawab Muhammad.
Skip terdiam. Bagaimana membuktikan injil benar? Pikirnya.
***
Skip tak menyerah. Ia mengundang temannya, pendeta Katolik Peter Jacobs, ayahnya sendiri Edward Estes, dan istrinya,  untuk ikut mengabarkan kebenaran  injil kepada si tamu Mesir. Maka, saban senja, ‘pengajian’ pun digelar di rumah keluarga Estes dengan hanya satu jama’ah, yakni sang tamu, dan tiga ‘pendakwah’, yakni Skip sendiri, ayah Skip, dan si pendeta Katolik Peter Jacobs – plus istri Skip yang hadir lebih sebagai ‘saksi’.
Makin masuk ke  ‘pengajian’, masalah mulai timbul. Pengkhabaran yang disampaikan masing-masing penkhabar kepada si Muslim berbeda-beda dalam banyak hal. Sebabnya, mereka mendasarkan pada versi injilnya masing-masing. Ayahanda Skip menggunakan versi King James, Skip menggunakan versi American Standard, pendeta Katolik Peter Jacobs membawa versi lebih kuno, dan istri Skip menggunakan versi Jimmy Swaggart, yang lebih ditujukan kepada masyarakat modern Amerika.
Ketika Skip mebacakan satu ayat injil, ayahadanya menyergah: “Tidak begitu bunyinya menurut injil ini,” sambil membacakan ayat injil yang dia bawa.
Peter Jacobs pun mengoreksi: “Bukan begitu menurut injil yang sebenarnya. Ini saya bawa,” sambil membacakan ayat injil versinya.
Ini terjadi pada banyak topik. Jadinya, tanpa disadari, perbincangan dan pedebatan lebih banyak terjadi antara para pengkhabar itu, tentang ayat mana yang sah dan injil versi mana yang bisa dijadikan sandaran – sang jama’ah tunggal lebih sebagai penonton.
Di tengah kebingungan, Skip bertanya kepada si tamu Mesir: “Kalau kitab anda ada berapa versi?”
“Kitab kami tak ada versinya, karena hanya satu,” jawab Muhammad.
Semua pengkhabar terlihat agak terhenyak.
“Teksnya, susunan ayatnya, bahasanya, kalimatnya, titik-komanya, satu – dalam bahasa Arab,” tambah Muhammad.
“Kemana pun tuan-tuan pergi: Arab, Mesir, Turki, Pakistan, Indonesia – kemana saja – carilah al-Qur’an dan liat. Semua sama. “
“Memang ada terjemahan ke berbagai bahasa, tapi kami tidak menyebut terjemahan sebagai al-Qur’an,” kata Muhammad pula.
Setiap kali ‘pengajian’ usai, kebingungan lebih menyerang para pengkhabar injil, terutama tentang keabsahan kitab mereka masing-masing.
***
Skip makin penasaran kepada dua hal: Islam dan al-Qur’annya; serta asal-usul injil yang didakwahkannya terus menerus. Kini, tanpa sadar, ia lebih banyak menyelediki asal-usul injil sembari bertanya tentang al-Qur’an pada tamu Mesirnya, daripada mendakwahkan injil kepadanya.
Sampai suatu tahap, ia tersadar bahwa untuk hal-hal yang kurang dimengertinya dalam injil, ia mendapatkan penjelasan lebih lengkap dan jelas dari al-Qur’an. Misalnya, sementara ummat Kristen berkeyakinan bahwa Yesus itu anak Alllah, dalam injil tak ada satu ayat pun yang menjelaskan itu. Bahkan yang ada adalah perintah menyembah Tuhan yang satu.
Perjanjian Baru:
Markus 12:29: Tuhan adalah satu, dan engkau harus menyembahnya sepenuh jiwa
Perjanjian Lama:
Hozaiya, chapter 16:4: Engkau tak punya tuhan selain Aku. Dan selain aku tidak ada penyelamat.
Jesus saith unto Him, I am the Way the Truth and the life, no man cometh unto the Father but by Me.(Jhon 14:6).
Dia tak kunjung mengerti darimana asal muasalnya ketuhanan Yesus dan konsep Trinitas.
Dalam al-Qur’an, keterangan tentang Yesus [Nabi Isa] sangat jelas. Ia adalah utusan Tuhan yang lahir secara mukjizat, dan menyeru untuk beriman dan menyembah kepada Allah yang esa.
Bahkan nama bible [injil] pun tak ada dalam injil. Ia berasal dari bahasa Yunani biblios, yang artinya buku. Tapi al-Qur’an dengan jelas menyebutkan ummat yang menerima wahyu sebelum mereka, yakni Nasrani dan Yahudi, sebagai ahlul kitab.
Dan yang paling memusingkannya adalah konsep Trinitas. Satu yang tiga; tiga yang satu. Sudah pake logika apa pun tetap sulit. Bolak-balik ia berkonsultasi kepada Peter Jacobs minta saran bagaimana mendakwahkan Trinitas kepada si Muslim Mesir.
Pertama, si pendeta menyarankan pakai perumpamaan apel. Satu buah apel. Tapi dia terdiri dari tiga: kulit, isi dan biji. Tapi sambil di jalan pikirannya sendiri menyanggah: tapi biji apel kan tidak satu? Lagian biji apel, daging apel, dan kulit apel kan bukan apel? Jika Tuhan terdiri dari roh kudus, Bapak dan anak, berarti ketiga-tiganya bukan Tuhan. Ia pun urung menyampaikan perumpamaan Tuhan dan apel ini kepada Muhammad.
Lalu balik lagi ke si pendeta. Minta saran lain. Kali ini perumpamaannya adalah sebuah telur. Satu telur. Pada telur ada kulit, putih dan kuning.
Ah, itu kan tidak beda dengan perumpamaan apel tadi. Ga akan kena juga kepada Muhammad. Balik lagi. Lantas menerima perumpaan satu keluarga: ada bapak, ibu, anak. Tapi satu keluarga. Tak kena juga. Logikanya sama: Bapak kan bukan satu keluarga. Demikian pula ibu, anak. Tak berani pula ia pake perumpamaan itu. Skip tambah bingung.
Karena bingung, alih-alih mendakwahkan Trinitas kepada Muhammad, ia malah bertanya kepadanya:
“Kalau Tuhan anda gimana sih? Ada berapa?”
Muhammad menjawab dengan mengutip ayat al-Qur’an, surah al-ikhlas:
“Katakanlah: Allah itu satu. Allah yang maha mulia. Dia tidak beranak dan bukan anak siapa pun. Dan tidak ada satu pun yang menyerupainya.”
Skip tertegun. Begitu sederhana. Begitu tegas. Begitu jelas. Begitu terang: satu ya satu. Tidak menyerupai segala ciptannya, apa pun itu.
Lagi pula, bukankah  itu yang sebetulnya yang dikhabarkan injil? Tuhan itu satu. Tidak terkena sifat nisbi makhluk: punya anak dan orangtua. Tapi bagaimana ceritanya bisa jadi tiga?
Makin hari, Skip makin tertarik kepada ketegasan dan kejelasan al-Qur’an. Kini posisinya sudah terbalik. Skip bukan mendakwahkan Kristen kepada Muhammad, tapi belajar al-Qur’an dan al-Islam kepadanya.
Dan yang pindah perhatian ini bukan hanya dirinya, tapi juga si pendeta Katolik. Makin sering sang pendeta menemui Muhammad dan pergi bareng.  Muhammad sering pergi ke Mesjid yang ada di kota itu untuk shalat berjama’ah atau I’tikaf, kebetulan saat itu bulan Ramadhan.  Peter sering ikut. Tentu saja ini membuat Skip penasaran. Suatu saat, ia bertanya kepada si pendeta:
“Sembahyang mereka bagaimana?” tanya Skip.
“Biasa saja. Mereka bediri khidmat. Membungkuk, menempelkan dahi ke lantai seperti pendeta Katolik, duduk, lalu menengok  ke kiri dan kekanan. Setelah itu mereka duduk bersila, membaca doa-doa dalam bahasa Arab. Suasananya sangat damai dan tentram,” jawab si Pendeta.
***
Suatu senja, setelah berbincang bertiga, Peter Jacobs dan Muhammad pamit untuk pergi beberapa jam. Setelah larut, mereka belum kembali. Skip mulai khawatir.
Akhirnya Muhammad muncul juga. Di temani seseorang berpeci putih dan bergamis. Dahi Skip mengernyit, menyidik siapa orang itu, ternyata si pendeta.
Skip kaget bukan alang kepalang: “Peter! Kau jadi Muslim?” Skip setengah berteriak.
Peter menjawab: “Asyhadu al-laa ilaahi illallah. Wa asyhadu anna Muhammad ar-rasuulullah”
Skip terduduk. Tak tau persis apa yang dirasakan. Ia ingin bertanya banyak kepada Peter, tapi dia sudah tertidur di tempat duduknya.
Dalam perasaan dan pikiran tak menentu, Skip berjalan mondar-mandir,  masuk ke kamar dan bergumam kepada istrinya: “Ini gimana ceritanya, kok pendeta Katolik masuk Islam..”
Dan komentar sang istri sangat menghentakkan jantungnya: “Pa, aku ingin cerai. Setelah semua pembicaraan ini, injil, qur’an, Islam, aku pikir kita harus berpisah.”
Skip terkejut bukan alang kepalang: “Hey?! Ada apa ini? Aku hanya cerita kok pendeta masuk Islam. Bukan aku yang masuk Islam. Tak mungkin itu! Tidak ada masalah dengan kita!” sergah Skip.
“Kita jelas ada masalah,” jawab istrinya. “Muhammad bilang bahwa perempuan Muslim tak bisa menikah dengan pria Kristen. Aku mau masuk Islam.”
Skip terhenyak untuk kesekian kalinya. Terdiam. Cukup lama. Tiba-tiba wajahnya berubah girang dan berkata: “Dengar Ma, berita baiknya adalah, aku pun ingin masuk Islam!”
“Gimana Mama mau percaya? Hanya beberapa detik lalu Papa bilang tak mungkin masuk Islam,” kata istrinya.
***
Skip pun berjalan lunglai ke luar rumah, tak tau mau kemana. Akhirnya ia menemui Muhammad.
“Dengar kawan,” katanya. “Kali ini aku tak akan bicara apa-apa. Aku hanya ingin mendengar. Ceritakanlah padaku segala sesuatu tentang Islam, al-Qur’an, Nabi Muhammad..” pinta Skip.
Mereka pun berjalan berdua, cukup jauh, ‘hanya’ untuk mengisi suntuk. Sampai lewat pagi buta dan fajar muncul, baru keduanya berpisah, karena Muhammad harus bershalat subuh.
Skip tak segera masuk rumah; berjalan mondar-mandir dulu ke halaman depan dan belakang. Semua omongan Muhammad masih tinggal di kepalanya, dan entah dari mana, ada semacam sikap kepasrahan, keterbukaan, kejujuran, terhadap apa yang disampaikan teman Mesirnya itu. Namun jauh lebih dari itu adalah, kepasrahan kepada pencipta dan penguasa segala makhluk, rongga hatinya seolah terus menganga menunggu tumpahan cahaya. Dan kini, cahaya itu mulai tampak mendekat bersama fajar dan kilasan lembayung dini hari.
Ia menemukan sebuah papan di pinggir rumah. Lalu papan itu ia hamparkan di tanah. Kemudian Skip menempelkan dahinya di situ, meniru gerakan sujud orang Islam, mengarah ke kiblat.
Dalam kepenatan pikiran, ia merundukkan nalar dan kalbunya dalam sujud itu. Mulutnya bergumam. Hanya satu kalimat: “Ya Tuhan, bimbinglah aku.”
Hanya satu kalimat itu.
***
Setelah beberapa lama ia menumpukan dahinya – bagian jasad yang mewakili kejumawaan manusia – di tanah; sejajar dengan lutut dan telapak kaki; ia pun bangun dan berdiri. Seketika itu juga kehendak nuraninya menyeruak; keputusan yang datang tiba-tiba.
Skip kemudian menemui Muhammad, memintanya bersaksi bahwa Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Muhammad membimbingnya dalam bahasa Arab: “Asyhadu an-laa ilaahi illallah. Wa asyhadu anna Muhammad ar-rasuulullah.”
Segera istrinya menyusul mengucapkan syahadat.  Tak sampai sepekan, ayahandanya juga masuk Islam. Skip memaklumkan namanya sebagai Yusuf Estes.
Semua para pengkhabar injil itu kini telah jadi Muslim.
Catatan:
Tulisan saya di atas tidak mencakup aspek lain yang sebetulnya penting dalam proses ketertarikan para pengkhabar injil itu kepada Islam.  Ke-tak-mencakup-an itu semata-mata karena kepentingan penulisan saja, supaya lebih terfokus dan efisien.
Catatan ini saya khususkan untuk aspek yang tak sempat tertuliskan itu. Begini:
Memang, pusat kepenesaranan dan ketertarikan para pengkhabar injil itu tertuju kepada kelugasan, kesederhanaan dan kejelasan al-Qur’an. Tapi itu bukan satu-satunya daya tarik. Aspek lainnya adalah: pribadi Muhammad si tamu Mesir itu.
Seperti diceritakan Yusuf Estes [sebelumnya Skip Estes], Muhammad tak suka berdebat. Pengkhabaran Yusuf Estes yang terus menerus dan ‘menantang’ kepadanya, hanya sesekali saja dia tanggapi. Itu pun lebih banyak dalam bentuk pertanyaan.
Suatu saat, Yusuf dan Muhammad sedang melayani para pembeli di toko alat musik Edward Joseph. Setiap memberikan barang kepada pembeli, Muhammad selalu mengambil dari tumpukkan barang di belakang pajangan, yang memang lebih baru dan bagus.
Yusuf menegur: “Kasih barang yang di tumpukkan depan. Jadi barang yang sudah agak lama cepat terjual.”
Muhammad menjawab: “Maaf kawan, kami selalu memberikan barang yang terbaik untuk pembeli.”
Selain itu, Muhammad tak peran ngomelin pembeli di belakang. Adalah umum di kalangan para penjual, bermuka manis dan berkata ramah kepada pembeli, termasuk pembeli yang cerewet atau nyebelin. Begitu pembeli berlalu, si penjual ngomong kepada temannya: “Pembeli bodoh, sombong, belagu…”
Muhammad tak pernah. Dan ini membuat Yusuf terpesona.
Catatan ini penting untuk menjelaskan bahwa keunggulan Islam sangat terbantu – bahkan dalam beberapa hal ditentukan – oleh pribadi Muslim. Dakwah Islam tak akan efektif bila pribadi para pendakwahnya tak menunjukkan kebersahajaan, kesederhanaan, kerendahatian, seperti yang diajarkan Islam melalui nabi Muhammad SAW.
[Berlanjut]
Kepastoran Yusuf Estes sebelum memeluk Islam menjadikannya sosok unik. Di satu sisi ia menguasai injil dan berbagai persoalannya, di sisi lain pemahamannya terhadap al-Qur’an berlangsung sangat cepat karena kitab itu menyediakan jawab-jawab yang selama ini ia cari. Ia segera belajar bahasa Arab dan menguasainya secara cepat pula.
Beberapa bulan setelah menjadi Muslim, seorang rekan pendeta mengundangnya ke gereja setempat untuk menjelaskan mengapa ia menjadi Muslim. Yusuf tampil di mimbar dengan penuturan yang sangat jelas, mudah, mengesankan. Penjelasannya tentang injil dan al-Qur’an sangat logis dan memuaskan akal.
Setelah turun mimbar, seorang anggota jama’ah perempuan menghampirinya; bertanya padanya bagaimana cara masuk Islam. Yusuf langsung membimbingnya seketika itu juga; di dalam gereja; perempuan itu mengucapkan dua kalimah syahadat.
“Taukah anda siapa perempuan muda itu?” kata Yusuf suatu saat. “Dia adalah anak pendeta yang mengudang saya. Anda bisa bayangkan perasaan sang ayah. Dia mengundang saya, maksudnya untuk bertobat dan kembali kepada Kristen, malah anaknya ikut saya.”
“Itu pasti karena kehendak Allah. Tapi juga karena saya tidak menyerang, menghakimi Kristen dan injil. Saya hanya menjelaskan,” tambahnya.
Tak lama setelah kejadian itu ia diundang lagi oleh pendeta yang sama. Ke gereja yang sama. Yusuf bercerita lagi tentang injil dan al-Qur’an, Trinitas, Tauhid dan apa itu Islam. Setelah turun mimbar, kali ini bukan perempuan muda yang menghampirinya, tapi orang sebayanya. Siapa? Bapak si perempuan itu. Dia pun menyatakan diri ingin menjadi Muslim.
Singkat cerita, ia menjadi International Speaker of Islam; mendirikan Islamic Missionary Work. Ia menjadi salah satu tokoh dalam United Nations World Peace Conference for Religious Leaders [Konferensi Perdamaian Dunia  untuk Para Pemimpin Agama] di Washington, tahun 2000.
Tahun ini [2012], ia pun menjadi delegasi Dubai International Peace Convention, di mana ia jadi pusat perhatian para delegasi lain karena kisah pribadinya yang menarik, penguasannya terhadap materi, dan cara penyampainnya yang khas.
Stasiun radio, teve-nya tetap berjalan, tapi kini isinya tentang Islam. Nama acaranya, ‘The Deen Show’, kian hari kian popular.
Yusuf punya ratusan situs dakwah. Di sini hanya disebut tiga saja: Islamtomorrow.com, Islamyesterday.com, Islamalways.com,  yang menjadi sumber informasi tentang Islam bagi mereka yang ingin tau tentang Islam. Pengaruhnya di kalangan atas sangat kentara, sehingga mereka yang mengikut jejaknya jadi muallaf adalah para pesohor: bintang musik rok, artis film, ilmuwan dan politisi ulung Amerika.
Terakhir, ia mendirikan satu-satunya saluran TV Islam Amerika bernama Guide US TV. Pilihan nama itu benar-benar cerdas, karena artinya bisa dua: ‘bimbinglah kami’ dan ‘bimbinglah Amerika Serikat’. Dua-duanya tak salah.
Hampir setiap pengajian Yusuf Estes ditutup dengan pengucapan syahadat beberapa jama’ah non-Mulsim yang memutuskan memeluk Islam. Makin hari para pengucap syahadat itu makin banyak saja. “Tadinya puluhan orang Amerika masuk Islam setiap bulan. Kamudian ratusan. Sekarang ribuan,” katanya.
Jika hari ini Islam di Amerika Serikat dinyatakan sebagai agama yang paling cepat berkembang, persis di tengah proses itu adalah Yusuf Estes.

sumber: http://kafilyamin.wordpress.com/2012/06/28/kisah-para-pengkhabar-injil/
Read more...

Rahasia Laut Yang Terpisah

Tidak ada komentar
Rahasia laut Yang terbelah
Rahasia Dua Laut Yang Berdampingan Namun Berbeda Rasa
Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.” (Q.S Al Furqan:53)
Jika Anda termasuk orang yang gemar menonton acara TV `Discovery Chanel’ pasti kenal Mr. Jacques Yves Costeau, ia seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis. Orang tua yang berambut putih ini sepanjang hidupnya menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia.


Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba ia menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur/tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya, seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.
Fenomena ganjil itu membuat pusing Mr. Costeau dan mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan. Ia mulai berpikir, jangan-jangan itu hanya halusinansi atau khalayan sewaktu menyelam.
Waktu pun terus berlalu setelah kejadian tersebut, namun ia tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan tentang fenomena ganjil tersebut.
Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia pun menceritakan fenomena ganjil itu. Profesor itu teringat pada ayat Al Quran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.
Ayat itu berbunyi “Marajal bahraini yaltaqiyaan, bainahumaa barzakhun laayabghiyaan…” Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.” Kemudian dibacakan surat Al Furqan ayat 53 di atas.
Selain itu, dalam beberapa kitab tafsir, ayat tentang bertemunya dua lautan tapi tak bercampur airnya diartikan sebagai lokasi muara sungai, di mana terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dan air asin dari laut. Namun tafsir itu tidak menjelaskan ayat berikutnya dari surat Ar-Rahman ayat 22 yang berbunyi “Yakhruju minhuma lu’lu`u wal marjaan” Artinya “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.” Padahal di muara sungai tidak ditemukan mutiara.
Terpesonalah Mr. Costeau mendengar ayat-ayat Al Qur’an itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Al Qur’an ini mustahil disusun oleh Muhammad yang hidup di abad ke tujuh, suatu zaman saat belum ada peralatan selam yang canggih untuk mencapai lokasi yang jauh terpencil di kedalaman samudera.
Benar-benar suatu mukjizat, berita tentang fenomena ganjil 14 abad yang silam akhirnya terbukti pada abad 20. Mr. Costeau pun berkata bahwa Al Qur’an memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Dengan seketika dia pun memeluk Islam.
Subhanallah… Mr. Costeau mendapat hidayah melalui fenomena teknologi kelautan. Maha Benar Allah yang Maha Agung. Shadaqallahu Al`Azhim.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Sesungguhnya hati manusia akan berkarat sebagaimana besi yang dikaratkan oleh air.” Bila seorang bertanya, “Apakah caranya untuk menjadikan hati-hati ini bersih kembali?” Rasulullah s.a.w. bersabda, “Selalulah ingat mati dan membaca Al Quran.”
Berikut ini adalah saat Kapten Cousteau menceritakan peristiwa yang telah menyebabkan dia menjadi seorang Muslim :
“In 1962 German scientists said that the waters of the Red Sea and the Indian Ocean did not mix with each other in the Strait of Bab-ul-Mandab where the Aden Bay and the Red Sea join. So we began to examine whether the waters of the Atlantic Ocean and the Mediterranean mixed with each other. First we analyzed the water in the Mediterranean to find out its natural salinity and density, and the life it contained. We repeated the same procedure in the Atlantic Ocean. The two masses of water had been meeting each other in the Gibraltar for thousands of years. Accordingly, the two masses of water must have been mixing with each other and they must have been sharing identical, or, at least, similar properties in salinity and density. On the contrary, even at places where the two seas were closest to each other, each mass of water preserved its properties. In other words, at the point where the two seas met, a curtain of water prevented the waters belonging to the two seas from mixing. When I told Professor Maurice Bucaille about this phenomenon, he said that it was no surprise and that it was written clearly in Islam’s Holy Book, the Qur’an al-karim. Indeed, this fact was defined in a plain language in the Qur’an al-karim. When I knew this, I believed in the fact that the Qur’an al-karim was the ‘Word of Allah’. I choseIslam, the true religion. The spiritual potency inherent in the Islamic religion gave me the strength to endure the pain I had been suffering for the loss of my son.”
Dan terjemahannya sebagai berikut :
“Pada tahun 1962 ilmuwan Jerman mengatakan bahwa air Laut Merah dan Samudera Hindia tidak menyatu satu dengan yang lain di Selat dari Bab-ul-Mandab di tempat Teluk Aden dan Laut Merah bertemu. Jadi kami memulai untuk memeriksa apakah air dari Samudra Atlantik dan Mediterania bertemu satu sama lainnya.
Pertama kita menganalisis air di Mediterania untuk mengetahui habitat, salinitas dan densitas, dan apa yang hidup di dalamnya. Kami mengulangi prosedur yang sama pada Samudera Atlantik. Dua jenis air telah bertemu masing-masing lain dalam Gibraltar selama ribuan tahun. Dengan demikian dua jenis air pasti telah bercampur dengan satu sama lainnya dan mereka pasti sudah berbagi identik, atau, paling tidak, sama salinitas dan densitasnya.
Sebaliknya, bahkan di tempat di mana ada dua laut yang paling dekat dengan satu sama lain, setiap jenis air bahkan seperti dibiarkan terpisah. Dengan kata lain, pada titik di mana dua lautan bertemu, ada sebuah tirai air yang mencegah air masuk ke dalam dua laut dari pencampuran.
Ketika saya memberitahu Profesor Maurice Bucaille tentang fenomena ini, ia mengatakan bahwa tidak terkejut dan bahwa itu ditulis dengan jelas dalam Kitab Suci Islam, Al-Qur’an al-karim. Memang, fakta ini didefinisikan jelas dalam bahasa dalam Al-Qur’an al-karim. Ketika aku mengetahuinya, saya percaya fakta bahwa Al-Qur’an al-karim adalah ‘Firman Allah’.
Saya memilih Islam, agama yang benar. Potensi spiritual yang melekat dalam Agama Islam memberi saya kekuatan untuk menahan rasa sakit atas penderitaan karena kehilangan anakku.”
Perihal ke-Islaman beliau, kini diperdebatkan setelah munculnya surat dari wakil Keuskupan Katolik Roma di Perancis yang menyatakan beliau tidak jadi pindah agama menjadi Islam dan dimakamkan secara Katolik Roma. Namun begitu, saya yakin setelah pengakuan beliau dengan saksi Professor Maurice Bucaille, jati dirinya sebagai Muslim tak akan tergoyahkan setelah beliau melihat sendiri bagaimana Allah membuat suatu keajaiban dari dua buah laut yang bertemu. Yaitu dunia lautan yang sangat beliau cintai sejak kecil. Wallahu’alam
salam santun ukhuwah fillah  [www.bringislam.web.id]
Read more...

Pelajari Al-Quran Untuk Buktikan Islam Salah, Aktris Inggris Justru Masuk Islam

Tidak ada komentar


77_Myriam1
MYRIAM Francois-Cerrah sudah sangat populer di Inggris ketika dirinya masih anak-anak. Ia adalah pemain film ‘Sense and Sensibility‘yang ngetop di era 09-an. Ketika ia memutuskan dirinya menjadi seorang mualaf, popularitas dirinya semakin melonjak. Ia adalah seorang mualaf wanita terpelajar kelas menengah di Inggris.

Myriam merujuk pada peristiwa serangan 11 September 2001 di AS sebagai motif di balik keingintahuannya tentang Islam. Itulah yang membuat dirinya menyatakan diri masuk Islam.
Ia menyebut bahwa kehidupan Nabi Muhammad (SAW) sebagai seseorang yang membuatnya termotivasi untuk mengubah karirnya.

Myriam menggambarkan Nabi Muhammad sebagai salah satu tokoh besar dalam sejarah yang telah disalahpahami. Dia mengutip beberapa perkataan populer Nabi Muhammad SAW, dan salah satu kutipan favoritnya adalah, “Maafkan orang yang bersalah kepada Anda. Jalinlah hubungan dengannya. Berbuat baiklah kepada orang yang telah berbuat jahat kepada Anda dan berbicara tentang kebenaran bahkan jika itu bertentangan dengan diri Anda sendiri.”

Awalnya, sarjana filsafat lulusan Universitas Cambridge ini membuka Alquran dengan perasaan”marah”. Ia berdiskusi soal Tuhan dengan teman kuliahnya. Sang teman, menggunakan dalil ketuhanan sesuai apa yang disebutkan dalam konsep Islam. “Saya mempelajarinya sebagai bagian dari upaya untuk membuktikan pendapat teman saya yang seorang Muslim itu salah,” ujarnya.

Kemudian ia mulai membaca dengan pikiran yang lebih terbuka. Pembukaan Al Fatihah mencengangkannya. “Dalam Islam, seluruh tindakan manusia, dia sendiri yang akan menanggung konsekuensinya. Itulah pentingnya dia mengambil jalan lurus, jalan Tuhan,” ujarnya. Makin lama belajar Alquran, makin besar keinginan Myriam untuk menganut agama Islam. Tujuan semula, mendebat argumentasi temannya, berubah menjadi pengakuan, “Kamu benar tentang agamamu!”

Tak mau buang waktu, ia segera bersyahadat. “Beberapa teman dekat saya melakukan yang terbaik untuk mendukung saya dan memahami keputusan saya. Saya tetap sangat dekat dengan beberapa teman masa kecil saya dan melalui mereka saya mengakui universalitas pesan Ilahi, bahwa nilai-nilai Tuhan bersinar melalui  perbuatan baik manusia, Muslim maupun bukan,” katanya.

Ia menyatakan, konversi keimanannya bukan sebagai ‘reaksi’ terhadap, atau oposisi terhadap budaya Barat. “Sebaliknya, itu merupakan validasi dari apa yang  selalu saya pikirkan,” ujarnya, seraya mengkritik beberapa masjid di Inggris yang menutup pintu dialog tentang ketuhanan dan terlalu dogmatis. “Catat: aturan dan protokol mereka banyak yang membingungkan dan malah bikin stres.”
“Menjadi Muslim, tidak berarti kita  kehilangan semua jejak diri kita sendiri. Islam adalah validasi yang baik dalam diri kita dan sarana untuk memperbaiki yang buruk,” pungkas Myriam. [sa/islampos/onislam]
Read more...

:::PROFESOR MATEMATIKA INI AKHIRNYA JADI MUALLAF:::

Tidak ada komentar
‎
Jeffrey Lang

Profesor Jeffrey Lang Temukan Hidayah melalui Perantaraan Mahasiswanya


Profesor matematika yang pernah memilih tak beragama alias atheis ini akhirnya lebih memilih Islam sebagai pihan terakhirnya

Perjalanan setiap orang menuju Islam beraneka ragam caranya dan punya keunikan masing-masing. Seperti Prof Jeffrey Lang, kisah keislamnnya tergolong unik dan menarik.

Profesor Matematika ini mendapat hidayah melalui perantaraan mahasiswa bimbingannya di kampus University of San Fransisco, AS. Dia sempat dihadiahi sebuah mushaf Alquran yang diakuinya sebagai kitab suci yang sangat mengagumkan. Satu hari, secara tak terduga dia menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja dekat kampus. Rupanya ruangan itu dipakai oleh para mahasiswanya yang Islam untuk shalat lima waktu. Nah, di ruangan kecil itu pula akhirnya dia bersyahadah. Berikut kisah lengkapnya.


Prof. Dr. Jeffrey Lang, nama lengkapnya. Sehari-hari dia bekerja sebagai dosen dan peneliti bidang Matematika di Universitas Kansas, salah satu universitas terkemuka di Amerika Serikat. Gelar master dan doktor matematika diraihnya dari Purdue University tahun 1981. Prof. Jeffrey dilahirkan dalam sebuah keluarga penganut paham Katolik Roma di Bridgeport, Connecticut pada 30 Januari 1954.

Pendidikan dasar hingga menengah dijalani di sekolah berlatar Katolik Roma. "Hampir 18 tahun lamanya kuhabiskan masa kecil di sekolah yang berlatar belakang ajaran Katolik. Selama itu pula aku menyisakan banyak pertanyaan tak berjawab tentang Tuhan dan filosofi ajaran Kristen," tutur dia.

Jeffrey, dalam catatan hariannya tentang perjalanannya mencari Islam, menulis:"Seperti kebanyakan anak-anak lain di kisaran tahun 1960-an hingga awal 1970-an kulewati masa kecil yang penuh keceriaan. Bedanya pada masa itu aku sudah mulai banyak bertanya-tanya tentang nilai-nilai kehidupan, baik itu secara politik, sosial dan keagamaan. Aku bahkan sering bertengkar dengan banyak kalangan, termasuk di dalamnya pemuka gereja Katolik."

Beranjak remaja, di usianya yang ke-18, Prof. Jeffrey mengaku sudah jadi atheis alias tak percaya lagi adanya tuhan. "Jika Tuhan itu ada, dan Dia punya belas kasih dan sayang, lalu kenapa ada begitu banyak penderitaan di atas bumi ini? Kenapa Dia tidak masukkan saja kita semua ke dalam syurga? Kenapa juga dia menciptakan orang-orang di atas bumi ini dengan berbagai penderitaan?" kisah Jeffrey muda tentang kegelisahan hatinya kala itu. Selama bertahun-tahun pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus menggelayuti pikirannya.

Ketemu mahasiswa muslim

Akhirnya Prof. Jeffrey mendapatkan jawaban awal di kota San Francisco. Ceritanya, saat itu dia diangkat sebagai salah seorang asisten dosen di Jurusan Matematika, Universitas San Francisco. Jeffrey menemukan Tuhan itu ada dan nyata dalam kehidupan ini. Tapi bagaimana cara dia menemukannya? Ternyata petunjuk itu didapatnya dari beberapa mahasiswanya yang beragama Islam!

"Saat pertamakali memberi kuliah di Universitas San Francisco, aku ketemu dengan seorang mahasiswa muslim yang mengambil mata kuliah Matematika. Akupun langsung akrab dengan mahasiswa ini, begitu pula dengan keluarganya. Agama, saat itu belum jadi topik perbincangan kami, hingga satu ketika aku diberi hadiah sebuah kitab suci Alquran," cerita dia.

Mahmoud Qadeel, nama mahasiswa tersebut. Dia berasal dari Arab Saudi. Mahmoud, cerita Prof Jeffrey, telah memberi banyak masukan baginya tentang hal ihwal Islam. Menariknya, semua diskusi mereka menyangkut dengan sains dan teknologi. "Aku pernah diskusi dengan Mahmoud tentang riset kedokteran dan dia menjawab dengan sempurna sekali. Bahasa Inggrisnya juga bukan main. Aku dibuat terpana oleh Mahmoud, yang di negaranya adalah seorang mayor polisi," lanjut Prof. Jeffrey kagum.

Hadiah Alquran

Satu ketika, berlangsung acara perpisahan. Semua dosen dan mahasiswa turut hadir dalam acara yang diadakan di sebuah tempat di luar kampus itu."Aku benar-benar terkejut saat Mahmoud memberiku hadiah sebuah mushaf Alquran. Mahmoud juga menghadiahiku beberapa buku Islam," kata Prof. Jeffrey.

Atas inisiatifnya sendiri, dia pun mempelajari isi Alquran itu. Bahkan buku-buku Islam tersebut dibacanya hingga tuntas. Dia mengaku kagum dengan Alquran. Dua juz pertama dari Alquran yang sempat dipelajarinya telah membuat dia bagai terhipnotis.

"Tiap malam muncul beraneka macam pertanyaan dalam diriku. Tapi entah kenapa jawabannya segera kutemukan esok harinya. Seakan ada yang membaca pikiranku dan menuliskannya di setiap baris Alquran. Aku seakan menemukan diriku di tiap halaman Alquran...," tukas Jeffrey lagi.

Bersyahadah di mushallah kampus

"Sekitar tahun 80-an belum banyak pelajar muslim yang studi di Universitas San Francisco. Waktu itu bisa jumpa dengan mahasiswa Islam sangat surprise," aku Prof. Jeffrey.

Ada cerita menarik tatkala dia sedang menelusuri kampus, secara tak terduga aku menemukan sebuah ruangan kecil di lantai bawah sebuah gereja. "Rupanya ruang itu dipakai oleh beberapa mahasiswa Islam untuk shalat lima waktu," lanjut dia lagi.

Kepalanya dipenuhi tanda tanya dan rasa ingin tahunya membuncah. Dia pun bersegera masuk ke tempat shalat tersebut. Waktu itu pas masuk waktu shalat zuhur dan dia pun diajak untuk ikut shalat oleh para mahasiswanya. Dia berdiri persis di belakang salah seorang mahasiswa dan mengikuti setiap gerakannya. Air matanya terlihat menetes.

"Kami berdiskusi tentang masalah agama. Aku utarakan semua bertanyaan yang selama ini tersimpan dalam kepalaku. Dan, sungguh luar biasa, aku benar-benar terkejut sekali dengan cara mereka menjelaskan. Masuk akal dan mudah dicerna. Ternyata jawabannya ada dalam ajaran Islam," tutur dia. "Tahu tidak, setelah keluar dari mushallah itu, aku telah mengucapkan dua kalimah syahadah!," tutur Prof Jeffrey.

Kenapa kita shalat, Ayah?

Prof Jeffrey secara rutin menunaikan shalat lima waktu dan merasakan ketentraman jiwa luar biasa. Shalat subuh, seperti diakuinya, adalah salah satu ritual yang sangat indah dalam Islam dan dia merasakan kesan mendalam dari shalat subuh.

Satu hari Jeffrey ditanya oleh Jameelah, anak perempuannya yang kala itu berumur delapan tahun, selepas dia shalat Zuhur. "Ayah, kenapa kita harus shalat?," tanya anaknya polos.

"Aku terhenyak dengan pertanyaannya. Aku benar-benar tidak mengira seorang anak berumur delapan tahun akan bertanya seperti itu. Ingin kuceritakan padanya bagaimana kelebihan dan kenikmatan shalat. Tapi apa dia bisa mengerti? Akhirnya kujawab bahwa kita shalat karena itu perintah Allah," tukas sang professor.

"Tapi ayah, apa yang bisa kita peroleh dengan shalat?," tanya sang anak lagi masih penasaran."Anakku, hal ini masih sulit untuk kamu pahami. Satu hari nanti, jika kamu sudah istiqamah dengan shalat lima waktu, ayah yakin kamu pasti akan dapatkan jawabannya," pungkas Prof Jeffrey bijak.

"Apakah shalat bisa bikin kita bahagia ayah?." lanjut Jameelah kecil.

"Sayangku, shalat adalah salah satu obat penenang jiwa. Sekali kita bersentuhan dengan kasih sayang Allah di dalam shalat, maka itulah kenikmatan yang luar biasa. Satu waktu, selepas lelah sehabis kerja, ayah merasakan semua rasa lelah itu hilang saat mengerjakan shalat," imbuhnya lagi meyakinkan sang anak.

Itulah kisah sang profesor yang juga meraih karir bagus di bidang matematika. Dia mengaku sangat terinspirasi dengan matematika. "Matematika itu logis dan berisi fakta-fakta berupa data real untuk mendapatkan jawaban konkret," tutur dia.

"Dengan cara seperti itulah aku bekerja. Adakalanya aku frustrasi ketika ingin mencari sesuatu tapi tidak mendapat jawaban yang konkret. Islam, bagiku, semuanya rasional, masuk akal dan mudah dicerna," tukasnya.

Prof Jeffrey saat ini ditunjuk oleh fakultasnya sebagai pembina organisasi Asosiasi Mahasiswa Islam guna menjembatani para pelajar muslim dengan universitas. Tak hanya itu, dia bahkan ditunjuk untuk memberikan mata kuliah agama Islam oleh pihak rektorat.

Prof Jefrey menikah dengan seorang perempuan Arab Saudi bernama Raika tahun 1994. Mereka dikaruniai tiga buah hati yakni Jameelah, Sarah dan Fattin. Jeffrey juga penulis buku yang handal. Selain ratusan artikel ilmiah bidang matematika, dia juga telah menulis beberapa buku Islam yang menjadi rujukan komunitas muslim Amerika. "Even Angels ask; A Journey to Islam in America" adalah salah satu buku best sellernya. Dalam buku itu dia menulis kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam.(info Mualaf/www.bringislam.web.id)
Read more...

Bowe Bergdahl; Ditahan Pejuang Taliban, Masuk Islam, & Menjadi Pelatih Kaum Mujahidin

Tidak ada komentar
bergdahl_taliban_amerika_afghanistan_islamposPADA satu waktu Sersan Bowe Bergdahl merasa muak dengan keberadaanny sendiri di Afghanistan. Ia adalah seorang tentara Amerika. Lama tak terdengar kabar, ternyata ia ditahan oleh para pejuang Taliban.

Setelah menghilang dari markasnya pada tahun 2009, ia memberitahu orangtuanya tentang betapa ia sangat frustrasi akan perang Afghanistan dan malu menjadi orang Amerika.

Bergdahl, sekarang 28 tahun, ditahan selama hampir tiga tahun dan satu-satunya tentara Amerika yang ditahan oleh para pejuang Taliban, setelah hilang di provinsi timur laut Afghanistan.

Keluarga Bergdahl, dari Hailey di Idaho, merilis sebuah email yang darinya beberapa hari sebelum ia menghilang. “Masa depan terlalu bagus untuk disia-siakan hanya untuk kebohongan,” tulisnya dalam email itu.

“Dan hidup ini terlalu singkat untuk memedulikan kutukan orang lain, serta untuk menghabiskannya dengan membantu orang-orang bodoh terhadap ide-ide mereka yang salah. Saya telah melihat ide-ide mereka dan saya bahkan malu menjadi orang Amerika. Itu semua menjijikkan.”

Tidak cukup sampai di situ, Bergdahl juga mengkritik atasannya. Ia menyebut komandan batalionnya sebagai seorang “tua bodoh yang sombong”, dan mengatakan tentara Amerika itu terdiri dari para “pembohong, penikam dari belakang, bodoh, dan pengganggu”.

Dia menyimpulkan dengan mengatakan: “Saya minta maaf untuk segalanya. Kengerian yang ditimbulkan Amerika adalah menjijikkan..”

Tiga tahun lebih bersama pejuang Taliban membuatnya mengenal Islam. Ia jatuh cinta pada perjuangan kaum Mujahidin. Ia memutuskan menjadi mualaf dan mengganti namanya menjadi Abdullah. Ia kemudian mewakafkan dirinya menjadi pelatih para pejuang Taliban dalam merakit bom dan keterampilan penyergapan.

Seorang Deputi Komandan Taliban di Distrik Paktika, sebuah wilayah di Afghanistan, Haji Nadeem, mengungkapkan bahwa Bergdahl memberikan konfirmasi tentang hal itu. Bergdahl juga mengajari Nadeem cara membongkar telepon selular dan mengubahnya menjadi ‘remote control’ untuk jadi sebuah bom. [sa/islampos/dailymail]
Read more...

Category

Popular Posts

facebook