Comments

Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tafsir. Tampilkan semua postingan

Mewaspadai Tipu daya Syetan

Tidak ada komentar
Mewaspadai Tipu daya Syetan
Oleh: Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman (TQS al-A”raf [7]: 27)..

Setan adalah musuh bagi manusia. Sebagaimana layaknya musuh, maka yang diinginkan setan terhadap manusia  adalah kecelakaan., kesengsaraan, dan kerugian. Sebaliknya, dia tidak menyukai manusia mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan. Lebih dari itu, setan pun melakukan berbagai tipu daya untuk mewujudkan keinginannya. Realitas demikian mengharuskan manusia untuk hati-hati dan waspada terhadap bujuk rayu setan. Jangan sampai tertipu dan terpedaya oleh musuh Allah SWT itu. Kesengsaraan dan kerugianlah yang bakal didapat manusia jika mengikuti ajakan dan bisikannya.
Inilah di antara pesan penting ayat ini.

Waspada terhadap Setan

Allah SWT berfirman: Ya Banî Âdam lâ yaftinannakum al-syaythân (hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan). Khithâb atau seruan ayat ini ditujukan kepada Banî Âdam. Jika dalam ayat sebelumnya diterangkan tentang telah diturunkannya pakaian buat manusia beserta kegunaannya dan tentang pakaian yang terbaik, maka dalam ayat ini manusia diperintahkan agar tidak tertipu oleh bujuk rayu setan.

Diterangkan al-Syaukani, sekalipun secara dhahir larangaan ayat ini ditujukan kepada setan: lâ yaftinannakum al-syaythân, namun sesungguhnya larangan tersebut ditujukan kepada Bani Adam. Bahwa mereka tidak boleh terjatuh dalam fitnah setan dan terpengaruh dengannya. Dijelaskan oleh al-Alusi, bahwa larangan tersebut berarti: Janganlah sekali-kali setan itu menjatuhkan kamu ke dalam fitnah dan bencana; dengan cara membisikkan kepada kamu sesuatu yang dapat mencegahmu masuk surga, lalu kamu mengikutinya.
 
Dalam Alquran kata fitnah menunjukkan kepada beberapa pengertian. Terkadang menunjuk kepada azab yang diterima manusia, seperti pada QS al-Dzariyat [51]: 13, 14). Terkadang bermakna sesuatu yang mengantarkan terjadinya azab, seperti dalam QS al-Taubah [9]: 49. Ada pula yang bermakna ikhtibâr (ujian atau cobaan), seperti QS Thaha [20]: 40, al-Ankabut [29]: 1-2, dan lain-lain. Dalam konteks ayat ini, kata fitnah berarti menyesatkan atau yang semakna dengannya.

Dikatakan al-Baghawi, ayat ini berartiberarti lâ yudhillannakum al-syaythân (janganlah sekali-kali setan itu menyesatkan kamu). Al-Samarqandi juga mengatakan bahwa: Janganlah sekali-kali setan itu dapat menyesatkanmu dari ketaatan kepada-Ku sehingga mencegahmu masuk surga. Tidak jauh berbeda, al-Nasafi juga memaknainya: Janganlah sekali-kali setan itu menipu dan menyesatkanmu agar tidak memasuki surga. Dengan sedikit perbedaan redaksi, al-Qurthubi memaknainya: Janganlah sekali-kali setan itu memalingkan kamu dari agama.
Dengan demikian ayat ini menerangkan kepada manusia agar tidak tertipu dan terpedaya oleh setan, sehingga menjadi tersesat dan terpalingkan dari agama-Nya, dan berakibat pad gagalnya mereka memasuki surga-Nya. Sebaliknya, justru terjerumus ke dalam neraka-Nya.

Perintah agar waspada terhadap tipuan setan ini cukup banyak disebutkan dalam beberapa ayat lainnya, seperti firman Allah SWT: Dan janganlah kamu sekali-kali dipalingkan oleh setan; sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu (TQS al-Zukhruf [43]: 62). Juga QS Yasin [36]: 62.

Setelah diserukan agar tidak tertipu, terpalingkan, dan tersesatkan oleh setan, kemudian diingatkan dengan peristiwa yang telah menimpa bapak-ibu seluruh manusia, yakni Adam dan Hawa`. Dengan kelicikannya, setan berhasil menipu keduanya sehingga dikeluarkan dari surga. Allah SWT berfirman: Kamâ akhraja abawaykum min al-jannah (sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari surga).

Peristiwa tentang dikeluarkannya bapak-ibu manusia itu telah diberitakan dalam ayat-ayat sebelumnya. Dalam ayat 19 diberitakan tentang karunia Allah SWT yang diberikan kepada Adam dan istrinya. Keduanya dipersilakan untuk memakan semua yang ditemui di surga kecuali suatu pohon tertentu. Namun setan membisikkan tipuan kepada keduanya. Kepada Adam dan Hawa, setan mengatakan bahwa mereka dilarang mendekati pohon agar mereka tidak menjadi malaikat atau menjadi orang yang kekal di surga (ayat 20). Untuk meyakinkan keduanya, setan pun bersumpah bahwa dia benar-benar pemberi nasihat kepada keduanya (ayat 21). Dalam ayat lainnya, setan menyebut pohon itu sebagai syajarah al-khuldi (pohon keabadian, QS Thaha [20]: 120).

Akhirnya, Adam dan istrinya itu terbujuk oleh tipuan setan. Keduanya memakan buah yang dilarang untuk didekati itu. Akibatnya, keduanya pun dikeluarkan dari surga. Yang mengeluarkan keduanya dari surga sesungguhnya adalah Allah SWT. Akan tetapi dalam ayat ini peristiwa tersebut dinisbatkan kepada setan. Hal disebabkan keduanya tertipu oleh bujuk rayu setan yang menyesatkan sehingga menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga. Penisbatan kepada setan juga disebutkan dalam TQS al-Baqarah [2]: 36.

Kemudian Allah SWT berfirman: yannzi’u ‘anhumâ libâsahumâ liyuriyahumâ saw`âtihimâ (ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya). Sebagaimana menjadi penyebab dikeluarkannya Adam dan istrinya dari surga, maka setan juga menjadi penyebab ditanggalkan pakaian dari keduanya. Dengan memakan pohon yang terlarang itu, maka pakaian keduanya ditanggalkan dari tubuhnya. Allah SWT berfirman: Tatkala keduanya telah merasai buah kayu itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga (TQS al-A’raf [7]: 22). Lihat juga dalam QS Thaha [20]: 21.

Peristiwa ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi manusia. Mengikuti bujuk rayu setan hanya berujung kepada penderitaan dan kesengsaraan. Betapa pun bagus dan indahnya ajakan setan, sesungguhnya merupakan racun yang membahayakan bagi manusia.
Musuh Tak Terlihat
Kemudian Allah SWT memberitakan tentang posisi setan dan para pengikutnya dengan firman-Nya: Innahu yarâkum huwa wa qabîluhu (sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu). Dhamîr huwa (dia) pada kata innahu dalam ayat ini kembali kepada setan. Sedangkan qabîluhu bermakna shanfuhu wa jinsuhu (golongan dan bangsanya). Mereka adalah jin. Demikian penjelasan al-Thabari dalam tafsirnya. Menurut al-Qurthubi, qabîluhu berarti junûduhu (para tentaranya). Mujahid dan Qatadah menafsirkannya sebagai jin dan setan. Sedangkan Ibnu Zaid memaknainya sebagai keturunannya.
Dengan demikian, setan dan beserta keturunan, golongan, dan tentaranya itu dapat melihat manusia. Akan tetapi tidak sebaliknya. Manusia tidak bisa melihat mereka. Allah SWT berfirman: min haytsu lâ tarawnahum (dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka). Mereka bisa melihat manusia dari tempat yang tidak dapat dilihat manusia.
Diterangkan al-Alusii, kalimat ini merupakan ta’lîl (penjelasan sebab) bagi larangan sebelumnya. Juga sebagai ta`kîd (mengukuhkan) untuk waspada. Sebab, musuh jika datang dari arah yang tidak diketahui, tentu lebih berat dan menakutkan. Bahkan menurut al-Syaukani, kewaspadaan terhadapnya layak hingga puncak kewaspadaan.
Wali bagi Orang Tidak Beriman
Ayat ini kemudian diakhiri dengan firman-NyA: Innâ ja’alnâ al-syayâthîna awliyâ` li al-ladzîna lâ yu`mimanû (sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman). Pengertian awliyâ` di sini adalah qurunâ` wa a’wân[an] (teman dan pembantu). Demikian menurut al-Baghawi. Sedangkan Ibnu Jarir al-Thabari menafsirkan sebagai nusharâ (para penolong). Mufassir itu menafsirkannya ayat ini dengan ungkapan: Kami jadikan setan-setan itu sebagai penolong orang-orang kafir yang tidak mentauhidkan Allah dan membenarkan rasul-Nya.
Berkenaan dengan dijadikan-Nya setan sebagai kawan, pemimpin, dan penolong bagi orang kafir, menurutnya al-Jazairi dalam Aysar al-Tafâsîr, hal itu sesuai dengan sunnah-Nya dalam makhluk ciptaan-Nya. Bahwa setan itu merepresentasikan puncak keburukan dan kejahatan. Sedangkan orang-orang yang tidak beriman, hati mereka gelap lantaran tidak ada cahaya keimanan. Itu berarti menyediakan diri bagi setan dan segala kerusakan dan kejahatan yang dibisikkan setan kepada mereka seperti syirik dan kemaksiatan dengan aneka ragamnya. Oleh karena itu, kedekatan dan pertemanan antara setan dan orang kafir itu menjadi sempurna. Patut dicatat, siapa pun yang mengikuti setan, maka akan ditempatkan ke dalam neraka Jahannam (lihat QS al-A’raf [7]: 18).

Demikianlah. Manusia harus ekstra waspada kepada setan itu. Manusia jangan sampai tertipu dan terjerumus oleh tipu dayanya. Peristiwa diturunkannya bapak dan ibu manusia, Adam dan Hawa harus dijadikan sebagai pelajaran berharga manusia. Jika dahulu setan telah berhasil mengeluarkan bapak-ibu manusia dari surga, maka musuh Allah SWT itu berupaya keras untuk mencegah dan menghalangi anak cucunya bisa masuk surga.

Oleh karena itu, waspadalah dengan tipu dayanya. Janganlah mengikuti perintah dan ajakannya. Sebaliknya, manusia harus berpegang teguh pada petunjuk-Nya seraya selalu memohon pertolongan-Nya (lihat QS al-Mukminun [23]: 97). Semoga kita termasuk yang mendapat perlindungan-Nya dari godaan dan bisikan setan yang terkutuk itu. Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.
Ikhtisar:
  1. Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia
  2. Manusia tidak boleh terpedaya oleh tipu daya dan bujuk rayunya.
  3. Kewaspadaan kepada setan harus semakin ekstra mengingat dia bisa melihat manusia, sedangkan manusia tidak melihatnya
  4. Setan merupakan kawan, pemimpin, dan penolong bagi orang-orang kafir
[HTI Pers]
Read more...

Jiwa Yang Tenang (Tafsir QS al-Fajr [89]: 27-30)

Tidak ada komentar
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِي فِي عِبَادِي ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِي جَنَّتِي ﴿٣٠﴾
Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai; lalu masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr [89]: 27-30).


Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan tentang celaan dan ancaman terhadap para pelaku maksiat. Ancaman itu benar-benar akan menjadi kenyataan ketika datang Hari Kiamat. Mereka harus menerima siksaan yang amat dahsyat. Demikian dahsyatnya hingga tidak satu pun siksaan manusia di dunia yang menyamainya. Mereka pun menyesali perbuatan mereka. Namun, penyesalan itu sudah terlambat sehingga tidak bermanfaat sama sekali bagi mereka.
Kemudian dalam ayat ini diberitakan tentang adanya golongan lain dari kalangan manusia. Mereka tidak termasuk yang ditimpa siksaan tiada tara itu. Mereka justru mendapat kabar gembira dan dimasukkan ke dalam surga-Nya.

Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman:  Yâ ayyatuhâ an-nafsu al-muthmainnah (Hai jiwa yang tenang). Ayat ini memberitakan tentang pemanggilan an-nafs al-muthmainnah. Kata an-nafs bisa digunakan untuk menyebut zat (benda) secara keseluruhan (lihat: QS al-Zumar [39]: 56; QS al-An’am [6]: 151);[1] bisa juga untuk menyebut ruh (lihat: QS al-An’am [6]: 93).[2]
Adapun kata al-muthmainnah merupakan ism al-fâ’il dari al-thuma’nînah wa al-ithmi’nân. Secara bahasa, kata al-thuma’nînah berarti as-sukûn (diam, tenang, tidak bergerak).[3] Dijelaskan juga oleh al-Asfahani, kata tersebut berarti as-sukûn ba’da al-inzi’âj (tenang setelah gelisah atau cemas).[4] Menurut at-Tunisi, kata ithma’anna digunakan ketika hâdi[an] ghayra mudhtharib wa lâ munza’ij (tenang, tidak cemas dan tidak gelisah). Kata itu juga bisa juga digunakan untuk menunjuk ketenangan jiwa karena membenarkan apa yang dalam al-Quran tanpa ada keraguan dan kebimbangan. Oleh karena itu, penyebutan tersebut merupakan pujian atas jiwa tersebut. Bisa pula, ketenangan jiwa tersebut tanpa takut dan fitnah di akhirat.[5]
Siapa yang dimaksud dengan orang yang berjiwa tenang dalam ayat ini? Ada beberapa penjelasan. Menurut Ibnu Abbas, dia adalah al-muthmainnah bi tsawâbil-Lâh (jiwa yang tenteram dengan pahala Allah); juga bermakna jiwa yang mukmin.[6] Al-Hasan menafsirkannya sebagai al-mu’minah al-mûqînah (jiwa yang mukmin dan yakin). Athiyah berpendapat, ia adalah jiwa yang ridha terhadap qadha Allah.[7]
Dikemukakan al-Khazin, yang dimaksud dengannya adalah jiwa yang teguh di atas iman dan keyakinan, membenarkan apa yang difirmankan Allah SWT, meyakini Allah SWT sebagai Tuhannya, serta tunduk dan taat terhadap perintah-Nya.[8] Ibnu Jarir ath-Thabari memaknainya sebagai orang yang tenteram dengan janji Allah SWT yang disampaikan kepada ahli iman di dunia berupa kemuliaan bagi dirinya di akhirat, kemudian dia membenarkan janji itu.[9] Abu Hayyan al-Andalusi menyatakan, al-muthmainah adalah al-âminah (orang yang aman dan tenteram) tidak diliputi oleh ketakutan dan kekhawatiran; atau tenteram dengan kebenaran dan tidak dicampuri dengan keraguan.[10]
Diterangkan Fakhruddin ar-Razi, al-itmi’nân berarti al-istiqrâr wa ats-tsabbât (kekokohan dan keteguhan). Bentuk keteguhan itu ada beberapa. Pertama: meyakini kebenaran dengan pasti (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 260).
Kedua: an-nafs al-âminah (jiwa yang aman dan tenteram) tidak bercampur dengan ketakutan dan kekhawatiran (Lihat: QS Fushilat [41]: 30).
Jika diperhatikan, sekalipun menggunakan redaksional yang berbeda-beda, sesungguhnya obyek yang ditunjuk tidak berbeda, yakni orang Mukmin yang taat dan ikhlas. Ini juga ditegaskan oleh al-Qurthubi, bahwa yang benar adalah  jiwa tersebut bersifat umum mencakup semua jiwa yang mukmin, muklish dan taat.[11]
Kepada jiwa yang tenang itu diserukan: Irji’î ilâ Rabbika râdhiyah mardhiyyah (kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai). Jiwa itu dipanggil untuk kembali kepada Rabbiki. Yang dimaksud dengan Rabbiki di sini adalah Allah SWT.[12] Digunakan kata Rabbiki, menurut al-Alusi, untuk menambah kelembutan.[13] Di-mudhâf-kan kepada dhamîr an-nafs al-mukhâthah—yakni kata ganti orang kedua yang menunjuk pada an-nafs—berguna sebagai tasyrîf[an] lahu (untuk memuliakannya).[14] Menurut Ibnu Zaid, perkataan ini disampaikan ketika mati dan keluarnya ruh dari jasad seorang Mukmin di dunia.[15] Dari Said berkata, “Saya membaca ayat ini (Yâ ayyatuhâ an-nafsu al-muthmainnah; Irji’î ilâ Rabbiki râdhiyah mardhiyyah) di samping Rasulullah saw., lalu Abu Bakar ra. berkata, “Sungguh ini sesuatu yang bagus.” Kamudian Rasulullah saw. bersabda:
أما إنَّ المَلَكَ سَيَقُولُهَا لَكَ عِنْدَ المَوتِ
Adapun sesungguhnya malaikat akan mengatakan itu kepadamu ketika mati (HR ath-Thabari).[16]

Ada juga yang menafsirkan Rabbiki  di sini adalah jasadnya. Artinya, an-nafs dimaknai sebagai ar-rûh lalu dikembalikan pada jasadnya. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Abbas, Ikrimah dan ‘Atha`; juga ath-Thabari dan al-Qurthubi.[17] Menurut ath-Thabari, perkataan itu disampaikan pada Hari Kebangkitan. Dalilnya adalah kalimat berikutnya: Fa [i]dkhulî fî ‘ibâdî Wa [id]khulî jannatî.[18]
Disebutkan bahwa jiwa tersebut kembali dalam keadaan râdhiyat[an] mardhiyyat[an]. Kata râdhiyah berarti râdhiyah bimâ ûtiyatihi (jiwa itu puas dengan apa yang diberikan kepadanya). Adapun mardhiyyah berarti mardhiyyah ‘indal-Lâh bi ‘amalika (jiwa itu diridhai di sisi Allah dengan amal kalian).[19] Dengan kata lain, jiwa tersebut ridha kepada Allah beserta kemuliaan yang diberikan kepadanya berupa pahala dan Allah pun ridha terhadap jiwa itu.[20]
Kemudian dikatakan kepadanya: Fa [i]dkhulî fî ‘ibâdî (lalu masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku). Seruan ini berarti: Masuklah ke dalam kumpulan hamba-Ku yang shalih dan bergabunglah bersama mereka. Sebab, maksud ibâdî (para hamba-Ku) sebagaimana dijelaskan mufassir adalah ibâdî ash-shâlihîn, para hamba-Ku yang shalih. Di antara yang mengatakan demikian adalah Qatadah, al-Qurthubi, al-Khazin, Abu Hayyan, as-Samarqandi, al-Jazairi, dan lain-lain.[21] Menurut al-Qurthubi, ini sebagaimana firman Allah SWT:

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ ﴿٩﴾
Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih benar-benar akan Kami masukkan ke dalam (golongan) orang-orang yang salih (QS al-Ankabut [29]: 9).

Kemudian dikatakan pula kepadanya: Wa [id]khulî jannatî (dan masuklah ke dalam surga-Ku). Mereka juga dipersilakan masuk ke dalam surga-Nya. Mereka menjadi penghuninya yang kekal dan abadi. Mereka benar-benar mendapatkan apa yang dijanjikan Allah SWT, yakni surga yang di dalamnya terdapat segala yang disenangi manusia. Allah SWT berfirman:
فِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿٧١﴾
Di dalam surga itu terdapat segala yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya (QS az-Zukhruf [43]: 71).
Itulah sebaik-baik tempat kembali.  Semua karunia itu diberikan kepada mereka sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama di dunia.

Keberuntungan Jiwa yang Tenang
Ayat-ayat ini adalah di antara ayat yang memberitakan kabar gembira kepada orang-orang Mukmin dan beramal shalih yang tetap istiqamah hingga akhir hayatnya. Sebagaimana dipaparkan di muka, merekalah yang mendapatkan kehormatan berupa sebutan: an-nafs al-muthaminnah.
Sebutan tersebut benar-benar sesuai dengan keadaan dan realitas mereka, terutama pada Hari Kiamat kelak. Pada saat orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan merasakan ketakutakan luar biasa ketika datangnya Hari Kiamat yang memang mengerikan, mereka justru dijamin keamanannya. Mereka tidak perlu takut dan khawatir. Bahkan mereka dipanggil dengan panggilan yang amat lembut: Yâ ayyatuhâ an-nafs al-muthaminnah (Wahai jiwa yang tenang lagi tenteram).
Ketika orang-orang kafir dan pelaku maksiat menerima azab tiada tara di neraka, mereka dijauhkan dari siksa yang amat dahsyat itu. Mereka pun dipanggil untuk bergabung bersama dengan para hamba Allah SWT yang shalih lainnya. Mereka adalah sebaik-baik teman sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا ﴿٦٩﴾
Siapa saja yang menaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang salih. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya (QS an-Nisa’ [4]: 69).

Mereka juga dipersilakan memasuki surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan. Mereka pun amat puas terhadap semua karunia Allah SWT itu. Allah SWT juga ridha terhadap mereka. Itulah balasan untuk mereka atas keimanan dan amal shalih mereka. Ini sebagaimana diberitakan dalam firman Allah SWT:

جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ ﴿٨﴾
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS al-Bayyinah [98]: 8).

Mereka adalah orang-orang yang beruntung. Balasan yang yang mereka terima jauh lebih besar daripada yang mereka korbankan. Sewaktu di dunia, mereka memang harus bersusah-payah menjaga keimanan dan memperbanyak amal shalih. Mereka harus berjuang keras mengekang hawa nafsunya dan menahan diri tidak mengumbar kesenangannya. Mereka juga harus bersabar menjalani semua perintah-Nya dan menjauhi semua laranangan-Nya. Demikian pula tatkala menghadapi berbagai godaan, cobaan dan ujian; mereka harus tetap kokoh dan teguh. Sikap itu harus terus dipelihara sekalipun harus menanggung penderitaan dan rasa sakit. Akan tetapi, semua beban berat itu lenyap seketika tatkala mereka mengecap kenikmatan surga. Demikian nikmatnya hingga seolah-olah tidak pernah merasakan penderitaan sedikit pun.
Keadaan mereka berkebalikan dengan orang-orang kafir dan para pelaku maksiat. Segala kesenangan yang mereka rasakan tidak sebanding dengan dahsyatnya siksa yang harus mereka terima. Begitu dimasukkan ke dalam neraka, semua kesenangan itu langsung sirna tak bersisa. Seolah mereka tidak pernah mengenyam kenikmatan sedikit pun. Rasulullah saw. bersabda:

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُصْبَغُ فِى النَّارِ صَبْغَةً ثُمَّ يُقَالُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ. وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِى الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِى الْجَنَّةِ فَيُقَالُ لَهُ يَا ابْنَ آدَمَ هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ فَيَقُولُ لاَ وَاللهِ يَا رَبِّ مَا مَرَّ بِى بُؤُسٌ قَطُّ وَلاَ رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ
Pada Hari Kiamat akan didatangkan  penduduk neraka yang paling bahagia sewaktu di dunia. Lalu ia dicelupkan ke neraka sekali celupan, kemudian dikatakan kepadanya, “Wahai anak Adam, adakah engkau melihat kebaikan? Apakah engkau pernah merasakan kenikmatan?” Ia menjawab, ”Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku.” Didatangkan pula seorang penghuni surga yang paling sengsara sewaktu di dunia, lalu ia dicelupkan sekali celupan di surga, kemudian ia ditanya, ”Adakah engkau merasakan penderitaan? Apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan?” Ia menjawab,”Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku. Aku tidak merasakan penderitaan sedikitpun dan sama sekali belum pernah mengalami kesengsaraan (HR Muslim dari Anas bin Malik).
Inilah gambaran besarnya kenikmatan surga dan dahsyatnya siksa neraka. Maka sungguh beruntung orang-orang yang tidak tertipu dengan dunia. Orang-orang yang senantiasa mengumpulkan bekal sebanyak-banyak menyongsong kehidupan akhirat yang abadi. Merekalah orang-orang beriman dan memenuhi kehidupannya dengan catatan amal shalih. Semoga kita termasuk di dalamnya.
WalLâh a’lam bi ash-shawâb. []
Catatan kaki:


[1]    Muhammad Thahir al-Tunisi, At-Tahrîr wa at-Tanwîr , vol. 3 (Tunisia: Dar al-Tunisiyah, 1984), 342.
[2]    Al-Asfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur’ân (Damaskus: Dar al-Qalam, 1992), 868.
[3]    Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, vol. 13 (Beirut: Dar Shadir, tt), 268.
[4]    Al-Asfahani, Al-Mufradât fî Gharîb al-Qur`ân, 534.
[5]    At-Tunis, At-Tahrîr wa at-Tanwîr , vol. 3.
[6]    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, 20  (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 57.
[7]    Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur`ân, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya` al-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 253.
[8]    Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1420 H).
[9]    Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur`ân, vol. 24 (tt: al-Risalah, 1420 H), 423.
[10]   Abu Hayyan al-Andalusi, al-Bahr al-Muhîth fî Tafsîr, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 476.
[11]   Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 20, 58.
[12]   Al-Qinuji, Fat-h al-Bayân,15 (Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, 1992), 233.
[13]   Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 20 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 347.
[14]   AT-Tunisi, At-Tahrîr wa at-Tanwîr , vol. 3, 341.
[15]   Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî Tafsîr, vol. 10, 476.
[16]   Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur`ân, vol. 24, 424.
[17]   Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur`ân, vol. 24, 425; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, 20, 58.
[18]   Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1987), 72.
[19]   Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî Tafsîr, vol. 10, 477.
[20]   As-Sa’di, Taysîr al-Karîm ar-Rahmân (tt: al-Risalah, 2000), 924.
[21]   Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24, 423; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur`ân, 20, 59; al-Khazin, Lubâb al-Ta`wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 427; Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî Tafsîr, vol. 10, 477; as-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 ( ); al-Jazairi, Aysar al-Tafâsîr, vol. 5 (Madinah: Makyabah al-‘Ulum wa al-Hikam, 2003), 571.
a-quran
Read more...

Penyesalan Tak Berguna Di Akhirat

Tidak ada komentar
(Tafsir QS al-Fajr [89]: 21-26)
كَلا إِذَا دُكَّتِ الأرْضُ دَكًّا دَكًّا * وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا * وَجِيءَ يَوْمَئِذٍ بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ يَتَذَكَّرُ الإنْسَانُ وَأَنَّى لَهُ الذِّكْرَى * يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي * فَيَوْمَئِذٍ لا يُعَذِّبُ عَذَابَهُ أَحَدٌ * وَلا يُوثِقُ وَثَاقَهُ أَحَدٌ *
Jangan (berbuat demikian). Jika bumi diguncangkan berturut-turut, lalu datanglah Tuhanmu, sedangkan malaikat berbaris-baris, kemudian pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam, dan pada hari pula ingatlah manusia, tetapi tidak berguna lagi mengingat itu bagi dirinya, maka manusia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya aku dulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku.” Pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya (QS al-Fajr [89]: 21-26).

Dalam beberapa ayat sebelumnya disebutkan tentang celaan terhadap orang-orang yang salah dalam menilai kemuliaan seseorang. Mereka menganggap kemuliaan manusia didasarkan pada banyaknya kekayaan yang dimiliki. Ketika seseorang dikaruniai harta melimpah, mereka menganggap dia sedang dimuliakan Allah SWT. Sebaliknya, ketika rezekinya disempitkan, mereka menganggap dia sedang dihinakan. Anggapan ini melahirkan sikap dan perilaku yang salah. Karena harta dijadikan sebagai parameter kekayaan, mereka pun tamak dan rakus terhadap harta.

Penilaian mereka itu pun dibantah dalam beberapa ayat sebelumnya, bahwa banyaknya kekayaan tidak mencerminkan kemuliaan. Perbuatan yang mereka lakukanlah justru yang menjadi penyebab mereka terhina. Beberapa perbuatan tersebut adalah tidak memuliakan anak yatim, tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin, memakan harta waris yang tidak menjadi haknya, dan mencinati harta amat berlebihan. Kemudian ayat ini memberitakan peristiwa yang membuat mereka menyesal selama-lamanya.


Tafsir Ayat
Allah SWT berfirman: Kallâ idzâ dukkat al-ardh dakk[an] dakk[an] (Jangan [berbuat demikian]. Jika bumi digoncangkan berturut-turut). Kata kallâ merupakan rad’[un] lahum ‘an dzâlika wa inkâr[un] li fi’lihim (mencegah mereka dari hal itu dan mengingkari perbuatan mereka).1 Kata tersebut memberikan makna: Tidak selayaknya urusannya demikian; bersikap tamak terhadap harta dan terlalu mencintai harta.2

Dengan demikian, frasa ini memberikan celaan terhadap semua sikap dan tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya yakni: pandangan mereka yang salah tentang kemuliaan; juga perilaku mereka yang tidak memuliakan anak yatim, tidak memerintahkan memberi makan orang miskin, memakan harta warisan yang tidak menjadi haknya, dan mencintai harta secara berlebihan. Semua sikap dan perilaku seperti itu dicela dan tidak selayaknya mereka lakukan.

Tak hanya dicela, terhadap mereka juga diberikan ancaman berupa kejadian yang membuat mereka bersedih dan menyesal. Allah SWT berfirman: Idzâ dukkat al-ardh dakk[an] dakk[an]. Kata ad-dakk berarti al-hadam wa at-taswiyah li al-murtafi’ (meruntukan dan meratakan sesuatu yang tinggi). Al-Mubarrid juga mengartikan ad-dakk sebagai hath al-murtafi’ bi al-basth (merendahkan yang tinggi menjadi rata).3

Dijelaskan as-Samin al-Halbi, kedudukan kata dakk[an] yang pertama sebagai mashdar yang berfungsi muakkid (penguat) bagi fi’l yang disebutkan sebelumnya. Adapun yang kedua berkedudukan sebagai hâl yang memberikan makna mukarrar ‘alayh (berulang-ulang).4

Secara keseluruhan, ayat ini memberikan gambaran bahwa ketika itu bumi hancur dan remuk bertur-turut. Semua benda di atasnya—seperti gunung, bangunan, dan lain-lain—hancur hingga tak tersisa sedikit pun di atasnya.5 Peristiwa ini adalah sebagaimana diberitakan dalam QS al-Insyiqaq [84]: 3-4, an-Nazi’at [79]: 6-7 al-Haqqah [69]: 14 dan al-Waqiah [56]: 4-5.

Kemudian diberitakan kejadian lainnya yang terjadi ketika itu dengan firman-Nya: Wa jâ’a Rabbuka (dan datanglah Tuhanmu). Ada beberapa penjelasan yang dikemukakan oleh para mufassir mengenai makna ayat ini. Menurut al-Hasan, maksud ayat ini adalah perintah dan keputusan-Nya serta tampak ayat-ayat-Nya. Ini termasuk ungkapan yang menghilangkan mudhâf.6 Selain perintah dan keputusan-Nya, menurut asy-Syaukani juga ayat-ayat-Nya yang tampak.7 Ibnu ‘Athiyah menafsirkannya sebagai ketetapan dan kekuasan-Nya.8

Menjelaskan ayat ini, al-Qurthubi menegaskan, “Allah SWT tidak disifati dengan pindah dan berubah dari satu tempat ke tempat lain. Bagaimana Dia berubah dan berpindah, sedangkan tidak ada ruang dan waktu bagi Dia. Dia tidak dilintasi waktu dan zaman. Sebab, adanya lintasan waktu atas sesuatu, maka akan kehilangan waktu. Siapa yang kehilangan waktu, berarti lemah.”9
 
Patut dicatat, ayat ini termasuk ayat yang mustâsyabihah. Sebab, perkara yang diterangkan ayat ini adalah perkara gaib yang tak terindera sehingga penunjukkan faktanya tidak jelas seperti halnya perkara yang terindera (mahsûsât). Terhadap ayat seperti ini, sikap yang paling baik adalah tidak membahasnya terlampau jauh sehingga menyebabkan terpeleset pada kesalahan. Al-Khazin mengatakan, “Ketahuilah bahwa ayat ini termasuk ayat tentang sifat-sifat-Nya yang didiamkan oleh kebanyakan ulama salaf dan sebagian ulama khalaf. Mereka tidak membicarakannya dan membiarkan apa adanya, tanpa mempersoalkan bagaimana caranya, melakukan penyerupaan, dan membuat penakwilan. Mereka mengatakan bahwa kita wajib mengimaninya dan berhenti atas zhahir-nya.”

Kemudian disebutkan: wa al-malak shaf[an] shaff[an] (sedangkan malaikat berbaris-baris). Kata al-malak merupakan ism al-jins yang menunjuk pada seluruh malaikat.10 Kata shaff[an] shaff[an], sebagaimana kata dakk[an], berkedudukan sebagai hâl, artinya: mushthaffîn (berbaris-baris), atau dalam barisan yang amat banyak.11 Mengenai berbarisnya malaikat pada Hari Kiamat juga diberitakan dalam QS al-Naba [78]: 38.

Selanjutnya Allah SWT berfirman: Wajî’a yawmaidz[in] bijahannam (dan pada hari itu diperlihatkan Neraka Jahanam). Kata yawmaidz[in] menunjuk pada saat terjadinya peristiwa yang disebutkan dalam ayat sebelumnya. Ketika itu, neraka yang sebelumnya merupakan perkara gaib bagi manusia tuhdharu wa tadnû min al-kâfir (didatangkan dan didekatkan kepada orang kafir).12 Semuanya menjadi tampak jelas. Ini sebagaimana diberitakan dalam QS an-Naziat [79]: 36 dan asy-Syu’ara [26]: 91.

Mengenai Neraka Jahanam yang didatangkan, Rasulullah saw. bersabda:
يُؤْتَى بِجَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لهَاَ سَبْعُونَ أَلْفَ زِمَامٍ مَعَ كُلِّ زِمَامٍ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ يَجُرُّونَهَا
Didatangkan neraka pada hari itu, dalam keadaan ia memiliki 70.000 tali kekang. Setiap tali kekang diseret 70.000 malaikat (HR Muslim dan at-Tirmidzi).

Kemudian Allah SWT berfirman: Yawmaidz[in] yatadzakkar al-insân (dan pada hari itu ingatlah manusia). Kata al-insân merupakan li al-jins, menunjuk kepada seluruh jenis manusia. Artinya, manusia pada Hari Kiamat teringat dengan amal perbuatannya di dunia serta menyesali kelalaian dan kemaksiatannya.13 Dikatakan Ibnu Jarir ath-Thabari, “Pada hari itu manusia teringat dengan kelalaiannya di dunia dalam ketaatan kepada Allah SWT dan semua amal shalih yang mendekatkan dirinya kepada Allah SWT.”14

Akan tetapi, semua ingatan mereka itu tidak berguna sama sekali. Penerimaan terhadap nasihat itu juga sudah terlambat. Dalam frasa ditegaskan: Wa annâ lahu al-dzikrâ (tetapi tidak berguna lagi mengingat itu bagi dirinya). Artinya, dari mana nasihat dan taubat itu bermanfaat bagi dirinya, sedangkan dia telah melalaikannya di dunia? Atau dari mana peringatan itu bisa bermanfaat bagi dirinya?15 Lalu manusia ingat apa yang bermanfaat dan apa membahayakan baginya di dunia. Dia pun mengetahui bahwa kecintaannya terhadap dunia tidak menambah bagi dirinya kecuali hanya kerugian.16

Penyesalan mereka diberitakan dalam ayat berikutnya: Yaqûlu yâ laytanî qaddamtu lihayâtî (maka manusia mengatakan, “Alangkah baiknya kiranya aku dulu mengerjakan [amal salih] untuk hidupku.”). Kata qaddamtu di sini mengandung makna mengerjakan kebaikan dan amal salih. Huruf al-lâm pada kata lihayâtî bermakna li ajli hayâtî (untuk kehidupanku ini). Kehidupanku ini (hayâtî) menunjuk pada kehidupan akhirat. Sebab, kehidupan akhirat merupakan kehidupan hakiki lantaran bersifat kekal dan tidak terputus.17

Kata layta memberikan makna at-tamanniyy (keinginan); kebanyakan digunakan untuk sesuatu yang mustahil, meski kadang digunakan untuk perkara yang mungkin.18 Dalam ayat ini, perkara yang diinginkan tentu mustahil terjadi. Itu artinya, mereka amat menginginkan diberikan kesempatan untuk beriman dan beramal salih. Akan tetapi, keinginan itu tidak mungkin bisa terwujud. Dikatakan al-Qurthubi, ayat ini bermakna: “Andaikata dulu aku melakukan kebaikan untuk menyelamatkan diriku dari neraka, sungguh aku termasuk orang yang mendapatkan kehidupan yang menyenangkan.”19

Bahwa penyesalan mereka tidak berguna ditegaskan dalam ayat berikutnya: Fayawmaidz[in] lâ yu’adzdzibu adzâbahu ahad (maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya). Dhamîr al-hâ‘ pada kata adzâbahu kembali kepada Allah SWT, sekalipun tidak disebutkan.20 Dengan demikian pengertiannya adalah tidak ada seorang pun yang menyiksa di dunia seperti siksa Allah di akhirat ketika itu.21 Ini menunjukkan siksa neraka di akhirat amat dahsyat. Demikian dahsyatnya hingga tidak ada yang bisa menandinginya.

Kemudian Allah SWT berfirman: Walâ yûtsiqu watsâqahu ahad (dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya). Kata al-watsâq berarti al-isâr fî al-salâsil wa al-aghlâl (ikatan pada rantai dan belenggu).22 Ditegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang ikatannya mengalahkan kuat dan sakitnya ikatan-Nya itu. Inilah siksa yang ditimpakan kepada orang-orang kafir dan para pelaku kemaksiatan.


Beberapa Pelajaran Penting
Terdapat banyak pelajaran penting yang patut dicatat dari ayat-ayat ini. Pertama: celaan dan ancaman bagi orang yang rakus terhadap harta hingga menabrak syariah. Telah mafhum bahwa dalam ayat sebelumnya Allah SWT memberitakan orang-orang yang memiliki sifat tercela. Mereka menganggap banyaknya harta sebagai parameter kemuliaan bagi manusia. Akibatnya, mereka pun amat tamak terhadap harta. Demi mendapatkan harta, mereka tak mempedulikan halal dan haram. Kewajiban yang harus ditunaikan seperti memuliakan anak yatim dan memberikan makan kepada orang miskin dilalaikan. Mereka juga mengabaikan larangan seperti memakan harta warisan yang tidak menjadi haknya dan mencintai harta secara berlebihan.

Ayat ini pun mencela sikap mereka itu. Ini ditunjukkan dengan kata kallâ. Selain itu, ayat ini juga menyampaikan ancaman akan kedatangan Hari Kiamat. Ketika bumi beserta isinya hancur, urusan mereka telah diputuskan, dan Neraka Jahanam didatangkan, maka menderita kerugian tak terkira. Harta yang mereka kumpulkan dan mereka jadikan sebagai kebanggaan lenyap dan tidak mendatangkan manfaat sedikit pun bagi mereka. Kerugian semakin bertambah manakala harta yang dikumpulkan itu justru menjerumuskan dirinya ke Neraka Jahanam yang penuh siksa. Demikian pula dengan semua kebanggaan dan kemuliaan duniawi lainnya (lihat QS al-Haqqah [69]: 27-29).

Ancaman itu seharusnya membuat mereka segera sadar dan bertobat. Selagi masih hidup di dunia, kesempatan itu masih terbuka. Jika celaan dan ancaman itu dianggap sepi, maka bersiaplah menerima azab Allah SWT yang amat dahsyat dan mengerikan.

Kedua: keharusan mengisi kehidupan di dunia dengan iman dan amal salih untuk mendapatkan balasan di akhirat. Sebab, kehidupan dunia merupakan dâr al-‘amal, tempat mengerjakan amal, dedangkan akhirat merupakan dâr al-jazâ`, tempat pembalasan. Orang yang memenuhi hidupnya di dunia dengan keimanan dan amal salih akan menuai hasilnya di akhirat, yakni surga yang penuh dengan kenikmatan. Sebaliknya, orang menghabiskan hidupnya dengan kekufuran, kemaksiatan dan kemungkaran, juga harus menerima balasannya di akhirat, yakni neraka.

Kesadaran tentang ini harus dimiliki manusia ketika di dunia. Jika tidak, kesadaran itu baru terjadi ketika kiamat datang, tentu sudah terlambat. Ketika itu, pintu tobat sudah tertutup dan kesempatan untuk beramal sudah berakhir. Yang tinggal hanya penyesalan yang tidak berguna; penyesalan abadi dan tak bertepi. Inilah yang dialami orang-orang kafir sebagaimana diberitakan ayat ini, juga diberitakan dalam QS al-Furqan [25]: 27).

Ketiga: akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Sebagaimana dijelaskan oleh para mufassir, yang dimaksud dengan hayâtî pada kata qaddamtu hayâtî adalah kehidupan akhirat. Kehidupan akhirat disebut sebagai kehidupan lantaran sifatnya yang kekal, abadi dan tak terputus (Lihat, antara lain: QS al-Ankabut [29]: 64).

Karena akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya, maka sudah selayaknya manusia bekerja keras untuk mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk mendapatkan surga. Tidak tertipu dengan kesenangan dunia yang amat sedikit dan pendek ini.

Keempat: dahsyatnya siksa neraka dan tidak ada yang mengalahkannya. Gambaran dahsyatnya siksa akhirat ini sesungguhnya amat banyak diberitakan dalam ayat dan hadis.

Siapa pun yang memiliki akal sehat, pasti akan takut merasakan siksa yang amat berat, dahsyat dan mengerikan itu. Ketika keyakinan ini dimiliki, maka semua ancaman dan siksaan yang dilakukan manusia tidak akan menggoyahkan keimanan sedikit pun, juga tidak akan menghalangi dirinya mengerjakan amal salih. Semoga kita termasuk orang yang dijauhkan dari neraka. Amin.

WalLâh a’lam bi ash-shawâb. [Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]


Catatan kaki:
1 Az-Zamakhsyari, Al-Kasysyâf, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabiy, 1987), 756; ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol. 31 (Beirut: Dar ihyâ` al-Turâts al-‘Arabiy, 1420 H), 157; an-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta’wîl, vol. 3 (Beirut: Dar al-kalim al-Thayyib, 1998), 641; Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî al-Tafsîr, vol. 10 (Beirut: Dar al-Fikr, 1420 H), 475.
2 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, vol. 24 (tt: Muassah al-Risalah, 2000), 416; al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20 (Riyad: Dar ‘Alam al-Kutub, 2003), 54; al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 427.
3 A-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30 (Beirut: Dar al-Fikr, 1998), 235.
4 As-Samin al-Halbi, Ad-Durr al-Mashûn, vol. 10 (Damaskus: Dar al-Qalam, tt), 791; az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
5 Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî at-Tanzîl, vol. 4, 427.
6 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 55.
7 Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Beirut: Dar Ibn Katsir, 1994), 535.
8 Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 480.
9 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 55.
10 Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003), 480; Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhîth fî at-Tafsîr, vol. 10, 475.
11 As-Samin al-Halbi, Ad-Durr al-Mashûn, vol. 10, 791; az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
12 As-Samarqandi, Bahr al-‘Ulûm, vol. 3 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1993), 477.
13 Ibnu Juzyi al-Kalbi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Dar al-Arqam bin al-Arqam, 1996), 481.
14 Ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân, vol. 24, 419.
15 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 56. Lihat juga anl-Nasafi, Madârik at-Tanzîl wa Haqâiq at-Ta‘wîl, vol. 3, 642.
16 Ibnu ‘Athiyah, Al-Muharrar al-Wajîz, vol. 5, 40.
17 Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5, 536.
18 Ahmad Mukhtar, Mu’jam al-Lughah al-‘Arabiyyah, vol. 2 (tt: ‘Alam al-Kitab, 2008), 311.
19 Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 20, 56.
20 Az-Zuhaili, At-Tafsîr al-Munîr, vol. 30, 235.
21 Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl fî Ma’ânî al-Tanzîl, vol. 4, 428.
22 Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl fî Tafsîr al-Qur’ân, vol. 5 (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1420 H), 253.

al wa'ie
Read more...

Category

Popular Posts

facebook