Comments

Tampilkan postingan dengan label Budha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budha. Tampilkan semua postingan

SEBUT BIKSU ‘WAJAH TEROR’ MAJALAH TIME DILARANG BEREDAR DI MYANMAR

Tidak ada komentar
Budha Myan mar majalh Time
Pemerintah Burma melarang majalah Time yang menggambarkan seorang biksu fundametalis Burma sebagai penghasut terorisme terhadap umat Muslim.
  Burma (Myanmar) telah melarang distribusi sebuah laporan utama majalah Time yang menggambarkan seorang biksu fundametalis Burma sebagai penghasut terorisme terhadap umat Muslim. 

Dalam pernyataan Selasa malam (25/06/2013), pemerintah Burma mengatakan larangan itu bertujuan mencegah terulangnya kekerasan antara umat Budha yang mayoritas dan Muslim yang minoritas.

Sampul majalah itu menampilkan foto seorang biksu fundamentalis yang dikenal dengan nama Wirathu, dengan judul “Wajah Teror Budha.”

Para pejabat mengatakan sebuah komite penyelidik kekerasan antar umat Budha dan Muslim baru-baru ini membuat keputusan itu untuk memblokir sampul dan laporan majalah tersebut. Tidak jelas apakah laporan-laporan lain edisi terbaru majalah Time itu akan didistribusikan di Burma, demikian dikutip Voice of America (VOA).

Biksu-biksu radikal seperti Wirathu telah mendesak umat Budha di Burma untuk memboikot bisnis milik Muslim dan jangan menikah dengan Muslim. Para pengecamnya mengatakan himbauan boikot itu mendorong kelompok ekstrimis Budha melakukan kekerasan terhadap Muslim.

Wirathu, dinilai telah memimpin banyak kampanye anti Muslim di Burma dan pernah ditangkap pada tahun 2003 karena mendistribusikan literatur anti-Muslim. Ia beberapa kali ditangkap atar provokasi yang sering memicu aktivitas anti Islam. Sebelumnya, ia pernah membantah bahwa kampanye kelompok 969 bertanggung jawab atas berbagai kerusuhan.

Dalam sebuah video kontroversial yang muncul di YouTube, Wirathu menyerukan pemboikotan nasional bisnis-bisnis Muslim di Myanmar. 
Read more...

Biksu Indonesia Kecam Kekerasan Biksu Myanmar

Tidak ada komentar


BudhaDewan Pimpinan Sangha Agung Indonesia meminta Biksu Myanmar untuk berhenti menyebarkan kekerasan dan kebencian.
Ketua Umum Biksu Nyanasuryanadi Mahthera pun menyampaikan rasa duka yang sangat mendalam atas berlanjutnya krisis kemanusiaan yang menimpa kelompok etnis Rohingya di negara bagian Rakhine pertengahan tahun lalu.
Juga, kekerasan dan pembantaian yang menimpa dan kelompok minoritas Muslim lainnya di Burma Tengah dan utara Rangoon baru-baru ini.
“Kami mengecam keterlibatan sejumlah Bhiksu dan umat Buddhis Myanmar dalam berbagai tindakan kekerasan yang telah mengakibatkan kematian, kerusakan materi, dan pengungsian dalam skala besar di Myanmar,”tegasnya, Senin (6/5).
Dalam siaran pers yang diterima RoL, Nyanasuryanadi Mahthera pun mengimbau agar para biksu kembali ke ajaran Buddha.
Menurutnya, para Biksu Myanmar yang menjadi panutan masyarakat Myanmar seharusnya kembali kepada ajaran Buddha, Dharma dan Vinaya.Tindakan kekerasan apapun yang berakar dari kebencian, ujarnya, bertentangan dengan ajaran Buddha.
Terlebih lagi yang telah mengakibatkan hilangnya nyawa mahkluk hidup bahkan seekor semut seperti yang tercantum dalam Tindak tanduk Bodhisattva. (ROL, 6/5/www.bringislam.web.id)
Read more...

Setan Gundul Budha Myanmar Harus diberi pelajaran setimpal

Tidak ada komentar


Gara-gara perlakukan biadab, keji dan pelanggaran HAM  berat yamg dilakukan Rezim Militer Budha dan dibantu para Setan Gundul (Bhiksu Budha) Myanmar dalam membantai dan melakukan genosida terhadap Umat Islam Rohingya Myanmar, akhirnya darah mayoritas umat Islam Indonesia kembali mendidih menyaksikan saudara Muslimnya diperlakukan keji dan biabad. Untuk menunjukkan solidaritas dalam melawan rezim militer dan para setan gundul Budha Myanmar, ribuan umat Islam Indonesia siap ngerudug Gedung Kedubes Myanmar di Jakarta pada Jum’at (3/5) mendatang.


Demikian kesepakatan dari pertemuan para pimpinan Ormas Islam  di Markas FPI, Petamburan, Jakarta Pusat, Jum’at (19/4). Pertemuan dihadiri para tokoh umat Islam antara lain Habib Muhammad Rizieq Syihab (FPI), Ustad Muhammad al Khathath (FUI), Ustad Abu Jibril (MM) dan Ustad Achmad Michdan (TPM).

“Pada hari Jum’at 3 Mei bakda sholat Jum’at, ribuan umat Islam se Jabodetabek  siap berkumpul di Bundaran HI untuk demo memprotes kekejian rezim militer Myanmar dan yang dimotori para Bhiksu Budha dalam membantai umat Islam Rohingya. Setelah itu ribuan umat Islam akan longmarch ke Kebubes Myanmar yang tak jauh dari Bundaran HI,” tegas Ustad Muhammad al Khathath seusai pertemuan tersebut.

Sedangkan salah seorang peserta pertemuan kepada SI Online menjelaskan, para Setan Gundul (Bhiksu Budha) Myanmar itu memang luar biasa kejamnya. Kalau disini para Setan Gundul itu kelihatannya dermawan dengan suka membantu seperti yang sering ditayangkan sstasiun televisi DAAI milik mereka, itu hanya kamuflase karena mereka sangat minoritas sehingga tak mungkin akan meniru kebiadaban para Setan Gundul Budha Myanmar yang mayoritas.

“Kelakuan para Setan Gundul dimanapun sama, sangat kejam dan bengis terhadap umat Islam, sehingga mereka wajib diberi pelajaran setimpal.  Kalau umat Islam tidak mau dimurtadkan, maka mereka akan melakukan pembantaian massal. Maka jangan sampai umat Islam di Indonesia menjadi minoritas kalau tidak ingin pembantaian Myanmar terjadi disini,” ujarnya.

Dirinya mencontohkan umat Islam minoritas di Filipina Selatan dibantai Katolik mayoritas, umat Islam minoritas di India dibatai Hindu mayoritas, umat Islam minoritas Bosnia yang dibantai Kristen Ortodoks Serbia mayoritas, umat Islam minoritas di China dan Rusia yang dibantai rezim Komunis mayoritas dan dulu umat Islam di Andalusia yang dibantai sampai habis oleh para begundal Katolik Spanyol yang dipimpin Raja Ferdinand dan Ratu Isabela yang sukses membersihkan umat Islam dari bumi Andalusia.

Sementara itu Ketua Umum DPP FPI, Habib Muhammad Rizieq Syihab menegaskan, pembantaian umat Islam Rohingya jelas didukung Rezim Militer Myanmar, meskipun mereka tidak mengakuinya dan berhasil mengelabui PBB.

“Setelah terbitnya UU Anti Muslim Rohingya, Rezim Militer Myanmar melakukan perang pembantaian terhadap umat Islam Rohingnya dengan meminjam tangan para Rahib atau Bhiksu Budha Myanmar. Mereka mengatakan itu konflik horizontal antara Umat Islam Rohingya dan Budha, padahal sesungguhnya pembantaian massal yang didukung rezim militer yang berhasil mengelabui PBB dengan mengatakannya sebagai konflik horisontal biasa,” tegas Habib Rizieq. [sionline/www.bringislam.web.id]
Read more...

HENTIKAN GENOSIDA MUSLIM BURMA

Tidak ada komentar
disini mereka minoritas......
dan di perlakukan layaknya seorang manusia,
karena kami diajarkan untuk menghargai dan menghormati setiap manusia tidak memandang agama dan rasnya...

..dan kenapa disana, saudara kami
dibantai dan perlakukan lebih rendah dari binatang.?

bukankah kalian mengajarkan welas asih..? bahkan menghilangkan
nyawa binatangpun ajaran kalian tidak memperbolehkan.?
lantas kenapa kalian dengan mudahnya menghilangkan nyawa seorang manusia hanya karena mereka beragama ISLAM.?

baginda Rasulullah SAW berkata bahwa satu nyawa orang Islam lebih mulia bagi Allah, ketimbang Ka’bah. Karena hancurnya Ka’bah lebih ringan bagi-Nya, ketimbang hilangnya satu nyawa orang Islam (as-Sakhawi, al-Maqashid al-Hasanah, juz I/381)

#SHARE #BANTU HENTIKAN GENOSIDA MUSLIM BURMA
 
Read more...

Biksu Wirathu : Saya tidak Ingin Myanmar Seperti Indonesia, Dahulu Budha Mayoritas, Kini Setelah Islam Masuk, Muslim menjadi Mayoritas di Indonesia

Tidak ada komentar
Kekerasan Massa Budha Terhadap Muslim
Biksu Budha menarik seorang gadis muslimah muda dan menempelkan pisau ke lehernya.
“Jika Anda mengikuti kami, aku akan membunuhnya,” ejek biksu kepada polisi, menurut saksi, massa Buddha bersenjatakan parang dan pedang mengejar hampir 100 Muslim yang berada di kota ini di pusat Myanmar.
Pada hari Kamis yang lalu , tanggal 21 Maret. Hanya dalam beberapa jam, 25 Muslim tewas. Massa Buddha menyeret tubuh mereka yang berlumuran darah di sebuah bukit di lingkungan yang disebut Mingalarzay Yone dan mereka bakar jenazah muslim tersebut. Beberapa muslim lainnya ditemukan telah dibantai dalam rawa . Seorang juru kamera Reuters melihat sisa tubuh dua anak, berusia 10 tahun atau bahkan lebih muda.
Kebencian etnis di Myanmar tak terkendali sejak kondisi aman 49 tahun kekuasaan militer yang berakhir pada Maret 2011. Dan itu menyebar ke seluruh negeri, dan mengancam transisi sejarah demokrasi negara itu. Tanda-tanda pembersihan etnis telah jelas, dan jelas pula siapa mereka yang menghasut itu.
Selama empat hari, setidaknya 43 orang tewas di kota berdebu dan hampir 100.000 penduduknya , hanya 80 km sebelah utara dari ibukota Naypyitaw. Hampir 13.000 orang, sebagian besar umat Islam, diusir dari rumah mereka dan bisnis. Pertumpahan darah yang dilakukan dan dipimpin oleh biksu Buddha yang dengan kekerasan massa , termasuk setidaknya 14 desa lainnya terancam di pusat Myanmar dan terdapatminoritas Muslim di tepi di salah satu negara Asia yang paling beragam etnis.
Berdasarkan wawancara dengan lebih dari 30 saksi, mengungkapkan pembantaian di waktu fajar menewaskan 25 Muslim di Meikhtila dipimpin oleh biksu Budha – dimana tokoh biksu itu sering dijadikan ikon demokrasi di Myanmar. Pembunuhan terjadi terlihat jelas bahwa polisi tidak melarang dan tiadanya intervensi oleh pemerintah daerah maupun pusat. Kalimat berupa grafiti tertulis di salah satu dinding menyerukan “pemusnahan Muslim.”
Kerusuhan yang terjadi di kota-kota lain, hanya berjarak beberapa jam dari ibukota komersial Yangon, pembantaian yang terorganisir dengan baik, bersekongkol dengan polisi yang hanya menutup mata. Bahkan setelah pembunuhan pada tanggal 21 Maret, menteri utama untuk wilayah tersebut tidak menghentikan kerusuhan yang berkecamuk. Menteri itu hanya menyerahkan kendali kota untuk biksu Budha radikal. Truk pemadam kebakaran di tahan,dan petugas penyelamat diintimidasi.
Pembantaian yang terorganisir
Namun, pembantaian Meikhtila oleh Buddha sangat terorganisir dan juga  kelambanan pemerintah dipantau oleh Reuters pada kejadian di barat Myanmar tahun lalu. Kali ini, pertumpahan darah melanda sebuah kota strategis di jantung negara itu, menimbulkan pertanyaan mengenai apakah reformis Presiden Thein Sein memiliki kontrol penuh atas pasukan keamanan Myanmar mengalami perubahan yang paling dramatis sejak kudeta tahun 1962.
Di negara mayoritas-Buddha dikenal sebagai “Tanah Emas” untuk pagoda yang berkilauan, kerusuhan tersebut menelanjangi kebenaran yang sering tersembunyi: Biksu Budha telah memainkan peran sentral dalam kerusuhan anti-Muslim selama dekade terakhir. Meskipun 42 orang telah ditangkap sehubungan dengan kekerasan, biarawan terus memberitakan gerakan cepat menyambut Buddhis nasionalis yang dikenal sebagai “969″ yang memicu banyak masalah.
Pemeriksaan juga menunjukkan motif  ekonomi dan agama. Di salah satu negara termiskin di Asia, kaum Muslim Meikhtila dan bagian lain dari pusat Myanmar umumnya lebih makmur daripada kaum Buddha mereka. Di Myanmar secara keseluruhan, Muslim mencapai 5 persen dari rakyat myanmar. Dalam Meikhtila, mereka terdiri dari sepertiga. Mereka memiliki real estate utama, toko elektronik, toko-toko pakaian, restoran dan dealer sepeda motor, penghasilan muslim sangat baik dibandingkan  mayoritas Buddha, yang hanya bekerja keras sebagian besar sebagai buruh dan pedagang kaki lima.
Aung San Suu Kyi , Pemenang nobel perdamaian yang Diam Seribu bahasa
Kegagalan pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, pemimpin oposisi saat ini di parlemen, untuk meredakan ketegangan lebih lanjut merusak citranya sebagai kekuatan moral pemersatu. Suu Kyi, seorang Buddhis yang taat, mengatakan sangat sedikit dan kurang berperan terhadap kerusuhan ini. Dan
Suu Kyi menolak untuk diwawancarai untuk tragedi ini.
Kronologi kejadian kerusuhan
Awal kerusuhan sebenarnya bermula sangat sederhana.
Aye Aye Naing, 45-tahun wanita Buddha, ingin membuat persembahan makanan untuk biarawan lokal. Tapi dia tidak punya uang, dia ingat, Pada sekitar 9 pagi pada tanggal 20 Maret, sehari sebelum pembantaian, ia membawa jepit rambut emas ke kota. Dia itu mencoba menawarkan jepit rambut emas itu seharga 140.000 kyat ($ 160). Bersama suami dan adiknya, ia masuk New Waint Sein, toko emas milik seorang Muslim , pedagang muslim itu menawar 108.000 kyat nya. Sedang Aye ingin setidaknya 110.000 kyat untuk jepit rambutnya.
Pekerja toko emas melihat jepit rambut itu, ternyata jepit itu sedikit rusak, maka Pemilik took muslim itu, seorang wanita muda berusia 20-an, karena rusak maka ia menawar hanya 50.000 kyat. Aye protes, menyebut pemilik tidak masuk akal. Karena hinaan Aye maka pemilik toko muslim itu menamparnya, kata saksi. Aye Aye dan suaminya berteriak di toko tersebut dan segera tiga staf toko muslim itu menarik mereka keluar toko, menurut pengakuan sepihak suami isteri budha itu mereka dipegangi dan dipukuli oleh tiga staf toko.
Akibat itu, massa berkumpul. Polisi tiba di lokasi, menahan Aye Aye Naing dan pemilik toko. Massa yang sebagian besar Buddha berkumpul dan berubah menjadi kekerasan, melemparkan batu, berteriak anti-Muslim dan penghinaan dan mendobrak pintu toko itu, menurut beberapa saksi. Tidak ada yang tewas atau terluka, namun bangunan perumahan Muslim milik toko emas dan beberapa rumah muslim yang lain hampir hancur.
“Toko ini memiliki reputasi buruk di lingkungan,” kata Khin San, yang mengatakan dia menyaksikan kekerasan dari toko umum nya di seberang jalan. “Mereka tidak membiarkan orang memarkir mobil mereka di depan toko mereka” .
Kemudian aroma kebencian dipicu oleh selebaran ditandatangani oleh kelompok yang menyebut dirinya “umat Buddha yang merasa tidak berdaya” yang dibagikan beberapa minggu sebelumnya. Dalam lembaran itu dikatakan bahwa Muslim di Meikhtila berkonspirasi melawan umat Buddha, dibantu oleh uang dari Arab Saudi, dan mengadakan pertemuan rahasia di masjid-masjid. Surat itu ditujukan kepada para bhiksu yang berpengaruh di daerah itu.
Ketegangan meningkat. Sekitar 5:30 pm hari itu, empat pria Muslim sedang menunggu di suatu persimpangan. Seorang biarawan berlalu di belakang dengan sepeda motor, mereka menyerang. Satu memukul pengemudi dengan pedang, menyebabkan dia terjatuh, kata saksi. Pukulan kedua di bagian belakang kepala biarawan itu. Salah satu laki-laki menyiram dia dalam bahan bakar dan membuatnya terbakar, kata Soe Thein, seorang mekanik yang melihat serangan itu. Biarawan itu meninggal di rumah sakit.
Soe Thein, seorang Buddhis, berlari ke pasar. “Seorang biksu telah dibunuh , biksu telah tewas!” dia menangis. Saat ia berlari kembali, massa mengikuti dan kerusuhan mulai. Rumah Muslim dan toko-toko habis terbakar.
Soe Thein mengidentifikasi penyerang dengan nama dan mengatakan ia melihat beberapa hari masih berada di desa setelah sang biksu dibunuh. Polisi menolak mengatakan apakah mereka termasuk di antara 13 orang yang ditangkap dan diselidiki terkait dengan kekerasan Meikhtila.
“KAMI HANYA INGIN MUSLIM”
Malam itu, api melahap banyak Mingalarzay Yone, bangsal sebagian besar Muslim di timur Meikhtila. Api meratakan masjid, panti asuhan, dan beberapa rumah. Ratusan muslim melarikan diri. Beberapa bersembunyi di rumah teman-teman Buddhis ‘, kata saksi. Sekitar 100 muslim lari ke dalam rumah kayu bertingkat milik Maung Maung, seorang sesepuh Muslim.
Win Htein, seorang anggota parlemen di Liga Nasional nya Suu Kyi untuk Demokrasi, mencoba menahan kerumunan . “Seseorang mengambil lenganku dan berkata hati-hati atau Anda akan menjadi korban,” katanya.
Sekitar 200 petugas polisi hanya menyaksikan kerusuhan di lingkungan tersebut sebelum meninggalkan sekitar tengah malam, katanya.
Sekitar jam 4 pagi, orang-orang Muslim di dalam rumah Maung Maung mengaji  dalam bahasa Arab dan kemudian bertakbir, di tengah kerumunan hampir seribu massa  Buddha yang berada di luar rumah.
Ketika fajar menyingsing, sekitar pukul 6 pagi, kehadiran polisi  di daerah itu hanya ada sekitar 10 petugas. Bahkan mereka (polisi) perlahan-lahan mundur, yang memungkinkan massa untuk menyerang, kata Hla Thein, 48, seorang sesepuh Buddhis.
Kaum Muslim melarikan diri melalui samping rumah, dikejar oleh pria dengan pedang, tongkat, batang besi dan parang. Beberapa dibantai dalam rawa di dekatnya, kata Hla Thein, yang menceritakan kejadian bersama empat saksi lainnya, baik Buddha dan Muslim.
Lainnya ditebas saat mereka berlari menuju jalan puncak bukit. “Mereka mengejar muslim seperti mereka berburu kelinci,” kata anggota parlemen NLD Win Htein.
Polisi menyelamatkan 47 kaum muslimin, sebagian besar wanita dan anak-anak, dengan mengepung mereka dengan perisai mereka dan menembakkan tembakan peringatan ke udara, Hla Thein mengatakan. “Kami tidak ingin menyerang Anda,” teriak seorang biarawan kepada polisi, menurut polisi mereka berteriak, “Kami hanya ingin umat Islam.”
Ye Myint, menteri kepala daerah Mandalay yang mencakup Meikhtila, mengatakan kepada wartawan hari itu situasi sudah “stabil.” Tetapi nyatanya semakin parah. Biarawan bersenjata dan massa Buddha meneror jalan-jalan selama tiga hari berikutnya, kata saksi.
Mereka mengancam Thein Zaw, seorang pemadam kebakaran mencoba untuk memadamkan sebuah masjid terbakar. “Beraninya kau memadamkan api ini,” kenangnya satu teriakan biksu. “Kami akan membunuhmu.” Sekitar 30 biksu menghancurkan tanda yang tergantung di luar stasiun pemadam kebakaran dan mencoba untuk memblokir truknya.
“Seorang bhiksu dengan pisau berayun ke arah saya,” kata Kyaw Ye Aung, seorang petugas pemadam kebakaran .
Tiga hari kemudian, di bukit di mana mayat muslim dibakar, reporter ini menemukan sisa-sisa campuran jenazah dewasa dan anak-anak: potongan tengkorak manusia, tulang dan tulang lainnya, dan ransel anak yang sudah gosong itu.
Terdekat dari situ, truk kota membuang mayat di sebidang tanah di sebelah krematorium di pinggiran Meikhtila itu. Mereka dibakar dengan ban bekas.
Gerakan 969
Di jalan-jalan Meikhtila, saksi melihat biarawan dari biara terkenal . Mereka juga melihat biarawan dari Mandalay, kota kedua terbesar di negara itu dan pusat kebudayaan Burma sekitar 100 mil ke utara. Salah satu pengunjung tersebut adalah Wirathu biksu nasionalistis.
Wirathu dibebaskan tahun lalu dari sembilan tahun penjara selama amnesti bagi ratusan tahanan politik, di antara reformasi paling terkenal pasca-kekuasaan militer Myanmar. Dia dahulu dikurung karena menghasut kerusuhan anti-Muslim pada kerusuhan tahun 2003.
Saat ini, ia yang berumur 45 tahun adalah kepala biara di Biara Masoeyein Mandalay, sebuah kompleks luas di mana ia memimpin sekitar 60 biksu dan memiliki pengaruh atas lebih dari 2.500 umat budha berada di sana. Dari basis kekuatannya, ia memimpin sebuah gerakan cepat yang dikenal sebagai “969,” yang mendorong umat Buddha untuk memboikot bisnis Muslim dan masyarakat muslim.
969 , Tiga angka mengacu pada berbagai atribut Buddha, ajarannya dan kerahiban tersebut. Dalam prakteknya, nomor telah menjadi merek bentuk radikal anti-Islam secara nasionalisme yang berusaha untuk mengubah Myanmar menjadi seperti negara apartheid .
“Kami memiliki slogan: Ketika Anda makan, makan di 969, ketika Anda pergi, pergi ke 969, ketika Anda membeli, membeli ke 969,” kata Wirathu dalam sebuah wawancara di kuilnya di Mandalay. Terjemahan: Jika Anda makan, bepergian atau membeli sesuatu, melakukannya dengan seorang Buddhis. Menikmati reputasi ekstremis nya, Wirathu menggambarkan dirinya sebagai “Osama bin Laden nya Burma.”
Dia mulai memberikan serangkaian pidato kontroversial 969 sekitar empat bulan yang lalu. “Tugas saya adalah untuk menyebarkan misi ini,” katanya. Ini sangat efektif: stiker 969 dan tanda-tanda yang berkembang biak – sering disertai dengan kekerasan.
Perusuh mengecat “969″. Gerakan massa Anti-Muslim berkecamuk di Kawasan Bago, dekat Yangon, meletus setelah bepergian biarawan berkhotbah tentang gerakan 969. Stiker bertuliskan warna pastel disalut dengan angka 969 yang muncul di warung pinggir jalan, sepeda motor, poster dan mobil di seluruh pusat-pusat pusat.
Dalam Minhla, sebuah kota sekitar 100.000 penduduk berjarak beberapa jam dari Yangon, 2.000 umat Buddha berdesakan dalam sebuah pusat komunitas pada tanggal 26 -27 Februari untuk mendengarkan Wimalar Biwuntha, seorang kepala biara dari Negara Mon. Dia menjelaskan bagaimana biarawan di negara itu mulai menggunakan 969 untuk memboikot perusahaan-Muslim.
Setelah pidato, suasana di Minhla menjadi rusuh, kata Tun Tun, 26, seorang pemilik toko teh-Muslim. katanya. Sebulan kemudian, sekitar 800 umat Buddha bersenjata dengan pipa logam dan palu menghancurkan tiga masjid dan 17 rumah Muslim dan tempat bisnis, menurut polisi. Tidak ada yang tewas, tapi dua-pertiga dari Muslim yang melarikan diri dari Minhla belum kembali, kata polisi.
“Sejak pidato itu, orang-orang di desa kami menjadi lebih agresif , kami kehilangan pelanggan,” kata Tun Tun, yang tokonya dan rumah yang hampir hancur oleh Buddha pada 27 Maret. Salah satu penyerang bersenjata dengan gergaji mesin, katanya.
Seorang pejabat polisi setempat membuat kesepakatan dengan massa: Para perusuh diizinkan 30 menit untuk merampok sebuah masjid sebelum polisi akan membubarkan kerumunan massa, menurut dua orang saksi. Polisi setempat membantah telah membuat kesepakatan seperti ketika ditanya oleh Reuters.
Dua hari sebelumnya di Gyobingauk, sebuah kota dari 110.000 orang di utara Minhla, massa menghancurkan sebuah masjid dan 23 rumah setelah tiga hari dari pidato oleh seorang biksu berkhotbah 969. Saksi mata mengatakan mereka muncul terorganisasi dengan baik, meratakan beberapa bangunan dengan buldoser.
Wirathu membantah mengorganisir para biarawan di Meikhtila dan di tempat lain. Dia mengakui hanya menyebarkan 969 dan memperingatkan bahwa Muslim menipiskan identitas negara Buddhis. Itu adalah komentar yang telah dilakukan berulang-ulang dalam pidato dan media sosial dan melalui telepon dalam beberapa pekan terakhir.
“Dengan uang, mereka menjadi kaya dan menikahi wanita Budha Burma dan mengalihkan ke Islam, menyebarkan agama mereka. Bisnis mereka menjadi lebih besar dan mereka membeli lebih banyak lahan dan rumah, dan itu berarti tanah ini akan lebih sedikit kuil Buddhanya,” katanya.
“Dan ketika mereka menjadi kaya, mereka membangun masjid yang tidak terbuka, tidak seperti pagoda dan biara-biara,” tambahnya. “Mereka seperti stasiun basis musuh bagi kita. Masjid lebih berarti markas musuh, jadi itu sebabnya kita harus mencegah adanya markas musuh lebih banyak.”
Biksu Budha Kawatir Burma menjadi seperti Indonesia
Wirathu takut Myanmar akan mengikuti jalan seperti Indonesia setelah Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pada akhir abad ke-16, Islam telah menggantikan Hindu dan Buddha sebagai agama dominan di pulau-pulau utama Indonesia.
Wirathu mulai memberitakan  969  akan keyakinan dirinya pada tahun 2001, ketika Departemen Luar Negeri AS melaporkan “peningkatan tajam dalam kekerasan anti-Muslim” di Myanmar. Sentimen anti-Muslim didorong pada bulan Maret tahun lalu  ketika Taliban hancurkan patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan.
Biarawan itu akhirnya ditangkap pada 2003 dan dihukum 25 tahun penjara karena menyebarkan pamflet anti-Muslim yang menghasut kerusuhan komunal di tempat kelahirannya dari Kyaukse, sebuah kota dekat Meikhtila. Setidaknya 10 Muslim tewas dalam Kyaukse oleh gerombolan Buddha, menurut laporan Departemen Luar Negeri AS.
Wirathu memberikan komentar terhadap penyebab awal kerusuhan tersebut , mengenai wanita Buddhis yang mencoba untuk menjual jepit rambut. “Dia seharusnya tidak melakukan bisnis dengan Muslim.”
(Tambahan pelaporan oleh Min Zayer Oo,. Editing oleh Andrew Marshall RC, Michael Williams dan Bill Tarrant./reuters/dz) [Tan/www.bringislam.web.id]
Read more...

Akibat Ketiadaan Khilafah | Sekolah Islam di Burma Terbakar, 13 Orang Syahid

Tidak ada komentar

Burma belakangan dilanda konflik antar warga yang melibatkan komunitas Muslim dan penganut Budha.
Sebuah sekolah Islam yang berada di Rangoon Burma dilaporkan terbakar dan mengakibatkan setidaknya 13 orang tewas termasuk diantaranya sejumlah anak-anak.
Seorang pejabat polisi mengatakan kebakaran diakibatkan oleh api yang muncul dari aliran listrik yang mengalami gangguan.
Dia menepis anggapan yang menyebut bahwa kebakaran ini diakibatkan oleh tindakan kejahatan seseorang.
Laporan menyebutkan sejumlah anak-anak yang berhasil menyelmatkan diri dari kebakaran itu berada dalam kondisi aman.
Peristiwa kebakaran ini terjadi ditengah ketegangan hubungan antara komunitas Muslim dan penganut Budha yang terus meningkat.

Dekat Masjid

Pertikaian diantara kedua komunitas itu telah mengakibatkan sedikitnya empat puluh orang tewas dan pihak keamanan juga telah memberlakukan jam malam di sejumlah daerah di negara itu.
Juru Bicara Kepolisian Burma, Thet Lwin kepada kantor berita AP mengatakan bangunan sekolah yang terbakar itu terdiri dari dua lantai dan merupakan bagian dari sebuah Masjid di Rangoon.
Bangunan itu juga menjadi tempat penampungan untuk 75 anak-anak yatim piatu.
Mereka yang selamat dalam kebakaran tersebut umumnya berhasil lari keluar setelah pintu berhasil dibuka oleh polisi.
Petugas pemadam kebakaran belakangan berhasil memadamkan api dan akibat peristiwa tersebut gedung sekolah mengalami kerusakan parah.(bbc, 2/4)
Read more...

UPDATE! anjing-Anjing Budha Merusak Toko-toko Muslim Bago Myanmar

Tidak ada komentar
Update laporan serangan terhadap properti Muslim di wilayah Bago, Myanmar
In this Thursday, March. 21, 2013 photo, a group of people try to destroy a building in Meikhtila, Mandalay division (AP Photo)

BAGO  - Umat Islam di wilayah Bago, Myanmar (Burma), sedang mengalami penyerangan oleh sejumlah ekstrimis Buddhis. Beberapa kota di wilayah tersebut diserbu oleh para teroris itu.

Sebelumnya telah dilaporkan bahwa bangunan-bangunan milik Muslim di Oak Pho (Okpho) dan Kyopinkauk, wilayah Bago atau sering disebut Pegu Division dan Bago Division, oleh segerombolan ekstrimis.

M-Media berbicara dengan seorang warga Muslim yang rumahnya dihancurkan pada Senin (25/3/2013) malam di kota Okpho, korban mengatakan bahwa masjid, rumah warga dan madrasah dihancurkan.
“Empat rumah, satu masjid dan satu sekolah Islam dihancurkan di Okpho. Mereka menghancurkan sejak pukul 21:00 malam lalu (25/3) hingga 04:00 pagi ini (26/3). Ada sekitar 400 orang di setiap sudut yang berbaris dari desa-desa terdekat. Mereka juga mengambil properti-properti dari toko-toko saat mereka menghancurkan toko-toko itu,” katanya.

Sementara itu menurut kesaksian warga lokal di Kyopinkauk, sekitar 1.000 penyerang, termasuk bhiksu di antaranya, menyerang pemukiman warga Muslim.

“Serangan dimulai sejak kemarin malam (25/3) dan berakhir pada pukul 05:30 pagi (26/3). Sekitar 10 rumah hancur. Massa itu sebanyak 1.000 orang. Bhiksu Buddhis sendiri yang mengendarai buldoser untuk menghancurkan rumah-rumah itu. Mereka sekarang mengambil properti-properti dari rumah-rumah itu. Saya mendengar kegaduhan. Polisi ada di sana, turun ke jalan tetapi mereka tidak melakukan apapun.

 Mereka hanya mengambil foto, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa lagi. Tidak ada seorangpun yang dilaporkan meninggal. Tetapi ada seorang wisatawan dari Yangon, bernama Kyaw Soe Moe ditebas dengan pedang. Dia telah dibawa ke rumah sakit Kyopinkauk. Dia berumur sekitar 50 tahun dan dia menjual kacamata di Yangon. Hingga sekarang, tidak ada seorangpun datang untuk meminta sesuatu atau membantu kami,” katanya kepada M-Media.

Selain menimbulkan kerugian nyawa dan harta, tindak kekerasan segerombol penjahat ini telah mengacaukan kehidupan bertetangga antara warga Muslim dan warga Buddhis yang telah terjalin lama. (siraaj/www.bringislam.web.id)
Read more...

Anjing-Anjing Budha Membakar Rumah dan Toko-toko Kaum Muslim di Bago

Tidak ada komentar

Rumah-rumah dan toko warga Muslim dihancurkan di wilayah Bago
BAGO – Menurut laporan yang diterimah M-Media, rumah-rumah dan toko milik Muslim telah dihancurkan sejak pukul 11:30 pada Senin (25/3/2013), wilayah Bago.

Massa Buddhis menghancurkan tiga rumah dan toko-toko di pasar.

“Mereka telah menghancurkan tiga rumah Muslim, dan toko-toko Muslim dari pasar. Sekarang mereka menyerang masjid. Saya bisa mendengar suara mereka dan bunyi di sana. Saya sekarang bersembunyi di rumah seorang Buddhis. Di sana hanya ada sebuah masjid di Kyopinkauk (Pegu Division atau wilayah Bago -red), dan sekolah Islam juga berada di masjid itu. Ada sekitar 150 rumah Muslim, dan populasi Muslim kira-kira 400,” kata seorang warga lokal kepada M-Media.

“Kami telah mendengar berita ini sejak sore, 15:00, bahwa akan ada serangan malam ini, dan mereka hanya menghancurkan tetapi tidak membakar. Kami diberitahu bahwa gerombolan sekitar 60 orang dibentuk di Htangone, dan mereka berbaris menuju kami. Sebagian di gerombolan itu adalah orang-orang yang asing, tetapi sebagiannya adalah warga lokal. Saya harus bersembunyi sekarang, telah melarikan diri dari rumah saya,” katanya.

Penghancuran bangunan-bangunan Muslim, termasuk masjid, juga terjadi di bagian berbeda di wilayah Bago. Sementara polisi tidak berdaya mengendalikan para teroris itu. (siraaj/www.bringislam.web)
Read more...

Category

Popular Posts

facebook