Comments

Tampilkan postingan dengan label JICMI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JICMI. Tampilkan semua postingan

INTELEKTUAL MUSLIM | Peran dan tanggung jawab | Fahmi Amhar Paper | JICMI hti

Tidak ada komentar

PERAN DAN TANGGUNG JAWAB INTELEKTUAL MUSLIM DALAM MEMBANGUN PERADABAN ISLAM


Prof. Dr.-Ing. Fahmi Amhar
Research Professor in Spatial Information System
Geospatial Information Agency
Jl. Jakarta-Bogor Km. 46 Cibinong-Indonesia
famhar@yahoo.com, fahmi.amhar@big.go.id

Abstract
Muslim Intellectuals have submitted some proposals as solution for some problematics in the world.  But some of them missed the whole system-framework and the islamic paradigm, so that their solutions are not yet effective.  Islam gives inspirations to many aspects in science and technology.  Islam gives the frame how research could be done.  And Islam gives the guidence, how the technology should be applied.  Technology without Islam will enslave, Islamic world without technology will be colonialized, but technology guided by Islam will liberate the world from slavery and colonialism. 
The society is built by individual personality (taqwa); public opinion which guided the social-control; and by state policy.  Muslim intellectuals should take the responsibilty to improve the awareness of the umma and change the dominant opinion – which now is secular-liberalism one.  And muslim intellectuals should aso change the opinion of political leader.  When the islamic awareness of leader improved, then the leader can change the opinion of the umma so that they can be moved to be better society.

Abstrak
Cendekiawan Muslim telah mengajukan berbagai proposal sebagai solusi untuk beberapa problematika di dunia. Tetapi beberapa dari mereka masih belum menangkap kerangka sistem keseluruhan dan juga belum mendasarkan pemikirannya pada paradigma Islam, sehingga solusi mereka belum efektif. Islam memberikan inspirasi tentang banyak aspek dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Islam memberikan kerangka bagaimana penelitian bisa dilakukan. Dan Islam memberikan bimbingan , bagaimana teknologi harus diterapkan. Teknologi tanpa Islam akan memperbudak, dunia Islam tanpa teknologi akan dijajah, tetapi teknologi dipandu oleh Islam akan membebaskan dunia dari perbudakan dan penjajahan.  
Masyarakat dibangun oleh kepribadian individu (taqwa), opini publik yang memandu kontrol sosial; dan oleh kebijakan negara. Intelektual Muslim harus siap mengambil tanggungjawab untuk meningkatkan kesadaran umat dan mengubah pendapat dominan - yang sekuler - liberal. Dan intelektual muslim harus dapat mengubah opini para pemimpin politik. Ketika kesadaran islam pemimpin membaik, maka pemimpin dapat lebih mudah mengubah pendapat umat sehingga mereka dapat ditransformasikan untuk menjadi masyarakat yang lebih baik.



 1.       Pendahuluan

Populasi umat Islam di dunia saat ini  ditaksir ada 1,5 Milyar manusia.  Dari jumlah ini, estimasi kalangan akademisinya adalah 10% populasi  (di Indonesia menurut BPS adalah 13.28%), artinya ada 150 juta akademisi. Mereka tersebar di berbagai disiplin ilmu, dan juga di berbagai negara.

Beberapa gagasan yang sering muncul di dunia Islam menunjukkan potensi besar Intelektual Muslim dalam membangun peradaban Islam. Mereka telah mengusulkan banyak sekali solusi dalam topik-topik seperti:

Politik global dan dampaknya di dunia Islam.  Ini kajian yang cukup luas, mencakup geopolitik, hubungan internasional, interdependensi antar negara, hingga issu-issu militer dan keamanan.  Mereka menyadari bahwa dunia Islam terletak pada posisi-posisi paling strategis di dunia, baik dari sisi sumberdaya alam maupun urat nadi ekonomi dunia.

Tantangan pembangunan kepemerintahan yang baik (good governance).  Tidak dapat dipungkiri bahwa negeri-negeri muslim masih dibelit oleh isu-isu korupsi yang kronis, birokrasi yang tidak efisien, dan pelayanan masyarakat yang di bawah standar minimum.  Di tingkat dunia bahkan ada sinyalemen bahwa tingkat indeks islamisitas negara-negara muslim ada di bawah negara-negara Barat (Rehman & Askary, 2010).

Tantangan berikutnya adalah ekonomi.  Tingkat industrialisasi yang sangat tinggi di dunia Barat, juga di China dan India, telah membuat mereka justru mampu memproduksi jauh lebih efisien dari dunia Islam.  Export utama dunia Islam masih didominasi oleh sumber daya alam mentah.  Akibatnya dunia Islam masih sangat tergantung kepada peran di luar dunia Islam.  Dari 20 anggota G20, tersebut Indonesia, Turki, dan Saudi Arabia.  Namun perannya di dunia masih sangat minim.  Mereka diambil lebih karena peranannya sebagai pasar terbesar, tempat asal migrant worker dan lumbung energi. Sebaliknya, dalam teknologi informasi, telekomunikasi dan transportasi, dunia Islam masih sangat tergantung pada asing, padahal ini adalah teknologi kunci dalam pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Tantangan berikutnya adalah kesehatan dan keamanan pangan.  Berbagai indikator kesehatan seperti angka harapan hidup, angka kematian ibu dan angka kematian bayi di dunia Islam masih lebih jelek dari negara-negara Barat atau Jepang.

Manajemen energi dan sumber daya alam juga menjadi hal yang amat sensitif.  Dunia Islam dikaruniai potensi sumberdaya migas, batubara dan geothermal terbesar di dunia (Amhar, 2007).  Namun secara parsial keberadaan SDA ini justru sering membuat mereka berlaku tidak efisien, yang kemudian berimbas pada rusaknya lingkungan atau memunculkan konflik dan perang saudara di antara mereka sendiri.

Masalah wanita dan keluarga juga menjadi perhatian yang istimewa.  Wanita dan keluarga menjadi benteng terakhir yang memperhatikan nilai dan budaya Islam, dan juga merupakan indikator yang baik untuk menilai tingkat keterikatan suatu komunitas dengan Islam.  Namun kita harus mengakui, bahwa justru di negeri-negeri Islam, hak-hak yang diberikan Islam kepada wanita dan keluarga justru lebih sering diabaikan daripada di negara-negara Barat.  Di dunia Islam, kapitalisme justru lebih sering memakan korban wanita dan keluarga, baik secara langsung, maupun tidak langsung melalui kemiskinan, keterbelakangan dan kekerasan.

Terakhir adalah masalah pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi.  Kita tidak usah malu mengakui bahwa pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi kita masih tertinggal.   Paper-paper ilmiah atau penemuan-penemuan teknologi masih belum banyak yang dihasilkan dunia Islam.  Meski sudah jutaan anak-anak muda dari negeri Islam yang telah menuntut ilmu di negara-negara maju, mereka belum mampu mengangkat level sains dan teknologi negerinya. Sebagian dari mereka justru memilih tetap tinggal dan berkarier di negara-negara maju, karena iklim pendidikan dan pengembangan sains dan teknologi di sana jauh lebih kondusif.

2.       Permasalahan

Masalah-masalah seperti di atas telah banyak didiskusikan dan diseminarkan secara akademis, namun pada umumnya hanya secara parsial.  Penyelesaiannya secara terintegrasi masih jarang didengar.  Hal ini karena para intelektual di dunia Islam memang masih belum terbiasa melakukan sesuatu di atas atau di luar lingkup akademisnya.  Para akademisi dididik untuk fokus hanya pada bidang kajian yang sangat sempit, sehingga justru sering kehilangan konteks atau framework yang melingkupi persoalan itu.

Selain persoalan ruang lingkup, para akademisi di dunia Islam juga sering belum memiliki paradigma keilmuan yang khas Islam.  Fenomena-fenomena alam yang bersifat empiris memang memiliki hukum-hukum alam yang sama, lepas dari soal apa ideologi atau agama ilmuwan yang menelitinya.  Namun seorang muslim setidaknya perlu memiliki paradigma keilmuan seperti ontologi, epistemologi dan aksiologi Islam yang khas.  Akibatnya, sebagian dari mereka terjebak pada “islamisasi sains” yang tak lebih dari mencocok-cocokkan penemuan sains dengan ayat suci, “saintifikasi islam” yaitu mencari-cari sains di balik suatu ajaran Islam atau “sains ta’wili” yaitu menebak-nebak sains sebagai makna suatu ayat yang sebenarnya mutasyabihat (Amhar, 2012).

Memang ada persoalan-persoalan pengaturan manusia yang memerlukan sistem, dan itu memang sebagian diselidiki secara ilmiah.  Muncullah ilmu politik, ilmu ekonomi, ilmu pendidikan dan sebagainya, yang seharusnya harus dapat dipisahkan mana yang merupakan sistematisasi fenomena empiris, dan mana solusi yang muncul dari sebuah pandangan hidup.  Ini mestinya menjadi “sains ijtihadi”.

Adapun terhadap fenomena alam seperti fisika, astronomi atau biologi, juga sains yang dibangun di atasnya, Qur’an bukanlah alat penguji kebenaran ilmiah karena memiliki domain yang sama sekali berbeda.  Tetapi Qur’an memberikan ratusan ayat yang sebaiknya memotivasi dan menginspirasi ilmuwan muslim untuk meneliti.  Pada saat yang sama Islam memberikan berbagai batasan syar’i atas metodologi ilmiah yang dilakukan.  Ada beberapa cara pengungkapan ilmiah atau eksperimen yang dilarang karena akan melanggar syara’, misalnya experimen terhadap manusia.  Dan di hilir, Islam memberikan arah, untuk apa sebenarnya sains dan teknologi itu ada.  Islam tanpa sains dan teknologi akan terjajah.  Sains dan teknolog tanpa Islam akan menjajah.  Islam yang memandu sains dan teknologi akan membebaskan manusia dari penjajahan!

Setiap muslim seharusnya pernah mendengar hadits Rasulullah “Barang siapa bangun di pagi hari, namun tidak terpikirkan problem umatku, dia bukan bagian dari umatku”.  Setiap orang yang diberi kapasitas lebih oleh Allah swt, tentu diharapkan memiliki tanggungjawab yang lebih besar kepada umat.

Demikian pula seorang akademisi.  Setelah memerintahkan seorang muslim untuk mempelajari alam semesta (QS 88:17-20), Allah memerintahkan untuk memberi peringatan (QS 88:21-22). Ketika mulai muncul menjalankan peran tanggungjawab keumatan inilah, dia beralih dari sekedar seorang akademisi menjadi seorang intelektual.  Cuma mulai dari mana?

Akademisi muslim yang telah merasa terpanggil tanggungjawabnya terhadap umat ini lalu mencoba ikut memunculkan solusi.  Namun lack konteks dan paradigma membuat mereka sering terseret pada suatu jebakan “lingkaran setan”.  Ini bisa berawal dari asumsi yang mendasari tentang apa sesungguhnya akar persoalannya.  Tetapi tentu saja tidak masalah bila memang dia merasa hanya bisa menyumbangkan sesuatu yang terkait kompetensinya.  Berikut ini adalah gambaran contoh jebakan lingkaran setan.

Ada yang menyangka bahwa umat ini terpuruk karena lemah dalam sains dan teknologi.  Karena itu mereka fokus pada penguasaan teknologi, membangun lembaga-lembaga untuk meraih keunggulan teknologi, atau mengirim anak-anak muslim untuk belajar teknologi ke negara maju.
Apakah upaya ini berhasil?  Berapa sarjana Muslim yang telah menguasai teknologi tinggi? Apakah ini berkorelasi dengan kemajuan umat secara keseluruhan?  Setelah dianalisis, penguasaan teknologi tinggi tersebut ternyata tidak dapat diaplikasikan, karena kecilnya dana yang tersedia atau kesempatan yang ada untuk mewujudkannya menjadi industri dan lalu menjadi bisnis mandiri yang memicu pertumbuhan ekonomi.

Kalau demikian, apakah seharusnya lebih fokus ke ekonomi?  Kalau demikian, maka yang diperbanyak adalah membangun sektor ekonomi dan keuangan untuk permodalan umat.  Wujudnya antara lain berupa pendirian lembaga-lembaga pengembangan calon enterpreneur dan pengucuran kredit mikro.
Namun, mengapa sudah banyak pakar ekonomi, tetapi negaranya termasuk negara miskin? Mengapa negeri kita sangat kaya raya, tetapi rakyatnya sangat miskin?  Setelah dianalisis: kekayaan dan kepakaran ekonomi tidak berguna jika orang-orangnya tidak bermoral (berakhlaq), banyak yang KKN atau menjalankan bisnis yang tidak halal.

Kalau begitu apakah ahlaq lebih penting?  Apakah fokus pada perbaikan akhlaq akan berhasil?  Kalau demikian, maka diperbanyak pengajian-pengajian yang menyentuh hati.  Diperbanyak kesempatan orang untuk beristighfar, berzikir, atau berdoa bersama.  Diperbanyak siraman ruhani di televisi atau media lainnya.
Namun mengapa orang-orang yang semula berakhlaq baik, ketika masuk sistem negara (duduk di legislatif, birokrasi, penegakan hukum), atau dunia bisnis, malah lebih sering menjadi rusak, secara sadar maupun tidak?  Kalaupun ada yang tetap baik, mengapa justru dia akan teralienasi dan tersingkirkan?  Kalau ada yang mencoba sedikit memperbaiki sistem, mengapa mereka justru malah ditendang? 

Apakah ini berarti kita perlu melahirkan lebih banyak manusia yang berakhlaq untuk mewarnai sistemnya?  Sehingga, apakah mewujudkan pendidikan Islam menjadi fokus yang lebih penting? Apakah dengan mendirikan banyak sekolah islam dan pesantren akan berhasil?
Namun setelah pendidikan ini dirintis, sekarang sudah banyak sekolah islam, mutunya justru lebih rendah dari sekolah negeri?  Mengapa yang didirikan sekolah islam, tetapi tetap memakai kurikulum yang sama dengan sekolah negeri?  Mengapa sekolah islam yang baik iuran SPP-nya jauh lebih mahal dari sekolah negeri? Mengapa lulusan sekolah islam kualitas dan perilakunya tidak lebih baik dari sekolah negeri?

Apa Arti Dari Semua Ini?

Ternyata, berbagai upaya yang telah diupayakan intelektual muslim tersebut masih belum menyelesaikan masalah Umat. Setiap upaya yang dilakukan seakan-akan seperti masuk kedalam lingkaran setan yang tak berujung pangkal.  Lantas, apa yang seharusnya diupayakan oleh para intelektual muslim?

3.       Pembahasan

Hambatan-hambatan yang menyebabkan hal-hal tersebut terjadi itu karena kita memahami sejarah Nabi belum dalam kerangka mencari inspirasi, bagaimana membangkitkan umat secara mendasar dan tuntas?
Akibatnya kita gagal melihat, apa yang hilang di tubuh umat ini, sehingga mereka sedemikian terpuruk di kancah pergaulan internasional?  Padahal mereka masih merasa memiliki Tuhan yang sama, Nabi yang sama, Kitab yang sama, dan Kiblat yang sama !
Ini karena ada sesuatu yang hilang, yaitu penerapan Islam yang sama!

Islam diterapkan di masyarakat oleh tiga pilar: ketaqwaan individu, kontrol sosial masyarakat, dan oleh negara.  Setelah didalami, ternyata Islam memiliki lebih banyak kewajiban yang berupa fardhu kifayah daripada fardhu ain.  Yang fardhu ain juga lebih banyak yang baru sempurna dengan suatu aktivitas kolektif.
Contoh: sholat adalah aktivitas individual.  Tetapi bagaimana menciptakan suasana yang kondusif, agar orang termotivasi untuk sholat, misalnya dengan penyediaan fasilitas yang baik dan memadai, pengaturan jadwal kegiatan, dan pengumandangan adzan pada waktunya dll, adalah tanggungjawab kolektif.

Nah saat ini, dari dua pilar itu tinggal satu yang tersisa, yaitu ketaqwaan individu, itupun relatif sedikit dibandingkan populasi.  Adapun kontrol sosial sekarang sudah sangat kabur.  Sudah puluhan tahun, kultur yang ada hanya mentolerir pengamalan ajaran Islam, bukan memotivasinya.  Yang mengabaikan kewajiban atau melanggar larangan agama semakin merasa biasa-biasa saja.  Bahkan sebagian hal-hal yang diwajibkan oleh Islam masih memerlukan ijin untuk diterapkan.  Inilah opini yang saat ini berkuasa.
Contoh paling aktual adalah jilbab.  Dulu jilbab tidak boleh ada di pasfoto ijazah atau KTP.  Sekarang sudah ditolerir, kecuali di kepolisian.  Para polwan masih menunggu SK untuk jilbab sebagai pakaian seragam.  Padahal justru di negara-negara sekuler seperti Amerika atau Swedia, sudah lama polwan muslimah di sana bisa berjilbab, walaupun juga tidak didorong.

Inilah opini umum yang sekuler dan liberal.  Disebut sekuler adalah tatkala orang sampai beranggapan bahwa manusia lebih tahu urusannya dan tidak perlu membawa-bawa Tuhan ketika berbicara tentang pengaturan masyarakat.  Setelah masyarakat memisahkan Islam dari persoalan kehidupan publik, maka yang terjadi adalah: di satu sisi muncul asketisme (ibadah yang berlebihan dan tidak peduli urusan dunia), dan di sisi lain muncul liberalisme (yaitu yang untuk urusan politik, ekonomi, peradilan, pendidikan, pergaulan dan hubungan luar negeri tidak perlu bawa-bawa nama Tuhan).

Sedangkan negara, yang mestinya tinggal memaksa mereka yang ketaqwaannya ataupun kontrol sosial di lingkungannya belum mendorong menaati Islam, justru saat ini hanya mengikuti opini tadi.  Demokrasi adalah doktrin bahwa hukum atau aturan bermasyarakat harus diambil dari kehendak rakyat.  Ketika opini umum yang dominan di tengah rakyat masih sekuler dan liberal, otomatis demokrasi hanya akan menghasilkan hukum yang sekuler-liberal.  Pemilu di beberapa negeri Islam membuktikannya.

Apalagi bila demokrasi ini sudah bias dengan kepentingan para sponsor dan pemainnya.  Para sponsor ini mampu membayar media, pengamat, konsultan politik, LSM, hingga para penegak hukum yang bisa disuap.  Para sponsor ini adalah kaum kapitalis hitam, baik domestik ataupun asing, dan mereka memandang aktivitas politik selayaknya investasi bisasa.  Sebaliknya, para pemain ini memandang politik hanya sebagai petualangan untuk mencari keuntungan, bukan aktivitas untuk melayani urusan publik.  Akibatnya demokrasi akan tersandera tiga kali: pertama oleh opini sekuler-liberal, kedua oleh dominasi para kapitalis hitam, dan ketiga oleh para petualang.

Kalau kita mempelajari sejarah Nabi dalam konteks transformasi masyarakat, kita akan melihat bahwa Nabi melakukan perubahan yang fundamental di tiga aspek tersebut.  Nabi merubah individu dengan menanamkan tauhid.  Selanjutnya Nabi membalikkan opini umum di masyarakat dengan menyodorkan ayat-ayat yang bertentangan dengan opini tersebut.

Oleh sebab itu, ketika pada masa kini, opini umum yang dominan dan bertentangan dengan ayat-ayat suci adalah sekulerisme dan liberalisme, maka tugas para intelektual juga untuk membalikkan opini ini.  Sekulerisme-liberalisme sudah dari awal bertentangan dengan tauhid.

Proses transisi pembalikan opini ini tentu memerlukan proses yang panjang dan menyakitkan.  Namun ini semua proses yang perlu dilalui, sampai didapatkan suatu “massa kritis” yang siap memanggul beban perubahan.
Setiap perubahan selalu dimulai dengan satu seorang dengan sekelompok kecil pengikutnya sebagai “pioner” yang tak akan lebih dari 0,5% populasi.  Kemudian mereka akan diikuti oleh kelompok “early adopters”.  Jumlahnya akan mencapai 5%.  Selebihnya perkembangan akan bergulir cepat, sehingga sebagian besar populasi akhirnya akan mengikuti sebagai “early majority”.  Di sinilah terjadi massa kritis.  Total 50% lebih.  Sisanya akan ikut sebagai “late majority”.  Kemudian akan ada sedikit sisa yang ketinggalan (“laggard”), yang tak akan sampai 1%.  Sepertinya sunnatullah di mana-mana memang begitu.

Massa kritis ini adalah mereka yang memang siap dengan segala risiko sebuah transformasi sosial.  Tidak ada transformasi sosial yang langsung dapat dinikmati.  Selalu akan ada masa-masa sulit, masa-masa kurang tidur, masa-masa penuh ketakutan, kekurangan dan ketidakpastian.

Di situlah peran dan tanggungjawab yang harus diambil alih para intelektual.  Merekalah yang harus menginspirasi para pemimpin politis agar maju, mengambil alih tanggungjawab memimpin masyarakat menghadapi masa-masa yang berat.

Bila para intelektual ini lebih cinta dunia dan takut mati, maka para pemimpin pun akan menjadi lemah dan akhirnya rusak.  Kala pemimpin rusak, maka umatpun akan rusak.  Sebaliknya, jika para intelektual ini lebih mencintai Allah dan mati syahid, bila mereka tidak takut menderita, maka para pemimpin pun akan menjadi kuat, menjadi besar hatinya, dan berusaha menjauhi kerusakan.  Dan jika ada pemimpin-pemimpin yang seperti ini, maka umatpun akan bisa diperbaiki, karena ada teladan yang bisa dipercaya.  Umatpun akan bisa dibangkitkan, dan bisa diajak bergerak menuju tugas sejarahnya!

Dan sebagaimana sebuah pekerjaan raksasa, perubahan ini tidak bisa tidak kecuali secara bersama-sama dalam sebuah jejaring (network).  Inilah dakwah berjama’ah, di mana para intelektual akan saling mengisi, saling memperkuat dan saling mengoreksi.

4.       Penutup

Inilah saatnya kaum intelektual untuk memutus lingkaran setan itu.  Lingkaran setan itu tetaplah akan menyesatkan manusia, selama tidak ada orang-orang yang memilih jalan taqwa daripada jalan durhaka.

Inilah saatnya intelektual muslim menyatukan Visi dan Missi hidupnya.  Visi hidupnya yang pertama sebelum menjadi intelektual, adalah senantiasa menjadi hamba Allah, yang dihadirkan ke dunia, untuk menjadi yang terbaik, untuk menjadi rahmat seluruh alam.

Inilah saatnya, intelektual muslim menyadari, bahwa mereka adalah bagian dari umat yang terbaik, yang harus menghadirkan ke dunia ini karya-karya terbaik, yang memiliki tanggungjawab untuk mengingatkan manusia, menyuruh yang makruf, mencegah yang munkar dan membuktikan keimanan kepada Allah.

Inilah saatnya mereka duduk bersama untuk mengintegrasikan dan mensinergikan seluruh potensi yang mereka miliki, untuk menyelesaikan problematika umat tersebut.

Referensi

Amhar, F. (2007): Analisis Futuristik:  Kekuatan Umat Islam Terkini Bila Bersatu.  Majalah Al-Waie, edisi Maret 2007.

Amhar, F. (2012): Studi Komparasi Mazhab Riset Teknologi: Antara Ilmuwan Islam dan Sekuler.  Suara Hidayatullah. http://www.hidayatullah.com/read/21275/21/02/2012/antara-ilmuwan-islam-dan-sekuler.html 

BPS (2012): Indikator Pendidikan Indonesia.http://bps.go.id/tab_sub/view.phpkat=1&tabel=1&daftar=1&id_subyek=28&notab=1

Scheherazade S. Rehman & Hossein Askariy (2010):  How Islamic are Islamic Countries?  Global Economy Journal Volume 10, Issue 2 2010 Article 2. Berkeley Electronic Press.http://www.ahmad-juhaidi.com/wp-content/uploads/2013/06/how-islamic-islamic-countries.pdf

Lubeck, P (1999):  Antinomies of Islamic Movement under Globalization. Center for Global International and Regional Studies. http://escholarship.org/uc/item/0hn7r3q7 

Statistical, Economic, and Social Research & Training Center for Islamic Countries (SESRTC). www.sesrtcic.org/statistics/byindicators.php

Read more...

JICMI HTI | mahalnya buku | Profesor Fahmi Amhar ..

Tidak ada komentar
jicmi adalah konferensi internasional untuk intelektual muslim yang diadakan di jakarta tanggal 14-15 desember 2013 di kota jakarta,indonesia.

jicmi hti adalah konferensi internasional intelektual muslim diatas diadakan oleh hti ,hizbut tahrir indonesia untuk mengumpulkan intelektual muslim akan pentingnya perjuangan penegakan khilafah dalam aktivitas hidup seorang intelektual.

Profesor Fahmi amhar yang merupakan salah satu pembicara jicmi hti menyampaikan bahwa mahalnya buku antara lain disebabkan oleh tingginya harga kertas. Kebutuhan kertas kita masih harus dipenuhi dengan kertas impor. Meski kita memiliki sumber daya alam yang cukup untuk menghasilkan kertas, namun realitanya kita lebih suka mengekspor bahan mentah seperti kayu dan membeli hasil olahannya berupa kertas, dengan harga berlipat-lipat. Padahal generasi awal kaum muslim telah bersusah payah pergi ke Cina untuk dapat merebut teknologi pembuatan kertas.

Tidak ada yang menyangkal bahwa kertas ditemukan dan lalu diproduksi massal pertama kali di Cina pada tahun 105 M, ketika kertas dibuat dari semak murbei. Juga diriwayatkan bahwa tentara Cina sering menghancurkan pusat-pusat pembuatan kertas non Cina untuk tetap memegang monopoli pabrikasi kertas di dunia. Namun akhirnya pabrik kertas muncul di dunia Islam yakni di kota Samarkand pada abad ke-2 H (ke 8 M). Meski rahasia pembuatan kertas secara manual telah diketahui di era sahabat sejak sejumlah orang nekad mencarinya ke Cina, namun dalam skala industri, pabrik kertas itu baru dimulai setelah ada sejumlah orang Cina yang menjadi tawanan perang di Sungai Talas tahun 750 M. Al-Qazwini mengabarkan bahwa sejak itu terjadilah revolusi pengetahuan di dunia Islam. Bahan-bahan tulis-menulis bebas dari monopoli dan kertas menjadi barang yang sangat murah.

Di Baghdad saja di akhir abad-3 H (abad-9 M) terdapat lebih dari seratus kompleks tempat pembuatan buku. Perpustakaan pribadi berlimpah, sementara perpustakaan umum tersedia di mana-mana. Baghdad memiliki tak kurang dari 36 perpustakaan umum pada waktu penghancuran oleh Tartar Mongol tahun 1258.

Sejarahwan George Sarton mengutarakan bahwa asal kata paper kemungkinan besar dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab tidak ada kata tunggal untuk kertas, termasuk antara lain 'papyrus'. Jejak lain bahasa Arab dalam industri kertas adalah kata ream (dalam bahasa Inggris) atau risma (dalam bahasa Italia) yang dipastikan berasal dari bahasa Arab rismah, yang artinya setumpuk atau sebundel kertas, biasanya terdiri dari 500 lembar.
Ibnu Badis di Kitab 'Umdat al-Kuttab (Buku Penunjang untuk para Penulis) menjelaskan metode pembuatan kertas dari rami dengan proses perendaman di air kapur selama beberapa hari, diselang dengan peremasan dan penjemuran. Rami yang telah memutih lalu dipotong-potong, direndam di air tawar lalu digerus dengan mortar. Hasilnya llau dicetak, diratakan, lalu dibiarkan kering. Kertas yang telah setengah jadi dilewatkan dalam larutan tepung kemudian digosok dengan bambu.

Tentu saja proses ini bukan satu-satunya cara, namun Ibnu Badis sepertinya ingin mengajarkan teknik membuat kertas yang bisa dikerjakan sendiri di rumah. Bukunya juga memuat cara membuat tinta sampai cara menjilid buku. Untuk skala industri tentu saja dibutuhkan perlengkapan yang lebih besar dan mekanik.

Sejarahwan Dard Hunter mengatakan bahwa inovasi utama orang Islam dalam teknologi kertas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penemukan cetakan bambu di mana lembaran kertas basah ditempatkan untuk dikeringkan. Metode ini masih digunakan hingga sekarang, tentu saja tidak lagi dengan bambu namun dengan silinder logam atau karet yang sangat besar.

2. Penggunaan bahan rami, katun serta perca linen dalam pembuatan kertas. Ini adalah penemuan yang amat penting, karena orang Cina membuat kerrtas dari kulit batang pohon murbei yang tidak terdapat di daerah Muslim.

3. Untuk pembuatan beberapa jenis kertas, orang-orang Islam mengurai perca linen dengan menempatkannya dalam tumpukan, menjenuhkannya dengan air lalu membiarkan fermentasi terjadi. Ini alternatif dari proses air kapur yang dijelaskan Ibnu Badis.

4. Orang-orang Islam mencoba meniru kertas perkamen yang kuat (namun mahal) dengan menajin (mengkanji) kertas menggunakan tepung terigu, suatu inovasi yang menyebabkan permukaan kertas lebih menyenangkan untuk ditulis dengan tinta.

5. Penggunaan roda martil untuk menghancurkan kertas sehingga membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit daripada proses yang dipakai di Cina.

6. Pemakaian kincir air untuk menjalankan roda pabrik kertas. Sejarahwan Robert Forbes menyebutkan bahwa pada abad-10 M pabrik kertas terapung banyak dijumpai di Sungai Tigris di Baghdad. Kincir memang telah dikenal sejak zaman Romawi, tetapi hanya digunakan menggiling makanan. Orang Islamlah yang pertama kali memakai kincir untuk membuat kertas.
Berbagai jenis kertas dibuat. Ada yang untuk dokumen dan surat-surat resmi, untuk buku, bahkan untuk bungkus. Al-Qalqasyandi mengatakan bahwa kerrtas Baghdad (al-Baghdadi) merupakan yang terbaik mutunya dan digunakan untuk menulis risalah kekhalifahan. Syami (kertas Syria) juga tersedia dalam berbagai tingkatan mutu, salah satanya Hamwi dari kata Hama (kota di Syria) yang lazim digunakan di lembaga pemerintahan. Ada juga kerta yang amat ringan, dipakai untuk mengirim surat yang diantar burung merpati pos, sehingga disebut 'Kertas Burung'.

Kertas dibuat dalam berbagai warna. Pada suatu manuskrip dapat dibaca berbagai ramuan tentang cara membuat warna seperti merah, hijau, tosca, dan bahkan petunjuk bagaimana membuat kertas terlihat usang.
Adalah hal yang ironis bahwa saat ini kaum muslim tak lagi berada di jajaran terdepan dalam teknologi kertas. Kertas untuk mencetak kitab suci al-Qur'an dan kertas untuk mencetak uang negara-negara muslim pun banyak diimpor dari negara kafir, lengkap dengan mesin cetak dan tintanya. Tanpa kertas, bagaimana mau cerdas?

Jika ingin berjuang dalam kebangkitan kaum muslim ,mari bergabung bersama hti , dan jika anda selaku intelektual muslim , jicmi hti adalah solusi tepat bagi anda.

ibuan Intelektual Muslim Dunia insya Allah akan berkumpul di Jakarta pada event Jakarta International Conference of Muslim Intelectuals 2013
Klik http://hizbut-tahrir.or.id/jicmi2013/bahasa/

mari dukung jicmi hti sebagai salah satu sarana perjuangan islam ,syariah dan khilafah.

jicmi hti, yess !

Read more...

Pembicara JICMI level dunia, Jamal Harwood | Hizbut Tahrir Britain

Tidak ada komentar
Pembicara JICMI kaliber internasional adalah Jamal Harwood. Jamal  adalah seorang akuntan dengan pengalaman lebih dari 25 tahun.  Pembicara JICMI yang berasal dari London ini mengkhususkan sebagai Pembicara Publik Internasional dan Writer yang mengkhususkan diri dalam Ekonomi Islam (TheGoldReport.co.uk).
Selain menjabat sebagai dosen program MBA di Wales University, Jamal Harwood (aktivis Hizbut Tahrir) telah berbicara secara ekstensif dan global pada isu-isu ekonomi , hubungan internasional , politik dan Islam - berdebat di Oxford Union pada Mei 2007 dan pada berbicara konferensi tentang krisis keuangan internasional di Khartoum , Sudan pada bulan Januari 2009 ( dihadiri oleh 6000 delegasi ) dan di Beirut , Lebanon.  Sebagai kader dakwah hizbut tahrir , Jamal Harwood, telah terlibat dalam debat publik dan dialog dengan mantan Kanselir Norman Lamont , Jaksa Agung Dominic Grieve saat MP , Jim O'Neill ( Ketua Goldman Sachs Asset Management ) , Peter Rodman ( mantan asisten menteri pertahanan ) , Matt Frei (sebelumnya dari BBC dan saat ini dengan Channel 4 News ) , kolumnis AS Yunus Goldberg dan yang paling baru David Smith ( Editor Ekonomi , The Sunday Times ).
            Jabatan Jamal Harwood sebagai pemimpin redaksi TheGoldReport.co.uk , dan berkontribusi secara teratur untuk NewCivilisation.com dan merupakan subyek dari fitur Time Magazine pada bulan Agustus 2006 .
Sebelumnya pernah menjadi konsultan Royal Bank of Scotland (Juli 2008 - November 2008 ( 5 bulan ). Konsultan Credit Suisse Januari 2004 - Mei 2008 ( 4 tahun 5 bulan )

jamal Harwood di JICMI, Hizbut Tahrir,



Masuk Islamnya Jamal Harwood  :
Saya  termasuk pemeluk Kristen yang taat sebelum menemukan Islam. Ketika saya masih berusia belasan tahun saya begitu tertarik mendalami ajaran Kristen. Namun, saya memiliki beberapa pertanyaan serius mengenai hal-hal pokok agama Kristen seperti bagaimana peran banyak Nabi yang berbeda, siapa sebenarnya Isa. Saya pun mengalami  kebingungan memahami trinitas, anak tuhan, dan lain-lain.

Itulah yang kemudian membuat saya mulai berpikir bahwa pada suatu saat, mungkin setelah menyelesaikan pendidikan, saya akan melakukan perjalanan dan mencari agama-agama lain di dunia. Saya berharap sepulangnya dari perjalanan itu saya akan memperoleh sesuatu yang lebih jelas dalam hal keimanan yang dapat menjawab semua pertanyaan saya itu dengan meyakinkan. Alhamdulillah, ketika usia saya sekitar 20 tahunan, saya bisa melakukan perjalanan dan melihat agama-agama lain dan hal ini menjadikan saya mulai mempelajari Islam dan akhirnya memeluknya.

Saya pindah ke Inggris beberapa saat sebelum saya memeluk Islam.  Sebelumnya saya tinggal di Kanada. Kaum Muslim yang saya temui di London, khususnya di Masjid Regents Park adalah orang-orang yang paling memberi pengaruh pada saya dan sangat membantu untuk menyarankan buku-buku untuk dibaca dan menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Semuanya sangat bersahabat dan saya senantiasa masih dekat dengan mereka. Karena saya pernah tinggal di beberapa negara lain saat saya muda dan sering melakukan perjalanan, saya senantiasa senang jika bertemu dengan orang-orang dari negara-negara lain, dengan agama dan kebudayaan yang berbeda.

Akhirnya saya memutuskan memeluk Islam pada 1986. Keputusan saya justru didukung oleh orangtua saya. Ketika itu mereka tinggal di negara lain, jadi kami tidak selalu bisa berhubungan. Tapi saya ingat dengan sangat jelas bahwa ayah saya sebelumnya pernah bekerja dengan orang-orang Muslim dan mengatakan bahwa Islam menekankan pada keluarga jadi dia bilang “Lanjutkan saja “.

Memang tidak mudah mengawali hal yang baru. Banyak tantangan. Mempelajari kewajiban-kewajiban dasar Islam itu perlu waktu. Apalagi saya tidak dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang Islam berarti ada banyak hal yang harus saya pelajari. Tapi tidak ada yang terlalu sulit. Dan saya mempunyai pengalaman yang tidak terlupakan sejak menjadi seorang Muslim yakni pergi haji tahun 1994 melihat Ka’bah untuk pertama kalinya.

Setelah memeluk Islam, saya berbicara kepada saudara laki-laki maupun perempuan saya (semuanya Kristen) mengenai Islam kapanpun saya bisa. Beberapa saudara perempuan saya adalah orang-orang yang memegang teguh agama Kristen tapi kami tetap berhubungan baik, tidak ada kebencian, dan mereka suka anggota keluarga yang lain (yakni istri dan anak-anak saya) jadi hal ini sangat positif. Majalah Time pernah menampilkan suatu tulisan mengenai saya dan ketika itu sebagian besar anggota keluarga saya agak terkejut ketika mereka tahu bahwa saya aktif secara politik di Hizbut Tahrir, bahkan sebagian dari mereka menunjukkan kekhawatirannya bahwa aktivitas politik saya itu bisa menyulitkan saya dengan adanya sentimen-sentimen anti Islam di banyak bagian dunia. Saya katakan pada mereka, “Senantiasa ada risiko atas segala sesuatu tapi lebih baik melakukan sesuatu dengan alasan yang baik daripada menunggu sesuatu terjadi pada Anda.”

Dakwah Bersama HT

Alhamdullillah, saya pertama kali bertemu beberapa anggota HT tahun 1988. Saya prihatin dengan banyaknya ketidakadilan dan kemunduran yang saya lihat di dunia Muslim. Betapa pentingnya gagasan ummah, tapi banyak yang memiliki sedikit pemahaman politik mengenai sebab-sebab kemunduran itu, disamping tidak memiliki solusi untuk mengatasi kemunduran itu. HT berbicara mengenai isu-isu itu dan memberikan solusi-solusi yang jelas.

Ketika saya mulai belajar di HT, saya memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai Usul Fiqh, Ijtihad, dan Syariah, yang kesemuanya adalah penting dalam mengembangkan pemahaman saya mengenai Islam dan lebih baik dari apa yang sebelumnya saya baca dan pelajari. Buku-buku yang telah dikeluarkan partai adalah mengenai Sistem Islam, Konsep-konsep Hizbut Tahrir dan Struktur Partai adalah di antara buku-buku yang sangat bagus bagi yang ingin mendapatkan pemahaman yang baik mengenai dasar-dasar Islam dan keadaan umat pada saat ini.

Jamal Harwood akan hadir di JICMI , 14-15 Desember 2013 dan melakukan presentasi dengan topik  The Collapse of Global Capitalism: What Can We Learn from Global Financial Crisis?. Jamal Harwood akan banyak mengungkapkan fakta-fakta kerusakan sistem kapitalisme secara ilmiah sesuai kepakaran beliau di bidang keuangan internasional.

Bagi anda Dosen, Peneliti, Mahasiswa Pasca Sarjana yang tertarik mengikuti JICMI 2013 (Jakarta Internasional Conference of Muslim Intelectuals) tanggal 15 Desember 2013. Silahkan kontak ke jicmi2013@hizbut-tahrir.or.id,   nomer hp 08139449 8159 – 0815 19368181 , web : www.hizbut-tahrir.or.id/jicmi2013




Read more...

Category

Popular Posts

facebook