Comments

Tampilkan postingan dengan label HTI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HTI. Tampilkan semua postingan

HTI | Hizbut Tahrir bukan hizbut takfir, bukan kelompok kafir/sesat

Tidak ada komentar

 HIZBUT TAHRIR BUKAN HIZBUT TAKFIR

Hizbut Tahrir berpendapat demokrasi adalah sistem kufur, tetapi bukan berarti seluruh pelaku dan aktivitas di dalamnya kufur. Yang kufur hanyalah yang sengaja mengabaikan atau bahkan mengharamkan yang wajib, atau membiarkan atau bahkan mewajibkan yang haram, karena meyakini manusia modern lebih tahu urusannya daripada Allah dan Rasul-Nya.

Adapun Hizbut Takfir berpendapat demokrasi adalah sistem kufur, dan seluruh pelaku dan aktivitas di dalamnya kufur. Karena itu, yang kufur adalah semua aturan yang dibuat oleh parlemen, termasuk aturan lalu lintas yang mewajibkan helm; yang kufur juga seluruh aparat negara dan pendukungnya termasuk seluruh politisi, polisi, PNS dan para ustadz yang mendekati pemerintah, juga seluruh aktivitas terkait demokrasi seperti demonstrasi dan pemilu.

Hizbut Tahrir tidak sepakat dengan generalisasi Hizbut Takfir itu. Menjadi PNS atau polisi adalah mubah, selama mereka tidak melakukan hal yang secara syar'i memang haram. Sebagai contoh: PNS yang menjadi guru matematika misalnya, tidaklah melakukan suatu keharaman. Polisi yang mengatur lalu lintas, atau menangkap pencopet, tidaklah melakukan keharaman, jadi hukumnya tetap mubah. Yang haram adalah aktivitas PNS guru yang mengajarkan baiknya menabung dengan mendapat bunga (riba), atau aktivitas polisi yang menghukum polwan bawahannya karena memakai jilbab. Adapun status PNS atau polisinya sendiri tidak otomatis menjadi haram. Bahkan untuk penguasa tertingginya sendiri tidak otomatis kufur. Kalau dia tidak menerapkan hukum Islam karena bodoh, takut atau malas, barangkali dia hanya jatuh pada status fasiq. Kalau dia tidak menerapkan hukum Islam karena punya kepentingan pribadi atau golongan, barangkali dia hanya jatuh pada status dzalim. Baru kalau dia meyakini bahwa manusia modern dan parlemennya lebih tahu urusannya daripada Allah dan Rasul-Nya, jatuhlah dia pada status kafir. Dan itu harus kita ketahui dari pernyataannya yang terang-terangan tanpa ada syubhat sama sekali.

Oleh karena itu, para syabab Hizbut Tahrir harus mampu memahami persoalan ini dengan jernih. Tidak menyerupakan dirinya dengan Hizbut Takfir, yang akibatnya menjadi pembenaran bagi pihak-pihak yang tidak menyukainya untuk memojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti:
- mengkufurkan demokrasi koq jadi PNS?
- mengkufurkan demokrasi koq demonstrasi?
- mengkufurkan demokrasi koq datang ke parlemen minta RUU diubah?
- mengkufurkan demokrasi koq tinggal di negara demokrasi?
dst.

Tidak usah bingung.
Mereka itu yang confuse antara Hizbut Tahrir dan Hizbut Takfir.

Sebelum hijrah, rasulullah dulu menolak kekufuran sistem jahiliyah, seraya tetap tinggal di negeri jahiliyah Makkah, sambil terus mendakwahkan Islam. Beberapa shahabat Nabi di Makkah dibiarkan terus bekerja (selama pekerjaan mereka halal) pada majikan kafir yang memusuhi Nabi, Mereka juga melakukan masyirah (demonstrasi unjuk rasa) ke depan ka'bah. Dan mereka juga mendatangi para pemimpin Quraisy untuk menyeru kepada hal-hal yang diperintahkan Islam, sekalipun pemimpin Quraisy itu menentang Islam secara keseluruhan. ...(Profesor Fahmi Amhar)
Read more...

wawasan kebangsaan HTI Hizbut Tahrir Indonesia

Tidak ada komentar
Definisi istilah Wawasan kebangsaan  rupanya beragam.  Wawasan Kebangsaan terdiri dari dua suku 

kata yaitu “wawasan” dan “kebangsaan” dan secara etimologi istilah wawasan berarti 

hasil mewawas, tinjauan, pandangan dan dapat juga berarti konsepsi cara pandang 

(Kamus Besar Bahasa Indonesia: 1989 dalam Suhady 2006: 18).

Ada juga wawasan kebangsaan bagi generasi muda yang menitik beratkan obyeknya 

kepada peran generasi muda . wawasan kebangsaan dan bela negara juga kadang 

di bahas dimana membangkitkan seluruh elemen rakyat dalam bela negara yang sering di 

sampaikan di bangku sekolah dan awal awal masuk kuliah.

  

istilah lainnya ialah wawasan nusantara dan wawasan kebangsaan yang memandang

kepulauan nusantara sebagai satu kesatuan utuh termasuk keberagaman masyarakat i

indonesia yang beraneka suku bangsa, agama, warna kulit dsb. semuanya itu menjadi 

argumentasi orang-orang berpaham sekuler bahwa hanya mereka yang paling cinta NKRI, 

mereka yang paling berwawasan kebangsaan indonesia dalam NKRI

semuanya terbantahkan dalam tulisan wawasan kebangsaan HTI yang disampaikan juru 

bicara hizbut tahrir indonesia ,Ismail Yusanto yang diundang oleh WANTIMPRES (Dewan 

Pertimbangan Presiden)  , silahkan simak..




Pada awal bulan Maret lalu saya diundang oleh Wantimpres untuk sebuah diskusi terbatas tentang Peran Ormas Islam Dalam Penguatan Wawasan Kebangsaan.  Diskusi diikuti oleh Kelompok Kerja Bidang Keagamaan Wantimpres di Kantor Wantimpres Jakarta. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan presentasi powerpoint berjudul, “Wawasan Kebangsaan Hizbut Tahrir Indonesia”.
Saya mengawali presentasi dengan pertanyaaan “Apa Makna Wawasan Kebangsaan?” Pertanyaan awal ini saya anggap penting karena tanggapan terhadap sebuah istilah akan sangat bergantung pada apa pengertian dari istilah itu. Dalam situasi seperti sekarang ini, saat sering sebuah istilah dimaknai secara berbeda-beda, memberikan batasan pengertian dari sebuah istilah mutlak diperlukan. Sebelum jelas apa pengertian wawasan kebangsaan itu, kita tidak bisa mengatakan bahwa seseorang atau sebuah kelompok, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia itu, memiliki atau tidak memiliki wawasan kebangsaan.
Selanjutnya saya katakan, “Bila wawasan kebangsaan diartikan sebagai bentuk kepedulian dan pembelaan terhadap negara, maka HTI memang sedang bekerja untuk menjaga negara ini dari segala bentuk penjajahan. Namun, bila wawasan kebangsaan diartikan sebagai ketundukan pada sekularisme, maka HTI dengan tegas menolak.” Pernyataan ini sekaligus untuk menegaskan posisi (standing position) HTI di hadapan istilah wawasan kebangsaan.
Selanjutnya saya nyatakan, “HTI bekerja untuk menjaga dan membebaskan negara ini dari segala bentuk penjajahan melalui penegakan syariah. Karena penjajahan yang paling nyata, setelah penjajahan fisik (militer) berakhir, adalah melalui penerapan sistem sekular, utamanya di bidang ekonomi dengan penerapan ekonomi kapitalis, dan di bidang politik penerapan demokrasi yang terbukti telah menimbulkan berbagai bentuk kerusakan (fasad).”
Melalui pernyataan itu, saya ingin menegaskan tentang kontekstualisasi perjuangan penerapan syariah, bahwa itu semua sesungguhnya merupakan bentuk kepedulian HTI terhadap keadaan negeri ini dan masa depannya.

Lalu saya katakan, “Dengan semangat kecintaan pada negeri ini, HTI berjuang melalui dakwah fikriyah (menebarkan pemikiran Islam dan membantah ide yang tidak Islami), dakwah siyasiyah (membentuk kesadaran dan perubahan politik) dan la ‘unfiyah (non kekerasan). Inilah juga bentuk syukur yang benar kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemerdekaan.”
Penegasan dalam kalimat terakhir ini penting disampaikan karena sangat sering kita mendengar seruan untuk bersyukur terhadap kemerdekaan yang telah didapat, tetapi bagaimana syukur itu harus diwujudkan tidak pernah ditegaskan dan ditunjukkan dengan jelas. Yang sering terjadi, justru banyak kegiatan untuk merayakan dan mengisi kemerdekaan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT.
Selanjutnya, saya menyinggung secara tidak langsung klaim sementara pihak yang menyatakan negara ini sudah final dengan menyatakan, “HTI memandang Indonesia adalah negara yang sedang terus berproses, berkembang dan berubah Ini dibuktikan dengan 4 kali amandemen UUD 45 yang berimplikasi pada banyak sekali aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.”
Logikanya, bila konstitusinya saja terus diubah, bagaimana bisa negara ini disebut sudah final? Lebih tepat negara ini disebut sedang terus berproses, berkembang dan berubah.
“Karena itu, HTI ingin menghela perubahan itu ke arah yang baik, yaitu ke arah Islam; bukan ke arah sosialisme ataupun kapitalisme yang diatasnamakan Pancasila. Hanya ke arah Islam sajalah kita bisa berharap terciptanya baldah thayyibah wa rabbun ghafur yang rahmatan lil alamin. Di situlah relevansi nyata dari usaha penegakan syariah.”
Akhirnya, saya menutup bagian awal dari presentasi dengan pertanyaan: Jadi mengapa harus diterapkan syariah? Syariah harus diterapkan karena akan menjadi ‘ilaju al-musykilati al-hayati al-insani (solusi persoalan hidup manusia). Penerapan syariah juga merupakan konsekuensi dari iman kepada Allah SWT. Syariah pasti membawa rahmat, bagi Muslim maupun non-Muslim.”
Presentasi kemudian dilanjutkan dengan penyampaikan lebih rinci mengapa syariah harus diterapkan berikut contoh-contoh praktis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang memakan waktu sekitar 30 menit. Di akhir presentasi, saya mengunci dengan sebuah kesimpulan, “Jadi, perjuangan penegakan syariah sesungguhnya adalah bentuk kecintaan amat dalam pada negeri ini untuk membawa negeri ini kepada penghambaan yang hakiki kepada Allah SWT Yang yang telah memberikan kemerdekaan dari penjajahan. Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, milik Allah, maka mestinya ditata dengan aturan Allah (syariah) .
++++
Usai presentasi dari 4 pembicara yang diundang, yaitu Habib Muhsin (FPI), Yazir ASP (Pusat Studi Pancasila UGM), Irfwan S. Awwas (MMI) dan saya, dilakukan disksusi. Sesi diskusi dan tanya-jawab berlangsung hangat. Banyak pertanyaan yang diajukan kepada saya. Ada satu pertanyaan yang menarik dan menggelitik, “HTI mengusung ide khilafah, apakah ustadz Ismail merasa ide itu sesuai dengan peraturan perundangan yang ada?”
Terus terang, saya belum pernah mendapatkan pertanyaan seperti ini. Pembaca semua tentu tahu arah pertanyaan ini kemana. Lalu saya jawab kurang lebih begini, “Tentu saja peraturan perundangan yang ada tidak bisa memuat ide khilafah. Namun, bukan di situ persoalannya. Sebab, kalau begitu cara berpikir kita, kita tidak akan bisa menemukan ide-ide baru. Dalam menanggapi sebuah ide, mestinya kita harus menilai bagaimana ide itu, bagus atau tidak, menyelesaikan masalah atau tidak, dan seterusnya. Contohnya, dulu pada masa Orde Baru, gagasan partai lebih dari tiga langsung ditolak karena tidak sesuai dengan aturan yang ada pada waktu itu. Namun, karena gagasan itu dipandang baik, maka aturan itu kemudian diubah sehingga sekarang bisa berdiri banyak parpol. Begitu juga dengan gagasan Uni Eropa yang dilontarkan pertama kali pada tahun 1953. Bila menggunakan ukuran peraturan perundangan dari negara-negara di Eropa ketika itu pasti gagasan Uni Eropa tidak sesuai. Namun, karena ide itu dipandang bagus untuk menjawab tantangan globalisasi, dan pada gilirannya nanti akan memberikan kebaikan kepada semua negara anggota, maka peraturan perundangan di masing-masing negara Uni Eropa, seperti soal moneter, keimigrasian dan sebagainya, kemudian disesuaikan agar bisa memuat gagasan yang awalnya tidak sedikit yang menentang.”
Menutup jawaban, saya lalu mengatakan, “Jadi, supaya terbebas dari kerangkeng pemikiran yang membelenggu, yang menghambat kita dari menemukan gagasan-gagasan baru, tampaknya tidak cukup kita mengikuti nasihat think out of the box, kalau perlu think without box. Kita ini sudah sangat lama terperangkap dalam apa yang disebut jebakan politik dan jebakan intelektual (political and intelectual trap) sehingga kita menjadi gamang setiap menghadapi gagasan-gagasan baru, seperti ide khilafah. Padahal Khilafah bukanlah ide baru. Dia pernah ada dalam sejarah sehingga mempunyai basis historis dan empiris yang nyata. Ide ini juga mempunyai basis teologis yang kokoh karena memiliki dasar secara normatif dalam al-Quran, as-Sunnah, Ijmak dan Qiyas.”
Di akhir acara, saya meminta kepada Wantimpres untuk menghilangkan stigmatisasi yang selama ini terjadi, khususnya di kalangan birokrat pemerintah dan aparat keamanan, bahwa kelompok yang berjuang untuk tegaknya syariah sebagai tidak memiliki wawasan kebangsaan, bahkan anti Pancasila. Semestinya tudingan itu diarahkan kepada mereka yang menolak syariah, yang mendukung sekularisme dan menjadi komprador negara Barat, korup serta gemar menjual aset negara kepada pihak asing, yang semua itu jelas-jelas telah menimbulkan kerugian besar pada bangsa dan negara ini.

semoga anda mendapat pencerahan baru tentang makna wawasan kebangsaan baik dalam perspektif NKRI, perspektif keberagaman masyarakat indonesia, dll

Read more...

JICMI HTI | mahalnya buku | Profesor Fahmi Amhar ..

Tidak ada komentar
jicmi adalah konferensi internasional untuk intelektual muslim yang diadakan di jakarta tanggal 14-15 desember 2013 di kota jakarta,indonesia.

jicmi hti adalah konferensi internasional intelektual muslim diatas diadakan oleh hti ,hizbut tahrir indonesia untuk mengumpulkan intelektual muslim akan pentingnya perjuangan penegakan khilafah dalam aktivitas hidup seorang intelektual.

Profesor Fahmi amhar yang merupakan salah satu pembicara jicmi hti menyampaikan bahwa mahalnya buku antara lain disebabkan oleh tingginya harga kertas. Kebutuhan kertas kita masih harus dipenuhi dengan kertas impor. Meski kita memiliki sumber daya alam yang cukup untuk menghasilkan kertas, namun realitanya kita lebih suka mengekspor bahan mentah seperti kayu dan membeli hasil olahannya berupa kertas, dengan harga berlipat-lipat. Padahal generasi awal kaum muslim telah bersusah payah pergi ke Cina untuk dapat merebut teknologi pembuatan kertas.

Tidak ada yang menyangkal bahwa kertas ditemukan dan lalu diproduksi massal pertama kali di Cina pada tahun 105 M, ketika kertas dibuat dari semak murbei. Juga diriwayatkan bahwa tentara Cina sering menghancurkan pusat-pusat pembuatan kertas non Cina untuk tetap memegang monopoli pabrikasi kertas di dunia. Namun akhirnya pabrik kertas muncul di dunia Islam yakni di kota Samarkand pada abad ke-2 H (ke 8 M). Meski rahasia pembuatan kertas secara manual telah diketahui di era sahabat sejak sejumlah orang nekad mencarinya ke Cina, namun dalam skala industri, pabrik kertas itu baru dimulai setelah ada sejumlah orang Cina yang menjadi tawanan perang di Sungai Talas tahun 750 M. Al-Qazwini mengabarkan bahwa sejak itu terjadilah revolusi pengetahuan di dunia Islam. Bahan-bahan tulis-menulis bebas dari monopoli dan kertas menjadi barang yang sangat murah.

Di Baghdad saja di akhir abad-3 H (abad-9 M) terdapat lebih dari seratus kompleks tempat pembuatan buku. Perpustakaan pribadi berlimpah, sementara perpustakaan umum tersedia di mana-mana. Baghdad memiliki tak kurang dari 36 perpustakaan umum pada waktu penghancuran oleh Tartar Mongol tahun 1258.

Sejarahwan George Sarton mengutarakan bahwa asal kata paper kemungkinan besar dari bahasa Arab. Dalam bahasa Arab tidak ada kata tunggal untuk kertas, termasuk antara lain 'papyrus'. Jejak lain bahasa Arab dalam industri kertas adalah kata ream (dalam bahasa Inggris) atau risma (dalam bahasa Italia) yang dipastikan berasal dari bahasa Arab rismah, yang artinya setumpuk atau sebundel kertas, biasanya terdiri dari 500 lembar.
Ibnu Badis di Kitab 'Umdat al-Kuttab (Buku Penunjang untuk para Penulis) menjelaskan metode pembuatan kertas dari rami dengan proses perendaman di air kapur selama beberapa hari, diselang dengan peremasan dan penjemuran. Rami yang telah memutih lalu dipotong-potong, direndam di air tawar lalu digerus dengan mortar. Hasilnya llau dicetak, diratakan, lalu dibiarkan kering. Kertas yang telah setengah jadi dilewatkan dalam larutan tepung kemudian digosok dengan bambu.

Tentu saja proses ini bukan satu-satunya cara, namun Ibnu Badis sepertinya ingin mengajarkan teknik membuat kertas yang bisa dikerjakan sendiri di rumah. Bukunya juga memuat cara membuat tinta sampai cara menjilid buku. Untuk skala industri tentu saja dibutuhkan perlengkapan yang lebih besar dan mekanik.

Sejarahwan Dard Hunter mengatakan bahwa inovasi utama orang Islam dalam teknologi kertas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Penemukan cetakan bambu di mana lembaran kertas basah ditempatkan untuk dikeringkan. Metode ini masih digunakan hingga sekarang, tentu saja tidak lagi dengan bambu namun dengan silinder logam atau karet yang sangat besar.

2. Penggunaan bahan rami, katun serta perca linen dalam pembuatan kertas. Ini adalah penemuan yang amat penting, karena orang Cina membuat kerrtas dari kulit batang pohon murbei yang tidak terdapat di daerah Muslim.

3. Untuk pembuatan beberapa jenis kertas, orang-orang Islam mengurai perca linen dengan menempatkannya dalam tumpukan, menjenuhkannya dengan air lalu membiarkan fermentasi terjadi. Ini alternatif dari proses air kapur yang dijelaskan Ibnu Badis.

4. Orang-orang Islam mencoba meniru kertas perkamen yang kuat (namun mahal) dengan menajin (mengkanji) kertas menggunakan tepung terigu, suatu inovasi yang menyebabkan permukaan kertas lebih menyenangkan untuk ditulis dengan tinta.

5. Penggunaan roda martil untuk menghancurkan kertas sehingga membutuhkan tenaga kerja lebih sedikit daripada proses yang dipakai di Cina.

6. Pemakaian kincir air untuk menjalankan roda pabrik kertas. Sejarahwan Robert Forbes menyebutkan bahwa pada abad-10 M pabrik kertas terapung banyak dijumpai di Sungai Tigris di Baghdad. Kincir memang telah dikenal sejak zaman Romawi, tetapi hanya digunakan menggiling makanan. Orang Islamlah yang pertama kali memakai kincir untuk membuat kertas.
Berbagai jenis kertas dibuat. Ada yang untuk dokumen dan surat-surat resmi, untuk buku, bahkan untuk bungkus. Al-Qalqasyandi mengatakan bahwa kerrtas Baghdad (al-Baghdadi) merupakan yang terbaik mutunya dan digunakan untuk menulis risalah kekhalifahan. Syami (kertas Syria) juga tersedia dalam berbagai tingkatan mutu, salah satanya Hamwi dari kata Hama (kota di Syria) yang lazim digunakan di lembaga pemerintahan. Ada juga kerta yang amat ringan, dipakai untuk mengirim surat yang diantar burung merpati pos, sehingga disebut 'Kertas Burung'.

Kertas dibuat dalam berbagai warna. Pada suatu manuskrip dapat dibaca berbagai ramuan tentang cara membuat warna seperti merah, hijau, tosca, dan bahkan petunjuk bagaimana membuat kertas terlihat usang.
Adalah hal yang ironis bahwa saat ini kaum muslim tak lagi berada di jajaran terdepan dalam teknologi kertas. Kertas untuk mencetak kitab suci al-Qur'an dan kertas untuk mencetak uang negara-negara muslim pun banyak diimpor dari negara kafir, lengkap dengan mesin cetak dan tintanya. Tanpa kertas, bagaimana mau cerdas?

Jika ingin berjuang dalam kebangkitan kaum muslim ,mari bergabung bersama hti , dan jika anda selaku intelektual muslim , jicmi hti adalah solusi tepat bagi anda.

ibuan Intelektual Muslim Dunia insya Allah akan berkumpul di Jakarta pada event Jakarta International Conference of Muslim Intelectuals 2013
Klik http://hizbut-tahrir.or.id/jicmi2013/bahasa/

mari dukung jicmi hti sebagai salah satu sarana perjuangan islam ,syariah dan khilafah.

jicmi hti, yess !

Read more...

Mitos Demokrasi | by aktivis HTI

Tidak ada komentar
aktivis hti :"mitos demokrasi"

Mitos Demokrasi | by aktivis HTI (adi victoria)

Berikut mitos-mitos demokrasi (“democracy mith”) yang tidak sesuai dengan kenyataan

1.       Terpilih dengan suara mayoritas akan bisa berbuat apapun, termasuk untuk menegakkan syariah Islam.
Mereka yang memilih jalan demokrasi sebagai jalan untuk menuju perubahan meyakini bahwa jika menang dalam proses demokrasi, yakni seperti Pemilu legislatif atau Pilpres, mereka akan bisa melakukan perubahan secara mudah, termasuk untuk menerapkan syariah Islam. Alasannya, karena mereka menang dengan suara terbanyak sehingga pemerintahan mereka didukung oleh rakyat secara mayoritas.

Ini jelas konsep berpikir yang keliru. Pasalnya, masyarakat yang memilih mereka bukan karena kesadaran politik mereka terhadap syariah Islam. Keinginan parpol Islam untuk mengubah sistem sekular itu menjadi sistem Islam akan mendapat tantangan dari rakyat sendiri yang belum sadar. Bisa-bisa mereka menganggap wakil rakyat itu telah berkhianat kepada mereka sebab telah menyalahgunakan suara yang mereka berikan untuk perkara lain.

Sebagian orang juga beranggapan, bahwa jika sistem perundang-undangan diubah—misalnya mengikuti prinsip the winner takes all, yaitu pemenang Pemilu, selain berhak membentuk pemerintahan, juga berhak mengubah undang-undang dasar dan peraturan perundang-undangan—maka perjuangan untuk menerapkan syariah Islam bisa ditempuh melalui parlemen. Ini tampaknya logis. Namun faktanya, pemerintahan sekular yang didukung oleh negara-negara Barat tidak akan pernah mentoleransi keberhasilan sebuah partai Islam dalam Pemilu yang bisa merugikan kepentingan mereka. Apa yang terjadi pada FIS di Aljazair di awal tahun 1992, Hamas di Palestina, termasuk yang baru terjadi di Mesir sampai hari ini, membuktikan hal itu.

2.       Jalan demokrasi dijamin aman.
Peristiwa yang menimpa HAMAS di Palestina, FIS di Aljazair dan Ikhwanul Muslimin di Mesir merupakan pelajaran berharga kepada kita bahwa walaupun terpilih secara demokratis dan legal, hal tersebut ternyata tidak memberikan jaminan keamanan bagi perjuangan untuk mewujudkan perubahan. Pasalnya, Barat hanya akan memberikan jaminan keamanan jika kelompok yang menggunakan demokrasi tersebut tidak membawa Islam pada kekuasaan.

3.       Pemenang Pemilu dalam demokrasi akan dilindugi oleh Barat dan PBB
Untuk membantah mitos tersebut, kita cukup mengetengahkan pertanyaan: dimana PBB dan Amerika sebagai negara kampium demokrasi saat terjadi pembantaian di Mesir oleh junta militer terhadap Ikhwanul Muslimin dan pendukungnya? Di mana pula Barat dan PBB saat pembantaian terjadi di Aljazair terhadap FIS dan pendukungnya? Bukankah mereka adalah partai yang meraih kekuasaan melalui Pemilu yang demokratis?

4.       Menyembunyikan tujuan perjuangan untuk menegakkan syariah Islam.
Demokrasi hanyalah sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan agar bisa menerapkan syariah Islam. Namun, tujuan tersebut disembunyikan dengan cara tidak menyampaikan di panggung-panggung kampanye ataupun tidak dimasukan ke dalam visi ataupun misi dari gerakan tersebut. Alasannya, jika masyarakat tahu itu, mereka tentu tidak akan memilih karena masih menginginkan sistem sekular sekarang.

Padahal sangat penting dan suatu keharusan untuk memberikan edukasi politik di tengah-tengah masyarakat tentang Islam sebagai sebuah agama sekaligus ideologi yang memiliki seperangkat aturan yang akan memberikan solusi atas seluruh persoalan yang mendera umat manusia. Dengan adanya edukasi politik tersebut, tentu masyarakat akan menjadi sadar sehingga membentuk kesadaran umum di tengah-tengah masyarakat (wa’yul ‘am). Kemudian dari kesadaran umum tersebut akan menjadikan masyarakat secara kolektif menjadi memiliki opini umum (ra’yul ‘am) yang benar akan syariah Islam.
Dengan adanya kesadaran dan pemahaman masyarakat yang baik tersebut maka akan mudah untuk menerapkan syariah Islam. Ini berbeda jika kita menyembunyikan tujuan perjuangan tersebut. Bagaimana mungkin masyarakat akan sadar dan paham jika tidak pernah diberikan edukasi yang baik terhadap apa itu syariah Islam sebagai sebuah solusi.

5.       Dengan jalan demokrasi akan bisa mewarnai dan secara bertahap akan mengubah sistem.
Masuknya seseorang atau partai ke dalam sistem demokrasi dengan niat ingin mewarnai, secara fakta tidak ada bukti sama sekali. Sebaliknya, anggota parpol yang masuk ke dalam sistem yang ada justru sering terjebak di dalamnya. Mereka, misalnya, terlibat dalam money politic. Mereka sering bungkam terhadap kezaliman penguasa dengan alasan koalisi dengan partai penguasa atau untuk kepentingan kompromi. Mereka pun kemudian sering membuat pernyataan yang berubah-ubah dan membingungkan umat, mengingat kompromi yang sudah dilakukan dengan partai-partai sekuler.

Demikianlah, yang tadinya berniat ingin mewarnai malah terwarnai; yang tadinya ingin memberikan pengaruh malah terpengaruh. Ini merupakan jebakan demokrasi itu sendiri. Sayang, banyak kaum Muslim yang terjebak ke dalam permainan demokrasi tersebut.
Dengan menggunakan jalan demokrasi, mereka pun berhasrat mengubah sistem secara bertahap (tadaruj). Bagaimana mungkin bisa melakukan perubahan secara bertahap sedangkan demokrasi tidak memberikan jalan untuk itu? Demokrasi memang memberikan tempat bagi kelompok yang menyuarakan syariah Islam, namun tidak memberikan tempat agar syariah Islam tersebut dapat diterapkan. Hal ini karena demokrasi telah menetapkan dengan tegas bahwa agama tidak boleh terlibat dalam mengatur masalah publik.

6.       Demokrasi akan memberikan kesejahteraan.

Sebagian besar manusia sudah terbius oleh ide demokrasi. Mereka seolah dibuai oleh janji-janji manis yang selalu digaungkan oleh para pengusung demokrasi. Mereka mengira, sistem demokrasi akan membawa mereka pada kehidupan yang lebih baik, lebih sejahtera dan lebih modern. Padahal kenyataannya tidaklah demikian.
Demokrasi sering diperalat oleh kelompok elit masyarakat (elit wakil rakyat, elit parpol dan elit para pemiliki modal) untuk memperkaya diri mereka sendiri sembari melupakan bahkan menindas rakyat. Hal tersebut wajar, karena dalam demokrasi tidak pernah ada yang namanya rakyat sebagai penentu keinginan. Sejarah AS menunjukkan hal tersebut. Presiden Abraham Lincoln (1860-1865) mengatakan bahwa demokrasi adalah “from the people, by the people, and for the people” (dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat). Namun, hanya sebelas tahun kemudian setelah Lincoln meninggal dunia, Presiden AS Rutherford B. Hayes, pada tahun 1876 mengatakan bahwa kondisi di Amerika Serikat pada tahun itu adalah: “from company, by company, and for company” (dari perusahaan, oleh perusahaan dan untuk perusahaan).

Sejak awal kelahirannya, kedaulatan dalam demokrasi ada di tangan segelintir rakyat, yakni para pemilik modal. Hanya saja, mereka menipu rakyat dengan menggembar-gemborkan seolah-olah kedaulatan ada di tangan rakyat. Jadi, bila perubahan yang dikehendaki adalah daulat rakyat maka demokrasi tidak memberikan hal itu. Yang berdaulat dan berkuasa dalam demokrasi adalah para pemilik modal. Jadi, bagaimana mungkin demokrasi bisa memberikan kesejahteraan kepada rakyat? Demokrasi hanya mitos belaka

Demokrasi Menjadikan Akal Sebagai Sumber Hukum
Di dalam ide kufur demokrasi, prinsip dasar yang tidak bisa dilepaskan adalah kedaulatan dan kekuasaan berada di tangan rakyat (as-siyadah wa as-sulthan li al-ummah). Kekuasaan di tangan rakyat tersebut diberikan oleh rakyat kepada wakil-wakilnya di parlemen sehingga mereka berdaulat guna membuat hukum-hukum sesuai dengan keinginan mereka.
Di dalam Islam kedaulatan berada di tangan Asy-Syari’, yakni Allah SWT. Artinya, kedaulatan berada di tangan syariah (as-siyadah li asy-syar’i). Adapun kekuasaan berada di tangan rakyat (as-sulthan li al-ummah). Dalam demokrasi kekuasaan diberikan kepada wakil-wakil rakyat untuk membuat hukum (bukan menjalankan hukum dari Allah SWT). Adapun dalam Islam, kekuasaan diberikan oleh rakyat kepada penguasa (Khalifah) bukan untuk membuat hukum/UU, namun untuk menjalankan hukum-hukum Allah SWT, yakni syariah Islam yang bersumber dari al-Quran, as-Sunnah, Ijmak Sahabat dan Qiyas syar’i.
Di dalam demokrasi, hukum yang dibuat untuk mengurusi rakyat adalah bersumber dari akal manusia yang serba lemah dan terbatas; akal yang tidak bisa mengetahui apa kebutuhan manusia yang lain. Sebaliknya, di dalam Islam, sumber hukum untuk mengatur persoalan setiap sendi kehidupan manusia berasal dari Zat Yang menciptakan akal manusia itu sendiri. Dialah Allah SWT, Zat Yang Mahatahu apa saja yang dibutuhkan oleh manusia. Allah SWT telah menurunkan syariah Islam untuk mengatur semua persoalan tersebut (LihatQS an-Nahl [16]: 89).

Terbukti kegagalan sejarah demokrasi di dunia islam dan secara syar’i merupakan pengingkaran terhadap allooh swt.

Jadi, masihkah kita percaya pada demokrasi sebagai satu-satunya jalan untuk meraih perubahan? Tidak! Hanya sistem Islam saja yang dapat mengantarkan kita menuju perubahan yang kita cita-citakan, yakni perubahan menuju tegaknya Islam kaffah dalam sistem Khilafah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah. Semua itu hanya bisa dilakukan dengan menempuh thariqah dakwah Rasulullah saw., bukan dengan jalan demokrasi yang hanya mitos saja.  HTI |Hizbut Tahrir Indonesia yang berjuang  melanjutkan kehidupan islam lebiih riil.

WalLahu a’lam[Adi Victoria; Penulis Buku dan Aktivis HTI kota Samarinda]


Read more...

Sejarah demokrasi di dunia islam , apa hasilnya hingga sekarang ? | aktivis HTI (adi victoria)

Tidak ada komentar
sejarah demokrasi di negri muslis oleh aktivis hti


Sejarah demokrasidi yang diterapkan di dunia islam merupakan ulasan yang menarik…

Berikut penuturan presiden AS saat itu yang lagi berkuasa tentang penyebaran demokrasi :

“Jika kita mau melindungi negara kita dalam jangka panjang, hal terbaik yang harus dilakukan adalah menyebarkan kebebasan dan demokrasi.” (Goerge W. Bush,  6/11/2004).

Sebagian kaum Muslim masih meyakini dan memilih demokrasi sebagai sebuah jalan perubahan. Ini karena mereka memahami demokrasi hanya sebagai sebuah alat untuk mewujudkan suatu perubahan.
Namun faktanya, demokrasi tidak bisa dijadikan jalan untuk perubahan. Sebaliknya, para penikmat demokrasi menjadi korban dari demokrasi itu sendiri. Hal ini bisa kita lihat dari apa yang menimpa beberapa gerakan dakwah seperti Ikhwanul Muslimin di Mesir, HAMAS di Palestina dan FIS di Aljazair.
Pertama, di  Mesir, melalui jalan demokrasi, Muhammad Mursi memenangkan Pilpres pada tahun 2012. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mesir menyatakan bahwa Muhammad Mursi dari kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) terpilih sebagai presiden baru negara itu. Mursi dinyatakan menang dengan perolehan suara 51,7 persen atau 13,4 juta suara. Adapun penantang Mursi, Ahmed Shafiq, hanya kebagian 12,3 juta suara. Namun setahun kemudian, Mursi ditumbangkan oleh junta militer Mesir yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Abdul Fattah al-Sisi menteri pertahanan dan produksi kemiliteran pada Rabu sore tanggal 3 Juli 2013. Padahal Mursi adalah penguasa yang legal karena terpilih melalui proses demokrasi. Para pemimpin Ikhwanul Muslimin pun ditangkap dan dipenjara.
Kedua, di Palestina, tahun 2006 HAMAS memenangkan Pemilu legislatif. HAMAS meraih 76 dari 132 kuris parlemen (lebih dari 57 persen). Adapun Partai Fatah meraih 43 kursi dan partai-partai lain meraih 13 kursi. Artinya, seharusnya HAMAS mendominasi pemerintahan di Palestina. Namun ternyata, kursi kepresidenan masih dikuasai oleh Fatah melalui Mahmud Abbas. Dengan demikian terbentuklah pemerintahan koalisi di Palestina, yang berbagi 25 kursi menteri antara HAMAS dan Fatah. Sejak kemenangan HAMAS, konflik antara HAMAS dan Fatah yang telah menelan korban ratusan jiwa dari kedua belah pihak tidak pernah berhenti. Padahal kemenangan HAMAS juga diperoleh melalui jalan demokrasi.
Ketiga, Demokrasi pun memakan korbannya di Aljazair. Melalui jalan demokrasi, pada Pemilu 1991 FIS meraih 54% suara dan mendapat 188 kursi di parlemen atau menguasai 81% kursi. Pada Pemilu putaran kedua, FIS pun dinyatakan menang telak. Kemenangan FIS ini disambut gembira oleh rakyat Aljazair. Namun, Mohammed Boudiaf, mewakili militer yang loyal pada Barat, segera menunjukkan kebohongan demokrasi. Mereka menggulingkan FIS, Ribuan anggota dan pendukung FIS ditangkap dan dijebloskan ke penjara, bahkan sampai dibunuh. Pemimpin FIS, Abassi Madani dan Ali Belhadj, dipenjarakan.

Benar, sebagai sebuah jalan, demokrasi bisa saja menghantarkan seseorang atau sebuah gerakan pada tampuk kekuasaan. Namun, Barat, dalam hal ini Amerika dan sekutunya, tidak akan membiarkan Islam sampai pada kekuasaan melalui jalan demokrasi. Seharusnya semua ini menjadi pelajaran berharga bahwa demokrasi bukanlah cara yang tepat untuk mewujudkan perubahan. Sejarah demokrasi yang terbukti gagal ini harus menjadi pelajaran berharga bagi seluruh kaum muslimin. Mari berjuang bersama elemen umaat lainnya dalam mengusung sistem negara khilafah di muka bumi ini dan Hizbut Tahriri Indonesia (HTI ) siap menjadi wadah untuk perjuangan ini. 


Silahkan tinggalkan data kepada kami bagi yang mau ngaji di HTI (hizbut tahrir indonesia) 

Oleh : Adi Victoria; Penulis Buku dan Aktivis HTI kota Samarinda]





Read more...

Muslimat HTI: Miss World Penghinaan Bagi Perempuan

Tidak ada komentar
Muslimat HTI: Miss World Penghinaan Bagi Perempuan
JAKARTA – Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) kembali mengecam ajang Miss World 2013 yang akan digelar di Indonesia tahun ini. Menurut Muslimat HTI dalam diskusi ‘Tolak Miss World 2013′ di kantor pusat HTI Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (28/6), ajang Miss World tidak lebih dari penghinaan terhadap wanita.

“Ini (Miss World -red) adala ajang eksploitasi fisik perempuan dengan dibingkai dengan kedok kecantikan, perilaku dan intelektual kontestan,” ujar juru bicara Muslimat HTI, Iffah Ainur Rochmah.
Ia mengungkapkan dengan diselenggarakannya Miss World di negeri mayoritas Muslim seperti Indonesia, sama saja umat Islam Indonesia membiarkan eksploitasi dan ‘penjualan’ tubuh perempuan ini. Dalam hal ini, kata dia, posisi Indonesia sebagai negeri Muslim terbesar di dunia, dipertaruhkan. Apalagi, dewasa ini bahwa Indonesia menjadi ‘kiblat’ dunia Islam.

Menurut DPP Muslimat HTI, Dedeh Wahidah Achmad apabila Indonesia tetap membiarkan ajang ini berlangsung, berarti ini menegaskan pemerintah tak peduli dan gagal menjaga moralitas bangsa. Negara lebih memenangkan kepentingan industri kosmetik, fesyen dan media yang mengambil untung dari pornografi. Paling parah, Indonesia akan menjadi kiblat liberalisme budaya.

Karenanya, kata dia, Muslimat HTI mendesak pemerintah mencabut izin penyelenggaraan ini sekaligus menghentikan eksploitasi perempuan dalam bentuk apapun. “Kita berjuang keras ajang meliberalkan perempuan. Dan sesungguhnya, kemuliaan perempuan akan terwujud ketika dia mampu menjalankan peran yang sudah ditetapkan Allah dalam syariat Islam,” ujarnya. [Republika]
Read more...

Tolak Miss World 2013, Muslimah HTI: Kedok Eksploitasi Perempuan

Tidak ada komentar
Tolak Miss World 2013, Muslimah HTI: Kedok Eksploitasi Perempuan
Rencana penyelenggaraan Miss World 2013 yang digelar di Indonesia ternyata menuai penolakan dari kalangan publik. Salah satunya adalah dari Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)‪, yang menolak keras ajang Miss World 2013.

Mereka menilai agenda internasional tahunan itu sebagai ajang kapitalisasi terhadap tubuh perempuan sekaligus penghinaan terhadap umat Islam.

“Kriteria penilaian berupa konsep Beauty with Purpose, juga 3B (Beauty, Brain and Behaviour) hanyalah kedok dan stempel bagi legalisasi eksploitasi tubuh perempuan. Terlebih lagi Miss World adalah kontes tertua yang telah mengilhami lahirnya kontes-kontes kecantikan lainnya,” ujar juru Bicara Muslimah HTI Iffah Ainur Rochma di kantor HTI, Jakarta Selatan, Jumat (28/6/2013).

Iffah mengatakan, meski penyelenggara menjanjikan akan menghapus sesi penggunaan bikini, namun Miss World dan kontes kecantikan sejenis tak lebih dari ajang pencarian perempuan tercantik fisiknya untuk dieksploitasi demi mendongkrak pendapatan industri fashion, kosmetik dan rating media.
Menurut Iffah, membiarkan penyelenggaraan Miss World 2013 di Indonesia sama saja dengan menegaskan bahwa negeri muslim terbesar di dunia ini juga turut melanggengkan penjualan tubuh perempuan.

Maka itu, lanjut Iffah, Muslimah HTI menyerukan kepada semua pihak untuk menolak penyelenggaraan Miss World 2013 yang merupakan simbol kapitalisasi tubuh perempuan dan perendahan martabat perempuan itu. (Tnt/Sss/liputan6)
Read more...

HTI : Untuk Mempersatukan Penetapan Awal dan Akhir Ramadhan perlu Khilafah Islamiyah

Tidak ada komentar

ustadz Farid WajdiHizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam menetapkan awal dan akhir bulan suci Ramadhan berdasarkan melihat hilal (rukyatul hilal).



"Kalau HTI berdasarkan Hadits HR Muslim no.1810, dari Abu Hurairah RA, 'Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal). Apabila pandangan kalian terhalang mendung, maka hitunglah tiga puluh hari'," kata Ketua DPP HTI Farid Wajdi kepada itoday, Senin (24/06).

Kata Farid, dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan dengan rukyatul hilal secara global. "Kalau di suatu daerah melihat hilal, maka daerah lain melaksanakan ibadah puasa dan itu dilaksanakan secara global," papar Farid.

Farid melihat masih adanya perbedaan penetapan awal dan akhir Ramadhan karena tidak ada pemimpin global yang diterima umat Islam. "Maka perlu adanya Khilafah Islamiyah agar dapat mempersatukan penetapan awal dan akhir Ramadhan," jelas Farid.

Kata Farid, perbedaan awal dan akhir puasa yang terjadi sekarang ini bukan perbedaan metodologi. Tapi diakibatkan oleh ego nasionalisme.

"Masing-masing negeri muslim menetapkan sendiri-sendiri awal dan akhir Ramadhan berdasar hasil perhitungan atau rukyah yang di dapat di wilayah negara itu," pungkas Farid. [itoday]
Read more...

website HTI di Android ,Mau ? download aplikasi website hizbut tahrir indonesia

2 komentar
mau download website hizbut tahrir indonesia | hti


Akhirnya  di buat juga launcher website hizbut tahrir indonesia |HTI di android , yang bernama website hti di android (websiteHTI.apk)

aplikasi website hti versi android ini belum bisa di upload ke market android karena terbentur  pemakaian kartu kredit untuk setiap pendaftaran account market android.

untuk mengatasi kendala seperti itu maka kami uploadkan di google drive di link tadi  website hti versi android.

nanti akan masuk ke m.hizbut.tahrir.or.id

jadi tidak perlu masuk ke opera, atau browser android lainnya ..cukup download dan instal di hp android anda.

silahkan sebarkan....sehingga orang rame-rame membuka website hizbut tahrir indonesia (hti)
Read more...

Foto-foto aksi Hizbut Tahrir Indonesia |HTI | Jawa Barat dalam aksi tolak kenaikan bbm di Bandung

Tidak ada komentar
tampak dari kejauhan massa hizbut tahrir indonesia jawa barat menyemut
Bapak Polisi menjaga massa ikhwan hti jabar di depan gedung sate kota bandung
barisan paling depan dari massa ikhwan hti jabar menuju gedung sate kota bandung

pak polisi menjaga ikhwan akhwat hti dengan tenang,

massa ikhwan hti lantang menyerukan tolak bbm naik

aparat polisi menjaga aksi HTI hizbut tahrir indonesia

massa hizbut tahrir indonesia ,hti ,bersiap diri menolak kenaikan bbm


Foto-Foto massa ikhwan dan akhwat hizbut tahrir indonesia |HTI | jawa barat menyerukan untuk menolak kenaikkan bbm. Aksi damai yang dilakukan hti ,hizbut tahrir indonesia ini menjadi aksi kesekian kalinya dalam menolak kenaikkan bbm. ayo berjuang bersama hti ,hizbut tahrir indonesia.

Read more...

Hizbut-Tahrir Jakarta Tolak Kenaikan BBM

Tidak ada komentar
HTI Press. Sebanyak 300 orang massa Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Jakarta melakukan unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. “Tolak kenaikan harga BBM!” pekik Tisna, pengurus DPD HTI Jakarta, Jum’at (7/6) di depan Istana Negara.
Menurutnya, aksi ini diadakan karena pemerintah ngotot membuat kebijakan untuk menaikkan harga BBM.
Tisna juga menegaskan bahwa pemerintah jelas-jelas mendzalimi rakyat karena lebih mementingkan asing daripada rakyat. “Kenaikan BBM adalah kebijakan yang menipu dan men-dzalimi rakyat dan kita harus dengan lantang menolak kenaikan BBM!” pekiknya yang kemudian disambut takbir peserta aksi.[]Rahmat Ramadhi/Joy

hizbut tahrir indonesia (hti jakarta) tolak kenaikan bbm
Tolak Kenaikan BBm oleh hizbut tahrir indonesia

foto-fot ikhwan dan akhwat hti terpisah 
Read more...

Hizbut Tahrir Ukraina Gelar Aksi Setelah Acaranya Dilarang

Tidak ada komentar

Kamis ini di Simferopol, Ukraina Sekitar 2.000 orang menghadiri Konferensi “Satu Umat – Satu bendera” untuk mengenang runtuhnya khilafah pada 28 Rajab yang diselenggarakan Hizbut Tahrir.
Konferensi ini ternyata dilarang. Maka Panitia memutuskan untuk mengadakan aksi.

Dalam aksi tersebut, para Syabab Hizbut Tahrir Ukraina mengatakan bahwa pemulihan negara Islam global – Khilafah – dapat melindungi hak-hak Muslim.
Mereka mengibarkan ratusan bendera hitam dan putih, melambangkan persatuan umat Islam di seluruh dunia dan meneriakkan “Allahu Akbar”. Peserta aksi laki-laki dan perempuan berdiri terpisah dan dipisahkan oleh pita. 

[radiosvoboda.org, 6/6/www.bringislam.web.id]
Read more...

Category

Popular Posts

facebook