Milisi rezim Assad terus melakukan pembantaian mengerikan hingga merenggut nyawa 42 syahid, di bawah penyiksaan di penjara dan di pusat penahanan. Pada hari Ahad (9/6) keluarga mereka telah diberitahu untuk menerima jenazahnya. Media Center Suriah mengatakan bahwa pasukan rezim Suriah telah membantai 42 orang, di antara warga lingkungan ibukota Suriah, Damaskus, dengan melakukan penyiksaan di penjara dan pusat penahanan. Di bagian lain, Komite Koordinasi Lokal Suriah mengatakan bahwa jumlah mereka yang syahid di Suriah hari ini hingga laporan ini dibuat bertambah menjadi 76 syahid. Mereka syahid oleh tembakan rezim Assad. Komite Koordinasi mencatat bahwa 20 syahid di bawah penyiksaan, 10 anak-anak, dan enam perempuan. Dalam konteks terkait, Otoritas Umum Revolusi Suriah menjelaskan bahwa empat tentara batalyon revolusi telah syahid pada Ahad malam, setelah mereka menjadi sasaran milisi Assad dan “Hizbullah”, ketika mereka mencoba untuk mengevakuasi warga sipil yang terluka dari pedesaan al-Qashir di Homs. Dalam hal ini, pasukan rezim Asad terus melakukan pengeboman secara kejam dan keji atas kota ar-Raqqa melalui pesawat tempur hingga mengakibatkan sedikitnya tujuh orang syahid, yang kebanyakan anak-anak, di sekitar Masjid Umar bin Khattab, dan tiga lainnya syahid oleh penembakan di jalan Saif ad-Daulah di kota (islammemo.cc, 10/6/2013).
Mujahidin melakukan serangan terhadap umat Buddha dan berhasil menguasainya, namun hal itu terjadi di dunia maya.
Sebuah situs milik umat Buddha dan satu milik pemerintah diretas oleh mujahidin yang menamakan dirinya Sariyatu Tsa’ri wad Dawaa’ (Pasukan Kecil untuk Pembalasan dan Obat Penawar).
Penelusuran redaksi voa-islam.com hari Senin (13/5/2013) hingga pukul 19.00 WIB, situswww.mybuddhis.com yang merupakan situs untuk mencari teman Buddhis, jodoh dan forum Agama telah berubah halaman depannya dengan berisi sebuah pesan kepada umat Buddha di Indonesia dan seluruh dunia agar menghentikan genocide terhadap muslim Rohingya.
Hal yang sama juga terjadi terhadap sebuah situs pemerintahwww.bpls.go.idyang merupakan Media informasi dan komunikasi Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo.
Selain desakan menghentikan genocide terhadap Muslim Rohingya, mujahidin juga menantang Densus 88 bahwa peperangan belum usai.
Berikut ini pesan dari kelompok Mujahidin Sariyatu Tsa’ri wad Dawaa’ sebagaimana termuat dalam kedua situs tersebut:
Sariyatu Tsa’ri wad Dawaa’
Kepada Kafir Budha di Seluruh Dunia terkhusus di Indonesia
Kami peringatkan kepada kalian untuk menghentikan aksi Genocide terhadap saudara-saudara kami Kaum Muslimin Rohingya...!!! Sebelum senapan-senapan Mujahidin mengarah ke Arah kalian.
Kami tidak akan menganggap enteng setiap luka yang kalian berikan kepada saudara kami dan kami tidak akan tinggal diam menghadapi penghinaan kalian terhadap Dien ini.
Kepada Pemimpin Kekafiran Negeri ini dan jongos-jongosnya Amerika bertitle Densus 88.
Peperangan ini belum Usai...!!!
Kalian bunuh dan tawan saudara kami. Maka tunggulah hari dimana malam-malam kalian akan menjadi mimpi buruk dan siang-siang kalian akan menjadi mendung gelap gulita.
{Dan Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya dan Orang-orang yang Beriman, akan tetapi orang-orang Munafik tidak mengetahuinya}
Jangan lupa untuk selalu mendoakan Para Mujahidin dalam Doa-doa Khusyu’ kalian
Akhirnya Perancis melakukan serangan ke Mali. Menurut The Guardian (14/01), dengan invasi ini berarti Barat telah menyerang delapan negeri muslim. Negara Afrika barat berpenduduk 15 juta orang ini adalah negara kedelapan yang rakyatnya dibom dan dibunuh oleh kekuatan Barat setelah Irak , Afghanistan, Pakistan, Yaman, Libya, Somalia, dan Filipina. Belum termasuk berapa banyak tiran yang didukung oleh negara Barat di kawasan itu. Invasi ini semakin mengokohkan perang kolonial Barat terhadap dunia Islam.
Invasi ini sekali lagi membuktikan Dewan Keamanan PBB sekedar menjadi alat politik negara-negara Barat. Dewan Keamanan PBB Dewan Keamanan PBB pada Kamis (20/12/2012) dengan suara bulat telah menyetujui rencana intervensi militer di Mali dengan dalih yang menyesatkan yaitu “menyatukan kembali negara Afrika Utara yang berperang.”
Negara-negara Afrika Barat ingin mengirim pasukan berkekuatan 3.300 personil untuk mengusir kelompok-kelompok bersenjata yang memasuki wilayah gurun yang luas dan menerapkan hukum Islam setelah terjadinya kudeta militer di Bamako Maret yang menciptakan kekosongan kekuasaan di negara itu.
Rencana untuk intervensi militer, awalnya disepakati oleh Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat (ECOWAS) dan tidak akan melibatkan intervensi langsung pasukan Barat. Resolusi diperkenalkan oleh Perancis – yang sebelumnya menjajah Mali – hingga disetujui oleh 15 anggota DK.
Namun Perancis mengambil inisiatif menyerang Mali tanpa legitimasi PBB. Sekjen PBB mengeluarkan dukungan justru setelah Perancis menyerang. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) setuju dengan intervensi militer Prancis di Mali. Sekjen PBB, Ban Ki-moon, mengatakan aksi tersebut mendapat dukungan internasional dalam pernyataannya di Markas PBB, Senin (14/1), dan dilansir Reuters, Selasa (15/1).
Dalam membenarkan serangan militer ini, Perancis, Inggris dan negara Barat lainnya sekali lagi menggunakan label memerangi ‘terorisme’ dan melindungi rakyat Mali. Untuk mendapatkan simpati dari masyarakat Barat, media telah menekankan aspek ‘Islamis’ dari oposisi yang ingin menegakkan syariah Islam.
Mencegah Berdirinya Negara Islam ?
Ada kemungkinan beberapa motif kenapa Perancis menyerang Mali. Pertama adalah kekhawatiran Mali menjadi sebuah negara Islam. Satu hal yang sangat ditakuti Barat selama ini adalah berdirinya negara Islam terutama Daulah Khilafah Islam yang menerapkan syariat Islam dan menolak segala bentuk intervensi Barat.
Ketika Presiden Amadou Toumani Toure dilengserkan dari posisinya oleh seorang kader militer pada pertengahan Maret, Gerakan Nasional Bagi Pembebasan Azawad (MNLA) dan Gerakan Kesatuan and Jihad di Afrika Barat (MUJWA) menguasai wilayah utara dan kota-kotanya termasuk Gao dan Timbuktu. Para mujahidin Mali bertekad untuk meraih kemenangan dan menerapkan syariah Islam.
Nicolas Sarkozy saat masih menjadi presiden Perancis telah memperingatkan tentang ancaman ini. Pada pada hari Jumat (13/4) dia menyerukan pentingnya melakukan segala upaya guna mencegah berdirinya sebuah negara yang dia sebut sebagai teroris atau Islam di wilayah pantai di Afrika Utara. Hal ini menyusul dominasi pemberontak Tuareg dan pejuang Islam di Mali utara. Saat itu dia telah mengingatkan kemungkinan Perancis melakukan intervensi.
Tampaknya presiden Perancis saat ini melanjutkan kebijakan dari Sarkozy yang dikenal sangat anti Islam. Sebutan teroris memang kerap kali dilabelkan oleh Barat untuk siapapun yang menolak penjajahan Barat dan menginginkan tegaknya syariah Islam. Terorisme kemudian menjadi label sakti untuk membenarkan apapun tindakan Barat meskipun melanggar hukum internasional yang mereka buat sendiri.
Warning Terhadap Mujahidin Suriah ?
Invasi Perancis ini juga bisa jadi merupakan warning bagi negeri-negeri Islam lainnya yang ingin menegakkan negara Islam apalagi Khilafah. Bahwa Barat akan melakukan intervensi mencegah hal keinginan mulia umat Islam ini.
Gelombang keinginan mendirikan negara Islam yang menerapkan syariah Islam secara menyeluruh memang sangat mengkhawatirkan Barat. Terutama melihat kondidi terkini Suriah sekarang. Semakin menguatnya pasukan mujahidin dan melemahnya rezim Assad menjadi ketakutan Barat.
Berbeda dengan Tunisia, Mesir, ataupun Yaman,hingga saat ini Barat belum mendapatkan penggganti yang legitimed untuk rezim bengis Assad yang kemudian tetap dibawah control Barat. Tidak hanya itu, para mujahidin yang dekat dengan masyarakat Suriah dan menjadi ujung tombak perlawanan terhadap Assad, dengan tegas menolak intervensi Barat, tawaran demokrasi meskipun dengan istilah negara madani (negara sipil). Para mujahidin dengan tegas akan menegakkan Khilafah Islam, membebaskan Al Quds dari penjajah Israel, menyelamatkan muslim Rohingnya dan negeri-negeri Islam lainnya.
Namun, Barat harus berpikir beribu kali kalau hendak menyerang Suriah kalau atas izin Allah SWT khilafah akan tegak di sana. Rakyat Suriah bersama umat Islam dari negeri-negeri Islam lainnya akan bersatu melakukan jihad melawan intervensi penjajah. Jihad yang dilakukan dan didukung oleh mayoritas rakyat Suriah, bukan hanya satu atau dua kelompok.
Menghadapi kelompok-kelompok mujahidin di Irak dan Afghanistan, saja Barat sudah kesulitan, apalagi menghadapi rakyat Suriah dalam perang semesta (total) melawan penjajah Barat. Disamping itu, Amerika dan Eropa akan berpikir keras , mengingat intervensi militer pastilah membutuhkan dana yang besar. Sementara saat ini kondisi ekonomi mereka sedang dalam kesulitan.
Persaingan Amerika dan Perancis ?
Aroma persaingan Amerika dan Perancis juga tampak dalam invasi ini sangat kental. Perancis tampaknya tidak ingin melepaskan Mali dari cengkramannya setelah selama ini benar-benar mengkontrol negara ini. Sementara Amerika , mulai berusaha menanamkan pengaruhnya dengan mendukung kudeta militer terhadap Presiden Amadou Toumani Toure yang didukung oleh Perancis.
Dalam Soal Jawab tentang kudeta militer di Mali yang dikeluarkan Hizbut Tahrir (24 Maret 2012 M) dijelaskan bagaimana Amerika belakangan mulai berkerja memperluas pengaruhnya di Mali dengan menggelar perjanjian dengan Mali untuk melatih militer Mali dengan dalih memerangi terorisme.Militer Mali memilih para perwira dan mengirim mereka ke Amerika untuk mengikuti pelatihan.
Laman al-‘Ashru (24/3/2012) mengutip dari diplomat Amerika yang meminta tak disebutkan namanya menyatakan: “pemimpin kudeta Kapten Amadou “Ahmadou“ Haya Sanogo dahulu dipilih diantara sekelompok perwira oleh kedutaan Amerika untuk mendapat pelatihan militer untuk memerangi terorisme dan pelatihan itu bertempat di Amerika Serikat“. Ia menambahkan bahwa “Sanogo beberapa kali pergi ke Amerika dalam tugas-tugas khusus …“.
Sementara Perancis tidak mendukung kudeta itu. Prancis membekukan kerjasama politik, militer dan ekonominya dengan Mali. Begitu juga bantuan-bantuannya kepada Mali. Sebaliknya Amerika bertindak sebaliknya. Juru bicara kemenlu AS Victoria Nuland menegaskan negaranya tidak mengambil keputusan membekuan bantuan-bantuan Amerika ke Mali“ (Aljazeera, 23/4/2012). Bantuan Amerika ke Mali mencapai 137 juta dolar per tahun.
Hal ini menunjukkan Amerikalah yang berada di balik kudeta militer yang terjadi di Mali. Tujuannya untuk menanamkan dan memperluas pengaruhnya di negeri Islam Mali itu. Negara Paman Sam ini berusaha menggantikan pengaruh Prancis sebagai penjajah lama Mali. Untuk itu Amerika ingin menunda pemilu mendatang di Mali sebab lingkungan politik yang ada masih loyal ke Prancis. Melalui kudeta ini Amerika membalik meja permainan atas para pemain dari antek-antek Prancis yang sangat memahami permainan sesuai politik Prancis.
Begitulah Mali menjadi terikat dengan Amerika,melalui gerakan “militer“. Lingkungan politik lama yang dibangun Prancis sulit untuk menguasai situasi baru. Paling jauh yang mungkin terjadi adalah partisipasi yang tidak efektif di pemerintahan baru di bawah pengaruh Amerika.
Invasi langsung terhadap Mali, adalah cara Prancis untuk mempertahankan pengaruhnya. Tanpa melalui persetujuan dewan keamanan PBB, negara ini langsung melakukan invasi. Setelah serangan, baru DK PBB menggelar pertemuan darurat atas permintaan Prancis pada Senin (14/1) di New York. Dubes Prancis untuk PBB Gerard Araud mengatakan pemerintahnya mendapat “dukungan dan pengertian” dari 14 anggota Dewan Keamanan PBB lain.
Prancis sebelumnya telah mengirim 550 tentara ke kota Mopti dan Bamako, dan setelah pekan lalu menurut seorang sumber Kementrian Pertahanan negara mode itu kepada kantor berita Reuters, jumlah kiriman pasukan kemungkinan akan bertambah menjadi 2.500 dalam beberapa hari.
Negeri Islam yang Kaya
Mali adalah negeri islam, lebih dari 90 % penduduknya muslim dan telah masuk Islam sejak ratusan tahun lalu. Pada akhir abad ke-19 penjajah Prancis menduduki Mali dan mengumumkan penggabungannya ke Prancis pada tahun 1904. Prancis memberikan kemerdekaan formalistik pada tahun 1960. Mali adalah negeri yang kaya bahan tambang berupa emas, phospat, kaolin, bauksit, besi, uranium dan banyak lainnya. Tidak mengherankan kalau Eropa khususnya Perancis dan Amerika saling berebut kekayaan alam Mali.
Perancis sendiri sangat membutuhkan Mali, sebagai negara penghasil uranium di Afrika Barat. Dua pertiga listrik Prancis berasal dari tenaga nuklir, memerlukan impor uranium yang signifikan dari negara tetangga Niger. Sebagai produsen emas ketiga terbesar di Afrika Mali juga sangat menggiurkan.
Begitulah negeri Islam menjadi rampasan penjajah yang rakut. Semua itu tidak lain karena kaum muslimin terpecah belah, diperintah dengan selain Islam. Para penguasanya tidak memelihara urusan-urusan masyarakat, sebaliknya para penguasa kaum Muslimin itu justru memuluskan kepentingan-kepentingan kaum kafir penjajah. Sekali lagi disinilah relevansi perjuangan Hizbut Tahrir untuk mewujudkan kembali Khilafah untuk seluruh dunia Islam, yang menyatukan dan melindungi negeri Islam dari kebuasan penjajah Barat.
DAMASKUS. Musim dingin yang menggigit disertai hujan salju telah mengguyur negeri Suriah sejak beberapa pekan yang lalu. Derasnya guyuran hujan beberapa kali bahkan menghalangi pesawat tempur rezim Suriah untuk membantai lebih banyak warga sipil muslim lewat rudal-rudal dari udara.
Kondisi kamp-kamp pengungsian warga muslim Suriah sangat memprihatinkan di musim dingin ini. Beberapa kamp pengungsian seperti kamp pengungsian Zaghtari, kamp pengungsian terbesar di Yordania, terendam banjir karena berada di tanah padang pasir.
Cuaca ekstrim dan kondisi buruk yang dialami oleh mayoritas warga muslim Suriah di dalam negeri maupun luar negeri itu justru menjadi pelecut semangat mujahidin Suriah. Mereka menggiatkan latihan perang dan serangan terhadap pasukan rezim Nushairiyah Suriah.
Mujahidin Brigade Al-Islam FSA telah menggelar latihan militer di atas salju untuk menghadapi peperangan musim dingin. Video yang dirilis bidang media mujahidin Brigade Al-Islam FSA pada Kamis (10/1/2013) memperlihatkan ratusan mujahidin anggota Brigade dilatih melawan cuaca ekstrim, dengan telanjang dada. Fisik mereka ditempa di alam terbuka agar terbiasa dengan salju, hujan dan cuaca dingin, laporan situs Islam Dier Ezzur.
Subhanallah, hadapi musim dingin, mujahidin Suriah gelar latihan perang di atas salju Muhib Al-Majdi Sabtu, 12 Januari 2013 08:48:00 DAMASKUS (Arrahmah.com) – Musim dingin yang menggigit disertai hujan salju telah mengguyur negeri Suriah sejak beberapa pekan yang lalu. Derasnya guyuran hujan beberapa kali bahkan menghalangi pesawat tempur rezim Suriah untuk membantai lebih banyak warga sipil muslim lewat rudal-rudal dari udara. Kondisi kamp-kamp pengungsian warga muslim Suriah sangat memprihatinkan di musim dingin ini. Beberapa kamp pengungsian seperti kamp pengungsian Zaghtari, kamp pengungsian terbesar di Yordania, terendam banjir karena berada di tanah padang pasir. Cuaca ekstrim dan kondisi buruk yang dialami oleh mayoritas warga muslim Suriah di dalam negeri maupun luar negeri itu justru menjadi pelecut semangat mujahidin Suriah. Mereka menggiatkan latihan perang dan serangan terhadap pasukan rezim Nushairiyah Suriah. Mujahidin Brigade Al-Islam FSA telah menggelar latihan militer di atas salju untuk menghadapi peperangan musim dingin. Video yang dirilis bidang media mujahidin Brigade Al-Islam FSA pada Kamis (10/1/2013) memperlihatkan ratusan mujahidin anggota Brigade dilatih melawan cuaca ekstrim, dengan telanjang dada. Fisik mereka ditempa di alam terbuka agar terbiasa dengan salju, hujan dan cuaca dingin, laporan situs Islam Dier Ezzur. Meski berlatih dalam cuaca sangat dingin, semangat ratusan mujahid Brigade Al-Islam FSA tidak melemah. Mereka melahap semua sesi latihan dengan semangat. Pekikan takbir senantiasa keluar dari lisan mereka. Mujahidin Suriah berada di ambang kemenangan. Faktor cuaca yang ekstrim tak akan menghentikan laju kemenangan mereka sebab Allah-lah yang mengaruniakan kemenangan itu kepada mereka. (muhib almajdi/arrahmah.com)
DALAM waktu kurang dari 24 jam, Perancis telah melancarkan dua serangan terhadap kelompok Mujahidin di Afrika Timur dan Barat, tetapi korban pertama jatuh justru di pihak Perancis. Pada konferensi pers di Paris kemarin Menteri Pertahanan Jean-Yves Le Drian mengumumkan tewasnya seorang pilot helikopter Perancis dalam operasi menyerang Mujahidin di Mali selatan.
Le Drian membela aksi militer Perancis di Mali, dan menuding, keberadaan Mujahidin di negara Afrika Barat itu mengancam keamanan bukan hanya di kawasan itu, tetapi juga Eropa. Seperti Presiden François Hollande, yang mengumumkan campur tangan militer itu hari Jumat, ia mengatakan, operasi itu akan terus dilancarkan selama dibutuhkan.
Le Drian mengatakan, campur tangan militer itu dilancarkan atas permintaan pemerintah Mali dan negara-negara Afrika lainnya, setelah adanya laporan intelijen bahwa tiga kelompok Mujahidin sedang bersiap-siap melancarkan serangan besar-besaran di Mali selatan. Selain memukul mundur kelompok Mujahidin, ia mengatakan, Perancis juga punya tujuan mengamankan stabilitas Mali dan melindungi warga Perancis dan Eropa di sana.
Le Drian mengatakan satu tentara Perancis tewas dan lainnya hilang dalam operasi militer terpisah di Somalia, yang gagal menyelamatkan warga Perancis yang sudah disandera tiga tahun di sana. Namun, menurut kelompok mujahidin al-Shabab di Somalia, sandera itu masih hidup dan ditawan mereka.
Serangan Perancis itu menunjukkan kebalikan kebijakan awal Hollande untuk mendukung Mali dalam bidang pelatihan dan logistik, bukan untuk melakukan campur tangan secara militer di bekas koloninya itu.
Dalam wawancara dengan saluran televisi France 24, anggota Mujahidin Anshoruddin mengancam akan melakukan tindakan balasan terhadap Perancis.
Namun tindakan pemerintah Perancis di Afrika itu telah menarik dukungan darisekutunya di Eropa. Dalam pesan di Twitter, Menteri Luar Negeri Inggris William Hague memuji aksi itu, seperti halnya mantan menteri Senegal dan kepala lembaga think tank Cheik Tidiane Gadio.
Gadio mengatakan kepada radio RFI, Perancis tidak bertindak seperti bekas kekuasaan kolonial, tetapi mengklaim sebagai pembela HAM di negara di mana kelompok Mujahidin berupaya mengambil alih kekuasaan.
Pendahulu Hollande, Nicolas Sarkozy, juga campur tangan secara militer di Afrika Barat, melancarkan serangan udara di Pantai Gading tahun 2011 untuk membantu mengakhiri konflik yang telah berlangsung lama di sana. (Pz/Islampos)
HOMS – Ulama dan sesepuh mujahidin di propinsi Homs, syaikh Abu Jalal At-Tilawi, menyerukan kepada mujahidin Jabhah Nushrah untuk segera masuk ke kota Homs dan melindungi warga sipil muslim dari kebiadaban pasukan rezim Nushairiyah Suriah.
Seruan itu dikeluarkan oleh syaikh At-Tilawi pada Kamis (3/1/2013), dalam sebuah video yang dirilis oleh kantor berita Koordinator Revolusi Lokal di Homs.
"Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya pembantaian-pembantaian biadab yang dilakukan oleh pasukan Asad, milisi Syiah Shabihah Suriah dan milisi Syiah Iran, di kota-kota Homs, terjadi setelah Tentara Bebas Suriah (FSA) mundur dari kota ini setelah mereka kehabisan amunisi. Pasukan Asad, milisi Syiah Shabihah dan milisi Syiah Iran menangkapi penduduk sipil dan membantai lebih dari dua ratus warga," kata syaikh At-Tilawi mengawali seruan daruratnya.
Pasukan rezim Nushairiyah Suriah dan milisi Syiah Shabihah berhasil memasuki kota Dier Ba'labah, Homs pada Sabtu (29/12/2012). Mereka melakukan pembantaian biadab terhadap warga sipil muslim yang masih berada dalam kota yang terkepung selama lebih dari enam bulan tersebut.
Aktivis kemanusiaan di propinsi Homs melaporkan kepada kantor berita Islam Asy-Syam bahwa lebih dari 200 warga sipil muslim dibantai oleh pasukan rezim Nushairiyah dan milisi Syiah Shabihah di Dier Ba'labah. Di sebuah sekolah di kota itu, para aktivis kemanusiaan berhasil menemukan lebih dari 150 jenazah warga yang dibantai dan dibakar oleh pasukan jagal rezim.
Syaikh At-Tilawi menyerukan kepada mujahidin Jabhah Nushrah untuk segera mengerahkan anggotanya guna melindungi kaum muslimin di kota-kota dan desa-desa dalam propinsi Homs. Dengan mundurnya mujahidin FSA dari Homs, kaum muslimin hanya mampu memohon keselamatan kepada Allah, kemudian berharap mujahidin Jabhah Nushrah segera mengerahkan segenap kemampuannya untuk melindungi warga Homs.
Bosan dengan profesinya sebagai supir truk, yang sehari-harinya mengemudi dari Osaka hingga Tokyo atau Nagasaki, mengangkut beban tangki bensin, air atau bahkan cokelat, Toshifumi Fujimoto memutuskan untuk "berlibur" ke medan perang.
Fujimoto (45), pria berperawakan cukup gemuk ini benar-benar mengambil resiko dengan melewati momen-momen yang memacu adrenalin, benar-benar hal yang tak biasa dalam hidupnya sebelumnya. Pria ini senang menjadi turis perang.
Kebosanannya menjalani rutinitas sebagai supir telah berganti dengan hari-hari menegangkan dan "seru" di jalan-jalan Suriah, di mana di negara itu adalah tempat ia berpetualang saat ini. Tempat baru petualangannya setelah melalui tempat-tempat konflik lainnya di Timur Tengah, ia mengambil foto dan merekam video sambil menghindari peluru dengan semangat.
Sebelum sampai ke Suriah, tahun lalu ia berada di Yaman pada saat demonstrasi rakyat terjadi di depan kedutaan besar AS di Kairo, Mesir, menyusul jatuhnya presiden Husni Mubarak. Pada akhir tahun ini, Fujimoto berencana untuk menemui Mujahidin Taliban di Afghanistan.
Tetapi saat ini, ia telah dua minggu menikmati tur di kota Aleppo, salah satu tempat perang tersengit di Suriah,"bermain-main" dengan para Mujahidin di bawah suara dentuman bom dan tembakan.
Dengan memakai seragam ala tentara Jepang dan "bersenjatakan" kamera foto dan video, Fujimoto mendatangi front tempur manapun yang setiap paginya ia bisa mendokumentasikan perang yang sedang berlangsung di salah satu kota terbesar Suriah itu.
Fujimoto, yang tidak bisa berbicara bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab, hanya bisa diwawancarai dengan Google Translate.
"Saya selalu pergi sendiri, karena tidak ada tur guide yang mau pergi ke front ini. Ini sangat menarik, dan adrenalin terpacu tidak seperti biasanya," katanya bersemangat.
"Di Suriah, lebih bahaya untuk menjadi wartawan daripada turis," katanya, menggambarkan bagaimana "setiap pagi Saya berjalan 200 meter untuk mencapai 'front', dan Saya di sana di jajaran baku tembak bersama para tentara Pembebasan Suriah (FSA)."
"Ini membuat saya kagum, dan Saya menikmatinya," katanya. Dalam suatu kesempatan, Fujimoto juga mengambil foto para Mujahidin Suriah yang bertebaran di jalan-jalan kota Aleppo.
"Kebanyakan orang mengira Saya ini orang Cina, dan mereka menyapa saya dengan bahasa Cina," ungkapnya sambil tersenyum.
Toshifumi Fujimoto bersama mujahidin suriah (foto ini diambil dari akun facebook Toshifumi Fujimoto)
Saat pertempuran sedang sengit, ia ambil kesempatan untuk mendokumentasikannya, namun jika situasi bahaya para Mujahidin memperingatkan para warga sipil atau siapapun yang bukan pejuang untuk menjauh.
Namun ia sering mengabaikan peringatan dan tetap berusaha mengambil foto yang kemudian akan ia share di Facebook-nya, ia bahkan tak takut mati.
"Saya bukanlah target para penembak jitu karena Saya adalah turis, tidak seperti kalian para jurnalis," katanya kepada wartawan AFP. "Selain itu, Saya tidak takut apakah mereka menembak saya atau mereka mungkin membunuh saya. Saya adalah kombinasi samurai dan kamikaze."
Fujimoto bahkan tidak menggunakan helm atau jaket anti peluru sebagai pelindung.
"Itu sangat berat ketika digunakan untuk berlari dan lebih menyenangkan jika pergi ke front tanpa apa-apa (pelindung). Selain itu, ketika mereka menembak itu sangat menyenangkan dan menarik."
Dalam foto-foto yang ia share di akun Facebook-nya, terlihat ia sering bersama Mujahidin dan anak-anak Suriah. Di antara fotonya menunjukkan ia sedang menembak bersama Mujahidin, namun tak ada keterangan apakah ia sedang belajar menembak atau turut menembak pasukan rezim.
Fujimoto mengatakan bahwa majikannya tidak tahu ia sekarang berada di Suriah. "Saya hanya mengatakan kepada mereka Saya pergi ke Turki untuk berlibur. Jika Saya mengatakan mereka yang sebenarnya, mereka akan mengatakan kepada saya bahwa Saya benar-benar gila."
Toshifumi Fujimoto bersama mujahidin Suriah (Foto ini diambil dari akun Facebook Toshifumi Fujimoto)
Mungkin banyak orang mengatakan ia gila, tetapi orang-orang tidak tahu bahwa pekerjaannya dan kehidupan keluarganya adalah akar kesedihannya yang membuat ia ingin mencari hidup baru.
Fujimoto telah bercerai dengan istrinya, dan mengatakan "Saya tidak memiliki keluarga, tidak ada teman, tidak ada pacar. Saya sendirian dalam hidup ini."
Tetapi ia memiliki tiga anak perempuan, yang tidak pernah ia lihat selama lima tahun, "bahkan tidak di Facebook atau Internet, tidak ada. Dan itu adalah kesedihan saya yang mendalam," katanya sambil mengusap air matanya.
Sebab itulah ia membayar asuransi jiwa, dan "Saya berdoa setiap hari bahwa, jika sesuatu terjadi pada saya, gadis-gadis daya mungkin akan mendapatkan uang asuransi dan mampu hidup dengan nyaman."
Fujimoto tidak menjual foto-foto atau rekaman yang ia ambil selama turnya di medan perang ini, dan ia telah menghabiskan uang hingga USD 2.500 dari kantong pribadinya untuk terbang ke Turki. Kemudian mengeluarkan USD 25 sehari untuk biaya penginapan di sana.
Selama di Aleppo, ia telah mendatangi berbagai medan tempur, seperti di distrik Amariya, Salahuddin, Saif al-Dawlah, Izza. Dan meskipun ia senang mengambil gambar di tempat konflik ini dan menyebarkannya, tetapi ada gambar yang membuatnya terpaku dan menyangkut dalam pikirannya.
Ketika ia membuka file di laptopnya, ia menunjukkan sebagian tubuh anak perempuan kecil berusia 7 tahun membusuk di Saif al-Dawlah, karena ditembak oleh penembak jitu rezim. Ia membayangkan, betapa sedihnya kehilangan puteri yang dicintai.
"Saya cinta anak-anak, tetapi Suriah bukanlah tempat bagi mereka. Sebuah bom bisa menghabisi nyawa mereka kapan saja," katanya yang kemudian diajak oleh mujahidin untuk bergabung dengan mereka di Salahuddin dan segera turun ke jalan menuju tempat di mana suara tembakan terdengar untuk melanjutkan "liburannya" di mana ia bisa merasakan hidup yang lebih hidup.
Inilah Fujimoto, orang Jepang yang rela menghabiskan uang untuk pergi ke medan perang. Demi mencari kehidupan yang lebih hidup, melupakan segala kepenatan dan kesedihan dalam hidupnya. Tak takut mati atau takut rugi harta.
Namun bagi seorang Muslim, medan Jihad bukanlah layaknya film action di Hollywood yang hanya untuk ditonton, atau "tempat wisata" yang hanya untuk "refreshing." Ada perniagaan sejati yang menggiurkan di sana yang ditawarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (Yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga 'Adn. Itulah keberuntungan yang besar." (Q.S Ash-Shaff [61]: 10-12).
Maka tidak tertarikkah dengan janji ini?
"Dan siapakah orang yang lebih benar perkataan(nya) dari pada Allah ?" (Q.S An-Nisaa' [4]: 87)
Kisah nyata ini diceritakan oleh seorang anggota Harakah Ansar Iran (Kelompok Mujahidin Ahlus Sunnah wal Jamaah di Iran) melalui situs resminya, tentang seorang mujahid dan istrinya yang penyabar. Berikut kisahnya:
Saya akan menceritakan kepada kalian sebuah kisah yang indah tentang seorang mujahid muda ketika ia baru pertama kali bergabung di jajaran Mujahidin, beberapa tahun lalu. Tahukah kalian, ia adalah seorang mujahid yang cintanya terhadap Allah dan Jihad sangat besar. Ia berangkat untuk menunaikan kewajibannya pada saat Subuh setelah hari pernikahannya. Tetapi yang sangat luar biasa adalah apa yang istrinya katakan ketika ia hendak pergi. Sang istri mengatakan, "Aku akan senantiasa bersujud kepada Allah hingga engkau kembali atau jasadmu kembali." Dengan dorongan semangat ini, ia meninggalkan kesenangan duniawi, demi sebuah hidup penuh kesulitan dan pengorbanan.
Pada suatu malam, pada saat perjalanannya dari satu kamp ke kamp yang lain, ia merelakan dirinya sendiri untuk mencari bantuan makanan di dekat desa terdekat untuk para sahabat mujahidin. Mengetuk pintu dari rumah ke rumah, ia disambut dengan sambutan yang sangat tidak ramah, setiap rumah hanya mengatakan kepadanya bahwa para Mujahidin itu tidak diterima di sini.
Pada saat ia tiba di rumah ke-10, ia mengangkat tangannya berdoa kepada Allah dan mengatakan "Ya Allah! Engkau adalah saksiku bahwa Aku hanya ingin mencari sisa makanan untuk saudara-saudaraku, sehingga kami bisa menunaikan kewajiban kami lebih baik lagi demi Engkau. Dan Engkau adalah Maha Pemberi, Maha Pemurah!"
Terkejutlah ia, rumah terakhir ini sangat menyambutnya dengan hangat. Sang pemilik menawarkan semua rotinya dan mengatakan, "Bagaimana mungkin keluargaku bisa tidur, sementara para tentara Allah kelaparan?" Dan kemudian dengan semua kantong penuh makanan, ia kembali dengan sangat gembira ke kamp yang jauhnya beberapa kilometer.
Namun, di belakangnya ia mendengar suara tangisan dan teriakan yang datang dari salah satu rumah di pinggiran desa itu. Segera ia meletakkan makannya di pinggir jalan dan masuk ke rumah itu untuk memeriksanya – tidak ada persiapan untuk apa yang akan dihadapi.
Di sana ia melihat 5 hingga 6 laki-laki memperkosa salah satu gadis desa itu.
"Hey!" ia berteriak tanpa ragu-ragu, mengagetkan geng pemerkosa itu. "Jika kalian tidak berhenti sekarang dan pergi, Aku akan membunuh kalian semua!" lanjutnya dengan pandangan tajam (yakin). Tetapi sebelum ia bisa mengambil pistol yang ada di pinggannya, salah satu dari para pemerkosa itu berada di ruangan lain, mengeluarkan pisau dan menikamnya di punggung dan kakinya – membuatnya tersungkur ke lantai.
Beruntungnya, meski dalam keadaan kalut, ia mampu mengeluarkan pistolnya dan menembaki semua pemerkosa itu (dengan rahmat Allah).
Dengan mengabaikan rasa sakitnya dan nyaris tak bisa berjalan, ia mengenakan pakaian gadis muda itu, mengambil makanannya, dan membawanya kembali ke desa dengan selamat. Dan sebelum ada orang tahu siapa yang telah menyelamatkan gadis muda itu, ia kembali ke kampnya.
Ketika ia kembali, dengan bajunya yang bersimbah darah, ia segera disambut oleh para Mujahidin dan menceritakan kepada mereka tentang peristiwa yang telah terjadi. Para Mujahidin terkejut dan terkagum padanya, bahwa mujahid muda yang belum berpengalaman ini mampu menangani geng pemerkosa itu sendirian.
Yang membuat bertambah kekaguman mereka adalah, pada saat itu mereka juga mengetahui bahwa ia baru saja menikah dan datang ke tanah Jihad ini sehari setelah pernikahannya. Komandan menghiburnya karena luka-luka yang ia derita, mendoakannya, dan mengirimnya kembali ke rumahnya untuk meluangkan waktu bersama istrinya hingga ia sembuh dari lukanya.
Setelah tidak melihat istrinya selama beberapa minggu setelah pernikahannya, ia mengatakan kepada saya (yang bercerita -pent) "Ketika Aku kembali ke rumah, ke istri saya, seakan Allah telah menempatkan cinta satu sama lain di hati kami. Kami tahu bahwa kami menikah untuk mencari ridho Allah, dan kami akan membantu satu sama lain untuk membangun istana kami di Jannah, bersama."
Kemudian, ia telah sembuh, Alhamdulillah, dan telah kembali untuk berjihad bersama istrinya yang penyabar yang mendukungnya dari rumah.
Semoga Allah memberikan kita Mujahidin seperti ikhwan ini, dan para istri seperti akhwat ini, Aamiin.
PASUKAN Israel telah mengusir sekitar 500 warga Palestina dari rumah mereka di Tepi Barat yang diduduki.
Banyak warga Palestina dipaksa untuk mengosongkan rumah mereka di daerah Wadi al-Maleh di sebelah utara Lembah Yordan di Tepi Barat yang diduduki pada hari Rabu kemarin (2/1/2013), AFP melaporkan.
Israel menyebut rumah-rumah warga itu berada di daerah “ilegal” dan mengatakan evakuasi merupakan tindakan sementara karena daerah tersebut akan dipakai untuk latihan militer.
“Karena latihan militer … surat pengusiran sementara dibagikan hari ini,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.
“Pada akhir latihan, warga akan diizinkan untuk kembali ke rumah mereka,” tambah pernyataan itu.
Namun, Majid al-Fitiani, gubernur wilayah Palestina, mengutuk aksi itu dan berkata, “Bahkan pengusiran selama 24 jam pun tidak bisa diterima.”
Tahun lalu, evakuasi lain telah dilakukan di area yang sama dengan alasan pasukan Israel akan melakukan latihan militer.
Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan, 60.000 warga Palestina yang tinggal di Lembah Yordan, sebanyak 3.400 orang sebagian atau seluruhnya berada dalam zona militer tertutup dan menghadapi risiko tinggi penggusuran paksa.
Para warga Palestina di daerah itu sering menghadapi evakuasi wajib atau penghancuran rumah mereka oleh tentara Israel.(fq/islampos/prtv)
Jenin (Ma’an) – tentara Israel hari Senin menyerbu sebuah masjid di sebuah desa dekat Jenin dengan alasan mencari barang antik milik Yahudi, kata seorang pejabat setempat mengatakan.
Kepala Dewan Desa Fahma Muhammad Eid Nawasra mengatakan kepada Ma’an bahwa pasukan Israel memasuki masjid saat shalat subuh.
Para serdadu menggeledah masjid dan menanyai para jamaah tentang sebuah batu kuno yang diukir dengan tulisan huruf Ibrani, kata Nawasra.
Penduduk desa mengatakan kepada prajurit itu bahwa mereka tidak tahu menahu tentang batu itu, ia menambahkan.
Israel yang sering mengklaim dirinya sebagai negara demokratis dan sering dipuji Amerika serikat sebagai negara demokratis menangkap 900 anak-anak Palestina selama tahun 2012.
Seperti yang dilansir situs www.english.alarabiya.net (27/12), mengutip dari pihak otoritas Palestina terdapat 900 anak-anak Palestina selama tahun 2012.
Eissa Karakea, Menteri Palestina Urusan Tahanan mengatakan Israel melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak dan semua hukum internasional dengan memberikan pengalaman traumatis kepada mereka.
Sementara itu, Menteri Keamanan Israel benar-benar mengatakan sebelumnya bahwa anak-anak Palestina tidak memiliki kekebalan hukum.
Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Departemen Urusan Tahanan diungkap jumlah anak-anak Palestina yang ditahan oleh pemerintah Israel telah meningkat dari 700 anak pada tahun 2011 menjadi 900 anak di tahun ini.
Menurut laporan itu, anak-anak itu biasanya dianiaya dan dipukuli secara brutal selama dalam tahanan agar mengakui kejahatan yang mereka tidak lakukan dan untuk menceritakan kepada teman-teman dan kenalan-kenalan mereka yang diduga melakukan kejahatan yang mengancam keamanan Israel.
Laporan itu juga menambahkan bahwa anak-anak itu diinterogasi selama berjam-jam, sementara tangan dan kaki mereka diikat dan kadang-kadang mata mereka ditutup. Di beberapa pusat interogasi, laporan tersebut mencatat, bahwa anak-anak dibiarkan kehujanan di luar selama berjam-jam. Dalam kebanyakan kasus, anak-anak itu menjadi sasaran berbagai bentuk hukuman kolektif.
Para tahanan itu dirampas hak-hak dasarnya seperti tidak boleh melihat keluarga mereka dan tidak boleh duduk dengan psikiater. Mereka sering ditahan bersama dengan para tahanan dewasa dan mengalami kekerasan verbal, fisik, dan seksual oleh sesama narapidana. (RZ)
Kejahahatan Amerika diberbagai kawasan dunia semakin terungkap. Amerika yang sering mengkritik negara lain sebagai pelanggar HAM, justru merupakan negara teroris, pelanggar HAM nomor wahid di dunia. Pengadilan HAM Eropa kemarin menyatakan bahwa CIA melakukan penyiksaan dan pemerkosaan di Irak.
Seperti yang dilansir www.globalresearch.ca (23/12),pengadilan HAM Eropa Menyebut Interogasi CIA sebagai “Penyiksaan”. Sebelumnya Pengadilan Kejahatan Perang menyatakan mantan Presiden Bush dan rekan-rekannya sebagai para penjahat perang.
Pada tanggal 18 Desember, Hamid al-Mutlaq, ketua sebuah organisasi HAM Irak mengatakan dalam sebuah konferensi pers di Baghdad terjadinya penyiksaan dan pelanggaran HAM dan perkosaan terhadap para wanita yang ditahan di penjara-penjara Irak. Laporan ini didasarkan pada kesaksian rahasia para tahanan wanita di penjara-penjara Irak.
Mutlaq mengatakan bahwa “laporan itu menegaskan apa yang baru-baru ini telah dinyatakan oleh beberapa anggota komite parlemen dan organisasi HAM, bahwa ada pelanggaran, penyiksaan dan pemerkosaan yang sistimatis terhadap para tahanan wanita di penjara-penjara Irak,”
Pada tanggal 12 Desember Gerakan Sadris mengajukan permohonan kepada Jaksa Penuntut Umum untuk mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Menteri Kehakiman Hassan Shammari dan para pejabat lainnya karena mencegah para anggota parlemen Irak mengunjungi penjara setelah mereka menerima informasi tentang adanya penyiksaan dan pemerkosaan terhadap beberapa narapidana.
Walaupun ada petunjuk keterlibatan aparat keamanan dalam penyiksaan sistematis dan pemerkosaan terhadap para tahanan wanita, komite penyelidikan yang dibentuk hanya menyatakan yang terjadi adalah “ancaman pemerkosaan”.
Perlu diketahui bahwa Amnesty International mengungkapkan dalam laporan yang dikeluarkan pada tanggal 12 September 2010, bahwa setidaknya ada tiga puluh ribu tahanan di penjara-penjara Irak yang belum dikeluarkan penilaian terhadap mereka, dan diperkirakan mendapatkan penyiksaan dan perlakuan buruk hingga kematian. Hal itu terjadi akibat penyiksaan atau perlakuan sewenang-wenang oleh para interogator atau sipir penjara, yang menolak untuk mengungkapkan nama-nama tahanan.
Pemerintah Amerika Bertanggungjawab
Pemerintahan AS bersalah atas munculnya tindakan penyiksaan, pemerkosaan dan sodomi. Pelanggaran HAM yang dimulai tahun 2004 dalam bentuk kekerasan fisik, psikologis, dan seksual, termasuk penyiksaan, perkosaan, sodomi, dan pembunuhan terhadap para tahanan di penjara Abu Ghraib di Irak mengundang perhatian publik. Tindakan ini dilakukan oleh para personel polisi militer Angkatan Darat Amerika Serikat, bersama dengan lembaga-lembaga pemerintah AS lain.
Pada September 2010 Amnesty International mengeluarkan sebuah laporan berjudul “Orde Baru, Pelanggaran Yang Sama; Penahanan Semena-Mena dan Penyiksaan di Irak” dimana masih ada hingga 30.000 tahanan yang tetap ditahan tanpa diberi hak dan sering disiksa atau dilecehkan. Direktur Amnesty untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Malcolm Smart melanjutkan dengan mengatakan “pasukan keamanan Irak bertanggung jawab karena secara sistematis melanggar hak para tahanan dan telah diizinkan.
Pada tanggal 11 Mei 2012 sebuah pengadilan dengan suara bulat menyampaikan vonis bersalah terhadap mantan Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan rekan-rekannya pada sidang Pengadilan Kejahatan Perang di Kuala Lumpur.
Dengan tuduhan melakukan tindak Kejahatan Penyiksaan dan Kejahatan Perang, pengadilan menyatakan para terdakwa yakni mantan Presiden AS George W. Bush dan rekan-rekannya yakni Richard Cheney, mantan Wakil Presiden AS, Donald Rumsfeld, mantan Menteri Pertahanan, Alberto Gonzales, lalu Penasihat Presiden Bush, David Addington, Penasehat Umum Wakil Presiden, William Haynes II, maka Penasihat Umum Menteri Pertahanan, Jay Bybee, Asisten Jaksa Agung, dan John Choon Yoo mantan Wakil Asisten Jaksa Agung, sebagai bersalah sebagaimana yang dituduhkan dan dihukum sebagai penjahat perang karena tindakan Penyiksaan dan Perlakuan Kejam, Tidak Manusiawi dan Merendahkan dari Para Pemohon yang merupakan korban kejahatan perang.
Pada tanggal 13 Desember Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa telah memutuskan bahwa warga negara Jerman Khaled el-Masri telah disiksa oleh agen-agen CIA. Ini adalah pertama kalinya pengadilan menjelaskan perlakuan oleh CIA sebagai penyiksaan. Para agen CIA telah menyiksa Khaled el-Masri, dengan sodomi, diikat, dan dipukuli, sementara polisi negara Macedonia hanya menonton, kata Pengadilan bersejarah HAM Eropa.
Akuntabilitas dan Keadilan bagi korban penyiksaan
James Goldston, direktur eksekutif Open Society Justice Initiative, menggambarkan putusan pengadilan HAM Eropa sebagai “hukuman otoritatif atas beberapa taktik yang ditolak yang dipakai dalam perang melawan teror pasca Peristiwa 11/9″.
Jadi, akhirnya kita melihat keadilan bagi para korban penyiksaan dalam “Perang Melawan Teror”. Mari kita berharap ini adalah awal dari sebuah proses yang akan terus meminta Pemerintah AS bertanggung jawab atas kejahatan perang dengan penyiksaan, dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Peter Van Buren, 24 tahun mantan pejabat Departemen Luar Negeri, mendesak rekan-rekan senegaranya untuk menerima tanggung jawab mereka.
Namun, Otoritas Irak yang merupakan pemerintah bentukan AS melanjutkan kebijakan yang sama sebagaimana kebijakan penjajah AS. Mereka menggunakan alasan yang sama dan taktik seperti yang dipakai Amerika Serikat untuk menghindari tanggung jawab mereka. Suatu hari mereka harus diseret ke pengadilan. (RZ)
Air mata Barack Obama menetes bagi anak-anak Newtown suatu hal yang kontras dengan sikap diamnya atas anak-anak yang dibunuh oleh pesawat-pesawat drone nya.
“Kata-kata saja tidak bisa menggambarkan betapa sedihnya anda, tidak juga mereka bisa menyembuhkan luka hati Anda. Tragedi ini harus diakhiri. Dan untuk mengakhirinya, kita harus berubah.” Setiap orang tua dapat menghubungkan apa yang dikatakan Presiden Barack Obama tentang pembunuhan 20 anak-anak di Newtown, Connecticut. Tidak ada seorangpun di dunia yang memiliki akses ke media yang tidak tersentuh oleh kesedihan penduduk kota itu.
Seharusnya yang berlaku bagi anak-anak yang dibunuh di sana oleh seorang pemuda gila juga berlaku bagi anak-anak yang dibunuh di Pakistan oleh presiden Amerika. Anak-anak itu sama pentingnya, selayaknya menjadi perhatian dunia. Namun tidak ada pidato atau air mata presiden bagi mereka, tidak ada gambar di halaman depan surat kabar di dunia, tidak ada wawancara dengan kaum kerabat yang berduka, tidak ada analisa hitungan menit tentang apa yang terjadi dan mengapa.
Jika para korban serangan drone Obama memang disebutkan oleh negara, mereka pasti akan disebutkan tidak benar-benar sebagai manusia. Orang-orang yang mengoperasikan pesawat drone, lapor majalah Rolling Stone, menggambarkan korban yang ditimbulkannya sebagai “kutu yang hancur “, “karena melihat tubuh-tubuh mereka melalui gambar video terlihat seperti sebuah serangga yang hancur”. Atau mereka dianggap sebagai tumbuh-tumbuhan: untuk membenarkan perang drone, penasehat kontraterorisme Obama Bruce Riedel menjelaskan bahwa “Anda harus memotong rumput sepanjang waktu. Begitu anda berhenti memotong, rumput akan tumbuh kembali.”.
Sebagaimana pemerintah George Bush di Irak, pemerintahan Obama tidak mengakui bukti kebenaran akan jatuhnya korban-korban sipil dari serangan pesawat drone CIA di barat laut Pakistan. Namun, sebuah laporan oleh sekolah-sekolah hukum di Stanford dan universitas-universitas New York menunjukkan bahwa selama tiga tahun pertama masa jabatannya, telah dilancarkan 259 serangan dimana dia bertanggung jawab atas pembunuhan antara 297 dan 569 warga sipil, di antaranya setidaknya ada 64 anak-anak. Ini adalah angka yang diambil dari laporan yang kredibel: mungkin ada lebih banyak korban yang belum sepenuhnya didokumentasikan.
Dampak yang lebih luas pada anak-anak di wilayah tersebut sangat menghancurkan. Banyak anak-anak yang disuruh meninggalkan sekolah karena khawatir bahwa pertemuan-pertemuan orang banyak dari jenis apapun akan menjadi sasaran. Ada beberapa serangan di sekolah sejak Bush meluncurkan program drone yang diperluas oleh Obama dengan begitu antusias: salah satu blunder Bush adalah menewaskan 69 anak-anak.
Penelitian ini melaporkan bahwa anak-anak menjerit ketakutan ketika mereka mendengar suara pesawat drone. Seorang psikolog lokal mengatakan bahwa ketakutan dan kengerian yang mereka saksikan menyebabkan ketakutan mental yang permanen. Anak-anak yang terluka oleh serangan pesawat drone itu mengatakan kepada para peneliti bahwa mereka menjadi sangat trauma untuk kembali ke sekolah dan telah meninggalkan harapan untuk memperoleh karir mereka yang mungkin mereka miliki. Mimpi mereka serta tubuh-tubuh mereka telah hancur.
Obama mungkin tidak sengaja membunuh anak-anak. Namun, kematian anak-anak itu merupakan hasil tak terelakkan pengerahan pesawat dronenya. Kita tidak tahu efek emosional atas kematian ini yang mungkin ada pada dirinya, karena dia maupun para pejabat pemerintahaanya tidak akan membahas masalah ini: hampir segala sesuatu yang berkaitan dengan pembunuhan di luar hukum oleh CIA di Pakistan dirahasiakan. Namun, Anda mendapatkan kesan bahwa tidak seorang pun di pemerintahannya yang mengkhawatirkan hal ini.
Dua hari sebelum pembunuhan di Newtown, sekretaris pers Obama ditanya tentang wanita dan anak-anak yang terbunuh oleh pesawat-pesawat drone di Yaman dan Pakistan. Dia menolak untuk menjawab, dengan alasan bahwa hal tersebut “rahasia”. Sebaliknya, dia mengarahkan wartawan pada sebuah pidato oleh John Brennan, asisten kontra-terorisme Obama. Brennan menegaskan bahwa “pembunuhan oleh al-Qaida atas penduduk tidak berdosa, sebagian besar adalah kaum muslim pria, wanita dan anak-anak, telah memberinya kesan dan citra yang buruk di mata umat Islam”.
Dia tampaknya tidak bisa melihat bahwa perang drone telah melakukan hal yang sama bagi AS. Bagi Brennan, rakyat barat laut Pakistan bukan serangga maupun rumput: targetnya adalah “kanker tumor”, “jaringan di sekitarnya”. Waspadalah terhadap siapapun yang menggambarkan manusia sebagai sesuatu yang selain manusia.
Ya, dia mengakui, kadang-kadang ada sedikit “kerusakan dengan korban lain”, tetapi AS melakukan “kepedulian yang luar biasa [untuk] memastikan presisi dan menghindari hilangnya nyawa orang-orang yang tidak bersalah”. Hal ini akan terjadi jika ada “ancaman berkelanjutan yang sebenarnya” atas kehidupan orang Amerika. Ini seperti ayam dan sapi yang dikalungi lonceng.
Doktrin “signature strike ” yang dikembangkan oleh Obama, yang tidak memiliki dasar hukum, hanya mencari pola. Suatu pola bisa terdiri dari sekelompok orang laki-laki tak dikenal yang membawa senjata (yang hampir tidak bisa dibedakan dari seluruh penduduk laki-laki dari utara-barat Pakistan), atau sekelompok orang tak dikenal yang terlihat seolah-olah mereka mungkin sedang merencanakan sesuatu. Inilah yang terjadi ketika upacara pernikahan dan pemakaman juga diserang, inilah alasan 40 orang-orang tua yang sedang membahas pembagian upah tambang krom juga dihancurkan pada Maret tahun lalu. Inilah salah satu alasan mengapa anak-anak terus dibunuh.
Obama jarang menyebutkan program drone dan tidak mengatakan apapun tentang pembunuhan terhadap anak-anak. Pernyataan yang hanya bisa saya temukan adalah respon singkat dan tidak jelas olehnya selama video conference Januari lalu. Pembunuhan telah diserahkan kepada pihak lain lain untuk membenarkan. Pada bulan Oktober penggembira Demokrat Joe Klein menyatakan kepada MSNBC bahwa “batasan pada akhirnya adalah anak usia empat tahun siapa yang dibunuh? Apa yang kita lakukan adalah membatasi kemungkinan bahwa anak-anak usia empat tahun disini akan terbunuh oleh tindakan teror serampangan”. Seperti yang ditunjukkan oleh Glenn Greenwald, menewaskan anak-anak usia empat tahun adalah apa yang dilakukan oleh para teroris. Hal ini tidak akan mencegah pembunuhan pembalasan, hal ini malah akan mendorong pembalasan.
Sebagian besar media di dunia, yang telah memperingati kematian anak-anak Newtown, mengabaikan pembunuhan oleh Obama ataupun menerima laporan versi resmi bahwa mereka yang tewas adalah “kelompok militan”. Tampaknya, anak-anak dari utara-barat Pakistan, bukan seperti anak-anak kita. Mereka tidak memiliki nama, tidak punya gambar, tidak ada peringatan kematian dengan lilin dan bunga dan boneka beruang. Mereka milik dunia lain: dunia serangga dan rumput atau jaringan yang selain manusia.
“Apakah kita,” tanya Obama pada hari Minggu, “siap untuk mengatakan bahwa kekerasan tersebut yang terjadi pada anak-anak kita tahun demi tahun adalah harga dari kebebasan yang kita miliki?” Ini adalah pertanyaan yang valid. Dia harus menerapkannya juga pada kekerasan yang dia lakukan pada anak-anak di Pakistan. (RZ; Sumber: www.guardian.co.uk,21/12)
JENIN - Sumber medis Palestina di Jenin, bagian utara Tepi Barat melaporkan pada Rabu (19/12/2012) bahwa beberapa penduduk tengah mendapatkan perawatan karena efek menghirup gas air mata setelah pasukan Zionis menembakkannya dalam bentrokan di pintu masuk kota. Dua anak juga ditangkap di desa yang berlokasi dekat dengan bentrokan tersebut.
Sumber mengatakan, militer Zionis memblokadejalan di dekat Jannat Park, menghentikan belasan kendaraan Palestina dan menginterogasi mereka.
Mereka juga menyerang sejumlah warga yang menentang berdirinya tembok pemisah, mendorong sebagian warga lain melemparkan batu ke arah tentara dan jip militer.
Tentara penjajah Yahudi kemudian menembakkan bom gas dan peluru karet berlapis logam dan menarik diri setelah itu.
Beberapa jam sebelumnya, tentara Zionis menculik dua anak Palestina dari desa Arbona, di timur Jenin.
Sumber-sumber melaporkan seperti dilansir IMEMC, tentara Zionis menangkap Zoheir Bani Hasan (12) dan Ayman Abdul Nasser Bani Hasan (11) ketika mereka berada di lahan pertanian milik keluarga mereka dan membawanya ke tempat yang tidak diketahui. (haninmazaya/arrahmah.com)
DAMASKUS - Kavkaz Center melaporkan mengutip sumber-sumber di Suriah, pihak oposisi anti-Assad, mereka mengatakan bahwa AS telah mengerahkan tim Xe (dulu Blackwater-red) di utara dan timur Suriah termasuk di pinggiran selatan Damaskus, mencoba untuk membunuh para pemimpin Mujahidin Jabhah an-Nushrah dan mereka yang bekerja sama dengan kelompok an-Nushrah.
Beberapa sumber mengklaim bahwa 3 kelompok-masing-masing 4 orang-dikirim ke Suriah melalui perbatasan Turki.
Dua dari mereka ditempatkan di pinggiran kota Aleppo, dan yang ketiga di Deir Az-Zour. Mereka diperintahkan oleh jenderal Amerika.
Anggota kelompok tersebut adalah tentara bayaran dari Irak dan Yordania yang dengan mudah berkomunikasi dengan penduduk setempat.
Sumber mengklaim sebelumnya mereka tentara bayaran yang bertindak di Irak dan Afghanistan. Mereka aktif ikut serta dalam pembunuhan para komandan Mujahidin di lapangan. Beberapa dari mereka yang dikerahkan di Suriah berasal dari kelompok "anti-terorisme" Yordania, CTB-71.
Mereka bersenjatan senapan otomatis, senapan mesin berat, pistol khusus berperedam suara dan senapan sniper
Sumber menyatakan, Washington tidak akan menyatakan secara terbuka bahwa mereka menggunakan Xe karena takut akan reaksi publik. (haninmazaya/arrahmah.com)
BAGHDAD - Amunisi Amerika mungkin menjadi alasan di balik jumlah besar bayi yang lahir cacat di Irak, ungkap sebuah penelitian pada Selasa (18/12/2012).
Jumlah anak yang lahir dengan kanker dan cacat lahir telah disorot dalam surat kabar Jerman, Der Spiegel, di mana warga Irak yang diwawancarai tidak bisa menjelaskan penyebab bayi lahir cacat yang begitu banyak di kota Basra, Irak.
"Beberapa hanya memiliki satu mata di dahi atau dua kepala," ujar Askar Bin Said, seorang pemilik lahan pemakaman di Irak, mengatakan kepada Del Spiegel, menjelaskan beberapa bayi meninggal saat baru dilahirkan, dimakamkan di pemakaman itu.
"Salah satu memiliki ekor seperti domba. Yang lainnya tampak seperti anak normal tetapi berwajah seperti monyet, atau ada seorang bayi perempuan di mana kakinya berdempetan, terlihat seperti setengah manusia setengah ikan," tambahnya.
Laporan tersebut mengutip sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan September dalam buletin Jerman, Pencemaran Lingkungan dan Toksikologi, menyebutkan terdapat peningkatan hingga tujuh kali lipat jumlah bayi lahir cacat di Basra antara tahun 1994 dan 2003. Dari 1.000 kelahiran, 23 memiliki cacat lahir, angka tinggi serupa juga dilaporkan dari kota Fallujah.
"Polusi perang-segala sesuatu dari logam berat dari ledakan senjata sampai radiasi yang ditinggalkan oleh deplet uranium yang digunakan dalam amunisi dan tank-tank AS-terhirup oleh warga Fallujah, merembes ke air tanah, mengalir di Sungai tigris di dekatnya, berkeliaran di udara yang dihirup warga," ujar sebuah laporan dari Global Research pada Selasa (18/12).
Penyakit yang ditemukan pada anak-anak termasuk hidrosefalus (air di otak), kelainan sumsum tulang belakang dan konsentrasi tinggi timbal dalam gigi susu anak-anak.
Laporan Der Spiegel menarik hubungan antara penggunaan amunisi uranium di negara tersebut selama bertahun-tahun pertempuran dengan kasus kanker yang terus melonjak.
"Ada hubungan antara kanker dengan radiasi. Kadang dibutuhkan 10 atau 20 tahun sebelum konsekuensi menampakkan diri," ujar Jawad al-Ali, spesialis kanker. (haninmazaya/arrahmah.com)