Comments

Tampilkan postingan dengan label Syi'ah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syi'ah. Tampilkan semua postingan

Kalah Lawan Oposisi Suriah, Milisi Hizbullah Dipulangkan

Tidak ada komentar
syiah hizbullah
Pasukan milisi Syi'ah Hizbullah yang awal bulan lalu di kirim untuk membantu rezim militer Assad di Suriah, kini harus menghadapi kenyataan untuk dipulangkan ke kampung halamannya. Puluhan milisi Syi'ah tersebut telah terluka dalam perang melawan pasukan oposisi.


Saat ini mereka telah ditampung di beberapa rumah sakit di kota Libanon, Ahad (26/5) kemarin. Seperti dilansir islammemo, Senin (27/5), milisi Syiah tersebut terpaksa dipulangkan karena menderita kekalahan saat menghadapi pasukan oposisi Suriah di kota Qushair, propinsi Homs, Suriah. Di antara mereka menderita cedera berat. Sedangkan sebagian lagi sudah menjadi jenazah.

Mereka tiba di rumah sakit Lebanan, Ahad (26/5) siang dengan diangkut beberapa ambulans. Sekitar 50 orang langsung mendapatkan perawatan intensif. Sedangkan sebagian langsung dibawa ke kamar jenazah.

Kenyataan pahit tersebut bertentangan dengan pidato pemimpin Hizbullah Libanon, Hasan Nasrullah yang menjanjikan kemenangan dalam perperangan di kota Qushair. Pidato Nasrallah pada Sabtu (25/5) itu sehari sebelum pasukannya dipulangkan setelah mengalami kekalahan.

Dalam pidatonya, Nasrallah mengatakan telah mengerahkan tank, meriam serta rudal yang siap menghantam pasukan oposisi di kota Qushair. Dalam pidato itu Hizbullah terlihat sangat optimis memenangkan pertempuran melawan pasukan oposisi. [republika/www.bringislam.web.id]
Read more...

Syiah Nushairiyah Berkeyakinan Nabi Muhammad Diciptakan Ali Bin Abi Thalib

Tidak ada komentar

nushairiyah
UMAT Islam harus mewaspadai perkembangan Syiah di Indonesia. Konflik yang terjadi di Irak, Bahrain, dan Suriah adalah dampak dari kesesatan akidah syiah.Bahkan Syiah Nushairiyah di Suriah punya keyakinan sendiri tentang Nabi Muhammad SAW.
“Nabi Muhammad di mata Syiah Nushairiyah hanyalah ciptaan Ali bin Abi Thalib dan pembantunya Ali,” kata Sekjen Forum Indonesia Pedulu Suriah, Ustadz Abu Harits Lc dalam Tabligh Akbar Konflik Suriah Dampak Kesesatan Akidah Syiah di Kota Wisata, Cibubur, Selasa (12/3/2013).
Kesesatan Syiah Nushairiyah lainnya adalah kelancangan mereka menafsirkan Al Quran sesuai dengan hawa nasfusnya keinginannya. Dampak dari keyakinan maka muncul beberapa produk ajaran menyesatkan yang mengingkari ajaran Rasulullah.
“Puasa bagi mereka hanya berlaku untuk tidak jima saja. Sedangkan makan dan minum masih ditolerir,” terangnya.
Kenyataan ini ditemuinya sendiri ketika memberikan amanah bantuan dari rakyat Indonesia untuk muslim Suriah. Untuk dapat membedakan Syiah Nushairiyah dan Ahlussunah dapat dilihat saat bulan Ramadhan.
“Waktu itu kita masuk ke perkampungan saat bulan ramadhan. Nampak sekali orang yang tidak berpuasa adalah orang Syiah Nushairiyah,” ungkapnya.
Kelompok Syiah Nushairiyah juga tidak memiliki Syariat haji layaknya Ahlussunah. Bahkan Ka’bah mnjdi simbol permusuhan mereka.
“Mereka benci kabah,” terangnya. (Pz/Islampos/www.globalmuslim.web.id)
Read more...

Syiah: Murtad Menjadi Kristen Lebih Menyenangkan Daripada Terus Menjadi Sunni

Tidak ada komentar
PENGKHIANATAN Syiah sudah sampai puncaknya, dimana mereka berusaha keras menghadapi Ahlu sunnah. Sampai-sampai salah seorang penguasa Iran berpikir hendak memanggil kelompok- kelompok missionaris guna membuat perjanjian dengan mereka untuk mengkristenkan kaum muslim Sunni dari suku Kurdi.

DR. Amal As-Subki dalam bukunya Tarikh Iran As-Siyasi mengatakan:
ritual malam natalDari beberapa hal yang benar-benar mengkhawatirkan dalam politik kristenisasi Amerika adalah, ditanda tanganinya kesepakatan antara masing-masing pemerintahan Iran, Irak, dan Turki di Adenbera 1910.

Kesepakatan itu secara terang-terangan merekomendasikan kepada Gereja Evangelis Louseri untuk melakukan penyebaran agama Kristen di antara masyarakat suku Kurdi muslim yang ada di ketiga negara Islam tersebut. Pemerintahan Iran pada masa Syah Reza Pahlavi telah memperbaharui kesepakatan itu pada tahun 1928. Maksud dari Syah Iran ini adalah untuk merealisasikan berbagai macam tujuan, di antaranya:

Pertama; Mengurangi kepadatan (jumlah) penduduk Kurdi yang telah menetap di Azarbaijan Iran sejak ratusan tahun yang lalu, yang sering kali bekerja sama dengan Turki yang Sunni melawan Iran, untuk menyelamatkan mereka dari kezhaliman.

Kedua; Menghancurkan kekuatan mereka dengan mengubah sebagian besar dari mereka menjadi Kristen, paska sikap pemerintah Turki yang berubah dalam mendukung mereka setelah revolusi Kamal Ataturk pada seperempat pertama abad kedua puluh.

Ketiga; Meleburkan identitas Kurdi (Sunni) dalam nasionalisme Iran, untuk memantapkan kekuasaan atas mereka dan mencegah bersatunya nasionalisme Kurdi dengan rekan-rekannya di Irak, Turki dan Syiria.

Sungguh. Aneh Cara Berpikir Para Pengkhianat Itu!
Apakah Ali bin Abi Thalib atau salah satu dari Ahlul Bait rela dengan keluarnya seseorang dari Islam menjadi Nasrani atau yang lainnya?!

Kemudian mereka memandang orang-orang Kurdi (orang-orang Sunni), seandainya mereka berubah menjadi Nasrani, ketajaman mereka akan tumpul, lalu mereka akan terbebas dari kejahatan orang-orang. Kurdi.

Ini bukanlah sekadar permainan politik. Tetapi, sudah seperti inilah keyakinan orang-orang Syiah. Seorang Nashibi (Sunni) lebih dahsyat kekufurannya daripada seorang Nasrani atau Yahudi. Karena itulah para imam mereka memperbolehkan shadaqah kepada kafir dzimmi dan tidak boleh kepada orang Sunni.

Ayatullah mereka, Khomeini berkata:
“Yang menjadi pertimbangan untuk orang yang diberi shadaqah Sunnah adalah kefakiran bukan karena keimanan dan Islam. Maka orang kaya boleh memberikannya kepada kafir dzimmi dan orang yang melanggar (mukhalif), walaupun mereka orang asing. Dan tidak boleh diberikan kepada Nashibi (Sunni) dan kafir harbi, walaupun mereka kerabat (jadi bagi mereka, orang Ahlu sunnah disamakan dengan orang kafir harbi).”

Ini berarti bahwa perbuatan ini, yaitu kesepakatan gerakan-gerakan kristenisasi terhadap orang-orang suku Kurdi, bukan hanya pandangan Syah Reza Pahlavi, orang yang juga ditentang oleh Khomeini, tetapi juga pandangan Khomeini dan sebagian besar orang-orang Syiah Rafidhah yang ekstrim.
Sumber: Pengkhianatan-pengkhianatan Syiah dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam, karangan Dr Imad Abdus Sami’ Husain, Penerbit Al-Kautsar.
(Pz/Islampos)
Read more...

HTI: Aqidah Syiah Nushairiyah Bashar Assad murtad dari Islam

Tidak ada komentar
JAKARTA. Ajaran Syiah Nushairiyah yang dianut oleh Bashar Al Assad dinilai sudah sesat dan berada di luar Islam. Pernyataan ini disampaikan Pimpinan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Hafidz Abdurahman. Menurut Hafidz, ajaran Syiah Nushairiyah  mengajarkan untuk menuhankan Sahabat Ali Bin Abu Thalib.

"Akidah Syiah dari Bashar Al Assad ini juga menghalalkan perzinahan," jelasnya dalam kegiatan "Halaqoh Peradaban Hizbut Tahrir Indonesia" di Wisma Antara Jakarta, Kamis (22/11) seperti dilansir hidayatullah.com.

Hafidz juga menilai, permasalahan pembebasan Masjid Al Aqsa tidak bisa dipisahkan dari perjuangan Mujahidin Suriah. Agresi Militer Zionis-Israel ke Jalur Gaza tidak lebih untuk mengalihkan perhatian umat Islam dari konflik Suriah.

"Israel takut, jika Bashar jatuh dan Suriah dikuasai Ahlus Sunnah," jelasnya lagi.
Ketakutan Israel itu sendiri didasari oleh ancaman bersatunya tiga negara Islam timur tengah. Mereka itu adalah Turki, Mesir hingga pemerintahan Hamas di Jalur Gaza.

"Terlebih teriak-teriakan penegakan khilafah terus bergema di kalangan Mujahidin Suriah, ini ancaman serius bagi Israel," ujar Hafidz berapi-api.

Hafidz meluruskan kesalahpahaman umat mengenai penegakan khilafah. Menurutnya, banyak yang salah paham dengan kalimat HTI mengenai solusi Jalur Gaza adalah dengan khilafah.

Baginya, penegakan khilafah dengan pengiriman bantuan kemanusiaan tidak bisa dipisahkan. Ia mengklarifikasi jika HTI menolak mengirimkan bantuan dan menolak gagasan jihad di Jalur Gaza maupun Suriah sebelum khilafah tegak.

"Keduanya sama-sama penting. Membangkitkan persatuan umat dengan khilafah sambil tetap mengirimkan bantuan kemanusiaan dan mujahidin ke Jalur gaza dan Suriah," tegasnya lagi. (bilal/arrahmah.com)
Read more...

Membaca Kerancuan Jalaludin Rakhmat

Tidak ada komentar



 
Ilustrasi Jalal. Foto diambil dari tempo.co

Oleh; Fahmi Salim 

DALAM
artikelnya “Menyikapi Fatwa MUI Jatim” di Harian Republika (08/11/2012) Dr. KH. Ma’ruf Amin (Ketua MUI Pusat) menyimpulkan bahwa Fatwa MUI Jatim dan Sampang tentang Syiah sudah pada tempatnya dan sesuai aturan. Tak lama berselang, Jalaludin Rakhmat, tokoh Syiah yang juga Ketua Dewan Syura IJABI dalam artikelnya “Menyikapi Fatwa tentang Fatwa” di Republika (10/11/2012) menggugat KH. Ma’ruf Amin dan Fatwa MUI Jatim.

Inti gugatannya, Pertama, fatwa yang salah sama seperti obat yang salah diberikan kepada pasien, alih-alih menyembuhkan, ia justru bisa membunuh. Lebih jauh Jalal menyebut Fatwa MUI Sampang ikut serta membunuh muslim di Sampang dan Fatwa MUI Jatim juga menjadi dasar bagi Pengadilan Tinggi Jawa Timur  untuk memberi tambahan hukuman 2 tahun penjara kepada Tajul Muluk.

Kedua, menurut Jalal, Fatwa MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin mengabaikan dan tidak membaca keputusan Konferensi Islam Internasional di Jordania 4-6 Juli 2005 yang melahirkan Risalah Amman yang poinnya menegaskan bahwa pengikut dua mazhab Syiah (Ja’fari dan Zaidi) adalah Muslim sebagaimana pengikut empat mazhab Sunni (Hanafi, Maliki, Syafii dan Hanbali) dan tidak boleh mengkafirkannya.

Menjawab gugatan pertama, fatwa resmi yang dikeluarkan oleh lembaga ulama seperti MUI, terutama menyangkut akidah dan paham agama, adalah dalam rangka meluruskan pemahaman dan membentengi akidah umat.

MUI sangat peka terhadap penyimpangan agama dan akan segera menghadapinya dengan serius dan sungguh-sungguh, “Penetapan fatwa (MUI, pen) bersifat responsif, proaktif, dan antisipatif.” (Himpunan Fatwa MUI:5) dan “Setiap usaha pendangkalan agama dan penyalahgunaan dalil-dalil adalah merusak kemurnian dan kemantapan hidup beragama. Oleh karena itu, MUI bertekad menanganinya secara serius dan terus menerus.” (Fatwa MUI, 1 Juni 1980, dalam Himpunan Fatwa MUI: 42).

Fatwa MUI berdasarkan dalil-dalil yang jelas untuk mendapatkan kebenaran dan kemurnian agama, “Fatwa MUI berdasarkan pada Al-Qur’an, Sunnah (Hadis), Ijma’ dan Qiyas, serta dalil lain yang dianggap muktabar.” (Himpunan Fatwa MUI:5), dan “MUI berwenang menetapkan fatwa mengenai masalah-masalah keagamaan secara umum, terutama masalah hukum (fikih) dan masalah akidah yang menyangkut kebenaran dan kemurnian keimanan umat Islam Indonesia” (Himpunan Fatwa MUI:7). Jelasnya, Fatwa tidak pernah dirumuskan untuk menciptakan permusuhan dan apalagi pembunuhan. Fakta ini sangat gamblang untuk direnungkan.
Mengabaikan Akar Masalah
Jalaludin Rahmat dalam artikelnya sama sekali tidak menyebutkan akar masalah yang memicu keluarnya Fatwa MUI Jatim, yang didahului sebelumnya oleh MUI Sampang tentang ajaran Syiah yang dibawa oleh Tajul Muluk di Sampang.


Dalam konsideran Fatwa MUI Sampang disebutkan bahwa Tajul Muluk telah menyebarkan ajaran-ajaran yang terindikasi menyimpang dari ajaran Islam sebagai berikut: a. Mengimani imam yang 12 dan menganggap perkataan mereka sebagai wahyu, b. Al-Quran yang ada saat ini dianggap sudah tidak orisinil, c. Melaknat sahabat Nabi Muhammad, Abu Bakar, Umar dan Usman, d. Shalat Jumat tidak wajib, e. Haji tidak wajib ke Makkah cukup ke Karbala, f. Nikah mut’ah dianggap sunnah, g. Hanya taat kepada imam yang 12 dan memusuhi musuh-musuhnya imam yang 12, h. Shalat hanya dilakukan tiga waktu, i. Aurat yang wajib ditutup hanya alat vital saja, j. Shalat Tarawih, Dhuha dan Puasa Asyuro haram. (Fatwa MUI Sampang tanggal 8 shafar 1433, 1 Januari 2012)

Sebelum keluar fatwa MUI Sampang yang dikukuhkan oleh fatwa MUI Jatim, para ulama Sampang dan Madura terlebih dahulu mengumpulkan para saksi warga yang pernah mengikuti pengajian-pengajian Tajul Muluk. Dari pengakuan para saksi warga terkumpul 29 poin ajaran yang ditanyakan warga kepada ulama dan dianggap menyimpang. (temuan 50 Ulama Madura, ada 22 poin ajaran yang menyimpang).

Dalam dokumen “Dakwaan Kesesatan yang Dituduhkan kepada Tajul Muluk Ma’mun” terungkap beberapa ajaran krusial misalnya, a) Mereka menganggap bahwa Kitab Suci Al-Qur’an yang ada pada tangan Muslimin se-alam dunia tidak murni diturunkan Allah, akan tetapi sudah terdapat penambahan, pengurangan dan perubahan dalam susunan Ayat-ayatnya (no.4), b) Mereka menganggap bahwa semua ummat Islam – selain kaum Syi’ah - mulai dari para Shahabat Nabi hingga hari qiamat – termasuk didalamnya tiga Khalifah Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman) dan imam empat Madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’ie, Ahmad) termasuk pula Bujuk Batu Ampar – adalah orang-orang pendusta, dan beraqidah dengan aqidah bodoh lagi murtad karena membenarkan tiga Khalifah tersebut di dalam merebut kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (no.5). (lihat Dokumen Fatwa MUI Jatim dan Sampang tentang Ajaran Tajul Muluk di Sampang)

Tidak hanya Tajul Muluk, Jalaludin Rahmat sendiri terbukti banyak sekali melecehkan para Sahabat Nabi. Berikut ini adalah sebagian daftar pelecehan Jalaludin Rahmat terhadap para sahabat utama Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassalam yang mejelek-jelekkan, melaknat dan bahkan mengkafirkan mereka.

Di dalam buku-buku yang diedit atau ditulisnya sendiri ditemukan antara lain;
•    Syiah melaknat orang yang dilaknat Fatimah (Emilia Renita AZ dalam “40 Masalah Syiah”. Bandung: IJABI. Cet ke 2. 2009.  hal. 90);

•    Dan yang dilaknat Fatimah adalah Abu Bakar dan Umar (Jalaluddin Rakhmat dalam “Meraih Cinta Ilahi”, Depok: Pustaka IIMaN, 2008. hal. 404-405);

•    Para sahabat suka membantah perintah Nabi Muhammad (Jalaluddin Rakhmat dalam “Sahabat Dalam Timbangan Al-Quran, Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”, PPs UIN Alauddin 2009. hal. 7);

•    "Para Sahabat Merobah-robah Agama" (Jalal dalam artikel di Buletin al Tanwir Yayasan Muthahhari Edisi Khusus No. 298. 10 Muharram 1431 H.  hal. 3);

•    Para Sahabat Murtad (Ibid. hal. 4);

•    Utsman tidak menikahi dua putri Nabi Saw, tapi dua wanita lain (Jalaluddin Rakhmat dalam “Al Mushthafa (Manusia Pilihan yang Disucikan)”, Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2008 hal.164).

•    Dia jelas membenci julukan Dzu-Nuraini (pemilik dua cahaya) karena Utsman bin Affan menikah dengan dua puteri Rasulullah SAW. Julukan itu kata Jalal, harus kita hapus (mansukh)! (Ibid, hal.165-166);

•    Tragedi Karbala merupakan gabungan dari pengkhianatan sahabat dan kelaliman musuh (Bani umayyah) (Jalaluddin Rakhmat dalam “Meraih Cinta Ilahi Depok”, Pustaka IIMaN, 2008 hal.493).

Tentu saja, berbagai tulisan yang bernada melecehkan, menghujat dan mendiskreditkan para sahabat utama Nabi seperti di atas tidak bisa dikatakan tidak sesat! Namun sungguh aneh, para penyokong dan pendakwah Syiah seperti Jalaludin Rahmat dan Haidar Bagir selalu meminta kaum Sunni kedepankan akhlak dan mengangkat persatuan ummat di hadapan ajaran-ajaran yang menyinggung akidah dan perasaan Sunni.


Dalam artikelnya di Republika (02/11/2012) berjudul ‘Wa’tashimu bi Hablillahi Jami’an’, Haidar Bagir menyitir perkataan Imam At-Thahawi dalam ‘Al-‘Aqidah Al-Thahawiyah’ bahwa, “Kita tidak menisbatkan kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan kepada seseorang selama tidak tampak dari mereka sesuatu yang menunjukkan hal-hal demikian itu. Dan sebagai gantinya, kita menyerahkan semua yang tidak tampak itu kepada Allah, kita hanya menghukum berdasar yang tampak saja.”
Tampaknya ia sedang meminta kaum Sunni untuk tidak menghukumi kafir dan seterusnya kepada Syiah. Padahal dalam kitab yang sama, jika mau jujur, Imam At-Thahawi sangat keras menghukumi orang yang berani lancang menghujat para sahabat Nabi berdasarkan kaidah “Kita hanya menghukum berdasar yang tampak saja”.


Beliau menulis, “Kita mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wassalam dan tidak berlebihan dalam mencintai salah seorang mereka, kita juga tidak berlepas diri dari mereka. Kita membenci orang yang membenci mereka (para sahabat) dan yang menyebut mereka tidak baik. Kita tidak menyebut mereka kecuali dengan kebaikan. Mencintai mereka adalah agama, iman dan ihsan. Membenci mereka adalah kekafiran, kemunafikan dan sikap melampaui batas (thughyan).” (Al-‘Aqidah Al-Thahawiyah dan Syarahnya karya Ibnu Abi Al-‘Izz hlm.689)


Kontroversi Risalah Amman

Gugatan Jalaludin kedua adalah masalah Deklarasi Amman. Seperti disebutkan Jalaludin Rahmat, sebenarnya bukanlah Ijma' Ulama dalam pengertian yang fixed dalam ushul fikih. Risalah Amman, juga deklarasi Makkah dan Bogor lebih bersifat politis. Ia dipicu oleh konflik Sunni–Syiah di Iraq pasca tumbangnya Saddam Husain tahun 2003 yang digulingkan oleh AS dan Sekutu yang berkolaborasi dengan kaum Syiah Iraq dengan kompensasi politik yang menguntungkan posisi Syiah di Iraq pasca Saddam.


Tak pelak terjadi eskalasi kekerasan antara Sunni-Syiah, di mana Sunni menuding Syiah menyerahkan kedaulatan Iraq kepada Amerika dengan keuntungan politik tertentu, telah membantai ribuan kaum Sunni Iraq dan merampas tanah-tanah wakaf Ahlus Sunnah di Iraq.

Dalam rangka merespons konflik sektarian yang berdarah itu, maka terjadilah upaya-upaya mediasi dunia Islam seperti pertemuan Amman, Makkah dan Bogor.


Bukti bahwa Risalah Amman 2005 itu sekedar basa-basi politis (bukan fatwa keagamaan) dan tidak mengikat seluruh ulama yang hadir, adalah fakta Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi yang ikut tercantum namanya (diundang dan menandatangani Risalah Amman) ternyata merilis tiga fatwa tentang Syiah Imamiyah 12 di dalam kitab “Fatawa Mu’ashirah” jilid 4 yang terbit pada tahun 2009.


Dalam fatwanya, beliau membongkar kesesatan Syiah Imamiyah 12 dengan membentangkan pokok-pokok perbedaan akidah antara Ahlus Sunnah dan Syiah, hukum mencaci para sahabat Nabi dan sikapnya tentang pendekatan (Taqrib) sunni-syiah pasca Muktamar Doha-Qatar tanggal 20-22 Januari 2007.


Tampak dari fatwa Syeikh Al-Qaradhawi (2009) bahwa kaum Syiah masih dikategorikan Muslim (seperti yang dinyatakan oleh Risalah Amman), tapi itu tidak berarti golongan Muslim tersebut bersih dan terbebas dari kesesatan terutama dalah hal-hal pokok akidah sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Qaradhawi.

Tentu saja Syeikh Al-Qaradhawi lebih alim dan mumpuni dari pada Jalaludin Rahmat, sehingga mampu bedakan mana kekufuran dan kesesatan. Sehingga wajar para ulama MUI Jatim dan KH. Ma’ruf Amin juga merasa tak perlu menengok Risalah Amman yang terbukti bukan Ijma Ulama itu.

Ada baiknya kita mengaca kepada sikap institusi Al-Azhar Mesir dalam menyikapi dakwah Syiah. Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad At-Thayyib, menyatakan seperti di lansir Koran Ahram (09/11/2012) bahwa Al-Azhar menolak keras penyebaran ajaran syiah di negeri-negeri Ahlus Sunnah, karena akan merongrong persatuan dunia Islam, mengancam stabilitas, memecah belah umat dan membuka peluang kepada zionisme untuk menimbulkan isu-isu perselisihan mazhab di Negara-negara Islam. Wallahua’lam.*


Penulis adalah Komisi Pengkajian dan Penelitian MUI

hidayatullah
Read more...

Propaganda Syiah dan “Risalah Amman” [1]

Tidak ada komentar
Oleh: Abu Muhammad Waskito

SETELAH
sebelumnya di koran Republika terjadi polemik sengit antara tokoh Syiah (Haidar Bagir) dan tokoh-tokoh Ahlus Sunnah (Muhammad Baharun, Fahmi Salim, dan Kholili Hasib); pada tanggal 9 Februari 2012, masih di Republika, sebuah lembaga bernama Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) menurunkan publikasi besar dengan judul, Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Umat. Publikasi ini didukung Radio Iran, IRIB versi Indonesia; dimuat setengah halaman sebagai iklan, di Republika edisi hari itu, halaman 2.

Di bawah ini kami sebutkan isi lengkap publikasi dari YMIB tersebut; di dalamnya kami berikan catatan kaki sebagai penjelasan, agar kaum Muslimin bisa membedakan antara kebenaran dan kebathilan.

Melawan Politik Adu Domba dengan Persatuan Umat


“Menyimak berbagai persilangan pendapat mengenai mazhab-mazhab dalam Islam yang berkembang belakangan ini, khususnya tanda-tanda penggunaan kekerasan yang mengancam keutuhan bukan hanya umat Islam, melainkan bangsa Indonesia dan NKRI secara keseluruhan, kami dari Yayasan Muslim Indonesia Bersatu (YMIB) merasa perlu berbagi sejarah pendekatan antar mazhab dalam Islam khususnya antara mazhab Ahlus-Sunnah dan Syi’ah.”


Catatan 1:

Retorika membenturkan gerakan Islam dengan negara (NKRI) sudah dipakai sejak zaman Orde Baru, ketika LB, Moerdani menguasai militer. Seakan, setiap umat Islam menuntut hak-nya, ia selalu dicurigai ingin “meruntuhkan NKRI”. Dalam kasus Sampang, warga NU marah karena penistaan-penistaan agama yang dilakukan oleh Tajul Muluk dan kawan-kawan. Selalu ada penyulut kekerasan itu. Dalam kasus di Puger Jember, seorang ustadz NU bernama Fauzi terkena bacokan dari aktivis-aktivis Syiah yang ingin menggagalkan acara kajian seputar kesesatan Syiah dengan menghadirkan Habib Muhdhor Al Hamid yang dikenal tegas kepada Syiah. Baca artikel, Pengikut Syiah Mengamuk, Aktivis NU Kena Bacok, situs Voa-islam, 31 Mei 2012].


Sesungguhnya inisiatif-inisiatif seperti ini sudah terjadi sejak berabad-abad yang lalu, bahkan telah melahirkan karya-karya besar dalam kedua mazhab besar Islam ini.

Catatan 2:

Ibnu Hazm Az Zhahiri t ketika disebutkan perkataan orang Nashrani, beliau berkata, “Sedangkan perkataan mereka –Nashrani- yang mendakwahkan bahwa orang Rafidhah telah mengubah Al Qur`an, maka sesungguhnya orang-orang Rafidhah itu bukan bagian dari kaum Muslimin; mereka adalah firqah buatan yang awal-awal muncul setelah wafatnya Rasulullah , sekitar 25 tahun kemudian… Ia adalah kelompok yang mengalir seperti mengalirnya Yahudi dan Nashrani dalam hal kebohongan dan kekufuran.” (Al Fashlu fil Milal wan Nihal, juz 2, hlm. 213].


"Tapi, yang mungkin belum banyak diketahui adalah aktivitas-aktivitas ke arah yang sama di abad 20 dan abad 21 ini. Khususnya terkait dengan upaya-upaya pendekatan mazhab yang dilakukan secara intensif di Mesir, baik di kalangan gerakan Ikhwanul-Muslimin maupun Al-Azhar. Puncaknya adalah deklarasi yang belakangan disebut sebagai Risalah Amman, yang ditandatangani di ibukota Yordania ini," demikian kutip YMIB di Republika

Catatan 3:


Al Azhar, Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, dll. mereka bagian dari Islam; tetapi mereka bukan satu-satunya suara yang mewakili kaum Muslimin. Sudah sangat dikenal tentang salah satu definisi Ahlus Sunnah, yaitu: “Wa amma al ma’na al aam li ahlis Sunnah wal jama'ah fa yadkhulu fihi jami’ul muntasibina ilal Islam, maa ‘aada ar rafidhah” (dan makna umum Ahlus Sunnah wal Jama'ah masuk ke dalamnya siapa saja yang mengikatkan dirinya dengan Islam, selain orang Rafidhah atau Syiah). [Al Wajiz Fi Aqidatis Salafis Shalih, karya Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsari, hlm. 34]. Karena itu sangat dikenal dua istilah dikotomis ini: Ahlus Sunnah vs Syiah, atau Sunni vs Syi’i. Al Azhar, Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna, dll. tidak bisa mengubah kesepakatan umat ini].

Ceritanya bermula dengan Imam Syahid Hasan Al-Banna, pembawa panji gerakan Islam terbesar era modern, Al-Ikhwan Al-Muslimun. Dalam kegigihan beliau memperjuangkan Islam, beliau termasuk salah satu tokoh ide pendekatan antarmazhab dan berperan-serta dalam aktivitas Jama’ah Taqrib Baina Al-Mazhahib Al-Islamiyah di Kairo. Mengenai hal ini, salah satu pemikir Ikhwanul Muslimin Ustad Salim Bahansawi dalam bukunya berkata: “Sejak Jama’ah Taqrib Antarmazhab didirikan, dan Imam Hasan al-Banna dan Ayatullah Qummi berperan dalam pendiriannya, kerja sama antara Ikhwanul Muslimin dan Syiah tercipta.” [Limaza Ightala Hasan al-Banna, cetakan pertama, Darul I’tisham, hal. 32; yang dikutip dalam buku Al-Sunnah Al-Muftara ‘Alaiha, karya Ustadz Salim al-Bahansawi, cetakan Kairo, hal. 57].bersambung..*


Tulisan ini dikutip dari buku terbaru penulis berjudul, “Mendamaikan Ahlus Sunnah di Nusantara: Mencari Titik Kesepakatan antara Asy’ariyah dan Wahabiyah”.  Diterbitkan oleh Pustaka Al Kautsar Jakarta, bulan Oktober 2012. Dilakukan adaptasi ke dalam format tulisan online   

hidayatullah
Read more...

Kisah kekejaman pasukan Syi'ah Nushairiyah terhadap Aisyah di pabrik gula Suriah

Tidak ada komentar
- Cerita ini dipaparkan dari seorang gadis Sunni (Ahlu Sunnah wal Jama'ah) bernama Aisyah di Rumah Sakit di Turki, Istanbul. Dilengkapi keterangan dari salah seorang saksi hidup yang selamat.
Tanggal: 15 – 28 Juni 2011
Lokasi: Pabrik Gula Jisr Al-Shughour, Suriah Utara, kota Sunni, 20km dari Turki, perbatasan Syria.
__________________
 
Pada tanggal 14 Juni, pasukan Basyar mengitari Jisr Al-Shughour dengan formasi 3000 tentara dan 300 tank, untuk menggerebek kota pada keesokan harinya, yaitu tanggal 15 Juni.

Berita bocoran terakhir dari kota tersebut adalah, hampir 30 orang dibunuh dan dikubur di Pabrik Gula, kemudian di atasnya dilapisi semen. Hari-hari berikutnya hingga 28 Juni, berita mengenai peristiwa di Jisr Al-Shughour ditutup-tutupi dari dunia. Berita tersebut mulai bocor ke luar, 13 hari kemudian. Tepatnya tanggal 28 Juni, ketika tentara Assad meninggalkan kota itu untuk menggerebek kota lain.

Pada hari Jumat tanggal 17 Juni 2011, para jenderal Assad membunuh kurang lebih 30 pemuda dan menguburkannya di Pabrik Gula, lalu melapisinya dengan semen. Tapi saat malam tiba, para jenderal itu tidak menemukan tempat yang lebih baik untuk tidur dan menginap kecuali Pabrik Gula ini, sehingga merekapun memutuskan untuk memanfaatkannya sebagai markas selama operasi penyerangan kota.

Untuk menghidupkan situasi, sebuah ide sadis melintas di benak para jenderal itu. Mereka ingin beberapa budak Sunni telanjang untuk hiburan!

Mereka memerintahkan menangkap gadis-gadis tercantik di kota bernama Aisyah, sebanyak kurang lebih 20 orang gadis.

"Pertama kali kami memasuki pabrik, kami ditelanjangi dan menjadi sasaran pelecehan serta pemukulan, kemudian para jenderal itu memerintahkan tentaranya untuk berhenti memukul karena mereka ingin menikmati daging putih bersih kami," kata Aisyah.

"Setelah beberapa hari, saya pasrah tentang perkosaan tersebut. Sudah menjadi bagian dari hidup saya. Tapi jika menggunakan tubuh saya dan sayapun menyiapkan sarapan, makan siang dan makan malam serta menghidangkan teh dan kopi, setidaknya mereka memakaikan selembar baju di tubuh saya. Saya benci menjadi budak telanjang. Saya hanya berharap mereka menutupi tubuh saya," kata Aisyah.

"Pelecehan ditujukan pada nama Aisyah. Maka ketika para jenderal itu kembali dari peperangan, mereka memerintahkan kami berbaris dan menjilati sepatu booth mereka sampai bersih sebagai rasa terimakasih pada mereka. Mereka bilang, mereka akan membunuh pemberontak dan melindungi kami dari pemerkosaan. Mereka biasa mengatakan, "Aisyah….. Kemari. Jilati booth-ku", "Aisyah….. Bawa kopiku", "Aisyah….. Siapa Allah-mu sekarang?" dan hal-hal sangat buruk lainnya," kata Aisyah.

"Saya sudah tahu apa yang akan terjadi sejak diberitahu bahwa yang ditangkap adalah gadis-gadis cantik yang muda. Tapi saya tidak pernah tahu mereka memilih kami karena nama kami sampai keesokan harinya saat mereka mulai memanggil kami semua, Aisyah, dan melecehkan kami dengan berbagai cara yang mungkin, barulah kami mengerti apa yang mereka inginkan" kata Aisyah.

"Hari pertama dia menyuntikkan sesuatu ke kaki saya hingga kami tidak mampu berdiri. Saya berharap dia membunuh saya saja malam itu, namun mereka tidak pernah menyuntik kami lagi."

"Pada hari ke-3 mereka membunuh salah satu gadis yang melawan salah seorang tentara itu. Mereka memotong putingnya karena dia menentangnya. Lalu kami tahu dari pembicaraan para tentara itu bahwa mereka memperkosanya kemudian membunuhnya dan menguburnya bersama 'yang lainnya' di bawah pabrik! Ini untuk menakuti para gadis agar tidak ada lagi yang berpikir untuk menentangnya," kata saksi mata yang selamat.

"Kami takut, kami membahagiakan mereka, dan kami memuaskan seksual mereka bahkan di depan umum. Mereka 'main' dengan kami bahkan di atas meja saat mereka sedang merencanakan bagaimana memindahkan tank-tank mereka untuk menghancurkan kota kami. Satu-satunya yang biasa membuat kami nyaman adalah saat kami memasak untuk mereka. Tentu saja kami dilarang saling berbicara ataupun saling melihat. Tapi kami menikmati makanan enak sejak kami memasaknya," kata Aisyah.

"Setelah hari ke-10, mereka bangun dan menghilang begitu saja. Kami telanjang. Kami sendirian di pabrik. Kami tidak berani kabur. Kami tidak berani saling bertanya apakah kami sudah boleh saling berbicara atau tidak. Kami benar-benar takut. Lalu beberapa pria dari desa kami datang dan menyelamatkan kami" kata Aisyah.
"Alhamdulillah, saya telah keguguran dan dapat berjalan lebih baik sekarang. Saya masih ingat wajah-wajah mereka, nama-nama mereka dan kota-kota asal mereka. Saya bersumpah akan membalas dendam. Hanya kakak (laki-laki) saya yang tahu cerita keseluruhannya, yang tidak mungkin saya paparkan kepada keluarga saya karena mereka tidak akan lagi mengakui saya sebagai anak mereka setelah orang Syiah memperkosa saya. Tidak ada pria akan menikahi saya karena saya seorang budak. Saya akan mencoba mengubah nama saya dan tidak akan ada seorangpun mengenal saya," kata Aisyah.

Video klip kedatangan tank-tank yang menyerang pada hari itu.
Sumber: Syria Care: Pertubuhan Penyayang Islam Membantu Syria
(zafaran/muslimahzone.com)
Read more...

Talmud, Kitab Hitam Iblis

Tidak ada komentar
(Transkrip Ceramah AQI 090112)
TALMUD, KITAB HITAM IBLIS
Oleh: Ustadz Achmad Rofi’i, Lc.M.Mpd

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Sebagai bagian dari pembahasan kita berkaitan dengan Yahudi, maka berikut ini akan kita kaji tentang At Talmud, Kitab yang dianggap suci oleh kelompok Zionis Yahudi di seluruh dunia; dimana perilaku dan tindak-tanduk kaum Zionis Isro’iil mengacu pada ayat-ayat Talmudisme tersebut.
Apakah Talmud itu?
Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Darul ‘Ulum, Kairo, Prof. Ahmad Syalabi menulis, “Taurat bukanlah satu-satunya kitab suci bagi bangsa Yahudi, tetapi ada riwayat-riwayat lain yang disampaikan dan dibawa oleh para pendeta-pendeta Yahudi secara turun temurun. Riwayat-riwayat inilah yang kemudian dikenal dengan Talmud.” (Muqaranatul Adyan: Al-Yahudiyah, 1990).
Untuk mengkaji perkara At Talmud, ada pula suatu Kitab yakni “Kitaab Isro’iil Al Aswad: Al Kanzu Al Marshuud Fii Fadhoo’ih At Talmuud”. Kitab ini pada mulanya berasal dari buku yang ditulis oleh Dr. August Rohling (1839-1931), seorang Professor pada University of Prague, berjudul “Die polemik und das manschenopfer des rabbinismus”, lalu diterjemahkan kedalam bahasa Arab oleh DR.Yusuf  Hana Nashrullooh (dari Mesir), kemudian diberi kata pengantar oleh seorang ‘alim dari Mesir bernama Syaikh Prof. Dr. Muhammad ‘Abdullooh Asy Syarqowi. Dan telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul “Talmud, Kitab ‘Hitam’ Yahudi yang Menggemparkan”.
Talmud adalah sebuah kitab yang dianggap suci oleh orang-orang Yahudi, yang berisi ajaran-ajaran agama yang bersifat lisan. Lebih jelasnya, Talmud adalah kitab ideologi yang menafsirkan dan menjelaskan semua pengetahuan, ajaran, undang-undang kehidupan, moral dan budaya kaum Yahudi Isro’iil.
Pada prinsipnya kitab Talmud terbagi dalam dua bagian: Pertama, Mishnah merupakan naskah asli dari undang-undang yang dibuat oleh kaum Yahudi untuk kepentingan mereka sendiri, guna melengkapi kitab Taurat (Perjanjian Lama). Jadi Mishnah adalah merupakan kodifikasi Undang-Undang Lisan (Oral Law atau Oral Tradition) yang pindah dan beredar dari mulut ke mulut para Rahib atau berupa catatan-catatan penjelasan terhadap Syari’at Nabi Musa عليه السلام yang ditulis oleh Rahib-Rahib di kalangan Yahudi. Kemudian karena mereka merasa takut akan kehilangan syarah-syarah tersebut, maka pada tahun 190-200 M oleh seorang Rahib (Rabbi) Yahudi bernama Judah Hanasi catatan-catatan tafsiran tersebut dikumpulkan menjadi suatu Kitab yang disebut sebagai Mishnah.
Kitab Mishnah ini ditulis dalam bahasa Ibrani Baru atau New Hebrew (yang tidak lagi sama dengan bahasa Ibrani yang digunakan dalam Taurat / Kitab Perjanjian Lama), dimana bahasa Ibrani Baru tersebut telah terpengaruh oleh Bahasa Yunani, Latin dan Parsi.
Kedua, Gemara, yang muncul akibat adanya berbagai perdebatan dan pertikaian pendapat dari para Rahib Yahudi terhadap kandungan Kitab Mishnah. Sehingga pada abad-abad berikutnya Mishnah itu diberi catatan kaki, komentar, syarah, tafsir dan diberi tambahan penjelasan-penjelasan yang sangat banyak oleh para Rahib Yahudi, dimana penjelasan-penjelasan itu disebut sebagai Gemara. Dengan demikian Syari’at Nabi Musa عليه السلامtelah bercampur dengan Gemara yang berasal dari para Rahib Yahudi; atau dengan kata lain bahwa campuran antara teks (Mishnah) dan syarah (Gemara) inilah yang menjadi cikal bakal dari munculnya Kitab baru yang bernama Talmud.
Adapun Kitab Gemara ini ditulis dalam bahasa Aramia / Aramaic, sehingga antara Mishnah dan Gemara terdapat perbedaan bahasa yang sangat jauh sekali.
Gemara terdiri atas: Gemara Yerushalmi (Gemara Palestina / Gemara Baitul Maqdis) yang berisi rekaman diskusi para Rahib yang sesungguhnya bukanlah Rahib-Rahib Yahudi yang berada di Palestina, namun adalah Rahib-Rahib Kerajaan yang diketuai oleh Rabbi Jochanna. Gemara Yerushalmiini selesai dikodifikasikan pada sekitar abad ke-5 Masehi. Sementara Gemara Babylonia (Gemara Bavli) adalah hasil rekaman penafsiran kitb Mishnah oleh para RahibYahudi di Babilonia, yang mana penyusunannya selesai sekitar abad ke-6 Masehi.
Mishnah dengan tafsiran Gemara Yerushalmi,disebut sebagai “Talmud Yerushalmi”. Sedangkan Mishnah dengan tafsiran Gemara Babylonia (Gemara Bavli), disebut sebagai “Talmud Babylonia” (Talmud Bavli).
Secara ringkasnya, Mishnah adalah isi dan Gemara adalah penjelasan. Keduanya disatukan menjadi satu Kitab yang disebut Talmud.

Talmud Yerushalmi (Talmud Palestina / Talmud Baitul Maqdis)

Naskah Talmud Yerushalmi (Talmud Palestina)
Kalau seseorang menyebutkan kata “Talmud” maka yang dimaksudkan biasanya adalah Talmud Babylonia, oleh karena mayoritas kaum Yahudi kurang mengakui Talmud Yerushalmi sebab ia sangat ringkas dan samar. Umumnya mereka hanya bersandar pada Talmud Babylonia sebagai prioritas pertama mereka.

Talmud Babylonia (Talmud Bavli)

Naskah Talmud Babylonia (Talmud Bavli)
Kedudukan Talmud dimata Kaum Yahudi
Dr. Augutst Rohling menyatakan, “Kaum Yahudi meyakini bahwa Talmud adalah lebih suci ketimbang Taurat.” (Al Kanzu Al Marshuud Fii Fadhoo’ih At Talmuud, Bab II).
Dr. Joseph Barcklay, penulis buku “Hebrew Literature”, dengan tegas menyatakan bahwa seluruh bagian dari Talmud merupakan pengingkaran terhadap Taurat Musa (Hebrew Literature, hal 40).
Padahal, menurut seorang filsuf yang juga Rabbi Tertinggi bangsa Yahudi pada zamannya, Rabbi Maimonides (Moses bin Maimon, 1190 M), bangsa Yahudi sesungguhnya tidak pernah bisa memastikan dengan tepat satu pun doktrin dari Talmud karena sejarahnya yang sangat kacau-balau.
Maimonides berkata, “Sejak zaman Nabi Musa dulu sampai zaman Rabbi Judah Hanasi (135-220 M), para pendeta Yahudi tidak pernah sepakat tentang kebenaran satu doktrin pun yang ada pada “Undang-Undang Lisan” (Talmud) yang diajarkan secara terbuka. Para pemimpin agama Yahudi atau nabi dari setiap generasi menulis beberapa catatan tentang kitab tersebut berdasarkan kepada apa-apa yang ia dengar dari guru-guru pendahulunya untuk disampaikan kepada kaumnya.”
Namun demikian dalam sebuah teks Talmud, salah seorang pendeta / Rahib Yahudi berkata, “Orang yang mempelajari Taurat berarti telah melakukan sebuah keutamaan yang tidak layak diberi imbalan (pahala), orang yang mempelajari Mishnah berarti telah melakukan sebuah keutamaan yang layak diberi imbalan, sedangkan orang yang mempelajari Gemara berarti telah melakukan sebuah keutamaan yang paling besar.” (Babha Metsia, vol.33a)
Bahkan pendeta mereka yakni Rabbi Roski berkata, “Jadikanlah perhatianmu kepada ucapan-ucapan para Rabbi (Talmud) melebihi perhatianmu kepada Syari’at Musa.” (Erubin, vol. 216)
Kemudian dalam buku mereka yang lain yang berjudul “Shaghijan”, disebutkan bahwa, “Barangsiapa yang meremehkan pernyataan-pernyataan para Rabbi (Talmud), maka ia harus dibunuh. Akan tetapi, tidak demikian halnya dengan orang yang meremehkan pernyataan-pernyataan Taurat. Dan tak ada ampun bagi siapa saja yang meninggalkan ajaran-ajaran Talmud dan hanya sibuk dengan Taurat, karena ajaran para Rabbi adalah lebih utama dari ajaran Musa.”
 Pendeta mereka yang lain yakni Rabbi Beshai berkata, “Kalian tidak boleh berteman dengan orang yang hanya mempelajari Taurat dan Mishnah, tetapi tidak mempelajari Gemara.”
Bahkan lebih ekstrim lagi, seorang Rabbi pada tahun 1500 menyebutkan dalam Kitabnya bahwa, “Barangsiapa yang hanya mempelajari Taurat tanpa mempelajari Mishnah atau Gemara, maka sungguh ia tidak bertuhan.”
Jelaslah bahwa Talmud yang bukan merupakan firman Allooh سبحانه وتعالى itu oleh orang-orang Yahudi dianggap lebih baik dan lebih utama daripada Taurat yang merupakan syari’at Nabi Musa عليه السلام dan yang berasal dari Allooh سبحانه وتعالى.
Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى,
Dengan mengetahui perkara Talmud ini, teringatlah kita akan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 78 :
وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقاً يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُم بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِندِ اللّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
Artinya:
Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allooh”, padahal ia bukan dari sisi Allooh. Mereka berkata dusta terhadap Allooh, sedang mereka mengetahui.”
Ketika ‘Ulama Ahlus Sunnah Al Imaam Ibnu Katsiir رحمه الله menafsirkan QS. Aali ‘Imroon (3) ayat 78  ini, beliau berkata, “Allooh سبحانه وتعالى memberitahu tentang Yahudi (– semoga kutukan Allooh سبحانه وتعالى atas mereka –), bahwa diantara mereka ada sekelompok orang yang memutarbalikkan firman Allooh سبحانه وتعالى dari posisinya, kemudian menggantinya dan menghapusnya dari maksud yang sebenarnya untuk memberi kebimbangan pada orang-orang bodoh bahwa yang demikian itu terdapat dalam Kitabullooh. Dan mereka menisbatkannya pada Allooh سبحانه وتعالى, padahal yang demikian itu adalah berdusta atas nama Allooh سبحانه وتعالى, sedangkan mereka menyadari bahwa mereka telah berdusta dan mengada-ada semua itu.”
Perhatikan pula firman-Nya dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 79 :
فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ لِيَشْتَرُواْ بِهِ ثَمَناً قَلِيلاً فَوَيْلٌ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَّهُمْ مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Artinya:
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: “Ini dari Allooh”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka, akibat dari apa yang mereka kerjakan.”
Betapa kaum Yahudi Bani Isro’iil telah jauh berpaling dari Taurat / Syari’at Nabi Musa عليه السلام, dan mereka lebih condong kepada Talmud  yang merupakan tulisan Rahib-Rahib (pendeta-pendeta mereka), bahkan menyatakan bahwa Talmud adalah lebih utama daripada Taurat yang datang dari sisi Allooh سبحانه وتعالى.
Naskah ‘Ayat-Ayat Iblis’ Talmud
Di Indonesia, Z.A. Maulani dalam bukunya yang berjudul “Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia” telah mengkaji perkara At Talmud ini, khususnya pada halaman 88 hingga halaman 109 buku tersebut, beliau (serta berbagai sumber lainnya) memaparkan sejumlah ayat-ayat Talmud yang menjadi dasar segala tindakan kaum Zionis Yahudi terhadap orang-orang non-Yahudi (yang mereka istilahkan sebagai Goyyim atau Gentiles).Dengan demikian dapatlah kita pahami mengapa kaum Zionis Yahudi bersikap rasialis, memandang rendah bangsa lain, arogan serta gemar menebarkan kebencian, teror serta permusuhan (peperangan) terhadap orang-orang non Yahudi. Hal tersebut adalah dikarenakan sikap mereka itu dipengaruhi oleh ayat-ayat Talmud yang mereka anggap suci, yakni antara lain adalah sebagai berikut :
1. Talmud mengajarkan ketaatan mutlak pada Rabbi-Rabbi (pendeta-pendeta) Yahudi :
Barangsiapa tidak taat kepada rabbi mereka akan dihukum dengan cara dijerang dalam kotoran manusia yang mendidih di neraka” (Erubin 2b)
2. Talmud memperbolehkan orang Yahudi untuk melakukan kejahatan, asalkan dilakukan secara sembunyi-sembunyi :
Bilamana seorang Yahudi tergoda untuk melakukan kejahatan, maka hendaklah ia pergi ke suatu kota di mana ia tidak dikenal orang, dan lakukanlah kejahatan itu di sana.” (Moed Kattan 17a)
3. Talmud mengajarkan bahwa hukuman menganiaya orang Yahudi adalah hukuman mati :
Jika seorang kafir menganiaya orang Yahudi, maka orang kafir itu harus dibunuh.” (Sanhedrin 58b)
4. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi boleh menipu orang non-Yahudi :
Seorang Yahudi tidak wajib membayar upah kepada orang kafir yang bekerja kepadanya” (Sanhedrin 57a)
Orang-orang Yahudi harus selalu berusaha untuk menipudaya orang-orang non-Yahudi.” (Zohar I, 168a)
Jika dua orang Yahudi menipu orang non-Yahudi, mereka harus membagi keuntungannya.” (Choschen Ham 183, 7)
Orang Yahudi boleh mengeksploitasi kesalahan orang non-Yahudi dan menipunya.” (Talmud IV/1/113b)
5. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi mempunyai kedudukan hukum yang lebih tinggi daripada orang non-Yahudi :
Jika lembu seorang yahudi melukai lembu orang Kan’an, tidak perlu ada ganti rugi. Jika lembu orang Kan’an melukai lembu orang Yahudi, maka orang itu wajib membayar ganti rugi sepenuh- penuhnya. (Baba Kamma 37b)
Terhadap seorang non-Yahudi tidak menjadikan Orang Yahudi berzina. Bisa terkena hukuman bagi orang Yahudi hanya bila berzina dengan Yahudi lainnya, yaitu isteri seorang Yahudi. Isteri non-Yahudi tidak termasuk.”(Talmud IV/4/52b)
Tuhan tidak mengampuni orang Yahudi yang mengawinkan anak perempuannya kepada orang tua, atau memungut menantu bagi anak laki-lakinya yang masih bayi, atau mengembalikan barang hilang milik orang Cuthea (kafir, bukan Yahudi). (Sanhedrin 57a)
6. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi boleh mencuri barang milik orang non-Yahudi :
Jika seorang Yahudi menemukan barang hilang milik orang kafir, ia tidak wajib mengembalikan kepada pemiliknya.” (Baba Mezia 24a, ayat ini ditegaskan kembali dalam Baba Kamma 113b)
7. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi boleh merampok dan membunuh orang non-Yahudi :
Jika seorang Yahudi membunuh seorang Cuthea (kafir, bukan Yahudi), tidak ada hukuman mati. Apa yang dicuri oleh seorang Yahudi boleh dimilikinya”. (Sanhedrin 57a)
Kaum kafir adalah di luar perlindungan hukum dan Tuhan membukakan uang mereka untuk Bani Isro’iil.” (Baba Kamma 37b)
Tanah orang non-Yahudi, kepunyaan orang Yahudi yang pertama kali menggunakannya.” (Babba Bathra 54b)
Kepemilikan orang non-Yahudi seperti padang pasir yang tidak dimiliki; dan semua orang (setiap Yahudi) yang merampasnya, berarti telah memilikinya.” (Talmud IV/3/54b)
“Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon ben Yohai, “Tob shebe goyyim harog”(“Bahkan goyyim yang baik sekalipun, seluruhnya harus dibunuh.”  (Perjanjian Kecil, Soferim 15, Kaedah 10)
8. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi boleh berdusta pada orang non-Yahudi :
Orang Yahudi boleh berdusta untuk menipu orang kafir. (Baba Kamma 113a)
Setiap orang Yahudi boleh menggunakan kebohongan dan sumpah palsu untuk membawa seorang non-Yahudi kepada kejatuhan.”(Babha Kama 113a)
9. Talmud mengajarkan bahwa orang non-Yahudi adalah hewan (bukan manusia) :
Semua anak keturunan orang kafir (bukan Yahudi) tergolong sama dengan binatang.”(Yabamoth 98a)
Anak perempuan orang kafir (bukan Yahudi) sama dengan ‘niddah’ (najis) sejak lahir”. (Abodah Zarah 36b)
Orang kafir (bukan Yahudi) lebih senang berhubungan seks dengan lembu.” (Abodah Zarah 22a-22b)
Hanya orang-orang Yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non Yahudi bukanlah manusia, melainkan binatang.” (Kerihoth 6b hal.78, Yebamoth 61a)
Orang-orang non-Yahudi harus dijauhi, bahkan lebih daripada babi yang sakit.” (Orachi Chaiim57,6a)
Engkau disebut manusia (Adam), tetapi ‘Goyyim’ (orang non-Yahudi) tidak disebut sebagai manusia.” (Ezekiel 34:31).
Tidak ada isteri bagi non-Yahudi, mereka sesungguhnya bukan isterinya.” (Talmud IV/4/81 dan 82b)
Telah diajarkan: Begitulah (Rabbi) Simeon ben Yohai menerangkan (61a) bahwa kuburan orang ‘goyyim’ tidak termasuk tempat yang suci untuk mendapatkan ‘ohel’ (memberikan sikap ruku’ terhadap kuburan), karena telah dikatakan, wahai domba-domba-Ku yang ada di padang gembalaan-Ku, kalin adalah manusia (Adam)” (Ezekiel 34 : 31), “kalian disebut manusia (Adam), tetapi kaum kafir itu tidak disebut manusia keturunan Adam.” (Yebamoth 61a)
10. Talmud mengajarkan bahwa orang Yahudi boleh melakukan praktek riba hanya pada orang-orang non-Yahudi :
Orang Yahudi boleh mempraktekkan riba terhadap orang non-Yahudi.” (Talmud IV/2/70b)
Tetaplah terus berjual beli dengan orang-orang non-Yahudi, jika mereka harus membayar uang untuk itu.” (Abhodah Zarah 2a T)
11. Talmud mengajarkan bahwa hanya orang-orang Yahudi yang mempunyai kedudukan tinggi disisi Tuhan (Yahweh) :
Tuhan (Yahweh) tidak pernah marah kepada orang-orang Yahudi, melainkan hanya (marah) kepada orang-orang non-Yahudi.” (Talmud IV/8/4a)
12. Talmud mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi adalah mulia, sedangkan orang-orang non-Yahudi adalah budak-budak mereka :
Orang-orang non-Yahudi diciptakan sebagi budak untuk melayani orang-orang Yahudi.” (Midrasch Talpioth 225)
Dimana saja mereka (orang-orang Yahudi) datang, mereka akan menjadi pangeran raja-raja.” (Sanhedrin 104a)
Ketika Messiah (Raja Yahudi Terakhir atau Ratu Adil) datang, semuanya akan menjadi budak-budak orang-orang Yahudi.” (Erubin)
13. Talmud mengajarkan bahwa angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus diminimalkan :
Angka kelahiran orang-orang non-Yahudi harus ditekan sekecil mungkin.” (Zohar II, 4b)
14. Talmud bahkan mengajarkan hal-hal yang “aneh” dan tidak sepantasnya :
“….. Adam telah bersetubuh dengan semua binatang, ketika ia berada di surga.” (Yebamoth 63a)
Seorang Yahudi boleh mengawini anak perempuan berumur tiga tahun (persisnya, tiga tahun satu hari.” (Sanhedrin 55b)
Seorang Yahudi diperbolehkan bersetubuh dengan anak perempuan, asalkan saja anak itu berada dibawah sembilan tahun.” (Sanhedrin 54b)
Seorang perempuan yang telah bersetubuh dengan seekor binatang, diperbolehkan menikah dengan pendeta Yahudi. Seorang perempuan Yahudi yang telah bersetubuh dengan jin juga diperbolehkan kawin dengan seorang pendeta Yahudi.” (Yebamoth 59b)
Seorang Rabbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkan-Nya. Tuhan pun mengakui bahwa Rabbi itu memenangkan debat tersebut.” (Baba Mezia 59b)
Sesatnya Perkataan dan Ajaran Para Rabbi Penganut Talmud
Adapun, didalam “Kitaab Isro’iil Al Aswad: Al Kanzu Al Marshuud Fii Fadhoo’ih At Talmuud” (tarjamah) halaman 193 – 247, telah dipaparkan berbagai perkataan para Rabbi-Rabbi Yahudi yang menunjukkan tetang kesesatan ajaran Talmud mereka, yang dapat kita simak sebagaimana berikut ini:
Didalam Kitab seorang Yahudi bernama Kraft yang terbit pada tahun 1590 dinyatakan, “Ketahuilah bahwa perkataan para Rabbi lebih utama dari perkataan para Nabi. Disamping itu, kamu harus mengakui perkataan para Rabbi ini sebagai Syari’at. Karena perkataan mereka adalah perkataan yang langsung dari Allah. Apabila seorang Rabbi berkata kepadamu bahwa tangan kanan ada di sebelah kiri ataupun sebaliknya, maka benarkanlah perkataannya itu dan jangan membantahnya.”
Maimonides, salah seorang cendekiawan Yahudi yang meninggal di awal abad 13, berkata, “Takut kepada Rabbi sama dengan takut kepada Allah.”
Didalam Talmud halaman 74 disebutkan bahwa, “Sesungguhnya ajaran-ajaran para Rabbi tidak boleh dibantah dan diubah walaupun dengan perintah Allah! Suatu hari terjadi perselisihan antara Allah dan para Rabbi Yahudi tentang suatu masalah. Setelah terjadi perdebatan panjang, akhirnya penyelesaian masalah itu diserahkan kepada salah seorang Rabbi. Lalu ia memaksa Allah untuk mengakui kesalahan-Nya, setelah Rabbi itu berhasil memutuskan perkara tersebut.”
Betapa kufurnya pernyataan tersebut! Bayangkan, Allooh سبحانه وتعالى Pencipta langit dan bumi ini dikatakan tidak lebih baik dari para Rabbi Yahudi. Nauudzu billaahi min dzaalik.
Maka didalam Al Qur’an Surat Al Maa’idah (5) ayat 64, Allooh سبحانه وتعالى melaknat kekufuran orang-orang Yahudi Bani Isro’iil ini dengan firman-Nya sebagai berikut:
وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللّهِ مَغْلُولَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُواْ بِمَا قَالُواْ بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيراً مِّنْهُم مَّا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ طُغْيَاناً وَكُفْراً وَأَلْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاء إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كُلَّمَا أَوْقَدُواْ نَاراً لِّلْحَرْبِ أَطْفَأَهَا اللّهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الأَرْضِ فَسَاداً وَاللّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya:
Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allooh terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dila`nat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allooh terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Qur’an yang diturunkan kepadamu dari Robb-mu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian diantara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allooh memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan di muka bumi dan Allooh tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.”
Didalam Talmud juga dinyatakan bahwa, “Bani Isro’iil lebih tinggi derajatnya disisi Allah daripada malaikat. Jika seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi, maka seolah-olah orang itu telah memukul Tuhan. Kaum Yahudi (– sebagaimana yang ditulis oleh Rabbi-Rabbi mereka –) adalah bagian dari Allah, seperti seorang anak merupakan bagian dari bapaknya. Oleh karena itu, disebutkan didalam Talmud bahwa apabila seorang non-Yahudi memukul orang Yahudi, maka orang itu harus mati.” (Sanhedrin halaman: 2, no: 58)
Betapa hal ini telah dibantah oleh Allooh سبحانه وتعالى dalam firman-Nya yang termaktub pada QS. Al Maa’idah (5) ayat 18 berikut ini :
وَقَالَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى نَحْنُ أَبْنَاء اللّهِ وَأَحِبَّاؤُهُ قُلْ فَلِمَ يُعَذِّبُكُم بِذُنُوبِكُم بَلْ أَنتُم بَشَرٌ مِّمَّنْ خَلَقَ يَغْفِرُ لِمَن يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَن يَشَاءُ وَلِلّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَإِلَيْهِ الْمَصِيرُ
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nashroni mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allooh dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allooh menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allooh dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allooh-lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara keduanya. Dan kepada Allooh-lah kembali (segala sesuatu).
Kemudian didalam Talmud Yerusalem (Talmud Yerushalmi) halaman 94 disebutkan bahwa, “Air mani yang darinya tercipta bangsa-bangsa lain yang berada diluar agama Yahudi, adalah air mani kuda.”
Jadi dalam ajaran Talmud, orang-orang selain orang Yahudi itu adalah binatang, yang mereka anggap sebagai keledai, babi, anjing atau bahkan lebih rendah daripada anjing. dan sebagainya. Perhatikan pernyataan-pernyataan dalam Talmud sebagaimana berikut ini:
-  “Kaum Yahudi akan menjadi bernajis apabila ia menyentuh kuburan orang-orang non Yahudi, karena mereka itu adalah binatang, bukan manusia.” (Bayamut, no: 6)
-  “Hari-hari raya yang suci bukanlah dijadikan untuk orang-orang asing dan bukan pula untuk anjing-anjing.” (Kitab Keluaran pasal 12 ayat 16)
-  Rabbi Manahem berkata, “Wahai bangsa Yahudi, sesungguhnya kamu adalah keturunan manusia karena rohmu berasal dari roh Tuhan. Adapun ummat-ummat lain adalah tidaklah demikian, karena roh mereka berasal dari roh yang bernajis.”
-  Rabbi Abarbaniel berkata, “Hanya bangsa terpilih saja yang berhak mendapatkan kehidupan yang abadi. Sedangkan bangsa-bangsa lainnya, perumpamaan mereka adalah seperti keledai-keledai. Sehingga, hubungan kekerabatan antara orang-orang Yahudi dan orang-orang non Yahudi tidak terjalin sama sekali, karena tidak mungkin manusia menjalin kekerabatan dengan keledai.”
Kaum Yahudi juga menganggap bahwa rumah-rumah ibadah ummat-ummat lain adalah seperti kandang-kandang binatang.
-  Menurut Rabbi Ariel, “Orang-orang diluar Yahudi adalah sama seperti babi-babi hutan, yang penuh dengan najis.”
Orang-orang Yahudi pun beranggapan bahwa tidak dibenarkan berbuat baik ataupun berbelas kasihan terhadap orang-orang diluar Yahudi, karena dalam anggapan mereka orang-orang non Yahudi tersebut bukanlah manusia. Simaklah pernyataan para Rabbi Yahudi itu sebagai berikut:
-  “Kamu tidak boleh berbelas kasihan kepada orang gila.” (Sanhedrin halaman 1, no: 92)
-  Rabbi Jarson berkata, “Tidak pantas seorang laki-laki yang shoolih (Yahudi) berbelas kasihan kepada laki-laki yang jahat (non-Yahudi).”
-  Menurut ajaran Talmud, “Orang-orang Yahudi diperbolehkan bersikap munafiq terhadap orang-orang lain yang non-Yahudi.”
Bahkan orang-orang Yahudi beranggapan bahwa bumi ini semata-mata hanyalah milik orang-orang Yahudi, sehingga orang-orang Yahudi bebas menguasai harta bahkan darah (nyawa) orang-orang diluar Yahudi. Perhatikan pernyataan para Rabbi Yahudi tersebut:
- Rabbi Elbo berkata, “Allah telah mengangkat kaum Yahudi sebagai penguasa harta benda ummat-ummat lainnya, bahkan darah (nyawa) mereka.”
-  Rabbi Isha berkata, “Ketika aku lihat pohon anggur telah berbuah, aku menyuruh pembantuku untuk memetik buahnya untukku jika pemilik pohon itu adalah orang asing; tetapi jika pemiliknya adalah orang Yahudi, maka aku tidak mau melakukannya.”
-  Disebutkan didalam Talmud bahwa Rabbi Samuel, salah seorang Rabbi terkemuka Yahudi, berpendapat bahwa, “Mencuri harta orang-orang non Yahudi adalah tidak terlarang dalam Syari’at.” (Ia sendiri pernah membeli bejana emas dari non-Yahudi yang dikira tembaga oleh orang itu. Dan ia hanya membayar 4 dirham kepada penjual itu, lalu mencuri lagi 1 dirham darinya)
-  Disebutkan didalam Talmud antara lain perkataan Rabbi Levi bin Jarson, bahwa, “Tidak diperbolehkan bagi kaum Yahudi untuk memberi pinjaman kepada orang asing, kecuali dengan jalan riba.”
Namun disisi lain, riba tersebut tidak diperbolehkan untuk diterapkan diantara sesama mereka kaum Yahudi, sebagaimana dijelaskan oleh Rabbi Yashai, “Para Rabbi Yahudi tidak membolehkan untuk mengambil bunga dari orang-orang Yahudi.”
-  Dinyatakan dalam Talmud, “Bunuhlah orang-orang baik yang bukan dari Bani Isro’iil. Diharomkan bagi orang Yahudi untuk menyelamatkan orang non-Yahudi dari kematian atau mengeluarkannya dari lubang yang ia terperosok kedalamnya, karena dengan melakukan itu berarti menjaga kehidupan para penyembah berhala (orang non-Yahudi).”
Bahkan terdapat tambahan keterangan pada Talmud tersebut, “Apabila salah seorang pemuja berhala (orang non-Yahudi) terperosok kedalam lubang, kamu harus menutupi lubang tersebut dengan batu!
Rabbi Raschi berkata, “Diwajibkan melakukan segala cara yang diperlukan supaya penyembah berhala (orang non Yahudi) itu tidak dapat selamat darinya!”
Oleh karena itu tidaklah heran bahwa peperangan di berbagai belahan dunia ini, terorisme dan permusuhan dilancarkan oleh orang-orang Zionis Yahudi terhadap bangsa lain. Itu semua adalah “grand design” (rencana besar) mereka. Merekalah perancang peperangan-peperangan tersebut, sebagaimana hal ini diakui sendiri oleh mereka. Perhatikanlah apa yang dikatakan oleh Marcus Ravage (penulis biografi Yahudi Rothschild)pada tahun 1928, dalam esainya yang berjudul “The Real Case Against the Jews” sebagai berikut:
“Anda belum mulai menghargai kedalaman sebenarnya dari kesalahan kita. Kami adalah penyusup. Kami adalah pengganggu. Kami adalah perusak prinsip-prinsip, korup, subversif . Kami telah mengambil alam dunia anda, cita-cita anda, takdir anda, dan bermain-main malapetaka dengan mereka. Kami berada dibalik peperangan, bukan hanya perang-perang besar yang terakhir, akan tetapi hampir di semua peperangan anda, bukan hanya revolusi Rusia akan tetapi di setiap revolusi besar lainnya dalam sejarah anda. Kami telah membawa perpecahan dan kebingungan serta  frustrasi dalam kehidupan pribadi dan publik dunia. Kami masih terus akan melakukannya. Tidak seorang pun dapat memberitahu berapa lama lagi kami akan terus melakukannya.”- (The Century Magazine, January 1928, Vol. 115, No. 3, p. 346-350.)
Bisa jadi mereka pula yang berada dibalik peristiwa pengeboman menara kembar WTC New York, tanggal 11 September 2001. Itu adalah skenario Yahudi, dengan tujuan mendiskreditkan ummat Islam. Didalam perhitungan mereka adalahTidak mengapa mengorbankan suatu gedung, untuk mendapat keuntungan yang lebih banyak daripada nilai gedung tersebut.”
Yang demikian itu adalah laksana pepatah “maling berteriak maling”, dimana kaum Muslimin lah yang sejak peristiwa tersebut dipojokkan dengan berbagai tuduhan teroris, islamophobia dan sebagainya; padahal yang demikian itu adalah realisasi mereka kaum Yahudi terhadap ajaran Talmud.
Agar lebih mudah memahami peristiwa 11 September tersebut, silakan lihat berbagai bukti yang terekam dalam video-video youtube berikut ini:
-  Konspirasi 11 September (911 in Plane Site) – 1/5.flv
http://www.youtube.com/watch?v=qujTCuCiDss
-  Konspirasi 11 September (911 in Plane Site) – 2/5.flv
http://www.youtube.com/watch?v=xAXhHolx8PM&feature=relmfu
-  Konspirasi 11 September (911 in Plane Site) – 3/5.flv
http://www.youtube.com/watch?v=aW1rm77XjrU&feature=relmfu
-  Konspirasi 11 September (911 in Plane Site) – 4/5.flv
http://www.youtube.com/watch?v=O4g9Y6ANOlk&feature=relmfu
-  Konspirasi 11 September (911 in Plane Site) – 5/5.flv
http://www.youtube.com/watch?v=RM_5QqGpDak&feature=relmfu
-  Ilmu Arsitek & Teknik – Runtuhnya WTC-7 Oleh Peledakan Bomb!
http://www.youtube.com/watch?v=y_E0k-UqILI&feature=player_embedded#!
-  MISTERI SETAN 15 – KEJANGGALAN WTC 1
http://www.youtube.com/watch?v=hjL5U-2ke9w&feature=relmfu
-  MISTERI SETAN 16 – KEJANGGALAN WTC II
http://www.youtube.com/watch?v=bPIf3LcuPPw&feature=relmfu
-  MISTERI SETAN 17 – KEJANGGALAN WTC III
http://www.youtube.com/watch?v=otr3GtesE98&feature=related
Hal ini pun relevan dengan penjelasan yang datang dari pihak Barat sendiri dimana Texe Marrs, seorang penyelidik (investigator) independen Amerika yang telah menelusuri garis darah Dinasti Bush selama 6 (enam) tahun, menemukan bukti bahwa keluarga besar Bush, termasuk mantan Presiden Amerika Serikat George Walker Bush, merupakan sebuah keluarga yang sangat rajin mempelajari Talmud.
Texe Marrs menjelaskan bahwa, “Dinasti Bush adalah dinasti Yahudi dan mereka menjadikan Talmud sebagai kitab sucinya. Adalah salah besar menyangka mereka sebagai keluarga Kristiani. Mereka menunggangi kekristenan untuk menipu warga Kristen dunia. Padahal, mereka merupakan keluarga Talmudis yang taat.” (http://www.texemarrs.com/022006/george_w_bush_zionist_double_agent.htm)

George Bush terlihat membawa Kitab Talmud Bavli (Talmud Babylonia) (*)

Presiden-Presiden Amerika (George Bush dan Barrack Obama) terlihat melakukan ritual di tembok ratapan kaum Yahudi (*)
(*) Catatan: untuk keperluan pembuktian fakta dokumentasi, maka bagian wajah pada foto-foto ini tidak di-samarkan.
Jadi menurut ajaran Talmud, adalah patut dan wajar kalau manusia selain Yahudi harus musnah dari muka bumi, karena bumi ini haruslah menjadi milik Yahudi semata-mata. Harta di dunia ini juga harus menjadi milik Yahudi. Dan orang-orang non-Yahudi harus terlilit hutang oleh riba, yang pada akhirnya semua keuntungan dikeruk untuk kepentingan kaum Yahudi.
Kemudian di dalam ajaran Talmud, orang-orang Yahudi diperbolehkan untuk berzina dengan wanita non Yahudi, karena orang non Yahudi dianggap bukan manusia. Hal ini dapat disimak dari perkataan Rabbi-Rabbi mereka berikut ini:
-  Rabbi Raschi berkata, “Orang Yahudi tidak berdosa jika menodai kehormatan (memperkosa) wanita non Yahudi karena semua aqad nikah yang dilakukan oleh non Yahudi adalah tidak sah. Wanita yang bukan dari Bani Isro’iil sama seperti hewan, sedangkan aqad nikah diantara seekor hewan dengan hewan lainnya adalah tidak berlaku.”
Pendapat Rabbi Raschi ini disepakati oleh Rabbi-Rabbi lainnya, yakni Rabbi Beshai, Rabbi Levi dan Rabbi Jarson.
-  Maimonides berkata, “Kaum Yahudi berhak memperkosa wanita-wanita yang tidak beriman atau wanita-wanita yang bukan dari golongan Yahudi.”
- Rabbi Tam yang merupakan generasi Yahudi ke-13 di Perancis berkata, “Sesungguhnya berzina dengan orang non Yahudi, baik laki-laki maupun perempuan, tidak ada hukumannya, karena orang-orang asing adalah keturunan hewan.”
Oleh sebab itu, Rabbi tersebut mengizinkan wanita Yahudi untuk menikah dengan seorang pria Nashroni yang sudah masuk kedalam agama Yahudi, sekalipun sebelumnya mereka berdua telah lama berpacaran dan melakukan hubungan suami istri. Ini adalah karena perzinaan mereka selama ini tidak dianggap sebuah perzinaan, karena laki-laki itu belum terhitung manusia pada waktu itu.
Perhatikan betapa orang-orang Yahudi dengan ajaran Talmud-nya menyebarkan perzinaan secara meluas di muka bumi. Merekalah yang berada dibalik pengembangan ide-ide “perlombaan ratu kecantikan”, menciptakan “trend-trend mode dunia” yang terbuka aurotnya, dan berbagai kerusakan yang sesungguhnya sangat disayangkan bahwa banyak diantara kaum Muslimin yang jatuh kedalam gaya hidup (life style) kaum Yahudi ini dan melupakan peringatan Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, sebagaimana terdapat dalam Hadits Riwayat Al Imaam Al Bukhoory no: 7320 dan Al Imaam Muslim no: 2669, dari Shohabat Abu Saa’id Al Khudry رضي الله عنه :
لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
Artinya:
Sungguh kalian akan mengikuti cara hidup dan gaya orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai mereka masuk kedalam lubang biawak, kalian pun akan mengikuti mereka.”
Kami bertanya, “Wahai Rosuulullooh, apakah orang-orang Yahudi dan Nashroni yang engkau maksudkan?
Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم menjawab, “Siapa lagi (– kalau bukan mereka – pent.).”
Bukankah banyak diantara kaum Muslimin di zaman sekarang yang menganggap bahwa pacaran sebelum nikah itu adalah “sah-sah” saja? Mereka lupa bahwa itu adalah zina dan dosa. Dan bahkan sebagian diantara kaum Muslimin dewasa ini merasa heran apabila ada laki-laki Muslim (ikhwan) yang menikahi seorang wanita Muslimah (akhwat) tanpa melalui proses pacaran. Hal ini diakibatkan gaya hidup “pacaran” yang berasal dari budaya orang-orang Yahudi dan Nashroni tersebut telah menjangkiti sebagian diantara kaum Muslimin zaman sekarang.
Oleh karena itu, wahai Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allooh سبحانه وتعالى, jagalah diri kalian dan keluarga kalian agar jangan sampai tertulari virus-virus gaya hidup yang rusak ini, terutama di zaman sekarang dimana teknologi berkembang begitu pesatnya sehingga program Talmud tersebut bahkan dapat di-install melalui Handphone-Handphone Blackberry. Mudah-mudahan dengan mengkaji perkara Talmud, menjadikan kaum Muslimin sadar serta dapat membentengi diri agar jangan sampai terperosok kedalamnya.

Dan hendaknya kaum Muslimin benar-benar mencamkan firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 120:
وَلَن تَرْضَى عَنكَ الْيَهُودُ وَلاَ النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ إِنَّ هُدَى اللّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللّهِ مِن وَلِيٍّ وَلاَ نَصِيرٍ
Artinya:
Orang-orang Yahudi dan Nashroni tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allooh itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allooh tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di رحمه الله ketika menafsirkan QS. Al Baqoroh (2) ayat 120 ini berkata sebagai berikut, “Alloohسبحانه وتعالى memberitahu Rosuul-Nya صلى الله عليه وسلم bahwa Yahudi dan Nashroni tidak akan ridho, kecuali jika (orang-orang beriman) mengikuti agama mereka. Karena mereka adalah penyeru pada dien yang mereka (Yahudi / Nashroni) diatasnya, dan mengaku bahwa yang demikian itu adalah petunjuk. Maka katakanlah olehmu pada mereka, “Sesungguhnya petunjuk Allooh سبحانه وتعالى yang aku diutus dengannya adalah petunjuk (Al Huda). Adapun yang kalian diatasnya adalah Hawa (Nafsu), sesuai dengan firman Allooh سبحانه وتعالى, yang artinya: “Dan jika kamu ikuti hawa-hawa (nafsu) mereka setelah ilmu datang kepadamu, maka sungguh kamu tidak lagi memiliki dari Allooh سبحانه وتعالى perlindungan dan pertolongan.”
Maka ini adalah bukti larangan yang besar, tentang mengikuti hawa nafsu-hawa nafsu orang Yahudi dan Nashroni, juga menyerupai mereka dalam perkara yang khas dari agama mereka dan pernyataan ini, betapapun ditujukan untuk Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, akan tetapi ummatnya termasuk didalamnya. Karena yang menjadi pelajaran adalah umumnya makna, bukan khususnya pembicaraan; sebagaimana pelajaran itu dengan umumnya lafadz, bukan dengan khususnya sebab.”
Juga firman-Nya dalam QS. Al Baqoroh (2) ayat 217:
يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَن سَبِيلِ اللّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِندَ اللّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ وَلاَ يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىَ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُواْ وَمَن يَرْتَدِدْ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُوْلَـئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأُوْلَـئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya:
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Harom. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allooh, kafir kepada Allooh, (menghalangi masuk) Masjidil Harom dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allooh. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”
Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di رحمه الله ketika menafsirkan QS. Al Baqoroh (2) ayat 217 berkata sebagai berikut, “Alloohسبحانه وتعالى  mengkabarkan bahwa mereka (Yahudi/ Nashroni) senantiasa memerangi orang-orang yang beriman. Tujuan mereka bukan pada harta orang-orang mukmin ataupun nyawanya, melainkan tujuan mereka itu adalah untuk mengembalikan orang-orang mukmin dari agama Islam menjadi orang-orang kaafir setelah beriman, sehingga menjadi bagian dari Neraka Sa’iir. Bahkan mereka (Yahudi/ Nashroni) berkorban dengan seluruh kemampuan mereka dalam hal itu, sebagai bentuk upaya sejauh kemampuan mereka.”
TANYA JAWAB
Pertanyaan:
Didalam beberapa kajian lalu dibahas bahwa Syi’ah seringkali bekerjasama dan membantu kepentingan-kepentingan Yahudi. Namun di berbagai media massa di tanah air kita, pemberitaan yang ada adalah justru sebaliknya, yaitu bahwa Presiden Iran Ahmadinejad sangat bermusuhan dan menunjukkan sikap berani untuk menentang Amerika. Bagaimanakah sikap kita sebagai Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah terhadap berbagai pemberitaan tersebut?
Jawaban:
Ahmadinejad adalah Presiden Iran saat ini, dan Iran adalah negeri Syi’ah. Artinya: Ahmadinejad adalah pimpinan Syi’ah. Dan Syi’ah sebenarnya adalah teman-teman akrab Yahudi.
Dalam sejarahnya pun Syi’ah didirikan oleh ‘Abdullooh bin Saba’, seorang Yahudi yang berpura-pura masuk Islam, tetapi kemudian menyebarkan fitnah dari dalam diantara kaum Muslimin.
Syi’ah terkenal memiliki strategi Taqiyyah (berpura-pura) didalam berdakwahnya. Jadi tidak heran apabila Ahmadinejad ditonjolkan sebagai sosok yang memiliki penampilan sederhana, simpatik, berpura-pura melawan dan sangat anti pada Yahudi-Amerika. Itu semua adalah Taqiyyah mereka dalam menjalankan usaha/ kepentingan Syi’ah. Namun, jangan kita kaum Muslimin terkecoh; karena dibalik upaya berpura-pura simpatik, dermawan, ilmiah dan sebagainya itu, mereka (Syi’ah) jelas-jelas menyebarkan ‘aqiidah yang sesat, mengatakan bahwa Al Qur’an yang ada sekarang belum lengkap, mencaci maki para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم dan lain sebagainya.
Bahkan beberapa waktu lalu dalam situs www.detiknews.com, terungkap bahwa Ahmadinejad memiliki nama keluarga yang berasal dari Yahudi. Berikut ini adalah foto close-up dari paspor Presiden Iran Ahmadinejad saat Pemilu di bulan Maret yang mengungkapkan bahwa dia sebelumnya dikenal sebagai Sabourijan, demikian sebagaimana dikutip detikcom dari The Daily Telegraph edisi Sabtu (3/10/2009).
Sabourjian adalah nama keluarga Yahudi dari sekitar Aradan, tempat kelahiran Mahmoud Ahmadinejad, sebelah tenggara ibukota Teheran. Nama ini berasal dari kata “Penenun dari Sabour“, merujuk pada syal / selendang Yahudi Tallit di Persia.

(*) Catatan: untuk keperluan pembuktian fakta dokumentasi, maka bagian wajah pada foto ini tidak di-samarkan.
Berikut ini terdapat pula foto-foto yang merupakan fakta yang mengungkapkan kedekatan antara Ahmadinejad dengan para pemuka Yahudi.


(Sumber foto: http://www.dd-sunnah.net/records/view/action/view/id/562/) (*)
(*) Catatan: untuk keperluan pembuktian fakta dokumentasi, maka bagian wajah pada foto-foto ini tidak di-samarkan.
Dan apabila anda membaca buku mereka yang berjudul “Madzab Pecinta Ahlul Bait”, maka dalam buku tersebut sama sekali tidak disebut-sebut tentang Shohabat Abu Bakar As Siddiiq, ‘Umar bin Khoththoob, ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنهم. Semata-mata hanya menyebutkan Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه saja. Hal ini dikarenakan mereka menuduh sebagian besar Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم tersebut kaafir setelah beliau صلى الله عليه وسلم meninggal.
Bayangkan, betapa Syi’ah telah bersikap diluar batas terhadap para Shohabat Rosuululloohصلى الله عليه وسلم, yang Allooh سبحانه وتعالى sendiri telah ridho pada mereka. Perhatikanlah firman Allooh سبحانه وتعالى dalam QS. At Taubah (9) ayat 100:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allooh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Allooh dan Allooh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
Berarti Syi’ah mengkufuri QS. At Taubah (9) ayat 100 ini, atau dengan kata lain, Syi’ah menuduh bahwa Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم gagal dalam berdakwah, karena sebagian besar Shohabat-nya (dalam anggapan Syi’ah) adalah kaafir sepeninggal beliau صلى الله عليه وسلم.
Hal ini jauh berbeda dengan sikap Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah, dimana Ahlus Sunnah Wal Jamaa’ah mencintai para Shohabat Rosuulullooh صلى الله عليه وسلم, baik Abu Bakar As Siddiiq, ‘Umar bin Khoththoob, ‘Utsman bin ‘Affan رضي الله عنهم, termasuk pula Ali bin Abi Tholibرضي الله عنه. Mereka semua adalah Amiirul Mu’miniin. Tetapi oleh Syi’ah, hanya Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه yang dikultuskan, sementara yang lainnya dikutuk. Oleh karena itu hendaknya kita semua waspada dengan kesesatan yang mereka sebarkan ini.
Hendaknya kaum Muslimin berhati-hati! Jagalah ‘Aqiidah dan jangan mudah terpengaruh oleh strategi Taqiyyah orang-orang Syi’ah.
Alhamdulillah, kiranya cukup sekian dulu bahasan kita kali ini, mudah-mudahan bermanfaat. Kita akhiri dengan Do’a Kafaratul Majlis :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Senin malam, 16 Shafar 1433 H – 09 Januari 2012 M.

ustadzrofii.wordpress.com
Read more...

Category

Popular Posts

facebook